Thursday, November 5, 2026

Dari Menjual Tempat, Menuju Menjual Pengalaman

Oleh Kariswisata | Refleksi Pengembangan Desa Wisata Kota Semarang



Desa wisata tidak harus memiliki sesuatu yang luar biasa. Tetapi harus memiliki orang-orang yang mampu menjadikan sesuatu yang biasa terasa luar biasa!

Lihatlah Desa Wisata Kandri!

Siapa menyangka, desa wisata yang mengawali perjalanan pemasarannya melalui paket river tubing itu kini mampu mengemas aktivitas sederhana menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai jual?

Bahkan, mbedol telo, aktivitas mencabut ubi yang bagi masyarakat desa mungkin terasa biasa saja, di tangan pengelola Kandri bisa berubah menjadi paket wisata yang laris manis!

Belum lagi pengalaman nyawah, melukis caping, dan berbagai aktivitas keseharian masyarakat yang dikemas menjadi atraksi wisata edukatif.

Hebatnya bukan pada ubinya. Bukan pula pada caping atau sawahnya.

Kehebatannya terletak pada kreativitas manusia yang mampu mengubah aktivitas biasa menjadi pengalaman yang ingin dibeli wisatawan!

Lalu, bagaimana dengan desa wisata lainnya?

JATIREJO: DUA TAHUN YANG MENGUBAH SEGALANYA

Dua tahun lalu, Desa Wisata Jatirejo masih grothal-grathul. Masih belajar mengenali pasar, merangkai paket, dan menemukan cara menjual potensi desanya.

Tetapi lihatlah sekarang!

Ketika Kandri memiliki paket nyawah, Jatirejo menawarkan pengalaman edukasi sapi perah.

Ketika Kandri mengajak wisatawan melukis caping, Jatirejo menghadirkan kreativitas melukis botol bekas.

Bukan meniru. Bukan pula sekadar mengejar ketertinggalan.

Jatirejo sedang menemukan identitasnya sendiri!

Pengembangan Green Fresh Farm menjadi salah satu gambaran menarik. Peternakan sapi yang sebelumnya berfokus pada produksi susu mulai dikembangkan menjadi ruang pembelajaran tentang pemeliharaan ternak, pemerahan susu, hingga pemasaran hasil peternakan.

Perjalanan itu bahkan dimulai dari sesuatu yang sangat mendasar: memperbaiki kandang dan sanitasi.

Sebuah transformasi yang mengingatkan kita bahwa inovasi pariwisata tidak selalu dimulai dari bangunan megah atau investasi besar.

Kadang justru dimulai dari keberanian melihat kembali apa yang selama ini ada di depan mata.

Dalam dua tahun, Jatirejo menunjukkan lompatan yang patut diapresiasi. Namun, apakah semakin banyak paket wisata otomatis berarti sebuah desa wisata telah berhasil?

Di sinilah pertanyaan besarnya dimulai.

JANGAN SAMPAI DESA WISATA KEHILANGAN DESANYA!

Ada fenomena menarik dalam perkembangan desa wisata Kota Semarang.

Pasar wisata edukasi, termasuk kegiatan pembelajaran berbasis proyek atau P5, telah menjadi salah satu penggerak permintaan paket wisata.

Anak-anak datang berkelompok. Mereka belajar menanam padi, melukis caping, mengenal alam, atau mengikuti berbagai aktivitas tradisional.

Tentu ini perkembangan positif.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan.

Ketika wisatawan belajar menanam padi, siapa yang mengajarinya? Petani sungguhan atau sekadar pemandu wisata?

Ketika wisatawan belajar melukis caping, apakah mereka bertemu dengan pengrajin yang memahami keterampilan dan kisah di balik produknya?

Ataukah semua pengalaman itu hanya menjadi rangkaian permainan yang dipandu oleh orang yang sama?

Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan peran pemandu. Pemandu sangat penting dalam memastikan pengalaman wisata berjalan menyenangkan, aman, dan terorganisasi.

Tetapi jangan sampai efisiensi pengelolaan justru menghilangkan unsur yang paling berharga dari desa wisata: interaksi autentik dengan masyarakat lokal.

Bayangkan perbedaannya.

Seorang anak belajar menanam padi dengan mengikuti instruksi pemandu.

Bandingkan dengan ketika ia belajar langsung dari petani yang setiap hari bergelut dengan lumpur, cuaca, musim tanam, dan harapan panen.

Aktivitasnya mungkin sama. Tetapi kedalaman pengalamannya berbeda!

Yang pertama memberikan kegiatan.

Yang kedua menghadirkan kehidupan.

Dan wisatawan masa depan tidak cukup hanya diajak melakukan sesuatu. Mereka perlu merasakan, memahami, dan membawa pulang sebuah cerita!

DARI ATRAKSI MENUJU PENGALAMAN HIDUP

Selama ini, keberhasilan pengembangan desa wisata sering dilihat dari bertambahnya jumlah paket, kunjungan, atau kegiatan.

Padahal ada dimensi lain yang jauh lebih penting.

Seberapa besar keterlibatan masyarakat dalam pengalaman yang dijual?

Apakah petani mendapatkan manfaat ketika sawahnya menjadi atraksi?

Apakah pengrajin memperoleh penghasilan tambahan ketika keterampilannya dijadikan paket edukasi?

Apakah peternak benar-benar menjadi bagian dari aktivitas wisata sapi perah, bukan sekadar menyediakan kandang untuk dikunjungi?

Dan apakah wisatawan memiliki kesempatan tinggal lebih lama, menikmati kehidupan desa, serta berinteraksi dengan keluarga lokal melalui homestay?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi arah pengembangan berikutnya.

Atraksi menarik orang datang. Aktivitas membuat mereka terlibat. Interaksi menciptakan pengalaman. Pengalaman melahirkan cerita. Dan cerita yang kuat menjadi kekuatan pemasaran!

Bayangkan ketika wisatawan tidak hanya datang ke Kandri untuk nyawah, tetapi juga mendengarkan kisah petani, menikmati hasil olahan masyarakat, bahkan menginap di rumah warga.

Atau ketika wisatawan ke Jatirejo tidak sekadar melihat sapi dan mencoba memerah susu, tetapi mengenal kehidupan keluarga peternak, memahami tantangan usaha susu segar, dan menikmati produk yang diolah masyarakat setempat.

Itulah saat desa wisata bergerak dari sekadar tempat kunjungan menjadi pengalaman kehidupan.

HOMESTAY: MATA RANTAI YANG BELUM BOLEH DILUPAKAN

Ada satu persoalan yang juga perlu mendapat perhatian: integrasi homestay dalam paket wisata desa.

Selama wisatawan hanya datang selama dua atau tiga jam, ruang interaksi dan perputaran ekonomi masyarakat tentu terbatas.

Paket wisata selesai. Rombongan pulang. Aktivitas ekonomi pun berakhir.

Tetapi ketika wisatawan tinggal lebih lama, peluang ekonomi dapat meluas.

Ada keluarga yang menyediakan penginapan. Ada warga yang menyiapkan makanan. Ada pelaku UMKM yang menjual produk lokal. Ada seniman, petani, peternak, dan pengrajin yang dapat terlibat dalam rangkaian pengalaman.

Inilah yang membedakan desa wisata dengan sekadar lokasi wisata di desa.

Desa wisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan ke desa. Tetapi tentang membuat kehadiran wisatawan membawa manfaat bagi semakin banyak warga desa!

Tentu tidak semua paket harus bermalam. Namun, homestay seharusnya menjadi bagian dari pilihan produk yang dirancang dan dipasarkan secara terintegrasi, bukan sekadar fasilitas tambahan yang jarang ditawarkan.

WE ARE ALL MARKETERS: SIAPA SEBENARNYA PEMASAR DESA WISATA?

Dalam semangat Sibarista Marketer Award 2026, kita mengenal pesan:

WE ARE ALL MARKETERS!

Pesan ini sesungguhnya sangat relevan bagi masa depan desa wisata Kota Semarang.

Pemasaran bukan hanya tugas pengurus Pokdarwis. Bukan semata urusan admin media sosial, pembuat konten, atau orang yang menawarkan paket melalui WhatsApp.

Petani yang menyambut wisatawan dengan ramah sedang membangun citra destinasi.

Peternak yang menjelaskan proses pemerahan susu dengan penuh semangat sedang menciptakan pengalaman yang layak diceritakan.

Pengrajin yang sabar mengajari anak-anak sedang menanamkan kesan yang mungkin bertahan jauh lebih lama daripada kunjungan itu sendiri.

Pemilik homestay yang menghadirkan kehangatan keluarga sedang membangun alasan bagi wisatawan untuk kembali.

Mereka semua adalah pemasar!

Karena pemasaran pariwisata tidak berhenti ketika paket berhasil terjual.

Justru pemasaran yang sesungguhnya diuji ketika wisatawan datang dan mengalami sendiri janji yang ditawarkan.

Konten digital boleh memikat. Foto boleh indah. Video promosi boleh viral.

Tetapi apabila pengalaman di lapangan tidak sesuai harapan, semua kehebatan promosi akan kehilangan maknanya.

Sebaliknya, pengalaman sederhana yang autentik bisa melahirkan promosi paling kuat: cerita tulus dari wisatawan yang merasa terkesan.

KANDRI MENGINSPIRASI, JATIREJO BERTRANSFORMASI. LALU APA BERIKUTNYA?

Kandri telah menunjukkan bahwa kreativitas mampu meningkatkan nilai jual aktivitas keseharian desa.

Jatirejo membuktikan bahwa pembelajaran, pendampingan, dan keberanian berinovasi dapat mendorong transformasi dalam waktu relatif singkat.

Keduanya memberikan pelajaran penting.

Tetapi masa depan desa wisata Kota Semarang tidak boleh berhenti pada perlombaan memperbanyak paket atraksi.

Tahap berikutnya harus lebih berani.

Dari sekadar menjual aktivitas menuju menghadirkan pengalaman autentik.

Dari dominasi pengelola menuju keterlibatan lebih luas masyarakat.

Dari kunjungan singkat menuju peluang tinggal lebih lama.

Dari kreativitas membuat paket menuju kemampuan memahami pasar, menjaga kualitas, menghasilkan transaksi, dan membangun pelanggan yang ingin kembali.

Dari ketergantungan pada pendampingan menuju kemandirian pengelolaan.

Dan yang terpenting, dari kebanggaan karena banyak wisatawan datang menuju kebanggaan karena semakin banyak masyarakat merasakan manfaat ekonomi.

Sebab ukuran keberhasilan desa wisata bukan hanya seberapa ramai pengunjungnya, tetapi juga seberapa luas kesejahteraan yang mampu ditumbuhkannya.

QUO VADIS DESA WISATA KOTA SEMARANG?

Ke mana kita hendak membawa desa wisata Kota Semarang?

Menjadi kumpulan lokasi yang menawarkan paket wisata serupa?

Atau menjadi ekosistem pengalaman yang masing-masing memiliki karakter, cerita, manusia, dan keunikan yang tak tergantikan?

Kandri tidak harus menjadi Jatirejo. Jatirejo pun tidak perlu menjadi Kandri.

Keduanya justru harus semakin kuat dengan identitas masing-masing.

Dan desa wisata lainnya perlu menemukan keunggulan yang tumbuh dari kehidupan masyarakatnya sendiri.

Karena sesungguhnya, kekuatan terbesar desa wisata bukan terletak pada apa yang dibangun untuk wisatawan, tetapi pada kehidupan asli masyarakat yang layak dibagikan kepada wisatawan.

Jangan sampai sawah hanya menjadi properti foto.

Jangan sampai kandang sapi hanya menjadi latar kunjungan.

Jangan sampai budaya desa sekadar menjadi pertunjukan yang kehilangan pemilik ceritanya.

Biarkan petani tetap menjadi petani yang bangga membagikan ilmunya. Biarkan peternak tetap menjadi peternak yang mampu memperoleh nilai tambah dari pekerjaannya. Biarkan pengrajin menjadi guru bagi wisatawan yang ingin mengenal keterampilannya.

Desa wisata tidak perlu berubah menjadi sesuatu yang asing demi terlihat menarik. Justru keaslian itulah yang harus menjadi kekuatan!

Kandri sudah menyalakan inspirasi. Jatirejo sedang menunjukkan transformasi.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar siapa yang paling kreatif menjual paket.

Tetapi siapa yang paling mampu mengubah pariwisata menjadi kekuatan ekonomi masyarakat yang mandiri, autentik, dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya...

DESA WISATA YANG HEBAT BUKANLAH DESA YANG PALING PANDAI MENJUAL DIRINYA, MELAINKAN DESA YANG PALING MAMPU MEMBUAT MASYARAKATNYA TUMBUH BERSAMA PARIWISATA!

Salam Pariwisata!

KARISWISATA — Dari Desa, Kita Belajar. Dari Pengalaman, Kita Bertumbuh.


Wednesday, November 4, 2026

Siapa bilang desa di pelosok hanya bisa menjadi penonton kemajuan? Siapa bilang kandang sapi hanya tempat memerah susu? Di Jatirejo, Gunungpati, Kota Semarang, sebuah gagasan besar mulai tumbuh. Dari hijaunya alam pedesaan, semangat para peternak, dan kekuatan kolaborasi, lahirlah mimpi untuk menjadikan potensi lokal sebagai sumber pengetahuan, kebanggaan, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat!


Inilah semangat yang diusung melalui program Wisata Edukasi Green Fresh Farm Susu Sapi, sebuah inisiatif tim Kedaireka Universitas Katolik Soegijapranata Semarang bersama Kelompok Tani Ternak Sido Makmur Jatirejo.

Bukan sekadar membangun destinasi wisata. Bukan pula sekadar memperkenalkan susu sapi kepada pengunjung. Program ini membawa cita-cita yang jauh lebih besar: membangun kemandirian masyarakat, menghidupkan ekonomi kreatif pedesaan, dan menjadikan Jatirejo sebagai ruang pembelajaran yang inspiratif bagi generasi masa depan.

KETIKA KAMPUS, PEMERINTAH, DAN MASYARAKAT BERGERAK BERSAMA!

Sebuah perubahan besar selalu membutuhkan langkah pertama. Dan langkah itu diwujudkan melalui kegiatan seminar dan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan pada 28–29 Juli 2022 di Hotel Grand Candi, Semarang.

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat Jatirejo dalam satu semangat: menggali potensi desa dan merumuskan masa depan wisata edukasi berbasis peternakan sapi perah.

Sejumlah narasumber hadir membawa perspektif dan keahlian masing-masing:

  1. Gunawan Permadi, Komite Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Semarang sekaligus Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, membahas Ekonomi Kreatif Wisata Edukasi.

  2. Agus Kariswanto, SE, Subkoordinator Informasi Budaya dan Pariwisata, mengangkat tema Wisata Edukasi Alam Pemerahan Susu Sapi.

  3. Drs. Hernowo Budi Luhur, SH., M.Si., Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, membahas Kebijakan Pemerintah dalam Menyikapi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

  4. Haris Cahyo Swasono, SP, Koordinator BPP Kostratani Gunungpati, Dinas Pertanian Kota Semarang, membahas Implementasi Kebijakan Pemerintah tentang PMK.

  5. Triyono, S.Pt., Penyuluh Pertanian BPP Kostratani Gunungpati, Dinas Pertanian Kota Semarang, turut memberikan pemahaman mengenai implementasi kebijakan penanganan PMK.

Pertemuan ini bukan sekadar forum bertukar pikiran. Di sinilah ilmu pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman masyarakat, kebijakan pemerintah dipertemukan dengan kebutuhan peternak, dan potensi desa mulai diterjemahkan menjadi peluang nyata.

Karena desa tidak cukup hanya memiliki potensi. Potensi harus dikenali, dikembangkan, dan diperjuangkan agar benar-benar membawa kesejahteraan!

DARI RENOVASI KANDANG MENUJU TRANSFORMASI WISATA!

Elizabeth Lucky Maretha S., selaku koordinator kelompok sekaligus ketua pelaksana program Wisata Edukasi Green Fresh Farm, menjelaskan bahwa kegiatan Kedaireka merupakan perwujudan nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keterlibatan tim Unika Soegijapranata di Jatirejo bukanlah perjalanan yang baru dimulai.

Sebelumnya, berbagai kegiatan pemberdayaan telah dilakukan bersama masyarakat, mulai dari pengolahan kolang-kaling, pengolahan jagung, hingga pengembangan peternakan sapi perah.

Bahkan, langkah awal pengembangan peternakan telah menyentuh persoalan yang sangat mendasar: renovasi kandang dan perbaikan sanitasi agar lingkungan peternakan menjadi lebih bersih, sehat, dan tidak berbau.

Namun, perjuangan tidak berhenti pada kandang yang lebih baik.

Kandang yang bersih adalah awal. Peternakan yang produktif adalah kemajuan. Tetapi peternakan yang mampu menjadi pusat edukasi dan menggerakkan ekonomi masyarakat adalah sebuah lompatan masa depan!

Dari pemikiran itulah gagasan Wisata Edukasi Green Fresh Farm terus dikembangkan.

JATIREJO TIDAK HARUS BERUBAH MENJADI TEMPAT LAIN UNTUK MENJADI LUAR BIASA!

Selama ini, Jatirejo dikenal memiliki potensi kolang-kaling dan kawasan bumi perkemahan. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, tersimpan potensi lain yang layak mendapatkan perhatian lebih luas: peternakan sapi perah dan produksi susu segar.

Elizabeth Lucky melihat posisi Jatirejo yang berada di kawasan pinggiran justru sebagai peluang untuk membangun identitas wisata yang berbeda.

Mengapa harus meniru destinasi lain, jika Jatirejo memiliki kekuatan dan keunikannya sendiri?

Mengapa harus mengubah wajah desa secara besar-besaran, jika keaslian lingkungan pedesaan justru menjadi daya tarik yang begitu berharga?

Wisata yang hebat bukan selalu wisata yang paling megah. Wisata yang hebat adalah wisata yang mampu mengubah potensi sederhana menjadi pengalaman luar biasa, tanpa kehilangan jati dirinya!

Prinsip inilah yang menjadi dasar pengembangan Green Fresh Farm.

GREEN, FRESH, FARM: TIGA KATA, SATU CITA-CITA BESAR!

Nama Green Fresh Farm bukan sekadar identitas yang terdengar menarik. Di dalamnya terkandung filosofi tentang alam, produk unggulan, dan kehidupan masyarakat Jatirejo.

GREEN — Menjaga Alam, Merawat Masa Depan

Jatirejo dianugerahi lingkungan pedesaan yang hijau dan alami. Keindahan inilah yang ingin dipertahankan.

Pengembangan wisata edukasi tidak diarahkan untuk mengubah lingkungan secara drastis, melainkan memanfaatkan potensi yang sudah ada dengan tetap menjaga kelestariannya.

Karena kemajuan pariwisata seharusnya tidak mengorbankan alam yang menjadi sumber kehidupannya.

FRESH — Dari Susu Segar, Tumbuh Pengalaman Baru

Susu segar menjadi kekuatan utama yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Melalui konsep wisata edukasi, pengunjung, khususnya anak-anak dan generasi muda, diharapkan tidak hanya mengenal susu sebagai minuman bergizi, tetapi juga memahami perjalanan produksinya.

Mulai dari mengenal sapi perah, mempelajari cara pemeliharaan, memahami proses pemerahan, hingga mengenal bagaimana susu dipasarkan.

Potensi bumi perkemahan yang telah ada di Jatirejo juga membuka peluang untuk mengembangkan paket wisata edukasi yang menggabungkan pembelajaran dengan pengalaman menikmati suasana pedesaan.

FARM — Peternak sebagai Jantung Pengembangan Wisata

Kekuatan Green Fresh Farm terletak pada masyarakat peternaknya.

Dalam pemaparan program tersebut, Jatirejo disebut memiliki 16 peternak, dengan kepemilikan sekitar 6–8 ekor sapi per peternak.

Angka ini bukan sekadar gambaran jumlah peternakan. Di baliknya ada keluarga yang menggantungkan penghidupan, pengalaman yang diwariskan, serta pengetahuan praktis yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pengunjung.

Para peternak bukan hanya penyedia objek wisata. Mereka adalah pemilik pengetahuan, pelaku utama, sekaligus calon penggerak ekonomi wisata edukasi.

Dan ketika peternak tidak lagi hanya menjual hasil produksi, tetapi juga mampu membagikan pengetahuan dan pengalaman, di situlah nilai ekonomi baru mulai tercipta!

WISATA EDUKASI: BUKAN SEKADAR DATANG, MELIHAT, LALU PULANG!

Green Fresh Farm membawa gagasan bahwa kegiatan wisata harus memberikan manfaat yang lebih mendalam daripada sekadar hiburan.

Bayangkan anak-anak datang ke Jatirejo, melihat langsung kehidupan peternakan, belajar bagaimana sapi dirawat, mengenal proses pemerahan susu, dan memahami bahwa segelas susu yang mereka nikmati merupakan hasil kerja keras para peternak.

Pengalaman seperti inilah yang ingin dibangun.

Wisata menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan dan pengalaman nyata.

Anak-anak memperoleh pembelajaran. Pengunjung mendapatkan pengalaman baru. Peternak memiliki peluang mengembangkan usaha. Dan masyarakat desa mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi kreatif.

Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap susu, pengembangan wisata edukasi juga diharapkan mampu memperluas pemahaman tentang produk susu sekaligus membuka peluang pemasaran bagi peternak lokal.

Inilah pariwisata yang memiliki makna: ketika perjalanan tidak hanya menghasilkan kenangan, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat!

KEMANDIRIAN MASYARAKAT ADALAH TUJUAN SESUNGGUHNYA!

Ada satu cita-cita penting yang menjadi ruh program Kedaireka ini: keberlanjutan.

Elizabeth Lucky menekankan bahwa pendampingan perguruan tinggi tidak boleh menjadikan masyarakat terus-menerus bergantung kepada pihak luar.

Sebaliknya, proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian harus mampu memperkuat kapasitas masyarakat agar kelak dapat mengelola dan mengembangkan potensinya secara mandiri.

Ketika program pendampingan berakhir, para peternak diharapkan tetap mampu beradaptasi, menjaga kualitas usaha, mengembangkan wisata edukasi, dan meningkatkan taraf kehidupannya.

Karena keberhasilan pemberdayaan bukan diukur dari seberapa lama masyarakat didampingi, melainkan dari seberapa kuat mereka mampu melangkah ketika pendampingan telah selesai.

Bukan tentang siapa yang datang membawa perubahan, tetapi tentang siapa yang kelak mampu menjaga dan melanjutkan perubahan itu!

DARI JATIREJO, SEMANGAT BESAR UNTUK PARIWISATA SEMARANG!

Green Fresh Farm adalah gambaran bagaimana sebuah desa dapat melihat masa depannya melalui kekuatan yang telah dimiliki.

Alam yang hijau tidak harus dikorbankan demi pembangunan. Peternakan tradisional tidak harus ditinggalkan untuk menyambut modernisasi. Dan masyarakat lokal tidak boleh sekadar menjadi penonton ketika pariwisata berkembang di lingkungannya.

Justru dari perpaduan alam, pengetahuan, kreativitas, dan semangat gotong royong itulah lahir peluang untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan.

Program Wisata Edukasi Green Fresh Farm menunjukkan sebuah langkah awal menuju cita-cita tersebut.

Perjalanan menuju kemandirian tentu membutuhkan proses, konsistensi, dan kolaborasi yang panjang. Namun, setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melihat peluang di tempat yang mungkin selama ini dianggap biasa.

Jatirejo mengajarkan satu pesan penting: desa tidak harus kehilangan keasliannya untuk meraih kemajuan. Desa justru bisa tumbuh besar karena berani mengangkat keunggulannya sendiri!

Dari kandang sapi, lahir gagasan. Dari susu segar, terbuka peluang. Dari kolaborasi, tumbuh harapan.

Karena pariwisata bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi juga tentang siapa yang ikut maju dan sejahtera ketika pariwisata berkembang!

KARISWISATA — Jelajahi Potensinya, Rasakan Pengalamannya, Bangkitkan Semangatnya!

Sumber foto : https://www.unika.ac.id/wp-content/uploads/2022/09/Green-Fresh-Farm-Jatirejo-1536x948.jpeg


Thursday, October 1, 2026

Desa wisata di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah semakin banyak desa wisata juga berarti semakin banyak desa yang benar-benar mampu mendatangkan wisatawan, menghasilkan pendapatan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat?



Pertanyaan itulah yang terasa kuat ketika membaca Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045. Dokumen Kementerian Pariwisata ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana membentuk desa wisata baru, tetapi menawarkan perubahan besar dalam cara melihat keberhasilan desa wisata. Orientasinya bergeser dari jumlah menuju kualitas, dari potensi menuju kinerja, dan dari sekadar memiliki status desa wisata menuju kemampuan untuk benar-benar naik kelas.

Ketika Jumlah Desa Wisata Tumbuh, tetapi Kualitas Belum Mengikuti

Data dalam kajian ini cukup menarik. Dari 84.139 desa di Indonesia, sebanyak 6.189 desa telah tercatat di Jejaring Desa Wisata atau Jadesta per 28 Februari 2026. Namun, sebanyak 78,2% masih berada pada kategori rintisan, 16,1% berkembang, 5,1% maju, dan hanya 0,5% yang sudah berada pada kategori mandiri. Artinya, sebagian sangat besar desa wisata Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan (Bab 1, hlm. 4–5). peta jalan desa wisata indonesi…

Lebih menarik lagi jika melihat perkembangannya. Dalam kurun 2021–2025, jumlah desa wisata rintisan meningkat sekitar 237%. Sebaliknya, jumlah desa wisata berkembang justru menurun, sedangkan kategori maju dan mandiri relatif stagnan. Kajian tersebut membaca kondisi ini sebagai indikasi bahwa pengembangan selama ini lebih banyak berfokus pada pembentukan desa wisata baru, sementara desa wisata yang sudah terbentuk belum mendapatkan perhatian yang cukup untuk berkembang secara optimal (Bab 1, hlm. 5). peta jalan desa wisata indonesi…

Menurutku, inilah salah satu pesan terpenting dari buku ini. Tantangan desa wisata Indonesia ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah desa wisata, tetapi bagaimana membuat desa wisata yang sudah ada benar-benar berkembang dan naik kelas.

Desa Wisata Bukan Sekadar Desa yang Memiliki Objek Wisata

Peta jalan ini juga memperjelas konsep desa wisata Indonesia. Desa wisata ditempatkan sebagai perpaduan antara rural tourism dan community-based tourism. Karena itu, desa wisata tidak hanya mengandalkan alam, budaya atau atraksi yang berada di wilayah pedesaan. Masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama sekaligus pemilik, pengelola dan penerima manfaat kegiatan pariwisata (Bab 3, hlm. 59–60).

Konsep tersebut membuat pengalaman yang ditawarkan desa wisata berbeda dengan objek wisata biasa. Wisatawan bukan sekadar datang untuk melihat sesuatu, tetapi diharapkan dapat merasakan kehidupan dan kearifan lokal serta berinteraksi dengan nilai dan kebiasaan masyarakat setempat. Keautentikan kehidupan masyarakat justru menjadi salah satu kekuatan utama produk desa wisata (Bab 1, hlm. 4).

Arah ini semakin relevan karena tren perjalanan juga bergerak menuju pengalaman yang lebih autentik dan berkelanjutan. Kajian mencatat enam tren yang berpotensi berkembang, yaitu cultural immersion, eco-friendly tourism, nature and adventure-based tourism, culinary and gastronomy tourism, wellness tourism, serta bleisure (Bab 1, hlm. 6).

Artinya, desa wisata sebenarnya mempunyai peluang besar. Persoalannya bukan sekadar apakah desa memiliki potensi, tetapi apakah potensi tersebut mampu diterjemahkan menjadi pengalaman yang benar-benar ingin dibeli wisatawan.

Dari “Punya Potensi” Menuju Kinerja yang Bisa Diukur

Bagian yang menurutku paling menarik adalah perubahan cara mengukur perkembangan desa wisata. Peta jalan mengembangkan sistem klasifikasi yang tidak hanya menggunakan penilaian kualitatif, tetapi juga kuantitatif. Instrumennya diuji melalui survei terhadap 232 desa wisata, dikonfirmasi melalui lapangan, dan pembobotan kriterianya melibatkan 13 ahli di bidang pariwisata.

Sistem tersebut menggunakan 10 kriteria, 27 subkriteria dan 49 indikator kuantitatif. Sepuluh kriteria itu meliputi ekonomi dan usaha pariwisata; aksesibilitas dan infrastruktur; kelembagaan dan tata kelola; sumber daya manusia; produk dan atraksi wisata; pemasaran dan digitalisasi; lingkungan dan keberlanjutan; inklusivitas; pendanaan dan kemitraan; serta resiliensi (Bab 3, hlm. 74–96).

Di sinilah menurutku terjadi perubahan yang sangat penting. Desa wisata tidak cukup mengatakan, “Kami sudah mempunyai paket wisata.” Dalam indikator ekonomi, misalnya, yang dihitung bukan hanya jumlah paket wisata, tetapi juga berapa paket yang benar-benar terjual, berapa pendapatan yang dihasilkan, berapa wisatawan domestik dan mancanegara yang datang, serta berapa lama mereka tinggal.

Jadi, potensi tidak lagi menjadi ukuran akhir. Potensi harus diolah menjadi produk, produk dikemas menjadi paket, paket harus terjual, wisatawan harus datang, dan aktivitas tersebut pada akhirnya harus menghasilkan manfaat ekonomi.

Pemasaran dan Digitalisasi Menjadi Bagian dari Ukuran Desa Wisata

Hal penting lainnya adalah ditempatkannya pemasaran dan digitalisasi sebagai salah satu dari sepuluh kriteria utama. Indikatornya antara lain keberadaan kanal digital aktif dan jumlah konten promosi (Bab 3, hlm. 75–82).

Ini menarik karena pemasaran berarti tidak lagi ditempatkan sebagai kegiatan tambahan setelah produk wisata selesai dibuat. Kemampuan desa wisata untuk dikenal, ditemukan, dan dipasarkan menjadi bagian dari kualitas desa wisata itu sendiri.

Namun, jika dibaca bersama indikator ekonomi, aktif di media digital saja tentu belum cukup. Konten promosi idealnya berujung pada pengenalan produk, terbukanya pasar, paket yang terjual, wisatawan yang datang, hingga pendapatan yang diterima masyarakat.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pemasaran tidak seharusnya berhenti pada seberapa sering kita membuat konten, tetapi seberapa jauh pemasaran mampu membantu menggerakkan pasar.

Desa Wisata Juga Harus Punya Orang yang Mampu Mengelolanya

Peta jalan memberi perhatian besar terhadap sumber daya manusia. Indikatornya meliputi jumlah tenaga kerja, jumlah SDM terlatih, pelatihan yang diikuti, hingga tenaga kerja yang memiliki sertifikasi. Pada sisi kelembagaan, yang dilihat bukan hanya keberadaan organisasi pengelola, tetapi juga keaktifan pengelola dan aturan pengelolaan desa wisata.

Pokdarwis sendiri ditempatkan sebagai penggerak elemen sosial masyarakat. Pokdarwis berperan mendorong partisipasi warga, menciptakan produk dan aktivitas wisata, menjaga kualitas layanan, serta memastikan manfaat kegiatan desa wisata dapat didistribusikan secara adil dan terbuka kepada masyarakat (Bab 5, hlm. 149–150).

Pesannya cukup jelas: alam yang indah atau budaya yang unik saja tidak otomatis menghasilkan desa wisata yang berhasil. Harus ada orang yang mau bergerak dan mempunyai kemampuan untuk mengemas produk, mengelola organisasi, melayani wisatawan, membangun jaringan, berkolaborasi, dan memasarkannya.

Bukan Hanya Berkelanjutan, tetapi Menuju Pariwisata Regeneratif

Konsep keberlanjutan dalam peta jalan juga dibuat lebih luas. Desa wisata nantinya dinilai dari pengelolaan sampah, konservasi lingkungan dan budaya, keterlibatan kelompok rentan, fasilitas ramah disabilitas, sumber pendanaan, kemitraan hingga kesiapan menghadapi risiko.

Bahkan aspek resiliensi mencakup keberadaan SOP mitigasi dan penanganan risiko, simulasi bencana, fasilitas penanggulangan bencana, kotak P3K hingga asuransi wisata. Risiko yang dibahas pun bukan hanya bencana alam, tetapi juga pandemi, perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi serta risiko sosial budaya (Bab 5, hlm. 153–155).

Pada tahap yang lebih tinggi, arah pengembangannya bergerak menuju pariwisata regeneratif. Salah satu bentuk konkretnya adalah pendapatan pariwisata diinvestasikan kembali untuk konservasi alam, budaya, dan penguatan komunitas (Bab 5, hlm. 154–155).

Jadi, bukan hanya bagaimana pariwisata tidak merusak desa. Pariwisata justru diharapkan ikut membuat alam, budaya, ekonomi lokal, dan masyarakat menjadi semakin kuat.

Empat Tahap Menuju Desa Wisata Indonesia 2045

Transformasi tersebut tidak dilakukan sekaligus, tetapi disusun dalam empat fase. Fase 2026–2029 difokuskan pada pembangunan fondasi, pendataan, standardisasi klasifikasi, kelembagaan dan kapasitas SDM. Fase 2030–2034 mulai memperkuat produk, model bisnis, branding, digitalisasi dan ekonomi. Fase 2035–2039 diarahkan pada peningkatan daya saing dan perluasan pasar regional Asia. Sedangkan fase 2040–2045 membawa desa wisata menuju daya saing global dan pengembangan pariwisata regeneratif (Bab 4, hlm. 101–134).

Targetnya pun konkret. Proporsi desa wisata mandiri yang pada awal periode hanya sekitar 0,5% ditargetkan menjadi 2% pada 2029, 5% pada 2034, 8% pada 2039, dan 10% pada 2045. Desa wisata maju juga diarahkan meningkat hingga 15% pada 2045.

Artinya, ukuran keberhasilan peta jalan ini bukan berapa banyak desa wisata baru yang berhasil dilahirkan, tetapi berapa banyak desa wisata yang berhasil bergerak dari rintisan menjadi berkembang, kemudian maju, dan akhirnya mandiri.

Saatnya Berhenti Puas dengan Status Desa Wisata

Bagiku, pesan terbesar dari Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 sebenarnya sederhana. Indonesia tidak kekurangan desa yang mempunyai potensi wisata. Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar bekerja.

Desa wisata tidak seharusnya berhenti setelah memperoleh SK, membentuk Pokdarwis, mendapatkan pelatihan, membuat paket wisata atau memiliki akun media sosial. Semua itu baru merupakan bagian dari proses. Pada akhirnya harus ada produk yang berkualitas, pengelola yang aktif, pemasaran yang berjalan, paket yang terjual, wisatawan yang datang, transaksi yang terjadi, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta alam dan budaya yang tetap terjaga.

Karena mungkin pertanyaan terpenting ke depan bukan lagi:

“Berapa desa wisata yang sudah kita bentuk?”

Tetapi:

“Berapa desa wisata yang benar-benar tumbuh, menghasilkan manfaat bagi masyarakat, dan berhasil naik kelas?”

Itulah perubahan besar yang ditawarkan Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045: dari mengejar jumlah menuju kualitas, dari memiliki potensi menuju menghasilkan kinerja, dan dari sekadar menyandang status desa wisata menuju desa wisata yang benar-benar berdaya saing, mandiri, berkelanjutan, bahkan regeneratif.

Kalau kita terlibat dalam pengelolaan desa wisata, mungkin sekarang waktunya berhenti hanya menghitung berapa potensi, atraksi, paket, pelatihan atau konten yang sudah dibuat. Cobalah mulai menghitung berapa paket yang benar-benar terjual, berapa wisatawan yang datang, berapa pendapatan yang dihasilkan, siapa saja masyarakat yang memperoleh manfaat, dan apa yang sudah berubah di desa kita.

Dari situlah perjalanan desa wisata untuk benar-benar “naik kelas” bisa dimulai.

