Ada banyak gunung yang pernah saya datangi. Beberapa lebih tinggi, beberapa jalurnya lebih berat, dan beberapa mungkin menawarkan pemandangan yang lebih indah. Tetapi kalau seseorang bertanya gunung mana yang paling banyak menyimpan bagian hidup saya, jawabannya mungkin tetap sama: Merbabu.



Saya pertama kali datang ke sana pada 1993. Masih mahasiswa baru. Masih delapan belas tahun. Masih merasa perjalanan hidup akan sangat panjang dan orang-orang yang berjalan bersama kita hari itu akan selalu ada di sekitar kita.

Ternyata tidak begitu.

Waktu berjalan. Teman-teman berpencar. Kesibukan datang. Ada orang yang kemudian jarang bertemu. Ada yang entah sekarang berada di mana. Ada pula seseorang yang awalnya hanya menjadi bagian dari sebuah perjalanan, tetapi kemudian justru menjadi teman perjalanan hidup saya.

Dan Merbabu tetap berada di sana.

Saya datang lagi dan lagi dengan cerita yang berbeda. Pernah sebagai anak muda yang hanya ingin mencapai puncak. Pernah membawa puluhan pendaki dan harus mengambil keputusan untuk keselamatan mereka. Pernah kembali bersama orang-orang yang lebih muda. Pernah pula berdiri di tempat yang sama bertahun-tahun kemudian dan tiba-tiba teringat begitu banyak wajah dari masa lalu.

Baru sekarang saya memahami mengapa Merbabu selalu terasa berbeda. Mungkin karena sebagian perjalanan hidup saya memang tertinggal di sana.

Tulisan ini bukan panduan mendaki Merbabu. Bukan pula cerita tentang berapa kali saya mencapai puncaknya. Ini hanya kumpulan cerita tentang sebuah gunung yang selama lebih dari tiga dekade diam-diam menjadi saksi beberapa bab dalam kehidupan saya.

1. Semuanya Bermula dari Merbabu

Tahun 1993 saya masih mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ketertarikan kepada alam sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Saya senang menjelajahi perbukitan, susur sungai, camping, bahkan pernah sengaja tidur di tengah sawah tanpa tenda dan selimut.

Tetapi Merbabu berbeda. Inilah gunung pertama di atas 3.000 mdpl yang berhasil saya daki.

Saya berangkat bersama teman-teman Grafika 93 melalui Wekas. Kami masih muda. Tenaga rasanya tidak ada habisnya. Carrier berat bukan masalah besar. Tidur seadanya juga tidak masalah. Yang penting jalan.

Sampai akhirnya saya berdiri di Puncak Syarief. Di sana kami menyanyikan Bagimu Negeri. Entah kenapa mata saya berkaca-kaca.

Sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, saya kadang tersenyum mengingatnya. Anak muda delapan belas tahun berdiri di atas gunung lalu terharu menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin terdengar sentimentil. Tetapi perasaan itu nyata.

Untuk pertama kalinya saya melihat negeri ini dari ketinggian lebih dari tiga ribu meter. Gunung-gunung terlihat di kejauhan. Awan berada di bawah. Dunia yang selama ini saya kenal tiba-tiba terasa begitu luas.

Saya turun dari Merbabu membawa sesuatu yang tidak saya bawa ketika berangkat. Saya jatuh cinta kepada gunung.

Dan ternyata cinta itu bertahan jauh lebih lama daripada yang pernah saya bayangkan.

Pendakian Gunung Merbabu yang Selalu Haru Biru

2. Ketika Kami Masih Muda dan Merasa Waktu Tidak Akan Habis

Setelah pendakian pertama, Merbabu perlahan menjadi akrab. Wekas bukan lagi sekadar nama sebuah jalur. Ada tempat-tempat yang mulai saya kenali. Ada orang-orang yang rasanya seperti keluarga setiap kali saya kembali. Dan tentu saja ada teman-teman.

Pendakian zaman itu jauh berbeda dengan sekarang. Tidak ada GPS di telepon genggam. Tidak ada grup WhatsApp. Tidak ada media sosial untuk langsung mengunggah foto dari puncak. Informasi perjalanan kadang hanya berpindah dari satu teman ke teman lainnya.

Kami berjalan, bercanda, kedinginan, kelaparan, kelelahan, lalu tertawa lagi. Ada yang muntah. Ada yang hampir menyerah. Ada yang ngotot ingin terus berjalan. Ada cerita-cerita konyol yang mungkin hanya lucu bagi orang-orang yang berada di sana.

Saat itu kami tidak pernah berpikir bahwa semua itu suatu hari akan menjadi kenangan. Kami merasa masih muda. Kami merasa masih punya banyak waktu. Kami merasa nanti bisa mendaki bersama lagi kapan saja.

Ternyata kalimat “nanti kita naik lagi” tidak selalu benar-benar terjadi.

Waktu membawa kami ke kehidupan masing-masing. Sekarang kalau mengingat masa itu, saya baru sadar bahwa yang kami kumpulkan sebenarnya bukan jumlah puncak.

Kami sedang mengumpulkan kenangan tanpa tahu bahwa suatu hari kami akan merindukannya.

Pendakian Gunung Merbabu Bersama Mahasiswa UGM, UNY dan USD Tahun 1995

3. Malam Ketika Saya Memilih Berbohong

Tahun 1995 saya kembali ke Merbabu. Kali ini saya bukan sekadar peserta. Saya memimpin sebuah pendakian terbuka yang diikuti sekitar tiga puluh orang dari berbagai kampus di Yogyakarta. Sebagian besar pendaki pemula.

Kami berjalan dari Wekas tengah malam. Rencananya sederhana: mendaki malam dan sampai di puncak menjelang matahari terbit. Namun setelah melewati kawasan makam, saya mulai merasa ada yang tidak beres.

Sekitar satu setengah jam perjalanan, saya yang berada paling depan melihat jejak binatang besar di tanah yang masih basah. Saya berhenti. Saya tidak tahu pasti jejak apa itu.

Di belakang saya ada sekitar tiga puluh orang. Tiga puluh orang yang malam itu mempercayakan arah perjalanan kepada saya.

Kalau saya mengatakan apa yang sedang saya pikirkan, saya khawatir rombongan panik. Dan di gunung, kepanikan kadang justru lebih berbahaya daripada sesuatu yang kita takutkan.

Saya berbalik dan mengatakan, “Kita salah jalur.”

Semua saya minta kembali.

Mungkin malam itu beberapa orang menganggap saya bodoh. Masa pemimpin perjalanan bisa salah jalan? Tidak apa-apa. Biarlah saya terlihat salah. Yang penting tiga puluh orang itu berbalik dengan tenang.

Saya tidak pernah menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang hebat. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya harus dilakukan malam itu. Tetapi bertahun-tahun kemudian saya baru memahami pelajaran yang tertinggal.

Kadang menjadi orang yang berjalan paling depan bukan tentang terlihat paling berani. Kadang tugasnya justru memastikan semua orang yang berjalan di belakang kita bisa pulang.

Saya Berbohong kepada 30 Pendaki Malam Itu

4. Saya Berangkat Mencari Puncak, Ternyata Menemukan Teman Hidup

Merbabu ternyata tidak hanya memberi saya cerita tentang pendakian. Gunung ini juga menyimpan salah satu cerita yang paling personal dalam hidup saya.

Dalam salah satu perjalanan, saya bertemu seorang perempuan. Saat itu tentu saya tidak tahu apa arti pertemuan tersebut. Dia hanya salah satu orang yang berada dalam perjalanan yang sama.

Kemudian kami semakin mengenal. Dia menjadi pacar saya. Dan akhirnya menjadi istri saya.

Kalau sekarang dipikir-pikir, hidup memang suka bercanda. Saya datang ke Merbabu membawa carrier dan ingin mencapai puncak. Ternyata ada sesuatu yang saya bawa pulang yang jauh lebih besar daripada cerita tentang keberhasilan mendaki gunung.

Saya menemukan seseorang yang kemudian berjalan bersama saya jauh setelah pendakian itu selesai.

Puluhan tahun kemudian, saya mungkin sudah lupa detail-detail kecil perjalanan tersebut. Saya tidak lagi ingat persis berapa lama kami berjalan atau apa yang kami makan. Tetapi saya tahu satu hal.

Kalau dulu saya tidak berangkat ke Merbabu, mungkin ada bagian sangat penting dari kehidupan saya yang ceritanya akan berbeda.

Melepas Rindu Mendaki Gunung Merbabu

5. Suatu Hari, Posisi Kami Bertukar

Tahun-tahun berlalu. Saya masih datang ke gunung, tetapi perlahan peran saya berubah. Saya tidak lagi selalu menjadi anak muda yang mengikuti langkah senior di depan. Ada masa ketika saya kembali ke Merbabu bersama mahasiswa dan orang-orang muda yang sedang belajar mengenal alam bebas.

Tanpa terasa, sekarang ada orang yang berjalan mengikuti langkah saya. Ada yang bertanya tentang jalur, perlengkapan, bagaimana menghadapi masalah di perjalanan. Saya kadang teringat diri sendiri bertahun-tahun sebelumnya.

Dulu saya juga berada di posisi mereka. Dulu saya yang bertanya. Dulu saya yang mengikuti. Dulu saya yang belajar.

Kemudian waktu berjalan begitu saja. Tanpa pernah ada upacara pergantian, posisi kami bertukar.

Mungkin begitulah kehidupan bekerja. Ada orang yang berjalan lebih dahulu, lalu suatu hari memberi ruang kepada orang berikutnya untuk meneruskan perjalanan.

Kita pernah menjadi anak muda yang berjalan di belakang seseorang. Sampai suatu hari kita menoleh dan baru sadar, sekarang ada orang lain yang berjalan di belakang kita.

Pendakian Gunung Merbabu Bersama Mahasiswa STP AMPTA via Wekas Tahun 2002

6. Dua Puluh Satu Tahun Kemudian

Tahun 2014 saya kembali ke Merbabu. Dua puluh satu tahun sudah berlalu sejak pendakian pertama saya pada 1993.

Dua puluh satu tahun. Angka itu terasa biasa ketika ditulis. Tetapi banyak sekali kehidupan yang bisa terjadi di dalamnya.

Anak muda menjadi orang dewasa. Teman-teman mempunyai kehidupan masing-masing. Ada yang menikah. Ada yang mempunyai anak. Ada yang tinggal jauh. Ada yang jarang sekali bertemu.

Saya kembali melewati tempat-tempat yang dahulu terasa begitu akrab. Gunungnya masih ada. Tetapi banyak hal sudah tidak sama.

Termasuk saya.

Di sepanjang perjalanan, kenangan muncul tanpa diminta. Grafika 93. Wekas. Puncak Syarief. Bagimu Negeri. Teman-teman lama. Pendakian bersama puluhan orang. Dan seorang perempuan yang dahulu saya temui dalam perjalanan, yang sekarang menjadi istri saya.

Tiba-tiba saya seperti tidak hanya sedang mendaki Merbabu. Saya sedang berjalan melewati kehidupan saya sendiri.

Dan saat itulah saya mengerti mengapa kembali ke tempat lama kadang terasa begitu emosional. Kita bukan sedang mencari tempat yang pernah kita datangi. Kita sedang mencari orang-orang, suasana, dan diri kita sendiri yang pernah hidup di sana.

Melepas Rindu Mendaki Gunung Merbabu

7. Ketika Rindu Itu Akhirnya Tumpah

Ada satu perjalanan bersama KAPALA yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan. Ketika melewati Jembatan Setan, kenangan mulai berdatangan. Saya pernah berada di tempat itu bersama mereka bertahun-tahun sebelumnya.

Semakin mendekati Puncak Syarief, ingatan semakin ramai. Ada wajah-wajah yang muncul. Ada candaan yang seperti terdengar kembali. Ada perjalanan yang tiba-tiba terasa baru terjadi kemarin.

Padahal bertahun-tahun sudah lewat.

Ketika akhirnya berada di Puncak Syarief, saya tidak mampu lagi menahannya.

Saya menangis.

Bukan karena jalurnya berat. Bukan karena berhasil mencapai puncak. Bukan pula karena takut.

Saya hanya sedang rindu.

Rindu kepada masa ketika kami masih berjalan bersama. Rindu kepada orang-orang yang dahulu begitu dekat. Rindu kepada sebuah masa ketika bertemu teman tidak perlu membuat janji berminggu-minggu sebelumnya.

Saat masih muda, kita sering tidak sadar bahwa sebuah kebersamaan mungkin sedang terjadi untuk terakhir kalinya. Kita pulang sambil berkata, “Besok ketemu lagi.”

Kemudian kehidupan berjalan. Besok berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun. Dan suatu hari kita kembali ke tempat yang sama, tetapi orang-orang itu tidak lagi berdiri di sebelah kita.

Mungkin itu yang membuat air mata akhirnya jatuh.

Kadang yang kita rindukan dari sebuah gunung bukan gunungnya. Kita hanya ingin, walau sebentar, kembali menjadi orang yang dahulu pernah berjalan di sana bersama mereka.

Pendakian Gunung Merbabu Bersama KAPALA: Jembatan Setan hingga Puncak Syarief

8. Merbabu Masih di Sana

Lebih dari tiga puluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali saya mendaki Merbabu. Kalau sekarang saya mencoba mengingat semuanya, yang muncul ternyata bukan hanya puncak.

Saya melihat anak muda delapan belas tahun yang berdiri di Puncak Syarief dengan mata berkaca-kaca sambil menyanyikan Bagimu Negeri. Saya melihat teman-teman berjalan sambil bercanda. Saya melihat tiga puluh orang berdiri di belakang saya pada sebuah malam ketika saya harus memutuskan untuk berbalik.

Saya melihat seorang perempuan yang saat itu mungkin tidak pernah saya bayangkan akan menjadi istri saya. Saya melihat anak-anak muda yang kemudian berjalan mengikuti langkah kami. Dan saya melihat diri saya sendiri, bertahun-tahun kemudian, kembali ke tempat yang sama sambil membawa semua kenangan itu.

Banyak yang sudah berubah. Usia berubah. Tubuh berubah. Kehidupan berubah. Orang-orang datang dan pergi.

Tetapi Merbabu masih di sana.

Kadang saya membayangkan, kalau gunung bisa mengingat manusia, mungkin Merbabu masih mengenali anak muda yang datang pada 1993 itu. Anak muda yang langkahnya masih ringan. Yang belum tahu akan bekerja di mana. Belum tahu akan menikah dengan siapa. Belum tahu siapa saja yang kelak datang dan pergi dari kehidupannya. Belum tahu bahwa puluhan tahun kemudian ia akan menulis kembali semua cerita ini.

Dia hanya tahu satu hal malam itu: besok pagi dia ingin sampai puncak.

Sekarang, setelah perjalanan hidup membawa saya begitu jauh dari anak muda itu, saya justru ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

Nikmati perjalananmu. Jangan terlalu terburu-buru menuju puncak. Lihat baik-baik orang yang berjalan di sebelahmu. Tertawalah lebih lama bersama mereka.

Karena suatu hari nanti, mungkin bukan puncaknya yang paling kamu rindukan.

Merekalah yang akan kamu cari ketika mengingat Merbabu.

Dan mungkin itulah alasan saya selalu mempunyai perasaan berbeda setiap kali nama gunung ini disebut. Merbabu bukan hanya tempat yang pernah saya daki. Di sana ada masa muda saya. Ada sahabat. Ada cinta. Ada tanggung jawab. Ada perpisahan. Ada rindu.

Dan ada bagian dari diri saya yang mungkin tidak pernah benar-benar ikut turun.

Merbabu masih berdiri di sana. Dan sebagian hidup saya, rasanya, masih tinggal bersamanya.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts