Sunday, June 14, 2026

Puncak Bisa Menunggu, Keselamatan Tidak

Dulu saya mengira keberhasilan seorang pendaki hanya ditentukan oleh satu hal: berhasil atau tidak mencapai puncak.
Semakin tinggi gunung yang didaki, semakin berat jalurnya, semakin besar pula kebanggaan yang dirasakan. Setidaknya begitulah cara berpikir saya saat masih muda.
Namun sebuah malam di lereng Gunung Sumbing mengubah cara pandang itu.
Malam yang dingin. Sangat dingin.
Malam yang membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berdiri di atas puncak.


Setelah pengalaman mendaki sendirian ke Gunung Sumbing beberapa waktu sebelumnya, saya masih beberapa kali kembali ke gunung itu. Kadang sendirian, kadang bersama teman.
Saat itu mendaki gunung belum seramai sekarang. Belum ada media sosial. Belum ada istilah konten. Belum banyak orang naik gunung hanya karena sedang tren.
Kalau akhir pekan ada belasan rombongan pendaki saja sudah terasa ramai. Selebihnya gunung lebih sering sepi dan sunyi.

Suatu malam Minggu saya mendaki berdua bersama seorang teman.
Kami memilih jalur baru yang saat itu lebih kami sukai. Dari basecamp naik sedikit, lalu berbelok ke kanan di dekat masjid. Kalau lurus itu jalur lama yang lebih umum digunakan.
Kami mulai berjalan sekitar pukul sembilan malam.
Malam itu bulan hampir purnama. Langit cerah tanpa awan. Cahaya bulan menerangi lereng gunung dengan sangat jelas sehingga kami hampir tidak perlu menggunakan senter.
Awalnya saya senang.
Mendaki di bawah cahaya bulan memang terasa menyenangkan. Jalur terlihat jelas dan suasana gunung terasa begitu indah.
Tetapi beberapa saat kemudian saya mulai merasakan sesuatu.
Dingin.
Mula-mula biasa saja.
Lalu semakin lama semakin menjadi.
Saat memasuki area kebun milik penduduk yang membentang cukup jauh di lereng bawah Sumbing, hawa dingin mulai benar-benar terasa.
Orang-orang tua di kampung biasa menyebut kondisi seperti itu dengan istilah bediding.
Saat itu saya baru benar-benar memahami arti kata tersebut.
Dinginnya bukan sekadar membuat kulit merinding.
Rasanya seperti masuk perlahan ke dalam tubuh.
Masuk melalui ujung jari.
Merambat ke tangan.
Lalu menjalar ke kaki dan seluruh badan.
Padahal angin hampir tidak ada.
Udara malam terasa tenang.
Tetapi justru karena itulah dingin seperti diam-diam menyelimuti tubuh tanpa terasa.
Perlengkapan mendaki saya saat itu juga masih sangat sederhana.
Belum punya sleeping bag.
Belum punya tenda dome.
Belum punya jaket gunung yang layak.
Saya hanya memakai celana training panjang, jaket biasa, dan membawa sarung untuk tambahan penghangat.
Kalau sekarang melihat perlengkapan pendaki yang lengkap, saya sering tersenyum sendiri mengingat betapa sederhananya perlengkapan yang kami bawa saat itu.
Awalnya saya masih mencoba mengabaikan rasa dingin itu.
Saya berpikir, nanti juga hangat kalau terus jalan.
Ternyata saya salah.
Semakin lama berjalan, tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Tangan mulai terasa kaku.
Jari-jari sulit digerakkan dengan leluasa.
Sesekali rahang bergetar menahan dingin.
Yang paling mengganggu justru rasa kantuk yang datang begitu hebat.
Kelopak mata terasa berat.
Langkah kaki mulai lambat.
Pikiran terasa kosong.
Beberapa kali saya seperti berjalan tanpa benar-benar sadar sedang memikirkan apa.
Saat berhenti sebentar untuk beristirahat, tubuh langsung menggigil hebat.
Gigi mulai beradu.
Saat itulah saya mulai merasa situasinya tidak normal.
Saya menoleh ke teman saya.
"Wes, istirahat sik wae."
Dia mengangguk tanpa banyak bicara.
Rupanya dia juga merasakan hal yang sama.
Masalahnya, berhenti berjalan justru membuat badan semakin dingin.
Kami mencoba mencari tempat yang bisa digunakan untuk berlindung.
Tidak lama kemudian kami menemukan sebuah gubuk kecil di area kebun penduduk.
Di dalamnya tersimpan pupuk kandang dari kotoran sapi yang sudah kering.
Baunya memang tidak enak.
Tetapi malam itu kami tidak sedang memilih tempat yang nyaman.
Kami hanya butuh tempat untuk bertahan dari dingin.
Akhirnya kami masuk ke dalam.
Ponco kami gelar sebagai alas.
Sarung kami gunakan sebagai selimut.
Lalu bagian luar tubuh kami tutup lagi menggunakan ponco sehingga bentuknya mirip sleeping bag darurat.
Ajaibnya, cara sederhana itu sangat membantu.
Memang belum bisa disebut hangat.
Tetapi setidaknya tubuh tidak lagi menggigil sekeras sebelumnya.
Entah berapa lama kami tertidur.
Saat terbangun saya melihat jam tangan.
Pukul dua dini hari.
Di luar masih gelap.
Udara masih terasa sangat dingin.
Saya membangunkan teman saya.
Kami duduk bersandar di dinding gubuk sambil berpikir.
Lanjut atau turun?
Itulah pertanyaan yang muncul saat itu.
Tidak ada jawaban cepat.
Karena kami sadar, keputusan yang salah bisa membawa masalah.
Akhirnya kami sepakat membuat minuman dan makanan hangat terlebih dahulu.
Kompor parafin segera dinyalakan.
Air direbus.
Indomie dimasak.
Kopi dibuat.
Sederhana sekali.
Tetapi dalam kondisi seperti itu, semangkuk Indomie panas dan secangkir kopi terasa jauh lebih mewah daripada makanan apa pun.
Perlahan tubuh mulai terasa hangat kembali.
Pikiran juga mulai jernih.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.
Bukan karena gengsi.
Bukan karena takut dianggap gagal.
Tetapi karena setelah makan dan minum hangat, kami merasa kondisi tubuh sudah cukup baik untuk melanjutkan pendakian dengan aman.
Sebelum berangkat, saya mengeluarkan beberapa bungkus Indomie dan kopi dari dalam tas.
Saya gantungkan di salah satu sudut gubuk menggunakan kantong plastik.
Lalu saya menulis pesan singkat di secarik kertas.
Isinya ucapan terima kasih.
Saya tidak tahu siapa pemilik gubuk itu.
Saya juga tidak pernah bertemu dengannya.
Tetapi malam itu gubuk sederhana miliknya telah membantu dua pendaki yang sedang kesulitan menghadapi dinginnya Gunung Sumbing.
Beberapa menit kemudian kami kembali melangkah.
Meninggalkan gubuk.
Meninggalkan kehangatan sementara yang telah menyelamatkan kami.
Dan meneruskan perjalanan menuju puncak.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, yang paling saya ingat justru bukan puncaknya.
Bukan pula foto-foto perjalanan yang saat itu bahkan hampir tidak ada.
Yang saya ingat adalah dinginnya malam itu.
Gubuk kecil di tengah kebun.
Indomie panas yang mengepul di tengah udara pegunungan.
Dan keputusan sederhana untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari situlah saya belajar bahwa gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
Gunung adalah tempat untuk belajar rendah hati.
Karena sekuat apa pun manusia, alam selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita memiliki batas.
Dan sejak malam itu saya percaya, tidak ada puncak yang lebih berharga daripada pulang dengan selamat.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama sebuah pendakian bukanlah mencapai puncak.
Melainkan kembali ke rumah dan bisa menceritakan perjalanan itu kepada orang-orang yang kita cintai.
Puncak bisa menunggu.
Keselamatan tidak.

Friday, June 12, 2026

Mengapa Ida Menangis Saat Diklat Berakhir?

Kadang saya heran sendiri.

Bagaimana mungkin orang-orang yang beberapa hari sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, berasal dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbeda, bahkan sebagian besar mungkin tidak akan pernah bertemu jika bukan karena sebuah diklat, tiba-tiba bisa begitu akrab?

Bahkan ada yang sampai menangis saat harus berpisah.



Pengalaman itulah yang saya alami ketika mengikuti Diklat Customer Service Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kaliurang, Yogyakarta, pada bulan puasa September 2008.

Beberapa waktu lalu saya sudah bercerita tentang "teriakan legendaris saat sahur" ketika makanan yang tersedia terasa tidak akan cukup untuk semua peserta. Entah karena kejadian itu atau karena sebab lain yang saya sendiri tidak tahu, perlahan teman-teman dari PT yang sama mulai mempercayai saya sebagai semacam pemimpin informal kelompok.

Padahal saya juga peserta biasa.

Setiap malam setelah kegiatan diklat selesai, kami menjalankan salat Tarawih berjamaah. Karena kebetulan tidak ada yang maju, saya sering diminta menjadi imam dengan modal hafalan surat-surat pendek yang pas-pasan.

Setelah Tarawih biasanya kami belum langsung tidur.

Justru saat itulah suasana paling seru dimulai.

Kami duduk lesehan, mengobrol ngalor-ngidul, saling cerita tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal lucu yang kadang tidak penting sama sekali.

Sesekali saya mengajak teman-teman memainkan berbagai permainan kelompok yang dulu sering saya dapatkan saat aktif di organisasi pecinta alam maupun Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Tujuannya sederhana.

Biar tidak bosan.

Biar lebih akrab.

Biar yang pendiam mau bicara.

Biar yang pemalu berani tertawa.

Tanpa sadar malam demi malam membuat jarak di antara kami semakin tipis.

Yang tadinya hanya teman satu kelas mulai terasa seperti teman seperjuangan.

Ada yang pendiam.

Ada yang cerewet.

Ada yang lucu.

Ada yang jahil.

Ada yang pemalu.

Ada juga yang kalau ngomong ceplas-ceplos tanpa rem.

Namun justru perbedaan itulah yang membuat suasana menjadi hidup.

Menjelang akhir diklat, kami membuat polling iseng-iseng sekadar untuk menambah kenangan.

Hasilnya pun lucu-lucu.

Ada kategori wanita tercantik, gadis terlugu, gadis terlucu, gadis pemalu, wanita keibuan, wanita tomboy, cewek paling imut, sampai gadis paling nyebelin.

Kalau dibaca sekarang mungkin terdengar konyol.

Tetapi saat itu semua tertawa.

Semua menikmati.

Tidak ada yang tersinggung.

Yang ada justru rasa bahwa kami sudah cukup dekat untuk saling bercanda.

Namun ternyata momen yang paling membekas justru terjadi ketika diklat selesai.

Saat kami menunggu jemputan pulang, tiba-tiba Ida atau Farida Evandari terlihat menangis.

Awalnya hanya berkaca-kaca.

Lalu air matanya mulai jatuh.

Semakin lama semakin deras.

Pipinya memerah.

Wajahnya terlihat menahan haru.

Bahkan ketika berpamitan dengan teman-teman yang lain, tangisnya belum juga berhenti.

Saat itu saya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan sambil bertanya-tanya.

Mengapa Ida menangis?

Apakah karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru dikenalnya beberapa hari?

Apakah karena suasana kebersamaan ini terasa terlalu cepat berakhir?

Ataukah karena selama empat hari itu kami benar-benar telah menjadi sebuah keluarga kecil yang saling menerima apa adanya?

Saya tidak pernah benar-benar menanyakan jawabannya kepada Ida.

Mungkin sampai hari ini pun hanya Ida yang tahu alasan sebenarnya.

Tetapi saya belajar satu hal.

Ternyata membangun kekompakan tidak selalu membutuhkan waktu lama.

Kadang yang dibutuhkan hanya kebersamaan yang tulus.

Empat hari memang terlalu singkat untuk disebut persahabatan sejati.

Namun empat hari ternyata cukup untuk menumbuhkan rasa memiliki.

Cukup untuk membuat orang saling peduli.

Cukup untuk membuat orang merasa kehilangan ketika harus berpisah.

Dan jika ada seseorang yang sampai menangis saat perpisahan tiba, mungkin itu pertanda bahwa kebersamaan yang dibangun selama empat hari tersebut bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Refleksi

Bertahun-tahun kemudian, saya semakin yakin bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk disatukan.

Yang sulit adalah menciptakan ruang yang membuat orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Ketika seseorang merasa diterima, ia akan mulai membuka hati.

Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan mulai percaya.

Dan ketika seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga, maka hubungan yang terbangun sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan kerja atau organisasi.

Saya melihat hal yang sama berulang kali dalam berbagai perjalanan hidup saya.

Di organisasi pecinta alam.

Di panjat tebing.

Di komunitas.

Di paguyuban.

Di desa wisata.

Bahkan di lingkungan kerja.

Yang membuat sebuah kelompok bertahan bukanlah aturan yang ketat atau program yang hebat.

Yang membuat orang ingin tetap bersama adalah kenangan yang mereka bangun bersama.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari tangisan Ida sore itu.

Bukan sekadar sedih karena pulang.

Tetapi sedih karena harus meninggalkan sebuah kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Dan bagi saya, tidak ada sertifikat atau kuesioner evaluasi yang lebih jujur daripada air mata itu.

Karena air mata tidak bisa dibuat-buat.

Ia muncul ketika hati merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

Sejak saat itu saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan pertama-tama membuat orang bekerja bersama.

Tugasnya adalah membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.

Karena ketika hati sudah menyatu, kekompakan biasanya akan tumbuh dengan sendirinya.