Referensi Utama

Susilowati, Ervan; Damayanti, Lanina Adna Berlian; Altakwa, Fahri Surya; Julian, Andika; Zulhijjiani, Rizkika; Kartawiria, Rizqinnafi; & Syukur, Abdul. 2026. Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045. Kajian Kebijakan Bidang Kepariwisataan, Vol. 2, No. 1 Tahun 2026. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. peta jalan desa wisata indonesi…

Bagi yang ingin membaca atau mengunduh buku Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 secara lengkap, buku dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Pariwisata berikut:

Download Kajian Peta Jalan Desa Wisata Indonesia 2026–2045 – Kementerian Pariwisata RI


SIBARISTA Marketer Award tidak lahir sebagai acara penghargaan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari proses panjang We Are All Marketers, sebuah program untuk membangun kemampuan pemasaran pariwisata mulai dari menyiapkan produk, membangun SDM, melakukan promosi, menjemput pasar, menghasilkan transaksi, hingga mengukur dan mengapresiasi kinerja para marketer.



Tujuan besarnya sederhana, tetapi tidak mudah: membangun budaya kerja pemasaran agar kita tidak hanya sibuk membuat produk wisata, tetapi juga mampu menjualnya. Pemikiran ini sejalan dengan konsep pemasaran pariwisata yang menempatkan pengembangan produk, pemahaman pasar, promosi, penjualan, dan pengalaman wisatawan sebagai bagian yang saling berhubungan, bukan aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri (Kotler, Bowen, Makens & Baloglu, 2017).

Dan pada akhirnya, yang ingin dijual bukan hanya satu produk atau satu desa wisata, tetapi Kota Semarang.

Berawal dari Kegelisahan Melihat Desa Wisata

Gagasan ini berawal dari kegelisahanku melihat perkembangan desa wisata di Kota Semarang. Sudah cukup banyak desa wisata yang mendapatkan legalitas, tetapi di beberapa tempat aktivitas wisatawannya masih sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Aku melihat ada kecenderungan desa wisata terkadang berhenti menjadi sebuah “status”. Legalitas kemudian lebih banyak dimanfaatkan untuk membuka akses terhadap anggaran APBD maupun program CSR, sementara perhatian terhadap hal yang menurutku paling mendasar justru belum cukup kuat: bagaimana mendatangkan wisatawan agar keberadaan desa wisata benar-benar memberikan dampak langsung kepada masyarakat, baik secara ekonomi, sosial budaya, maupun lingkungan.

Kegelisahan itu sebenarnya bersinggungan dengan persoalan yang juga ditemukan dalam pengembangan community-based tourism. Pariwisata berbasis masyarakat memang dapat menjadi strategi pemberdayaan dan pembangunan ekonomi lokal, tetapi keberlanjutannya membutuhkan kapasitas masyarakat, kepemimpinan, jejaring, serta keterlibatan para pemangku kepentingan. Ketergantungan terhadap dukungan eksternal tanpa penguatan kapasitas lokal juga menjadi salah satu tantangannya (Hamzah, 2014; Tolkach & King, 2015).

Aku sering mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang berjualan kacang goreng di toko pinggir jalan, tetapi hanya duduk menunggu pembeli datang. Kalau hanya menunggu, kapan pembelinya datang? Dari situlah muncul gagasan sederhana: bagaimana kalau para pengelola desa wisata ini dibersamai untuk meningkatkan kemampuan menjual? Jangan hanya menunggu wisatawan datang. Produknya harus ditawarkan dan pasarnya harus dijemput.

Namun setelah kutelaah lebih dalam, persoalannya ternyata tidak sesederhana meningkatkan kemampuan pemasaran. Bagaimana mau mengajari orang berjualan kalau paket wisata yang akan dijual saja belum tergarap dengan baik? :) Aku akhirnya menyadari bahwa intervensinya tidak bisa hanya berupa pelatihan marketing. Prosesnya harus dimulai lebih awal: membaca potensi, membangun produk, menyusun paket wisata, menyiapkan pemandu, membangun media promosi, melatih marketer, sampai benar-benar membawa mereka bertemu pasar.

Dari pemikiran itulah kemudian kubuat semacam “paket komplit” pendampingan dan pemasaran yang berkembang menjadi program besar We Are All Marketers.

SIBARISTA dan We Are All Marketers

SIBARISTA merupakan singkatan dari Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata, sebuah komunitas yang aku pimpin sebagai Presiden SIBARISTA, dibantu beberapa pengurus yang kami sebut dengan istilah “menteri”. Program ini mulai dijalankan sejak 2023 dengan anggaran mandiri SIBARISTA.

We Are All Marketers menjadi tujuan besar sekaligus nama program induknya. Di bawahnya terdapat beberapa tahapan dan subprogram, mulai dari pendampingan desa wisata melalui 10 Kandri Baru, Marketing Skill Up, aktivasi MBG, SALEJO, hingga SIBARISTA Marketer Award. Di dalam setiap tahapan masih terdapat kegiatan yang lebih teknis seperti pemetaan, pembuatan produk dan paket wisata, pelatihan pemandu, pelatihan marketer, pengelolaan media digital, simulasi paket wisata, pendampingan, hingga aktivitas penjualan.

Jadi, yang dibangun bukan sekadar rangkaian pelatihan, melainkan sebuah proses dari menyiapkan sesuatu yang layak dijual sampai benar-benar mampu menjualnya.

Langkah 1: 10 Kandri Baru dan Pendampingan Embrio Desa Wisata

Khusus untuk proses pendampingan desa wisata, program tersebut kuberi nama 10 Kandri Baru. Nama Kandri dipilih karena Desa Wisata Kandri pada hakikatnya merupakan desa wisata paling maju di Kota Semarang, baik dilihat dari kinerja jumlah wisatawan, omzet ekonomi, maupun berbagai penghargaan yang telah diraih.

Namun 10 Kandri Baru bukan berarti membuat sepuluh desa menjadi sama persis dengan Kandri. Setiap desa mempunyai karakter, sumber daya, masyarakat, dan potensi yang berbeda. Semangatnya adalah mendorong munculnya desa-desa wisata lain yang mampu berkembang dan menghasilkan kinerja nyata sebagaimana Kandri.

Pendekatan seperti ini penting karena pariwisata berbasis masyarakat pada dasarnya menempatkan komunitas lokal sebagai aktor dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata, bukan sekadar penerima manfaat di akhir proses. Kajian pengembangan community-based tourism juga menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat serta kapasitas lokal dalam menentukan keberlanjutan pengembangan pariwisata (Rahayu, Utami & Fitriana, 2015).

Pendampingan dilakukan sepanjang tahun dan dimulai dari pemetaan potensi atraksi, potensi pengunjung, calon pengelola, serta stakeholder yang dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung desa wisata.

Mencari Orang yang Mau Bergerak

Salah satu bagian penting dalam pemetaan adalah mencari calon pengelola sekaligus marketer lokal. Mereka tidak harus berasal dari Pokdarwis. Marketer desa wisata bisa berasal dari Pokdarwis, Karang Taruna, maupun masyarakat di luar kedua organisasi tersebut. Yang paling penting adalah mempunyai kemauan untuk aktif dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata.

Menurutku, membangun desa wisata tidak cukup hanya melihat struktur organisasi. Kita perlu menemukan orang-orang yang memang mau bergerak. Hal ini juga sejalan dengan kajian community-based tourism yang menunjukkan bahwa kemampuan dan keterlibatan komunitas menjadi faktor penting, sementara lemahnya kapasitas lokal dapat menjadi salah satu hambatan keberlanjutan CBT (Hamzah, 2014).

Setelah potensi dan calon pengelola dipetakan, proses dilanjutkan dengan pembuatan produk dan paket wisata. SDM kemudian disiapkan melalui pelatihan pemandu atraksi desa wisata, marketer desa wisata, serta pengelola MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan simulasi paket wisata untuk menguji kesiapan sebelum produk benar-benar ditawarkan kepada pasar.

Setelah tahap ini selesai, setidaknya ada empat hal yang diharapkan sudah tersedia: paket wisata siap ditawarkan, pemandu siap melayani wisatawan, tim MBG mampu melakukan promosi secara online, dan marketer siap berjualan. Artinya, kita tidak meminta marketer menjual sesuatu yang produknya sendiri belum siap.

Desa Wisata dan Rintisan yang Didampingi

Pendampingan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing mencakup lima lokasi pendampingan. Tahap pertama mencakup Desa Wisata Jatirejo, Desa Wisata Kampung Sawah, Desa Wisata Pudakpayung, Desa Wisata Kampung Melayu, dan Desa Wisata Bangetayu Kulon. Tahap kedua mencakup Desa Wisata Jatirejo, rintisan Desa Wisata Ciblon Kedungwinong, rintisan wisata Curug Gondoriyo, rintisan wisata Tanjung Mas, dan Desa Wisata Krabat Pecinan.

Pada 2025 dan 2026, khusus program 10 Kandri Baru dan SIBARISTA Marketer Award mendapatkan dukungan anggaran pemerintah. Namun cakupan We Are All Marketers tidak berhenti pada lokasi yang mendapatkan pendampingan melalui 10 Kandri Baru. Ketika memasuki Marketing Skill Up, SALEJO hingga SIBARISTA Marketer Award, keterlibatannya diperluas kepada seluruh desa wisata dan sebagian besar Pokdarwis di Kota Semarang.

Langkah 2: Marketing Skill Up dan Mindset “We Are All Marketers”

Setelah produk dan SDM mulai siap, marketer desa wisata yang telah mendapatkan pelatihan di masing-masing venue dipertemukan kembali dalam Marketing Skill Up. Di sinilah kemampuan mereka ditingkatkan sekaligus mulai dibangun mindset We Are All Marketers. Marketer dibekali kemampuan menentukan target pasar, melakukan presentasi, bernegosiasi hingga melakukan closing.

Namun ada satu pemahaman yang menurutku lebih penting: marketer desa wisata tidak seharusnya hanya mampu menjual desanya sendiri. Mereka perlu memahami produk desa wisata lain dan pentingnya kolaborasi antardesa wisata maupun antarusaha pariwisata. Pemikiran mengenai pemasaran destinasi juga menempatkan destination partnership, hubungan dengan stakeholder, koordinasi, serta promosi destinasi sebagai bagian penting dalam pengelolaan dan pemasaran sebuah destinasi (Morrison, 2019).

Kebutuhan pasar tidak selalu bisa dijawab oleh satu desa wisata. Ketika marketer mengetahui berbagai produk dan paket wisata yang tersedia di Kota Semarang, “senjata” mereka menjadi jauh lebih lengkap. Kalau produk desanya tidak sesuai dengan kebutuhan calon wisatawan, bukan berarti calon konsumen tersebut harus dilepas. Bisa jadi kebutuhannya justru dapat dipenuhi oleh desa wisata lain.

Inilah salah satu makna We Are All Marketers: tidak berhenti menjual produk sendiri, tetapi bersama-sama belajar menjual Kota Semarang.

Langkah 3: Aktivasi MBG dan SALEJO

Setelah produk siap dan kemampuan marketer ditingkatkan, tahap berikutnya adalah membawa mereka benar-benar bertemu pasar melalui SALEJO atau Sales Activation Journey. SALEJO merupakan pendampingan pemasaran desa wisata melalui kegiatan direct selling dengan cara mendatangi calon customer atau wisatawan langsung ke target pasar.

Kegiatan ini dijalankan secara rutin dengan pola satu klaster setiap minggu. Dalam pelaksanaannya, SALEJO difasilitasi satu pendamping dan satu kendaraan operasional, termasuk subsidi bahan bakar. Dalam sekali perjalanan dapat bergabung sekitar 4–6 marketer dari satu hingga tiga desa wisata.

Di sinilah teori Marketing Skill Up diuji di lapangan. Marketer belajar mendatangi calon pasar, membaca kebutuhan, mempresentasikan produk, menawarkan paket, bernegosiasi, membangun relasi, melakukan follow-up hingga mengejar closing. Tujuannya adalah mempercepat munculnya dampak ekonomi bagi desa wisata yang produknya sudah siap.

SALEJO Menjemput Pasar, MBG Menebar Jaring

Ketika marketer bergerak melalui SALEJO, tim MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business—tetap melakukan promosi secara online. Keduanya berjalan bersamaan: SALEJO menjemput pasar secara langsung, sementara MBG menebar jaring pasar secara digital.

Pilihan untuk mengaktifkan kanal digital bukan sekadar pelengkap. Penelitian Zheng Xiang dan Ulrike Gretzel (2010) menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dalam pencarian informasi perjalanan secara online dan memiliki implikasi langsung terhadap strategi pemasaran pariwisata. Karena itu, keberadaan produk wisata di ruang digital menurutku harus berjalan beriringan dengan aktivitas penjualan langsung (Xiang & Gretzel, 2010).

Dengan pola tersebut, pemasaran tidak hanya bergantung pada orang yang berhasil ditemui melalui SALEJO. Jangkauan diperluas melalui media sosial, mesin pencari, konten blog, dan Google Profil Business. Harapannya bukan hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi secara bertahap juga membangun brand produk desa wisata.

Ketika SALEJO Mulai Menghasilkan Dampak

Salah satu contoh menarik datang dari Desa Wisata Jatirejo. Setelah mengikuti Marketing Skill Up, awalnya mereka masih terlihat ogah-ogahan untuk benar-benar turun berjualan melalui SALEJO. Akhirnya ya... sedikit “dipaksa-paksa” untuk berangkat. :)

Mereka kemudian melakukan SALEJO ke Kota Demak dan mendatangi beberapa target pasar. Hasilnya memang tidak langsung terlihat pada hari itu. Namun sekitar tiga bulan kemudian, satu per satu pasar dari wilayah Demak Selatan, terutama sekolah-sekolah, mulai berkunjung ke Desa Wisata Jatirejo.

Bagiku, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemasaran tidak selalu menghasilkan transaksi saat itu juga. Ada proses mengenalkan produk, membangun komunikasi, melakukan follow-up, hingga akhirnya pasar mulai bergerak.

Berangkat Menjual Bersama, Pulang Membawa Transaksi Besar

Cerita lain datang dari Desa Wisata Kandri. Semangat SALEJO adalah berangkat bersama dan saling membantu menjual produk. Kandri saat itu ikut mendampingi desa wisata lain masuk ke pasar universitas. Eh, dari proses tersebut justru muncul peluang besar bagi Kandri sendiri.

Pertemuan yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas pemasaran bersama berkembang menjadi kesepakatan kegiatan forum nasional sebuah yayasan dari salah satu universitas terkenal di Indonesia. Nilai transaksinya lebih dari Rp60 juta, dengan kegiatan berlangsung enam hari lima malam dan diikuti peserta dari berbagai provinsi.

Pengalaman ini semakin meyakinkanku bahwa kolaborasi tidak selalu berarti membagi pasar hingga menjadi semakin kecil. Dalam pemasaran destinasi, kolaborasi dan kemitraan antarpelaku justru menjadi bagian penting karena sebuah destinasi tersusun dari banyak produk, layanan, organisasi, dan stakeholder yang saling terkait (Morrison, 2019).

Ketika pintu pasar dibuka bersama-sama, peluang yang muncul justru bisa jauh lebih besar daripada yang sebelumnya kita bayangkan.

Dari Potensi Menuju Wisatawan dan Transaksi

Setelah melewati tiga tahapan tersebut, desa wisata diharapkan tidak lagi berhenti pada kalimat “kami punya potensi.” Potensi harus berubah menjadi produk, produk dikemas menjadi paket, paket mempunyai pemandu yang siap, produk dikenal melalui MBG, marketer mampu menjualnya, dan pasar dijemput melalui SALEJO. Pada akhirnya, seluruh proses tersebut harus menghasilkan wisatawan, transaksi, dan manfaat bagi masyarakat.

Orientasi terhadap manfaat masyarakat ini merupakan salah satu gagasan mendasar dalam community-based tourism. Penelitian tentang CBT menunjukkan potensinya sebagai strategi pembangunan lokal, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa manfaat tersebut membutuhkan jaringan, kapasitas komunitas, kepemimpinan, dan hubungan stakeholder yang berfungsi dengan baik (Tolkach & King, 2015).

Manfaat serta indikator keberhasilan program secara lebih detail kutuangkan tersendiri dalam inovasi ADOL PAKETAN SIBARISTA—Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang melalui Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata.

Langkah 4: SIBARISTA Marketer Award

Setelah seluruh proses tersebut berjalan, para marketer perlu dipertemukan kembali. Di sinilah SIBARISTA Marketer Award ditempatkan sebagai tahap keempat We Are All Marketers.

SIBARISTA Marketer Award pertama kali diselenggarakan pada 2023 menggunakan anggaran mandiri SIBARISTA. Pada 2024, kegiatan ini sempat tidak diselenggarakan karena keterbatasan pendanaan. Mulai 2025, penyelenggaraannya mendapatkan dukungan anggaran pemerintah.

Namun bagiku, award bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara. SIBARISTA Marketer Award menjadi ruang bagi marketer untuk gathering, bertukar ilmu dan pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus memvalidasi kinerja pemasaran selama satu tahun berjalan. Yang ingin dilihat bukan hanya siapa yang pandai berbicara atau terlihat aktif melakukan promosi, tetapi siapa yang benar-benar menunjukkan kinerja: aktif mencari pasar, melakukan follow-up, membangun jaringan, berkolaborasi, serta menghasilkan wisatawan dan transaksi.

Dua Kategori, Dua Tingkat Tantangan

SIBARISTA Marketer Award dibagi menjadi dua kelompok penilaian: Kategori Desa Wisata dan Kategori Umum. Pemisahan diperlukan karena kondisi marketer desa wisata tidak bisa langsung disamakan dengan marketer usaha pariwisata yang sistem pemasaran dan penjualannya sudah jauh lebih tertata.

Hotel dan usaha pariwisata yang telah mapan umumnya sudah mempunyai struktur organisasi, target penjualan, sistem pemasaran, bahkan anggaran khusus untuk marketing dan sales. Sementara desa wisata pada dasarnya merupakan gerakan masyarakat. Struktur pemasarannya belum tentu terbentuk dengan baik, apalagi mempunyai anggaran khusus untuk berjualan. Karena itu, keduanya tidak adil jika langsung dinilai menggunakan ukuran yang sama.

Kategori Desa Wisata: Membangun Budaya Menjual

Untuk marketer desa wisata, indikator penilaian masih difokuskan pada kinerja pemasaran bagi desa wisatanya sendiri. Namanya juga masih belajar. Yang ingin dibangun terlebih dahulu adalah keberanian dan kebiasaan menjual: mencari calon pasar, menawarkan produk, melakukan follow-up, membangun jaringan hingga mampu menghasilkan kunjungan dan transaksi.

Namun ada satu prinsip penting. Marketer desa wisata yang sudah pernah menjadi pemenang tidak boleh kembali mengikuti Kategori Desa Wisata pada penyelenggaraan berikutnya. Pemenang tahun 2023 maupun 2025 harus naik kelas ke Kategori Umum.

Kemenangan sebelumnya menjadi pengakuan bahwa marketer tersebut sudah mencapai tingkat kemampuan tertentu sehingga waktunya menghadapi tantangan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, ruang Kategori Desa Wisata dibuka bagi marketer lainnya agar semakin banyak orang mendapatkan kesempatan untuk maju. Award tidak dibuat agar orang yang sama terus-menerus menjadi juara. Yang ingin dibangun adalah regenerasi marketer.

Kategori Umum: dari Menjual Usaha Menuju Menjual Kota

Untuk marketer usaha pariwisata lainnya, standar penilaiannya lebih berat. Kinerja terhadap usaha masing-masing tetap diperhitungkan, tetapi secara perlahan ukurannya dinaikkan. Pertanyaannya tidak lagi hanya “Apa yang sudah kamu hasilkan untuk usahamu?”, tetapi berkembang menjadi “Apa dampak aktivitas pemasaranmu terhadap pariwisata Kota Semarang?”

Apakah mempunyai paket kolaborasi dengan usaha pariwisata lainnya? Berapa nilai ekonomi yang dihasilkan? Jika membuat program promosi, seberapa luas jangkauannya dan apa dampaknya terhadap wisatawan yang datang ke Kota Semarang? Ataukah berbagai program marketing yang dibuat sebenarnya hanya berputar sebagai kegiatan internal dan jarang diketahui pasar di luar sana?

Cara pandang tersebut sejalan dengan pengelolaan pemasaran destinasi yang tidak hanya berbicara tentang promosi individual, tetapi juga menyangkut kemitraan destinasi, hubungan stakeholder, koordinasi, kepemimpinan, komunikasi, promosi, hingga evaluasi kinerja destinasi (Morrison, 2019). Di sinilah standar marketer perlahan dinaikkan: dari menjual produk sendiri, membangun kolaborasi, menjual lintas produk, hingga memberikan kontribusi terhadap pemasaran Kota Semarang sebagai destinasi.

Pemenang Harus Naik Kelas

Bagiku, salah satu semangat penting SIBARISTA Marketer Award adalah pemenang tidak boleh berhenti pada kemenangan. Ia harus naik kelas. Mereka yang awalnya belajar menjual produk desa wisata sendiri harus mulai mengenal produk lain. Setelah mampu menghasilkan transaksi, mereka perlu belajar berkolaborasi. Setelah mampu berkolaborasi, ukuran keberhasilannya diperluas lagi pada dampaknya terhadap pariwisata Kota Semarang.

Maka jenjang yang ingin dibangun adalah:

Belajar menjual produk sendiri → menghasilkan wisatawan dan transaksi → menjual lintas produk → membangun kolaborasi → memberi dampak terhadap pemasaran Kota Semarang.

Sementara tempat yang ditinggalkannya di Kategori Desa Wisata diberikan kepada marketer lain untuk tumbuh. Dengan demikian, SIBARISTA Marketer Award bukan sekadar menghasilkan juara. Ia harus menghasilkan lebih banyak marketer.

Satu Proses Besar: We Are All Marketers

Jika seluruh rangkaian tersebut disederhanakan, alurnya menjadi:

Pemetaan Potensi → Produk dan Paket Wisata → Pemandu & MBG → Marketing Skill Up → SALEJO → Wisatawan & Transaksi → Evaluasi Kinerja → SIBARISTA Marketer Award.

Ada 10 Kandri Baru untuk memperkuat kesiapan desa wisata, Marketing Skill Up untuk meningkatkan kemampuan dan mindset marketer, MBG untuk menebar jaring pemasaran melalui Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business, SALEJO untuk membawa marketer menjemput pasar secara langsung, serta SIBARISTA Marketer Award sebagai ruang evaluasi, apresiasi, regenerasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan jejaring marketer.

Semuanya berada dalam satu rumah besar: We Are All Marketers.

Tujuan Besarnya: Menjual Kota Semarang

Pada awalnya aku hanya berpikir bagaimana membantu pengelola desa wisata agar lebih berani berjualan. Ternyata persoalannya jauh lebih panjang. Produknya harus disiapkan, paketnya harus dibuat, orangnya harus dicari, pemandunya harus dilatih, media promosinya harus dibangun, marketernya harus belajar, pasarnya harus didatangi, transaksinya harus dikejar, dan hasilnya harus dievaluasi.

Mereka yang menunjukkan kinerja kemudian perlu mendapatkan apresiasi sekaligus tantangan untuk naik ke tingkat berikutnya. Karena itu, SIBARISTA Marketer Award bukan tujuan akhir We Are All Marketers. Penghargaan adalah salah satu cara untuk menjaga semangat, mengukur proses, melakukan regenerasi, dan mengapresiasi mereka yang mampu mengubah budaya menjual menjadi kinerja nyata.

Semua dimulai dari membiasakan marketer lokal berani menjual produk desa wisatanya sendiri, kemudian belajar menjual produk desa wisata lain, lalu membangun kolaborasi dengan berbagai usaha pariwisata. Sampai akhirnya tumbuh sebuah budaya bahwa siapa pun yang berada dalam ekosistem pariwisata mempunyai peran untuk mengenalkan, menawarkan, merekomendasikan, membuka pasar, dan mendatangkan wisatawan.

Karena tujuan terbesar We Are All Marketers bukan sekadar menjual satu paket, satu usaha, atau satu desa wisata.

Kita sedang belajar bersama untuk menjual Kota Semarang.

Dan tentu perjalanan ini belum selesai. Masih banyak produk yang perlu diperkuat, pasar yang perlu dibuka, serta kolaborasi yang bisa dibangun. Semakin banyak orang yang ikut bergerak, semakin besar pula peluang pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kalau kamu pengelola desa wisata, Pokdarwis, marketer, pelaku usaha pariwisata, atau siapa pun yang punya semangat yang sama, jangan hanya menunggu wisatawan datang. Mari bergerak, berkolaborasi, dan membuka pasar bersama.

Karena pariwisata Kota Semarang bukan hanya tugas satu-dua orang untuk menjualnya. We Are All Marketers.

Referensi

Hamzah, A. (2014). “Critical Success Factors for Creating Community-Based Tourism.” Dalam The Wiley Blackwell Companion to Tourism. Wiley Blackwell.

Kotler, P., Bowen, J. T., Makens, J. C., & Baloglu, S. (2017). Marketing for Hospitality and Tourism, 7th Edition. Pearson.

Morrison, A. M. (2019). Marketing and Managing Tourism Destinations, 2nd Edition. Routledge.

Rahayu, S., Utami, D., & Fitriana, K. N. (2015). Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Tolkach, D., & King, B. E. M. (2015). “Strengthening Community-Based Tourism in a New Resource-Based Island Nation: Why and How?” Tourism Management, 48, 386–398.

Xiang, Z., & Gretzel, U. (2010). “Role of Social Media in Online Travel Information Search.” Tourism Management, 31(2), 179–188.



Memasuki 2027, pariwisata Indonesia berada di persimpangan yang menarik. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi mulai membentuk ulang cara orang bepergian. Di sisi lain, pasar domestik maupun mancanegara menunjukkan perubahan dengan arah yang semakin jelas.

Beberapa temuan dalam proyeksi pariwisata Indonesia 2027 menurutku penting diperhatikan siapa pun yang bergerak di sektor pariwisata, terutama pengelola desa wisata, wisata alam, event, maupun usaha kuliner lokal.

Sebab yang berubah bukan hanya ke mana orang ingin pergi, tetapi juga bagaimana mereka menemukan destinasi, pengalaman apa yang mereka cari, dan apa yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk datang.

Megatren Global yang Membentuk Pariwisata 2027

Hasil horizon scanning terhadap delapan laporan pariwisata dunia—OECD, UN Tourism, WEF, ASEAN, Booking.com, Amadeus, American Express Travel, dan HBX Group—menunjukkan sejumlah sinyal yang diproyeksikan membentuk lanskap pariwisata dunia menuju 2027.

Yang paling dominan adalah integrasi AI dan personalisasi perjalanan dengan frekuensi kemunculan 21% dalam dokumen yang dianalisis, diikuti adaptasi terhadap perubahan iklim (20%) dan pencarian pengalaman autentik berbasis komunitas lokal (18%). Angka tersebut bukan persentase wisatawan maupun proyeksi pertumbuhan, melainkan menunjukkan seberapa sering tren tersebut muncul dalam sumber yang dianalisis.

(Bab 3.1, hlm. 74–75)

Tren berikutnya adalah perjalanan regional yang semakin mempertimbangkan value for money dan kemudahan akses (15%), experience economy yang didorong event, olahraga, film, musik, fandom hingga momen personal (12%), serta wellness dan perjalanan transformasional (8%).

(Bab 3.1, hlm. 76–77)

OECD juga menempatkan ketidakstabilan geopolitik sebagai risiko utama pariwisata 2026 dengan angka 80%, bahkan berada di atas tekanan terhadap harga sebesar 75%.

(Bab 3.1, hlm. 70)

Artinya, tren pariwisata 2027 tidak muncul begitu saja. Teknologi, iklim, kondisi ekonomi, dan geopolitik ikut menentukan kapan orang bepergian, ke mana mereka pergi, dan pengalaman seperti apa yang akhirnya mereka pilih.

Lima Tren Pariwisata Indonesia 2027: Mana yang Diminati Siapa?

Ketika masuk ke Indonesia, experts survey memproyeksikan lima tren besar, yaitu Event Tourism, Social Media Effect, Eco-friendly Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, serta Nature and Adventure-based Tourism.

Menariknya, wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menunjukkan urutan prioritas yang berbeda.

Tren Wisatawan Mancanegara

Untuk wisatawan mancanegara, lima tren teratas menuju 2027 adalah eco-friendly tourism, event tourism, nature and adventure-based tourism, culinary tourism, dan social media effect.

Tren Wisatawan Nusantara

Sementara bagi wisatawan nusantara, urutannya adalah destinasi yang sedang trending atau viral, event tourism, culinary tourism, social media and creator economy tourism, serta short-haul travel atau perjalanan jarak dekat.

(Bab 3.1, hlm. 80)

Perbedaan ini penting. Wisatawan domestik terlihat semakin dipengaruhi eksposur digital sekaligus pertimbangan biaya, jarak, dan waktu tempuh. Artinya, destinasi yang dekat sebenarnya mempunyai peluang besar selama menawarkan pengalaman menarik dan mampu ditemukan calon wisatawan.

Di antara berbagai tren tersebut, Event Tourism diproyeksikan menjadi tren berwisata terkuat di Indonesia pada 2027, dengan nilai agregat 71,81%.

(Bab 3.1, hlm. 81)

Media Sosial Bukan Lagi Sekadar Tempat Promosi

Ada satu perubahan yang menurutku sangat penting bagi pelaku wisata: media sosial mulai berubah fungsi dari sekadar media promosi menjadi tempat orang mencari destinasi.

Buku ini menyebut 55% wisatawan Indonesia menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi dan inspirasi perjalanan. Di kalangan Gen Z, Instagram, YouTube, dan TikTok digunakan untuk menemukan inspirasi sekaligus mencari tempat menginap, makanan, aktivitas, hidden gems, hingga rekomendasi perjalanan.

(Bab 3.1, hlm. 83–84)

Dari Social Graph Menuju Interest Graph

Perubahannya bahkan bergerak lebih jauh. Media sosial mulai bergeser dari pola social graph menuju interest graph. Konten semakin direkomendasikan berdasarkan minat pengguna, bukan hanya berdasarkan siapa yang mereka ikuti.

Seseorang yang menyukai hiking, misalnya, bisa dipertemukan algoritma dengan jalur trekking di sebuah desa yang sebelumnya bahkan tidak pernah didengarnya. Hal yang sama berlaku untuk orang yang tertarik pada wellness, diving, event, atau local food.

(Bab 3.1, hlm. 85)

Bagi destinasi kecil, perubahan ini membuka peluang besar. Destinasi tidak harus terkenal terlebih dahulu untuk bisa ditemukan. Yang semakin penting adalah mempunyai pengalaman yang spesifik dan mampu mengemasnya menjadi konten yang relevan dengan minat calon wisatawan.

Pasar Wisatawan Juga Sedang Bergeser

Pada semester I-2026 tercatat 7,45 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 630,41 juta perjalanan wisatawan nusantara. Asia Timur tetap menjadi salah satu pasar potensial utama dengan pertumbuhan 12,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, disusul Asia Tenggara 8,22% serta Australia dan Oseania 6,60%.

(Bab 3.2, hlm. 94)

Backpacker Semakin Menjanjikan

Perubahan yang lebih menarik terlihat pada karakter wisatawannya. Di kalangan wisatawan mancanegara, backpackers meningkat dari 15,79% pada survei 2026 menjadi 38,93% dalam proyeksi 2027, dan menempati posisi kedua setelah Millennials and Gen Z.

(Bab 3.2, hlm. 97–98)

Ini memberi sinyal menguatnya perjalanan yang lebih mandiri, fleksibel, mempertimbangkan biaya, tetapi tetap mencari pengalaman lokal.

Wisata Alam: dari Melihat Menjadi Mengalami

Prospek produk wisata 2027 menunjukkan kecenderungan yang tak kalah menarik. Untuk wisata berbasis alam, hiking/trekking berada di posisi tertinggi dengan 54,36%, disusul glamping 49,66%, island hopping 27,52%, forest bathing 20,81%, serta camping 19,46%.

(Bab 3.3, hlm. 101)

Tetapi yang menurutku menarik bukan sekadar angkanya. Buku ini menunjukkan bahwa wisata berbasis alam semakin menekankan bagaimana wisatawan berinteraksi langsung dengan alam.

Gunung tidak hanya dilihat, tetapi ditrekking. Hutan tidak sekadar menjadi latar foto, tetapi bisa menjadi ruang forest bathing. Sungai, air terjun maupun kawasan pertanian dapat dikembangkan menjadi pengalaman.

Sederhananya, wisata alam bergerak dari “apa yang bisa dilihat” menuju “apa yang bisa dilakukan dan dirasakan.”

Wisata Budaya Juga Bergerak ke Pengalaman

Hal serupa terlihat pada produk budaya. Heritage tourism berada di posisi teratas sebesar 57,05%, disusul wellness tourism 46,98%, gastronomy tourism dan traditional & cultural performance masing-masing 42,95%, serta live with locals experience 32,89%.

(Bab 3.3, hlm. 102)

Budaya dengan demikian tidak harus berhenti sebagai tontonan. Wisatawan dapat diajak mencicipi, membuat, belajar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Desa Wisata: Produk dengan Prospek Tertinggi

Bagian yang menurutku paling menarik bagi pelaku desa wisata muncul dalam kategori man-made/built-based tourism.

Dalam kategori ini, desa wisata menempati posisi tertinggi dengan nilai 45,64%, mengungguli sport tourism 42,28%, MICE 36,91%, wisata kreatif 36,24%, dan konser musik 26,85%.

(Bab 3.3, hlm. 103)

Peluang Menggabungkan Banyak Pengalaman

Jika dikaitkan dengan tren sebelumnya, posisi desa wisata menjadi semakin menarik.

Bayangkan satu paket perjalanan yang menggabungkan trekking ringan menyusuri desa, aktivitas bersama warga, menikmati makanan lokal, belajar membuat kerajinan, melihat pertunjukan budaya, kemudian mengikuti event yang memang tumbuh dari kehidupan masyarakat.

Dalam satu perjalanan sudah bertemu nature and adventure, gastronomy, cultural experience, event, sustainability, dan pengalaman autentik bersama masyarakat lokal.

Buku ini bahkan menegaskan bahwa semakin beragam aktivitas perjalanan yang dikembangkan menjadi pengalaman bernilai, semakin panjang pula perputaran ekonomi yang tercipta di destinasi. Desa wisata juga dinilai mampu memperluas manfaat pariwisata kepada masyarakat setempat.

(Bab 2, hlm. 60)

Membaca Arah Pariwisata Indonesia 2027

Buku ini kemudian memetakan empat kemungkinan skenario pariwisata Indonesia berdasarkan kondisi eksternal global dan kemampuan Indonesia menangkap peluang: akseleratif, adaptif, terjaga, dan rentan.

(Bab 4, hlm. 110–111)

Sekitar 61% ahli menyatakan kinerja pariwisata Indonesia perlu hingga sangat perlu ditingkatkan. Sementara sekitar 32% memandang kinerja pariwisata akan lebih baik atau jauh lebih baik dibandingkan 2026.

(Bab 4, hlm. 108)

Apa Artinya bagi Pelaku Wisata?

Bagi pelaku wisata, khususnya desa wisata, pesan dari berbagai data tersebut cukup jelas. Produk yang selama ini banyak dirintis sebenarnya berada di titik temu berbagai tren 2027: keberlanjutan, pengalaman autentik, aktivitas alam, kuliner, event, keterlibatan masyarakat, serta pemasaran digital.

Tantangannya bukan lagi sekadar apakah arah pengembangannya sudah benar, tetapi seberapa siap produk, pengelola, SDM, aksesibilitas, dan pemasaran digitalnya untuk menangkap perubahan pasar tersebut.

Memasuki 2027, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa dilihat wisatawan di tempat kita?”

Tetapi mulai bertanya:

“Pengalaman apa yang bisa mereka lakukan, rasakan, ceritakan, lalu membuat mereka ingin kembali?”

Karena bisa jadi, itulah yang sebenarnya sedang dicari wisatawan 2027.

Sumber Utama

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Indonesia Tourism Outlook 2026/2027. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, 2026.

Mau membaca buku lengkapnya bisa download disini Indonesia Tourism Outlook


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts