Sunday, June 7, 2026

Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu adalah gunung pertama di atas 3.000 mdpl yang berhasil saya daki. Pendakian itu terjadi pada tahun 1993, saat saya masih menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Sampai hari ini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, kenangan tentang Merbabu masih tersimpan begitu kuat dalam ingatan. Setiap kali mendengar nama Merbabu, selalu ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Pendakian tersebut saya lakukan bersama teman-teman yang tergabung dalam Grafika 93, sebuah komunitas pecinta alam yang sebagian besar beranggotakan mahasiswa Fakultas Teknik UGM di kawasan Jalan Grafika Yogyakarta. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah pendakian biasa. Namun bagi saya, perjalanan menuju puncak Merbabu adalah pintu masuk menuju dunia petualangan yang sesungguhnya.


Sejak kecil sebenarnya saya sudah akrab dengan alam. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menjelajahi perbukitan di Pegunungan Seribu untuk mencari bonsai. Saya juga pernah bertualang ke Telaga Mardida, sebuah tempat yang kala itu terkenal misterius dan dianggap wingit oleh masyarakat sekitar. Justru karena cerita-cerita mistis itulah rasa penasaran saya semakin besar untuk mengetahui seperti apa sebenarnya tempat tersebut.

Masa remaja saya juga diwarnai berbagai petualangan sederhana. Susur sungai, camping di tepian Bengawan Solo, bahkan sengaja tidur di tengah sawah tanpa tenda dan tanpa selimut hanya untuk menguji keberanian dan daya tahan diri sebagai anak muda yang penuh semangat petualangan.

Namun ketika memasuki SMA Taruna Nusantara, ruang untuk bertualang menjadi sangat terbatas. Kehidupan berasrama yang disiplin membuat saya sulit keluar dan menjelajah alam bebas. Meski demikian, justru pada masa itulah kerinduan untuk mendaki gunung semakin tumbuh.

Setiap pagi saat mengikuti apel di Plaza Balairung Pancasila, pandangan saya hampir selalu tertuju pada Gunung Sumbing yang berdiri gagah di kejauhan. Gunung itu seakan memanggil-manggil, membangkitkan gejolak jiwa muda yang ingin berlari ke alam bebas. Sayangnya, saat itu saya hanya bisa memandanginya dari kejauhan.

Barulah ketika menjadi mahasiswa UGM pada tahun 1993, kerinduan itu menemukan jalannya.

Merbabu menjadi gunung pertama yang saya pilih.

Perjalanan menuju puncak ternyata jauh lebih indah dari yang pernah saya bayangkan. Jalur demi jalur kami lalui. Lembah-lembah hijau, punggungan panjang, hamparan edelweiss, serta bentangan langit yang terasa begitu dekat benar-benar memikat hati saya.

Anehnya, meskipun saat itu saya belum memiliki pacar, suasana sepanjang pendakian terasa sangat romantis. Alam menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setiap langkah seolah menjadi dialog antara manusia dan semesta.

Puncak dari semua pengalaman itu terjadi ketika kami tiba di Puncak Syarief.

Di atas ketinggian lebih dari tiga ribu meter, dengan pemandangan pegunungan yang membentang sejauh mata memandang, kami menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Saat itulah mata saya mulai berkaca-kaca.

Hati saya benar-benar haru biru.

Saya merasakan betapa indahnya Indonesia. Betapa beruntungnya saya dilahirkan di negeri dengan alam yang luar biasa. Di puncak Merbabu itulah tumbuh kesadaran bahwa mencintai alam bukan sekadar menikmati keindahannya, tetapi juga menghargai dan menjaganya.

Pendakian pertama itu bukan hanya membawa saya ke puncak gunung. Ia juga membawa saya menemukan bagian penting dari diri saya sendiri.

Sejak saat itu, semangat untuk menjadi pendaki dan pecinta alam tumbuh semakin kuat. Alam bukan lagi sekadar tempat rekreasi, melainkan sahabat yang selalu mengajarkan kerendahan hati, rasa syukur, dan kecintaan kepada tanah air.

Dan hingga hari ini, setiap kali menatap Merbabu dari kejauhan, saya selalu teringat seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang pertama kali belajar mencintai Indonesia dari atas puncak gunung.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.