Sunday, June 7, 2026

Survival di Hutan Kota: Pengalaman Unik dan Menggelikan

Saya tidak pernah menyangka, niat sederhana untuk bertahan hidup di tengah hutan kota justru berubah menjadi pengalaman paling unik, menegangkan, sekaligus menggelikan yang pernah saya alami. Di tempat yang tampaknya biasa saja, saya belajar bahwa bertahan hidup tidak selalu melawan alam, kadang justru melawan kepanikan dan kebodohan diri sendiri.

Sebagai aktivis pecinta alam dan anggota MAPALA Magmagama Teknik Geologi UGM, saya pernah mengalami banyak petualangan menarik. Salah satu yang paling berkesan justru bukan terjadi di puncak gunung atau tengah hutan belantara, melainkan saat menjadi panitia kegiatan survival anggota muda.

Pada masa kejayaannya, Magmagama dikenal luas melalui Lomba Lintas Geowisata Berwawasan Lingkungan. Sebuah kompetisi yang memadukan petualangan, konservasi lingkungan, dan kepariwisataan. Peserta diuji fisik, kemampuan navigasi medan menggunakan peta dan kompas, survival, PPGD, manajemen perbekalan, hingga pemahaman konservasi dan Sapta Pesona.



Untuk menghasilkan anggota yang tangguh, proses pendidikannya juga tidak ringan. Setelah mendapatkan materi kelas, calon anggota harus menjalani survival selama 5 hari 5 malam. Bekalnya hanya 11 batang korek api, secuil garam, pakaian yang melekat di badan, serta memilih membawa jaket atau sarung. Ponco wajib dibawa sebagai shelter agar peserta tidak merusak alam dengan menebang pohon untuk membuat bivak.

Biasanya survival dilaksanakan di kawasan Gunung Merapi. Namun saat itu Merapi sedang berstatus siaga dan banyak gunung lain juga ditutup untuk kegiatan alam bebas. Setelah berdiskusi panjang, panitia akhirnya memilih Alas Wanagama di Gunungkidul sebagai lokasi survival.

Saat survei lokasi, kami sempat dibuat waswas karena menemukan biawak besar di sekitar Kali Opak yang berbatasan dengan kawasan hutan. Akhirnya perhatian panitia lebih banyak tertuju pada aspek keamanan peserta dan ketersediaan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Karena terlalu fokus pada hal-hal tersebut, kami justru lupa satu hal yang sangat mendasar. Kami lupa bahwa Alas Wanagama ternyata tidak benar-benar terpencil.

Lima hari kemudian, kegiatan survival selesai. Anehnya, hampir semua peserta tampak segar bugar. Tidak ada yang terlihat kurus, lemas, atau kekurangan tenaga sebagaimana biasanya peserta survival setelah lima hari hidup dari hasil alam. Awalnya kami bangga. "Wah, ternyata kemampuan survival angkatan ini luar biasa." Namun kebanggaan itu tidak bertahan lama.

Dari berbagai cerita yang akhirnya terungkap, ternyata beberapa peserta menemukan "jalur evakuasi rahasia". Saat malam hari mereka diam-diam keluar dari kawasan hutan, berjalan menuju permukiman penduduk, lalu membeli makanan dan minuman. Ada yang makan mie instan. Ada yang membeli gorengan. Bahkan kabarnya ada yang sempat menikmati minuman dingin.

Pagi harinya mereka kembali ke lokasi survival dengan wajah polos seolah-olah baru saja berhasil berburu dan mengolah tanaman liar hasil hutan. Pantas saja setelah lima hari semua peserta terlihat sehat dan bertenaga. Bukan karena kemampuan survival mereka luar biasa. Ternyata karena warung warga sekitar ikut menjadi bagian dari sistem pendukung logistik yang tidak tercantum dalam kurikulum pendidikan dasar Magmagama. Sejak saat itu kami belajar satu hal penting dalam dunia pendidikan alam bebas:

Dalam kegiatan survival, ancaman terbesar tidak selalu berasal dari hutan, cuaca, atau satwa liar. Kadang justru berasal dari warung makan yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari lokasi kegiatan.

Dan itulah salah satu pengalaman paling menggelikan yang sampai sekarang masih sering menjadi bahan tertawaan setiap kali alumni Magmagama berkumpul. 😄

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.