Tuesday, December 23, 2014

Di jembatan setan anganku melayang jauh, menimbulkan getaran rindu yang tak terperikan. Dadaku berdegub kencang, air mataku menetes tak tertahankan. Setiap tebing yang kudaki, setiap kelokan yang kulewati mengingatkan memori indah kebersamaan dengan anak-anak pertamaku di kapala. Puncak dari segala puncak gejolak perasaan ini tumpah di puncak syarif, tak ada kata yang terucap ... hanya isak tangis...

Puncak Merbabu Kapala 2014

Merbabu 15 tahun lalu
Kisah cinta ini bermula dari perkenalanku dengan mas pri, ardianta, calvin dan rara. Kisah cinta seorang yang belum berani mengaku sebagai pecinta alam karena kejujurannya pada diri sendiri dan Tuhan. Kejujurannya bahwa perjalanannya ke Puncak – Puncak Gunung, menuruni lembah, memasuki lorong goa yang gelap dan menyusuri sungai  adalah bentuk aktifitas penikmat alam bukan pecinta alam.
Kisah cinta berlanjut seiring dengan proses kesadaran untuk lebih mencintai alam.  Sebuah kesadaran untuk mencoba mendefinisikan hakekat pecinta alam yang sesuangguhnya. Kesadaran untuk lebih memahami segala bentuk aktifitas hedonis di alam bebas untuk pencarian jati dirinya. Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bertualang? Benarkan aku seorang pecinta alam? Atau sekedar penikmat alam yang menimbulkan kerusakan semak belukar dan pepohonan yang menyebabkan bencana bagi umat manusia?
Pertanyaan – pertanyaan yang terus berkecamuk dalam kehidupan nyata bagaikan mimpi di siang bolong yang selalu mengusik hati dan pikiranku. Pertanyaan – pertanyaan yang seolah tak pernah puas dengan jawaban para senior dan sesepuh pecinta alam. Pertanyaan yang butuh  proses perenungan diri untuk menjawab dan memaknainya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Pertemuanku dengan mas pri berlanjut di meja perundingan yang akrab namun seru dan penuh perdebatan. Keinginannya untuk mendirikan mapala di kampus mas Pri menimbulkan pemikiran baru di kepalaku. Mas Pri selalu mengulang – ulang pernyataannya bahwa salah satu yang menyebabkan keinginannya mendirikan mapala adalah rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kental saat mendaki gunung. Tentu saja banyak alasan lain yang dia kemukakan, namun dari pengertian mapala = mahasiswa pecinta alam, dan rasa kebersamaan dan kekeluargaan itulah kemudian konsep “kepedulian terhadap sesama dan alam” menjadi dasar kesepakatan awal untuk pendirian mapala.
Truk Pasir
Deru suara truk mengaung menggema membelah sore mendaki tanjakan wekas. Kepanikan muncul ketika truk tiba-tiba berhenti ditengah tanjakan. Sontak beberapa anak laki-laki meloncat turun dan mencari batu sebagai pengganjal agar truk tidak melorot turun. Peristiwa kepanikan itu merupakan konsekwensi penggunaan truk angkutan pasir untuk mengangkut manusia. Maklum saja faktor biaya yang jauh lebih murah dibanding sewa bus menjadi alasan utama.
“Naik angkutan apapun jadilah asalkan cita-cita menggapai salah satu atap tanah jawa tercapai”, begitu kata mas pri dan seluruh peserta pendakian massal. Dalam suasana penuh sendau gurau dan senandung nyanyian silih berganti akhirnya truk menepi di tikungan wekas yang legendaris. Tikungan sejarah yang menjadi penanda para pendaki turun dari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan berjalan kaki. Tikungan yang sangat dikenali oleh para kenek dan sopir magelang – salatiga. Saking legendarisnya tikungan itu maka setiap ada penumpang yang membawa carier diturunkan disana tanpa ditanya.
Tanjakan wekas menuju basecamp pendakian merbabu adalah ujian pertama peserta pendakian massal. Tak satupun dari mereka yang pernah menginjakkan kakinya di Merbabu sehingga ujian pertama ini sebagai bentuk seleksi alam bagi peserta yang mudah menyerah. 3 peserta menggigil dan beberapa diantaranya muntah-muntah karena masuk angin. Guyuran hujan dan cuaca dingin menjadi penyebabnya.

Setelah mendapatkan perawatan dari rekannya dan istirahat semalaman, semua peserta menyatakan kesiaapannya untuk mendaki merbabu di keesokan harinya. Dewi dan sandra yang dianggap paling lemah diantara yang lainpun menyatakan ingin terus mencoba menginjakkan kaki di puncak merbabu. Semangat pantang  menyerah yang menjadi modal awal sangat membanggakan untuk di  kemudian hari  mendirikan organisasi.
bersambung bag 2

Wednesday, December 17, 2014

"Apa yang ingin kamu buktikan sudah terbukti. Kota lama seakan bersemi kembali dengan peristiwa ini. Apalagi yang ingin kamu buktikan? Bukankah semua sudah kuceritakan dan saat ini semua sudah kau saksikan kejadian langsung tanpa rekayasa dan persengkongkolan?"

http://sejarahsemarang.wordpress.com

Kebersamaan di Kota lama ini bukanlah kesengajaan. Saat itu kamu sakit kepala berkepanjangan karena tensimu yang drop. Kutawarkan untuk mencari sate kambing yang istimewa agar tensimu bisa normal kembali. Kamu mengiyakan dan kita makan sate kambing berdua. Tak ada angin dan hujan ketika telponku berdering dan ada perintah untuk menuju ke Kawasan Kota Lama Semarang untuk meninjau suatu lokasi. Jadi kamu pasti meyakini bahwa ini bukan peristiwa yang direncanakan sehingga pembuktian yang kamu inginkan akan berjalan mulus.

Kekacauan dan kesemrawutan ini salah satunya akibat informasi yang salah. Dan salah satu yang menambah keruwetan itu adalah hipotesismu tentang aku. Aku sungguh - sungguh ini tertawa keras - keras dengan hipotesis yang kamu kemukakan sekaligus kamu publish yang kemudian termakan oleh para pencari gosip murahan.

Piye saiki wes puas toh? menyaksikan semua yang terjadi? atau masih perlu pembuktian kembali? Kurasa dari raut wajah dan bahasa tubuhmu aku bisa melihat titik titik kegembiraan yang menandakan seakan Kota Lama ini bersemi kembali. Terima kasih hipotesismu salah dan mohon bantuan untuk merehabilitasi nama baikku yang sudah sudah terlanjur tercemar ini.

Gak usah publish di media cetak dan elektronik. Cukup kamu lakukan klarifikasi dan publikasi ke pencari gosip picisan yang biasa merekayasa  dan mengemas gosip jadi seakan berita aktual dan terpercaya itu. Matur nuwun


Sunday, December 14, 2014

"Di Lawangsewu ini aku ingin mengatakan bahwa aku bersalah. Aku minta maaf telah meninggalkan kesan yang kurang baik. Namun ketahuilah bahwa sesungguhnya aku selalu mengagumimu, selalu menceritakanmu kepada teman-temanku, kepada orang tuaku hal apa saja tentangmu. Aku tak perlu mengatakan apa yang kurasakan, Mas bisa menyimpulkan sendiri apa yang kurasakan. Biarlah Lawangsewu menjadi saksi pengakuan salahku sekaligus perasaanku"


"Peristiwa ini membuatku semakin mengagumimu. Kebesaran hatimu untuk mengakui kesalahan adalah hal penting untuk diapresiasi. Terlepas bahwa kesalahan itu tidak mungkin berdiri sendiri, ada sebab akibat, ada rentetan peristiwa dan seterusnya yang membuat sebuah kesalahan itu terjadi. Akupun termasuk dalam lingkaran kesalahan ini, jadi maafkan aku juga ya! Okelah semua sudah berakhir, momen ini semoga menjadi awal hubungan kita kembali. Hubungan yang sehat, sinergis dan saling memberi manfaat. Dari awal akupun tidak bermaksud macem-macem atau neko-neko terhadapmu. Bahwa aku mengagumumi... iya, bahwa aku menyayangimu .. iya, bahwa aku mempunyai perasaan yang spesial... iya. Namun rasa itu semua bukan berarti kita harus berpasangan sebagai layaknya seorang pria dan wanita. Hubungan spesial itu bisa bermacam - macam, cara mengungkapkan perasaan spesial itu juga bermacam - macam. Tidak harus bersifat jasmani. Kadang - kadang ungkapan hati dari sebuah perbuatan, sikap dan tingkah laku yang ditunjukkan dari bawah sadar itu lebih dari segalanya. Apa kamu bisa mengerti dan memahami ke unikan dan spesialnya hubungan kita ini? pertanyaanku padanya sekaligus mengakhiri percakapanmu senja itu di lawangsewu.

Kini semua sudah berakhir, cerita drama itu sudah berakhir di selesaikan pada sebuah senja di lawangsewu. Selamat jalan dan selamat berkarya untuk negeri tercinta Indonesia. Aku yakin kami bisa membuktikan bahwa orang-orang yang menilaimu hanya dari sisi kecantikan wajahmu dan keindahan tubuhmu itu salah. Karena karya besarmu akan mengubah generasi se usiamu untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.






"Ini bukan tentang perbedaan pendapat, ini juga bukan soal pekerjaan yang berat. Ini adalah tentang sikap dan pandangan hidup, ini soal idealisme pribadi"


"Akhir - Akhir ini sikapmu sudah benar. Caramu menyikapi permasalahan sudah positif. Lalu kenapa kamu sekarang berubah? kenapa seakan aku tidak mengenalmu sebagai pribadi yang selalu riang dan lincah?", desakku ditengah perbincangan yang semakin hangat sore itu di lawangsewu. Sekejap dia memandang wajahku, lalu tertunduk dan sekejap kemudian tetes - tetes air mata jatuh ke pipinya yang kemerah - merahan.
"Aku memang tidak pernah menyebutmu mas, aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai orang spesial secara pribadi. Aku selalu memanggilmu pak. Karena aku ingin selalu menghormatimu dan menghargaimu sebagai seorang tua yang selalu membimbingku, mengarahkanku dan lebih dari itu, kamu selalu memberiku motivasi dan nasehat - nasehat tentang hidup, pekerjaan dan bahkan tentang segala rasa yang ada di hatiku. Ketika aku mencintai seorang laki - laki yang menurutku baik, kamu selalu bisa memberiku nasehat untuk berhati - hati, untuk menjajaki hati dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan. Ketika aku di dekati temanku yang menyatakan perasaan hatinya padaku, kamu selalu mengatakan agar aku merespon dan menanggapi dengan baik, menolak pun harus dengan cara yang baik. Lebih dari itu kamu menasehatiku dengan penuh kejujuran dan tidak pernah punya maksud pribadi. Semua keputusan selalu kamu serahkan padaku, tidak pernah memaksakan nasehat sebagai keputusan akhir yang harus ku jalankan. Sejujurnya hari ini, saat ini aku ingin mengatakan padamu mas. iya aku saat ini memanggilmu mas agar aku merasakan kedekatan ini sebagai kedekatan seorang perempuan kepada seorang pria. Aku ingin mengatakan bahwa aku akhir - akhir ini keliru menilaimu mas. Aku bingung. Orang - orang disekitarku memberikan cerita - cerita yang menilaimu selalu negatif. Aku tak tau harus berpegangan pada siapa. Yang kemudian menjadikan sikapmu padamu berbeda, yang kamu rasakan tidak salah mas. Benar adanya bahwa 2 minggu terakhir aku merasa benci padamu, aku merasa kamu bohong padaku, aku merasa jijik melihatmu. Sengaja ini semua ini ku ungkap agar kamu tahu mas.... bahwa aku memang salah. aku keliru menilaimu di saat akhir-akhir yang seharusnya menjadi saat - saat yang manis dalam hubungan kita", cerita gadis itu tanpa bisa kusela. Dan dia terus mengatakan isi hatinya sambil sesekali mengusap air mata yang terus menetes seakan mengimbangi ceritanya yang deras mengalir tak henti henti... (bersambung 2)


Saturday, December 13, 2014

"Kenapa orang selalu memandangku hanya dari sisi fisik? karena aku cantik? terus orang gak mau ngerti aku dari sisi yang lain? klo aku tiba-tiba jerawatan atau oleh suatu sebab tidak cantik lagi lalu mereka pergi dariku? klo aku sudah tua, tidak cantik lagi mereka menyingkir dari hidupku?"

www.semarangkota.go.id

"Tidak semua orang memandangmu seperti itu. Kamu harus bersyukur dikaruniai wajah cantik dan tubuh yang ideal untuk seorang wanita karena banyak wanita lain yang ingin sepertimu. Sebuah kewajaran bagi laki-laki ketika melihat wanita cantik kemudian pengen kenalan, pendekatan dan akhirnya menginginkanmu. Kamu tidak bisa menolak kodrat. Kamu tidak boleh mengeluh karena keindahan yang kamu miliki. Justru yang harus kamu sadari adalah bahwa godaan, rayuan dan pendekatan yang dilakukan para makluk lelaki itu merupakan konsekwensi logis dari kecantikanmu dan keindahan tubuhmu. Kamu tidak berhak melarang mereka menyatakan sayang, cinta atau bahkan menginginkanmu untuk menjadi teman, pacar atau bahkan pasangan hidup. Yang harus kamu lakukan adalah merespon semua itu dengan baik dan berani mengatakan iya atau tidak terhadap semua ajakan, rayuan atau godaan sesuai dengan hati nurani, selera dan pilihan hidupmu", begitulah saran yang selalu kuberikan berulang - ulang ketika Gadis Lawangsewu itu curhat padaku.

Aku bisa memahami kegalauan hatinya ketika sekolah teman - teman cowok di kelasnya berebut untuk menjadi pacarnya, ketika dia magang di perusahaan beberapa atasan dan rekan kerja laki-lakinya  menggodanya untuk diajak jalan, nonton atau bahkan ke hiburan malam. Dan ketika dia bekerja, banyak teman kantor laki-lakinya sengaja menggoda untuk sekedar mengajak jalan, menjadikan istri simpanan atau bahkan hanya iseng sekedar mengajak bobok bobok siang. Sebuah karunia yang sempurna sekaligus ujian kehidupan yang berat untuknya.

Senja itu dia mengajakku jalan - jalan ke Lawangsewu. Dengan senang hati aku menyanggup untuk menemaninya. Aku tahu bahwa ini bukan sekedar jalan - jalan, namun aakan selalu diselingi cerita - cerita kesedihan dan kegalauan berkenaan dengan godaan atau rayuan lelaki disekeliling hidupnya. Aku tak bosan selalu mendengarkan dan memberikan semangat agar terus bersikap positif dan merespon dengan benar apapun godaan yang datang. (bersambung bag 2)

Saturday, November 22, 2014


"I want you to know that every moment i spent with you is the most beautiful thing in my life"

Setiap jawaban yang diberikan membuatku semakin kagum, setiap hari terustumbuh dan berkembang layaknya anak balita lainnya, namun ada sebuah perbedaan yang membedakan dari yang lain, yaitu ide kreatif yang terus menerus muncul dari cerita sanguinisnya.

Kisah pertama :
Jumat beberapa minggu yang lalu seperti biasa aku pulang menengok Dikadut jagoan kecilku yang sudah menginjak 4 tahun. Setelah bersitirahat aku mendengarkan cerita dari mamahnya bahwa hari ini dikadut gak mau masuk paud dengan berbagai bumbu cerita kenakalannya yang lain. Beberapa saat kemudian aku panggil dikadut dan dengan lembut aku tanya, " Dut... kenapa hari ini gak mau masuk sekolah?"
Dikadut, " Gini pah. Aku kan sayang papah. Terus hari ini kan jumat. Papah pulang, jadi aku gak sekolah karena mau jemput papah pulang "
***

Kisah kedua :
Suatu senin, Dikadut berangkat paud sendiri, karena sejak tahu bahwa mas nya sudah sekolah sd dan gak dianter sama ibunya, Dikadut sudah tidak mau lagi dianter sekolah PAUD. Namun hari ini berbeda dari biasanya karena setelah sampai sekolah, Dikadut pulang lagi menjemput pamomongnya diajak ke sekolah. Setelah sampai sekolah, Dikadut gak mau masuk kelas, tetapi minta ditemani pamomongnya bermain di halaman. Sudah dibujuk oleh guru, teman-teman dan pamomongnya tetap gak mau masuk kelas.
Ketika hari jumatnya aku pulang, segera kutanyakan cerita itu ke dikadut dengan harapan dapat menasehati dan membujuknya agar kejadian itu tidak terulang lagi. ' Dut... kata mamah, hari senin kamu gak mau masuk kelas, tapi minta ditemeni budhe war bermain di halaman sekolah, kenapa?"
Dikadut, " Pah... kalo tanya tuh jangan yang sudah kemaren atau yang tadi - tadi. Nanyanya yang besuk - besuk aja. Besuk dik dika mau main kemana atau mau beli mainan apa?, gitu pah"
****

Kisah ketiga
Suatu sore Dikadut bermain anak ayam yang dicat warna warni. Ulahnya ngecatnya ini terinsiprasi dari penjual anak ayam yang di pasar. Cerita ini bukan tentang ulahnya mengecat ayam yang menurutku sudah biasa dilakukan oleh anak-anak sebayanya. Cerita ini adalah tentang ide dan pemikiran dikadut yang menurutku benar-benar cemerlang. Ketika dikadut tengah asik bermain anak ayam, tiba - tiba muncul kucing dan menerkam ayam mainannya. Tak diduga ayam itu mati. Dan Dikadut menangis tersedu sampai lama. Dikadut sangat menyayangi mainannya itu karena emang menurun dari mamahnya sebagai pecinta binatang. Untuk membujuk agar tidak menangis, mamahnya menawarkan untuk membeli saja anak ayam di pasar esuk harinya.
Minggu pagi dikadut membeli ayam bersamaku dan mamahnya, dengan penuh girang dibawa pulang dan bermain lagi diteras rumah dengan anak ayam sejumlah 4 ekor. Tiba - tiba dikadut bilang ke mamahnya, " Mah ada 1 ekor anak ayamnya yang cewek...." Mamahnya bingung dan bertanya ke dikadut, " Kok tau kalo anak ayamnya cewek?". Dengan senyum - senyum dikadut menjawab," iya mah karena yang satu ayamnya berwarna pink, warna kesukaan cewek"... hahaha kami semua tertawa terpingkal - pingkal dengan jawaban sanguinisnya itu.
Cerita belum selesai. Mengingat kemaren ayamnya mati karena diterkam kucing, aku menasehati agar ayam- ayamnya yang dikeluarkan dari kandang 1 ekor saja, yang lain ditaruh di kandang agar gak diterkam kucing.
Dikadut menjawab, " Pah.. aku punya ide. Aku mau bawa binggo ke sini, agar nanti kucingnya ganti diterkam sama binggo." (Binggo nama anjing peliharaan pamomongnya). Lalu kujawab, "klo binggo dibawa kesini, selain nerkam kucingnya nanti juga nerkam anak ayam nya kan?"
Dikadut menjawab, " Binggo itu baik pah, dia gak makan anak ayam kecil, dia juga gak makan makanan manusia, karena binggo itu hanya mau makan tulang - tulang dan makanan yang gitu - gitu"
***

Wednesday, November 19, 2014


"Ini bukan cerita tentang kepahlawanan, ini juga bukan tentang kisah mistis yang menyeramkan, namun ini adalah kisah nyata pertemuan seorang pendaki yang dalam kesendirian bertemu dengan penunggu sumbing"

Keberanian yang muncul di saat titik terlemah memunculkan cerita lain yang lebih seru dan menegangkan. Ketika tatapan mataku sudah menjulang ke puncak, kesulitan muncul lagi. Senterku terjatuh dan bolam lampu putus. Namun keberanian adalah keberanian. Dengan langkah hati - hati aku tetap merayap mendaki lereng sumbing dengan hati yang mantap. Tak sampai sepeminuman teh, muncul lagi kesulitan karena kabut turun disertai titik - titik air yang sangat dingin. Kondisi gelap, tidak ada penerangan karena bolam putus membuatku mati kutu. Melanjutkan pendakian berarti bertaruh nyawa karena bisa kesasar atau jatuh ke jurang, namun berhentipun bukan berarti pilihan yang aman karena dengan perlengkapan yang terbatas juga akan berarti kedinginan atau bahkan beku.

Pertolongan Tuhan lah yang akhirnya aku bisa mengambil keputusan yang tepat. Di lereng yang terjal itu ada lubang yang dapat kumanfaatkan sebagai perlindungan. Dengan ponco dan seutas tali aku buat bivak diatas lubang itu dan dengan bekal sarung dapat melindungiku dari dinginnya kabut. Tak lupa perlengkapan perapian dari lilin dan kaleng yang sudah kusiapkan dari rumah  kunyalakan sehingga menambah hangatnya bivakku. Sekejap aku terlelap.....


Entah mimpi atau nyata, tiba-tiba aku sudah melanjutkan pendakian menuju puncak sumbing. Langit cerah, kabut tidak menampakkan diri dan rintik hujan telah reda. Jelang Watu Kotak aku bertemu dengan seorang laki - laki berjambang yang sedang duduk sambil makan nasi hangat yang masih mengepulkan asap. Makannya lahap sekali dan sesekali minum kopi hangat. Ketika aku melangkah disampingnya, Pak tua menawariku untuk bergabung makan bareng. " Mas... Monggo dahar sarapan rumiyen...", kata pak tua padaku. Kujawab, "injih matur nuwun pak, meniko badhe muncak rumiyen", 
Kulanjutkan langkahku sedikit berbelak kekiri menuruni lereng, karena emang jalan menuju puncak berkelok ke kiri akibat jalur utama yang longsor. Tak jauh setelah ku melangkah, aku mencoba mengingat sesuatu. Penampakan pak tua tadi kupikir agak aneh, jam segini pagi makan nasi hangat yang masih mengepul? dan tidak kulihat ada perapian atau alat masak di sekitarnya. Lalu nasi itu bagaimana tetap panas? tak sadar ku menengok kebelakang untuk memastikan kebaradaan pak tua itu dan betapa kagetnya ketika di dekat watu kotak tidak ada siapa - siapa, tidak ada orang ataupun nasi yang mengepul.
Bulu kudukku berdiri, merinding. Tak sadar aku berbalik dan mengambil langkah seribu kembali turun gunung... * inikah penunggu sumbing?*

Tuesday, November 18, 2014

"Suasana begitu sepi, bulu kuduk ku meremang, pohon tua itu bergerak - gerak bagaikan Genderuwo yang siap menerkamku. Kupaksa kakiku terus melangkah namun tak bisa. Akhirnya kuterduduk lemah  di jalan setapak lereng sumbing yang gelap....,        inikah rasa takut itu?"


Jelang pukul 00.00 tidak ada satupun pendaki yang naik Gunung Sumbing, sehingga kuputuskan untuk mencoba mendaki sendiri. Pikirku tanggung banget sudah sampai basecamp klo tidak jadi naik hanya karena tidak ada teman. Semua perlengkapan kuperiksa ulang dan packing lagi untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. 
Dengan hati berdebar kakiku mulai melangkah setapak demi setapak melewati ladang penduduk yang ditanami tembakau. Cuaca yang dingin semakin mempercepat langkahku agar terus bergerak agar tidak kedinginan. Namun menjelang memasuki hutan Suasana begitu sepi, bulu kuduk ku meremang, pohon tua itu bergerak - gerak bagaikan Genderuwo yang siap menerkamku. Kupaksa kakiku terus melangkah namun tak bisa. Akhirnya kuterduduk lemah  di jalan setapak lereng sumbing yang gelap....,        inikah rasa takut itu?
Aku benar - benar mengalami ketakutan yang hebat hingga aku terus duduk dan diam sambil terus mencoba membangkitkan semangat. Sejujurnya ada keinginan untuk turun kembali, namun sekali lagi hatiku berkata bahwa aku harus bisa mengatasi rasa takut ini. Sedetik... semenit... setengah jam berlalu ketika tiba-tiba pendengaranku bisa menangkap suara - suara alam yang terdengar merdu, Gemiricik suara air di lembah, derit pepohonan yang terkena dan sesekali terdengar suara binatang hutan seakan perpaduan simponi paduan suara nan merdu ditengah hutan lereng sumbing. Hatiku bersorak girang, semangatku membara dan tanpa menunggu lebih lama aku segera berdiri dan melangkahkan kaki menapak mendaki sumbing. Setapak demi setapak, langkah demi langkah kususuri lereng pegunungan, punggungan bukit, tebing terjal dan juga bebatuan padas yang licin dengan penuh perasaan, serasa aku menemukan kenikmatan dalam kesendirian. Apakah ini pertanda pencerahan dari sang pencipta? ataukah karena kondisi sesaat karena keadaan yang memaksaku untuk berani? (Bersambung...)



"Luka ini tak sedalam yang dikira orang, karena sebenarnya hatiku tak terluka karenamu. Keadaanlah yang memaksaku seakan akan terluka, walau sebenarnya kenangan indahmulah yang bersemayam di hatiku"

Buyarnya lamunanku yang indah terbayar oleh nikmatnya kopi hangat nenek rusmi, Wanita penjaja warung diantara beberapa wanita tua yang menarik hatiku. Orangnya ramah, bibirnya selalu tersenyum sambil sesekali menyapa hangat pendaki yang melintas di depan warungnya. Keramahan Nenek Rusmi yang terpancar dari sorot mata dan tegur sapanya kepada orang yang baru dikenalnya inilah yang membuatku memilih mampir di warungnya.


Suguhan kopi hangat itu pada akhirnya menjadi teman lamunanku yang baru. Ketika nenek Rusmi sibuk melayani pendaki yang lain, kembali anganku melayang. * ini bukan tentang cinta, juga bukan tentang wanita. tapi ini adalah tentang cita - cita dan pilihan hidup.*

Sumbing 18 Tahun Lalu...
Pendakian itu bukan sembarang pendakian karena saat aku mendaki hatiku sedang kesal dan galau se galau - galaunya mahasiswa yang terjatuh secara akademik. Predikat unggulan, penerima beasiswa dan konon katanya pekerja keras tidak menolongku ketika aku mengerjakan soal ujian tengah semester dengan sangat ceroboh. Dan kecerobohan itu akhirnya kubayar mahal. 
Kecerobohan di bangku kuliah saat uts berlanjut di saat pendakian, aku benar - benar merasa bodoh sebodoh bodohnya orang karena jatuh pada lubang yang sama. inikah aku?
Kenangan itu benar - benar membekas karena kemudian ternyata membesarkanku di dunia petualangan dan pecinta alam yang juga ternyata kemudian menjadi bekalku yang penting untuk profesi dan pekerjaanku yang beberapa saat lalu telah kupilih sesuai nasehat ibuku. Iya aku memang memilih untuk mengikuti nasehat ibunda tercinta dalam memilih pekerjaan dan profesi.**

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, basecamp pendakian sumbing masih sepi. Hanya aku sendirian yang sejak sore sudah disitu. Benar - benar diluar perkiraan karena biasanya sumbing selalu dikunjungi banyak pendaki dari jogja, solo, magelang, temanggung, wonosobo, semarang dan sebagainya. Malam ini benar - benar sepi tak ada pendaki selain aku. Ada apa ini? (Bersambung)




"Gemericik suara air itu mengingatkanku pada seseorang. Bagaikan irama musik orkestra di sebuah panggung konser yang mewah, namun tetap syahdu melantunkan tembang cinta yang romantis. Itukah isi hatimu?

Petualangan dan kisah seru mungkin bukan barang baru lagi bagiku, namun perjalananku kali ini mengandung seribu makna. Entah bagaimana awal mulanya, namun persoalan yang simpel bisa menjadi rumit dan persoalan yang rumit menjadi tambah ruwet. Inilah periode galau tingkat dewa untuk kesekian kalinya pada era baru menjalankan profesiku.
Kisah tiada ujung ini menjadikan pembelajaran yang komprehensif terhadap perilaku, sikap dan karakter kita dalam menghadapi orang lain dengan perilaku, sikap dan karakter yang bermacam - macam pula. Serigala berbulu domba, musuh dalam selimut ataupun menelan ludah sendiri adalah peribahasa - peribahasa yang menjadi akrab dalam persaingan kehidupan yang keras dan ketat ini,

Kisah yang berawal manis, tiba - tiba berubah menjadi asam, manis, pedas dan bahkan pahit. sebuah racikan menu kehidupan yang menggambarkan betapa kompleknya persoalan hidup, sementara prinsip hidup mulai ditinggalkan dan berganti dengan kepentingan sesaat. Kekuasaan, wanita dan uang seakan menjadi satu kesatuan yang membelenggu seseorang dari kehidupan nyata dan utuh sehingga mengganggu harmoni kehidupan di alam ini.
Tiba - tiba lamunanku terputus. Tegur sapa lembut yang bersahabat dari seorang nenek penjual makanan di bawah curug semirang menawarkan dagangannya membuat buyar lamunanku. Untuk sekejap kuterdiam dan sedetik kemudian kutersenyum sambil menegur ramah pada nenek pedagang.



"Iya nek... white coffe nya satu, intel rebusnya satu", kataku pada nenek itu. Sambil tersenyum ramah, nenek itu segera memasak intel yang kupesan dan membuatkan kopi hangat untukku. (bersambung )


Monday, November 17, 2014


"Orang banyak menyukaimu itu konsekwensi logis dari parasmu yang ayu, tubuhmu yang indah dan kecerdasan otakmu yang diatas rata-rata. Tidak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk menyukaimu termasuk kamu sendiri. Yang dapat kamu lakukan adalah bagaimana merespon dengan sikap yang baik, sopan dan tidak menyinggung perasaan"

Ketika beberapa kali kamu mengeluhkan banyak orang yang menyukai dan naksir dirimu, berulang - ulang pula kalimat itu menjadi jawabanku. Sebuah konsekwensi logis dari anugerah Tuhan berupa kecantikan dan keindahan yang ada pada dirimu pastilah banyak yang melirik dan mencoba untuk mendekatimu. Diskusi itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu yang puncaknya pada saat pesta sanguin....

Sekarang saat kamu sudah tidak disini, ketika sudh terjun langsung ke masyarakat, aku yakin pola pikir dan keputusan-keputusanmu sudah mapan. Cara bersikap dan memberikan jawaban atas persoalan - persoalan yang menimpamu semakin matang dan dewasa. Itulah harapan dan keinginan yang sejak awal selalu kutekankan padamu.

Sejujurnya kamu memang istimewa, namun bukan berarti aku mengistimewakanmu. Sebuah kewajaran bahwa aku memperlakukanmu sesuai dengan level dan kemampuanmu. itu saja.... yang kemudian justru menyeret ke sebuah persoalan panjang yang seakan tiada ujung......

Ditengah persoalan yang berkepanjangan dan tidak ada ujung pangkalnya ini, aku mendapatkan kado lagi darimu di akhir pekan.....sebuah sms bahwa kamu selalu mengingat jawabanku tentang cara bersikap pada  orang - orang yang menyukai. Semoga selalu berarti dan bermanfaat bagimu di masa datang....Tetap Semangat!





Paket ini disediakan bagi wisatawan yang gemar menjelajah desa dan tempat - tempat yang masih alami untuk menghilangkan penat. Kegiatannya selain melihat pemandangan desa yang indah, wisatawan juga akan diajak menikmati serunya petualangan arung jeram menggunakan tubing yang oleh masyarakat setempat dinamakan paket "Ngintir Kalijaga".
Ngintir Kalijaga adalah sebuah wisata petualangan seru menyusuri kali kreo dengan ban mobil untuk napak tilas sejarah Sunan Kalijaga yang pada saat itu menghanyutkan Pohon Jati untuk membangun Masjid Demak. Dengan dipandu Guide yang berpengalaman serta disuguhkan cerita dan kuliner khas Desa Wisata Kandri akan membuat wisatawan membawa pulang sejuta kenangan indah tak terlupakan.

Setelah puas ngintir kalijaga, wisatawan akan diajak makan siang ke sebuah warung yang sudah kondang enaknya yaitu bebek kandri. Kuliner ini menyuguhkan menu daging bebek goreng yang gurih dengan sambal khas lombok ijo yang sangat memanjakan lidah. Selain menu bebek goreng masih ada pilihan menu lain yang tak kalah enaknya seperti daging ayam, lele, nila dengan aneka lalapan seperti pete jengkol dan sayur mayur pedesaan.
Perjalanan diakhiri dengan mengunjungi Goa Kreo yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah ngintir sunan kalijaga karena Goa Kreo ada di sebuah pulau ditengah waduk jatibarang nan elok dan menawan. Suasana sore menjelang senja akan menambah romantisnya perjalanan dan petualangan paket wisata Tubung - Bebek - Kandri. Info Selengkapnya 088 12 678910

Sunday, November 16, 2014

" Semangat Malam Pak, Hari ini saya pelatihan guide di lokasi KKN. Berbicara di depan masyarakat itu tidak mudah, dan tiba - tiba saya teringat latihan presentasi saat hadiah ulang tahun saya. Bagaimana membuat suasana yang menyegarkan dengan joke joke yang sesuai dengan audience dan situasi kondisi nya"


Bunyi sms itu mungkin bagi orang lain tidaklah banyak berarti, namun bagi yang berkepentingan sangatlah bermakna dalam bagi yang mengalaminya. Seakan makna dari sms itu adalah penegasan bahwa pilihan pesta sanguinis sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 21. Sebuah pesta ulang tahun yang lebih mirip sebagai pendidikan dan latihan selama 24 jam.
Pendidikan latihan yang dimulai sejak jam 8 pagi. Sambil makan pagi berdiskusi merancang kegiatan, beradu argumentasi ketika menentukan pilihan-pilihan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sepakat untuk berpesta selama 24 jam dengan menu pesta yang sudah disepakati pula. Tujuan pertama adalah Deswita di daerah terpencil dengan daya tarik utama adalah wisata alam berupa curug.
Tema pesta sanguin  di Deswita adalah "Mengemas Kearifan Lokal Untuk Menambah Daya Tarik Deswita dan  mempelajari keterlibatan masyarakat lokal untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat di Deswita" Karena daya tarik wisata utamanya berupa curug maka materi tentang interpretasi fenomena alam menjadi dasar utama sebelum melakukan kegiatan lapangan, oleh karena itu pesta dimulai dengan diskusi tentang pengamatan lanscape atau bentang alam. Bagaimana melakukan pengamatan burung maupun pengamatan katak, bagaimana mendeskripsi bentang alam tersebut, bagaimana mendeskripsi isi bentang alamnya dan seterusnya. Kemudian untuk kearifal lokal menyangkut adat istiadat dan budaya setempat pembekalan berupa bagaimana memilih responden untuk diwawancara dan bagaimana cara mewawancarainya.
Tak kalah pentingnya adalah melakukan pengamatan infrastruktur dan fasilitas yang sudah ada di evaluasi, apakah sesuai atau tidak dengan potensi kearifan lokal deswita tersebut. 

Kado Lain di Akhir Pekan


"Orang banyak menyukaimu itu konsekwensi logis dari parasmu yang ayu, tubuhmu yang indah dan kecerdasan otakmu yang diatas rata-rata. Tidak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk menyukaimu termasuk kamu sendiri. Yang dapat kamu lakukan adalah bagaimana merespon dengan sikap yang baik, sopan dan tidak menyinggung perasaan"

Ketika beberapa kali kamu mengeluhkan banyak orang yang menyukai dan naksir dirimu, berulang - ulang pula kalimat itu menjadi jawabanku. Sebuah konsekwensi logis dari anugerah Tuhan berupa kecantikan dan keindahan yang ada pada dirimu pastilah banyak yang melirik dan mencoba untuk mendekatimu. Diskusi itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu yang puncaknya pada saat pesta sanguin....

Sekarang saat kamu sudah tidak disini, ketika sudh terjun langsung ke masyarakat, aku yakin pola pikir dan keputusan-keputusanmu sudah mapan. Cara bersikap dan memberikan jawaban atas persoalan - persoalan yang menimpamu semakin matang dan dewasa. Itulah harapan dan keinginan yang sejak awal selalu kutekankan padamu.

Sejujurnya kamu memang istimewa, namun bukan berarti aku mengistimewakanmu. Sebuah kewajaran bahwa aku memperlakukanmu sesuai dengan level dan kemampuanmu. itu saja.... yang kemudian justru menyeret ke sebuah persoalan panjang yang seakan tiada ujung......

Ditengah persoalan yang berkepanjangan dan tidak ada ujung pangkalnya ini, aku mendapatkan kado lagi darimu di akhir pekan.....sebuah sms bahwa kamu selalu mengingat jawabanku tentang cara bersikap pada  orang - orang yang menyukai. Semoga selalu berarti dan bermanfaat bagimu di masa datang....Tetap Semangat!




Monday, November 10, 2014

"Jalan  itu sebenarnya datar... namun karena banyak pohon ditengahnya maka diperlukan kehati hatian untuk melewatinya. Inilah awal jalan terjal di akhir tahun ini"

Hari telah menginjak pagi ketika aku terjaga dari tidur. Antara percaya dan tidak, aku mengingat kembali bahwa aku akan pergi dengan nya untuk waktu yang cukup lama.... 24 jam atau sehari semalam. Segera aku membuka ha untuk memastikan bahwa semalam tidak ada sms masuk yang membatalkan janjian hari ini, dan ternyata memang tidak ada kabar apapun...


Segera Kukayuh Sepeda Bututku untuk menjemputmu sambil mengingat apa yang sesungguhnya terjadi  Berkenalan, ngobrol, menjadi deket, ngajak makan, ngajak jalan dan pada hari ini janjian jalan 24 Jam. Agenda bersama yang  kita namakan Pesta Sanguin. Lamunanku buyar ketika muncul seorang gadis cantik dengan pakaian lapangan hitam yany tampak serasi. " Mas.. kita sarapan dulu ya, aku masih males keluar tadi jadi baru minum susu", mintanya padaku.Sambil menganggukan kepala kuberi isyarat untuk membonceng di sepedaku yang nampak lusuh tapi penuh kenangan.

Sangunis emang hobi ngobrol, dimana - mana selalu mencari kesempatan untuk ngobrol dan ngobrol. Inilah yang kami maksud dengan pesta sanguinis. Pesta untuk memuaskan hobi sekaligus bakat untuk berbicara. Tentu saja karena sama - sama sanguinis maka akan bergantian berbicara dan mendengarkan. Tema pembicaraanpun sangat variatif, dari sekedar menceritakan seekor cicak yang mempertahankan diri dengan melepaskan ekornya sampai persoalan serius yang menyangkut akademik seperti penelitian dan tugas akhir. 

Namun ada yag berbeda yang sengaja disepakati untuk dilakukan pada hari ini, yaitu bahwa sanguinis yang cenderung hedonis harus menahan diri untuk tidak hedonis. Maka sambil berpesta akan melaksanakan sesuatu yang serius dan melelahkan yaitu analisis desa wisata sepanjang pagi hingga menjelang sore dilanjutkan mempresentasikan hasilnya. (bersambung 2)


Sunday, November 9, 2014

Perburuan Sunset dimulai sejak pukul 16.15 di Tepi Pantai Kwaru sisi barat. Pengunjung yang berwisata cukup sepi, namun ada beberapa pemancing yang mulai berdatangan. Beberapa diantaranya ada seniman dan pelukis yang akan mengabadikann momen sunset di sore itu.

Suasana Pantai Kwaru Yang Sepi


Langit di Pantai Kwaru Agak Mendung


Tanda - tanda awan mulai menutup matahari


Di ambang Cakrawala

Di saat matahari mendekati batas cakrawala justru hujan mulai turun dan gagal lah acara memburu sunset sore itu.


Berawal dari usulan dan ide Dik Dika untuk bermain pasir di Pantai Kwaru sambil bawa mainan Truk, Mamahnya menyambut dengan anggukan kepala dan menambah kekayaan ide dengan memburu sunset di Tepi Pantai.

Dikadut Bermain Pasir di Pantai Kwaru

Tak Lupa Truknyapun Dibawa ke Pantai


Bosen Main Pasir Dikadut Memandang Laut


Dikadut Berlarian & Main Petak Umpet w/ Papah
Begitulah suasana menunggu sunset. Dikadut Bermain ditemeni papah. N Mamah mulai mencari sudut yang pas untuk membidik matahari. (Bersambunng 2)


Tuesday, November 4, 2014

Kerinduan ini adalah kerinduan alam. Seorang anak laki - laki yang mencoba berteman dan bersahabat dengan alam sejak kecil yang pada awalnya hanya sebagai penikmat  alam. Semakin lama mengenali tempat bumi berpijak semakin merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ketika melihat panorama lereng gunung, gumuk pasir, tebing terjal dan keindahan alam lainnya seakan darah mengalir lebih cepat, ada desir aneh di dada yang nikmat tak terucapkan. Saat itulah aku menyatakan diri sebagai pecinta alam.


Mencintai alam pada mulanya  dimulai dari hal - hal kecil disekitar kita dan dalam kehidupan sehari hari kita. Sebenarnya tidak harus naik gunung, arung sungai atau susur pantai untuk menjadi seorang pecinta alam, namun ketika hobi kita adalah olahraga outdoor, maka idealisme dan hobi bisa dipadukan menjadi sebuah kegiatan yang positif. Orang menyebutnya dengan kegiatan kepencinta alaman, Ketika di SMP/SMP ada Sispala, mahasiswa ada Mapala dan ada juga Keluarga Pecinta Alam serta organisasi pecinta alam yang lain untuk masyarakat umum.



Kombinasi inilah yang menjadi dasar persetujuanku untuk membantu teman - teman di Ampta untuk mendirikan sebuah UKM. Ada kesepakatan - kesepakatan dasar yang dibicarakan yaitu bahwa UKM yang didirikan bukan semata - mata sebuah organisasi yang bergerak di bidang outdoor activity namun ada idealisme yang dimasukkan sebagai dasar filosofi organisasi. Adapun secara singkat dapat di deskripsikan sebagai berikut yaitu bahwa :
1. Organisasi didirikan untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu mengikuti pembelajaran perkuliahan dengan baik dan memberi bekal soft skill agar mampu bersaing di dalam era industri rekreasi dan hospitality
2. Organisasi mengemban misi pecinta alam dan misi pariwisata sehingga organisasi berkonsentrasi pada bidang ekowisata.
3. Organisasi didirikan selain alasan diatas juga merespon kondisi dan situasi saat itu yaitu maraknya mahasiswa yang melakukan seks bebas, menenggak alkohol dan juga seringnya tawuran antar pelajar sehingga disepakati ada 3 larangan dasar : a. Tidak boleh pacaran sesama anggota organisasi dan tidak boleh melakukan aktifitas yang mengarah ke tindakan seksual selama kegiatan organisasi, b, tidak boleh berkelahi sesama anggota organisasi dan c tidak boleh mengkonsumsi alkohol, narkoba dan sejenisnya di lingkungan organisasi dan saat kegiatan.
Bersambung ke bag 3



Monday, November 3, 2014

Empat Belas Tahun lalu dalam sebuah pendakian masal ke Gunung Sumbing bersama Kapala Magmagama, aku mengenal 4 orang peserta pendakian yang berasal  dari Akademi Pariwisata Ampta yaitu Supriyanto Kusnadi, Ardianta, Rara dan Calvin. Inilah yang merupakan cikal bakal pertemuan selanjutnya untuk mendirikan sebuah UKM di Kampus Akademi Pariwisata AMPTA yang bergerak di bidang ke pecinta alaman. Dan 2 dari mereka yaitu Supriyanto Kusnadi atau yang dikenal dengan nama Bang Upok dan Ardianta yang dikenal dengan nama Bang Gantang lah yang kemudian aktif melakukan pergerakan untuk mewujudkan impian mereka mewujudkan UKM di AMPTA.

Yang Lama dan Yang Kini Dalam Gambar

Pose Narsis Tahun 2000


Pose Narsis Tahun 2014
Apanya yang beda?
Bersambung bag 2


Monday, October 27, 2014

Salah satu tujuan pengenalan diri adalah untuk mengetahui tujuan hidup kita. Untuk itu dalam sesi perenungan di kondisikan sedemikian rupa sehingga seluruh peserta diajak untuk duduk tenang menonton suasana kematian sampai di alam kubur. Bagaimana kemudian segala harta benda dan berbagai kemewahan duniawi lainnya tidak dibawa mati. Hal ini untuk menyadarkan kepada kita semua bahwa tujuan hidup di dunia bukanlah semata mata uang, kedudukan dan harta benda. Lebih dari itu adalah amal perbuatan kita pada sesama, terlebih pada orang - orang yang terdekat dan kita sayangi.
Perenungan belum usai, untuk menguatkan ingatan dan kesadaran kita akan pentingnya tujuan hidup, seluruh peserta diajak merenung kembali lebih dalam untuk mengingat kehidupan kita sejak kecil sampai saat ini dengan bercermin pada sebuah cerita film pendek. Bagaimana selama ini kita bersikap dan berbuat kepada orang tua kita tercinta, dimana mereka adalah orang yang paling menyayangi kita, namun ternyata apa yang kita lakukan lebih banyak mengecewakan mereka dibanding menyenangkan dan membahagiakannya.

Menulis Visi Hidup Hasil Perenungan

Setelah melalui perenungan pendek kurang lebih 30 menit, seluruh peserta diminta untuk menuliskan uneg-uneg, keinginan, harapan atau apa saja yang dirasakan saat itu. Inilah dasar dari menulis visi hidup kita dimana visi hidup diartikan sebagai tujuan hidup yang berisi prinsip - prinsip hidup. Hampir semua menuliskan pengalaman renungan bertitik tumpu pada penyesalan sikap kepada orang tua dan harapan serta keinginan berbuat yang lebih baik kepada orang tuanya. Ini wajar terjadi mengingat pengantar perenungan lebih bertitik berat ke sana, dimana dari pengalaman sebelumnya dan juga saat sharing ini dilakukan, peserta lebih tersentuh ketika melihat film pendek tentang sikap terhadap orang tua.
Penulisan visi hidup atau naskah hidup yang dilakukan memang belum ideal, namun hal ini sebagai dasar awal untuk menuliskan visi hidup yang lebih baik, (bersambung 3)


Ilmu dan Pengetahuan serta ketrampilan yang kita miliki tidak akan banyak bermanfaat bila tidak kita implementasikan dalam kehidupan sehari hari. Lebih bermanfaat lagi apabila dapat kita gunakan untuk membantu sesama dan ditularkan pada orang lain. Begitulah kira - kira filosofi yang saya yakini sesuai dengan visi dan misi hidupku saat ini.
Hari sabtu lalu tanggal 25 Oktober 2014 bertepatan dengan awal tahun baru jawa 1 Muharam aku mencoba berbagi dengan teman - teman lama maupun baru di Kampus STP Ampta. Aku lebih suka mengatakan ini merupakan sebuah sharing atau forum berbagi dibandingkan disebut pelatihan atau kuliah atau semacam itu. Forum berbagi yang setiap tahun minimal sekali kulakukan dengan teman Keluarga Pecinta Alam Ampta Yogyakarta.

Ice Breaking : Teman - Teman Baru Saling Berkenalan

Tema berbagi yang pertama adalah "Who Am I"
Mengawali sesi berbagi dengan berkenalan satu dengan yang lain dilanjutkan dengan sedikit memberikan penjelasan tentang mengapa kita harus mengenali diri sendiri dilanjutkan dengan pemahaman tentang tujuan dan teknik pengenalan diri.
Untuk memudahkan pemahaman, seluruh peserta sharing mencoba mempraktekkan teknik pengenalan diri yaitu perenungan, pengisian lembar pengenalan diri dan meminta feedback dari teman sharingnya.

Salah satu tujuan pengenalan diri adalah untuk mengetahui tujuan hidup kita. Untuk itu dalam sesi perenungan di kondisikan sedemikian rupa sehingga seluruh peserta diajak untuk duduk tenang menonton suasana kematian sampai di alam kubur. Bagaimana kemudian segala harta benda dan berbagai kemewahan duniawi lainnya tidak dibawa mati. Hal ini untuk menyadarkan kepada kita semua bahwa tujuan hidup di dunia bukanlah semata mata uang, kedudukan dan harta benda. Lebih dari itu adalah amal perbuatan kita pada sesama, terlebih pada orang - orang yang terdekat dan kita sayangi.
Perenungan belum usai, untuk menguatkan ingatan dan kesadaran kita akan pentingnya tujuan hidup, seluruh peserta diajak merenung kembali lebih dalam untuk mengingat kehidupan kita sejak kecil sampai saat ini dengan bercermin pada sebuah cerita film pendek. Bagaimana selama ini kita bersikap dan berbuat kepada orang tua kita tercinta, dimana mereka adalah orang yang paling menyayangi kita, namun ternyata apa yang kita lakukan lebih banyak mengecewakan mereka dibanding menyenangkan dan membahagiakannya.

Menulis Visi Hidup Hasil Perenungan

Setelah melalui perenungan pendek kurang lebih 30 menit, seluruh peserta diminta untuk menuliskan uneg-uneg, keinginan, harapan atau apa saja yang dirasakan saat itu. Inilah dasar dari menulis visi hidup kita dimana visi hidup diartikan sebagai tujuan hidup yang berisi prinsip - prinsip hidup. Hampir semua menuliskan pengalaman renungan bertitik tumpu pada penyesalan sikap kepada orang tua dan harapan serta keinginan berbuat yang lebih baik kepada orang tuanya. Ini wajar terjadi mengingat pengantar perenungan lebih bertitik berat ke sana, dimana dari pengalaman sebelumnya dan juga saat sharing ini dilakukan, peserta lebih tersentuh ketika melihat film pendek tentang sikap terhadap orang tua.
Penulisan visi hidup atau naskah hidup yang dilakukan memang belum ideal, namun hal ini sebagai dasar awal untuk menuliskan visi hidup yang lebih baik.

Hasil bukanlah prioritas dalam sesi berbagi kali ini, namun proses lebih ditekankan agar masing - masing peserta dapat mengembangkan ketrampilan mengenali diri sendiri ini sesuai dengan minat dan keseriusannya. 
Sesi berbagi selanjutnya adalah mencoba mengenali diri dengan metode pengisian lembar kerja yang di modifikasi dari personality plus. Seluruh peserta sharing diminta mengisi lembar kerja dengan cara memilih sifat - sifat yang khas dari 4 kepribadian utama yaitu sanguinis, koleris, melankolis dan plegmatis.
Maksi Ala Kapala

Pengenalan diri dengan pendekatan yang lebih aplikatif mendapatkan respon yang lebih antusias daripada mengisi lembar kerja yang tebal dengan banyak pertanyaan yang dalam. Karena peserta sharing akan merasakan manfaat langsung dari pengenalan akan sifat dan karakternya tersebut.
Sesi ini di tutup dengan penjelasan materi untuk mendapatkan feed back atau umpan balik dengan temannya. Diharapkan peserta sharing mampu memilih teman kualitatif dan mengaplikasikan sesuai syarat teman yang pas untuk sharing lebih mendalam. Sesi ini mengacu pada pernyataan Paul Turner yang mengatakan bahwa seseorang akan dapat mencapai puncak prestasinya apabila minimal mempunyai seorang teman yang dapat dipercaya dan memberinya rasa aman. 
Sebelum menginjak sesi berikutnya yaitu " Hakekat Pecinta Alam dan Sejarah Kapala Ampta", seluruh peserta sesi sharing kali ini makan siang bersama ala pecinta alam di dalam ruangan.


Monday, October 20, 2014

Dalam rangka pembinaan usaha karaoke di Kota Semarang, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang bersama dinas terkait ( Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Perijinan Pelayanan Terpadu, Dinas Tata Kota, Inspektorat) dan Pemangku Wilayah ( Camat dan Lurah0 Serta Aparat Keamanan ( Kodim, Polrestabes, Polsek, Koramil) melakukan pertemuan dengan pengusaha karaoke secara bertahap dibagi dalam beberapa wilayah. Tahap 1 untuk Kecamatan Pedurungan, kedua Kecamatan Semarang Barat dan Utara, ketiga Semarang Tengah, Selatan dan Timur, serta ke empat Tembalang, Banyumanik, Candisari dan Gajah Mungkur.


Tujuan pertemuan yaitu :
1. Mengantisipasi adanya gangguan Transtibum
2. Mencegah pelanggaran perda kota semarang
3. Meningkatkan PAD Kota Semarang dari sektor Hiburan.

Selanjutnya para pengusaha/manajer usaha karaoke diberikan penjelasan-penjelasan termasuk ketentuan - ketentuan yang harus dipenuhi sesuai peraturan daerah yang berlaku dan apabila dalam batas waktu 1 bulan setelah pertemuan tidak dipenuhi maka akan dilakukan penertiban oleh tim gabungan.

Pada tahun ini aku masih bekerja sebagai staf di bidang industri pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang salah satu tugas pokok dan fungsinya adalah pembinaan usaha hiburan termasuk karaoke, club malam dan spa massage. 





Lembaga Sertifikasi Usaha Bidang Pariwisata (LSU Pariwisata) merupakan implementasi Undang - Undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang mensyaratkan bahwa produk, pelayanan dan pengelolaan usaha pariwisata harus memiliki standar. Hal ini dipertegas dengan Peraturan Menteri No 1 dan 7 tahun 2014 mewajibkan pelaku industri wisata melakukan Sertifikasi Usaha Bidang Pariwisata. 
Sertifikasi dan standardisasi usaha tersebut mencakup tiga hal, yaitu produk, pelayanan dan pengelolaan yang diatur dalam standar usaha yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri. 
Untuk tahap pertama, yang paling mudah adalah sertifikasi hotel karena industrinya sudah besar, berikutnya rumah makan, restoran, biro perjalanan wisata dan MICE. 



Prioritas sertifikasi akan dilakukan pada usaha pariwisata yang berada di daerah-daerah yang termasuk dalam 16 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang telah ditetapkan seiring dengan fokus pengembangan pariwisata Indonesia.
Semarang Kota yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sudah selayaknya berbenah dan mengimplementasikan sesegera mungkin peraturan sertifikasi usaha. Hal ini juga di dukung dengan keberadaan salah satu lembaga sertifikasi usaha yang berada di Kota Semarang sehingga akan bisa lebih menghemat biaya dan waktu dalam proses pelaksanaan sertifikasi.


Kafe merupakan tempat masyarakat urban bersosialisasi. Tujuan utama orang pergi ke kafe adalah untuk bertemu, berbincang, bersantai, melepaskan kepenatan pekerjaan, sambil makan dan minum. Suasana yang cozy (nyaman) dan fasilitas yang lengkap merupakan hal yang paling dicari para penikmat kafe.

Berikut hal-hal yang perlu dilakukan saat Anda ingin membuat kafe.

1. Tentukan target market kafe Anda.
Tentukan apakah kafe Anda akan menyasar anak muda, wanita sosialita, paruh baya, bisnis people, dan sebagainya. Ini penting dilakukan agar Anda bisa lebih detail pada proses selanjutnya. Anda akan tahu apa makanan yang sesuai dengan target market Anda, konsep kafe yang pas buat mereka, harga makanan, dan banyak hal detail lain.

2. Buat konsep yang unik dan menarik.
Bisnis kafe adalah bisnis word of mouth. Bila kafe Anda unik, asik dan menarik, semua orang akan menjadi agen marketing Anda dan menarik orang lain untuk datang ke kafe Anda.
Konsep atau tema ini meliputi interior, makanan, fasilitas, ataupun layanan unik di kafe Anda. Contoh: Anda ingin membuat kafe dengan konsep Back to 80’s, untuk target market umur 40-an. Untuk mendukung konsep tersebut Anda memerlukan interior desain 80-an, musik hidup klasik rock dan layar lebar yang memutar Bon Jovi, makanan Indonesia tradisional dan internasional, pramusaji yang bergaya ala breakdancer.

3. Lokasi
Cari lokasi yang sesuai dengan konsep Anda. Sesuaikan dengan target market yang Anda tuju. Perlu Anda riset lebih seksama, mana lokasi yang paling pas dengan konsep kafe Anda dan berapa investasi yang perlu dikeluarkan. Lokasi sewa atau dipunyai sendiri juga sangat menentukan perhitungan bisnis Anda.

4. Menu makanan
Cita rasa makanan merupakan hal penting di sebuah kafe. Pelanggan akan kembali lagi ke kafe Anda karena jatuh cinta pada menu tertentu. Perencanaan menu makanan tidak bisa dianggap remeh. Anda perlu untuk menyewa ahli masak yang handal untuk menyusun menu, menyusun resep unik ala kafe Anda, mendesain cara penyajian dan menentukan harga jualnya.

5. Buatlah Rencana Bisnis
Bila semua hal sudah ada di kepala Anda, buatlah rencana bisnis. Detailkan kegiatan apa saja yang akan Anda lakukan untuk membuat kafe, apa saja yang dibutuhkan, dan berapa investasi yang akan Anda keluarkan. Dari investasi tersebut prediksikan kapan uang Anda kembali. Saat Anda membuat rencana bisnis, Anda akan bisa melihat lebih jelas apakah bisnis Kafe ini feasible.

6. Beli Franchise/Waralaba.
Alternatif lain untuk membuat kafe adalah mempertimbangkan untuk membeli franchise dari kafe yang sudah ada dan sudah punya nama. Namun tentunya perlu modal dana lebih banyak lagi karena harus membayar biaya franchise/waralaba
Catatanku sebagai bahan pembinaan usaha cafe di Kota Semarang diolah dari sumber : Ciputra

Monday, October 6, 2014


Seakan tak percaya aku mengenalmu, hanya dalam hitungan hari peranmu begitu menentukan. Sosok Kepribadianmu yang hangat menumbuhkan bibit - bibit pertemanan dan persahabatan pada orang di sekitarmu. Dan tibalah saat - saat yang akan ku ingat selamanya, kamu akan merayakan ulang tahunmu yang ke 17. Sejujurnya aku tidak tahu apakah umurmu 17 atau 18 atau bahkan 21, karena klo menurut perawakanmu yang tinggi dan bongsor, selayaknya kamu berusia 21 tahun, bukan 17 tahun. Bagiku itu tidak terlalu penting karena aku bisa merayakan ulang tahunmu kapan saja, dimana saja dan pada usia yang ke berapa saja. Yang teramat penting adalah bagaimana cara kita merayakan ulang tahun yang asik, menyenangkan namun tidak terkesan hedonis. Iya... tidak terkesan hedonis dan memang bukan perbuatan yang hedonis.

Cara ini menjadi menarik karena kemudian kita sepakat untuk merayakan dengan cara yang unik. Kita akan belajar seharian untuk mengembangkan hard skill maupun skill dengan kemasan yang menarik. 
Saat itu akhirnya datang juga, tidak persis di hari ulang tahunmu menurut tanggal lahir, namun 8 hari menjelang hari bahagiamu. Pilihan hari ini sudah dipertimbangkan karena aku tidak ingin mengganggumu di saat puncak hari bahagiamu nanti akan kau rayakan dengan anggota keluarga dan teman - teman terdekatmu, toh aku bukan siapa - siapa, aku hanya orang yang baru saja mengenalmu.

Hari ini kamu berbeda, entah karena cara berpakaianmu yang lebih gaul, ataukah karena ekspresi suasana hatimu yang tampak lebih ceria. Senyummu menghias bibirmu sepanjang perjalanan sambil berbincang tentang banyak hal. Pagi sampai siang ini kita sepakat untuk belajar di lapangan. Inilah uniknya hadiah ulang tahunmu, bukan hura hura, bukan huru hara, bukan foya foya namun hadiahnya adalah belajar.



Bagiku ini bukan yang pertama memberi hadiah ulang tahun yang nyleneh, namun mungkin bagimu baru pertama kalinya. Ku berharap hadiah spesial ini akan kamu kenang sepanjang hidupmu walau mungkin juga hanya akan sekedar lewat begitu saja. Bagiku pilihan ini bukan tanpa alasan karena setelah beberapa saat aku mengenal karaktermu yang hedonis itu maka aku harus memberikan sesuatu yang berlawanan. Bukan berarti anti hedonis namun sekedar untuk berlatih mengendalikan diri agar pada suatu waktu juga bisa bekerja dengan fokus, tidak melulu berfokus pada diri sendiri yang populer dalam pergaulanmu.

Wednesday, September 3, 2014

"Sejuta kenangan indah Merbabu seakan muncul dan memenuhi memori kepalaku, pendakian Gunung diatas 3000 DPL pertamaku, pertemuan dengan mantan pacarku dan juga segudang cerita masa lalu tentang cinta, persahabatan dan air mata"

Dua puluh satu tahun lalu aku menginjak Puncak Merbabu. Hari ini aku mulai menginjak lerengnya dan berbincang ngalor ngidul dengan Pak Dhupar, seorang petani sayuran yang dulu begitu miskin dan sederhana, sekarang sudah menjadi pedagang yang mapan dan berkecukupan. Obrolan seputar pekerjaan, keluarga dan cerita perjalanann hidupnya membuat cuaca yang dingin terasa hangat. Anaknya yang pertama seusia denganku, saat ini sudah memberikan cucu wanita cantik yang beliau banggakan, anaknya yang kedua sudah menikah dan selalu sibuk dengan pekerjaannya yang baru, serta banyak hal lain yang beliau ceritakan hingga larut.


Sejujurnya Anganku sudah jauh menerawang ke dalam peristiwa pendakian masal yang dilakukan oleh 30 orang anggota konglomerate di akhir tahun 1993. Kekompakan, kebersamaan dan semangat saling mendukung untuk menyelesaikan kuliah di UGM membawa kami ke Puncak Merbabu 3142 mdpl.Lagu bagimu negeri dan syukur berkumandang, menggema bersamaan munculnya sang surya di ufuk timur. 2 buah lagu yang selalu di nyanyikan oleh anak - anak alam ketika menggapai puncak gunung itu terasa khidmat dan menyentuh hati. BAGIMU NEGERI, JIWA RAGA KAMI.


Dua tahun setelah pendakian itu aku kembali ke Merbabu. Saat itulah pertemuanku dengan mantan pacarku yang tidak lain adalah istriku yang saat ini mendampingiku. Cerita unik bak sinetron tersaji dalam peristiwa pendakian 12 orang lintas universitas yang dibumbui cerita mistis, petualangan dan juga kisah cinta. 

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata