Thursday, September 17, 2026

Awalnya saya tidak pernah membayangkan Kariswisata akan berisi begitu banyak cerita. Saya hanya senang melakukan perjalanan, mendatangi tempat baru, terlibat dalam berbagai kegiatan pariwisata, lalu mencatat pengalaman yang rasanya sayang kalau hanya disimpan sendiri. Dari wisata Semarang, desa wisata, pendakian gunung hingga panjat tebing, catatan-catatan itu perlahan terkumpul dan akhirnya membentuk Kariswisata seperti sekarang.

Belakangan saya sadar, perjalanan ternyata tidak selalu berarti pergi dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya. Ada perjalanan dalam pekerjaan, organisasi, masa sekolah, keluarga, bahkan perjalanan ketika kehidupan membawa kita ke keadaan yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Kariswisata pun ikut berubah. Akarnya tetap pariwisata dan perjalanan, tetapi cerita yang tumbuh di atasnya menjadi jauh lebih beragam.

Semarang, Kota yang Terus Saya Ceritakan

Sebagian besar aktivitas saya sekarang berada di Semarang. Wajar kalau pariwisata Kota Semarang menjadi salah satu tema yang sering muncul di Kariswisata. Ada Kota Lama, museum, festival, kuliner, hotel, kampung wisata, sampai berbagai destinasi yang terus berubah mengikuti perkembangan kota.

Kota Lama Semarang termasuk yang tidak pernah habis untuk diceritakan. Kawasan ini bukan sekadar deretan bangunan tua yang bagus untuk difoto. Ada atraksi wisata, event, museum, kuliner, pelayanan, aksesibilitas hingga promosi yang bersama-sama menentukan pengalaman wisatawan. Sebuah festival bahkan bisa mengubah suasana kawasan hanya dalam hitungan hari.

Begitu pula ketika saya menulis berbagai destinasi wisata Semarang. Saya tidak terlalu tertarik berhenti pada informasi lokasi dan apa yang bisa dilihat. Pertanyaan yang lebih menarik justru: mengapa orang mau datang? Apa yang mereka dapatkan setelah berada di sana? Dan apa yang membuat mereka ingin kembali?

Dari situlah saya semakin melihat bahwa destinasi bukan hanya soal tempat. Ada pengalaman yang harus dibangun dan cerita yang harus disampaikan.

Desa Wisata Tidak Cukup Hanya Punya Potensi

Perjalanan di dunia pariwisata membawa saya semakin dekat dengan desa wisata dan kampung wisata. Dari sini pula tulisan di Kariswisata mulai banyak bersinggungan dengan pengembangan produk dan pemasaran.

Sebuah desa wisata bisa mempunyai pemandangan indah, kuliner khas, kesenian, aktivitas pertanian atau kehidupan masyarakat yang menarik. Tetapi memiliki potensi belum tentu membuat wisatawan datang. Potensi tersebut masih harus diterjemahkan menjadi pengalaman yang mudah dipahami dan menarik untuk dibeli.

Di sinilah saya banyak belajar tentang pemasaran desa wisata.

Mulai dari mengenali pasar, membuat paket wisata, menentukan segmentasi, melakukan personal selling hingga menggunakan digital marketing. Semakin lama berkecimpung di dalamnya, saya justru semakin yakin bahwa persoalan sebuah destinasi terkadang bukan karena produknya jelek.

Bisa jadi produknya bagus, tetapi kita belum menemukan cara yang tepat untuk menceritakannya.

Hal yang sama berlaku pada wisata edukasi. Sekolah, keluarga, komunitas dan perusahaan mempunyai kebutuhan berbeda. Paket wisata untuk siswa tentu tidak bisa dikemas persis seperti perjalanan keluarga atau kegiatan komunitas. Sebelum menjual paket, kita harus tahu dahulu siapa yang akan membelinya.

Pemasaran Pariwisata Bukan Sekadar Membuat Konten

Ketika media sosial berkembang, digital marketing pariwisata sering kali langsung diterjemahkan menjadi foto, video, Reels, TikTok dan jumlah follower.

Padahal menurut saya pemasaran dimulai jauh sebelum kamera dinyalakan.

Kita harus mengenal produk terlebih dahulu. Apa sebenarnya yang kita jual? Siapa yang membutuhkannya? Mengapa orang harus memilih produk tersebut? Kalau tiga pertanyaan sederhana itu belum terjawab, konten sebagus apa pun akan kesulitan menemukan arah.

Itulah sebabnya pembahasan pemasaran pariwisata di Kariswisata tidak hanya berkutat pada media sosial. Saya juga menulis tentang produk wisata, segmentasi pasar, sales funnel, personal selling, paket wisata hingga proses mengubah orang yang awalnya hanya tahu menjadi tertarik, bertanya, bernegosiasi, dan akhirnya membeli.

Ada satu pemikiran yang kemudian semakin kuat bagi saya:

We Are All Marketers.

Dalam sebuah destinasi, pemasaran bukan hanya pekerjaan orang yang memegang akun Instagram. Pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku kuliner, pengelola atraksi hingga masyarakat yang berinteraksi dengan wisatawan ikut menentukan bagaimana sebuah tempat akan diingat.

Jauh Sebelum Bicara Pariwisata, Saya Lebih Dulu Mengenal Gunung

Sebelum banyak berkecimpung dalam pariwisata dan desa wisata, perjalanan saya justru lebih dekat dengan kegiatan alam bebas. Gunung menjadi salah satu ruang belajar yang paling membekas.

Ada cerita pendakian Gunung Merbabu, ketika sebagai mahasiswa baru saya pertama kali berhasil mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter. Ada Sumbing yang pernah saya datangi seorang diri setelah mendapat nilai ujian yang membuat pikiran tidak karuan. Ada Sundoro dan berbagai perjalanan lain dengan cerita masing-masing.

Semakin sering melakukan pendakian gunung, semakin saya sadar bahwa puncak sebenarnya hanya bagian kecil dari perjalanan.

Yang paling lama tersimpan dalam ingatan justru sering terjadi sebelum sampai ke sana. Kelelahan, perlengkapan yang bermasalah, teman seperjalanan, cuaca, rasa takut, keputusan yang keliru, atau saat kita harus memilih antara terus berjalan dan kembali.

Gunung mengajarkan sesuatu yang sampai sekarang masih saya pegang: mempunyai tujuan itu penting, tetapi mengetahui batas diri jauh lebih penting.

Puncak bisa menunggu. Keselamatan tidak.

Panjat Tebing dan Cerita dari Siung

Selain gunung, panjat tebing mempunyai tempat tersendiri dalam perjalanan saya. Dunia ini membawa saya pada latihan, organisasi, pembinaan atlet, kegiatan untuk anak-anak hingga berbagai perjalanan ke tebing alam.

Salah satu tempat yang paling sulit saya pisahkan dari cerita itu adalah Tebing Siung Gunungkidul, Yogyakarta.

Bagi wisatawan, Pantai Siung mungkin lebih dahulu dikenal sebagai pantai di pesisir selatan. Bagi pemanjat, jajaran tebing batu kapurnya mempunyai arti lain. Selama bertahun-tahun Tebing Siung didatangi pemanjat dari komunitas, klub, Mapala maupun perorangan untuk berlatih, mencoba jalur atau sekadar menghabiskan akhir pekan dengan memanjat di tepi laut.

Saya bahkan pernah membuat blog khusus mengenai rock climbing di Tebing Siung. Di sana tersimpan nama blok, jalur pemanjatan, grade, jumlah bolt hingga nama orang yang membuat jalur. Saat membuka kembali arsip itu setelah belasan tahun, rasanya seperti menemukan kotak lama yang selama ini tersimpan di gudang.

Baru sekarang saya menyadari bahwa catatan sederhana tersebut ternyata mempunyai nilai sebagai dokumentasi.

Tentu saja kondisi jalur bisa berubah. Bolt dan hanger yang terpasang bertahun-tahun lalu tidak boleh dianggap otomatis masih mempunyai kondisi yang sama sekarang. Informasi lama mengenai jalur panjat lebih tepat dibaca sebagai arsip, sedangkan keputusan untuk melakukan pemanjatan harus selalu mempertimbangkan kondisi aktual dan keselamatan.

Mungkin di situlah panjat tebing dan pendakian gunung bertemu. Kita boleh menyukai tantangan, tetapi alam tidak pernah mempunyai kewajiban mengikuti rencana kita.

Dari Memanjat Tebing hingga Belajar Memahami Pasar

Ada satu pengalaman dari dunia panjat tebing yang baru saya pahami maknanya bertahun-tahun kemudian.

Saat terlibat dalam pembinaan, saya melihat banyak anak sebenarnya tertarik mencoba memanjat. Masalahnya justru datang dari orang tua. Mereka takut karena panjat tebing dianggap olahraga ekstrem dan berbahaya.

Kalau waktu itu kami hanya mengatakan, “Panjat tebing itu aman,” belum tentu masalah selesai.

Kami mencoba pendekatan lain. Aktivitas memanjat dikemas sebagai permainan agar lebih dekat dengan dunia anak-anak dan tidak langsung menghadirkan kesan olahraga ekstrem. Anak-anak datang, mencoba memanjat, sementara orang tua mulai berani memberikan izin.

Saat itu saya tidak menyebutnya pemasaran.

Bertahun-tahun kemudian, setelah banyak berkecimpung dalam pemasaran destinasi dan desa wisata, saya baru sadar bahwa persoalannya sama: memahami apa yang membuat orang ragu.

Kadang kita terlalu sibuk memperbaiki produk, padahal produknya sebenarnya sudah bagus. Yang belum kita pahami justru alasan orang belum mau mencobanya.

Kembali ke SMA Taruna Nusantara melalui Tulisan

Perjalanan lain membawa Kariswisata kembali jauh ke masa sekolah.

Pengalaman di SMA Taruna Nusantara sudah berlalu puluhan tahun. Anehnya, ketika mulai menuliskannya kembali, detail-detail kecil yang saya kira sudah hilang justru bermunculan.

Ada cerita mengapa saya memilih sekolah karena gratis. Ada proses seleksi yang hampir membuat saya pulang. Ada kehidupan asrama, telegram, lintasan atletik, makanan di ruang makan hingga sepotong daging yang sampai sekarang masih saya ingat.

Dari situ saya sadar bahwa pengalaman SMA Taruna Nusantara tidak harus selalu diceritakan melalui peristiwa besar.

Kadang sebuah benda sederhana justru mampu membuka pintu ingatan.

Ketika menuliskannya kembali, saya bukan sedang berusaha mengatakan bahwa masa lalu selalu lebih indah. Saya hanya mencoba melihat bagaimana kejadian ketika masih berusia belasan tahun ternyata ikut membentuk cara berpikir dan mengambil keputusan puluhan tahun kemudian.

Ketika Perjalanan Berubah Arah

Tidak semua perjalanan kita pilih sendiri.

Ada masa ketika perjalanan saya bukan menuju gunung, tebing atau destinasi wisata, tetapi menuju ruang hemodialisis. Dari pengalaman itulah Kariswisata kemudian mempunyai ruang lain yang saya beri nama edukasi ginjal.

Sekilas tema ini memang terasa jauh dari wisata Semarang, desa wisata, pendakian atau panjat tebing. Tetapi setelah menjalaninya, saya merasa semuanya masih berada dalam satu garis yang sama: perjalanan kehidupan.

Banyak istilah mengenai hemodialisis dan kesehatan ginjal yang sebelumnya asing perlahan menjadi bagian dari keseharian. Ada persoalan cairan, makanan, aktivitas dan berbagai hal kecil yang ternyata harus dipelajari satu per satu.

Saya menuliskannya bukan untuk menggantikan dokter atau tenaga kesehatan. Pengalaman pribadi tetaplah pengalaman pribadi. Ketika membahas aspek medis, saya berusaha melengkapinya dengan sumber kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang berubah justru cara saya memandang perjalanan.

Dahulu perjalanan bisa berarti membawa ransel menuju gunung atau berdiri di bawah tebing sambil melihat jalur ke atas. Sekarang, bisa tetap bekerja, beraktivitas, menulis dan sesekali mendatangi tempat yang saya sukai pun sudah mempunyai makna tersendiri.

Lalu, Sebenarnya Kariswisata Blog tentang Apa?

Pertanyaan itu pernah terlintas juga di kepala saya.

Bagaimana sebuah blog bisa berisi pariwisata Semarang, Kota Lama Semarang, desa wisata, pemasaran pariwisata, pendakian gunung, panjat tebing, Tebing Siung, SMA Taruna Nusantara hingga edukasi ginjal?

Setelah dipikir-pikir, saya justru tidak ingin memaksanya menjadi satu tema yang sempit.

Semua tulisan tersebut mempunyai satu sumber yang sama: sesuatu yang pernah saya datangi, kerjakan, pikirkan atau alami sendiri.

Ketika menulis wisata Semarang, saya membawa pengalaman bekerja dan melihat perkembangan destinasi. Saat membahas pemasaran desa wisata, saya menulis persoalan yang benar-benar saya temui. Cerita pendakian dan panjat tebing berasal dari perjalanan yang pernah dijalani. Begitu pula cerita sekolah dan kehidupan sekarang.

Data dan referensi tetap penting. Tetapi bagi saya, data menjadi lebih hidup ketika bertemu pengalaman.

Dari Destinasi hingga Pengalaman, Semuanya Punya Cerita

Semakin lama menulis, semakin saya percaya bahwa tempat yang bagus belum tentu menghasilkan cerita yang bagus.

Cerita lahir dari manusia yang mengalaminya.

Destinasi wisata membutuhkan orang-orang yang menghidupkannya. Desa wisata membutuhkan produk dan pasar yang saling bertemu. Pemasaran pariwisata membutuhkan pemahaman tentang manusia yang ingin kita ajak datang. Pendakian gunung dan panjat tebing membutuhkan keberanian sekaligus kemampuan memahami risiko.

Begitu pula kehidupan.

Hari ini saya mungkin menulis Kota Lama Semarang dan wisata Semarang. Besok bisa membicarakan desa wisata, paket wisata dan pemasaran pariwisata. Pada kesempatan lain saya mungkin kembali membuka cerita Merbabu, Tebing Siung, panjat tebing, SMA Taruna Nusantara, atau perjalanan kehidupan yang sedang saya jalani sekarang.

Kelihatannya ke mana-mana.

Tetapi kalau ditarik satu garis, semuanya ternyata bertemu di tempat yang sama.

Kariswisata bukan hanya catatan tentang ke mana saya pernah pergi. Kariswisata adalah cerita tentang perjalanan, pengalaman, dan apa yang saya pelajari di sepanjang jalan.


Wednesday, September 16, 2026

 


Pagi itu tugasku sebenarnya sederhana: berjalan kaki memutari Jalur Air Mata Mantan di Hutan Wisata Tinjomoyo. Aku tidak menyangka, inspeksi yang dimulai dengan menyusuri hutan itu justru berakhir dengan perjalanan terburu-buru menuju ruang rapat.

Ada masa ketika aku bertugas sebagai pengelola Hutan Wisata Tinjomoyo. Masa yang cukup membekas karena di sana aku belajar bahwa mengelola destinasi wisata bukan sekadar membuat program atau mempromosikan tempat. Ada proses panjang sejak sebuah gagasan lahir, diperjuangkan, diwujudkan, sampai akhirnya harus dipasarkan dan dirawat.

Salah satu gagasan yang waktu itu kami kembangkan adalah Jalur Trekking Air Mata Mantan.

Namanya memang sedikit nyeleneh. Justru itu yang kami inginkan: nama yang mudah diingat dan memancing rasa penasaran. Sebab sebuah destinasi tidak cukup hanya mempunyai tempat yang menarik. Ia juga membutuhkan identitas, cerita, dan pengalaman yang membuat orang ingin datang.

Tentu, nama dan gagasan saja tidak cukup.

Aku ikut merencanakan jalurnya, kemudian mengusulkan anggaran pembangunan infrastrukturnya kepada Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pariwisata. Dari situlah gagasan yang sebelumnya hanya berupa rencana perlahan berubah menjadi jalur yang benar-benar bisa dilalui.

Namun membangun destinasi bukan sekadar membangun fisiknya.

Infrastruktur harus berjalan bersama sumber daya manusia.

Kami kemudian berkolaborasi dengan teman-teman Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) untuk melatih warga lokal menjadi pemandu wisata. Tidak berhenti pada pelatihan, proses tersebut berlanjut hingga sertifikasi kompetensi BNSP.

Harapannya sederhana: ketika wisatawan datang, masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton. Mereka mempunyai kesempatan menjadi bagian dari aktivitas pariwisata yang berkembang di wilayahnya sendiri.

Pada saat yang sama, kami juga mulai menciptakan storytelling untuk beberapa daya tarik di Tinjomoyo. Karena sebuah tempat bisa menarik secara visual, tetapi ceritalah yang membuat sebuah tempat memiliki makna dan lebih mudah dikenang.

Setelah jalur selesai dibangun, pekerjaan ternyata belum selesai.

Justru dimulailah pekerjaan berikutnya:

memasarkan dan merawatnya.

Jalur yang sudah dibangun tidak cukup diperiksa melalui laporan. Kondisinya harus dilihat langsung. Apakah masih nyaman dilalui? Adakah bagian yang perlu diperbaiki? Bagaimana kondisi fasilitasnya? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana rasanya kalau kita sendiri berjalan di sana sebagai pengunjung?

Karena itu aku sering melakukan inspeksi dengan cara paling sederhana: berjalan kaki menyusuri Jalur Air Mata Mantan dari satu bagian ke bagian lainnya.

Biasanya aku ditemani Pak Mahmud, Kepala TU Hutan Wisata Tinjomoyo pada masa itu.

Video ini merupakan dokumentasi salah satu inspeksi tersebut.

Hari itu Senin pagi. Kami berjalan menyusuri jalur dan semakin jauh masuk ke kawasan hutan. Tidak ada seremoni. Tidak ada rombongan besar. Hanya dua orang yang berjalan sambil mengamati kondisi jalur, melihat apa yang perlu diperbaiki, sekaligus merasakan sendiri perjalanan yang nantinya akan dilalui wisatawan.

Bagiku, ada sesuatu yang berbeda ketika seorang pengelola sesekali meninggalkan meja kerjanya dan berjalan langsung di destinasi yang dikelolanya.

Dari meja kerja, kita melihat angka, rencana, anggaran, dan laporan.
Dari jalur, kita melihat kenyataan.

Kadang hal-hal kecil yang tidak pernah muncul dalam laporan justru terlihat ketika kita berjalan sendiri dan mencoba menempatkan diri sebagai pengunjung.

Pagi itu semuanya berjalan normal.

Sampai kami berada cukup jauh di tengah hutan.

Tiba-tiba telepon berbunyi.

Aku mengangkatnya.

Ada pesan dari pimpinan:

diminta segera mengikuti rapat.

Aku melihat jalur yang masih membentang di depan. Lalu menoleh ke belakang, melihat jalan yang baru saja kami tempuh.

Mau bagaimana lagi?

Putar balik.

Inspeksi Jalur Air Mata Mantan pagi itu akhirnya tidak selesai sesuai rencana.

Begitulah kadang keseharian mengelola sebuah destinasi wisata. Pagi bisa dimulai dengan sepatu lapangan, menyusuri pepohonan, memeriksa jalur trekking, dan melihat langsung kondisi destinasi.

Beberapa saat kemudian semuanya bisa berubah menjadi meja, kursi, dokumen, dan ruang rapat.

Hari itu aku kembali belajar bahwa bekerja di dunia pariwisata memang mempunyai banyak jalur.

Ada jalur perencanaan. Ada jalur pembangunan. Ada jalur pemasaran. Ada pula jalur pemeliharaan.

Dan ternyata ada satu jalur lagi yang sama sekali tidak pernah kami gambar ketika merencanakan Jalur Air Mata Mantan:

jalur tercepat keluar dari hutan menuju ruang rapat. 😄


Monday, September 14, 2026

Kisah Nyata Kehidupan Sehari-hari di SMA Taruna Nusantara

Di rumah, satu telur pernah kami bagi berempat. Sepotong daging pun bisa menjadi makanan istimewa. Lalu aku masuk SMA Taruna Nusantara, tempat lauk daging justru tersedia rutin. Anehnya, aku malah kesulitan memakannya. Sampai suatu malam, sepotong daging yang kusembunyikan justru “beranak” menjadi lima.



Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku masuk SMA Taruna Nusantara bukan karena tahu sekolah itu bergengsi atau berkualitas. Waktu itu aku bahkan belum terlalu paham apa yang dimaksud sekolah top atau sekolah unggulan. Alasanku ikut seleksi jauh lebih sederhana: sekolah itu gratis.

Bagi keluargaku waktu itu, kata gratis punya arti cukup penting. Kondisi ekonomi keluarga memang tidak bisa dibilang bagus. Dibilang miskin sekali mungkin juga tidak tepat. Bapak bekerja dan selalu berusaha mencukupi kebutuhan kami. Hanya saja tanggungan beliau cukup banyak. Beberapa saudara ikut tinggal di rumah, sementara lebih banyak lagi yang sekolahnya ikut dibiayai bapak.

Kalau ingin menggambarkan keadaan keluarga kami waktu itu, mungkin paling gampang lewat cerita makanan. Semasa kecil, makan daging sapi hampir tidak pernah. Kalaupun ada, biasanya karena tetangga punya hajatan dan keluarga kami mendapat nasi berkat. Ayam juga bukan lauk sehari-hari. Biasanya baru ada saat Lebaran atau momen penting. Telur mungkin sekali atau dua kali sebulan, terutama kalau sedang tanggal muda.

Sehari-hari jauh lebih sederhana. Ada sambal dari cabai yang dipetik sendiri di kebun dan tempe goreng, itu sudah enak. Kadang kalau tempe tidak ada, nasi dicampur parutan kelapa. Kalau kelapa tidak ada, nasi pakai kecap. Kalau itu pun tidak ada, nasi dengan garam juga jadi. Aku bahkan masih ingat pernah beberapa hari di rumah tidak ada beras maupun tiwul. Yang ada hanya terong mentah dan kelapa yang bisa dipetik dari ladang. Ya sudah, itu yang dimakan.

Aku menceritakan semua ini bukan untuk mengeluh atau menyesali kehidupan yang diberikan orang tuaku. Sama sekali bukan. Semakin tua, aku justru semakin memahami bagaimana bapak dan ibu berjuang dengan apa yang mereka punya. Cerita tentang makanan ini perlu kusampaikan karena tanpa mengetahui kehidupan keluargaku waktu itu, mungkin akan sulit memahami kenapa sepotong daging kemudian bisa menjadi persoalan ketika aku tinggal di asrama SMA Taruna Nusantara.

Ketika aku SMP, keadaan ekonomi keluarga mulai sedikit membaik. Setidaknya tempe atau tahu hampir selalu tersedia setiap hari. Telur dan ayam juga mulai lebih sering kami makan. Masakan ibu semakin bervariasi. Ada sayur bening, sayur asem, sop, berbagai macam oseng-oseng dan tentu saja sambal. Salah satu masakan favoritku adalah oseng-oseng buncis buatan ibu. Bertahun-tahun kemudian, masakan sederhana itu bahkan pernah kutulis dan kuposting di media sosial sebagai salah satu caraku mengenang ibu yang sekarang sudah tiada.

Menu sepulang sekolah yang paling kuingat juga sederhana sekali: sayur bening, sambal tomat dan tempe goreng. Setelah mengayuh sepeda sekitar 13 kilometer dari sekolah, panas-panasan dan capek, menemukan makanan seperti itu di rumah rasanya sudah luar biasa. Tetapi sebenarnya yang paling membekas bukan jenis makanannya. Aku ingat bagaimana kami membaginya.

Kalau hanya ada satu telur, ya dibagi empat. Untuk bapak, ibu, aku dan adikku. Kalau mendapat sepotong kecil daging sapi dari nasi berkat orang yang punya hajatan, kami menunggu sampai bisa makan bersama. Daging yang tidak seberapa itu dibagi, lalu dimakan pelan-pelan. Mungkin karena jarang, kami benar-benar menikmatinya.

Sampai sekarang aku masih bisa membayangkan suasana seperti itu. Bahkan ketika menulis bagian ini, mataku masih mudah meleleh kalau teringat ibu. Semakin ke sini aku semakin sadar betapa setianya beliau mendampingi bapak dan menjaga keluarga kami dalam keadaan apa pun.

Lalu aku masuk SMA Taruna Nusantara di Magelang. Dalam urusan makanan, kehidupanku berubah total. Di rumah, tempe atau tahu bisa menjadi lauk utama. Di SMA Taruna Nusantara, makanan siswa sudah diperhitungkan sesuai kebutuhan dan aktivitas kami. Pagi, siang maupun malam hampir selalu tersedia sumber protein. Bisa daging sapi, ayam, ikan atau telur. Tempe dan tahu yang di rumah menjadi lauk utama, di sana malah bisa menjadi tambahan.

Seharusnya aku senang, kan? Ternyata tidak semudah itu.

Pada awal-awal tinggal di asrama aku justru sering kesulitan makan. Bukan karena makanannya tidak enak. Setiap melihat lauk yang bagiku tergolong istimewa, pikiranku malah lari ke rumah. Aku teringat bapak, ibu dan adikku di Wonogiri. Rasanya aneh melihat makanan tersedia begitu lengkap di depanku sementara aku tahu bagaimana kami makan di rumah.

Masalahnya, makan bersama di asrama juga punya aturan. Ada pamong pengasuh yang mengawasi dan makanan yang sudah disediakan harus dihabiskan. Nasi dan sayur memang kami ambil sendiri dari wadah ke ompreng, jadi porsinya masih bisa disesuaikan. Tetapi lauk protein sudah disiapkan di ompreng masing-masing.

Kalau ayam, ikan atau telur, perlahan aku masih bisa beradaptasi. Setidaknya ketika SMP makanan seperti itu sudah agak sering kumakan. Yang paling berat justru daging sapi. Entah bagaimana menjelaskannya. Mungkin karena sejak kecil kami benar-benar jarang makan daging. Setiap kali melihat daging sapi di ompreng, bukannya berselera, aku malah teringat rumah dan sulit makan.

Akhirnya aku menemukan cara sendiri. Setiap kali lauknya daging, diam-diam kusembunyikan di antara sayur. Aku makan nasi dan yang lainnya seperti biasa. Setelah teman-teman semeja hampir selesai, barulah daging itu kuberikan kepada salah seorang teman. Kenapa harus menunggu dia menghabiskan jatahnya? Ya supaya tidak ketahuan. Kalau sejak awal dagingku langsung kuberikan, tentu gampang terlihat oleh pamong.

Dan cara itu ternyata cukup berhasil. Bukan sekali dua kali. Bahkan bukan cuma tiga atau empat kali.

Sampai suatu malam, keberuntunganku habis.

Malam itu lauknya daging sapi. Kami duduk berenam dalam satu meja. Sejak awal aku sudah agak tidak tenang karena Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan waktu itu, almarhum Kolonel Marinir A. Karim Usman, beberapa kali mondar-mandir di sekitar meja tempatku duduk. Aku mulai curiga. Jangan-jangan beliau sudah memperhatikan kelakuanku pada waktu makan sebelumnya.

Aku menunggu. Ketika beliau berjalan agak menjauh, mulailah operasi penyelamatan. Daging di ompreng kupotong kecil-kecil. Sedikit kutinggalkan. Sebagian besar, mungkin sekitar 90 persennya, diam-diam kumasukkan ke wadah sayur yang ada di tengah meja.

Aman. Setidaknya begitu pikirku.

Aku kembali makan seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi aku lupa satu hal: wadah sayur itu dipakai berenam. Teman di sebelah rupanya ingin menambah sayur. Dia mengambil lagi dari wadah itu. Sayurnya semakin berkurang. Pelan-pelan, daging yang tadi kusembunyikan mulai terlihat.

Aku melihatnya.

Dan rupanya Pak Karim juga melihatnya.

Deg.

Beliau langsung mendekati meja kami.

“Kenapa dagingnya nggak dimakan?”

Aku diam. Mau menjawab apa? Akhirnya kujawab apa adanya.

“Saya nggak bisa makan daging, Pak.”

Beliau terlihat agak kaget. Setelah itu aku mendapat penjelasan cukup panjang. Intinya, makanan yang disediakan untuk siswa bukan sekadar supaya kami kenyang. Semuanya sudah diperhitungkan sesuai kebutuhan tubuh dan aktivitas kami yang memang padat. Karena itu makanan yang sudah menjadi jatah masing-masing harus dihabiskan.

Aku hanya mendengarkan. Kupikir setelah diberi pengarahan, urusannya selesai.

Ternyata belum.

Aku diperintahkan push-up 10 set. Aku jalani. Setelah selesai, aku kembali ke meja. Kupikir sekarang benar-benar selesai.

Ternyata masih belum.

Pak Karim mengambil lima potong daging sapi. Ukurannya kurang lebih sama dengan potongan daging yang tadi mati-matian ingin kuhindari. Kelima potong itu diletakkan di depanku.

“Makan. Habiskan.”

Deg.

Aku langsung pucat. Satu potong saja tadi sampai kusembunyikan di wadah sayur. Sekarang malah ada lima potong di depanku. Rasanya langsung mual. Benar-benar ingin muntah. Tapi aku juga tidak berani muntah.

Kalau dipikir sekarang memang lucu. Malam itu aku mendapat pelajaran Biologi yang rasanya tidak pernah ada di buku sekolah. Ternyata sepotong daging bisa beranak lima. Caranya sederhana: ketahuan Wakasek Kesiswaan.

Aku memandangi lima potong daging itu cukup lama. Perut rasanya sudah menolak sebelum daging masuk ke mulut. Aku diam sebentar. Entah kenapa, pikiranku kemudian pulang ke Wonogiri.

Aku membayangkan sedang berada di rumah. Ada bapak, ibu dan adikku. Kami duduk dan makan bersama seperti biasanya. Aku teringat satu telur yang dibagi empat. Aku teringat sepotong daging dari nasi berkat yang kami tunggu sampai semua berkumpul untuk menikmatinya bersama.

Lalu dalam bayanganku, aku seperti meminta izin kepada bapak dan ibu.

“Pak, Bu... yang ini aku makan sendiri, ya.”

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mereka pasti mengizinkan. Bagaimanapun aku berada di SMA Taruna Nusantara juga atas arahan dan restu mereka. Kalau di sekolah aku diwajibkan makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan menjalani semua kegiatan, tentu bapak dan ibu juga ingin aku melakukannya.

Aku mengambil satu potong dan mulai mengunyah pelan-pelan.

Mual.

Aku berhenti sebentar, lalu kunyah lagi. Aku tidak lagi berpikir harus cepat-cepat menghabiskannya. Justru sebaliknya. Aku memperlambat makanku sambil terus membayangkan sedang berada di rumah bersama mereka.

Sedikit demi sedikit, satu potong habis. Lalu potongan berikutnya. Kalau mulai terasa mual, aku berhenti sebentar. Setelah itu lanjut lagi. Begitu terus sampai akhirnya lima potong daging itu benar-benar habis. Tidak ada yang tersisa.

Malam itu aku mungkin hanya berpikir bagaimana caranya menghabiskan lima potong daging tanpa muntah. Tetapi tanpa kusadari, aku justru menemukan sebuah cara yang kemudian kupakai selama tinggal di asrama. Setelah kejadian itu, kalau ada makanan yang sulit kumakan, aku tidak lagi buru-buru mencari cara untuk membuang atau memberikannya kepada teman.

Aku makan lebih pelan. Kalau perlu berhenti sebentar. Lalu dalam pikiran, aku pulang ke Wonogiri. Membayangkan bapak, ibu dan adikku. Membayangkan kami sedang makan bersama seperti dulu.

Aneh mungkin bagi orang lain, tapi buatku cara itu bekerja. Perlahan aku bisa beradaptasi dengan makanan di asrama. Daging tidak perlu lagi bersembunyi di bawah sayur atau berpindah ke ompreng teman.

Dan ternyata kebiasaan yang bermula malam itu tidak ikut berhenti ketika aku lulus SMA Taruna Nusantara. Sampai sekarang pun aku masih melakukannya. Kalau menghadapi makanan yang sulit kumakan, aku cenderung memperlambat makanku. Sedikit demi sedikit. Kadang tanpa sadar pikiranku kembali pada meja makan sederhana di rumah. Ada bapak, ada ibu, ada adikku, dan ada aku.

Mungkin itu sebabnya kenanganku tentang SMA Taruna Nusantara tidak selalu berupa baris-berbaris, seragam, pelajaran atau latihan fisik. Kadang yang muncul justru sebuah ompreng di ruang makan dan lima potong daging.

Dari kejadian sederhana itu aku membawa satu kebiasaan yang bertahan sampai hari ini. Ketika sesuatu terasa sulit, kadang aku hanya perlu memperlambatnya. Dan ketika rasanya benar-benar berat, aku punya satu tempat untuk kembali, meskipun hanya dalam pikiran: rumah.

Jadi kalau ditanya bagaimana akhirnya aku bisa menghabiskan lima potong daging malam itu, jawabannya bukan karena tiba-tiba aku menjadi suka daging. Aku hanya merasa seperti sedang makan bersama keluargaku.

Bedanya, malam itu aku sudah meminta izin kepada mereka.

“Pak, Bu... yang ini aku habiskan sendiri, ya.”

Dan semuanya bermula dari satu potong daging yang malam itu... beranak lima.


Monday, September 7, 2026

Aku sudah dinyatakan gagal dan diminta pulang hanya karena satu nilai NEM di bawah standar. Namun satu argumen mengubah keputusan: tiga puluh menit kemudian, aku justru masuk asrama SMA Taruna Nusantara.


Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian seleksi di Semarang, kami para peserta diminta pulang dan menunggu pengumuman. Seluruh hasil tes akan direkap dan diranking sesuai kuota masing-masing daerah. Untuk Jawa Tengah waktu itu kalau tidak salah sekitar 30-an orang. Artinya, meskipun seseorang berhasil mengikuti seleksi sampai hari terakhir di Semarang, belum tentu dia akan dipanggil mengikuti tahap akhir di Magelang. Masih ada proses pemeringkatan yang menentukan siapa yang berhak melanjutkan.

Aku pulang dan menunggu. Hari berganti. Musim pendaftaran SMA mulai tiba, tetapi kabar dari SMA Taruna Nusantara belum juga datang. Zaman itu tentu berbeda dengan sekarang. Belum ada email, SMS, WhatsApp, apalagi media sosial yang bisa dibuka setiap saat untuk mencari informasi. Kabar resmi datang melalui surat atau telegram. Kalau keduanya belum datang, praktis tidak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu atau datang langsung kepada penyelenggara.

Aku akhirnya memilih tawakal. Aku merasa sudah melakukan yang terbaik, terkuat, tersehat, dan tercerdas yang aku bisa. Selebihnya kuserahkan kepada takdir Tuhan. Tetapi pendaftaran SMA lain tidak mungkin ikut menunggu. Aku pun memutuskan mendaftar di SMA Negeri 1 Wonogiri.

Cita-citaku waktu itu sederhana. Di tingkat kecamatan aku pernah juara. Di tingkat distrik aku juga juara. Aku ingin mencoba bersaing di tingkatan yang lebih tinggi. Dalam pikiranku, kalau ingin menguji kemampuan lebih jauh, aku harus masuk sekolah paling favorit di wilayah itu. Nilai Ebtanas Murni atau NEM-ku termasuk tinggi. Aku cukup yakin akan diterima di SMA Negeri 1 Wonogiri. Karena merasa peluangku aman, setelah mendaftar aku bahkan tidak terlalu sibuk memantaunya. Pikiranku masih tertinggal pada satu tempat: SMA Taruna Nusantara Magelang.

Suatu hari aku sedang sendirian di rumah. Bapak dan ibu sedang pergi menghadiri hajatan. Tiba-tiba terdengar orang mengetuk pintu. Kubuka, dan di depanku berdiri seseorang berpakaian loreng tentara. Dia menyerahkan sepucuk telegram. Aku membukanya. Aku lolos. Aku dipanggil ke Magelang untuk mengikuti seleksi tahap akhir SMA Taruna Nusantara.

Keesokan paginya aku berangkat bersama ayah. Beliau tampak senang dan optimistis anaknya akan lolos dan masuk sekolah itu. Apalagi sekolahnya gratis. Ya, gratis. Kalau sekarang mengingat kembali alasan awalku mengikuti seleksi SMA Taruna Nusantara, sebenarnya sesederhana itu. Bukan karena saat itu aku sudah memahami reputasinya. Bukan pula karena aku sudah membayangkan pendidikan seperti apa yang akan kudapatkan di sana. Aku ikut seleksi karena sekolah itu gratis. Bagi kami waktu itu, alasan itu sudah lebih dari cukup.

Perjalanan dari rumah menuju Magelang juga tidak sederhana. Setidaknya kami harus berganti kendaraan lima kali. Dari tempat tinggalku naik angkot menuju Terminal Baturetno. Dari Baturetno naik bus ke Solo. Ganti bus lagi dari Solo menuju Yogyakarta. Dari Yogyakarta naik bus ke Magelang. Setelah turun di sekitar New Armada Magelang, perjalanan masih dilanjutkan dengan angkot menuju SMA Taruna Nusantara. Waktu itu SMA Taruna Nusantara belum cukup dikenal. Bahkan ketika kami mengatakan hendak menuju “Taruna”, beberapa orang justru mengarahkan kami ke Akademi Militer. Kami harus menjelaskan bahwa sekolah yang kami tuju berbeda. Ketika akhirnya sampai, hari sudah siang, hampir masuk sore.

Setelah melapor, aku mengikuti pemeriksaan kesehatan tahap kedua. Kemudian tibalah tahap terakhir yang sangat menentukan: pantukhir berupa wawancara. Di dalam ruangan sudah menunggu tim pewawancara. Ada seorang profesor dan beberapa orang dari kalangan militer. Awalnya semuanya berjalan lancar. Pertanyaan demi pertanyaan bisa kujawab. Aku cukup percaya diri sampai kemudian mereka mulai menanyakan nilai Ebtanas Murni satu per satu.

Mata pelajaran pertama aman. Kedua aman. Ketiga aman. Keempat aman. Kelima juga aman. Aku masih pede karena nilai-nilai itu bahkan jauh di atas persyaratan minimal. Lalu sampailah pada mata pelajaran keenam. Nilainya berada di bawah batas minimal yang dipersyaratkan. Suasana langsung berubah. Wawancara dihentikan.

Pimpinan tim menyatakan aku tidak bisa melanjutkan. Aku dianggap tidak memenuhi persyaratan dan diminta berkemas untuk pulang. Sebelum pulang, aku diminta menemui bendahara untuk mengambil uang saku pengganti biaya transportasi. Sebenarnya aku sudah menduga kemungkinan ini sejak sebelum berangkat ke Magelang. NEM baru keluar setelah aku mengikuti seleksi sebelumnya di Semarang. Jadi meskipun mendapat panggilan ke tahap akhir, aku sudah tahu ada satu masalah: satu nilai mata pelajaranku berada di bawah batas minimal. Secara aturan, itu bisa menggugurkanku.

Dan justru karena tahu itulah aku tetap sengaja datang ke Magelang. Demi sekolah gratis itu, aku ingin mencoba sampai akhir. Kalau memang akhirnya harus gagal, setidaknya aku tidak gagal sebelum berusaha. Ketika tim pewawancara menyatakan aku harus pulang, aku diam sejenak. Perjalanan panjang dengan berganti kendaraan lima kali rasanya terlalu sayang kalau harus berakhir begitu saja.

Aku memberanikan diri bertanya, “Apakah saya boleh memberikan argumen mengapa nilai satu mata pelajaran itu kurang bagus?” Awalnya permintaanku ditolak. Aku tetap diminta berkemas. Tetapi salah seorang anggota tim pewawancara kemudian berkata, “Silakan. Jelaskan.”

Kesempatan itu langsung kugunakan. Aku menjelaskan bahwa sejak kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP aku selalu menjadi juara pertama di sekolah. Lalu aku mencoba mengajak mereka melihat persoalannya dari sudut yang berbeda. Kalau selama sembilan tahun aku bisa mempertahankan prestasi itu, bukankah setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan karena aku tidak mampu belajar? Hampir seluruh nilai mata pelajaranku jauh di atas batas yang dipersyaratkan. Hanya satu yang berada di bawahnya. Menurutku waktu itu, bukankah justru perbedaan yang mencolok itu layak dipertanyakan?

Mungkin ada sesuatu dalam proses belajar mengajarnya. Entah pada prosesnya, tahapannya, atau faktor lainnya. Aku sendiri tidak tahu persis. Tetapi aku mencoba meyakinkan mereka bahwa satu nilai itu tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh kemampuan belajarku. Kurang lebih seperti itulah argumenku waktu itu.

Aku selesai bicara. Entah mereka percaya atau tidak, pimpinan tim tetap memintaku keluar. Aku disuruh duduk di tempat antrean sambil menunggu bendahara untuk mengambil uang transport pulang. Aku keluar dari ruangan dan duduk. Kupikir semuanya sudah selesai.

Sekitar tiga puluh menit aku menunggu. Lalu namaku dipanggil lagi. Aku diminta masuk kembali ke ruangan wawancara. Tim pewawancara kemudian mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat. Katanya, aku beruntung karena bendaharanya sedang tidak ada di tempat.

Aneh memang alasannya. Entah mereka serius atau hanya bercanda untuk mencairkan suasana, aku tidak pernah tahu. Bisa jadi selama aku duduk menunggu, mereka mendiskusikan kembali hasil wawancaraku. Bisa jadi argumen yang kusampaikan ikut menjadi pertimbangan. Aku juga tidak pernah menanyakannya. Yang jelas, keputusan mereka berubah. Aku diloloskan.

Tetapi ada syaratnya. Mereka menjelaskan bahwa aku diberi kesempatan masuk SMA Taruna Nusantara dengan ketentuan nilai mata pelajaran yang menjadi masalah tadi harus memenuhi standar ketika aku belajar di sana. Kalau dalam satu semester nilai mata pelajaran tersebut masih berada di bawah standar yang ditentukan, meskipun nilai rata-rataku sebenarnya cukup untuk naik kelas, aku tetap akan dikeluarkan.

Aku menerima syarat itu. Tidak perlu berpikir lama. Bagiku waktu itu, yang terpenting adalah kesempatan untuk membuktikan. Dan keputusan tersebut langsung mengubah seluruh rencana hari itu. Sekitar tiga puluh menit sebelumnya aku sudah dinyatakan gagal. Aku sudah diminta berkemas. Bahkan aku sudah duduk menunggu bendahara untuk mengambil uang transport pulang. Sekarang aku justru dinyatakan lolos.

Aku tidak jadi pulang.

Setelah dinyatakan lolos bersyarat, aku langsung masuk asrama SMA Taruna Nusantara. Ayah yang sejak pagi menemaniku menempuh perjalanan panjang menuju Magelang akhirnya pulang sendiri. Sedangkan aku tinggal. Hari itu juga kehidupan baruku dimulai.

Kalau sekarang kuingat kembali, pengalaman itu membekas bukan semata-mata karena akhirnya aku berhasil menjadi siswa SMA Taruna Nusantara. Ada pelajaran lain yang baru terasa jauh setelah peristiwa itu berlalu. Saat itu aku tidak sedang meminta aturan dihapus. Aku juga tidak menyangkal bahwa nilaiku memang berada di bawah persyaratan. Aku hanya meminta kesempatan agar diriku tidak dinilai dari satu angka saja.

Dan mungkin tanpa kusadari, itulah negosiasi penting pertamaku. Bukan negosiasi tentang harga. Bukan pula tawar-menawar supaya aturan diturunkan untukku. Aku hanya mencoba menyampaikan argumen berdasarkan sesuatu yang kupunya: rekam jejak. Apakah argumen itu yang membuat keputusan mereka berubah? Aku tidak pernah tahu pasti. Tim pewawancara hanya mengatakan bahwa aku beruntung karena bendaharanya tidak ada di tempat. Mungkin memang cuma bercanda.

Tetapi kalau dipikir-pikir sekarang, untung juga waktu itu bendaharanya sedang tidak ada. Kalau dia ada, mungkin uang transport sudah berada di tanganku. Aku dan ayah sudah naik angkot meninggalkan sekolah, kemudian berganti kendaraan lagi untuk menempuh perjalanan panjang kembali ke Wonogiri. Kenyataannya, hari itu ceritanya berubah hanya dalam waktu sekitar tiga puluh menit.

Aku datang ke Magelang sebagai peserta seleksi. Sempat keluar dari ruang wawancara sebagai peserta yang dinyatakan gagal. Lalu dipanggil kembali dan diberi satu kesempatan dengan syarat.

Aku tidak jadi berjalan menuju bendahara untuk mengambil ongkos pulang. Aku berjalan menuju asrama untuk memulai hidup sebagai siswa SMA Taruna Nusantara.


Sunday, September 6, 2026

Juli 2024, hasil laboratorium menunjukkan kreatininku 9,55 mg/dL. Dokter mengatakan aku sudah harus cuci darah. Bahkan waktu itu dokter hendak memberiku surat pengantar untuk HD, tetapi aku menolak.



Alasannya sederhana: aku merasa belum sesakit itu.

Aku masih bekerja seperti biasa. Masih lembur. Masih pergi ke mana-mana. Memang wajahku mulai terlihat pucat dan tubuh lebih cepat lelah. Kadang pusing, sesekali agak mual, tetapi kemudian hilang lagi. Nafsu makanku masih sangat bagus. Aktivitas juga nyaris tidak berkurang.

Jadi ketika dokter mengatakan aku harus cuci darah, rasanya tidak nyambung dengan apa yang kurasakan. Dalam bayanganku waktu itu, orang yang sudah harus cuci darah mestinya sakit berat, lemah, mungkin sudah tidak sanggup menjalani aktivitas normal.

Sedangkan aku?

Besoknya masih ngantor. Masih lembur. Masih gas pol.

Mungkin itulah yang membuatku sulit menerima kenyataan bahwa ginjalku sudah dalam kondisi berat.

Sebenarnya usaha mencari pengobatan alternatif sudah kulakukan sekitar setahun sebelumnya. Herbal pernah, tusuk jarum pernah, pijat juga pernah. Setiap mendengar ada pengobatan yang katanya bisa membantu ginjal, aku tertarik mencari tahu.

Harapanku cuma satu: ginjalku bisa membaik dan aku tidak perlu cuci darah.

Kenyataannya berbeda. Selama setahun itu kondisiku bukannya membaik, tetapi perlahan justru semakin buruk sampai akhirnya dokter menyarankan HD.

Tetapi aku belum menyerah.

Aku masih ingin mencari jalan lain.

Suatu hari sebuah iklan lewat di FYP media sosialku. Entah kebetulan atau algoritma sudah membaca apa yang sering kucari, iklan itu menawarkan pengobatan dari luar negeri yang membuka layanan di Jakarta. Penyakit yang disebut bukan penyakit ringan. Ada gagal ginjal, kanker, termasuk kanker payudara, dan beberapa penyakit kronis lainnya. Testimoninya juga banyak.

Metodenya membuatku penasaran: semacam penyinaran yang diarahkan ke bagian tubuh atau organ yang sakit.

Harga normal satu paket sekitar Rp15 juta untuk tiga hari terapi. Kebetulan saat itu sedang ada promo besar sehingga aku hanya perlu membayar sekitar Rp5 juta.

Dalam keadaan sedang berusaha keras menghindari cuci darah, tawaran seperti itu tentu sangat menggoda.

Setelah berembug dengan istri, akhirnya aku memutuskan mencoba.

Aku berangkat sendiri naik kereta ke Jakarta. Dari stasiun lanjut ojol menuju lokasi. Ketika sampai, aku agak kaget karena tempatnya ternyata berada di sebuah ruko.

Ada resepsionis, dua atau tiga orang perawat, seorang dokter, dan beberapa pasien yang sedang menunggu giliran.

Ketika namaku dipanggil, aku masuk ke ruangan dan mendapatkan cairan melalui infus. Sampai sekarang aku tidak tahu persis cairan apa yang diberikan. Yang kuingat, setelah itu badanku terasa segar.

Setelah infus selesai, aku menunggu giliran untuk penyinaran.

Aku dibaringkan di depan sebuah mesin, kemudian tubuhku digeser sedikit masuk ke semacam lorong. Posisi tubuh diatur agar bagian yang dituju tepat di area ginjal. Mataku ditutup. Aku sudah lupa persis durasinya, tetapi seingatku satu sesi berlangsung sekitar 15–20 menit.

Karena satu paket berlangsung tiga hari, aku mencari penginapan di sekitar lokasi.

Di sana aku bertemu banyak pasien gagal ginjal lainnya. Ada yang datang jauh-jauh dari luar Pulau Jawa. Beberapa bahkan langsung mengambil beberapa paket sekaligus dan memilih tinggal lebih lama di Jakarta daripada harus bolak-balik naik pesawat.

Melihat mereka, waktu itu aku justru semakin optimistis.

Mungkin memang ada jalan lain.

Tiga hari selesai. Aku pulang ke Semarang dengan badan yang terasa segar. Setelah itu hidup kembali berjalan seperti biasanya.

Beberapa waktu kemudian aku mendapatkan penawaran lagi. Ada diskon untuk pemeriksaan dan terapi berikutnya. Kalau tidak salah, dari sekitar Rp15 juta menjadi Rp7,5 juta. Paketnya memang bermacam-macam, termasuk lama penyinarannya. Ada sekitar 15 menit, 20 menit, 30 menit, dengan harga yang berbeda.

Aku tertarik lagi.

Untuk kedua kalinya aku berangkat sendiri naik kereta ke Jakarta.

Kalau mengingat kondisiku waktu itu, sekarang kadang aku sendiri heran. Aku masih makan seperti biasa, minum seperti biasa, dan BAK juga masih normal menurut yang kurasakan. Aku belum membatasi protein. Belum menghitung cairan. Aku masih bekerja dan masih mampu bepergian sendiri.

Bahkan secara mental, aku merasa baik-baik saja.

Aku tidak merasa sedang membawa penyakit berat di dalam tubuh. Aku bisa merencanakan perjalanan sendiri, naik kereta, pesan ojol, mencari penginapan dan mengurus semuanya tanpa bantuan orang lain.

Sampai pada kunjungan kedua itu aku diminta melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap.

Hasilnya kubawa kepada dokter di sana.

Dokter membaca angka-angkanya.

Lalu dia mengatakan bahwa eGFR-ku tinggal sekitar 5.

Aku diam.

Lima?

Jantungku langsung berdegup kencang. Badanku seperti gemetar.

Aku sendirian di Jakarta. Jauh dari istri. Jauh dari keluarga.

Beberapa saat sebelumnya aku masih merasa biasa saja. Aku datang sendiri naik kereta, lanjut ojol, berjalan sendiri dan mengurus semuanya sendiri.

Sekarang sebuah angka di hasil laboratorium tiba-tiba mengatakan bahwa kondisi ginjalku sudah sangat berat.

Aku benar-benar tidak siap.

Yang terus berputar di kepalaku hanya satu pertanyaan:

Kalau ginjalku memang sudah separah itu, kok aku masih bisa melakukan semuanya?

Sejak hari itu aku mulai banyak membaca tentang gagal ginjal.

Dan mungkin di situlah masalah baru muncul.

Aku membaca terlalu banyak ketika sedang takut.

Semakin kubaca, semakin ke mana-mana pikiranku. Gagal ginjal bisa menyebabkan ini, bisa menyebabkan itu. Risiko jantung, kelebihan cairan, kalium, anemia, sesak, dan berbagai komplikasi lainnya.

Satu istilah medis membawaku ke istilah lain. Kubaca lagi, muncul risiko berikutnya.

Bukannya semakin tenang, pikiranku justru semakin kacau.

Sebelumnya kalau pusing sedikit, ya kupikir cuma pusing. Kalau capek, kupikir karena kebanyakan kerja. Kalau agak mual, beberapa saat kemudian hilang dan aku melupakannya.

Setelah mengetahui eGFR-ku sekitar 5, semuanya terasa berbeda.

Pusing sedikit mulai membuatku takut. Mual sedikit mulai kupikirkan. Badan terasa tidak enak sedikit, pikiranku langsung lari ke gagal ginjal.

Padahal kalau kuingat sekarang, tubuhku tidak mendadak berubah pada hari itu. Yang berubah drastis justru pikiranku.

Sebelum mendengar angka 5, aku adalah orang dengan ginjal yang sudah rusak berat tetapi masih merasa baik-baik saja. Beberapa menit setelah mendengarnya, aku mulai menjadi orang yang takut terhadap tubuhnya sendiri.

Barulah perlahan aku memahami mengapa dokter pada bulan Juli sudah menyuruhku bersiap menjalani cuci darah.

Ternyata masih bisa bekerja bukan berarti ginjalku masih baik. Masih doyan makan bukan berarti kondisiku ringan. Masih bisa BAK bukan berarti fungsi ginjalku masih aman. Dan masih sanggup naik kereta sendirian ke Jakarta bukan berarti semuanya baik-baik saja.

Ada penyakit yang kedatangannya tidak langsung membuat seseorang terbaring. Tubuh masih bisa diajak berjalan, bekerja, bahkan lembur. Dan mungkin justru karena itulah aku terus merasa masih punya banyak waktu.

Aku datang ke Jakarta membawa harapan untuk menemukan jalan agar tidak perlu cuci darah.

Tetapi aku pulang membawa sesuatu yang tidak kubawa ketika berangkat:

ketakutan.

Waktu itu aku belum tahu, tubuhku ternyata hanya memberiku waktu beberapa bulan lagi untuk terus merasa bahwa semuanya masih bisa kuatasi.

Oktober 2024, semuanya berubah.


Thursday, August 20, 2026


Kalau dipikir sekarang, mungkin cita-cita kami waktu itu agak kelewatan.

Kami ingin panjat tebing seramai sepakbola.

Bukan berarti setiap kampung harus punya papan panjat. Bukan pula berharap orang meninggalkan sepakbola lalu berbondong-bondong menjadi pemanjat.

Kami cuma ingin suatu hari panjat tebing tidak lagi menjadi olahraga yang ketika disebut orang masih bertanya:

“Memanjat tebing beneran?”

Keinginan itu muncul setelah kami membuat Festival Dolanan Penekan.

Program itu cukup berhasil menarik anak-anak mengenal panjat tebing. Mereka datang, mencoba memanjat, kemudian beberapa mulai berlatih. Kami menyebut mereka Spider Kid.

Awalnya saya senang.

Dalam pikiran saya sederhana: kalau sejak kecil sudah dikenalkan panjat tebing, nanti kita punya banyak atlet.

Ternyata saya lupa satu hal.

Anak kecil tidak bisa dipercepat menjadi dewasa.

Mau programnya sebagus apa pun, kami tetap harus menunggu bertahun-tahun sampai Spider Kid masuk usia junior, apalagi senior.

Belum lagi selama menunggu itu mereka harus terus berlatih.

Harus ada pelatih.

Harus ada kompetisi.

Harus ada tempat latihan.

Dan yang paling sulit: mereka harus punya alasan untuk tetap mencintai panjat tebing.

Saya mulai sadar bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana mencari bibit atlet.

Kami harus membuat dunia panjat tebingnya menarik untuk ditinggali.

Maka mulailah kami membuat program yang macam-macam.

Sebagian serius.

Sebagian agak aneh.

Untuk Mencari Juara, Kami Membuat Sirkuit

Yang paling normal adalah Sirkuit Panjat Tebing Kabupaten.

Ini kompetisi resmi.

Kami membutuhkan tempat untuk melihat atlet-atlet junior dan senior yang potensial, kemudian menyeleksi mereka masuk pemusatan latihan menuju Pekan Olahraga Daerah.

Ada pertandingan.

Ada hasil.

Ada seleksi.

Ada target prestasi.

Semua masuk akal untuk sebuah federasi olahraga.

Tetapi kalau hanya melakukan itu, saya merasa panjat tebing tidak akan ke mana-mana.

Yang datang ke pertandingan ya orang panjat tebing.

Yang menonton teman-temannya sendiri.

Yang tepuk tangan juga orang-orang yang sama.

Besok latihan, ketemu lagi dengan orang-orang itu.

Lingkarannya terlalu kecil.

Kalau ingin panjat tebing dikenal masyarakat, kami harus membuat alasan agar orang yang tidak bisa memanjat pun mau datang.

Lalu muncul ide yang mungkin agak kurang lazim untuk sebuah program federasi olahraga.

Kami Membuat Pertandingan Menunggu Bulan Purnama

Namanya Panjat Tebing Padang Bulan.

Pertandingannya malam hari.

Kalau bisa ketika bulan sedang terang.

Bukan karena bulan purnama membuat atlet memanjat lebih cepat. Tentu tidak.

Kami hanya ingin membuat suasana.

Inspirasi saya waktu itu kurang lebih datang dari bagaimana Pengajian Padang Mbulan mampu menjadi ruang berkumpul masyarakat.

Saya berpikir, kenapa panjat tebing tidak bisa punya suasana seperti itu?

Orang datang tidak harus menjadi atlet.

Mau nonton silakan.

Mau ngobrol silakan.

Mau nongkrong juga tidak masalah.

Yang penting mereka datang ke venue panjat tebing.

Kebetulan di dekat venue ada sebuah angkringan milik orang tua salah satu atlet. Kondisi ekonominya relatif perlu dibantu.

Di kepala saya muncul hitung-hitungan yang sangat sederhana.

Kalau pertandingan malam ramai, orang pasti haus.

Kalau haus, beli teh.

Kalau duduk lama, mungkin tambah gorengan.

Kalau yang datang banyak, angkringannya ikut ramai.

Sederhana sekali.

Tidak ada teori sport tourism, economic impact, atau istilah keren lainnya dalam kepala kami waktu itu.

Cuma ada pikiran:

kalau panjat tebing ramai, jangan sampai yang menikmati keramaiannya hanya atlet.

Kalau orang tua atlet yang jualan angkringan bisa mendapat tambahan penghasilan, saya justru merasa kegiatan itu punya arti lebih.

Medali tetap penting.

Tetapi gorengan yang habis terjual malam itu juga menyenangkan.

Kami Juga Pernah Mengadu Juara dengan Cara yang Agak Jahat

Ada program lain yang sampai sekarang menurut saya masih menarik kalau dibayangkan.

Boulder Challenge.

Kami ingin memberi panggung khusus kepada atlet-atlet yang sudah berprestasi.

Tetapi kalau cuma dipertandingkan biasa, rasanya kurang seru.

Akhirnya kami membuat format head to head antarjuara.

Yang unik, jalurnya bukan dibuat panitia.

Lawan yang membuatnya.

Misalnya Atlet A melawan Atlet B.

Atlet A membuat jalur khusus untuk Atlet B.

Tentu saja dia akan berpikir:

“Gerakan apa yang paling menyusahkan orang ini?”

Tetapi kami memberi satu aturan penting.

Atlet A sendiri wajib bisa menyelesaikan jalur buatannya.

Jadi tidak boleh membuat jalur ngawur hanya supaya lawannya gagal.

Setelah itu giliran Atlet B membalas.

Dia membuat jalur untuk Atlet A.

Dan dia juga harus mampu menyelesaikannya sendiri.

Bayangkan gengsinya.

Dua orang juara berdiri di depan papan boulder.

Mereka bukan hanya bertanding siapa paling kuat.

Mereka sedang saling membaca.

Kekuatan lawannya apa?

Kelemahannya di mana?

Gerakan seperti apa yang membuat dia kesulitan?

Tetapi jangan sampai terlalu sulit karena pembuat jalurnya sendiri nanti malah tidak bisa.

Kalau itu terjadi, malunya dobel.

Kami ingin pertandingan punya cerita.

Karena itu atlet-atlet tertentu juga kami beri julukan.

Ada Bayu “Master Boulder”.

Ada Wahyu “Turun Gunung”.

Ada Purnomo dan nama-nama lain.

Kami ingin ketika wartawan menulis pertandingan, yang muncul bukan sekadar:

“Atlet A mengalahkan Atlet B.”

Terlalu datar.

Bayangkan kalau yang muncul:

Bayu “Master Boulder” ditantang Wahyu “Turun Gunung”.

Belum bertanding saja rasanya sudah ada urusan pribadi.

Padahal setelah pertandingan ya latihan bareng lagi.

Sekarang istilahnya mungkin personal branding.

Waktu itu kami tidak berpikir sejauh itu.

Kami cuma ingin orang membuka koran lalu merasa:

“Wah, panjat tebing ternyata seru juga.”

Kalau Mau Populer, Jangan Sembunyi di Kampus

Ada persoalan lain yang cukup mengganggu pikiran saya.

Panjat tebing banyak tumbuh dari kampus.

Saya sendiri juga mengenal dunia ini dari lingkungan kampus. Peran kampus dalam perkembangan panjat tebing sangat besar.

Tetapi ada konsekuensinya.

Kalau semua papan panjat berada di dalam kampus, masyarakat hanya melihatnya dari luar.

Kami ingin membalik keadaan.

Papan panjat harus mendatangi masyarakat.

Salah satu yang kemudian hadir adalah Fitriyani Climbing Arena di Lapangan Klebengan, yang pembangunannya didanai Pemerintah Pusat.

Ada lead.

Ada speed.

Ada boulder.

Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih penting dari fasilitasnya.

Namanya.

Kami memakai nama Fitriyani sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai juara nasional dan peraih prestasi SEA Games pada Speed Track perorangan putri.

Kami juga membangun sendiri papan boulder dan menamainya Bayu Climbing Center, sebagai penghargaan atas keberhasilan Bayu menjadi juara nasional boulder perorangan putri.

Saya suka gagasan sederhana ini.

Biasanya nama atlet muncul di koran ketika menang.

Besok korannya menjadi bungkus entah apa, namanya hilang.

Tetapi kalau namanya menjadi nama venue, ceritanya bisa bertahan lebih lama.

Suatu hari mungkin ada anak datang latihan.

Dia melihat tulisan Bayu Climbing Center.

Lalu bertanya:

“Bayu siapa?”

“Juara nasional.”

Mungkin anak itu cuma mengangguk.

Tetapi siapa tahu beberapa tahun kemudian dia ingin namanya juga dipasang di suatu tempat.

Lalu Kami Berusaha Masuk Koran Setiap Minggu

Ada satu program yang tidak membutuhkan sepatu panjat.

Tidak membutuhkan tali.

Tidak membutuhkan papan.

Berteman dengan wartawan.

Kami menjalin hubungan dengan wartawan olahraga dari hampir seluruh media regional populer di wilayah federasi kami.

Target kami sederhana tetapi cukup merepotkan:

usahakan seminggu sekali panjat tebing muncul di media.

Kalau ada pertandingan, kirim berita.

Ada atlet berprestasi, kirim.

Ada kegiatan, kirim.

Ada perkembangan venue, kirim.

Pokoknya jangan membiarkan panjat tebing terlalu lama menghilang dari halaman olahraga.

Sebab saya berpikir begini:

Bagaimana seorang anak bisa bercita-cita menjadi atlet panjat tebing kalau dia bahkan tidak pernah membaca atau mendengar nama atlet panjat tebing?

Masyarakat mengenal sepakbola karena sepakbola hadir hampir setiap hari dalam kehidupan mereka.

Kami memang tidak mungkin menandingi itu.

Tetapi setidaknya kami bisa mengetuk pintunya pelan-pelan.

Minggu ini satu berita.

Minggu depan satu lagi.

Begitu terus.

Lalu Waktu yang Menjawab

Setelah itu tahun-tahun berlalu.

Ada pengurus yang datang dan pergi.

Ada atlet yang bertahan.

Ada yang mungkin berhenti.

Anak-anak Spider Kid juga semakin besar.

Kami tidak pernah benar-benar tahu apakah eksperimen yang kami lakukan itu akan menghasilkan sesuatu.

Padang Bulan.

Boulder Challenge.

Sirkuit.

Venue.

Julukan atlet.

Berita setiap minggu.

Kalau dilihat satu-satu seperti tidak berhubungan.

Sampai beberapa tahun kemudian muncul kabar yang membuat saya seperti diajak melihat ke belakang.

Salah satu atlet putri yang lahir dari rangkaian kompetisi tersebut kemudian berkembang dan meraih prestasi di SEA Games dan Asian Games.

Lalu ada kabar lain.

Salah satu anak yang dulu mengikuti Spider Kid dalam Festival Dolanan Penekan akhirnya tumbuh menjadi atlet Pelatnas Junior.

Saya langsung teringat persoalan yang dulu membuat saya gelisah:

“Berapa tahun kami harus menunggu anak-anak ini menjadi atlet?”

Ternyata jawabannya memang:

bertahun-tahun.

Tidak ada jalan pintas.

Anak kecil tetap harus tumbuh.

Atlet tetap harus berlatih.

Kalah tetap harus dirasakan.

Cedera mungkin harus dilewati.

Sekolah tetap harus dijalani.

Seleksi tetap harus dimenangkan.

Tetapi sekarang saya memahami sesuatu yang dulu belum sepenuhnya saya pahami.

Selama menunggu mereka tumbuh, tugas kami bukan sekadar duduk melihat kalender.

Kami harus membuat mereka punya dunia yang membuat mereka ingin bertahan.

Ada kompetisi untuk dikejar.

Ada juara untuk dikalahkan.

Ada venue untuk berlatih.

Ada nama senior yang bisa dibanggakan.

Ada berita yang bisa dibaca orang tuanya.

Ada penonton yang berteriak ketika mereka hampir mencapai top.

Bahkan ada angkringan di samping venue yang menjadi lebih ramai ketika mereka bertanding.

Mungkin itulah bagian paling menarik dari masa saya mengurus panjat tebing.

Kami pernah mencoba membuat panjat tebing populer dengan cara yang macam-macam.

Mengajak anak-anak bermain.

Bertanding saat terang bulan.

Membiarkan juara membuat jalur untuk menjatuhkan juara lainnya.

Memberi atlet julukan seperti petarung.

Mengabadikan nama juara menjadi nama venue.

Dan mengejar wartawan supaya panjat tebing tidak hilang dari koran.

Dulu semuanya kami anggap sebagai program yang berbeda.

Sekarang saya melihatnya sebagai satu cerita.

Kami memang ingin melahirkan juara.

Tetapi ternyata untuk melahirkan seorang juara, tidak cukup hanya menemukan anak berbakat lalu menyuruhnya berlatih.

Kami harus membuat olahraga ini punya pertandingan.

Punya panggung.

Punya tokoh.

Punya penonton.

Punya cerita.

Bahkan kalau perlu, punya angkringan.

Kami tidak hanya sedang melatih atlet.

Kami sedang membangun dunia yang membuat mereka ingin terus memanjat.


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts