Tidak semua pendakian yang berkesan diawali dengan perencanaan yang matang dan rombongan yang lengkap. Kadang justru sebaliknya.
Rencana yang berantakan, teman-teman yang tidak jadi datang, perlengkapan yang tidak lengkap, dan kondisi yang jauh dari ideal justru melahirkan cerita yang paling lama bertahan dalam ingatan.
Begitulah yang terjadi pada sebuah pendakian Gunung Sundoro pada tahun 1994.
Pendakian yang semula direncanakan untuk lima orang, tetapi akhirnya hanya diikuti dua orang.
Dan secara tidak terduga mengajarkan saya tentang arti persahabatan, kreativitas dalam bertahan hidup, dan pentingnya saling menjaga dalam sebuah perjalanan.
Ilustrasi Gambar Keidnginan di Bivak
Selain Gunung Sumbing, Gunung Sundoro termasuk gunung yang cukup sering saya daki pada masa itu.
Alasannya sederhana.
Dari Yogyakarta akses menuju basecamp relatif mudah dijangkau menggunakan kendaraan umum. Tidak perlu menyambung ojek dan tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh hanya untuk mencapai titik awal pendakian.
Karena cukup sering mendaki ke sana, suatu ketika kami merencanakan survei jalur untuk persiapan pendakian massal yang akan dilaksanakan pada akhir tahun.
Rencananya ada lima orang yang ikut.
Masing-masing berangkat dari rumah atau kos menuju basecamp dan bertemu di sana.
Saya berangkat dari Yogyakarta.
Seorang adik kelas perempuan, sebut saja Mawar, berangkat dari Banjarnegara.
Sementara tiga orang lainnya datang dari tempat yang berbeda.
Setidaknya begitulah rencananya.
Namun malam itu rencana tinggal rencana.
Semakin larut malam, satu per satu orang yang ditunggu tidak kunjung muncul.
Saat itu telepon genggam belum ada. Jadi kami tidak bisa menghubungi siapa pun untuk memastikan apakah mereka terlambat, batal berangkat, atau bahkan mungkin sudah berangkat lewat jalur lain.
Yang jelas, hingga waktu yang disepakati tiba, yang hadir hanya dua orang.
Saya dan Mawar.
Kami sempat berdiskusi cukup lama.
Apakah pendakian dibatalkan saja?
Atau ditunda satu hari?
Masalahnya, malam itu adalah malam Minggu. Jika ditunda, berarti pendakian baru bisa dimulai malam berikutnya yang sudah masuk malam Senin.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami akhirnya memutuskan tetap berangkat.
Toh tujuan utama kami hanya survei jalur.
Kalau memang kondisi tidak memungkinkan, kami selalu bisa memutuskan untuk kembali turun.
Masalah berikutnya adalah perlengkapan.
Karena pendakian ini sejak awal dirancang untuk lima orang, perlengkapan kelompok sudah dibagi-bagi.
Tenda dibawa salah satu teman yang ternyata tidak datang.
Beberapa perlengkapan lain juga ikut menghilang bersama pemiliknya.
Untungnya kami masih membawa perlengkapan dasar yang cukup untuk bertahan hidup.
Masing-masing membawa satu ponco.
Artinya jika terpaksa membuat perlindungan darurat, kami masih punya cara untuk melindungi diri dari hujan atau angin.
Memang tidak senyaman tenda.
Tetapi masih jauh lebih baik daripada tidak membawa apa-apa.
Tepat sekitar pukul dua belas malam kami mulai berjalan.
Jalur awal masih melewati ladang-ladang milik penduduk.
Udara malam terasa sejuk dan perjalanan berjalan normal.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Pos 1.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2 melalui jalur yang mulai memasuki kawasan peralihan antara ladang dan pinggiran hutan.
Dan di situlah kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas terjadi.
Entah karena kondisi badan yang kurang fit.
Entah karena kelelahan.
Entah karena cuaca malam itu memang luar biasa dingin.
Tiba-tiba saya merasakan hawa dingin yang tidak biasa.
Awalnya saya mengabaikannya.
Saya pikir nanti juga hilang kalau terus berjalan.
Tetapi ternyata tidak.
Semakin lama tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Jari-jari tangan mulai terasa kaku.
Gigi mulai beradu.
Langkah kaki semakin berat.
Yang paling mengganggu justru rasa lelah dan kantuk yang datang bersamaan.
Saya masih berusaha berjalan beberapa saat.
Namun akhirnya harus mengakui bahwa tubuh saya tidak sanggup dipaksa lebih jauh.
Kami pun menepi.
Dua ponco segera dirangkai menjadi bivak darurat sederhana.
Kompor parafin dinyalakan.
Harapannya tubuh bisa kembali hangat.
Tetapi panas dari kompor ternyata tidak cukup.
Api kecil itu kalah melawan dinginnya udara pegunungan.
Untung lokasi kami masih berada di dekat area ladang sehingga cukup mudah menemukan ranting dan kayu bakar.
Kami segera mengumpulkan kayu dan membuat api unggun.
Lidah api mulai membesar.
Asap mengepul ke udara malam.
Cahaya api menerangi wajah kami yang mulai pucat karena kedinginan.
Namun anehnya, meskipun api unggun sudah menyala, tubuh saya tetap tidak nyaman.
Punggung terasa hangat.
Tetapi bagian depan tubuh masih terus kehilangan panas.
Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mencari cara lain.
Saya mengambil sarung yang biasa saya gunakan untuk tidur.
Sarung itu saya lilitkan rapat ke tubuh.
Lalu bagian luarnya saya bungkus lagi menggunakan ponco.
Lumayan membantu.
Tetapi masih belum cukup.
Kemudian saya melihat Mawar yang duduk di dekat api unggun.
Saya berkata sambil tertawa,
"Kalau begini ceritanya, kayaknya aku butuh sleeping bag hidup."
Mawar tertawa.
Saya juga tertawa.
Tetapi beberapa saat kemudian kami mencoba sesuatu yang mungkin terdengar aneh jika diceritakan sekarang.
Saya tengkurap di dalam bivak.
Sementara Mawar berbaring di atas saya dengan posisi menghadap ke atas.
Tujuannya sederhana.
Memanfaatkan panas tubuh agar saya tidak kehilangan terlalu banyak energi.
Tidak ada yang romantis.
Tidak ada yang aneh.
Saat itu kami hanya dua pendaki yang sedang berusaha bertahan dari dinginnya malam dengan perlengkapan yang sangat terbatas.
Dan ternyata cara sederhana itu berhasil.
Perlahan tubuh saya mulai terasa lebih hangat.
Gigil berkurang.
Kelopak mata mulai terasa berat.
Dan tanpa sadar saya tertidur.
Entah berapa lama.
Ketika terbangun, api unggun masih menyala meskipun tidak sebesar sebelumnya.
Udara masih dingin.
Tetapi badan saya sudah terasa jauh lebih baik.
Masih dingin, tentu saja.
Namun kali ini saya merasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan.
Saya duduk.
Meregangkan badan.
Lalu menatap Mawar.
"Gimana? Lanjut?"
Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Tidak ada pidato motivasi.
Tidak ada kata-kata heroik.
Kami hanya membereskan perlengkapan, memastikan api benar-benar padam, lalu kembali memanggul ransel.
Beberapa menit kemudian kami kembali berjalan menembus gelapnya lereng Sundoro.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal beberapa jam sebelumnya saya hampir menyerah karena dingin.
Sekarang, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, saya sering tersenyum sendiri setiap kali mengingat peristiwa itu.
Yang saya ingat bukan puncaknya.
Bukan pula jalurnya.
Bahkan bukan api unggunnya.
Yang paling saya ingat justru kebersamaan sederhana pada malam itu.
Tentang dua orang yang awalnya menunggu tiga teman yang tidak pernah datang.
Tentang perjalanan yang nyaris dibatalkan.
Tentang dingin yang hampir menghentikan langkah.
Dan tentang seorang teman yang tanpa banyak bicara memilih membantu sebisanya ketika melihat temannya sedang kesulitan.
Mungkin itulah alasan mengapa kenangan pendakian lama begitu sulit dilupakan.
Karena yang paling membekas bukan gunung yang kita daki.
Melainkan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita di sana.
Puncak akan tetap berada di tempatnya.
Tetapi kesempatan bertemu orang baik dalam sebuah perjalanan, belum tentu datang dua kali.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.