Thursday, October 1, 2026

Desa wisata di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah semakin banyak desa wisata juga berarti semakin banyak desa yang benar-benar mampu mendatangkan wisatawan, menghasilkan pendapatan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat?



Pertanyaan itulah yang terasa kuat ketika membaca Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045. Dokumen Kementerian Pariwisata ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana membentuk desa wisata baru, tetapi menawarkan perubahan besar dalam cara melihat keberhasilan desa wisata. Orientasinya bergeser dari jumlah menuju kualitas, dari potensi menuju kinerja, dan dari sekadar memiliki status desa wisata menuju kemampuan untuk benar-benar naik kelas.

Ketika Jumlah Desa Wisata Tumbuh, tetapi Kualitas Belum Mengikuti

Data dalam kajian ini cukup menarik. Dari 84.139 desa di Indonesia, sebanyak 6.189 desa telah tercatat di Jejaring Desa Wisata atau Jadesta per 28 Februari 2026. Namun, sebanyak 78,2% masih berada pada kategori rintisan, 16,1% berkembang, 5,1% maju, dan hanya 0,5% yang sudah berada pada kategori mandiri. Artinya, sebagian sangat besar desa wisata Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan (Bab 1, hlm. 4–5). peta jalan desa wisata indonesi…

Lebih menarik lagi jika melihat perkembangannya. Dalam kurun 2021–2025, jumlah desa wisata rintisan meningkat sekitar 237%. Sebaliknya, jumlah desa wisata berkembang justru menurun, sedangkan kategori maju dan mandiri relatif stagnan. Kajian tersebut membaca kondisi ini sebagai indikasi bahwa pengembangan selama ini lebih banyak berfokus pada pembentukan desa wisata baru, sementara desa wisata yang sudah terbentuk belum mendapatkan perhatian yang cukup untuk berkembang secara optimal (Bab 1, hlm. 5). peta jalan desa wisata indonesi…

Menurutku, inilah salah satu pesan terpenting dari buku ini. Tantangan desa wisata Indonesia ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah desa wisata, tetapi bagaimana membuat desa wisata yang sudah ada benar-benar berkembang dan naik kelas.

Desa Wisata Bukan Sekadar Desa yang Memiliki Objek Wisata

Peta jalan ini juga memperjelas konsep desa wisata Indonesia. Desa wisata ditempatkan sebagai perpaduan antara rural tourism dan community-based tourism. Karena itu, desa wisata tidak hanya mengandalkan alam, budaya atau atraksi yang berada di wilayah pedesaan. Masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama sekaligus pemilik, pengelola dan penerima manfaat kegiatan pariwisata (Bab 3, hlm. 59–60).

Konsep tersebut membuat pengalaman yang ditawarkan desa wisata berbeda dengan objek wisata biasa. Wisatawan bukan sekadar datang untuk melihat sesuatu, tetapi diharapkan dapat merasakan kehidupan dan kearifan lokal serta berinteraksi dengan nilai dan kebiasaan masyarakat setempat. Keautentikan kehidupan masyarakat justru menjadi salah satu kekuatan utama produk desa wisata (Bab 1, hlm. 4).

Arah ini semakin relevan karena tren perjalanan juga bergerak menuju pengalaman yang lebih autentik dan berkelanjutan. Kajian mencatat enam tren yang berpotensi berkembang, yaitu cultural immersion, eco-friendly tourism, nature and adventure-based tourism, culinary and gastronomy tourism, wellness tourism, serta bleisure (Bab 1, hlm. 6).

Artinya, desa wisata sebenarnya mempunyai peluang besar. Persoalannya bukan sekadar apakah desa memiliki potensi, tetapi apakah potensi tersebut mampu diterjemahkan menjadi pengalaman yang benar-benar ingin dibeli wisatawan.

Dari “Punya Potensi” Menuju Kinerja yang Bisa Diukur

Bagian yang menurutku paling menarik adalah perubahan cara mengukur perkembangan desa wisata. Peta jalan mengembangkan sistem klasifikasi yang tidak hanya menggunakan penilaian kualitatif, tetapi juga kuantitatif. Instrumennya diuji melalui survei terhadap 232 desa wisata, dikonfirmasi melalui lapangan, dan pembobotan kriterianya melibatkan 13 ahli di bidang pariwisata.

Sistem tersebut menggunakan 10 kriteria, 27 subkriteria dan 49 indikator kuantitatif. Sepuluh kriteria itu meliputi ekonomi dan usaha pariwisata; aksesibilitas dan infrastruktur; kelembagaan dan tata kelola; sumber daya manusia; produk dan atraksi wisata; pemasaran dan digitalisasi; lingkungan dan keberlanjutan; inklusivitas; pendanaan dan kemitraan; serta resiliensi (Bab 3, hlm. 74–96).

Di sinilah menurutku terjadi perubahan yang sangat penting. Desa wisata tidak cukup mengatakan, “Kami sudah mempunyai paket wisata.” Dalam indikator ekonomi, misalnya, yang dihitung bukan hanya jumlah paket wisata, tetapi juga berapa paket yang benar-benar terjual, berapa pendapatan yang dihasilkan, berapa wisatawan domestik dan mancanegara yang datang, serta berapa lama mereka tinggal.

Jadi, potensi tidak lagi menjadi ukuran akhir. Potensi harus diolah menjadi produk, produk dikemas menjadi paket, paket harus terjual, wisatawan harus datang, dan aktivitas tersebut pada akhirnya harus menghasilkan manfaat ekonomi.

Pemasaran dan Digitalisasi Menjadi Bagian dari Ukuran Desa Wisata

Hal penting lainnya adalah ditempatkannya pemasaran dan digitalisasi sebagai salah satu dari sepuluh kriteria utama. Indikatornya antara lain keberadaan kanal digital aktif dan jumlah konten promosi (Bab 3, hlm. 75–82).

Ini menarik karena pemasaran berarti tidak lagi ditempatkan sebagai kegiatan tambahan setelah produk wisata selesai dibuat. Kemampuan desa wisata untuk dikenal, ditemukan, dan dipasarkan menjadi bagian dari kualitas desa wisata itu sendiri.

Namun, jika dibaca bersama indikator ekonomi, aktif di media digital saja tentu belum cukup. Konten promosi idealnya berujung pada pengenalan produk, terbukanya pasar, paket yang terjual, wisatawan yang datang, hingga pendapatan yang diterima masyarakat.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pemasaran tidak seharusnya berhenti pada seberapa sering kita membuat konten, tetapi seberapa jauh pemasaran mampu membantu menggerakkan pasar.

Desa Wisata Juga Harus Punya Orang yang Mampu Mengelolanya

Peta jalan memberi perhatian besar terhadap sumber daya manusia. Indikatornya meliputi jumlah tenaga kerja, jumlah SDM terlatih, pelatihan yang diikuti, hingga tenaga kerja yang memiliki sertifikasi. Pada sisi kelembagaan, yang dilihat bukan hanya keberadaan organisasi pengelola, tetapi juga keaktifan pengelola dan aturan pengelolaan desa wisata.

Pokdarwis sendiri ditempatkan sebagai penggerak elemen sosial masyarakat. Pokdarwis berperan mendorong partisipasi warga, menciptakan produk dan aktivitas wisata, menjaga kualitas layanan, serta memastikan manfaat kegiatan desa wisata dapat didistribusikan secara adil dan terbuka kepada masyarakat (Bab 5, hlm. 149–150).

Pesannya cukup jelas: alam yang indah atau budaya yang unik saja tidak otomatis menghasilkan desa wisata yang berhasil. Harus ada orang yang mau bergerak dan mempunyai kemampuan untuk mengemas produk, mengelola organisasi, melayani wisatawan, membangun jaringan, berkolaborasi, dan memasarkannya.

Bukan Hanya Berkelanjutan, tetapi Menuju Pariwisata Regeneratif

Konsep keberlanjutan dalam peta jalan juga dibuat lebih luas. Desa wisata nantinya dinilai dari pengelolaan sampah, konservasi lingkungan dan budaya, keterlibatan kelompok rentan, fasilitas ramah disabilitas, sumber pendanaan, kemitraan hingga kesiapan menghadapi risiko.

Bahkan aspek resiliensi mencakup keberadaan SOP mitigasi dan penanganan risiko, simulasi bencana, fasilitas penanggulangan bencana, kotak P3K hingga asuransi wisata. Risiko yang dibahas pun bukan hanya bencana alam, tetapi juga pandemi, perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi serta risiko sosial budaya (Bab 5, hlm. 153–155).

Pada tahap yang lebih tinggi, arah pengembangannya bergerak menuju pariwisata regeneratif. Salah satu bentuk konkretnya adalah pendapatan pariwisata diinvestasikan kembali untuk konservasi alam, budaya, dan penguatan komunitas (Bab 5, hlm. 154–155).

Jadi, bukan hanya bagaimana pariwisata tidak merusak desa. Pariwisata justru diharapkan ikut membuat alam, budaya, ekonomi lokal, dan masyarakat menjadi semakin kuat.

Empat Tahap Menuju Desa Wisata Indonesia 2045

Transformasi tersebut tidak dilakukan sekaligus, tetapi disusun dalam empat fase. Fase 2026–2029 difokuskan pada pembangunan fondasi, pendataan, standardisasi klasifikasi, kelembagaan dan kapasitas SDM. Fase 2030–2034 mulai memperkuat produk, model bisnis, branding, digitalisasi dan ekonomi. Fase 2035–2039 diarahkan pada peningkatan daya saing dan perluasan pasar regional Asia. Sedangkan fase 2040–2045 membawa desa wisata menuju daya saing global dan pengembangan pariwisata regeneratif (Bab 4, hlm. 101–134).

Targetnya pun konkret. Proporsi desa wisata mandiri yang pada awal periode hanya sekitar 0,5% ditargetkan menjadi 2% pada 2029, 5% pada 2034, 8% pada 2039, dan 10% pada 2045. Desa wisata maju juga diarahkan meningkat hingga 15% pada 2045.

Artinya, ukuran keberhasilan peta jalan ini bukan berapa banyak desa wisata baru yang berhasil dilahirkan, tetapi berapa banyak desa wisata yang berhasil bergerak dari rintisan menjadi berkembang, kemudian maju, dan akhirnya mandiri.

Saatnya Berhenti Puas dengan Status Desa Wisata

Bagiku, pesan terbesar dari Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 sebenarnya sederhana. Indonesia tidak kekurangan desa yang mempunyai potensi wisata. Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar bekerja.

Desa wisata tidak seharusnya berhenti setelah memperoleh SK, membentuk Pokdarwis, mendapatkan pelatihan, membuat paket wisata atau memiliki akun media sosial. Semua itu baru merupakan bagian dari proses. Pada akhirnya harus ada produk yang berkualitas, pengelola yang aktif, pemasaran yang berjalan, paket yang terjual, wisatawan yang datang, transaksi yang terjadi, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta alam dan budaya yang tetap terjaga.

Karena mungkin pertanyaan terpenting ke depan bukan lagi:

“Berapa desa wisata yang sudah kita bentuk?”

Tetapi:

“Berapa desa wisata yang benar-benar tumbuh, menghasilkan manfaat bagi masyarakat, dan berhasil naik kelas?”

Itulah perubahan besar yang ditawarkan Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045: dari mengejar jumlah menuju kualitas, dari memiliki potensi menuju menghasilkan kinerja, dan dari sekadar menyandang status desa wisata menuju desa wisata yang benar-benar berdaya saing, mandiri, berkelanjutan, bahkan regeneratif.

Kalau kita terlibat dalam pengelolaan desa wisata, mungkin sekarang waktunya berhenti hanya menghitung berapa potensi, atraksi, paket, pelatihan atau konten yang sudah dibuat. Cobalah mulai menghitung berapa paket yang benar-benar terjual, berapa wisatawan yang datang, berapa pendapatan yang dihasilkan, siapa saja masyarakat yang memperoleh manfaat, dan apa yang sudah berubah di desa kita.

Dari situlah perjalanan desa wisata untuk benar-benar “naik kelas” bisa dimulai.

Referensi Utama

Susilowati, Ervan; Damayanti, Lanina Adna Berlian; Altakwa, Fahri Surya; Julian, Andika; Zulhijjiani, Rizkika; Kartawiria, Rizqinnafi; & Syukur, Abdul. 2026. Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045. Kajian Kebijakan Bidang Kepariwisataan, Vol. 2, No. 1 Tahun 2026. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. peta jalan desa wisata indonesi…

Bagi yang ingin membaca atau mengunduh buku Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 secara lengkap, buku dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Pariwisata berikut:

Download Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 – Kementerian Pariwisata RI


SIBARISTA Marketer Award tidak lahir sebagai acara penghargaan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari proses panjang We Are All Marketers, sebuah program untuk membangun kemampuan pemasaran pariwisata mulai dari menyiapkan produk, membangun SDM, melakukan promosi, menjemput pasar, menghasilkan transaksi, hingga mengukur dan mengapresiasi kinerja para marketer.



Tujuan besarnya sederhana, tetapi tidak mudah: membangun budaya kerja pemasaran agar kita tidak hanya sibuk membuat produk wisata, tetapi juga mampu menjualnya. Pemikiran ini sejalan dengan konsep pemasaran pariwisata yang menempatkan pengembangan produk, pemahaman pasar, promosi, penjualan, dan pengalaman wisatawan sebagai bagian yang saling berhubungan, bukan aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri (Kotler, Bowen, Makens & Baloglu, 2017).

Dan pada akhirnya, yang ingin dijual bukan hanya satu produk atau satu desa wisata, tetapi Kota Semarang.

Berawal dari Kegelisahan Melihat Desa Wisata

Gagasan ini berawal dari kegelisahanku melihat perkembangan desa wisata di Kota Semarang. Sudah cukup banyak desa wisata yang mendapatkan legalitas, tetapi di beberapa tempat aktivitas wisatawannya masih sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Aku melihat ada kecenderungan desa wisata terkadang berhenti menjadi sebuah “status”. Legalitas kemudian lebih banyak dimanfaatkan untuk membuka akses terhadap anggaran APBD maupun program CSR, sementara perhatian terhadap hal yang menurutku paling mendasar justru belum cukup kuat: bagaimana mendatangkan wisatawan agar keberadaan desa wisata benar-benar memberikan dampak langsung kepada masyarakat, baik secara ekonomi, sosial budaya, maupun lingkungan.

Kegelisahan itu sebenarnya bersinggungan dengan persoalan yang juga ditemukan dalam pengembangan community-based tourism. Pariwisata berbasis masyarakat memang dapat menjadi strategi pemberdayaan dan pembangunan ekonomi lokal, tetapi keberlanjutannya membutuhkan kapasitas masyarakat, kepemimpinan, jejaring, serta keterlibatan para pemangku kepentingan. Ketergantungan terhadap dukungan eksternal tanpa penguatan kapasitas lokal juga menjadi salah satu tantangannya (Hamzah, 2014; Tolkach & King, 2015).

Aku sering mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang berjualan kacang goreng di toko pinggir jalan, tetapi hanya duduk menunggu pembeli datang. Kalau hanya menunggu, kapan pembelinya datang? Dari situlah muncul gagasan sederhana: bagaimana kalau para pengelola desa wisata ini dibersamai untuk meningkatkan kemampuan menjual? Jangan hanya menunggu wisatawan datang. Produknya harus ditawarkan dan pasarnya harus dijemput.

Namun setelah kutelaah lebih dalam, persoalannya ternyata tidak sesederhana meningkatkan kemampuan pemasaran. Bagaimana mau mengajari orang berjualan kalau paket wisata yang akan dijual saja belum tergarap dengan baik? :) Aku akhirnya menyadari bahwa intervensinya tidak bisa hanya berupa pelatihan marketing. Prosesnya harus dimulai lebih awal: membaca potensi, membangun produk, menyusun paket wisata, menyiapkan pemandu, membangun media promosi, melatih marketer, sampai benar-benar membawa mereka bertemu pasar.

Dari pemikiran itulah kemudian kubuat semacam “paket komplit” pendampingan dan pemasaran yang berkembang menjadi program besar We Are All Marketers.

SIBARISTA dan We Are All Marketers

SIBARISTA merupakan singkatan dari Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata, sebuah komunitas yang aku pimpin sebagai Presiden SIBARISTA, dibantu beberapa pengurus yang kami sebut dengan istilah “menteri”. Program ini mulai dijalankan sejak 2023 dengan anggaran mandiri SIBARISTA.

We Are All Marketers menjadi tujuan besar sekaligus nama program induknya. Di bawahnya terdapat beberapa tahapan dan subprogram, mulai dari pendampingan desa wisata melalui 10 Kandri Baru, Marketing Skill Up, aktivasi MBG, SALEJO, hingga SIBARISTA Marketer Award. Di dalam setiap tahapan masih terdapat kegiatan yang lebih teknis seperti pemetaan, pembuatan produk dan paket wisata, pelatihan pemandu, pelatihan marketer, pengelolaan media digital, simulasi paket wisata, pendampingan, hingga aktivitas penjualan.

Jadi, yang dibangun bukan sekadar rangkaian pelatihan, melainkan sebuah proses dari menyiapkan sesuatu yang layak dijual sampai benar-benar mampu menjualnya.

Langkah 1: 10 Kandri Baru dan Pendampingan Embrio Desa Wisata

Khusus untuk proses pendampingan desa wisata, program tersebut kuberi nama 10 Kandri Baru. Nama Kandri dipilih karena Desa Wisata Kandri pada hakikatnya merupakan desa wisata paling maju di Kota Semarang, baik dilihat dari kinerja jumlah wisatawan, omzet ekonomi, maupun berbagai penghargaan yang telah diraih.

Namun 10 Kandri Baru bukan berarti membuat sepuluh desa menjadi sama persis dengan Kandri. Setiap desa mempunyai karakter, sumber daya, masyarakat, dan potensi yang berbeda. Semangatnya adalah mendorong munculnya desa-desa wisata lain yang mampu berkembang dan menghasilkan kinerja nyata sebagaimana Kandri.

Pendekatan seperti ini penting karena pariwisata berbasis masyarakat pada dasarnya menempatkan komunitas lokal sebagai aktor dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata, bukan sekadar penerima manfaat di akhir proses. Kajian pengembangan community-based tourism juga menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat serta kapasitas lokal dalam menentukan keberlanjutan pengembangan pariwisata (Rahayu, Utami & Fitriana, 2015).

Pendampingan dilakukan sepanjang tahun dan dimulai dari pemetaan potensi atraksi, potensi pengunjung, calon pengelola, serta stakeholder yang dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung desa wisata.

Mencari Orang yang Mau Bergerak

Salah satu bagian penting dalam pemetaan adalah mencari calon pengelola sekaligus marketer lokal. Mereka tidak harus berasal dari Pokdarwis. Marketer desa wisata bisa berasal dari Pokdarwis, Karang Taruna, maupun masyarakat di luar kedua organisasi tersebut. Yang paling penting adalah mempunyai kemauan untuk aktif dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata.

Menurutku, membangun desa wisata tidak cukup hanya melihat struktur organisasi. Kita perlu menemukan orang-orang yang memang mau bergerak. Hal ini juga sejalan dengan kajian community-based tourism yang menunjukkan bahwa kemampuan dan keterlibatan komunitas menjadi faktor penting, sementara lemahnya kapasitas lokal dapat menjadi salah satu hambatan keberlanjutan CBT (Hamzah, 2014).

Setelah potensi dan calon pengelola dipetakan, proses dilanjutkan dengan pembuatan produk dan paket wisata. SDM kemudian disiapkan melalui pelatihan pemandu atraksi desa wisata, marketer desa wisata, serta pengelola MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan simulasi paket wisata untuk menguji kesiapan sebelum produk benar-benar ditawarkan kepada pasar.

Setelah tahap ini selesai, setidaknya ada empat hal yang diharapkan sudah tersedia: paket wisata siap ditawarkan, pemandu siap melayani wisatawan, tim MBG mampu melakukan promosi secara online, dan marketer siap berjualan. Artinya, kita tidak meminta marketer menjual sesuatu yang produknya sendiri belum siap.

Desa Wisata dan Rintisan yang Didampingi

Pendampingan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing mencakup lima lokasi pendampingan. Tahap pertama mencakup Desa Wisata Jatirejo, Desa Wisata Kampung Sawah, Desa Wisata Pudakpayung, Desa Wisata Kampung Melayu, dan Desa Wisata Bangetayu Kulon. Tahap kedua mencakup Desa Wisata Jatirejo, rintisan Desa Wisata Ciblon Kedungwinong, rintisan wisata Curug Gondoriyo, rintisan wisata Tanjung Mas, dan Desa Wisata Krabat Pecinan.

Pada 2025 dan 2026, khusus program 10 Kandri Baru dan SIBARISTA Marketer Award mendapatkan dukungan anggaran pemerintah. Namun cakupan We Are All Marketers tidak berhenti pada lokasi yang mendapatkan pendampingan melalui 10 Kandri Baru. Ketika memasuki Marketing Skill Up, SALEJO hingga SIBARISTA Marketer Award, keterlibatannya diperluas kepada seluruh desa wisata dan sebagian besar Pokdarwis di Kota Semarang.

Langkah 2: Marketing Skill Up dan Mindset “We Are All Marketers”

Setelah produk dan SDM mulai siap, marketer desa wisata yang telah mendapatkan pelatihan di masing-masing venue dipertemukan kembali dalam Marketing Skill Up. Di sinilah kemampuan mereka ditingkatkan sekaligus mulai dibangun mindset We Are All Marketers. Marketer dibekali kemampuan menentukan target pasar, melakukan presentasi, bernegosiasi hingga melakukan closing.

Namun ada satu pemahaman yang menurutku lebih penting: marketer desa wisata tidak seharusnya hanya mampu menjual desanya sendiri. Mereka perlu memahami produk desa wisata lain dan pentingnya kolaborasi antardesa wisata maupun antarusaha pariwisata. Pemikiran mengenai pemasaran destinasi juga menempatkan destination partnership, hubungan dengan stakeholder, koordinasi, serta promosi destinasi sebagai bagian penting dalam pengelolaan dan pemasaran sebuah destinasi (Morrison, 2019).

Kebutuhan pasar tidak selalu bisa dijawab oleh satu desa wisata. Ketika marketer mengetahui berbagai produk dan paket wisata yang tersedia di Kota Semarang, “senjata” mereka menjadi jauh lebih lengkap. Kalau produk desanya tidak sesuai dengan kebutuhan calon wisatawan, bukan berarti calon konsumen tersebut harus dilepas. Bisa jadi kebutuhannya justru dapat dipenuhi oleh desa wisata lain.

Inilah salah satu makna We Are All Marketers: tidak berhenti menjual produk sendiri, tetapi bersama-sama belajar menjual Kota Semarang.

Langkah 3: Aktivasi MBG dan SALEJO

Setelah produk siap dan kemampuan marketer ditingkatkan, tahap berikutnya adalah membawa mereka benar-benar bertemu pasar melalui SALEJO atau Sales Activation Journey. SALEJO merupakan pendampingan pemasaran desa wisata melalui kegiatan direct selling dengan cara mendatangi calon customer atau wisatawan langsung ke target pasar.

Kegiatan ini dijalankan secara rutin dengan pola satu klaster setiap minggu. Dalam pelaksanaannya, SALEJO difasilitasi satu pendamping dan satu kendaraan operasional, termasuk subsidi bahan bakar. Dalam sekali perjalanan dapat bergabung sekitar 4–6 marketer dari satu hingga tiga desa wisata.

Di sinilah teori Marketing Skill Up diuji di lapangan. Marketer belajar mendatangi calon pasar, membaca kebutuhan, mempresentasikan produk, menawarkan paket, bernegosiasi, membangun relasi, melakukan follow-up hingga mengejar closing. Tujuannya adalah mempercepat munculnya dampak ekonomi bagi desa wisata yang produknya sudah siap.

SALEJO Menjemput Pasar, MBG Menebar Jaring

Ketika marketer bergerak melalui SALEJO, tim MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business—tetap melakukan promosi secara online. Keduanya berjalan bersamaan: SALEJO menjemput pasar secara langsung, sementara MBG menebar jaring pasar secara digital.

Pilihan untuk mengaktifkan kanal digital bukan sekadar pelengkap. Penelitian Zheng Xiang dan Ulrike Gretzel (2010) menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dalam pencarian informasi perjalanan secara online dan memiliki implikasi langsung terhadap strategi pemasaran pariwisata. Karena itu, keberadaan produk wisata di ruang digital menurutku harus berjalan beriringan dengan aktivitas penjualan langsung (Xiang & Gretzel, 2010).

Dengan pola tersebut, pemasaran tidak hanya bergantung pada orang yang berhasil ditemui melalui SALEJO. Jangkauan diperluas melalui media sosial, mesin pencari, konten blog, dan Google Profil Business. Harapannya bukan hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi secara bertahap juga membangun brand produk desa wisata.

Ketika SALEJO Mulai Menghasilkan Dampak

Salah satu contoh menarik datang dari Desa Wisata Jatirejo. Setelah mengikuti Marketing Skill Up, awalnya mereka masih terlihat ogah-ogahan untuk benar-benar turun berjualan melalui SALEJO. Akhirnya ya... sedikit “dipaksa-paksa” untuk berangkat. :)

Mereka kemudian melakukan SALEJO ke Kota Demak dan mendatangi beberapa target pasar. Hasilnya memang tidak langsung terlihat pada hari itu. Namun sekitar tiga bulan kemudian, satu per satu pasar dari wilayah Demak Selatan, terutama sekolah-sekolah, mulai berkunjung ke Desa Wisata Jatirejo.

Bagiku, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemasaran tidak selalu menghasilkan transaksi saat itu juga. Ada proses mengenalkan produk, membangun komunikasi, melakukan follow-up, hingga akhirnya pasar mulai bergerak.

Berangkat Menjual Bersama, Pulang Membawa Transaksi Besar

Cerita lain datang dari Desa Wisata Kandri. Semangat SALEJO adalah berangkat bersama dan saling membantu menjual produk. Kandri saat itu ikut mendampingi desa wisata lain masuk ke pasar universitas. Eh, dari proses tersebut justru muncul peluang besar bagi Kandri sendiri.

Pertemuan yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas pemasaran bersama berkembang menjadi kesepakatan kegiatan forum nasional sebuah yayasan dari salah satu universitas terkenal di Indonesia. Nilai transaksinya lebih dari Rp60 juta, dengan kegiatan berlangsung enam hari lima malam dan diikuti peserta dari berbagai provinsi.

Pengalaman ini semakin meyakinkanku bahwa kolaborasi tidak selalu berarti membagi pasar hingga menjadi semakin kecil. Dalam pemasaran destinasi, kolaborasi dan kemitraan antarpelaku justru menjadi bagian penting karena sebuah destinasi tersusun dari banyak produk, layanan, organisasi, dan stakeholder yang saling terkait (Morrison, 2019).

Ketika pintu pasar dibuka bersama-sama, peluang yang muncul justru bisa jauh lebih besar daripada yang sebelumnya kita bayangkan.

Dari Potensi Menuju Wisatawan dan Transaksi

Setelah melewati tiga tahapan tersebut, desa wisata diharapkan tidak lagi berhenti pada kalimat “kami punya potensi.” Potensi harus berubah menjadi produk, produk dikemas menjadi paket, paket mempunyai pemandu yang siap, produk dikenal melalui MBG, marketer mampu menjualnya, dan pasar dijemput melalui SALEJO. Pada akhirnya, seluruh proses tersebut harus menghasilkan wisatawan, transaksi, dan manfaat bagi masyarakat.

Orientasi terhadap manfaat masyarakat ini merupakan salah satu gagasan mendasar dalam community-based tourism. Penelitian tentang CBT menunjukkan potensinya sebagai strategi pembangunan lokal, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa manfaat tersebut membutuhkan jaringan, kapasitas komunitas, kepemimpinan, dan hubungan stakeholder yang berfungsi dengan baik (Tolkach & King, 2015).

Manfaat serta indikator keberhasilan program secara lebih detail kutuangkan tersendiri dalam inovasi ADOL PAKETAN SIBARISTA—Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang melalui Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata.

Langkah 4: SIBARISTA Marketer Award

Setelah seluruh proses tersebut berjalan, para marketer perlu dipertemukan kembali. Di sinilah SIBARISTA Marketer Award ditempatkan sebagai tahap keempat We Are All Marketers.

SIBARISTA Marketer Award pertama kali diselenggarakan pada 2023 menggunakan anggaran mandiri SIBARISTA. Pada 2024, kegiatan ini sempat tidak diselenggarakan karena keterbatasan pendanaan. Mulai 2025, penyelenggaraannya mendapatkan dukungan anggaran pemerintah.

Namun bagiku, award bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara. SIBARISTA Marketer Award menjadi ruang bagi marketer untuk gathering, bertukar ilmu dan pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus memvalidasi kinerja pemasaran selama satu tahun berjalan. Yang ingin dilihat bukan hanya siapa yang pandai berbicara atau terlihat aktif melakukan promosi, tetapi siapa yang benar-benar menunjukkan kinerja: aktif mencari pasar, melakukan follow-up, membangun jaringan, berkolaborasi, serta menghasilkan wisatawan dan transaksi.

Dua Kategori, Dua Tingkat Tantangan

SIBARISTA Marketer Award dibagi menjadi dua kelompok penilaian: Kategori Desa Wisata dan Kategori Umum. Pemisahan diperlukan karena kondisi marketer desa wisata tidak bisa langsung disamakan dengan marketer usaha pariwisata yang sistem pemasaran dan penjualannya sudah jauh lebih tertata.

Hotel dan usaha pariwisata yang telah mapan umumnya sudah mempunyai struktur organisasi, target penjualan, sistem pemasaran, bahkan anggaran khusus untuk marketing dan sales. Sementara desa wisata pada dasarnya merupakan gerakan masyarakat. Struktur pemasarannya belum tentu terbentuk dengan baik, apalagi mempunyai anggaran khusus untuk berjualan. Karena itu, keduanya tidak adil jika langsung dinilai menggunakan ukuran yang sama.

Kategori Desa Wisata: Membangun Budaya Menjual

Untuk marketer desa wisata, indikator penilaian masih difokuskan pada kinerja pemasaran bagi desa wisatanya sendiri. Namanya juga masih belajar. Yang ingin dibangun terlebih dahulu adalah keberanian dan kebiasaan menjual: mencari calon pasar, menawarkan produk, melakukan follow-up, membangun jaringan hingga mampu menghasilkan kunjungan dan transaksi.

Namun ada satu prinsip penting. Marketer desa wisata yang sudah pernah menjadi pemenang tidak boleh kembali mengikuti Kategori Desa Wisata pada penyelenggaraan berikutnya. Pemenang tahun 2023 maupun 2025 harus naik kelas ke Kategori Umum.

Kemenangan sebelumnya menjadi pengakuan bahwa marketer tersebut sudah mencapai tingkat kemampuan tertentu sehingga waktunya menghadapi tantangan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, ruang Kategori Desa Wisata dibuka bagi marketer lainnya agar semakin banyak orang mendapatkan kesempatan untuk maju. Award tidak dibuat agar orang yang sama terus-menerus menjadi juara. Yang ingin dibangun adalah regenerasi marketer.

Kategori Umum: dari Menjual Usaha Menuju Menjual Kota

Untuk marketer usaha pariwisata lainnya, standar penilaiannya lebih berat. Kinerja terhadap usaha masing-masing tetap diperhitungkan, tetapi secara perlahan ukurannya dinaikkan. Pertanyaannya tidak lagi hanya “Apa yang sudah kamu hasilkan untuk usahamu?”, tetapi berkembang menjadi “Apa dampak aktivitas pemasaranmu terhadap pariwisata Kota Semarang?”

Apakah mempunyai paket kolaborasi dengan usaha pariwisata lainnya? Berapa nilai ekonomi yang dihasilkan? Jika membuat program promosi, seberapa luas jangkauannya dan apa dampaknya terhadap wisatawan yang datang ke Kota Semarang? Ataukah berbagai program marketing yang dibuat sebenarnya hanya berputar sebagai kegiatan internal dan jarang diketahui pasar di luar sana?

Cara pandang tersebut sejalan dengan pengelolaan pemasaran destinasi yang tidak hanya berbicara tentang promosi individual, tetapi juga menyangkut kemitraan destinasi, hubungan stakeholder, koordinasi, kepemimpinan, komunikasi, promosi, hingga evaluasi kinerja destinasi (Morrison, 2019). Di sinilah standar marketer perlahan dinaikkan: dari menjual produk sendiri, membangun kolaborasi, menjual lintas produk, hingga memberikan kontribusi terhadap pemasaran Kota Semarang sebagai destinasi.

Pemenang Harus Naik Kelas

Bagiku, salah satu semangat penting SIBARISTA Marketer Award adalah pemenang tidak boleh berhenti pada kemenangan. Ia harus naik kelas. Mereka yang awalnya belajar menjual produk desa wisata sendiri harus mulai mengenal produk lain. Setelah mampu menghasilkan transaksi, mereka perlu belajar berkolaborasi. Setelah mampu berkolaborasi, ukuran keberhasilannya diperluas lagi pada dampaknya terhadap pariwisata Kota Semarang.

Maka jenjang yang ingin dibangun adalah:

Belajar menjual produk sendiri → menghasilkan wisatawan dan transaksi → menjual lintas produk → membangun kolaborasi → memberi dampak terhadap pemasaran Kota Semarang.

Sementara tempat yang ditinggalkannya di Kategori Desa Wisata diberikan kepada marketer lain untuk tumbuh. Dengan demikian, SIBARISTA Marketer Award bukan sekadar menghasilkan juara. Ia harus menghasilkan lebih banyak marketer.

Satu Proses Besar: We Are All Marketers

Jika seluruh rangkaian tersebut disederhanakan, alurnya menjadi:

Pemetaan Potensi → Produk dan Paket Wisata → Pemandu & MBG → Marketing Skill Up → SALEJO → Wisatawan & Transaksi → Evaluasi Kinerja → SIBARISTA Marketer Award.

Ada 10 Kandri Baru untuk memperkuat kesiapan desa wisata, Marketing Skill Up untuk meningkatkan kemampuan dan mindset marketer, MBG untuk menebar jaring pemasaran melalui Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business, SALEJO untuk membawa marketer menjemput pasar secara langsung, serta SIBARISTA Marketer Award sebagai ruang evaluasi, apresiasi, regenerasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan jejaring marketer.

Semuanya berada dalam satu rumah besar: We Are All Marketers.

Tujuan Besarnya: Menjual Kota Semarang

Pada awalnya aku hanya berpikir bagaimana membantu pengelola desa wisata agar lebih berani berjualan. Ternyata persoalannya jauh lebih panjang. Produknya harus disiapkan, paketnya harus dibuat, orangnya harus dicari, pemandunya harus dilatih, media promosinya harus dibangun, marketernya harus belajar, pasarnya harus didatangi, transaksinya harus dikejar, dan hasilnya harus dievaluasi.

Mereka yang menunjukkan kinerja kemudian perlu mendapatkan apresiasi sekaligus tantangan untuk naik ke tingkat berikutnya. Karena itu, SIBARISTA Marketer Award bukan tujuan akhir We Are All Marketers. Penghargaan adalah salah satu cara untuk menjaga semangat, mengukur proses, melakukan regenerasi, dan mengapresiasi mereka yang mampu mengubah budaya menjual menjadi kinerja nyata.

Semua dimulai dari membiasakan marketer lokal berani menjual produk desa wisatanya sendiri, kemudian belajar menjual produk desa wisata lain, lalu membangun kolaborasi dengan berbagai usaha pariwisata. Sampai akhirnya tumbuh sebuah budaya bahwa siapa pun yang berada dalam ekosistem pariwisata mempunyai peran untuk mengenalkan, menawarkan, merekomendasikan, membuka pasar, dan mendatangkan wisatawan.

Karena tujuan terbesar We Are All Marketers bukan sekadar menjual satu paket, satu usaha, atau satu desa wisata.

Kita sedang belajar bersama untuk menjual Kota Semarang.

Dan tentu perjalanan ini belum selesai. Masih banyak produk yang perlu diperkuat, pasar yang perlu dibuka, serta kolaborasi yang bisa dibangun. Semakin banyak orang yang ikut bergerak, semakin besar pula peluang pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kalau kamu pengelola desa wisata, Pokdarwis, marketer, pelaku usaha pariwisata, atau siapa pun yang punya semangat yang sama, jangan hanya menunggu wisatawan datang. Mari bergerak, berkolaborasi, dan membuka pasar bersama.

Karena pariwisata Kota Semarang bukan hanya tugas satu-dua orang untuk menjualnya. We Are All Marketers.

Referensi

Hamzah, A. (2014). “Critical Success Factors for Creating Community-Based Tourism.” Dalam The Wiley Blackwell Companion to Tourism. Wiley Blackwell.

Kotler, P., Bowen, J. T., Makens, J. C., & Baloglu, S. (2017). Marketing for Hospitality and Tourism, 7th Edition. Pearson.

Morrison, A. M. (2019). Marketing and Managing Tourism Destinations, 2nd Edition. Routledge.

Rahayu, S., Utami, D., & Fitriana, K. N. (2015). Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Tolkach, D., & King, B. E. M. (2015). “Strengthening Community-Based Tourism in a New Resource-Based Island Nation: Why and How?” Tourism Management, 48, 386–398.

Xiang, Z., & Gretzel, U. (2010). “Role of Social Media in Online Travel Information Search.” Tourism Management, 31(2), 179–188.



Memasuki 2027, pariwisata Indonesia berada di persimpangan yang menarik. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi mulai membentuk ulang cara orang bepergian. Di sisi lain, pasar domestik maupun mancanegara menunjukkan perubahan dengan arah yang semakin jelas.

Beberapa temuan dalam proyeksi pariwisata Indonesia 2027 menurutku penting diperhatikan siapa pun yang bergerak di sektor pariwisata, terutama pengelola desa wisata, wisata alam, event, maupun usaha kuliner lokal.

Sebab yang berubah bukan hanya ke mana orang ingin pergi, tetapi juga bagaimana mereka menemukan destinasi, pengalaman apa yang mereka cari, dan apa yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk datang.

Megatren Global yang Membentuk Pariwisata 2027

Hasil horizon scanning terhadap delapan laporan pariwisata dunia—OECD, UN Tourism, WEF, ASEAN, Booking.com, Amadeus, American Express Travel, dan HBX Group—menunjukkan sejumlah sinyal yang diproyeksikan membentuk lanskap pariwisata dunia menuju 2027.

Yang paling dominan adalah integrasi AI dan personalisasi perjalanan dengan frekuensi kemunculan 21% dalam dokumen yang dianalisis, diikuti adaptasi terhadap perubahan iklim (20%) dan pencarian pengalaman autentik berbasis komunitas lokal (18%). Angka tersebut bukan persentase wisatawan maupun proyeksi pertumbuhan, melainkan menunjukkan seberapa sering tren tersebut muncul dalam sumber yang dianalisis.

(Bab 3.1, hlm. 74–75)

Tren berikutnya adalah perjalanan regional yang semakin mempertimbangkan value for money dan kemudahan akses (15%), experience economy yang didorong event, olahraga, film, musik, fandom hingga momen personal (12%), serta wellness dan perjalanan transformasional (8%).

(Bab 3.1, hlm. 76–77)

OECD juga menempatkan ketidakstabilan geopolitik sebagai risiko utama pariwisata 2026 dengan angka 80%, bahkan berada di atas tekanan terhadap harga sebesar 75%.

(Bab 3.1, hlm. 70)

Artinya, tren pariwisata 2027 tidak muncul begitu saja. Teknologi, iklim, kondisi ekonomi, dan geopolitik ikut menentukan kapan orang bepergian, ke mana mereka pergi, dan pengalaman seperti apa yang akhirnya mereka pilih.

Lima Tren Pariwisata Indonesia 2027: Mana yang Diminati Siapa?

Ketika masuk ke Indonesia, experts survey memproyeksikan lima tren besar, yaitu Event Tourism, Social Media Effect, Eco-friendly Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, serta Nature and Adventure-based Tourism.

Menariknya, wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menunjukkan urutan prioritas yang berbeda.

Tren Wisatawan Mancanegara

Untuk wisatawan mancanegara, lima tren teratas menuju 2027 adalah eco-friendly tourism, event tourism, nature and adventure-based tourism, culinary tourism, dan social media effect.

Tren Wisatawan Nusantara

Sementara bagi wisatawan nusantara, urutannya adalah destinasi yang sedang trending atau viral, event tourism, culinary tourism, social media and creator economy tourism, serta short-haul travel atau perjalanan jarak dekat.

(Bab 3.1, hlm. 80)

Perbedaan ini penting. Wisatawan domestik terlihat semakin dipengaruhi eksposur digital sekaligus pertimbangan biaya, jarak, dan waktu tempuh. Artinya, destinasi yang dekat sebenarnya mempunyai peluang besar selama menawarkan pengalaman menarik dan mampu ditemukan calon wisatawan.

Di antara berbagai tren tersebut, Event Tourism diproyeksikan menjadi tren berwisata terkuat di Indonesia pada 2027, dengan nilai agregat 71,81%.

(Bab 3.1, hlm. 81)

Media Sosial Bukan Lagi Sekadar Tempat Promosi

Ada satu perubahan yang menurutku sangat penting bagi pelaku wisata: media sosial mulai berubah fungsi dari sekadar media promosi menjadi tempat orang mencari destinasi.

Buku ini menyebut 55% wisatawan Indonesia menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi dan inspirasi perjalanan. Di kalangan Gen Z, Instagram, YouTube, dan TikTok digunakan untuk menemukan inspirasi sekaligus mencari tempat menginap, makanan, aktivitas, hidden gems, hingga rekomendasi perjalanan.

(Bab 3.1, hlm. 83–84)

Dari Social Graph Menuju Interest Graph

Perubahannya bahkan bergerak lebih jauh. Media sosial mulai bergeser dari pola social graph menuju interest graph. Konten semakin direkomendasikan berdasarkan minat pengguna, bukan hanya berdasarkan siapa yang mereka ikuti.

Seseorang yang menyukai hiking, misalnya, bisa dipertemukan algoritma dengan jalur trekking di sebuah desa yang sebelumnya bahkan tidak pernah didengarnya. Hal yang sama berlaku untuk orang yang tertarik pada wellness, diving, event, atau local food.

(Bab 3.1, hlm. 85)

Bagi destinasi kecil, perubahan ini membuka peluang besar. Destinasi tidak harus terkenal terlebih dahulu untuk bisa ditemukan. Yang semakin penting adalah mempunyai pengalaman yang spesifik dan mampu mengemasnya menjadi konten yang relevan dengan minat calon wisatawan.

Pasar Wisatawan Juga Sedang Bergeser

Pada semester I-2026 tercatat 7,45 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 630,41 juta perjalanan wisatawan nusantara. Asia Timur tetap menjadi salah satu pasar potensial utama dengan pertumbuhan 12,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, disusul Asia Tenggara 8,22% serta Australia dan Oseania 6,60%.

(Bab 3.2, hlm. 94)

Backpacker Semakin Menjanjikan

Perubahan yang lebih menarik terlihat pada karakter wisatawannya. Di kalangan wisatawan mancanegara, backpackers meningkat dari 15,79% pada survei 2026 menjadi 38,93% dalam proyeksi 2027, dan menempati posisi kedua setelah Millennials and Gen Z.

(Bab 3.2, hlm. 97–98)

Ini memberi sinyal menguatnya perjalanan yang lebih mandiri, fleksibel, mempertimbangkan biaya, tetapi tetap mencari pengalaman lokal.

Wisata Alam: dari Melihat Menjadi Mengalami

Prospek produk wisata 2027 menunjukkan kecenderungan yang tak kalah menarik. Untuk wisata berbasis alam, hiking/trekking berada di posisi tertinggi dengan 54,36%, disusul glamping 49,66%, island hopping 27,52%, forest bathing 20,81%, serta camping 19,46%.

(Bab 3.3, hlm. 101)

Tetapi yang menurutku menarik bukan sekadar angkanya. Buku ini menunjukkan bahwa wisata berbasis alam semakin menekankan bagaimana wisatawan berinteraksi langsung dengan alam.

Gunung tidak hanya dilihat, tetapi ditrekking. Hutan tidak sekadar menjadi latar foto, tetapi bisa menjadi ruang forest bathing. Sungai, air terjun maupun kawasan pertanian dapat dikembangkan menjadi pengalaman.

Sederhananya, wisata alam bergerak dari “apa yang bisa dilihat” menuju “apa yang bisa dilakukan dan dirasakan.”

Wisata Budaya Juga Bergerak ke Pengalaman

Hal serupa terlihat pada produk budaya. Heritage tourism berada di posisi teratas sebesar 57,05%, disusul wellness tourism 46,98%, gastronomy tourism dan traditional & cultural performance masing-masing 42,95%, serta live with locals experience 32,89%.

(Bab 3.3, hlm. 102)

Budaya dengan demikian tidak harus berhenti sebagai tontonan. Wisatawan dapat diajak mencicipi, membuat, belajar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Desa Wisata: Produk dengan Prospek Tertinggi

Bagian yang menurutku paling menarik bagi pelaku desa wisata muncul dalam kategori man-made/built-based tourism.

Dalam kategori ini, desa wisata menempati posisi tertinggi dengan nilai 45,64%, mengungguli sport tourism 42,28%, MICE 36,91%, wisata kreatif 36,24%, dan konser musik 26,85%.

(Bab 3.3, hlm. 103)

Peluang Menggabungkan Banyak Pengalaman

Jika dikaitkan dengan tren sebelumnya, posisi desa wisata menjadi semakin menarik.

Bayangkan satu paket perjalanan yang menggabungkan trekking ringan menyusuri desa, aktivitas bersama warga, menikmati makanan lokal, belajar membuat kerajinan, melihat pertunjukan budaya, kemudian mengikuti event yang memang tumbuh dari kehidupan masyarakat.

Dalam satu perjalanan sudah bertemu nature and adventure, gastronomy, cultural experience, event, sustainability, dan pengalaman autentik bersama masyarakat lokal.

Buku ini bahkan menegaskan bahwa semakin beragam aktivitas perjalanan yang dikembangkan menjadi pengalaman bernilai, semakin panjang pula perputaran ekonomi yang tercipta di destinasi. Desa wisata juga dinilai mampu memperluas manfaat pariwisata kepada masyarakat setempat.

(Bab 2, hlm. 60)

Membaca Arah Pariwisata Indonesia 2027

Buku ini kemudian memetakan empat kemungkinan skenario pariwisata Indonesia berdasarkan kondisi eksternal global dan kemampuan Indonesia menangkap peluang: akseleratif, adaptif, terjaga, dan rentan.

(Bab 4, hlm. 110–111)

Sekitar 61% ahli menyatakan kinerja pariwisata Indonesia perlu hingga sangat perlu ditingkatkan. Sementara sekitar 32% memandang kinerja pariwisata akan lebih baik atau jauh lebih baik dibandingkan 2026.

(Bab 4, hlm. 108)

Apa Artinya bagi Pelaku Wisata?

Bagi pelaku wisata, khususnya desa wisata, pesan dari berbagai data tersebut cukup jelas. Produk yang selama ini banyak dirintis sebenarnya berada di titik temu berbagai tren 2027: keberlanjutan, pengalaman autentik, aktivitas alam, kuliner, event, keterlibatan masyarakat, serta pemasaran digital.

Tantangannya bukan lagi sekadar apakah arah pengembangannya sudah benar, tetapi seberapa siap produk, pengelola, SDM, aksesibilitas, dan pemasaran digitalnya untuk menangkap perubahan pasar tersebut.

Memasuki 2027, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa dilihat wisatawan di tempat kita?”

Tetapi mulai bertanya:

“Pengalaman apa yang bisa mereka lakukan, rasakan, ceritakan, lalu membuat mereka ingin kembali?”

Karena bisa jadi, itulah yang sebenarnya sedang dicari wisatawan 2027.

Sumber Utama

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Indonesia Tourism Outlook 2026/2027. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, 2026.

Mau membaca buku lengkapnya bisa download disini Indonesia Tourism Outlook


Monday, September 28, 2026

RESOLUSI 2026



Kehidupan itu seperti mendaki gunung. Untuk mencapai puncaknya membutuhkan waktu dan perjuangan. Semakin tinggi gunung yang akan didaki, semakin rumit rutenya, semakin banyak bekal yang diperlukan, dan semakin tinggi pula kapasitas yang harus dimiliki oleh pendakinya. Namun puncak bukanlah tempat untuk tinggal selamanya. Selalu ada perjalanan berikutnya yang harus dijalani.

Karena itu aku memilih untuk terus BELAJAR MENDAKI GUNUNG kehidupan. Belajar meningkatkan kapasitas diri sekaligus memahami keterbatasan, menjaga hubungan dengan Tuhan, keluarga dan masyarakat, terus berkarya, serta mempersiapkan diri menghadapi setiap perubahan kehidupan.

Beribadah kepada Tuhan tetap menjadi dasar perjalanan hidupku. Aku ingin setiap aktivitas yang kulakukan mempunyai nilai ibadah dan manfaat. Berbakti kepada orang tua, menjaga keluarga dan mensyukuri orang-orang yang hadir dalam kehidupanku adalah bagian dari perjalanan itu.

Anak-anakku kini telah semakin dewasa. Aku ingin tetap menjadi orang tua yang hadir, bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui contoh bagaimana menjalani kehidupan dengan tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, kepedulian dan keberanian menghadapi perubahan. Keluarga tetap menjadi tempat pertama untuk belajar sekaligus tempat untuk kembali.

Kesehatan kini menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku. Menjalani kehidupan dengan hemodialisa membuatku semakin menyadari bahwa tubuh juga harus dijaga dan dirawat. Aku ingin tetap sehat dan bugar sesuai kemampuanku agar masih bisa beraktivitas, berkarya, menghasilkan dan memberi manfaat kepada orang lain.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Mandiri bukan berarti berjalan sendirian. Aku akan terus membangun hubungan baik, berkolaborasi, berbagi pengalaman dan ikut memberdayakan orang lain. Aku percaya sesuatu yang dikerjakan bersama dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar daripada dikerjakan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Bekerja bukan sekadar mencari uang. Bekerja adalah kesempatan untuk berkarya, belajar dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Menjelang masa pensiun, aku ingin mulai membangun kemandirian baru dengan menjadikan pengalaman, pengetahuan, jaringan dan teknologi sebagai modal untuk tetap produktif dan menghasilkan.

Aku akan terus belajar tentang marketing dan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai ruang baru untuk berkarya, membangun kemandirian dan menghasilkan. Pengalaman panjang dalam pekerjaan, organisasi, olahraga, pariwisata serta pendampingan masyarakat akan menjadi bekal untuk terus belajar, berbagi dan memberi manfaat.

Perintisan, pemberdayaan, karakter bangsa, anak muda dan upaya memperbesar manfaat dari setiap aktivitas akan tetap menjadi nilai yang kubawa. Aku ingin apa yang kukerjakan tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu kepentingan, tetapi sebisa mungkin tumbuh, melibatkan orang lain dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Aku sadar perjalanan berikutnya mungkin tidak selalu mudah. Kondisi fisik berubah, masa kerja akan berakhir, zaman terus berkembang dan lingkungan juga terus berubah. Tetapi seperti mendaki gunung, perubahan medan bukan alasan untuk berhenti. Yang diperlukan adalah terus belajar, menyesuaikan langkah, menjaga bekal dan tetap mengetahui ke mana arah perjalanan.

Aku tidak harus selalu berjalan cepat. Aku juga tidak harus mencapai semua puncak. Tetapi selama masih diberi kesempatan, aku ingin tetap mempunyai tujuan dan terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.

Aku akan terus BELAJAR MENDAKI GUNUNG. Bukan hanya untuk mencapai sesuatu bagi diriku sendiri, tetapi agar aku tetap mampu menjaga diri, menjaga keluarga, berkarya, menghasilkan dan memberi manfaat bagi kehidupan.


Sunday, September 27, 2026

Pengalaman mendampingi masyarakat Gondoriyo membuatku semakin termotivasi untuk mendampingi masyarakat lain mengembangkan potensi dan kearifan lokalnya. Dari pengalaman itu aku semakin percaya bahwa kadang potensi sebenarnya sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana masyarakat melihatnya, percaya, lalu mau bergerak bersama.



Pada awal tahun 2019 aku mendengar kabar bahwa beberapa pemuda yang tergabung dalam Kelurahan Siaga Bencana sedang mengembangkan river tubing di Sungai Mayangsari. Aku penasaran dan meminta Mas Tebo mencari tahu siapa saja tokoh pemuda yang aktif di sana. Kebetulan ketika menulis artikel ini aku sedang mendengarkan lagu “Aktif Mencari Tahu”. Pas juga. :)

Mas Tebo kemudian datang ke lokasi dan bertemu dengan tiga orang, yaitu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Aku lalu menyampaikan kepada mereka bahwa Sabtu berikutnya aku ingin datang. Bukan membawa program atau proyek, aku hanya ingin ngobrol.

Semuanya Dimulai dari Obrolan Berlima

Sabtu itu akhirnya kami berlima bertemu: aku, Mas Tebo, Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Kami ngobrol ngalor-ngidul dan aku menyampaikan niatku. Kalau mereka memang serius ingin merintis Mayangsari menjadi tempat wisata, aku bersedia ikut mendampingi. Alhamdulillah mereka mau.

Kami kemudian janjian lagi Sabtu berikutnya. Kali ini bukan sekadar duduk dan ngobrol, tetapi turun langsung melakukan survei jalur river tubing sekaligus mencari potensi atraksi wisata lainnya. Survei tidak hanya kulakukan sekali. Beberapa kali aku berjalan kaki menyusuri sungai, kadang hanya ditemani satu atau dua orang. Sambil berjalan aku melihat agak jauh ke kanan dan kiri tepian sungai untuk memastikan sebenarnya ada apa saja di sekitar sana.

Potensi utamanya memang sudah jelas, yaitu adventure river tubing dengan jalur kurang lebih 2,5 kilometer. Tetapi ternyata bukan hanya itu. Di sekitar sungai banyak ditemukan sendang atau mata air dengan air yang sangat jernih. Mayangsari juga sudah mempunyai Kampung Snack, tempat ibu-ibu membuat berbagai macam makanan ringan.

Aku kemudian mulai menggali cerita masyarakat setempat. Dari situlah aku menemukan satu cerita yang menurutku menarik untuk dikembangkan menjadi bagian dari wisata Mayangsari: Udang Locok.

Udang Locok, Cerita Para Pencari Pasir

Konon dulu banyak warga Mayangsari yang bekerja mencari pasir di sungai. Ketika berangkat mereka membawa nasi dan beberapa bumbu atau rempah, tetapi tidak membawa lauk. Ketika siang dan waktunya makan, lauknya dicari langsung dari sungai.

Mereka menangkap udang, kemudian memotong bambu sepanjang satu ruas. Udang dimasukkan ke dalam bambu bersama bumbu dan rempah, lalu dilocok di dalam ruas bambu tersebut. Setelah itu bambu ditutup atau disumpal menggunakan kayu, kemudian dipanggang di atas api sampai udang di dalamnya matang. Itulah cerita Udang Locok.

Menurutku cerita seperti ini sayang kalau hanya menjadi cerita lama. Apalagi di sekitar sungai banyak tumbuh pohon pepaya dan terdapat banyak sendang dengan air yang jernih. Maka storytelling kulinernya kami kembangkan menjadi satu paket: Udang Locok sebagai lauk utama, nasi putih, olahan sayur daun pepaya dan Wedang Sendang, minuman yang diceritakan berasal dari air sendang yang jernih dengan tambahan jeruk nipis dan serai.

Tinggal satu persoalan. Kalau suatu saat wisatawan datang dan ingin menikmati Udang Locok, siapa yang akan memasaknya?

Gara-Gara Dipercaya Warga, Aku Mendadak Jadi Juri Kuliner :)

Seiring berjalannya waktu aku semakin sering diundang ke Mayangsari, kadang dalam kegiatan PKK dan kadang dalam acara warga. Suatu ketika aku bahkan diminta menjadi juri lomba jualan UMKM dalam sebuah event kampung.

Sejujurnya aku bukan ahli kuliner. Tetapi karena sudah dipercaya warga, ya mau tidak mau aku berangkat. Sebelum datang aku belajar sedikit mengenai apa saja yang biasanya menjadi kriteria penjurian UMKM kuliner, termasuk bagaimana cara mencicipi dan memberikan penilaian. :)

Entah karena penjurian itu dianggap cukup sukses atau bagaimana, dari acara itulah aku kemudian semakin mengenal Bu Lurah, Pak RW dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Kami sepakat mengadakan pertemuan di rumah salah seorang tokoh masyarakat untuk membicarakan perintisan wisata Mayangsari.

Salah satu hasil penting pertemuan tersebut adalah mengadakan lomba kuliner Udang Locok. Dalam satu RW terdapat 15 RT dan masing-masing RT mengirimkan satu wakil untuk memasak. Lagi-lagi aku diminta menjadi juri bersama perwakilan kelurahan dan tokoh masyarakat.

Tetapi lomba ini bukan sekadar menentukan siapa yang masakannya paling enak. Kami sepakat bahwa juara pertama nantinya menjadi penyedia paket kuliner Udang Locok ketika ada wisatawan yang datang dan memesannya. Dengan begitu, cerita lama masyarakat tidak hanya dihidupkan kembali, tetapi juga dicoba menjadi sebuah produk wisata.

Aku Justru Membayangkan Fun Tubing untuk Anak-Anak

Sejak survei awal sebenarnya aku mempunyai sedikit perbedaan pandangan dengan teman-teman relawan bencana yang mengelola river tubing. Mereka lebih tertarik mengembangkan adventure river tubing sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer, sedangkan aku justru membayangkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.



Menurutku, pilih saja satu segmen sungai yang tidak terlalu panjang dan mudah diawasi. Anak-anak bisa dolanan ban atau fun tubing di sana. Kemudian yang dikembangkan bukan panjang lintasannya, melainkan bentuk-bentuk permainannya sehingga suatu saat bisa menjadi kegiatan outbound sekaligus edukasi ekowisata sungai.

Tetapi aku sadar posisiku hanya sebagai fasilitator pendamping. Mereka ingin mengembangkan adventure tubing 2,5 kilometer, ya aku ikut saja dulu. Aku tidak ingin datang kemudian merasa gagasanku sendiri yang harus dilaksanakan.

Walaupun demikian, aku ingin memberikan gambaran seperti apa fun tubing yang ada di pikiranku. Caranya sederhana. Aku membawa dua anakku yang saat itu masih SD untuk menjadi “tester”. :)

Aku mengajak kedua anakku bermain ban di segmen sungai sekitar 100 meter dari lokasi yang nantinya menjadi titik gazebo. Waktu itu gazebonya tentu belum dibangun. Mereka turun mengikuti aliran sungai menggunakan ban. Sampai bawah, mereka naik lagi sambil memanggul ban, kemudian turun lagi. Naik lagi, turun lagi, begitu berulang-ulang.

Videonya sampai sekarang masih kusimpan. Saat itu sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan bahwa untuk membuat anak-anak senang bermain di sungai tidak harus menggunakan jalur sepanjang 2,5 kilometer. Aku tentu belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian justru pemandangan seperti itulah yang akan memenuhi Sungai Mayangsari.

Kelurahan Mulai Memberikan Dukungan

Proses bersama warga terus berjalan. Kehadiranku di Mayangsari sebenarnya atas nama pribadi, walaupun faktanya sebagian warga tetap melihatku sebagai orang dinas. Aku tidak terlalu mempersoalkannya. Yang penting prosesnya berjalan dan masyarakat semakin bersemangat.

Keguyuban masyarakat dan keseriusan mereka mengembangkan kawasan akhirnya mendapatkan dukungan dari kelurahan. Melalui anggaran APBD, kawasan sekitar titik akhir river tubing mulai ditata. Dibuat taman dan gazebo sehingga kawasan menjadi lebih rapi, bersih dan nyaman untuk dijadikan salah satu pusat aktivitas wisata.

Secara fisik mulai terlihat hasilnya. Pengunjung memang belum signifikan, tetapi lucunya konflik sudah datang lebih dulu. :)

Wisata Belum Ramai, Konflik Sudah Ada

Konflik pertama cukup sederhana. Ada yang merasa dirinya lebih layak memimpin dibandingkan Mas Gondrong. :)

Kemudian muncul persoalan yang lebih serius. Mas Gondrong beberapa kali dilaporkan oleh orang-orang yang tidak menyukainya, baik kepada pemerintah maupun lembaga lain. Salah satu yang dipersoalkan berkaitan dengan pemanfaatan bantaran sungai dan perintisan wisata yang sedang dilakukan.

Sambil proses terus berjalan, aku ikut mendampingi Mas Gondrong menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Pernah suatu ketika akan ada pertemuan kampung dan Mas Gondrong seperti mau “diadili”. Aku sengaja memberi tanda kutip karena tentu saja bukan diadili dalam pengertian pengadilan. Tetapi kami memperkirakan forum itu akan digunakan untuk mempertanyakan bahkan menyerang apa yang sedang dirintis.

Sore sebelum pertemuan, kami ngobrol dan membekali Mas Gondrong dengan beberapa kata kunci serta argumentasi. Kalau memang nanti ada yang mempermasalahkan perintisan wisata, setidaknya ia sudah siap menjawab.

Esok harinya Mas Gondrong bercerita kepadaku. Katanya, dia menang debat 3–0. Hahaha.... Seru lah. :)

Lalu Covid Datang

Mayangsari sudah mulai dirintis. Kawasan sudah ditata, gazebo dan taman sudah ada, bahkan konflik sudah sempat terjadi. Tetapi wisatawan belum datang secara signifikan.

Kemudian Covid melanda dan Mayangsari semakin sepi. Semua yang sudah kami lakukan seperti harus berhenti sementara. Tidak ada yang tahu apakah wisata yang baru saja dirintis itu nantinya benar-benar akan berkembang atau justru berhenti sampai di sana.

Ternyata ceritanya belum selesai.

Tahun 2021, Sungai Itu Mendadak Ramai

Ketika situasi Covid mulai mereda pada 2021, mungkin masyarakat juga sudah bosan terlalu lama berada di rumah. Orang mulai mencari tempat untuk keluar bersama keluarga. Mayangsari mulai didatangi masyarakat lokal dan warga dari wilayah sekitar.


Awalnya satu dua orang, kemudian bertambah. Semakin ramai, semakin ramai lagi, sampai pada hari Minggu tertentu jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 3.000 orang.

Dan ada satu pemandangan yang membuatku tersenyum. Anak-anak bermain fun tubing di segmen sungai sekitar 100 meter. Mereka turun menggunakan ban sampai titik gazebo, kemudian naik lagi sambil membawa ban. Setelah itu turun lagi. Bolak-balik.

Karena jumlah anak yang bermain semakin banyak, pengelola kemudian memberi penanda pada titik awal di bagian hulu dan titik akhir di hilir. Tali dibentangkan dari satu sisi sungai ke sisi lainnya agar area permainan lebih jelas sekaligus lebih mudah diawasi.

Dulu aku pernah mengusulkan konsep ini. Teman-teman saat itu masih ingin fokus pada adventure tubing sepanjang 2,5 kilometer. Aku tidak memaksakan. Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak dan pengunjung sendiri yang menemukan kesenangannya pada permainan sederhana sepanjang sekitar 100 meter itu.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

Dari Sewa Ban, Kemudian Tumbuh 16 Warung

Masyarakat pengelola tidak menarik tiket masuk dari pengunjung yang bermain di sungai. Mereka mendapatkan penghasilan antara lain dari menyewakan ban bekas dan berjualan makanan.

Awalnya satu warung, kemudian dua. Semakin ramai wisatawan, semakin banyak pula orang yang melihat peluang untuk berjualan. Ribut lagi. :)

Akhirnya dibuat kesepakatan agar kesempatan mendapatkan manfaat ekonomi bisa dibagi. Setiap RW mendapatkan kesempatan membuka satu warung ditambah satu warung milik Pokdarwis. Akhirnya ada sekitar 16 warung yang berjualan di tepi sungai.

Aku melihat tempat yang dulu kususuri hanya bersama satu atau dua orang sekarang dipenuhi keluarga. Anak-anak bermain air, ban hilir mudik dan warung-warung berjualan.

Aku nangis. Benar-benar terharu. Rasanya perjuangan bersama warga selama ini tidak sia-sia.

Cerita Mayangsari Sampai ke Bapakku di Wonogiri

Entah siapa yang menceritakan, kabar tentang ramainya wisata Mayangsari ternyata sampai juga ke telinga bapakku. Bapak waktu itu masih sugeng dan berada di kampung di Wonogiri.

Beliau ingin datang ke Semarang. Bukan untuk suatu urusan penting. Bapak hanya ingin melihat wisata Mayangsari.

Buatku rasanya benar-benar seperti dongeng. Tempat yang dulu kususuri bersama satu atau dua orang sambil mencari-cari potensi, sekarang membuat bapakku sendiri penasaran dan ingin melihatnya.

Yang tumbuh ternyata bukan hanya warung di tepi sungai. Penyanyi dangdut lokal dari Pokdarwis tetangga bersama kru mereka mulai tampil setiap Sabtu dan Minggu. Mereka mendapatkan saweran yang lumayan dari wisatawan. Di sepanjang jalan menuju Sungai Mayangsari juga mulai muncul beberapa usaha kuliner dan oleh-oleh.

Sungai yang tadinya sepi mulai menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Kalau Sudah Sukses, Banyak yang Datang :)

Ramainya Mayangsari akhirnya terdengar sampai kepada Walikota. Beliau mengutus staf untuk melakukan survei dan muncul rencana Walikota akan datang sendiri melihat Mayangsari sekaligus ngobrol bersama warga dan Mas Gondrong.

Menariknya, sebelum Walikota benar-benar datang, sudah ada beberapa LSM maupun kelompok relawan yang mendatangi Mayangsari. Ada yang ingin mempunyai “jasa”, seolah-olah kelompok merekalah yang berhasil mendatangkan Walikota ke sana. :)

Ya begitulah. Kalau sudah sukses, banyak yang datang. Kalau masih sepi, siapa yang peduli?

Pukul Enam Pagi Aku Masih di Pos 4 Gunung :)

Sampai pada suatu pagi aku mendapat kabar melalui WhatsApp bahwa Walikota akan datang ke Mayangsari. Karena pejabat dari dinas pariwisata akan mendampingi, aku diminta hadir untuk membantu menjelaskan proses perintisan dan pendampingan Mayangsari kepada pimpinan.

Masalahnya, ketika WA itu masuk sekitar pukul enam pagi, aku sedang berada di Pos 4 jalur pendakian Mawar. Sementara sekitar pukul sembilan aku sudah harus berada di Mayangsari.

Waduh. :)

Aku buru-buru turun. Bahkan rasanya seperti berlari dari gunung sampai basecamp. Dari sana langsung naik kuda besi menuju rumah, mandi, ganti baju, kemudian langsung berangkat ke Mayangsari.

Telat? Pasti. :)

Ketika sampai, pimpinan dari dinas sudah berada di lokasi. Untungnya Walikota belum datang. Aku kemudian sedikit banyak menceritakan kepada pimpinan bagaimana proses pendampingan dan perintisan wisata Mayangsari sampai akhirnya menjadi seramai itu.

Ketika Walikota datang, aku melihat sebentar lalu memilih pulang. Sebelumnya aku sudah berpesan kepada warga, “Di depan Walikota, tidak usah menyebut namaku.”

Malam Setelah Magrib, Rumahku “Digeruduk”

Namanya warga. Mungkin karena hubungan kami sudah terlalu dekat, ketika acara ramah tamah bersama Walikota berlangsung mereka malah mencariku. Mungkin mereka ingin aku ikut berada di forum itu, tetapi aku sudah pulang.

Kupikir selesai sudah cerita hari itu.

Ternyata belum.

Malam harinya setelah Magrib, warga Mayangsari yang merasakan dampak dari berkembangnya wisata itu datang beramai-ramai ke rumahku. Rumahku benar-benar “digeruduk”.

Mereka adalah orang-orang yang dulu bersama-sama merintis ketika Mayangsari masih sepi, orang-orang yang pernah berjalan bersamaku menyusuri sungai, dan orang-orang yang sekarang menyewakan ban, berjualan serta ikut merasakan ramainya wisata.

Mereka datang ke rumahku.

Entahlah....

Meleleh aku. Nangis lagi.

Aku memang tidak ingin namaku disebut di depan Walikota. Aku juga sudah memilih pulang ketika acara berlangsung. Tetapi malam itu mereka justru datang mencariku sampai ke rumah.

Inilah hubungan emosional di antara kami.

Aku datang ke Mayangsari awalnya hanya karena mendengar ada beberapa pemuda bermain river tubing. Aku meminta Mas Tebo “mencari tahu”, lalu bertemu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Dari obrolan berlima, semuanya kemudian berjalan ke mana-mana: menyusuri sungai, menemukan sendang, menggali cerita Udang Locok, membuat lomba kuliner, menata kawasan, menghadapi konflik, dihantam Covid, sampai akhirnya melihat ribuan orang bermain di sungai.

Tetapi ada satu pemandangan yang selalu kusukai ketika mengingat Mayangsari. Anak-anak memanggul ban ke atas, turun mengikuti aliran sungai sekitar 100 meter, kemudian naik lagi membawa bannya. Turun lagi, naik lagi.

Persis seperti dua anakku yang dulu kujadikan “tester” ketika tempat itu bahkan belum ramai.

Dan malam ketika warga Mayangsari datang beramai-ramai ke rumahku, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan siapa yang dahulu melakukan apa.

Mereka datang saja sudah cukup.


Ketika pertama kali datang ke Curug Gondoriyo pada 2016, aku harus menyusuri sungai dari hilir ke hulu untuk mencapainya. Akses belum ada, sekelilingnya masih semak belukar dan bebatuan, sementara air curug yang tingginya lebih dari 10 meter itu terlihat keruh. Dua tahun kemudian aku kembali dan mendapati tempat itu justru seperti tertidur kembali. Siapa sangka, hanya dalam waktu sekitar tiga bulan setelah itu, masyarakat mampu mengubahnya menjadi sebuah wisata yang pada masa ramainya bisa dikunjungi sekitar 700 orang pada hari Minggu.

Air Terjun Bercahaya

Tetapi buatku, cerita Curug Gondoriyo bukan terutama tentang jumlah pengunjung. Ada cerita tentang warga yang awalnya tidak percaya, sekitar 15 orang yang memilih terus bergerak, ide yang baru dibicarakan hari Rabu tetapi Kamis atau Jumat sudah diwujudkan, sampai sebuah persoalan berupa air keruh yang justru melahirkan gagasan Air Terjun Bercahaya.


Aku datang pertama kali karena tugas. Aku kembali karena merasa tempat ini mempunyai potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi pada akhirnya, justru dari masyarakat Gondoriyo aku belajar banyak tentang arti pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

Pertama Kali ke Curug Gondoriyo Tahun 2016

Pertama kali aku datang ke Curug Gondoriyo adalah tahun 2016. Saat itu ada laporan melalui Lapor Gub dan Lapor Walikota mengenai keberadaan sebuah air terjun atau curug di pinggir perkampungan yang belum dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

Aku mendapat tugas untuk mengecek lokasi dan melakukan survei awal. Sederhananya, aku diminta melihat apakah tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup layak untuk dikembangkan menjadi wisata atau tidak.

Sebelumnya kami berkoordinasi dengan lurah setempat. Aku datang bersama pimpinan dan seorang teman kantor, kemudian diantar petugas kelurahan menuju kawasan curug. Namun kondisi akses saat itu cukup sulit sehingga yang akhirnya benar-benar sampai ke lokasi curug hanya aku dan Mas Tebo.

Walaupun air terjunnya sebenarnya terlihat dari pinggir kampung, belum ada akses langsung untuk turun ke sana. Kami harus memutar ke arah hilir, kemudian menyusuri aliran sungai menuju hulu melalui pematang sempit, bebatuan dan kawasan yang saat itu masih berupa semak belukar.

Ketika akhirnya sampai, menurut perkiraanku curug itu mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter. Debit airnya lumayan, tetapi ada satu hal yang langsung terlihat: airnya keruh. Aliran sungai di bagian atas memang melewati kawasan perkampungan.

Menurutku tempat ini mempunyai potensi untuk dikembangkan, tetapi jelas membutuhkan kerja keras. Selain persoalan akses, debit air juga tidak selalu stabil. Kondisi air yang keruh juga akan menjadi persoalan kalau yang hendak dijual hanya keindahan sebuah air terjun.

Hasil survei itu kemudian kulaporkan kepada pimpinan. Setelah itu proses pengembangan ditindaklanjuti oleh petugas lain yang memang mempunyai kewenangan dalam pemberdayaan masyarakat.

Sempat Dirintis, Lalu Seperti Tertidur Kembali

Dari informasi yang kuterima kemudian, masyarakat mulai bergerak. Dibentuk kelompok sadar wisata beserta pengurusnya. Akses menuju curug mulai dibuka meskipun masih berupa jalan tanah. Kabarnya sudah mulai ada pula pengunjung yang datang, walaupun jumlahnya masih sedikit dan belum berkelanjutan.

Setelah itu aku tidak lagi terlibat secara langsung.

Kurang lebih dua tahun kemudian, PLN menghubungiku. Saat itu mereka sedang mencari lokasi yang memungkinkan mendapatkan dukungan CSR untuk pembangunan infrastruktur wisata berbasis masyarakat. Tentu ada kriterianya. Destinasi tersebut harus sudah berjalan dan mempunyai pengelolaan masyarakat yang cukup baik.

Aku teringat Curug Gondoriyo dan mengajak mereka melakukan survei ke sana. Dalam bayanganku, setelah hampir dua tahun tentu tempat itu sudah berkembang jauh dibandingkan ketika pertama kali kudatangi.

Ternyata yang kami temukan justru sebaliknya.

Kawasan itu terlihat tidak terawat dan sama sekali tidak ada aktivitas wisata. Jalan turun menuju curug sebenarnya masih ada, tetapi curam dan licin. Di kawasan curug bahkan masih banyak ban bekas yang dulunya digunakan untuk bermain atau berenang di bawah curug.

Curug Gondoriyo seperti kembali tertidur.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya lokasi tersebut tidak dipilih untuk mendapatkan dukungan CSR PLN. Bagi PLN mungkin itu hanya satu dari beberapa lokasi yang disurvei. Tetapi bagiku kunjungan tersebut meninggalkan sesuatu dalam pikiran.

Sayang sekali kalau potensi sebagus ini berhenti begitu saja.

Sabtu, 6 Oktober 2018, Aku Datang Kembali

Ada dua alasan yang membuatku ingin kembali mendampingi masyarakat.

Pertama, menurutku potensi tempat ini sebenarnya cukup bagus. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kampus besar. Kalau dikembangkan dengan benar, aku meyakini pasarnya cukup besar.



Alasan kedua lebih personal. Aku memang menyukai aktivitas trekking ke curug-curug, terutama pada tanggal merah yang bukan akhir pekan. Sabtu dan Minggu biasanya kugunakan untuk pulang ke Jogja menjenguk anak dan istriku. Sejak dulu aku juga aktif dalam kegiatan pecinta alam dan menjadi salah satu founder keluarga pecinta alam di sebuah kampus di Jogja yang banyak bergerak dalam kegiatan outdoor dan ekowisata.

Karena itu ketika melihat Curug Gondoriyo, pikiranku tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana membuat orang datang melihat air terjun. Aku membayangkan sesuatu yang lebih jauh.

Bagaimana kalau Curug Gondoriyo dikembangkan menjadi ekowisata sungai?

Aku membayangkan masyarakat di kawasan hulu semakin mempunyai alasan untuk menjaga sungai dari sampah. Sungai yang bersih bukan hanya penting untuk wisata, tetapi juga berkaitan dengan kondisi wilayah di bawahnya hingga aliran menuju laut Semarang, termasuk persoalan banjir dan berbagai bencana lainnya.

Dalam pikiranku waktu itu ada hubungan yang cukup sederhana: kalau masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari sungai melalui aktivitas wisata, mereka juga mempunyai kepentingan untuk menjaga sungai tersebut.

Jadi cita-citaku sejak awal sebenarnya bukan sekadar menjadikan Curug Gondoriyo sebagai curug biasa. Aku ingin mencoba mendorongnya menjadi bagian dari sebuah ekowisata sungai.

Dengan pikiran itulah pada Sabtu, 6 Oktober 2018, aku kembali ke Gondoriyo.

Semuanya Dimulai dari Obrolan di Teras Rumah Pak RW

Masalahnya, aku sebenarnya belum mengenal masyarakat setempat. Ketika datang pada 2016, aku ke lokasi dalam rangka tugas dan diantar petugas kelurahan.

Aku kemudian meminta bantuan seorang kenalanku, relawan BPBD yang juga anggota Kelurahan Tangguh, untuk mengenalkanku kepada tokoh masyarakat. Dari situlah aku bertemu Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga.

Tidak ada rapat resmi. Tidak ada presentasi ataupun dokumen perencanaan yang tebal. Kami hanya duduk dan ngobrol di teras rumah Pak RW.

Walaupun baru pertama kali mengenal mereka secara pribadi, sambutannya sangat terbuka. Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga terlihat antusias. Mereka kemudian mengantarku turun kembali menuju curug sambil menceritakan apa saja yang sebelumnya pernah dilakukan.

Aku memotret, merekam video, mencatat penjelasan mereka dan mencoba melihat kembali kawasan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.

Menjelang makan siang kami mengakhiri survei karena orang-orang yang mengantarku mempunyai keperluan lain. Aku kemudian disuguhi makan sederhana: nasi, sayur Indomie dan ikan wader.

Entah bagaimana, dari pertemuan sederhana itu kami langsung terasa akrab. Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul sebelum akhirnya aku pamit.

Tetapi aku sudah mempunyai niat untuk kembali.

Ternyata Potensinya Bukan Hanya Curug

Pada kunjungan berikutnya, aku tidak hanya melihat curug. Aku meminta diajak berkeliling kampung untuk melihat apa saja yang sebenarnya dimiliki masyarakat.

Salah satu tempat yang kami datangi adalah Sawah Klombroh, kawasan persawahan di bawah aliran sungai curug yang lokasinya agak jauh ke bawah. Di sana aku melihat hamparan padi hijau dengan bentuk persawahan terasering, kolam ikan, gubuk-gubuk petani serta tanaman sela berupa sayuran dan buah-buahan.

Ada pula berbagai obang-abing, semacam memedi sawah yang dibuat masyarakat dari bahan-bahan lokal seperti batang pisang, bambu dan anyaman. Benda-benda itu dibuat agar bergerak untuk menakuti burung.

Survei kemudian berlanjut ke bagian lain kampung. Ada beberapa usaha kecil kerajinan tangan dan ada pula budidaya jamur.

Semakin banyak yang kulihat, semakin berubah pula cara pandangku. Kalau hanya menjual curug, kami akan selalu berhadapan dengan kelemahan debit air dan kondisi air yang kadang keruh. Tetapi kalau yang dikembangkan adalah wisata desa, seluruh kehidupan kampung bisa menjadi potensi atraksi.

Curug tetap menjadi magnet utamanya, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya yang dijual.

Membuka Kembali “Kitab-Kitab” Lamaku

Semua foto, video dan catatan hasil survei kubawa pulang. Di luar jam kerja kantor aku mulai mencoba mengolahnya sambil memikirkan satu pertanyaan: kalau tempat ini benar-benar ingin dikembangkan, mau dibuat seperti apa?



Aku kemudian membuka kembali “kitab-kitab” lamaku, catatan ketika dulu masih aktif dalam kegiatan lingkungan. Aku pernah mendapat sedikit pembelajaran dari teman-teman WALHI dan BKSDA Jogja mengenai pemberdayaan masyarakat.

Aku teringat sebuah metode bernama Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pemahamanku sederhana: masyarakatlah yang seharusnya merencanakan, membangun, melaksanakan dan mengelola. Kita yang datang dari luar cukup menjadi fasilitator, membantu membaca potensi dan memberikan arahan ketika diperlukan.

Konsep itu terasa pas untuk Gondoriyo.

Kalau suatu hari wisata ini berhasil, yang harus merasa memiliki adalah masyarakatnya sendiri.

Rabu Dibicarakan, Kamis atau Jumat Kadang Sudah Jadi

Mulailah diskusi-diskusi informal dengan warga. Aku mencoba memberikan arahan agar masyarakat bersemangat mengembangkan curug dan berbagai potensi di sekitarnya menjadi wisata yang nantinya bisa memberikan manfaat ekonomi.

Kami tidak langsung membicarakan sesuatu yang besar. Langkah pertama adalah memperbaiki akses. Setelah itu menambah taman, spot selfie dan tempat-tempat duduk dari kayu. Baru langkah berikutnya menyentuh curugnya sendiri.

Sebenarnya ada alasan mengapa bagian curug justru kutunda. Aku belum mempunyai jawaban untuk persoalan air yang keruh. Daripada seluruh proses berhenti hanya karena satu persoalan yang belum terpecahkan, kami mengerjakan terlebih dahulu apa yang bisa dilakukan.

Respons warga sungguh di luar dugaanku. Kadang sebuah ide baru kami bicarakan hari Rabu. Kamis atau Jumat ternyata sudah diwujudkan.

Proses perencanaan dan pembangunan seperti kejar-kejaran.

Sekitar 15 orang menjadi motor utama gotong royong. Ada bapak-bapak dan pemuda, sedangkan ibu-ibu biasanya menyiapkan makanan untuk mereka yang bekerja. Pada tahap awal kebutuhan makan dan minum banyak didukung Pak RW.

Masyarakat bahkan berani mengambil risiko untuk membiayai pembangunan. BPKB kendaraan dikumpulkan dan dititipkan kepada salah seorang pemimpin mereka sebagai bentuk komitmen bersama. Untuk mendapatkan pinjaman dari bank digunakan jaminan berharga lainnya.

Artinya, pembangunan itu bukan datang dari sebuah proyek besar.

Masyarakat sendiri yang berani patungan dan mengambil risiko untuk mewujudkannya.

Tidak Semua Orang Langsung Percaya

Tentu tidak semua warga sejak awal yakin rencana itu bisa diwujudkan. Ada yang menganggapnya terlalu sulit. Sebagian memilih cuek dan tidak ikut berpartisipasi.

Tetapi sekitar 15 orang tadi terus bergerak. Mereka membuka akses, membersihkan kawasan, membuat taman, tempat duduk dan berbagai atraksi sedikit demi sedikit. Pak RW menjadi salah satu orang yang sangat kuat memberikan dukungan.

Ketika perubahan mulai terlihat, perlahan sikap sebagian warga yang sebelumnya ragu ikut berubah.

Dari situ aku belajar satu hal: kadang orang tidak perlu terlalu lama diyakinkan dengan kata-kata. Mereka perlu melihat bahwa sesuatu benar-benar mulai terjadi.

Jembatan Comblang dan Cerita yang Menjual Gembok Kecil

Ide kemudian datang dari banyak orang. Pak RW, misalnya, mengusulkan memasang lampu kuning sepanjang kurang lebih 300 meter untuk menerangi jalur menuju curug. Ia bahkan berniat melihat sendiri jenis lampu di Taman Indonesia Kaya di pusat Kota Semarang dan membelinya menggunakan uangnya sendiri.

Ada pula Pak Ryan, salah seorang pemikir yang hampir selalu ikut dalam pertemuan. Kami sering berdiskusi mengenai atraksi dan spot foto yang harus dibuat berbeda serta mudah diingat pengunjung.

Dari proses itulah salah satunya lahir Jembatan Comblang, jembatan bambu yang menghubungkan sisi kanan dan kiri sungai. Jembatan itu dihias dengan payung-payung dan lampu sehingga menarik sebagai tempat berfoto.

Nama Jembatan Comblang kuusulkan untuk menciptakan cerita. Bayanganku sederhana dan hanya untuk seru-seruan sebagai atraksi wisata: pasangan yang datang harus selfie bersama di Jembatan Comblang supaya seolah-olah “dicomblangi” sampai ke jenjang pernikahan.

Tidak ada urusan mistis ataupun kepercayaan tertentu. Ini murni storytelling wisata.

Bahkan sempat muncul gagasan menjual gembok cinta. Pengunjung bisa membeli gembok kecil kemudian mencantolkannya di ujung jembatan.

Sebenarnya kami hanya ingin menjual gembok kecil.

Tetapi produk sederhana pun bisa mempunyai nilai ketika diberi cerita.

Air Keruh Membawaku Menemukan Niagara

Sementara pembangunan berjalan sangat cepat, satu persoalan masih terus mengganggu pikiranku: air curug yang keruh.

Aku mulai melakukan riset sederhana melalui internet. Dari proses pencarian itulah aku menemukan bagaimana Niagara Falls tampil pada malam hari dengan permainan cahaya.

Dari sana muncul sebuah ide.

Kalau air Curug Gondoriyo kurang menarik ketika terlihat keruh pada siang hari, mengapa tidak membuat penampilannya berbeda pada malam hari dengan cahaya warna-warni?

Saat itu istilah Air Terjun Bercahaya belum muncul. Yang ada baru gagasan memberi pencahayaan warna-warni pada curug.

Ketika gagasan itu kusampaikan, warga setuju. Masalah berikutnya, kami belum tahu persis jenis lampu yang cocok, kisaran harga dan bagaimana penggunaannya di kawasan yang dekat dengan air.

Aku kemudian teringat beberapa teman yang bekerja sebagai manajer karaoke. Mereka tentu lebih mengenal permainan lampu warna-warni. Kupanggil mereka ke Curug Gondoriyo yang saat itu masih dalam tahap pembangunan.

Kuceritakan apa yang kami inginkan. Mereka kemudian menjelaskan jenis lampu yang bisa digunakan, bagaimana memilih perlengkapan yang sesuai untuk kondisi di sekitar air, kisaran harganya, sampai menunjukkan toko di Kota Semarang yang menjualnya.

Setelah itu terjadi sesuatu yang sampai sekarang menurutku menggambarkan betul semangat warga Gondoriyo waktu itu.

Malam harinya mereka langsung membeli lampunya. Esok paginya sudah dipasang ramai-ramai. :)

Begitulah ritme pembangunan saat itu. Ide dan pelaksanaan benar-benar saling mengejar.

Lahirlah “Air Terjun Bercahaya”

Istilah Air Terjun Bercahaya justru baru muncul kemudian.

Saat itu aku mendapat kesempatan membuat materi pemasaran potensi lokal dan desa wisata untuk wilayah Kedungsepur—Kendal, Ungaran, Salatiga, Semarang dan Purwodadi. Di beberapa tempat aku sekaligus menjadi presenter atau marketing yang memaparkan berbagai potensi tersebut.

Ketika menyusun materi promosi itulah aku membutuhkan cara sederhana untuk menjelaskan apa yang berbeda dari Curug Gondoriyo.

Dari situlah muncul frase:

Air Terjun Bercahaya.

Aku kemudian membawanya dalam berbagai paparan dengan rasa bangga.

Menariknya, semua itu justru berawal dari sebuah kelemahan. Air yang keruh memaksa kami mencari pembeda. Kami memang tidak mampu mengubah kondisi sungai dalam semalam, tetapi kami bisa mencari cara agar curug mempunyai pengalaman yang berbeda.

Tiga Bulan yang Berjalan Sangat Cepat

Dari kunjungan pertamaku kembali pada 6 Oktober 2018, proses survei, diskusi, kerja bakti, pembukaan akses, pembuatan taman, tempat duduk, spot foto, Jembatan Comblang hingga pencahayaan kawasan curug berlangsung hanya sekitar tiga bulan.

Warga bekerja bergantian siang dan malam.

Ketika kemudian muncul keinginan untuk me-launching Curug Gondoriyo, mereka kembali bergerak. Kawasan curug dipercantik. Berbagai atraksi dipersiapkan, termasuk pembuatan jenang dan kesenian tradisional gejog lesung.

Proses untuk menghadirkan Walikota ditempuh melalui jalur pemerintah sekaligus komunikasi masyarakat. Bagian itu tidak perlu kuceritakan secara detail. Buatku yang lebih penting adalah melihat masyarakat begitu antusias mempersiapkan sebuah tempat yang hanya beberapa bulan sebelumnya masih terlihat seperti wisata yang sudah ditinggalkan.

Ketika peresmian akan dilakukan, aku diminta duduk di bagian depan. Aku memilih tidak melakukannya. Aku juga tidak ingin namaku disebut secara khusus dalam sambutan.

Aku memahami posisiku.

Sejak awal aku ingin menjadi fasilitator. Yang membangun tempat itu adalah masyarakat. Maka masyarakatlah yang selayaknya berada di depan.

Ada saja orang yang mungkin tidak banyak terlibat selama proses tetapi ketika peresmian datang kemudian menceritakannya seolah-olah semua itu merupakan usaha atau programnya. :)

Aku memilih tidak mempersoalkannya.

Masyarakat tahu siapa saja yang selama ini berjalan bersama mereka. Buatku itu sudah lebih dari cukup.

Ketika Hari Minggu Bisa Didatangi 700 Orang

Perlahan Curug Gondoriyo mulai dikenal. Pada masa ramainya, jumlah kunjungan pada hari Minggu bahkan pernah mencapai sekitar 700 orang.

Buatku angka itu bukan hanya soal keberhasilan mendatangkan wisatawan. Ada sesuatu yang lebih menarik karena berhubungan langsung dengan cita-citaku sejak awal.

Warga mulai mempunyai kepentingan untuk menjaga sungainya sendiri.

Hampir setiap hari ada warga yang membersihkan sampah agar kawasan wisata tetap bersih. Ketika banjir membawa sampah dan mengotori kawasan, mereka kembali turun melakukan pembersihan secara gotong royong.

Di situlah gagasan yang awalnya hanya ada dalam pikiranku mulai terlihat bentuknya. Ketika sungai memberikan manfaat kepada masyarakat, sungai tidak lagi sekadar aliran air yang melewati kampung.

Ia menjadi sesuatu yang mempunyai nilai dan karena itu perlu dijaga.

Ketika Wisata Tumbuh, Masalah Ikut Tumbuh

Ramainya pengunjung ternyata juga membawa persoalan baru. Salah satunya akses menuju curug. Ada bagian jalan yang terhalang posisi sebuah rumah sehingga ketika jumlah pengunjung meningkat, akses tersebut perlu diperlebar.

Pak RW dan Mas Arifin kemudian melakukan negosiasi dengan pemilik rumah. Pada akhirnya persoalan bisa diselesaikan dan jalan dapat diperlebar.

Pengalaman itu kembali mengingatkanku bahwa membangun wisata desa bukan hanya urusan atraksi dan promosi. Ada kepentingan banyak orang yang bertemu di ruang yang sama.

Ketika wisata tumbuh, persoalan yang harus dikelola juga ikut tumbuh.

Lalu Covid Datang

Ketika wisata mulai berkembang, datanglah Covid. Kunjungan menurun dan aktivitas wisata ikut terpukul.

Setelah masa Covid, muncul keinginan untuk mengembangkan kembali kawasan tersebut. Salah satu gagasannya adalah menggandeng investor untuk membangun kafe di dekat curug. Bayangannya cukup menarik: orang bisa datang, duduk minum kopi sambil menikmati view Curug Gondoriyo.

Tetapi kali ini persoalannya bukan tidak ada investor yang berminat. Justru muncul perbedaan pendapat di antara warga sendiri mengenai detail kerja sama yang akan dilakukan. Kesepakatan tidak tercapai sehingga pada akhirnya rencana investasi tersebut batal.

Bagiku itu juga bagian dari proses belajar.

Ketika belum mempunyai apa-apa, tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat percaya dan mau bergerak. Setelah wisata berkembang, tantangannya berubah menjadi bagaimana menyatukan kepentingan, mengelola aset dan membuat keputusan bersama.

Tengah Malam dan Sepotong Durian

Meskipun perjalanan Curug Gondoriyo mengalami pasang surut, hubunganku dengan masyarakat tidak berhenti ketika pembangunan selesai atau setelah peresmian dilakukan.

Kami tetap dekat.

Ada satu kejadian kecil yang sampai sekarang selalu membuatku tersenyum ketika mengingatnya.

Dulu aku tidak bisa makan durian. Kalau memaksa makan, biasanya malah ingin muntah.

Suatu malam aku mendapat undangan ngopi di kelurahan sebelah. Aku diminta membantu memotivasi dan menginisiasi wisata di kampung tersebut. Obrolannya panjang dan baru selesai sekitar pukul dua belas malam.

Untuk pulang aku memang harus melewati Gondoriyo. Warga yang sudah sangat akrab denganku menghubungi dan mengatakan bahwa jam berapa pun selesai, aku harus mampir ke Gondoriyo.

Akhirnya tengah malam aku mampir. Kami duduk di teras rumah Pak RT sambil ngobrol ngalor-ngidul. Suasananya sekaligus seperti nostalgia dengan masa-masa awal kedatanganku ke sana.

Di tengah obrolan, salah seorang warga tiba-tiba pamit keluar sebentar. Kupikir ia sudah mengantuk dan sebenarnya ingin pulang tetapi tidak enak mengatakannya.

Ternyata dugaanku salah.

Beberapa saat kemudian ia kembali membawa durian.

Aku langsung deg.

Dalam pikiranku ada dua pilihan yang sama-sama membuat bingung. Kalau menolak, rasanya tidak enak. Tengah malam orang sudah bersusah payah mengambil durian untuk menjamuku. Tetapi kalau kupaksa makan, aku takut malah muntah di depan mereka.

Akhirnya aku makan juga.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku menunggu.

Sampai sekitar lima menit kemudian terjadi “keajaiban”.

Aku tidak muntah. :)

Dan sejak saat itu sampai sekarang, aku justru suka durian.

Yang Tumbuh Ternyata Bukan Hanya Tempat Wisata

Kalau melihat kembali perjalanan sejak pertama datang pada 2016, kemudian kembali pada 6 Oktober 2018, Curug Gondoriyo memberiku pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana merintis sebuah destinasi.

Aku pernah melihat tempat itu ketika aksesnya masih sulit, dipenuhi semak dan airnya keruh. Aku melihatnya sempat dirintis kemudian kembali tidak terawat hingga gagal mendapatkan dukungan CSR. Aku kembali dan bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak kukenal.

Dari obrolan di teras rumah Pak RW, makan nasi dengan sayur Indomie dan ikan wader, berjalan melihat Sawah Klombroh, sekitar 15 warga yang tetap bergerak ketika sebagian lainnya masih ragu, sampai lampu yang dibeli malam hari dan esok paginya langsung dipasang, semuanya menjadi bagian dari proses belajar itu.

Aku juga melihat bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap sebagai kelemahan justru bisa melahirkan kreativitas. Air yang keruh membawaku menemukan Niagara, kemudian melahirkan gagasan pencahayaan, dan akhirnya menjadi branding Air Terjun Bercahaya.

Tetapi pelajaran terpenting bagiku tetap kembali kepada gagasan sederhana yang kubawa sejak awal: masyarakat harus menjadi pelaku utama. Orang seperti aku cukup mendampingi, memfasilitasi dan sesekali membantu membuka alternatif jalan. Mereka sendiri yang harus merencanakan, membangun, menjalankan dan pada akhirnya menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.

Karena itu mungkin ukuran keberhasilannya bagiku bukan apakah namaku pernah disebut ketika tempat itu diresmikan.

Aku datang pertama kali ke Gondoriyo karena tugas. Aku kembali karena merasa ada potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika tengah malam pun mereka masih memintaku mampir hanya untuk ngobrol dan makan durian bersama, aku sadar bahwa yang tumbuh di Gondoriyo ternyata bukan hanya sebuah tempat wisata.

Ada persaudaraan yang ikut tumbuh bersamanya.

Referensi Video : IG @Semarangpemkot


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts