Friday, June 12, 2026

Teriakan Saat Sahur Diklat CS Kur Kaliurang

"Tidak semua keputusan penting diambil di ruang rapat. Ada yang justru lahir di antrean sahur, pada pukul tiga dini hari, ketika orang-orang masih mengantuk dan makanan yang tersedia tampak tidak cukup untuk semua peserta."



"Stop... semua berhenti. Cewek tetap di depan. Cowok geser ke belakang. Saya di antrean paling belakang!"

Begitulah kira-kira teriakan yang spontan keluar dari mulutku saat menjalani diklat di Kaliurang pada bulan Ramadan.

Sahur hari pertama berlangsung kacau. Makanan yang tersedia tampak jauh lebih sedikit dibanding jumlah peserta. Aku memperkirakan tidak semua orang akan kebagian.

Tanpa berpikir panjang, aku meminta seluruh peserta laki-laki mundur ke belakang. Alasannya sederhana. Jika makanan memang kurang, dampaknya akan lebih besar bila yang tidak kebagian adalah peserta perempuan. Selain itu, secara fisik laki-laki biasanya lebih mampu menahan lapar dibanding perempuan.

Saat itu aku sendiri ragu apakah teriakan tersebut didengar atau tidak. Peserta yang menginap di hotel bukan hanya berasal dari kelompokku, tetapi juga dari beberapa perusahaan lain. Bahkan sebagian teman satu angkatan pun baru kukenal hari itu saat berkumpul dan berangkat menuju pusat pendidikan.

Alhamdulillah, semua berjalan sesuai harapan. Para peserta laki-laki bergeser ke belakang.

Dan dugaanku ternyata benar.


Tujuh orang terakhir dalam antrean, semuanya laki-laki, tidak mendapatkan nasi maupun lauk. Kami hanya berbagi beberapa sendok sayur yang masih tersisa.

Yang tidak kusangka, peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan di berbagai kelas selama diklat berlangsung. Mungkin karena banyak yang melihatnya sebagai keputusan yang cepat sekaligus adil dalam situasi yang mendadak.

Keesokan harinya pihak hotel langsung berbenah. Sahur melimpah. Snack malam melimpah. Bahkan menjelang kepulangan, masih banyak makanan yang kami bawa untuk dibagikan kepada masyarakat di sepanjang perjalanan karena jumlahnya berlebih.


Refleksi

Bertambahnya usia membuatku semakin menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu muncul dalam peristiwa-peristiwa besar. Justru sering kali ia diuji dalam momen-momen kecil yang datang tanpa peringatan.

Saat itu aku tidak memiliki jabatan apa pun atas sebagian besar peserta yang mengantre. Aku juga tidak punya waktu untuk bermusyawarah atau menghitung jumlah makanan secara pasti. Yang ada hanya pengamatan, pertimbangan, dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Dari peristiwa sederhana itu aku belajar bahwa pemimpin bukanlah orang yang selalu berada di depan untuk mendapatkan bagian pertama. Pemimpin justru harus siap berdiri paling belakang ketika ada kemungkinan tidak semua orang mendapatkan haknya.

Dan sampai hari ini aku masih bersyukur. Bukan karena teriakanku menjadi terkenal di lingkungan diklat, melainkan karena pada saat yang singkat itu aku diberi kejernihan berpikir untuk mendahulukan orang lain sebelum diriku sendiri.

Kadang kebijaksanaan tidak lahir dari keputusan yang rumit. Ia muncul dari keberanian melakukan hal yang benar pada saat yang tepat.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.