Showing posts with label curug semirang. Show all posts
Showing posts with label curug semirang. Show all posts

Monday, July 6, 2026

Gemericik air itu mengingatkanku pada seseorang.

Aku membiarkan tubuhku bersandar di sebuah bangku kayu sederhana. Di hadapanku, air Curug Semirang jatuh tanpa pernah lelah menyapa bebatuan. Suaranya berirama. Kadang terdengar lembut, kadang menghentak, tetapi selalu berhasil menghadirkan ketenangan.




Alam memang aneh. Ia tidak pernah berbicara, tetapi sering kali mampu menjawab pertanyaan yang tak sanggup dijelaskan manusia.

Perjalanan kali ini bukan sekadar perjalanan menuju sebuah air terjun. Jalannya memang menurun, tetapi pikiranku justru sedang mendaki. Mendaki persoalan-persoalan yang beberapa bulan terakhir memenuhi ruang kepalaku.

Entah sejak kapan semuanya berubah.

Hal-hal sederhana menjadi rumit. Persoalan kecil berkembang menjadi besar. Orang-orang yang dulu terasa begitu dekat perlahan berubah menjadi asing. Ada yang tersenyum di depan, tetapi diam-diam menyimpan kepentingan. Ada pula yang begitu mudah melupakan prinsip demi sesuatu yang sifatnya sementara.

Di situlah aku mulai memahami bahwa mendaki gunung ternyata jauh lebih mudah daripada mendaki hati manusia.

Gunung hanya menguji fisik.

Manusia menguji keyakinan.

Di tengah kerasnya persaingan hidup, aku melihat begitu banyak orang rela menukar prinsip dengan kekuasaan, uang, bahkan hubungan yang sesaat. Padahal semua itu hanyalah titipan yang suatu hari pasti akan ditinggalkan.

Lamunanku tiba-tiba terputus.

"Monggo, Mas... mampir dulu."

Seorang nenek menyapaku dengan senyum yang begitu tulus.

Aku menoleh.

"Iya, Nek... white coffee satu, sama intel rebus satu."

"Nggeh..."

Sambil menunggu pesananku, aku memperhatikan perempuan tua yang belakangan kukenal bernama Nenek Rusmi itu. Warungnya sederhana. Tidak besar. Bahkan mungkin tidak berbeda dengan warung-warung lain yang berdiri di bawah Curug Semirang.

Namun ada sesuatu yang membuatnya berbeda.

Senyumnya.

Ia menyapa hampir setiap pendaki yang lewat. Tidak peduli mereka membeli atau tidak. Tidak ada wajah lelah. Tidak ada nada memaksa. Keramahannya mengalir begitu saja, setulus air yang sejak tadi jatuh dari tebing.

Aku mulai berpikir...

Barangkali orang tidak selalu kembali ke sebuah tempat karena pemandangannya.

Kadang mereka kembali karena menemukan manusia yang membuat tempat itu terasa hidup.

Secangkir kopi hangat akhirnya tersaji di hadapanku.

Kuseruput perlahan.

Hangatnya mengusir dingin pegunungan, tetapi tidak mampu menghentikan pikiranku untuk kembali berjalan ke masa lalu.

Orang mungkin mengira semua ini adalah kisah tentang cinta.

Mereka salah.

Ini bukan tentang seorang perempuan.

Bukan pula tentang patah hati.

Ini adalah kisah tentang cita-cita.

Tentang pilihan hidup.

Tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memutuskan tetap berjalan di jalan yang diyakininya benar.


Tuesday, November 18, 2014


"Gemericik suara air itu mengingatkanku pada seseorang. Bagaikan irama musik orkestra di sebuah panggung konser yang mewah, namun tetap syahdu melantunkan tembang cinta yang romantis. Itukah isi hatimu?

Petualangan dan kisah seru mungkin bukan barang baru lagi bagiku, namun perjalananku kali ini mengandung seribu makna. Entah bagaimana awal mulanya, namun persoalan yang simpel bisa menjadi rumit dan persoalan yang rumit menjadi tambah ruwet. Inilah periode galau tingkat dewa untuk kesekian kalinya pada era baru menjalankan profesiku.
Kisah tiada ujung ini menjadikan pembelajaran yang komprehensif terhadap perilaku, sikap dan karakter kita dalam menghadapi orang lain dengan perilaku, sikap dan karakter yang bermacam - macam pula. Serigala berbulu domba, musuh dalam selimut ataupun menelan ludah sendiri adalah peribahasa - peribahasa yang menjadi akrab dalam persaingan kehidupan yang keras dan ketat ini,

Kisah yang berawal manis, tiba - tiba berubah menjadi asam, manis, pedas dan bahkan pahit. sebuah racikan menu kehidupan yang menggambarkan betapa kompleknya persoalan hidup, sementara prinsip hidup mulai ditinggalkan dan berganti dengan kepentingan sesaat. Kekuasaan, wanita dan uang seakan menjadi satu kesatuan yang membelenggu seseorang dari kehidupan nyata dan utuh sehingga mengganggu harmoni kehidupan di alam ini.
Tiba - tiba lamunanku terputus. Tegur sapa lembut yang bersahabat dari seorang nenek penjual makanan di bawah curug semirang menawarkan dagangannya membuat buyar lamunanku. Untuk sekejap kuterdiam dan sedetik kemudian kutersenyum sambil menegur ramah pada nenek pedagang.



"Iya nek... white coffe nya satu, intel rebusnya satu", kataku pada nenek itu. Sambil tersenyum ramah, nenek itu segera memasak intel yang kupesan dan membuatkan kopi hangat untukku. (bersambung )


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata