Showing posts with label pendaki. Show all posts
Showing posts with label pendaki. Show all posts

Wednesday, August 12, 2026

Malam semakin larut ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti.

Sejak tadi sebenarnya ramai. Cerita ke mana-mana. Dari pekerjaan, pengalaman naik gunung, sampai cerita-cerita aneh yang entah kenapa selalu lebih menarik kalau dibicarakan saat camping.

Tapi ketika semuanya diam, suasananya langsung berubah.

Suara serangga yang sebelumnya kalah oleh obrolan kami mendadak terdengar jelas. Angin sesekali menggerakkan daun. Di luar tempat kami duduk, gelap.

Dan malam itu kebetulan Malam 1 Suro.




Aku sudah cukup sering tidur di tenda. Malam di alam bukan sesuatu yang asing. Tapi tetap saja, camping pada Malam 1 Suro punya rasa yang sedikit berbeda.

Apalagi setelah tadi ada yang mulai cerita macam-macam.

Untung keheningan itu nggak berlangsung lama. Entah siapa yang memulai, kami kembali ngobrol dan tertawa.

Malam berjalan seperti biasa.

Tapi justru bagian ketika semuanya sempat diam itulah yang sampai sekarang masih kuingat.

Lucunya, beberapa hari sebelumnya perjalanan ini bahkan belum ada.

Semua cuma gara-gara obrolan iseng di kantor.

Harusnya Cuma Jadi Wacana

Awalnya aku ngobrol santai dengan anak-anak magang.

Entah bagaimana ceritanya, muncul ide untuk camping.

Ide seperti ini sebenarnya sering muncul. Apalagi kalau yang ngobrol sama-sama suka jalan. Masalahnya, sebagian besar biasanya berhenti sebagai wacana.

Besoknya sudah sibuk lagi.

Lupa.

Tapi yang satu ini ternyata berlanjut.

Obrolan di kantor kubawa ke chat WhatsApp anak-anak Kapala. Bukannya mereda, malah semakin serius.

Mulai bicara siapa yang ikut.

Kapan berangkat.

Mau camping di mana.

Sampai akhirnya kami sadar waktunya bertepatan dengan Malam 1 Suro 2023.

Sempat juga terpikir soal waktunya.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam 1 Suro punya makna khusus. Ada yang mengisinya dengan doa, tirakat, atau menjalankan tradisi tertentu.

Kami tentu menghormati itu.

Kami sendiri cuma ingin camping. Nggak ada ritual atau kegiatan khusus. Sekadar ingin berkumpul, tidur di tenda dan menikmati malam di alam.

Akhirnya dipilihlah Desa Wisata Kandri.

Nggak jauh dari Semarang.

Persiapannya juga nggak ribet.

Yang penting perlengkapan cukup, logistik ada, dan orang-orangnya benar-benar jadi berangkat.

Sampai Kandri, Baru Terasa Ini Bukan Lagi Wacana

Kami menuju camping ground di Omah Pintar Petani Kandri.

Begitu sampai, aku langsung suka dengan suasananya.

Tempatnya nggak terlalu luas. Ada pepohonan, tanah lapang, kolam dan suasana desa yang masih terasa.

Aku memang selalu nyaman dengan tempat seperti ini.

Nggak harus gunung tinggi.

Nggak harus masuk hutan jauh.

Kadang cukup berada di tempat di mana suara kendaraan mulai berkurang dan udara terasa berbeda, sudah membuatku senang.

Barang diturunkan.

Tenda mulai dikeluarkan.

Dan dimulailah salah satu ritual paling menarik kalau camping dilakukan ramai-ramai:

mendirikan tenda.

Selalu ada yang serius bekerja.

Ada yang memegang tiang.

Ada yang mengurus tali.

Ada yang membantu ini-itu.

Dan seperti biasa, ada juga yang kelihatannya sibuk sekali, mondar-mandir ke sana kemari, tetapi kontribusinya sulit dijelaskan.

Nggak apa-apa.

Yang penting akhirnya tenda berdiri.

Begitu semua perlengkapan masuk, baru terasa:

Oh, jadi camping beneran.

Bukan wacana lagi.

Malam 1 Suro Itu Akhirnya Benar-Benar Datang

Menjelang malam, Kandri perlahan berubah.

Udara mulai lebih dingin.

Suara aktivitas manusia berkurang.

Yang tadinya nggak terdengar mulai muncul satu per satu.

Serangga.

Angin.

Daun.

Suara dari kejauhan yang nggak selalu jelas apa.

Kami berkumpul dan ngobrol.

Nggak ada agenda.

Nggak ada acara khusus.

Memang sejak awal tujuan kami cuma ingin menikmati malam.

Obrolannya pun bebas.

Kadang serius.

Lebih sering nggak serius.

Ngomongin pekerjaan, pengalaman naik gunung, kejadian-kejadian lama, sampai akhirnya masuk juga ke cerita-cerita yang sedikit menyerempet mistis.

Entah kenapa orang kalau camping punya kebiasaan aneh.

Sudah tahu tempatnya gelap.

Sudah tahu tidurnya di tenda.

Sudah tahu malam itu 1 Suro.

Masih saja membicarakan yang begituan.

Tapi justru suasana seperti itulah yang membuat malam terasa hidup.

Ada saat kami tertawa keras.

Lalu beberapa menit kemudian obrolan berhenti begitu saja.

Dan ketika kami diam, suara alam seperti mengambil alih.

Aku suka bagian itu.

Di kantor, rasanya kepala selalu punya pekerjaan.

Kalau pekerjaan selesai, ada ponsel.

Kalau ponsel diletakkan, kadang pikiran sendiri yang belum mau berhenti.

Di situ berbeda.

Aku cuma duduk bersama teman-teman.

Nggak melakukan sesuatu yang penting.

Nggak menghasilkan apa-apa.

Dan ternyata rasanya enak.

Mungkin memang itu yang sedang kubutuhkan.

Pagi Selalu Membongkar Romantisme Camping

Paginya aku bangun dengan badan agak pegal.

Nah, ini bagian camping yang jarang terlihat di foto.

Kalau melihat foto orang camping, semuanya kelihatan indah. Tenda di antara pepohonan, udara pagi, orang duduk santai.

Yang nggak ikut terfoto adalah punggung dan pinggang setelah semalaman tidur di atas matras.

Tapi begitu tenda dibuka, keluhan itu biasanya cepat terlupakan.

Udara pagi Kandri masih segar.

Suasananya tenang.

Dan pagi itu kami bertemu dengan sesuatu yang sangat tepat untuk kondisi orang habis tidur di tenda:

bubur ala Kandri.

Hangat.

Gurih.

Sederhana.

Aku nggak tahu apakah memang buburnya seenak itu atau kami sedang lapar.

Yang jelas, pagi itu rasanya pas sekali.

Lalu Kami Berharap pada Ikan

Setelah sarapan, acara bergeser ke kolam.

Mancing.

Kalau dipikir-pikir, memancing itu aktivitas yang agak ajaib.

Orang yang biasanya lima menit menunggu saja sudah gelisah, kalau sudah memegang pancing bisa duduk lama menatap satu titik.

Pelampung bergerak sedikit, langsung waspada.

Ditarik.

Kadang ada ikan.

Kadang cuma umpan yang hilang.

Masalahnya, ikan hasil pancingan ini bukan sekadar untuk kesenangan.

Rencananya mau kami masak.

Jadi keberhasilan memancing mulai punya hubungan dengan makan siang.

Untung kami punya rencana yang lebih masuk akal daripada sekadar berharap pada ikan.

Empat perempuan—dua dari Kapala dan dua anak magang—berangkat ke pasar membeli bahan untuk memasak.

Sementara empat laki-laki—dua Kapala dan dua anak magang—tinggal di camping ground.

Tugas kami terdengar sederhana:

mencari kayu dan menyiapkan api.

Asap Selalu Tahu Posisi Mata

Kayu dikumpulkan.

Tempat memasak disiapkan.

Api mulai dinyalakan.

Di sinilah kegiatan sederhana mulai terasa tidak sesederhana kelihatannya.

Ada kayu yang cepat terbakar.

Ada yang lebih banyak menghasilkan asap.

Ditiup dari satu sisi, asap masuk mata.

Pindah posisi.

Angin berubah.

Asap ikut pindah.

Entah kenapa kalau memasak dengan kayu, asap seperti tahu persis di mana manusia sedang berdiri.

Mata pedih.

Geser lagi.

Tapi lama-lama api stabil juga.

Ketika teman-teman dari pasar kembali, suasana berubah menjadi dapur terbuka.

Bahan dikeluarkan.

Bumbu mulai diracik.

Ikan dibersihkan.

Kemudian masuk ke atas bara.

Beberapa menit kemudian aroma ikan bakar mulai tercium.

Dan aroma seperti itu punya kemampuan memanggil orang.

Yang tadi duduk jauh mulai mendekat.

Yang tadinya belum lapar mulai melihat-lihat.

Semua menunggu ikan matang.

Ada yang hasil bakarnya bagus.

Ada bagian yang sedikit terlalu lama kena api.

Nggak masalah.

Kami bukan sedang buka restoran.

Begitu siap, kami makan bersama.

Nggak ada plating.

Nggak ada meja makan yang rapi.

Nggak ada yang sibuk menilai tampilannya.

Makan pakai tangan, ngobrol, saling komentar, kemudian nambah lagi.

Anehnya, sampai sekarang aku bahkan nggak ingat persis bumbunya seperti apa.

Tapi aku ingat suasananya.

Asapnya.

Orang-orangnya.

Dan ramainya makan siang itu.

Mungkin memang ada makanan yang kita ingat karena rasanya.

Ada juga makanan yang kita ingat karena cerita sebelum makanan itu sampai ke mulut.

Harusnya Selesai, Tapi Kami Belum Mau Pulang

Selesai makan, sebenarnya rangkaian camping kami sudah cukup.

Kalau mau langsung beres-beres dan pulang juga bisa.

Tapi rasanya masih terlalu cepat.

Akhirnya perjalanan berlanjut ke Waduk Jatibarang.



Kalau sejak malam sebelumnya suasana kami didominasi ngobrol santai, udara dingin dan suara alam, di waduk semuanya berubah.

Kami naik speedboat.

Begitu mesin menyala dan perahu mulai melaju kencang, ketenangan tadi langsung hilang.

Angin menghantam wajah.

Air sesekali muncrat.

Perahu membelah waduk.

Dan tentu saja...

teriakan mulai terdengar.

Ada yang menikmati.

Ada yang tertawa.

Ada yang terlihat santai, meskipun tangannya tetap erat memegang.

Aku melihat ke sekeliling.

Air Waduk Jatibarang terbentang luas dengan perbukitan di sekitarnya.

Langit sudah mulai menuju sore.

Anginnya kencang.

Aku menikmati pemandangan itu.

Aku memang suka melihat bentang alam yang luas. Gunung, laut, waduk, sawah—entah kenapa selalu ada rasa lega ketika melihatnya.

Nggak perlu dicari maknanya terlalu jauh.

Sore itu aku cuma merasa senang.

Dan rasanya memang cukup.

Bagian yang Selalu Ingin Ditunda

Tapi perjalanan tetap harus selesai.

Kami kembali ke camping ground dan mulai membereskan barang.

Ini bagian yang paling malas kulakukan setiap camping.

Melipat tenda.

Bukan karena sulit.

Tapi ketika pasak mulai dicabut dan tenda mulai dilipat, rasanya seperti ada pengumuman tidak tertulis:

sudah, waktunya kembali.

Barang dicek.

Sampah dikumpulkan.

Area yang kami gunakan dibersihkan lagi.

Pelan-pelan tempat yang sejak kemarin dipenuhi suara kami kembali sepi.

Baru saat itulah capek mulai terasa.

Semalam kurang tidur nyaman.

Pagi memancing.

Cari kayu.

Kena asap.

Masak.

Makan.

Naik speedboat.

Sekarang tinggal pulang.

Tapi justru ketika semua selesai, rasanya sayang juga.

Padahal cuma semalam.

Padahal Kandri nggak jauh.

Ternyata yang Paling Lama Tinggal Justru Hal-Hal Receh

Beberapa hari kemudian semuanya kembali seperti biasa.

Anak-anak magang kembali dengan kegiatannya.

Teman-teman Kapala kembali dengan urusan masing-masing.

Aku juga kembali ke pekerjaan.

Camping selesai.

Tapi anehnya, ketika sekarang mengingat perjalanan itu, yang muncul bukan sesuatu yang spektakuler.

Justru potongan-potongan kecil.

Orang yang kelihatannya paling sibuk ketika mendirikan tenda.

Obrolan Malam 1 Suro yang tiba-tiba berhenti.

Suara serangga ketika kami diam.

Bangun dengan badan pegal.

Bubur hangat.

Menunggu ikan.

Asap yang masuk mata.

Ikan bakar.

Makan ramai-ramai.

Angin yang menghantam muka di atas speedboat.

Lalu rasa malas ketika harus melipat tenda.

Hal-hal kecil yang waktu itu terasa biasa saja.

Tapi rupanya justru itu yang tertinggal.

Aku sudah cukup sering pergi ke alam dan semakin lama semakin sadar bahwa aku nggak selalu membutuhkan perjalanan jauh.

Nggak harus selalu mendaki gunung.

Nggak harus menemukan tempat baru.

Kadang aku cuma perlu keluar sebentar dari rutinitas.

Tidur di tenda.

Ngobrol sampai malam.

Bangun pagi.

Makan bersama.

Lalu pulang.

Hidup setelah itu tetap sama.

Pekerjaan masih ada.

Rutinitas juga menunggu.

Tapi setidaknya kepala terasa sedikit lebih ringan.

Dan sampai sekarang aku masih ingat malam ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti itu.

Suara serangga terdengar jelas.

Angin melewati pepohonan.

Kami duduk di tengah gelapnya Kandri pada Malam 1 Suro.

Padahal semua itu bermula dari obrolan iseng di kantor yang seharusnya bisa saja berakhir sebagai wacana.

Untung waktu itu kami jadi berangkat.

Sebab ternyata, beberapa perjalanan yang paling enak dikenang memang tidak pernah direncanakan untuk menjadi istimewa.


Sunday, July 19, 2026

"Dalam sebuah pendakian, puncak bukanlah tujuan yang paling penting. Tujuan yang sesungguhnya adalah semua orang bisa kembali pulang dengan selamat."


Ilustrasi Gambar


Aku baru benar-benar memahami kalimat itu pada sebuah malam di Gunung Sundoro.

Langit gelap tanpa bintang.

Kabut menelan seluruh jalur pendakian.

Hujan turun tanpa henti sejak sehari sebelumnya.

Tubuhku sendiri sudah mulai menggigil.

Di depanku, seorang sahabat tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri.

Ketika kuraba tangannya, dingin.

Kakinya juga dingin.

Wajahnya pucat.

Hanya bagian sekitar pusarnya yang masih terasa sedikit hangat.

Aku langsung tahu...

hipotermia.

Aku menoleh ke kanan.

Gelap.

Ke kiri.

Gelap.

Tak ada satu pun teman.

Tak ada suara.

Tak ada bantuan.

Yang ada hanya hujan, angin, dan seorang sahabat yang perlahan sedang kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup.

Saat itu aku dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah diajarkan dalam buku pendakian.

Tetap menunggu bantuan...

atau melakukan sesuatu dengan risiko yang sama besarnya.

Tanpa berpikir panjang, kulepaskan ransel dari punggungku.

Sleeping bag.

Logistik.

Peralatan masak.

Pakaian.

Semuanya kutinggalkan begitu saja.

Yang kubawa hanyalah tubuh seorang teman yang tak lagi mampu berjalan.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menyeretnya menuruni Gunung Sundoro.

Malam itu...

nyawa benar-benar menjadi taruhan.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1994 ketika kami, sekitar tiga puluh mahasiswa Geologi angkatan 1993, mengikuti kegiatan Sundoro Clean Up.

Tujuan kegiatan ini sederhana tetapi bermakna.

Kami ingin menikmati keindahan Gunung Sundoro sekaligus membersihkan jalur pendakian dan kawasan puncak dari sampah yang ditinggalkan para pendaki.

Setiap peserta membawa perlengkapan pendakian sesuai standar.

Jaket.

Sleeping bag.

Logistik.

Peralatan memasak.

Dan tentu saja kantong plastik hitam berukuran besar untuk mengangkut sampah yang kami temukan selama perjalanan.

Sabtu malam sekitar pukul sebelas, kami meninggalkan basecamp Kledung.

Perjalanan diawali melewati jalan kampung, kemudian menyusuri pematang ladang penduduk. Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami mulai memasuki hutan pinus.

Sejak langkah pertama, hujan sudah turun.

Dan hujan itu tidak pernah benar-benar berhenti.

Semua peserta mengenakan jas hujan.

Isi ransel dibungkus plastik agar tetap kering.

Dalam kondisi seperti itu ada satu aturan yang harus dipatuhi.

Kami tidak boleh terlalu lama berhenti.

Istirahat hanya sekitar tiga sampai lima menit.

Karena semakin lama tubuh berhenti bergerak, semakin cepat udara dingin merampas panas tubuh.

Hipotermia selalu mengintai.

Menjelang Subuh kami tiba di padang edelweiss.

Pemandangannya sangat indah.

Hamparan bunga edelweiss tumbuh sejauh mata memandang.

Jalur mulai melandai, pertanda puncak sudah tidak jauh lagi.

Namun justru di tempat seindah itulah semuanya berubah.

Tiba-tiba badai datang.

Angin bertiup sangat kencang.

Kabut turun semakin rapat.

Hujan berubah menjadi ancaman.

Kami segera merapat menjadi satu rombongan besar agar tidak ada yang terpisah.

Tidak lama kemudian beberapa teman mulai mengeluh.

Jari-jari tangan mereka mulai kaku.

Sebagian sudah tidak bisa merasakan ujung jarinya.

Kami semua memahami gejala itu.

Hipotermia mulai menyerang.

Pimpinan rombongan saat itu, Mas Komo, langsung mengambil keputusan.

"Kita turun!"

Tidak ada yang membantah.

Dalam kondisi seperti itu, keselamatan jauh lebih penting daripada mencapai puncak.

Setelah turun beberapa ratus meter, sebagian besar teman mulai membaik.

Tubuh mereka dihangatkan.

Tangan dan kaki terus digerakkan agar suhu tubuh kembali normal.

Namun satu orang tidak.

Ia seorang mahasiswi.

Kondisinya justru semakin melemah hingga tidak mampu lagi berjalan.

Keputusan sulit pun diambil.

Rombongan utama tetap turun agar tidak semakin banyak korban.

Sementara aku, Mas NCP, mahasiswi itu, dan kekasihnya tetap bertahan di atas.

Kami membuat bivak darurat.

Berusaha menyalakan api.

Menunggu cuaca membaik.

Keputusan itu sebenarnya sangat berat.

Mahasiswi tersebut adalah putri seorang Pembantu Rektor di salah satu universitas swasta ternama di Yogyakarta.

Jika sampai tidak pulang sesuai jadwal, keluarganya pasti panik dan kemungkinan besar akan dilakukan pencarian.

Di sisi lain, ia mendaki bersama kekasihnya, sementara hubungan mereka saat itu belum mendapat restu dari keluarganya.

Kami memang masih mempunyai persediaan makanan.

Tetapi itu bukan persoalan utama.

Yang paling kami khawatirkan adalah hujan yang belum berhenti.

Kayu bakar semuanya basah.

Api sulit dinyalakan.

Pakaian kami sendiri sudah basah sejak semalam.

Dan kami tahu, semakin lama bertahan di sana, semakin besar kemungkinan kami ikut menjadi korban hipotermia.

Menjelang siang aku dan Mas NCP akhirnya mengambil keputusan.

Kami harus membagi tugas.

Mas NCP tetap menjaga mahasiswi yang sakit bersama kekasihnya.

Sedangkan aku turun mencari bantuan.

Aku berlari menyusuri jalur pendakian yang licin selama kurang lebih dua setengah jam hingga tiba di basecamp.

Sesampainya di bawah aku langsung menemui pimpinan rombongan.

Syukurlah, mereka ternyata juga sedang mempersiapkan tim penyelamat.

Tenda.

Sleeping bag.

Logistik.

Air.

Obat-obatan.

Semuanya sudah disiapkan.

Enam orang dipilih untuk kembali naik bersamaku.

Kami mendaki lagi.

Bukan menuju puncak.

Tetapi menjemput tiga orang yang masih bertahan di atas.

Beberapa jam kemudian kami bertemu.

Syukurlah kondisi mahasiswi itu sudah mulai membaik.

Ia memang masih lemah, tetapi sudah mampu berjalan perlahan sambil dipapah.

Aku benar-benar lega.

Kupikir semua perjuangan kami hampir selesai.

Ternyata aku salah.

Menjelang petang rombongan kembali turun.

Enam orang penyelamat bersama mahasiswi yang sakit dan kekasihnya berjalan di depan.

Aku dan Mas NCP memilih berjalan agak di belakang sambil berdiskusi tentang kemungkinan terburuk apabila malam nanti kami belum berhasil turun.

Tanpa terasa rombongan depan berjalan semakin jauh.

Cahaya senter mereka perlahan menghilang di balik tikungan jalur.

Jam menunjukkan sekitar pukul delapan malam.

Tubuhku mulai menggigil.

Sejak semalam pakaian kami tidak pernah benar-benar kering.

Naik.

Turun.

Naik lagi.

Hampir dua puluh jam tubuh ini terus diguyur hujan.

Aku masih sempat mengajak Mas NCP berbicara.

Namun suaranya semakin pelan.

Semakin lirih.

Hingga akhirnya tidak ada jawaban lagi.

Aku menoleh.

Mas NCP sudah terjatuh.

Pingsan.

Aku segera memeriksa kondisinya.

Tangannya dingin.

Kakinya dingin.

Wajahnya pucat.

Hampir seluruh tubuhnya terasa membeku.

Hanya bagian sekitar pusarnya yang masih menyisakan sedikit kehangatan.

Hipotermia.

Aku kembali sendirian.

Di tengah gelap.

Di tengah hujan.

Di tengah Gunung Sundoro.

Tanpa berpikir panjang kulepas kembali ransel dari punggungku.

Seluruh perbekalan kutinggalkan begitu saja di pinggir jalur.

Makanan.

Sleeping bag.

Peralatan.

Semuanya.

Yang tersisa hanya satu tujuan.

Menyelamatkan seorang sahabat.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kuseret tubuh Mas NCP sedikit demi sedikit menuruni lereng Gunung Sundoro.

Kadang kupapah.

Kadang kupikul.

Kadang tubuhnya hanya terseret mengikuti langkahku.

Di dalam hati aku hanya terus berdoa.

"Ya Allah... jangan biarkan kami terlambat."

Saat itu aku baru benar-benar mengerti bahwa di gunung, ransel bisa dibeli lagi.

Sleeping bag bisa diganti.

Peralatan bisa dicari.

Tetapi nyawa seorang sahabat...

tidak akan pernah bisa digantikan.


Thursday, July 2, 2026

Merapi selalu punya cara mempertemukan seseorang dengan cerita baru. Kali ini, aku datang bukan untuk mendaki atau mengejar matahari terbit, melainkan untuk bertemu seorang legenda trekking Merapi yang namanya sudah lama membuatku penasaran.



Bagi para pecinta alam di Yogyakarta, Merapi bukan sekadar gunung. Bersama Pantai Parangtritis dan Keraton Yogyakarta, ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah, budaya, sekaligus perjalanan hidup banyak orang. Bagi organisasi pencinta alam, lereng Merapi bahkan menjadi "ruang kelas" yang nyaris tak pernah sepi untuk pendidikan dasar maupun latihan gunung hutan.

Namun, malam itu aku datang bukan untuk mendaki.

Bukan pula untuk berburu matahari terbit.

Aku datang karena penasaran pada satu nama yang sudah lama kudengar: Cristian Awuy.

Seorang pemandu yang oleh banyak orang disebut sebagai legenda wisata trekking Merapi.

Suatu malam aku diminta mengisi materi goal setting di Hostel Vogel, Kaliurang. Sebelum berangkat, aku sudah menyiapkan materi, lembar permainan, dan berbagai perlengkapan pelatihan seperti biasanya. Namun, ada satu harapan kecil yang terus kubawa sepanjang perjalanan.

Semoga malam ini aku bisa bertemu Cristian Awuy.

Kami memang pernah bertemu sebelumnya. Pernah berbincang sekilas. Tetapi aku belum pernah melihat bagaimana ia berbicara di depan peserta, bagaimana ia memandang Merapi, dan bagaimana ia membangun sebuah usaha wisata yang dikenal hingga mancanegara.

Harapan itu ternyata terkabul.

Saat aku tiba di Hostel Vogel, beliau sedang menyampaikan materi tentang trekking Merapi dan ekowisata. Aku datang tepat ketika sesi diskusi dimulai.

Aku memilih duduk di antara peserta.

Tidak bertanya.

Hanya mendengarkan.

Semakin lama aku menyimak, semakin kusadari bahwa kekuatan Cristian Awuy bukan terletak pada teori yang dihafalnya.

Ia lebih banyak bercerita.

Tentang pengalaman.

Tentang kegagalan.

Tentang bagaimana membaca alam.

Tentang bagaimana memperlakukan tamu.

Dan yang paling menarik, ia menjawab setiap pertanyaan tanpa pernah terlihat ingin menggurui.

Dalam hati aku hanya bergumam,

"Hebat."

Bukan karena semua jawabannya sempurna.

Melainkan karena hampir setiap jawaban lahir dari pengalaman nyata.

Aku semakin yakin bahwa bisnis yang dibangun dari hobi memiliki jiwa yang berbeda. Orang-orang seperti itu tidak sekadar menjual jasa.

Mereka sedang membagikan sesuatu yang mereka cintai.

Diskusi malam itu berlangsung semakin panjang.

Sebagai pemateri berikutnya, sebenarnya aku memiliki jatah waktu sendiri. Namun melihat antusiasme peserta, aku justru meminta panitia memotong sesi materiku agar diskusi bersama Cristian Awuy bisa diteruskan sampai semua pertanyaan peserta benar-benar terjawab.

Bagiku, kesempatan belajar langsung dari pelaku jauh lebih berharga daripada mempertahankan durasi presentasiku.

Sebelum acara ditutup, beliau memberikan pengarahan untuk trekking dini hari.

Dalam hati aku kembali berharap.

Semoga besok beliau sendiri yang menjadi pemandu.

Sayangnya harapan itu tidak terwujud.

Beliau memiliki agenda lain sehingga jalur trekking dipandu oleh salah seorang asistennya.

Pukul tiga dini hari kami dibangunkan.

Udara Kaliurang masih menusuk kulit.

Setelah mencuci muka, menyiapkan air minum dan sedikit camilan, tepat pukul empat kami mulai berjalan meninggalkan Hostel Vogel menuju lereng Merapi.

Aku sengaja tidak akan menyebut jalur yang kami lalui.

Bukan karena ingin merahasiakan.

Melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada pengelola yang telah merintis dan menjaga jalur tersebut.

Sejak awal, sebenarnya aku tidak sedang mengejar puncak.

Yang ingin kupelajari justru hal-hal yang sering luput dari perhatian wisatawan.

Mengapa jalur ini dipilih?

Mengapa rombongan berhenti di titik tertentu?

Apa yang diceritakan pemandu sepanjang perjalanan?

Bagaimana sebuah pengalaman alam disusun agar tetap menarik tanpa mengabaikan keselamatan maupun kelestarian lingkungan?

Di sinilah aku menemukan sisi lain Merapi.

Aku menyadari bahwa teori yang selama ini kubaca di buku ternyata tidak selalu bisa diterapkan secara kaku di lapangan.

Di sisi lain, praktik yang baik juga tidak boleh meninggalkan prinsip-prinsip dasar ekowisata.

Daya dukung jalur harus dijaga.

Jumlah pengunjung harus dikendalikan.

Vandalisme harus dicegah.

Alam tetap harus menjadi pihak yang paling dihormati.

Banyak pelajaran yang kudapat pagi itu.

Ada hal-hal yang menurutku sangat baik.

Ada pula beberapa catatan yang mungkin bisa disempurnakan.

Namun sengaja tidak kutuliskan secara rinci, karena setiap jalur memiliki karakter, tantangan, dan pertimbangannya sendiri. Aku tidak ingin membentuk opini hanya dari satu kali pengalaman.

Yang bisa kusampaikan hanyalah ini.

Jika Anda ingin menikmati wajah Merapi tanpa harus melakukan pendakian berat, jalur trekking yang dikembangkan Cristian Awuy layak dicoba.

Bukan semata karena pemandangannya.

Tetapi karena perjalanan itu mengajarkan bahwa menikmati gunung bukan hanya soal mencapai tujuan.

Melainkan memahami cerita yang hidup di setiap langkah menuju ke sana.

Dan malam itu, aku pulang bukan hanya membawa pengalaman trekking.

Aku pulang dengan pemahaman baru bahwa di balik sebuah jalur wisata yang baik, selalu ada orang-orang yang mencintai alam jauh lebih besar daripada sekadar menjadikannya tempat mencari nafkah.

Salam Lestari.


Thursday, June 18, 2026

Puncak gunung tidak pernah membunuh pendaki.

Yang sering mencelakakan justru kesalahan-kesalahan kecil yang dianggap sepele.

Membawa barang terlalu banyak. Meremehkan cuaca. Tidak cukup minum. Terlalu percaya diri. Atau sekadar berpikir, "Ah, nanti juga bisa."

Ilustrasi Gambar Panduan Pendaki Pemula

Sebagian besar pendaki yang tersesat, hipotermia, kehabisan tenaga, bahkan harus dievakuasi sebenarnya tidak berawal dari masalah besar. Mereka hanya melewatkan hal-hal dasar yang seharusnya dipersiapkan sejak rumah.

Jika ini pendakian pertamamu, luangkan waktu beberapa menit untuk membaca panduan ini.

Karena gunung akan tetap berdiri besok.

Tapi kesempatan kedua tidak selalu datang dua kali.

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah cara menikmati keindahan alam. Bagi yang lain, mendaki adalah cara menguji kemampuan diri sendiri. Namun bagi saya, setelah bertahun-tahun berjalan di berbagai jalur pendakian, gunung justru menjadi tempat belajar tentang kerendahan hati.

Di gunung, manusia tidak pernah benar-benar berkuasa.

Kita hanya tamu yang diberi kesempatan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya dari tempat yang lebih tinggi.

Karena itulah, sebelum berbicara tentang puncak, foto keren, atau berapa gunung yang sudah didaki, ada satu hal yang harus dipahami terlebih dahulu: keselamatan selalu lebih penting daripada pencapaian.

1. Perbekalan: Bawa Seperlunya, Bukan Sebanyak-banyaknya
Kesalahan paling umum pendaki pemula adalah membawa terlalu banyak barang.
Mereka takut kekurangan, sehingga hampir semua barang dianggap penting dan akhirnya masuk ke dalam carrier. Akibatnya tas menjadi terlalu berat, langkah semakin lambat, dan tenaga habis bahkan sebelum mencapai puncak.
Padahal prinsip dasar perbekalan sangat sederhana:
Bawa yang dibutuhkan, tinggalkan yang tidak diperlukan.
Perbekalan utama yang wajib tersedia antara lain:
Air Minum
Tubuh kehilangan banyak cairan selama pendakian. Minumlah sedikit tetapi sering. Jangan menunggu haus karena saat rasa haus muncul, tubuh sebenarnya sudah mulai mengalami kekurangan cairan.
Makanan Utama
Pilih makanan yang mudah dimasak, praktis, dan mengandung cukup karbohidrat untuk menjaga energi.
Camilan Berkalori Tinggi
Kurma, kacang-kacangan, cokelat, atau biskuit sering kali menjadi penyelamat saat tenaga mulai menurun di tengah jalur.
Perlengkapan P3K
Bawalah obat pribadi dan perlengkapan pertolongan pertama secukupnya. Tidak perlu besar, tetapi harus siap digunakan saat diperlukan.
Seorang pendaki yang baik bukan yang membawa paling banyak barang, melainkan yang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.

2. Packing: Ringan di Punggung, Nyaman di Perjalanan
Packing bukan sekadar memasukkan barang ke dalam tas.
Susunan barang yang tepat dapat membuat perjalanan jauh lebih nyaman dan menghemat energi.
Barang yang sering digunakan seperti jas hujan, jaket, headlamp, dan P3K kecil sebaiknya ditempatkan di bagian atas agar mudah dijangkau.
Barang yang lebih berat seperti makanan, kompor, nesting, dan air minum ditempatkan di bagian tengah dekat punggung. Posisi ini membantu menjaga keseimbangan tubuh saat berjalan.
Sementara sleeping bag dan pakaian tidur dapat ditempatkan di bagian bawah karena biasanya baru digunakan saat tiba di area berkemah.
Prinsip yang banyak digunakan pendaki berpengalaman adalah:
Barang berat dekat punggung dan berada di tengah. Semakin ke luar dan ke atas, semakin ringan.
Carrier yang tertata dengan baik akan terasa jauh lebih ringan dibanding carrier dengan berat yang sama tetapi disusun secara sembarangan.

3. Peralatan: Pilih yang Tepat, Bukan yang Mahal
Dunia pendakian sering membuat pendaki pemula tergoda membeli berbagai perlengkapan mahal.
Padahal keselamatan tidak selalu berbanding lurus dengan harga.
Peralatan terbaik bukan yang paling mahal, tetapi yang sesuai kebutuhan dan berfungsi dengan baik saat diperlukan.
Carrier yang nyaman, tenda yang sesuai kapasitas, sleeping bag yang hangat, kompor yang aman, headlamp yang berfungsi baik, serta jas hujan yang mampu melindungi tubuh dari hujan dan angin adalah prioritas utama.
Banyak pendaki berpengalaman yang masih menggunakan perlengkapan sederhana selama perlengkapan tersebut masih layak dan dapat diandalkan.
Karena saat cuaca berubah buruk, yang dicari bukan merek perlengkapan, tetapi fungsi perlengkapannya.

4. Teknik Mendaki: Menjaga Ritme Lebih Penting daripada Kecepatan
Kesalahan lain yang sering dilakukan pendaki pemula adalah terlalu bersemangat di awal perjalanan.
Mereka berjalan cepat, menyalip banyak orang, lalu kehabisan tenaga sebelum mencapai setengah jalur.
Padahal mendaki bukan perlombaan.
Mendaki adalah tentang menjaga ritme.
Gunakan langkah pendek saat menghadapi tanjakan. Berjalanlah dengan kecepatan yang bisa dipertahankan dalam waktu lama.
Minumlah secara teratur dan beristirahatlah sebelum tubuh benar-benar kelelahan.
Jangan malu berjalan pelan.
Di gunung, yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai.
Yang penting adalah siapa yang mampu menjaga tenaga hingga perjalanan selesai.
Selain itu, selalu perhatikan kondisi cuaca.
Gunung memiliki aturan sendiri. Jika cuaca memburuk, jangan ragu mengambil keputusan untuk berhenti, menunggu, atau bahkan turun.
Puncak akan tetap ada besok.
Keselamatan belum tentu mendapat kesempatan kedua.

5. Mental Pendaki: Bekal yang Tidak Masuk ke Dalam Carrier
Banyak orang menyiapkan fisik dan perlengkapan, tetapi lupa menyiapkan mental.
Padahal gunung sering kali lebih banyak menguji mental dibandingkan fisik.
Saat tubuh mulai lelah, cuaca berubah dingin, hujan turun, atau perjalanan terasa jauh lebih berat dari perkiraan, mental menjadi faktor yang menentukan.
Kenali kemampuan diri sendiri.
Jangan memaksakan diri demi gengsi.
Terimalah bahwa rasa lelah, lapar, dingin, dan ketidaknyamanan adalah bagian dari proses pendakian.
Jika mendaki bersama teman, jagalah kekompakan.
Puncak tidak akan terasa istimewa jika harus dicapai dengan mengorbankan keselamatan anggota tim.
Dan yang paling penting, tetaplah rendah hati.
Hormati alam, hormati sesama pendaki, dan tinggalkan jalur dalam keadaan lebih baik daripada saat kita datang

Refleksi: Ketika Gunung Mengajarkan Hal yang Lebih Penting dari Puncak
Semakin lama saya mendaki, semakin saya memahami bahwa puncak sebenarnya bukan bagian paling berharga dari sebuah perjalanan.
Puncak hanya berlangsung beberapa menit.
Kadang hanya cukup waktu untuk berfoto, menikmati pemandangan, lalu turun kembali.
Namun proses menuju ke sana akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.
Saya masih mengingat rasa lelah saat menembus tanjakan panjang. Saya masih mengingat dinginnya malam di tenda, suara angin yang menerpa flysheet, teman yang berbagi makanan ketika perbekalan menipis, atau pendaki lain yang menawarkan bantuan ketika kami kesulitan.
Justru hal-hal sederhana itulah yang paling membekas.
Gunung mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi yang tercepat atau yang pertama mencapai tujuan.
Kadang yang lebih penting adalah kemampuan menjaga ritme, memahami batas diri, bekerja sama dengan orang lain, dan tetap bersyukur dalam keadaan yang tidak selalu nyaman.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pendakian tidak diukur dari seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai.
Keberhasilan pendakian diukur dari seberapa bijaksana kita mengambil keputusan, seberapa baik kita menjaga diri dan teman seperjalanan, serta apakah kita mampu kembali pulang dengan selamat.
Sebab gunung akan tetap berdiri megah meskipun kita tidak sampai di puncaknya hari ini.
Namun keluarga di rumah selalu berharap kita kembali.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang diajarkan gunung kepada setiap pendaki:
Puncak bukan tujuan akhir. Keselamatan adalah tujuan utama.
Naik dengan selamat. Nikmati perjalanan. Pulang dengan selamat.

Kariswisata.com
Life • Learning • Tourism


Tidak semua pendakian yang berkesan diawali dengan perencanaan yang matang dan rombongan yang lengkap. Kadang justru sebaliknya.
Rencana yang berantakan, teman-teman yang tidak jadi datang, perlengkapan yang tidak lengkap, dan kondisi yang jauh dari ideal justru melahirkan cerita yang paling lama bertahan dalam ingatan.
Begitulah yang terjadi pada sebuah pendakian Gunung Sundoro pada tahun 1994.
Pendakian yang semula direncanakan untuk lima orang, tetapi akhirnya hanya diikuti dua orang.
Dan secara tidak terduga mengajarkan saya tentang arti persahabatan, kreativitas dalam bertahan hidup, dan pentingnya saling menjaga dalam sebuah perjalanan.

Ilustrasi Gambar Keidnginan di Bivak

Selain Gunung Sumbing, Gunung Sundoro termasuk gunung yang cukup sering saya daki pada masa itu.
Alasannya sederhana.
Dari Yogyakarta akses menuju basecamp relatif mudah dijangkau menggunakan kendaraan umum. Tidak perlu menyambung ojek dan tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh hanya untuk mencapai titik awal pendakian.
Karena cukup sering mendaki ke sana, suatu ketika kami merencanakan survei jalur untuk persiapan pendakian massal yang akan dilaksanakan pada akhir tahun.
Rencananya ada lima orang yang ikut.
Masing-masing berangkat dari rumah atau kos menuju basecamp dan bertemu di sana.
Saya berangkat dari Yogyakarta.
Seorang adik kelas perempuan, sebut saja Mawar, berangkat dari Banjarnegara.
Sementara tiga orang lainnya datang dari tempat yang berbeda.
Setidaknya begitulah rencananya.
Namun malam itu rencana tinggal rencana.
Semakin larut malam, satu per satu orang yang ditunggu tidak kunjung muncul.
Saat itu telepon genggam belum ada. Jadi kami tidak bisa menghubungi siapa pun untuk memastikan apakah mereka terlambat, batal berangkat, atau bahkan mungkin sudah berangkat lewat jalur lain.
Yang jelas, hingga waktu yang disepakati tiba, yang hadir hanya dua orang.
Saya dan Mawar.
Kami sempat berdiskusi cukup lama.
Apakah pendakian dibatalkan saja?
Atau ditunda satu hari?
Masalahnya, malam itu adalah malam Minggu. Jika ditunda, berarti pendakian baru bisa dimulai malam berikutnya yang sudah masuk malam Senin.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami akhirnya memutuskan tetap berangkat.
Toh tujuan utama kami hanya survei jalur.
Kalau memang kondisi tidak memungkinkan, kami selalu bisa memutuskan untuk kembali turun.
Masalah berikutnya adalah perlengkapan.
Karena pendakian ini sejak awal dirancang untuk lima orang, perlengkapan kelompok sudah dibagi-bagi.
Tenda dibawa salah satu teman yang ternyata tidak datang.
Beberapa perlengkapan lain juga ikut menghilang bersama pemiliknya.
Untungnya kami masih membawa perlengkapan dasar yang cukup untuk bertahan hidup.
Masing-masing membawa satu ponco.
Artinya jika terpaksa membuat perlindungan darurat, kami masih punya cara untuk melindungi diri dari hujan atau angin.
Memang tidak senyaman tenda.
Tetapi masih jauh lebih baik daripada tidak membawa apa-apa.
Tepat sekitar pukul dua belas malam kami mulai berjalan.
Jalur awal masih melewati ladang-ladang milik penduduk.
Udara malam terasa sejuk dan perjalanan berjalan normal.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Pos 1.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2 melalui jalur yang mulai memasuki kawasan peralihan antara ladang dan pinggiran hutan.
Dan di situlah kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas terjadi.
Entah karena kondisi badan yang kurang fit.
Entah karena kelelahan.
Entah karena cuaca malam itu memang luar biasa dingin.
Tiba-tiba saya merasakan hawa dingin yang tidak biasa.
Awalnya saya mengabaikannya.
Saya pikir nanti juga hilang kalau terus berjalan.
Tetapi ternyata tidak.
Semakin lama tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Jari-jari tangan mulai terasa kaku.
Gigi mulai beradu.
Langkah kaki semakin berat.
Yang paling mengganggu justru rasa lelah dan kantuk yang datang bersamaan.
Saya masih berusaha berjalan beberapa saat.
Namun akhirnya harus mengakui bahwa tubuh saya tidak sanggup dipaksa lebih jauh.
Kami pun menepi.
Dua ponco segera dirangkai menjadi bivak darurat sederhana.
Kompor parafin dinyalakan.
Harapannya tubuh bisa kembali hangat.
Tetapi panas dari kompor ternyata tidak cukup.
Api kecil itu kalah melawan dinginnya udara pegunungan.
Untung lokasi kami masih berada di dekat area ladang sehingga cukup mudah menemukan ranting dan kayu bakar.
Kami segera mengumpulkan kayu dan membuat api unggun.
Lidah api mulai membesar.
Asap mengepul ke udara malam.
Cahaya api menerangi wajah kami yang mulai pucat karena kedinginan.
Namun anehnya, meskipun api unggun sudah menyala, tubuh saya tetap tidak nyaman.
Punggung terasa hangat.
Tetapi bagian depan tubuh masih terus kehilangan panas.
Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mencari cara lain.
Saya mengambil sarung yang biasa saya gunakan untuk tidur.
Sarung itu saya lilitkan rapat ke tubuh.
Lalu bagian luarnya saya bungkus lagi menggunakan ponco.
Lumayan membantu.
Tetapi masih belum cukup.
Kemudian saya melihat Mawar yang duduk di dekat api unggun.
Saya berkata sambil tertawa,
"Kalau begini ceritanya, kayaknya aku butuh sleeping bag hidup."
Mawar tertawa.
Saya juga tertawa.
Tetapi beberapa saat kemudian kami mencoba sesuatu yang mungkin terdengar aneh jika diceritakan sekarang.
Saya tengkurap di dalam bivak.
Sementara Mawar berbaring di atas saya dengan posisi menghadap ke atas.
Tujuannya sederhana.
Memanfaatkan panas tubuh agar saya tidak kehilangan terlalu banyak energi.
Tidak ada yang romantis.
Tidak ada yang aneh.
Saat itu kami hanya dua pendaki yang sedang berusaha bertahan dari dinginnya malam dengan perlengkapan yang sangat terbatas.
Dan ternyata cara sederhana itu berhasil.
Perlahan tubuh saya mulai terasa lebih hangat.
Gigil berkurang.
Kelopak mata mulai terasa berat.
Dan tanpa sadar saya tertidur.
Entah berapa lama.
Ketika terbangun, api unggun masih menyala meskipun tidak sebesar sebelumnya.
Udara masih dingin.
Tetapi badan saya sudah terasa jauh lebih baik.
Masih dingin, tentu saja.
Namun kali ini saya merasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan.
Saya duduk.
Meregangkan badan.
Lalu menatap Mawar.
"Gimana? Lanjut?"
Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Tidak ada pidato motivasi.
Tidak ada kata-kata heroik.
Kami hanya membereskan perlengkapan, memastikan api benar-benar padam, lalu kembali memanggul ransel.
Beberapa menit kemudian kami kembali berjalan menembus gelapnya lereng Sundoro.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal beberapa jam sebelumnya saya hampir menyerah karena dingin.

Sekarang, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, saya sering tersenyum sendiri setiap kali mengingat peristiwa itu.
Yang saya ingat bukan puncaknya.
Bukan pula jalurnya.
Bahkan bukan api unggunnya.
Yang paling saya ingat justru kebersamaan sederhana pada malam itu.
Tentang dua orang yang awalnya menunggu tiga teman yang tidak pernah datang.
Tentang perjalanan yang nyaris dibatalkan.
Tentang dingin yang hampir menghentikan langkah.
Dan tentang seorang teman yang tanpa banyak bicara memilih membantu sebisanya ketika melihat temannya sedang kesulitan.
Mungkin itulah alasan mengapa kenangan pendakian lama begitu sulit dilupakan.
Karena yang paling membekas bukan gunung yang kita daki.
Melainkan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita di sana.
Puncak akan tetap berada di tempatnya.
Tetapi kesempatan bertemu orang baik dalam sebuah perjalanan, belum tentu datang dua kali.

Sunday, June 14, 2026

Dulu saya mengira keberhasilan seorang pendaki hanya ditentukan oleh satu hal: berhasil atau tidak mencapai puncak.
Semakin tinggi gunung yang didaki, semakin berat jalurnya, semakin besar pula kebanggaan yang dirasakan. Setidaknya begitulah cara berpikir saya saat masih muda.
Namun sebuah malam di lereng Gunung Sumbing mengubah cara pandang itu.
Malam yang dingin. Sangat dingin.
Malam yang membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berdiri di atas puncak.


Setelah pengalaman mendaki sendirian ke Gunung Sumbing beberapa waktu sebelumnya, saya masih beberapa kali kembali ke gunung itu. Kadang sendirian, kadang bersama teman.
Saat itu mendaki gunung belum seramai sekarang. Belum ada media sosial. Belum ada istilah konten. Belum banyak orang naik gunung hanya karena sedang tren.
Kalau akhir pekan ada belasan rombongan pendaki saja sudah terasa ramai. Selebihnya gunung lebih sering sepi dan sunyi.

Suatu malam Minggu saya mendaki berdua bersama seorang teman.
Kami memilih jalur baru yang saat itu lebih kami sukai. Dari basecamp naik sedikit, lalu berbelok ke kanan di dekat masjid. Kalau lurus itu jalur lama yang lebih umum digunakan.
Kami mulai berjalan sekitar pukul sembilan malam.
Malam itu bulan hampir purnama. Langit cerah tanpa awan. Cahaya bulan menerangi lereng gunung dengan sangat jelas sehingga kami hampir tidak perlu menggunakan senter.
Awalnya saya senang.
Mendaki di bawah cahaya bulan memang terasa menyenangkan. Jalur terlihat jelas dan suasana gunung terasa begitu indah.
Tetapi beberapa saat kemudian saya mulai merasakan sesuatu.
Dingin.
Mula-mula biasa saja.
Lalu semakin lama semakin menjadi.
Saat memasuki area kebun milik penduduk yang membentang cukup jauh di lereng bawah Sumbing, hawa dingin mulai benar-benar terasa.
Orang-orang tua di kampung biasa menyebut kondisi seperti itu dengan istilah bediding.
Saat itu saya baru benar-benar memahami arti kata tersebut.
Dinginnya bukan sekadar membuat kulit merinding.
Rasanya seperti masuk perlahan ke dalam tubuh.
Masuk melalui ujung jari.
Merambat ke tangan.
Lalu menjalar ke kaki dan seluruh badan.
Padahal angin hampir tidak ada.
Udara malam terasa tenang.
Tetapi justru karena itulah dingin seperti diam-diam menyelimuti tubuh tanpa terasa.
Perlengkapan mendaki saya saat itu juga masih sangat sederhana.
Belum punya sleeping bag.
Belum punya tenda dome.
Belum punya jaket gunung yang layak.
Saya hanya memakai celana training panjang, jaket biasa, dan membawa sarung untuk tambahan penghangat.
Kalau sekarang melihat perlengkapan pendaki yang lengkap, saya sering tersenyum sendiri mengingat betapa sederhananya perlengkapan yang kami bawa saat itu.
Awalnya saya masih mencoba mengabaikan rasa dingin itu.
Saya berpikir, nanti juga hangat kalau terus jalan.
Ternyata saya salah.
Semakin lama berjalan, tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Tangan mulai terasa kaku.
Jari-jari sulit digerakkan dengan leluasa.
Sesekali rahang bergetar menahan dingin.
Yang paling mengganggu justru rasa kantuk yang datang begitu hebat.
Kelopak mata terasa berat.
Langkah kaki mulai lambat.
Pikiran terasa kosong.
Beberapa kali saya seperti berjalan tanpa benar-benar sadar sedang memikirkan apa.
Saat berhenti sebentar untuk beristirahat, tubuh langsung menggigil hebat.
Gigi mulai beradu.
Saat itulah saya mulai merasa situasinya tidak normal.
Saya menoleh ke teman saya.
"Wes, istirahat sik wae."
Dia mengangguk tanpa banyak bicara.
Rupanya dia juga merasakan hal yang sama.
Masalahnya, berhenti berjalan justru membuat badan semakin dingin.
Kami mencoba mencari tempat yang bisa digunakan untuk berlindung.
Tidak lama kemudian kami menemukan sebuah gubuk kecil di area kebun penduduk.
Di dalamnya tersimpan pupuk kandang dari kotoran sapi yang sudah kering.
Baunya memang tidak enak.
Tetapi malam itu kami tidak sedang memilih tempat yang nyaman.
Kami hanya butuh tempat untuk bertahan dari dingin.
Akhirnya kami masuk ke dalam.
Ponco kami gelar sebagai alas.
Sarung kami gunakan sebagai selimut.
Lalu bagian luar tubuh kami tutup lagi menggunakan ponco sehingga bentuknya mirip sleeping bag darurat.
Ajaibnya, cara sederhana itu sangat membantu.
Memang belum bisa disebut hangat.
Tetapi setidaknya tubuh tidak lagi menggigil sekeras sebelumnya.
Entah berapa lama kami tertidur.
Saat terbangun saya melihat jam tangan.
Pukul dua dini hari.
Di luar masih gelap.
Udara masih terasa sangat dingin.
Saya membangunkan teman saya.
Kami duduk bersandar di dinding gubuk sambil berpikir.
Lanjut atau turun?
Itulah pertanyaan yang muncul saat itu.
Tidak ada jawaban cepat.
Karena kami sadar, keputusan yang salah bisa membawa masalah.
Akhirnya kami sepakat membuat minuman dan makanan hangat terlebih dahulu.
Kompor parafin segera dinyalakan.
Air direbus.
Indomie dimasak.
Kopi dibuat.
Sederhana sekali.
Tetapi dalam kondisi seperti itu, semangkuk Indomie panas dan secangkir kopi terasa jauh lebih mewah daripada makanan apa pun.
Perlahan tubuh mulai terasa hangat kembali.
Pikiran juga mulai jernih.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.
Bukan karena gengsi.
Bukan karena takut dianggap gagal.
Tetapi karena setelah makan dan minum hangat, kami merasa kondisi tubuh sudah cukup baik untuk melanjutkan pendakian dengan aman.
Sebelum berangkat, saya mengeluarkan beberapa bungkus Indomie dan kopi dari dalam tas.
Saya gantungkan di salah satu sudut gubuk menggunakan kantong plastik.
Lalu saya menulis pesan singkat di secarik kertas.
Isinya ucapan terima kasih.
Saya tidak tahu siapa pemilik gubuk itu.
Saya juga tidak pernah bertemu dengannya.
Tetapi malam itu gubuk sederhana miliknya telah membantu dua pendaki yang sedang kesulitan menghadapi dinginnya Gunung Sumbing.
Beberapa menit kemudian kami kembali melangkah.
Meninggalkan gubuk.
Meninggalkan kehangatan sementara yang telah menyelamatkan kami.
Dan meneruskan perjalanan menuju puncak.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, yang paling saya ingat justru bukan puncaknya.
Bukan pula foto-foto perjalanan yang saat itu bahkan hampir tidak ada.
Yang saya ingat adalah dinginnya malam itu.
Gubuk kecil di tengah kebun.
Indomie panas yang mengepul di tengah udara pegunungan.
Dan keputusan sederhana untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari situlah saya belajar bahwa gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
Gunung adalah tempat untuk belajar rendah hati.
Karena sekuat apa pun manusia, alam selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita memiliki batas.
Dan sejak malam itu saya percaya, tidak ada puncak yang lebih berharga daripada pulang dengan selamat.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama sebuah pendakian bukanlah mencapai puncak.
Melainkan kembali ke rumah dan bisa menceritakan perjalanan itu kepada orang-orang yang kita cintai.
Puncak bisa menunggu.
Keselamatan tidak.

Monday, June 8, 2026

Tidak semua kebohongan lahir dari niat buruk.
Ada kalanya seseorang memilih menyembunyikan sebagian kebenaran demi mencegah kepanikan, menjaga kebersamaan, atau bahkan menyelamatkan banyak orang dari risiko yang tidak perlu.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1995, saat saya memimpin pendakian terbuka ke Puncak Merbabu yang diikuti sekitar tiga puluh orang dari berbagai kampus di Yogyakarta. Malam itu, di tengah gelapnya lereng gunung, saya mengambil keputusan yang hingga hari ini masih saya ingat dengan jelas.
Saya mengatakan kepada seluruh peserta bahwa kami salah jalur.
Padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu.



Pendakian yang Dimulai dari Cerita Mulut ke Mulut

Malam yang Gelap di Jalur Wekas Pelajaran yang Baru Saya Pahami Bertahun-tahun Kemudian Jejak yang Sebenarnya

Tahun 1995 adalah masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Belum ada media sosial, belum ada grup WhatsApp, bahkan telepon seluler masih menjadi barang mewah.

Informasi pendakian yang saya selenggarakan menyebar hanya melalui cerita dari teman ke teman, dari teman kos ke teman kos lainnya.

Di luar dugaan, terkumpul sekitar tiga puluh peserta.

Ada yang berasal dari UGM, USD, dan UNY. Namun mereka tidak mewakili organisasi kampus, unit kegiatan mahasiswa, atau kelompok pecinta alam tertentu. Mereka hanyalah anak-anak muda yang tertarik ikut mendaki setelah mendengar cerita dari temannya.

Untuk ukuran pertengahan tahun 1990-an, jumlah tersebut tergolong besar.

Yang membuat suasana semakin menarik, jumlah peserta laki-laki dan perempuan relatif seimbang. Saya membayangkan perjalanan yang meriah, penuh tawa, dan menjadi kenangan indah bagi semua peserta.

Namun ketika hari keberangkatan tiba, saya segera menyadari satu hal.

Sebagian besar peserta ternyata adalah pendaki pemula.

Melihat perlengkapan mereka, rasanya lebih seperti rombongan yang akan berkemah daripada mendaki gunung setinggi lebih dari 3.000 meter.

Tas mereka penuh makanan.

Jaket dan pakaian yang dibawa berwarna-warni.

Banyak yang mengenakan aksesori yang menurut mereka keren untuk dipakai di gunung.

Tetapi perlengkapan penting justru banyak yang kurang.

Air minum yang dibawa sering kali tidak mencukupi. Peralatan pendakian yang memadai juga terbatas.

Untungnya panitia inti sudah mengantisipasi kondisi tersebut.

Kami membawa tenda, sleeping bag, nesting, kompor gas portabel, logistik kelompok, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Perbandingannya kira-kira satu set perlengkapan lengkap untuk setiap lima peserta.

Akibatnya, lima orang panitia inti harus membawa beban jauh lebih berat daripada peserta lainnya. Beberapa bahkan menggunakan dua carrier sekaligus agar semua perlengkapan kelompok dapat terangkut.

Hanya dua hal yang tetap diwajibkan dibawa sendiri oleh setiap peserta: air minum dan ponco.

Rute yang kami pilih adalah jalur Wekas.

Jalur ini sudah sangat akrab bagi saya. Sejak tahun 1993 saya sering mendaki Merbabu melalui jalur tersebut. Setiap kali datang, saya hampir selalu singgah di rumah Pak Topar yang menjadi tempat berkumpul para pendaki saat itu.

Hubungan kami sudah seperti keluarga.

Saya mengenal istri Pak Topar, juga kedua anaknya, Mas Yanto dan Mas Panggih. Setiap kali datang, kami sering menghabiskan waktu berbincang dan bernostalgia sebelum memulai pendakian.

Malam itu seluruh peserta beristirahat terlebih dahulu di basecamp.

Rencananya kami akan mulai berjalan pukul 00.00. Dengan perkiraan waktu tempuh lima hingga enam jam, kami berharap bisa tiba di puncak menjelang matahari terbit tanpa perlu mendirikan tenda atau beristirahat terlalu lama di jalur.

Tepat tengah malam seluruh peserta dibangunkan.

Setelah briefing singkat, pengecekan anggota, dan memastikan seluruh perlengkapan siap, rombongan mulai bergerak meninggalkan basecamp menuju lereng Merbabu yang gelap.

Awalnya perjalanan berlangsung lancar.

Namun setelah melewati area makam, jalur mulai terasa membingungkan. Dalam kegelapan malam kami memilih jalur yang mengarah lebih ke kanan, menuju kawasan air terjun.

Sekitar satu setengah jam kemudian, saat berjalan paling depan memimpin rombongan, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya terhenti.

Di tanah yang masih lembap terlihat jejak-jejak yang menurut saya sangat mencurigakan.

Jejak itu bukan jejak manusia.

Bentuknya menyerupai tapak kaki binatang besar yang baru saja turun mencari air minum. Bekasnya masih basah dan tampak jelas di jalur yang kami lalui.

Saya berhenti beberapa saat.

Memperhatikan jejak itu.

Memikirkan berbagai kemungkinan.

Di belakang saya ada tiga puluh peserta.

Sebagian besar adalah pendaki pemula.

Saya tahu satu hal.

Jika saya mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan, kepanikan bisa menyebar dengan sangat cepat.

Dalam kelompok besar yang belum berpengalaman, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada ancaman yang sesungguhnya.

Saya mengambil keputusan.

"Saya rasa kita salah jalur."

"Kita kembali ke jalur makam."

Tidak ada yang membantah.

Semua mengikuti instruksi dan berbalik arah.

Malam itu mereka mengira keputusan tersebut diambil karena kesalahan navigasi.

Padahal alasan sebenarnya berbeda.

Saya hanya tidak ingin rombongan terus berjalan menuju tempat yang menurut naluri saya tidak aman.

Dan yang lebih penting lagi, saya tidak ingin rasa takut menyebar ke seluruh kelompok.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, saya sering merenungkan kembali keputusan yang saya ambil malam itu.

Apakah saya berbohong?

Mungkin iya.

Tetapi saya belajar bahwa hidup tidak selalu sesederhana hitam dan putih.

Saat masih muda saya mengira seorang pemimpin harus selalu mengatakan semua yang ia ketahui kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Namun pengalaman mengajarkan hal yang berbeda.

Dalam situasi tertentu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjaga agar kelompok tetap tenang, tetap utuh, dan tetap selamat.

Saya membayangkan jika saat itu saya berkata,

"Ada jejak binatang buas di depan."

Mungkin sebagian peserta akan panik.

Mungkin ada yang ingin turun gunung.

Mungkin ada yang berlari tanpa arah.

Mungkin rombongan yang semula tertib justru menjadi tercerai-berai.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian bukan selalu tentang maju menghadapi bahaya.

Kadang keberanian justru berupa kemampuan untuk mundur beberapa langkah demi menghindari risiko yang tidak perlu.

Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan yang benar akan langsung dipahami oleh orang lain.

Seorang pemimpin sering kali harus memikul pertimbangan yang tidak terlihat oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Tidak semua alasan bisa dijelaskan saat itu juga.

Tidak semua keputusan akan terlihat masuk akal pada saat keputusan itu diambil.

Kadang penjelasannya baru bisa dipahami bertahun-tahun kemudian.

Hari ini saya bahkan sudah lupa seperti apa bentuk pasti jejak yang saya lihat malam itu.

Namun saya tidak pernah lupa pelajaran yang ditinggalkannya.

Jejak yang paling membekas ternyata bukan jejak binatang di tanah yang basah.

Melainkan jejak tanggung jawab yang tertanam dalam pikiran saya.

Karena menjadi pemimpin bukan berarti berjalan paling depan agar terlihat paling hebat.

Menjadi pemimpin berarti bersedia memikul beban yang tidak dilihat orang lain dan mengambil keputusan yang mungkin tidak populer demi keselamatan bersama.

Dan saya belajar satu hal lagi:

Tidak semua kemenangan diraih dengan menaklukkan puncak. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil membawa semua orang pulang dengan selamat.


Senterku mati di tengah pendakian. Aku sendirian di Gunung Sumbing pada pukul empat dini hari. Ketika akhirnya bertemu seseorang di dekat Watu Kotak, aku merasa sedikit lega. Sampai beberapa detik kemudian kusadari bahwa seharusnya tidak ada siapa pun di san



Setelah berpikir dan berkonsentrasi beberapa saat, aku memutuskan untuk terus melanjutkan pendakian menuju puncak.

Saat itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Udara pegunungan yang dingin dan segar justru menambah semangatku untuk terus melangkah. Senter memang mati, tetapi aku masih memiliki tekad untuk mencapai puncak.

Dengan sangat hati-hati aku merayap naik melewati tebing-tebing curam menuju punggungan panjang Gunung Sumbing. Sesampainya di punggungan, jalur terasa sedikit lebih mudah. Cahaya bulan muda yang samar ternyata cukup membantu membedakan jalur dengan jurang di sekitarnya.

Aku berjalan perlahan.

Pelan, tetapi terus bergerak.

Tujuanku hanya satu: Watu Kotak.
Bagi para pendaki Sumbing, Watu Kotak adalah salah satu landmark yang paling dikenal. Sebuah penanda bahwa jalur yang ditempuh sudah benar dan puncak sudah tidak terlalu jauh lagi.
Menjelang subuh aku akhirnya tiba di sana.
Namun justru di tempat itulah aku mengalami peristiwa yang sampai sekarang masih sulit kujelaskan.
Di dekat Watu Kotak tampak seorang kakek sedang duduk bersila.

Yang membuatku heran, beliau tampak santai sekali. Di depannya ada sebungkus nasi yang masih mengepulkan uap hangat. Dalam udara pegunungan yang dingin, aroma nasi hangat itu terasa begitu nyata.

Kakek itu menoleh kepadaku.

Tersenyum.
Lalu menyapa dengan bahasa Jawa yang halus.
"Sugeng enjang, Nak..."
"Monggo mampir sekedap. Wonten nasi bungkus hangat, saged dipun icipi."
Aku sempat menoleh ke arloji.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul empat pagi.
Aku menjawab singkat.
"Matur nuwun, Kek. Mangke mawon menawi sampun saking puncak."

Kemudian aku melanjutkan langkah menuju jalur sebelah kiri. Saat itu jalur lurus ke atas sebagian longsor sehingga pendaki diarahkan memutar ke kiri.

Baru beberapa langkah aku berjalan.
Tiba-tiba pikiranku seperti tersambar sesuatu.
Tunggu...
Bagaimana mungkin?
Pukul empat pagi.
Di dekat puncak Sumbing.
Ada seorang kakek duduk sendirian menikmati nasi hangat.
Sendirian.
Aku langsung berhenti.

Perlahan menoleh kembali ke arah Watu Kotak.

Dan...

Tidak ada siapa-siapa.
Kakek itu hilang.
Benar-benar hilang.
Tidak ada sosok.
Tidak ada suara.
Tidak ada bekas orang duduk.
Tidak ada apa-apa.
Saat itu seluruh keberanianku runtuh seketika.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berbalik arah.
Lari.

Sekencang-kencangnya.

Aku tidak lagi memikirkan puncak.
Tidak lagi memikirkan rasa penasaran.
Tidak lagi memikirkan nilai empat yang membuatku datang ke gunung.
Yang ada hanya satu keinginan.
Turun.
Turun secepat mungkin.

Anehnya, perjalanan turun yang biasanya memakan waktu berjam-jam terasa begitu singkat. Dalam kondisi ketakutan luar biasa, aku sampai di basecamp hanya sekitar 45 menit.

Padahal ketika naik menuju Watu Kotak aku membutuhkan waktu hampir lima setengah jam.

Sesampainya di basecamp aku hanya sempat menulis pesan singkat bahwa aku sudah turun, lalu berjalan ke jalan raya menunggu bus pertama yang lewat.

Bus menuju Magelang datang.

Aku naik.

Dari Magelang aku melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Pagi itu juga aku sudah kembali di kamar kosku di Pogung Kidul.

Belum pukul sembilan pagi.

Aku membuka pintu kamar.

Melepas ransel.

Lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa mandi, tanpa makan, tanpa melakukan apa pun.

Aku tertidur pulas.

Ketika terbangun, hari sudah sore.

Jam menunjukkan pukul lima.

Aku duduk di tepi ranjang dan mulai mengingat kembali seluruh perjalanan sejak keberangkatan.

Nilai empat yang membuatku kecewa.

Keputusan mendaki seorang diri.

Hutan bambu yang membuat bulu kuduk merinding.

Suara pinus yang seperti ribuan lebah.

Senter yang mati.

Perjalanan panjang dalam gelap.

Dan akhirnya pertemuan dengan seorang kakek di dekat Watu Kotak.

Aku mencoba mencari penjelasan.
Mungkin pendaki lain.
Mungkin warga sekitar.
Mungkin aku terlalu lelah.
Mungkin juga ada penjelasan yang sampai sekarang belum kupahami.
Namun semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Aku lalu menengadah dan berbisik pelan.
"Ya Tuhan..."

"Semua ini sebenarnya ingin mengajarkan apa kepadaku?"


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata