Ketika pertama kali datang ke Curug Gondoriyo pada 2016, aku harus menyusuri sungai dari hilir ke hulu untuk mencapainya. Akses belum ada, sekelilingnya masih semak belukar dan bebatuan, sementara air curug yang tingginya lebih dari 10 meter itu terlihat keruh. Dua tahun kemudian aku kembali dan mendapati tempat itu justru seperti tertidur kembali. Siapa sangka, hanya dalam waktu sekitar tiga bulan setelah itu, masyarakat mampu mengubahnya menjadi sebuah wisata yang pada masa ramainya bisa dikunjungi sekitar 700 orang pada hari Minggu.
Air Terjun Bercahaya
Tetapi buatku, cerita Curug Gondoriyo bukan terutama tentang jumlah pengunjung. Ada cerita tentang warga yang awalnya tidak percaya, sekitar 15 orang yang memilih terus bergerak, ide yang baru dibicarakan hari Rabu tetapi Kamis atau Jumat sudah diwujudkan, sampai sebuah persoalan berupa air keruh yang justru melahirkan gagasan Air Terjun Bercahaya.
Aku datang pertama kali karena tugas. Aku kembali karena merasa tempat ini mempunyai potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi pada akhirnya, justru dari masyarakat Gondoriyo aku belajar banyak tentang arti pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.
Pertama Kali ke Curug Gondoriyo Tahun 2016
Pertama kali aku datang ke Curug Gondoriyo adalah tahun 2016. Saat itu ada laporan melalui Lapor Gub dan Lapor Walikota mengenai keberadaan sebuah air terjun atau curug di pinggir perkampungan yang belum dimanfaatkan sebagai tempat wisata.
Aku mendapat tugas untuk mengecek lokasi dan melakukan survei awal. Sederhananya, aku diminta melihat apakah tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup layak untuk dikembangkan menjadi wisata atau tidak.
Sebelumnya kami berkoordinasi dengan lurah setempat. Aku datang bersama pimpinan dan seorang teman kantor, kemudian diantar petugas kelurahan menuju kawasan curug. Namun kondisi akses saat itu cukup sulit sehingga yang akhirnya benar-benar sampai ke lokasi curug hanya aku dan Mas Tebo.
Walaupun air terjunnya sebenarnya terlihat dari pinggir kampung, belum ada akses langsung untuk turun ke sana. Kami harus memutar ke arah hilir, kemudian menyusuri aliran sungai menuju hulu melalui pematang sempit, bebatuan dan kawasan yang saat itu masih berupa semak belukar.
Ketika akhirnya sampai, menurut perkiraanku curug itu mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter. Debit airnya lumayan, tetapi ada satu hal yang langsung terlihat: airnya keruh. Aliran sungai di bagian atas memang melewati kawasan perkampungan.
Menurutku tempat ini mempunyai potensi untuk dikembangkan, tetapi jelas membutuhkan kerja keras. Selain persoalan akses, debit air juga tidak selalu stabil. Kondisi air yang keruh juga akan menjadi persoalan kalau yang hendak dijual hanya keindahan sebuah air terjun.
Hasil survei itu kemudian kulaporkan kepada pimpinan. Setelah itu proses pengembangan ditindaklanjuti oleh petugas lain yang memang mempunyai kewenangan dalam pemberdayaan masyarakat.
Sempat Dirintis, Lalu Seperti Tertidur Kembali
Dari informasi yang kuterima kemudian, masyarakat mulai bergerak. Dibentuk kelompok sadar wisata beserta pengurusnya. Akses menuju curug mulai dibuka meskipun masih berupa jalan tanah. Kabarnya sudah mulai ada pula pengunjung yang datang, walaupun jumlahnya masih sedikit dan belum berkelanjutan.
Setelah itu aku tidak lagi terlibat secara langsung.
Kurang lebih dua tahun kemudian, PLN menghubungiku. Saat itu mereka sedang mencari lokasi yang memungkinkan mendapatkan dukungan CSR untuk pembangunan infrastruktur wisata berbasis masyarakat. Tentu ada kriterianya. Destinasi tersebut harus sudah berjalan dan mempunyai pengelolaan masyarakat yang cukup baik.
Aku teringat Curug Gondoriyo dan mengajak mereka melakukan survei ke sana. Dalam bayanganku, setelah hampir dua tahun tentu tempat itu sudah berkembang jauh dibandingkan ketika pertama kali kudatangi.
Ternyata yang kami temukan justru sebaliknya.
Kawasan itu terlihat tidak terawat dan sama sekali tidak ada aktivitas wisata. Jalan turun menuju curug sebenarnya masih ada, tetapi curam dan licin. Di kawasan curug bahkan masih banyak ban bekas yang dulunya digunakan untuk bermain atau berenang di bawah curug.
Curug Gondoriyo seperti kembali tertidur.
Dengan kondisi seperti itu, akhirnya lokasi tersebut tidak dipilih untuk mendapatkan dukungan CSR PLN. Bagi PLN mungkin itu hanya satu dari beberapa lokasi yang disurvei. Tetapi bagiku kunjungan tersebut meninggalkan sesuatu dalam pikiran.
Sayang sekali kalau potensi sebagus ini berhenti begitu saja.
Sabtu, 6 Oktober 2018, Aku Datang Kembali
Ada dua alasan yang membuatku ingin kembali mendampingi masyarakat.
Pertama, menurutku potensi tempat ini sebenarnya cukup bagus. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kampus besar. Kalau dikembangkan dengan benar, aku meyakini pasarnya cukup besar.
Alasan kedua lebih personal. Aku memang menyukai aktivitas trekking ke curug-curug, terutama pada tanggal merah yang bukan akhir pekan. Sabtu dan Minggu biasanya kugunakan untuk pulang ke Jogja menjenguk anak dan istriku. Sejak dulu aku juga aktif dalam kegiatan pecinta alam dan menjadi salah satu founder keluarga pecinta alam di sebuah kampus di Jogja yang banyak bergerak dalam kegiatan outdoor dan ekowisata.
Karena itu ketika melihat Curug Gondoriyo, pikiranku tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana membuat orang datang melihat air terjun. Aku membayangkan sesuatu yang lebih jauh.
Bagaimana kalau Curug Gondoriyo dikembangkan menjadi ekowisata sungai?
Aku membayangkan masyarakat di kawasan hulu semakin mempunyai alasan untuk menjaga sungai dari sampah. Sungai yang bersih bukan hanya penting untuk wisata, tetapi juga berkaitan dengan kondisi wilayah di bawahnya hingga aliran menuju laut Semarang, termasuk persoalan banjir dan berbagai bencana lainnya.
Dalam pikiranku waktu itu ada hubungan yang cukup sederhana: kalau masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari sungai melalui aktivitas wisata, mereka juga mempunyai kepentingan untuk menjaga sungai tersebut.
Jadi cita-citaku sejak awal sebenarnya bukan sekadar menjadikan Curug Gondoriyo sebagai curug biasa. Aku ingin mencoba mendorongnya menjadi bagian dari sebuah ekowisata sungai.
Dengan pikiran itulah pada Sabtu, 6 Oktober 2018, aku kembali ke Gondoriyo.
Semuanya Dimulai dari Obrolan di Teras Rumah Pak RW
Masalahnya, aku sebenarnya belum mengenal masyarakat setempat. Ketika datang pada 2016, aku ke lokasi dalam rangka tugas dan diantar petugas kelurahan.
Aku kemudian meminta bantuan seorang kenalanku, relawan BPBD yang juga anggota Kelurahan Tangguh, untuk mengenalkanku kepada tokoh masyarakat. Dari situlah aku bertemu Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga.
Tidak ada rapat resmi. Tidak ada presentasi ataupun dokumen perencanaan yang tebal. Kami hanya duduk dan ngobrol di teras rumah Pak RW.
Walaupun baru pertama kali mengenal mereka secara pribadi, sambutannya sangat terbuka. Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga terlihat antusias. Mereka kemudian mengantarku turun kembali menuju curug sambil menceritakan apa saja yang sebelumnya pernah dilakukan.
Aku memotret, merekam video, mencatat penjelasan mereka dan mencoba melihat kembali kawasan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.
Menjelang makan siang kami mengakhiri survei karena orang-orang yang mengantarku mempunyai keperluan lain. Aku kemudian disuguhi makan sederhana: nasi, sayur Indomie dan ikan wader.
Entah bagaimana, dari pertemuan sederhana itu kami langsung terasa akrab. Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul sebelum akhirnya aku pamit.
Tetapi aku sudah mempunyai niat untuk kembali.
Ternyata Potensinya Bukan Hanya Curug
Pada kunjungan berikutnya, aku tidak hanya melihat curug. Aku meminta diajak berkeliling kampung untuk melihat apa saja yang sebenarnya dimiliki masyarakat.
Salah satu tempat yang kami datangi adalah Sawah Klombroh, kawasan persawahan di bawah aliran sungai curug yang lokasinya agak jauh ke bawah. Di sana aku melihat hamparan padi hijau dengan bentuk persawahan terasering, kolam ikan, gubuk-gubuk petani serta tanaman sela berupa sayuran dan buah-buahan.
Ada pula berbagai obang-abing, semacam memedi sawah yang dibuat masyarakat dari bahan-bahan lokal seperti batang pisang, bambu dan anyaman. Benda-benda itu dibuat agar bergerak untuk menakuti burung.
Survei kemudian berlanjut ke bagian lain kampung. Ada beberapa usaha kecil kerajinan tangan dan ada pula budidaya jamur.
Semakin banyak yang kulihat, semakin berubah pula cara pandangku. Kalau hanya menjual curug, kami akan selalu berhadapan dengan kelemahan debit air dan kondisi air yang kadang keruh. Tetapi kalau yang dikembangkan adalah wisata desa, seluruh kehidupan kampung bisa menjadi potensi atraksi.
Curug tetap menjadi magnet utamanya, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya yang dijual.
Membuka Kembali “Kitab-Kitab” Lamaku
Semua foto, video dan catatan hasil survei kubawa pulang. Di luar jam kerja kantor aku mulai mencoba mengolahnya sambil memikirkan satu pertanyaan: kalau tempat ini benar-benar ingin dikembangkan, mau dibuat seperti apa?
Aku kemudian membuka kembali “kitab-kitab” lamaku, catatan ketika dulu masih aktif dalam kegiatan lingkungan. Aku pernah mendapat sedikit pembelajaran dari teman-teman WALHI dan BKSDA Jogja mengenai pemberdayaan masyarakat.
Aku teringat sebuah metode bernama Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pemahamanku sederhana: masyarakatlah yang seharusnya merencanakan, membangun, melaksanakan dan mengelola. Kita yang datang dari luar cukup menjadi fasilitator, membantu membaca potensi dan memberikan arahan ketika diperlukan.
Konsep itu terasa pas untuk Gondoriyo.
Kalau suatu hari wisata ini berhasil, yang harus merasa memiliki adalah masyarakatnya sendiri.
Rabu Dibicarakan, Kamis atau Jumat Kadang Sudah Jadi
Mulailah diskusi-diskusi informal dengan warga. Aku mencoba memberikan arahan agar masyarakat bersemangat mengembangkan curug dan berbagai potensi di sekitarnya menjadi wisata yang nantinya bisa memberikan manfaat ekonomi.
Kami tidak langsung membicarakan sesuatu yang besar. Langkah pertama adalah memperbaiki akses. Setelah itu menambah taman, spot selfie dan tempat-tempat duduk dari kayu. Baru langkah berikutnya menyentuh curugnya sendiri.
Sebenarnya ada alasan mengapa bagian curug justru kutunda. Aku belum mempunyai jawaban untuk persoalan air yang keruh. Daripada seluruh proses berhenti hanya karena satu persoalan yang belum terpecahkan, kami mengerjakan terlebih dahulu apa yang bisa dilakukan.
Respons warga sungguh di luar dugaanku. Kadang sebuah ide baru kami bicarakan hari Rabu. Kamis atau Jumat ternyata sudah diwujudkan.
Proses perencanaan dan pembangunan seperti kejar-kejaran.
Sekitar 15 orang menjadi motor utama gotong royong. Ada bapak-bapak dan pemuda, sedangkan ibu-ibu biasanya menyiapkan makanan untuk mereka yang bekerja. Pada tahap awal kebutuhan makan dan minum banyak didukung Pak RW.
Masyarakat bahkan berani mengambil risiko untuk membiayai pembangunan. BPKB kendaraan dikumpulkan dan dititipkan kepada salah seorang pemimpin mereka sebagai bentuk komitmen bersama. Untuk mendapatkan pinjaman dari bank digunakan jaminan berharga lainnya.
Artinya, pembangunan itu bukan datang dari sebuah proyek besar.
Masyarakat sendiri yang berani patungan dan mengambil risiko untuk mewujudkannya.
Tidak Semua Orang Langsung Percaya
Tentu tidak semua warga sejak awal yakin rencana itu bisa diwujudkan. Ada yang menganggapnya terlalu sulit. Sebagian memilih cuek dan tidak ikut berpartisipasi.
Tetapi sekitar 15 orang tadi terus bergerak. Mereka membuka akses, membersihkan kawasan, membuat taman, tempat duduk dan berbagai atraksi sedikit demi sedikit. Pak RW menjadi salah satu orang yang sangat kuat memberikan dukungan.
Ketika perubahan mulai terlihat, perlahan sikap sebagian warga yang sebelumnya ragu ikut berubah.
Dari situ aku belajar satu hal: kadang orang tidak perlu terlalu lama diyakinkan dengan kata-kata. Mereka perlu melihat bahwa sesuatu benar-benar mulai terjadi.
Jembatan Comblang dan Cerita yang Menjual Gembok Kecil
Ide kemudian datang dari banyak orang. Pak RW, misalnya, mengusulkan memasang lampu kuning sepanjang kurang lebih 300 meter untuk menerangi jalur menuju curug. Ia bahkan berniat melihat sendiri jenis lampu di Taman Indonesia Kaya di pusat Kota Semarang dan membelinya menggunakan uangnya sendiri.
Ada pula Pak Ryan, salah seorang pemikir yang hampir selalu ikut dalam pertemuan. Kami sering berdiskusi mengenai atraksi dan spot foto yang harus dibuat berbeda serta mudah diingat pengunjung.
Dari proses itulah salah satunya lahir Jembatan Comblang, jembatan bambu yang menghubungkan sisi kanan dan kiri sungai. Jembatan itu dihias dengan payung-payung dan lampu sehingga menarik sebagai tempat berfoto.
Nama Jembatan Comblang kuusulkan untuk menciptakan cerita. Bayanganku sederhana dan hanya untuk seru-seruan sebagai atraksi wisata: pasangan yang datang harus selfie bersama di Jembatan Comblang supaya seolah-olah “dicomblangi” sampai ke jenjang pernikahan.
Tidak ada urusan mistis ataupun kepercayaan tertentu. Ini murni storytelling wisata.
Bahkan sempat muncul gagasan menjual gembok cinta. Pengunjung bisa membeli gembok kecil kemudian mencantolkannya di ujung jembatan.
Sebenarnya kami hanya ingin menjual gembok kecil.
Tetapi produk sederhana pun bisa mempunyai nilai ketika diberi cerita.
Air Keruh Membawaku Menemukan Niagara
Sementara pembangunan berjalan sangat cepat, satu persoalan masih terus mengganggu pikiranku: air curug yang keruh.
Aku mulai melakukan riset sederhana melalui internet. Dari proses pencarian itulah aku menemukan bagaimana Niagara Falls tampil pada malam hari dengan permainan cahaya.
Dari sana muncul sebuah ide.
Kalau air Curug Gondoriyo kurang menarik ketika terlihat keruh pada siang hari, mengapa tidak membuat penampilannya berbeda pada malam hari dengan cahaya warna-warni?
Saat itu istilah Air Terjun Bercahaya belum muncul. Yang ada baru gagasan memberi pencahayaan warna-warni pada curug.
Ketika gagasan itu kusampaikan, warga setuju. Masalah berikutnya, kami belum tahu persis jenis lampu yang cocok, kisaran harga dan bagaimana penggunaannya di kawasan yang dekat dengan air.
Aku kemudian teringat beberapa teman yang bekerja sebagai manajer karaoke. Mereka tentu lebih mengenal permainan lampu warna-warni. Kupanggil mereka ke Curug Gondoriyo yang saat itu masih dalam tahap pembangunan.
Kuceritakan apa yang kami inginkan. Mereka kemudian menjelaskan jenis lampu yang bisa digunakan, bagaimana memilih perlengkapan yang sesuai untuk kondisi di sekitar air, kisaran harganya, sampai menunjukkan toko di Kota Semarang yang menjualnya.
Setelah itu terjadi sesuatu yang sampai sekarang menurutku menggambarkan betul semangat warga Gondoriyo waktu itu.
Malam harinya mereka langsung membeli lampunya. Esok paginya sudah dipasang ramai-ramai. :)
Begitulah ritme pembangunan saat itu. Ide dan pelaksanaan benar-benar saling mengejar.
Lahirlah “Air Terjun Bercahaya”
Istilah Air Terjun Bercahaya justru baru muncul kemudian.
Saat itu aku mendapat kesempatan membuat materi pemasaran potensi lokal dan desa wisata untuk wilayah Kedungsepur—Kendal, Ungaran, Salatiga, Semarang dan Purwodadi. Di beberapa tempat aku sekaligus menjadi presenter atau marketing yang memaparkan berbagai potensi tersebut.
Ketika menyusun materi promosi itulah aku membutuhkan cara sederhana untuk menjelaskan apa yang berbeda dari Curug Gondoriyo.
Dari situlah muncul frase:
Air Terjun Bercahaya.
Aku kemudian membawanya dalam berbagai paparan dengan rasa bangga.
Menariknya, semua itu justru berawal dari sebuah kelemahan. Air yang keruh memaksa kami mencari pembeda. Kami memang tidak mampu mengubah kondisi sungai dalam semalam, tetapi kami bisa mencari cara agar curug mempunyai pengalaman yang berbeda.
Tiga Bulan yang Berjalan Sangat Cepat
Dari kunjungan pertamaku kembali pada 6 Oktober 2018, proses survei, diskusi, kerja bakti, pembukaan akses, pembuatan taman, tempat duduk, spot foto, Jembatan Comblang hingga pencahayaan kawasan curug berlangsung hanya sekitar tiga bulan.
Warga bekerja bergantian siang dan malam.
Ketika kemudian muncul keinginan untuk me-launching Curug Gondoriyo, mereka kembali bergerak. Kawasan curug dipercantik. Berbagai atraksi dipersiapkan, termasuk pembuatan jenang dan kesenian tradisional gejog lesung.
Proses untuk menghadirkan Walikota ditempuh melalui jalur pemerintah sekaligus komunikasi masyarakat. Bagian itu tidak perlu kuceritakan secara detail. Buatku yang lebih penting adalah melihat masyarakat begitu antusias mempersiapkan sebuah tempat yang hanya beberapa bulan sebelumnya masih terlihat seperti wisata yang sudah ditinggalkan.
Ketika peresmian akan dilakukan, aku diminta duduk di bagian depan. Aku memilih tidak melakukannya. Aku juga tidak ingin namaku disebut secara khusus dalam sambutan.
Aku memahami posisiku.
Sejak awal aku ingin menjadi fasilitator. Yang membangun tempat itu adalah masyarakat. Maka masyarakatlah yang selayaknya berada di depan.
Ada saja orang yang mungkin tidak banyak terlibat selama proses tetapi ketika peresmian datang kemudian menceritakannya seolah-olah semua itu merupakan usaha atau programnya. :)
Aku memilih tidak mempersoalkannya.
Masyarakat tahu siapa saja yang selama ini berjalan bersama mereka. Buatku itu sudah lebih dari cukup.
Ketika Hari Minggu Bisa Didatangi 700 Orang
Perlahan Curug Gondoriyo mulai dikenal. Pada masa ramainya, jumlah kunjungan pada hari Minggu bahkan pernah mencapai sekitar 700 orang.
Buatku angka itu bukan hanya soal keberhasilan mendatangkan wisatawan. Ada sesuatu yang lebih menarik karena berhubungan langsung dengan cita-citaku sejak awal.
Warga mulai mempunyai kepentingan untuk menjaga sungainya sendiri.
Hampir setiap hari ada warga yang membersihkan sampah agar kawasan wisata tetap bersih. Ketika banjir membawa sampah dan mengotori kawasan, mereka kembali turun melakukan pembersihan secara gotong royong.
Di situlah gagasan yang awalnya hanya ada dalam pikiranku mulai terlihat bentuknya. Ketika sungai memberikan manfaat kepada masyarakat, sungai tidak lagi sekadar aliran air yang melewati kampung.
Ia menjadi sesuatu yang mempunyai nilai dan karena itu perlu dijaga.
Ketika Wisata Tumbuh, Masalah Ikut Tumbuh
Ramainya pengunjung ternyata juga membawa persoalan baru. Salah satunya akses menuju curug. Ada bagian jalan yang terhalang posisi sebuah rumah sehingga ketika jumlah pengunjung meningkat, akses tersebut perlu diperlebar.
Pak RW dan Mas Arifin kemudian melakukan negosiasi dengan pemilik rumah. Pada akhirnya persoalan bisa diselesaikan dan jalan dapat diperlebar.
Pengalaman itu kembali mengingatkanku bahwa membangun wisata desa bukan hanya urusan atraksi dan promosi. Ada kepentingan banyak orang yang bertemu di ruang yang sama.
Ketika wisata tumbuh, persoalan yang harus dikelola juga ikut tumbuh.
Lalu Covid Datang
Ketika wisata mulai berkembang, datanglah Covid. Kunjungan menurun dan aktivitas wisata ikut terpukul.
Setelah masa Covid, muncul keinginan untuk mengembangkan kembali kawasan tersebut. Salah satu gagasannya adalah menggandeng investor untuk membangun kafe di dekat curug. Bayangannya cukup menarik: orang bisa datang, duduk minum kopi sambil menikmati view Curug Gondoriyo.
Tetapi kali ini persoalannya bukan tidak ada investor yang berminat. Justru muncul perbedaan pendapat di antara warga sendiri mengenai detail kerja sama yang akan dilakukan. Kesepakatan tidak tercapai sehingga pada akhirnya rencana investasi tersebut batal.
Bagiku itu juga bagian dari proses belajar.
Ketika belum mempunyai apa-apa, tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat percaya dan mau bergerak. Setelah wisata berkembang, tantangannya berubah menjadi bagaimana menyatukan kepentingan, mengelola aset dan membuat keputusan bersama.
Tengah Malam dan Sepotong Durian
Meskipun perjalanan Curug Gondoriyo mengalami pasang surut, hubunganku dengan masyarakat tidak berhenti ketika pembangunan selesai atau setelah peresmian dilakukan.
Kami tetap dekat.
Ada satu kejadian kecil yang sampai sekarang selalu membuatku tersenyum ketika mengingatnya.
Dulu aku tidak bisa makan durian. Kalau memaksa makan, biasanya malah ingin muntah.
Suatu malam aku mendapat undangan ngopi di kelurahan sebelah. Aku diminta membantu memotivasi dan menginisiasi wisata di kampung tersebut. Obrolannya panjang dan baru selesai sekitar pukul dua belas malam.
Untuk pulang aku memang harus melewati Gondoriyo. Warga yang sudah sangat akrab denganku menghubungi dan mengatakan bahwa jam berapa pun selesai, aku harus mampir ke Gondoriyo.
Akhirnya tengah malam aku mampir. Kami duduk di teras rumah Pak RT sambil ngobrol ngalor-ngidul. Suasananya sekaligus seperti nostalgia dengan masa-masa awal kedatanganku ke sana.
Di tengah obrolan, salah seorang warga tiba-tiba pamit keluar sebentar. Kupikir ia sudah mengantuk dan sebenarnya ingin pulang tetapi tidak enak mengatakannya.
Ternyata dugaanku salah.
Beberapa saat kemudian ia kembali membawa durian.
Aku langsung deg.
Dalam pikiranku ada dua pilihan yang sama-sama membuat bingung. Kalau menolak, rasanya tidak enak. Tengah malam orang sudah bersusah payah mengambil durian untuk menjamuku. Tetapi kalau kupaksa makan, aku takut malah muntah di depan mereka.
Akhirnya aku makan juga.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku menunggu.
Sampai sekitar lima menit kemudian terjadi “keajaiban”.
Aku tidak muntah. :)
Dan sejak saat itu sampai sekarang, aku justru suka durian.
Yang Tumbuh Ternyata Bukan Hanya Tempat Wisata
Kalau melihat kembali perjalanan sejak pertama datang pada 2016, kemudian kembali pada 6 Oktober 2018, Curug Gondoriyo memberiku pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana merintis sebuah destinasi.
Aku pernah melihat tempat itu ketika aksesnya masih sulit, dipenuhi semak dan airnya keruh. Aku melihatnya sempat dirintis kemudian kembali tidak terawat hingga gagal mendapatkan dukungan CSR. Aku kembali dan bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak kukenal.
Dari obrolan di teras rumah Pak RW, makan nasi dengan sayur Indomie dan ikan wader, berjalan melihat Sawah Klombroh, sekitar 15 warga yang tetap bergerak ketika sebagian lainnya masih ragu, sampai lampu yang dibeli malam hari dan esok paginya langsung dipasang, semuanya menjadi bagian dari proses belajar itu.
Aku juga melihat bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap sebagai kelemahan justru bisa melahirkan kreativitas. Air yang keruh membawaku menemukan Niagara, kemudian melahirkan gagasan pencahayaan, dan akhirnya menjadi branding Air Terjun Bercahaya.
Tetapi pelajaran terpenting bagiku tetap kembali kepada gagasan sederhana yang kubawa sejak awal: masyarakat harus menjadi pelaku utama. Orang seperti aku cukup mendampingi, memfasilitasi dan sesekali membantu membuka alternatif jalan. Mereka sendiri yang harus merencanakan, membangun, menjalankan dan pada akhirnya menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.
Karena itu mungkin ukuran keberhasilannya bagiku bukan apakah namaku pernah disebut ketika tempat itu diresmikan.
Aku datang pertama kali ke Gondoriyo karena tugas. Aku kembali karena merasa ada potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika tengah malam pun mereka masih memintaku mampir hanya untuk ngobrol dan makan durian bersama, aku sadar bahwa yang tumbuh di Gondoriyo ternyata bukan hanya sebuah tempat wisata.
Ada persaudaraan yang ikut tumbuh bersamanya.
Referensi Video : IG @Semarangpemkot