11 Oktober 2024 sore, saya masih berdiri di depan empat orang dewan juri untuk mempresentasikan inovasi. Saya tidak tahu bahwa itu ternyata menjadi beberapa jam terakhir saya bertahan tanpa hemodialisis.
Tengah malam, ketika seluruh keluarga sudah tidur, saya membangunkan istri. “Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.” Kompetisi itu belum mengumumkan siapa pemenangnya. Tetapi malam itu tubuh saya seperti lebih dulu memberi keputusan: sudah cukup, saya tidak bisa menunda lagi.
Ceritanya sebenarnya dimulai beberapa bulan sebelumnya.
Saya Tahu Kondisinya Sudah Berat, tetapi Belum Siap
Juli 2024, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kreatinin saya 9,55.
Sebenarnya tanpa melihat angka laboratorium pun saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh. Mual hampir selalu ada. Kepala terasa berat, bukan sekadar pusing sebentar lalu hilang. Kadang kalau berjalan atau naik kendaraan badan terasa agak goyah, seperti kehilangan keseimbangan.
Makan juga mulai tidak enak. Bukan makanannya yang tidak enak, memang saya yang tidak berselera. Tetapi saya tetap berusaha makan sebisanya karena tahu tubuh tetap membutuhkan tenaga.
Badan semakin kurus dan wajah pucat. Justru orang-orang di sekitar yang sering mengingatkan.
“Kok tambah kurus?”
“Kok pucat terus?”
Saya biasanya hanya menjawab seadanya.
Dokter waktu itu sudah menyarankan saya ke unit hemodialisis RS Dr. Kariadi. Saya menolak.
Bukan karena saya tidak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi. Saya sudah tahu fungsi ginjal saya sangat buruk. Saya juga tahu kemungkinan suatu saat harus menjalani terapi pengganti ginjal semakin besar.
Tetapi tahu dan siap ternyata dua hal yang berbeda.
Saya belum siap.
Saya masih ingin mencoba pengobatan dan berharap kondisi bisa membaik. Selain tetap berobat secara medis, sepanjang Mei, Juni sampai Juli saya juga mencoba macam-macam. Akupunktur, herbal, pijat, sampai terapi menggunakan alat penyinaran yang diklaim sebagai terapi medis dan ada dokternya.
Saya jalani saja.
Hasilnya tidak banyak berubah.
Saya masih bisa bekerja, masih masuk kantor, masih melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi waktu itu rasanya seperti belum benar-benar sakit berat.
Padahal kalau dipikir sekarang, sebenarnya saya bukan membaik.
Saya cuma masih bisa bertahan.
Malah Ditugaskan Ikut Kompetisi
Akhir Juli 2024, di tengah kondisi seperti itu saya mendapat tugas mengikuti kompetisi ASN Inovatif.
Kalau sedang sehat, kegiatan seperti ini justru sesuatu yang saya sukai. Ada gagasan, problem solving, strategi, inovasi, kemudian mempertanggungjawabkan apa yang kita pikirkan.
Masalahnya, saat itu berpikir saja sudah melelahkan.
Tahapan kompetisinya cukup panjang. Tes tertulis CAT, kemudian 20 besar mengikuti psikotes dan wawancara. Setelah itu dipilih lima besar untuk final dan mempresentasikan karya inovasinya.
Yang paling saya khawatirkan bukan sulit atau tidaknya soal.
Saya khawatir tidak kuat duduk dan berkonsentrasi lama.
Dalam kondisi mual dan kepala berat seperti itu, sekitar 15 menit berpikir serius saja saya sudah ingin berhenti.
Waktu CAT kurang lebih dua jam.
Dua jam?
Saya tahu tidak mungkin.
Akhirnya saya membuat cara sendiri. Begitu membaca soal, saya tidak memberi kesempatan terlalu lama kepada otak untuk menganalisis. Apa jawaban pertama yang muncul dan menurut saya paling masuk akal, itu yang saya pilih.
Baca, tangkap maksudnya, jawab, lanjut.
Begitu terus.
Saya seperti melakukan scanning soal.
Sekitar 30 menit saya sudah keluar dari ruangan.
Bukan karena merasa pintar atau yakin semua jawaban benar. Saya cuma ingin seluruh soal selesai sebelum konsentrasi saya benar-benar habis.
Awal Agustus hasilnya diumumkan.
Ternyata saya lolos.
Bahkan berada di urutan kelima dari 20 peserta.
Alhamdulillah.
Psikotes Seharian, Saya Harus Cari Cara Lain Lagi
Pertengahan Agustus giliran psikotes dan wawancara.
Kali ini hampir seharian.
Kalau CAT masih bisa saya selesaikan cepat, psikotes tidak mungkin saya perlakukan dengan cara yang sama. Ada beberapa tahapan yang memang harus dijalani sampai selesai.
Akhirnya saya mengatur tenaga sebisanya.
Selesai satu sesi problem solving, kalau kepala mulai terasa berat, saya keluar sebentar. Cuci muka. Kadang minum kopi di luar ruangan.
Agak enakan, masuk lagi.
Nanti mulai berat lagi, keluar lagi.
Begitu berkali-kali.
Saya memang sudah menyampaikan kepada panitia bahwa kondisi saya sedang tidak fit, sehingga kadang harus keluar sebentar.
Pada sesi wawancara, saya juga tidak terlalu memikirkan jawaban seperti apa yang kira-kira paling disukai pewawancara. Saya jawab saja sesuai dengan idealisme saya sebagai PNS dan berdasarkan apa yang memang selama ini saya kerjakan.
Yang penting bagi saya jangan menjatuhkan teman dan jangan mendiskreditkan institusi sendiri.
Selebihnya saya cerita tentang apa yang biasa saya lakukan, hal-hal yang pernah saya inisiasi, bagaimana saya melihat persoalan di pekerjaan, dan apa yang menurut saya bisa dilakukan.
Menjelang sore masuk sesi role play dan problem solving kelompok.
Nah, di sini tenaga saya sudah benar-benar menipis.
Saya sebenarnya bisa saja mengambil peran lebih dominan. Tetapi saya berpikir, kalau terlalu banyak mengambil peran, jangan-jangan di tengah jalan energi habis dan pikiran malah blank.
Jadi saya sengaja memilih menjadi semacam katalis.
Saya dengarkan usulan teman-teman. Kalau ada yang menurut saya paling logis, saya dukung, lalu saya tambahkan argumentasi atau sudut pandang supaya usulan itu lebih komprehensif.
Saya tetap ikut memberi warna dalam diskusi, tetapi tidak perlu mengeluarkan energi sebesar kalau harus menjadi orang yang mengendalikan kelompok.
Setelah selesai ya sudah.
Tinggal menunggu lagi.
Akhir September pengumumannya keluar.
Saya masuk lima besar.
Ide Masih Banyak, tetapi Kepala Sudah Sulit Diajak Kerja Sama
Lima finalis diminta membuat makalah inovasi. Nantinya makalah itu harus dipresentasikan di depan dewan juri.
Di sinilah saya mulai benar-benar kesulitan.
Sebenarnya bahan saya banyak. Ide juga banyak.
Biasanya kalau menulis sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, saya bisa duduk sendiri di depan laptop. Buka referensi online, buka buku, membaca data, lalu mengembangkan ide ke mana-mana.
Kali ini tidak bisa.
Saya duduk di depan laptop, tetapi otak seperti mentok.
Apalagi kalau mualnya sedang berat sampai muntah. Kepala pusing, badan lemas, kadang keluar keringat dingin. Mau memikirkan hubungan satu gagasan dengan gagasan berikutnya saja rasanya berat sekali.
Akhirnya saya meminta bantuan salah satu staf.
Saya memang punya banyak ide dan tema tulisan terkait pekerjaan yang selama ini belum sempat dikembangkan. Salah satunya saya ambil untuk bahan kompetisi.
Saya jelaskan kepada staf saya kerangka berpikirnya. Paragraf-paragraf penting saya arahkan. Data apa yang perlu dimasukkan, urutannya bagaimana, logikanya mau dibawa ke mana, saya jelaskan satu per satu. Kemudian dia membantu menyusunnya menjadi makalah.
Makalahnya selesai.
Tapi saya tidak puas.
Rasanya masih ingin saya koreksi lagi. Ada bagian yang ingin saya tambah, ada logika yang menurut saya masih bisa diperdalam, ada ide lain yang ingin dimasukkan.
Biasanya saya akan bongkar lagi sampai merasa cukup.
Kali ini tidak sanggup.
Saya tahu kepala saya sudah tidak bisa dipaksa.
Akhirnya makalah itu saya kirim.
Saya berpikir, sudahlah. Saya simpan tenaga untuk presentasi.
Saya lebih yakin bisa menjelaskan inovasi secara langsung daripada berharap juri membaca seluruh makalah secara mendalam.
Materi presentasi saya buat sendiri.
Tidak banyak.
Saya bikin simpel dan ringkas, yang penting alur pikir inovasinya jelas dan logikanya mengalir.
11 Oktober 2024
Final dijadwalkan tanggal 11 Oktober 2024.
Saat itu kondisi saya sudah jauh berbeda dibandingkan ketika mengikuti CAT.
Pemeriksaan laboratorium bulan Oktober menunjukkan kreatinin sekitar 18 dan eGFR sekitar 5 persen.
Mual semakin berat. Kepala pusing. Badan lemas. Wajah pucat. Kadang kalau berjalan rasanya masih seperti kehilangan keseimbangan.
Ada satu hal lagi yang waktu itu sangat mengganggu.
Mulut saya kering dan lengket.
Kalau habis berbicara satu-dua kalimat, lidah dan tenggorokan rasanya lengket sekali.
Saya sampai berpikir, ini nanti bagaimana presentasinya?
Akhirnya saya membawa sebotol kecil Aqua.
Sebelum mulai saya meminta izin kepada dewan juri. Saya bilang kondisi saya sedang sakit, jadi selama presentasi mungkin saya perlu sesekali minum.
Giliran saya pukul 15.45.
Dewan jurinya empat orang, dari BKPP, Bappeda, Inspektorat, dan Undip.
Presentasi diberi waktu 10 menit, kemudian tanya jawab 35 menit.
Presentasinya bisa saya selesaikan.
Masalah justru terjadi saat tanya jawab.
Entah kenapa sore itu saya seperti sulit mengendalikan pikiran sendiri. Mungkin karena kondisi badan memang sudah buruk sekali.
Saya malah berdebat dengan salah seorang juri.
Dia menyampaikan sesuatu, saya bantah.
Dijawab lagi, saya debat lagi.
Begitu terus.
Kalau sekarang saya ingat-ingat malah agak lucu juga. Saya sudah capek setengah mati, tetapi entah dapat energi dari mana malah dipakai untuk berdebat.
Dan parahnya, seperti tidak bisa direm.
Sekitar 25 menit mungkin habis hanya dengan satu juri.
Padahal masih ada tiga juri lainnya.
Secara strategi jelas rugi. Seharusnya waktu itu bisa digunakan agar semua juri mengeksplorasi inovasi saya dari sudut pandang masing-masing.
Tetapi ya itulah yang terjadi.
Selesai sesi itu saya tidak tahu apakah penampilan saya bagus atau malah berantakan.
Saya juga sudah terlalu lelah untuk memikirkannya.
Yang penting final selesai.
Tinggal menunggu pengumuman.
Ternyata saya tidak sempat lama-lama memikirkan hasil kompetisi.
Tengah Malam Saya Membangunkan Istri
Malam tanggal 11 Oktober kondisi saya semakin berat.
Sekitar pukul 00.00, seluruh keluarga sudah tidur.
Saya sudah tidak tahan.
Akhirnya saya membangunkan istri.
“Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.”
Malam itu saya masuk IGD rumah sakit terdekat.
Kemudian saya dimasukkan ke ICCU untuk memperbaiki kondisi. Tanggal 14 Oktober tengah malam saya dirujuk ke RSND karena di sana tersedia fasilitas hemodialisis.
Tanggal 15 Oktober saya masuk bangsal dan dijadwalkan menjalani HD.
Saat itu saya belum mempunyai akses untuk hemodialisis. Saya meminta dipasang akses terlebih dahulu.
Tanggal 16 Oktober pagi dilakukan pemasangan CDL.
Sekitar satu jam setelah selesai tindakan, saya langsung masuk ruang hemodialisis.
Untuk pertama kalinya saya menjalani cuci darah.
Yang Saya Takutkan Malah Bukan Hemodialisisnya
Sebenarnya saya sudah punya waktu sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan mental sejak dokter pertama kali meminta saya menjalani HD.
Saya merasa sudah cukup siap.
Ternyata begitu benar-benar berada di sana, tetap saja ada rasa takut dan bingung.
Lucunya, yang memenuhi kepala saya malah bukan soal mesin HD.
Saya justru berpikir sebagai kepala keluarga.
Kalau sekarang saya harus HD rutin, apakah saya masih bisa bekerja?
Kalau tidak bisa bekerja bagaimana?
Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga?
Berapa lama saya bisa bertahan?
Nanti di kantor saya seperti apa?
Apakah saya masih bisa melakukan pekerjaan yang selama ini biasa saya lakukan?
Pertanyaannya ke mana-mana.
Dua hari kemudian saya diperbolehkan pulang.
Begitu sampai rumah, teman, tetangga, dan sahabat mulai berdatangan menjenguk.
Banyak yang benar-benar kaget.
Mungkin karena mereka mengenal saya sebagai orang yang aktif. Saya suka olahraga. Saya juga masih suka mendaki gunung.
Tiba-tiba sekarang gagal ginjal kronis dan harus menjalani hemodialisis.
“Kok bisa?”
Ya bisa.
Saya sendiri sebenarnya punya riwayat hipertensi sudah puluhan tahun. Dan kalau mau jujur, selama bertahun-tahun saya memang kurang memperhatikannya. Saya tidak berobat secara rutin.
Itu fakta yang tidak bisa saya hindari.
Seminggu setelah pulang dari rumah sakit saya mulai masuk kerja lagi.
Kondisinya tentu belum normal.
Jalan sedikit kadang ngos-ngosan. Badan gampang lemas. Sesekali seperti kehilangan keseimbangan.
Kalau merasa tidak kuat membawa kendaraan sendiri, saya berangkat atau pulang menggunakan GrabCar.
Pelan-pelan saya mencoba mengenali tubuh saya lagi.
Setidaknya satu ketakutan yang muncul ketika pertama kali menjalani HD mulai terjawab.
Saya ternyata masih bisa masuk kantor.
Masih bisa bekerja.
Walaupun caranya sudah tidak sama.
Pengumuman yang Sempat Terlupakan
Hampir sebulan setelah final, tepatnya 13 November 2024, hasil kompetisi ASN Inovatif akhirnya diumumkan.
Terus terang saat itu kompetisi tersebut sudah tidak terlalu memenuhi pikiran saya.
Dalam waktu kurang dari sebulan hidup saya berubah cukup banyak. Dari berdiri di depan dewan juri, masuk IGD, dirawat di ICCU, dipasang CDL, menjalani HD pertama, pulang, kemudian belajar masuk kerja lagi.
Makanya saya juga tidak terlalu berani berharap dengan hasil lombanya.
Makalah saya sendiri menurut saya belum maksimal.
Saat final saya malah menghabiskan banyak waktu berdebat dengan satu juri.
Jadi ketika pengumumannya keluar, saya cukup kaget.
Saya mendapat peringkat III ASN Inovatif.
Hadiahnya Rp10 juta.
Alhamdulillah.
Saya sujud syukur.
Setelah itu saya malah berpikir sederhana saja.
Lumayan. Bisa buat tambah-tambah biaya perjalanan ke rumah sakit untuk HD.
Saya Baru Mengerti Arti Bertahan
Kalau mengingat kembali beberapa bulan itu, saya kadang merasa semuanya berlangsung cepat sekali.
Juli saya masih menolak ketika diarahkan ke unit HD.
Agustus saya masih sibuk mencari cara supaya bisa menyelesaikan psikotes.
September masih memikirkan makalah.
Tanggal 11 Oktober sore masih berdebat dengan juri.
Malamnya masuk IGD.
Lima hari kemudian saya sudah berbaring di ruang hemodialisis.
Dan sebulan kemudian mendapat kabar menjadi peringkat tiga ASN Inovatif.
Dulu saya mungkin menganggap bertahan itu artinya harus kuat. Kalau ada masalah ya dilawan. Kalau ada pekerjaan ya diselesaikan sendiri sebaik mungkin.
Ternyata ketika sakit, saya belajar bahwa tidak semuanya bisa dilakukan seperti itu.
CAT harus saya kerjakan dengan cara berbeda. Saat role play saya harus tahu diri dan menghemat energi. Makalah yang biasanya ingin saya kerjakan sendiri akhirnya harus dibantu staf. Ketika tidak kuat membawa kendaraan, saya naik GrabCar. Dan ketika ginjal saya sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, akhirnya saya juga harus menerima bantuan mesin hemodialisis.
Tidak semuanya berjalan seperti yang saya inginkan.
Sampai sekarang pun kalau mengingat makalah kompetisi itu, rasanya masih ada bagian yang ingin saya perbaiki. Kalau mengingat sesi tanya jawab, saya masih berpikir seharusnya waktu 35 menit itu bisa saya gunakan lebih baik.
Tetapi mungkin memang itu kemampuan terbaik saya pada saat itu.
Dan saya akhirnya mulai berdamai dengan kalimat itu.
Bukan berarti berhenti berusaha. Saya hanya mulai paham bahwa meminta bantuan, mengurangi kecepatan, atau mengubah cara bukan berarti kita kalah.
Peringkat tiga itu tentu membuat saya senang. Hadiah Rp10 juta juga sangat saya syukuri.
Tetapi yang paling saya ingat dari masa itu justru bukan ketika nama saya diumumkan sebagai pemenang.
Yang paling saya ingat adalah malam ketika saya membangunkan istri dan akhirnya mengatakan:
“Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.”
Mungkin karena malam itulah untuk pertama kalinya saya benar-benar mengakui bahwa tubuh saya sudah berubah.
Dan setelah itu tugas saya bukan lagi memaksanya menjadi seperti dulu.
Saya hanya harus belajar hidup dengan tubuh yang sekarang, lalu tetap berjalan sebisa saya.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.