Showing posts with label wisatasemarang. Show all posts
Showing posts with label wisatasemarang. Show all posts

Sunday, August 2, 2026

Ringkasan Artikel

Tasripin merupakan salah satu saudagar pribumi paling berpengaruh di Semarang pada masa kolonial Hindia Belanda. Berawal dari usaha pengolahan kulit yang diwariskan keluarganya, ia berhasil mengembangkannya menjadi jaringan bisnis yang meliputi perdagangan kopra, investasi properti, dan berbagai aktivitas ekonomi lain yang menjadikannya dikenal sebagai salah satu pemilik aset terbesar di Semarang pada masanya. Jejak kehidupannya tidak hanya terlihat melalui bangunan-bangunan bersejarah di Kampung Kulitan, tetapi juga melalui berbagai kisah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, seperti Wayang Tasripin, kaum boro, hingga legenda koin bergambar Ratu Wilhelmina.

Artikel ini menyajikan perjalanan hidup Tasripin berdasarkan penelitian akademik, arsip surat kabar kolonial yang dikutip dalam berbagai kajian, serta sumber-sumber sejarah terpercaya. Setiap informasi ditelaah secara kritis dengan membedakan antara fakta yang didukung bukti sejarah, interpretasi para peneliti, dan cerita lisan yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Dengan pendekatan tersebut, artikel ini tidak hanya mengulas keberhasilan Tasripin sebagai pengusaha, tetapi juga menempatkannya dalam konteks perkembangan ekonomi, sosial, budaya, dan tata ruang Kota Semarang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Lebih dari sekadar biografi seorang saudagar, tulisan ini merupakan upaya mendokumentasikan kembali jejak salah satu tokoh ekonomi pribumi yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi nasional. Diharapkan, artikel ini dapat menjadi rujukan awal bagi masyarakat, peneliti, pelajar, maupun pemerhati sejarah yang ingin memahami peran Tasripin dalam perkembangan Kota Semarang sekaligus mendorong lahirnya penelitian lanjutan mengenai warisan sejarah dan budaya yang masih tersisa hingga saat ini.

1. Pendahuluan

Di balik nama besar Oei Tiong Ham, ternyata Semarang pernah memiliki seorang saudagar pribumi yang kekayaannya melahirkan berbagai legenda. Ada yang mengatakan ia memiliki kapal sendiri, mempekerjakan ribuan orang, bahkan memasang koin bergambar Ratu Wilhelmina di lantai rumahnya. Namun, benarkah semua kisah tersebut merupakan fakta sejarah?

Tokoh itu adalah Tasripin, seorang pengusaha kulit yang hidup pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Berbeda dengan banyak tokoh bisnis lain pada masa kolonial, jejak kehidupannya tidak tersimpan dalam arsip perusahaan yang lengkap. Sebagian besar informasi mengenai dirinya justru tersebar dalam penelitian akademik, surat kabar kolonial, rumah-rumah tua di Kampung Kulitan, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keadaan tersebut menjadikan penulisan sejarah Tasripin memiliki tantangan tersendiri. Penulis tidak hanya dituntut menyusun biografi seorang saudagar, tetapi juga harus mampu membedakan fakta yang didukung bukti sejarah, informasi yang berasal dari sumber sekunder, serta kisah-kisah yang berkembang sebagai legenda masyarakat. Tanpa sikap kritis, batas antara sejarah dan cerita tutur akan mudah kabur.

Artikel ini disusun dengan menempatkan penelitian akademik sebagai landasan utama. Menurut penelitian Sukawi (2023), perkembangan usaha Tasripin dan jejak keluarganya di Kampung Kulitan dapat ditelusuri melalui sejarah kawasan, pola permukiman, serta tinggalan arsitekturnya. Sementara itu, sejumlah surat kabar kolonial yang telah dipublikasikan kembali dan sejarah lisan digunakan sebagai pelengkap, dengan tetap menjelaskan tingkat kekuatan bukti masing-masing.

Melalui pendekatan tersebut, pembaca diharapkan tidak hanya mengenal Tasripin sebagai saudagar kaya pada masa kolonial, tetapi juga memahami perannya dalam perkembangan ekonomi, pembentukan permukiman, serta sejarah Kota Semarang. Dengan memahami konteks inilah, perjalanan hidup Tasripin menjadi lebih menarik untuk ditelusuri, dimulai dari latar belakang keluarganya dan bagaimana ia membangun salah satu jaringan usaha pribumi terbesar di Semarang.

2. Siapa Tasripin?

Siapa sebenarnya Tasripin? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Dibandingkan tokoh-tokoh bisnis kolonial lain yang meninggalkan banyak arsip perusahaan, jejak kehidupan Tasripin justru tersebar dalam berbagai sumber dengan tingkat kelengkapan yang berbeda. Karena itu, memahami sosoknya memerlukan pembacaan yang kritis terhadap setiap informasi yang tersedia.

Menurut artikel Petrik Matanasi di Tirto.id yang mengutip Bataviaasch Nieuwsblad, Tasripin meninggal dunia pada 9 Agustus 1919 dalam usia sekitar 85 tahun. Berdasarkan informasi tersebut, tahun kelahirannya diperkirakan berada di sekitar 1834. Angka ini merupakan hasil penelusuran dari usia saat wafat karena hingga kini belum ditemukan dokumen kelahiran yang dapat memastikan tanggal lahirnya secara lebih presisi.

Penelitian Sukawi (2023) memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai latar belakang keluarganya. Tasripin lahir dari keluarga yang telah lama berkecimpung dalam usaha pengolahan kulit. Ayahnya, yang dalam beberapa sumber disebut Tasimin atau Tassimin Koetjeer, telah menjalankan usaha tersebut sebelum kemudian diteruskan oleh Tasripin. Informasi ini penting karena meluruskan anggapan bahwa Tasripin membangun seluruh usahanya tanpa fondasi keluarga. Yang lebih tepat adalah bahwa ia mewarisi pengetahuan dan usaha keluarga, kemudian mengembangkannya hingga mencapai skala yang jauh lebih besar.

Di sisi lain, sejumlah cerita populer menyebut Tasripin pernah bekerja sebagai penjaga gudang kulit atau buruh pelabuhan sebelum menjadi saudagar besar. Kisah tersebut tetap menarik untuk dicatat sebagai bagian dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Namun, sumber-sumber yang dapat diakses saat ini lebih banyak mendukung informasi bahwa ia tumbuh di lingkungan keluarga pengusaha kulit. Dengan demikian, cerita mengenai pekerjaan awalnya masih memerlukan dukungan arsip primer sebelum dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah.

Perbedaan antara penelitian akademik dan cerita populer justru menunjukkan tantangan dalam menulis sejarah tokoh lokal. Tidak semua kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat langsung diperlakukan sebagai fakta, tetapi juga tidak serta-merta harus diabaikan. Tradisi lisan sering kali menjadi petunjuk awal yang mendorong lahirnya penelitian lebih mendalam.

Terlepas dari berbagai versi tersebut, satu hal tampaknya disepakati oleh berbagai sumber: Tasripin berhasil mengembangkan usaha keluarga menjadi jaringan bisnis yang jauh melampaui skala generasi sebelumnya. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari besarnya kekayaan yang kemudian dilekatkan pada namanya, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap perkembangan kawasan Kampung Kulitan dan aktivitas ekonomi Semarang pada masa kolonial.

Pemahaman mengenai latar belakang keluarga inilah yang menjadi titik awal untuk melihat bagaimana Tasripin membangun usahanya. Dari industri pengolahan kulit yang diwariskan keluarganya, ia kemudian memperluas kegiatan bisnis ke berbagai bidang lain hingga dikenal sebagai salah satu saudagar pribumi paling berpengaruh di Semarang.

3. Meneruskan Usaha Keluarga, Membesarkan Nama Tasripin

Keberhasilan Tasripin sering digambarkan sebagai kisah seorang pengusaha yang membangun bisnisnya dari nol. Gambaran tersebut memang menarik, tetapi penelitian terbaru menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks.

Menurut penelitian Sukawi (2023), Tasripin tidak merintis usaha pengolahan kulit dari awal. Ia mewarisi usaha keluarga yang telah dibangun oleh ayahnya, kemudian mengembangkannya menjadi jaringan bisnis yang jauh lebih besar. Dari fondasi inilah ia memperluas kegiatan usahanya ke perdagangan kopra dan investasi properti hingga namanya dikenal sebagai salah satu saudagar pribumi paling berpengaruh di Semarang pada masa kolonial.

Di sisi lain, berbagai cerita populer masih menyebut bahwa Tasripin pernah bekerja sebagai penjaga gudang kulit atau buruh pelabuhan sebelum menjadi pengusaha besar. Kisah tersebut banyak beredar melalui media daring maupun cerita para pemandu wisata di Kota Lama Semarang. Meskipun menarik, informasi yang tersedia saat ini lebih banyak mendukung temuan bahwa Tasripin tumbuh dan belajar di lingkungan usaha keluarganya.

Hal itu bukan berarti cerita mengenai pekerjaan awalnya harus langsung disingkirkan. Sangat mungkin seseorang yang berasal dari keluarga pengusaha tetap menjalani berbagai pekerjaan di lingkungan usaha tersebut sebelum akhirnya mengambil alih kepemimpinan bisnis keluarga. Hanya saja, sampai saat ini belum tersedia bukti primer yang mampu memastikan urutan peristiwa tersebut. Karena itu, kisah mengenai pekerjaan awal Tasripin lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lisan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Apa pun proses yang dilaluinya, hampir semua sumber sepakat pada satu hal: Tasripinlah yang membawa usaha keluarga itu mencapai skala yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Keberhasilannya tidak semata-mata terletak pada mewarisi sebuah usaha, melainkan pada kemampuannya mengembangkan, mendiversifikasi, dan memperluas jaringan bisnis hingga memberi pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi Semarang.

4. Kampung Kulitan: Awal Kerajaan Bisnis Tasripin

Jejak perkembangan usaha Tasripin masih dapat ditelusuri melalui Kampung Kulitan, sebuah kawasan di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah. Menurut berbagai penelitian, kawasan inilah yang menjadi pusat kegiatan keluarga sekaligus berkembang bersama aktivitas bisnis yang dijalankan Tasripin.

Kajian TelusuRI (2024) menyebut Kampung Kulitan pada mulanya merupakan tanah milik keluarga Tasripin. Sebagian besar penghuninya hingga kini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga tersebut, meskipun perubahan generasi membuat silsilahnya semakin sulit ditelusuri secara utuh.

Di kawasan inilah usaha pengolahan kulit berkembang dan kemudian memberi identitas pada nama kampung itu sendiri. Aktivitas penyamakan kulit dilakukan di rumah jagal yang berada di kawasan yang pada masa itu dikenal sebagai Kampung Bleduk atau Kampung Beduk.

Tirto.id, melalui artikel Petrik Matanasi yang mengutip surat kabar De Locomotief edisi 10 Mei 1902, menyebut bahwa Tasripin telah memperoleh izin resmi untuk menyelenggarakan kegiatan penyembelihan ternak di rumah jagalnya. Informasi tersebut menunjukkan bahwa usahanya beroperasi dalam kerangka hukum yang berlaku pada masa Hindia Belanda. Namun, kepemilikan izin tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari prosedur legal yang harus dipenuhi pelaku usaha pada zamannya, bukan sebagai bukti adanya hubungan istimewa dengan pemerintah kolonial.

Satu informasi menarik yang justru jarang muncul dalam tulisan populer berasal dari penelitian Sukawi (2023). Penelitian tersebut menyebut bahwa Tasripin menggunakan jasa seorang ahli hukum berkebangsaan Belanda untuk membantu mengelola aspek hukum usahanya. Bagi seorang pengusaha pribumi pada akhir abad ke-19, langkah seperti ini dapat dikatakan tidak lazim. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Tasripin tidak hanya membangun usahanya melalui kemampuan berdagang, tetapi juga mulai menerapkan tata kelola yang memperhatikan aspek hukum dan perlindungan aset.

Pendekatan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan Tasripin bukan semata-mata hasil keberuntungan atau besarnya modal keluarga. Ia juga memiliki kemampuan membaca perubahan zaman dan mengelola usahanya secara lebih modern dibandingkan banyak pengusaha pribumi pada masa yang sama.

Melalui fondasi inilah, bisnis Tasripin tidak lagi berhenti sebagai industri pengolahan kulit. Dari Kampung Kulitan, jaringan usahanya kemudian berkembang ke perdagangan berbagai komoditas dan investasi properti yang menjadikannya salah satu tokoh ekonomi paling berpengaruh di Semarang pada awal abad ke-20.

5. Diversifikasi Usaha: Dari Industri Kulit Menuju Kopra dan Properti

Keberhasilan Tasripin tidak berhenti pada industri pengolahan kulit. Seiring berkembangnya usahanya, ia mulai memperluas kegiatan bisnis ke sektor lain, terutama perdagangan kopra dan investasi properti. Menurut penelitian Sukawi (2023), kedua bidang inilah yang paling konsisten disebut sebagai pilar utama perkembangan usaha Tasripin setelah bisnis kulit. Informasi serupa juga muncul dalam artikel Petrik Matanasi di Tirto.id yang merujuk berbagai sumber sejarah kolonial.

Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa Tasripin tidak hanya mengandalkan satu jenis usaha. Keuntungan dari perdagangan kulit tampaknya digunakan untuk memperluas portofolio bisnis sekaligus membangun aset jangka panjang. Strategi seperti ini lazim dilakukan para saudagar besar pada masa itu karena kepemilikan tanah tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi sosial pemiliknya di tengah masyarakat.

Investasi properti menjadi salah satu jejak paling nyata dari keberhasilan tersebut. Penelitian Sukawi (2023) menyebut Tasripin memiliki berbagai bidang tanah dan bangunan yang tersebar di sejumlah kawasan Semarang, termasuk di sepanjang Jalan Bojong—kini Jalan Pemuda—serta beberapa kampung di sekitar Jalan Mataram. Sejumlah tulisan sejarah lokal juga menyebut bahwa sebagian tanah tersebut dibeli dari pemilik berkebangsaan Belanda. Informasi ini memperlihatkan bahwa perluasan aset Tasripin lebih banyak dilakukan melalui aktivitas perdagangan dan investasi daripada melalui pewarisan kedudukan tradisional.

Di luar tiga sektor utama—kulit, kopra, dan properti—beberapa tulisan populer juga menyebut komoditas lain seperti kapuk, kapas, dan vanili. Namun, informasi mengenai bidang usaha tersebut masih menunjukkan perbedaan antar-sumber. Misalnya, sebagian tulisan menggunakan istilah kapas, sedangkan sumber lain menyebut kapuk, padahal keduanya merupakan komoditas yang berbeda. Kapuk digunakan sebagai bahan pengisi kasur dan bantal, sedangkan kapas merupakan bahan baku industri tekstil. Perbedaan penyebutan ini menunjukkan bahwa rincian mengenai komoditas tambahan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat dipastikan sebagai bagian dari jaringan usaha Tasripin.

Perkembangan usaha keluarga juga berlanjut pada generasi berikutnya. Tirto.id, yang mengutip Bataviaasch Nieuwsblad edisi 30 Agustus 1910, menyebut bahwa Amat Tasan bin Tasripin mendirikan pabrik es batu di kawasan Karreweg—kini Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perusahaan tersebut tercatat atas nama putranya, pabrik es lebih tepat dipahami sebagai bentuk diversifikasi usaha generasi kedua daripada sebagai bisnis yang dirintis langsung oleh Tasripin.

Salah satu kisah yang paling sering muncul dalam berbagai tulisan populer adalah bahwa Tasripin memiliki kapal sendiri untuk mengangkut kopra dan hasil bumi ke berbagai negara Asia. Cerita ini memang menarik dan sering dikaitkan dengan besarnya jaringan perdagangan yang dimilikinya. Namun, hingga kini sumber-sumber yang tersedia belum menjelaskan nama kapal, bentuk kepemilikan, registrasi, maupun rute pelayarannya. Oleh karena itu, informasi mengenai kapal lebih tepat dipandang sebagai bagian dari tradisi lisan dan legenda yang berkembang di sekitar sosok Tasripin, sambil menunggu ditemukannya arsip primer yang dapat memberikan gambaran yang lebih utuh.

Terlepas dari berbagai rincian yang masih memerlukan penelitian lanjutan, hampir semua sumber sepakat bahwa keberhasilan Tasripin tidak hanya terletak pada kemampuannya mengembangkan usaha kulit, tetapi juga pada keberaniannya memperluas investasi ke berbagai sektor. Diversifikasi inilah yang kemudian membentuk citranya sebagai salah satu saudagar pribumi paling berpengaruh di Semarang pada masa kolonial sekaligus menjadi fondasi bagi berkembangnya usaha keluarga pada generasi berikutnya.

6. Pekerja Migran dan Kaum Boro: Jejak Sosial di Balik Kesuksesan Tasripin

Berkembangnya usaha Tasripin tidak hanya terlihat dari luasnya aset atau beragam bidang bisnis yang dikelolanya, tetapi juga dari kebutuhan akan tenaga kerja dalam jumlah besar. Aktivitas pengolahan kulit, perdagangan, hingga pengelolaan berbagai aset tentu memerlukan dukungan banyak pekerja, termasuk mereka yang datang dari luar Kota Semarang.

Menurut penelitian Sukawi (2023), Tasripin menyediakan tempat tinggal bagi para pekerja migran yang pada masa itu dikenal sebagai kaum boro. Sebagian dari mereka bermukim di kawasan pinggir Kali Semarang, atau yang juga dikenal sebagai Kali Kuping, tepat di belakang kompleks hunian keluarga Tasripin. Keberadaan permukiman tersebut menunjukkan bahwa aktivitas usaha Tasripin tidak hanya membentuk jaringan perdagangan, tetapi juga ikut memengaruhi perkembangan ruang permukiman di sekitarnya.

Dalam konteks sejarah perkotaan, keberadaan kaum boro memiliki arti yang penting. Mereka merupakan para pendatang yang datang ke Semarang untuk mencari pekerjaan dan kemudian menjadi bagian dari dinamika ekonomi kota. Hubungan antara pemilik usaha dan para pekerja ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan sebuah perusahaan pada masa kolonial tidak hanya diukur dari besarnya modal, tetapi juga dari kemampuannya menyerap tenaga kerja dan membentuk komunitas pendukung di sekitarnya.

Di sisi lain, berbagai tulisan populer sering menyebut bahwa Tasripin mempekerjakan 10.000 hingga 15.000 orang yang tinggal di kawasan bernama Pondok Boro. Angka tersebut memang sering dikutip, tetapi hingga kini arsip yang tersedia belum memberikan dukungan berupa daftar pekerja, catatan pajak, laporan perusahaan, maupun dokumen administrasi lain yang dapat memastikan jumlah tersebut. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari cerita yang berkembang di masyarakat daripada sebagai data historis yang telah terverifikasi.

Meski demikian, penelitian Sukawi (2023) memberikan dasar yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa Tasripin memang mempekerjakan pekerja migran dan menyediakan hunian bagi sebagian dari mereka. Yang masih menjadi ruang penelitian adalah berapa jumlah pekerja yang sebenarnya, bagaimana sistem perekrutannya, serta bagaimana hubungan kerja yang terjalin antara keluarga Tasripin dan para kaum boro tersebut.

Kehadiran kaum boro memperlihatkan bahwa warisan Tasripin tidak hanya berupa bangunan, tanah, atau kekayaan keluarga. Di balik perkembangan usahanya, terdapat pula kisah mengenai perpindahan penduduk, terbentuknya permukiman pekerja, dan perubahan wajah Kota Semarang sebagai kota perdagangan yang terus berkembang. Dari sinilah perjalanan Tasripin mulai menunjukkan bahwa sejarah bisnis juga merupakan bagian dari sejarah sosial masyarakat.

7. Wayang Tasripin: Ketika Industri Kulit Bertemu Warisan Budaya Jawa

Selain menjadi bahan baku berbagai kebutuhan perdagangan, kulit juga memiliki nilai penting dalam kebudayaan Jawa. Salah satu jejak paling menarik dari usaha Tasripin adalah keterkaitannya dengan produksi wayang kulit, sebuah karya seni yang hingga kini menjadi bagian penting dari tradisi pewayangan di Indonesia.

Tirto.id, melalui artikel Petrik Matanasi yang mengutip buku Pratiwimba Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang karya S. Haryanto (1988), menyebut bahwa Tasripin mengembangkan wayang dengan memadukan gaya Yogyakarta dan gaya pesisiran. Perpaduan tersebut kemudian dikenal sebagai Wayang Tasripin, sebuah sebutan yang menunjukkan adanya karakter visual yang berbeda dari gaya wayang yang telah lebih dahulu berkembang.

Informasi ini menarik karena memperlihatkan bahwa usaha pengolahan kulit yang dijalankan Tasripin tidak hanya menghasilkan komoditas perdagangan, tetapi juga bersentuhan dengan dunia seni dan budaya. Sebagai pengusaha yang menguasai bahan baku kulit, Tasripin memiliki peluang untuk mendukung produksi wayang, baik sebagai bagian dari kegiatan usahanya maupun melalui hubungan dengan para perajin pada masa itu.

Namun, sumber-sumber yang tersedia belum menjelaskan secara rinci bagaimana keterlibatan Tasripin dalam pengembangan Wayang Tasripin. Belum diketahui apakah ia berperan sebagai penggagas desain, pemilik bengkel produksi, penyandang dana, atau sekadar memberikan dukungan kepada para perajin wayang. Demikian pula, motif di balik pengembangannya—apakah didorong oleh kepentingan perdagangan, pesanan tertentu, atau kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa—masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Terlepas dari berbagai pertanyaan tersebut, keberadaan Wayang Tasripin memperlihatkan bahwa pengaruh Tasripin tidak berhenti pada bidang ekonomi. Nama yang semula dikenal melalui industri kulit kemudian juga melekat pada salah satu bentuk ekspresi budaya Jawa. Hal ini menjadi pengingat bahwa pada masa kolonial, kegiatan perdagangan, kerajinan, dan kebudayaan sering kali berkembang secara saling berkaitan, bukan berjalan sebagai dunia yang terpisah.

Dengan demikian, Wayang Tasripin bukan hanya menarik sebagai artefak seni, tetapi juga sebagai bukti bahwa sejarah ekonomi dan sejarah kebudayaan dapat bertemu dalam sosok yang sama. Hubungan inilah yang memperkaya pemahaman kita tentang peran Tasripin dalam sejarah Semarang.

8. Legenda yang Mengiringi Nama Tasripin

Kisah Koin Ratu Wilhelmina: Antara Legenda, Ingatan Kolektif, dan Fakta Sejarah

Di antara berbagai kisah yang mengiringi nama Tasripin, tidak ada yang lebih terkenal daripada cerita tentang koin bergambar Ratu Wilhelmina yang konon dipasang di lantai rumahnya. Hingga kini, kisah tersebut masih sering diceritakan oleh masyarakat, pemandu wisata, maupun berbagai tulisan populer ketika membahas sosok Tasripin. Menariknya, semakin sering cerita itu diwariskan, semakin banyak pula variasi yang muncul. Dalam kajian sejarah, kondisi seperti ini lazim dijumpai pada tradisi lisan yang berkembang dari generasi ke generasi.

Versi yang paling banyak dikenal menyebut bahwa keberhasilan bisnis Tasripin sampai terdengar ke Belanda. Sebagai bentuk penghargaan, Ratu Wilhelmina dikisahkan mengirimkan sejumlah koin bergambar wajahnya kepada Tasripin. Koin-koin tersebut kemudian dipasang di lantai rumah sehingga setiap tamu yang datang harus melangkah di atasnya. Dalam versi ini, tindakan tersebut justru dianggap sebagai simbol kehormatan, bahkan berkembang cerita bahwa rumah Tasripin tidak pernah digeledah oleh serdadu Belanda karena penghormatan yang diterimanya.

Namun, cerita lain berkembang dengan alur yang berbeda. Beberapa pemandu wisata Kota Lama Semarang menuturkan bahwa pemasangan koin di lantai justru memicu protes pemerintah kolonial. Gambar Ratu Wilhelmina dianggap terinjak-injak setiap hari sehingga dipandang sebagai penghinaan terhadap simbol negara. Versi ini kemudian berlanjut dengan kisah bahwa Tasripin menolak membongkar lantai tersebut, hingga akhirnya dicapai jalan tengah dengan melebur koin-koin itu sehingga gambar sang ratu tidak lagi terlihat.

Kedua cerita tersebut memperlihatkan perbedaan yang cukup mendasar. Dalam satu versi, koin tetap menjadi simbol penghormatan yang tidak pernah dipermasalahkan. Dalam versi lainnya, keberadaan koin justru memicu ketegangan dengan pemerintah kolonial. Perbedaan alur seperti ini menunjukkan bahwa cerita tersebut telah berkembang melalui proses pewarisan lisan yang panjang sehingga rincian peristiwanya mengalami berbagai penyesuaian dari waktu ke waktu.

Sampai saat ini, dokumen yang dapat diakses belum memberikan bukti mengenai keterlibatan langsung Ratu Wilhelmina, baik berupa surat, arsip kerajaan, korespondensi resmi, maupun laporan administrasi kolonial yang menjelaskan asal-usul koin tersebut. Demikian pula, kronologi mengenai pemasangan, pembongkaran, atau peleburan koin belum dapat dipastikan melalui sumber primer yang tersedia.

Karena itu, kisah koin Ratu Wilhelmina lebih tepat dipahami sebagai legenda lokal yang tumbuh dari ingatan kolektif masyarakat Semarang. Nilainya bukan terletak pada kepastian setiap detail peristiwanya, melainkan pada makna yang dikandungnya. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat memandang Tasripin sebagai seorang saudagar pribumi yang memiliki kedudukan ekonomi dan sosial sangat tinggi, bahkan dianggap mampu berdiri sejajar dengan simbol-simbol kekuasaan kolonial.

Dalam kajian sejarah, legenda semacam ini tetap memiliki arti penting. Bukan karena seluruh isinya harus diterima sebagai fakta, melainkan karena ia membantu menjelaskan bagaimana sebuah masyarakat membangun ingatan terhadap tokoh yang mereka anggap luar biasa. Dengan kata lain, legenda tersebut lebih banyak berbicara tentang cara masyarakat mengenang Tasripin daripada tentang hubungan pribadinya dengan Ratu Wilhelmina.

9. Warisan yang Masih Bertahan

Rumah Warisan di Kampung Kulitan

Jika jejak bisnis Tasripin kini hanya dapat ditelusuri melalui berbagai dokumen dan cerita sejarah, warisan fisiknya masih dapat dijumpai di Kampung Kulitan, Semarang. Kawasan inilah yang menjadi saksi perkembangan keluarga Tasripin sekaligus menyimpan beberapa bangunan yang hingga kini masih memperlihatkan karakter arsitektur dari masa kolonial.

Salah satu peninggalan yang paling terdokumentasi adalah Rumah Kampung Kulitan Nomor 198, yang secara resmi tercatat sebagai Rumah Tinggal A.T. Ng. Moeljo dalam daftar Bangunan Cagar Budaya Kota Semarang. Menurut penelitian Indarti (2024), rumah ini merupakan bagian dari peninggalan keluarga Tasripin yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-20. Bangunan tersebut memiliki atap berbentuk pelana dengan rangka kayu yang ditopang tiang besi tempa, mencerminkan karakter arsitektur Indis yang berkembang pada masa itu.

Status cagar budaya secara resmi melekat pada bangunan-bangunan tertentu, seperti Rumah A.T. Ng. Moeljo, dan bukan berarti seluruh kawasan Kampung Kulitan telah ditetapkan sebagai satu kawasan cagar budaya. Meski demikian, berbagai penelitian sepakat bahwa Kampung Kulitan memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena berkaitan erat dengan kehidupan, usaha, dan perkembangan keluarga Tasripin.

Sejarawan Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati, menjelaskan bahwa peninggalan Tasripin tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga mencakup warisan budaya seperti Wayang Tasripin serta nilai-nilai yang berkembang di lingkungan keluarganya. Perpaduan antara warisan fisik dan nonfisik inilah yang menjadikan Kampung Kulitan memiliki arti penting dalam sejarah Kota Semarang.

Namun, penelitian Zhafarina dan Wulandari (2024) menunjukkan bahwa Kampung Kulitan telah mengalami berbagai perubahan, baik secara fisik maupun sosial. Kawasan ini bukan lagi potret utuh seperti pada masa Tasripin, melainkan lingkungan yang terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat. Justru perubahan tersebut menunjukkan bahwa sejarah bukan sesuatu yang membeku, melainkan terus hidup bersama masyarakat yang mewarisinya.

10. Tasripin dan Oei Tiong Ham: Dua Saudagar Besar dalam Sejarah Semarang

Ketika membahas sejarah ekonomi Semarang pada masa kolonial, nama Tasripin hampir selalu dibandingkan dengan Oei Tiong Ham. Keduanya dikenal sebagai pemilik aset yang luas dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi kota pada zamannya. Tidak mengherankan apabila berbagai tulisan populer menempatkan mereka sebagai dua tokoh penting dalam sejarah perdagangan Semarang.

Namun, perbandingan tersebut perlu dipahami dalam konteks yang tepat. Oei Tiong Ham membangun kekayaannya melalui Oei Tiong Ham Concern, sebuah konglomerasi gula berskala internasional yang meninggalkan dokumentasi perusahaan sangat lengkap. Sementara itu, usaha Tasripin berkembang dari industri kulit menuju perdagangan kopra dan investasi properti dengan dokumentasi sejarah yang jauh lebih terbatas.

Menurut penelitian Sukawi (2023), Tasripin berhasil membangun jaringan usaha yang berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi Semarang. Akan tetapi, keterbatasan arsip mengenai struktur perusahaan, nilai aset, maupun jaringan perdagangannya membuat perbandingan langsung dengan Oei Tiong Ham sulit dilakukan secara objektif.

Yang dapat dinyatakan dengan lebih meyakinkan adalah bahwa Tasripin dan Oei Tiong Ham sama-sama merupakan tokoh ekonomi penting di Semarang, meskipun bergerak dalam bidang usaha, skala bisnis, dan lingkungan sosial yang berbeda. Tasripin bahkan berasal dari generasi yang lebih tua sehingga telah membangun usahanya sebelum masa kejayaan Oei Tiong Ham mencapai puncaknya.

Perbedaan lain yang cukup mencolok terletak pada jejak sejarah yang mereka tinggalkan. Oei Tiong Ham dikenang melalui perusahaan besar yang terdokumentasi secara sistematis, sedangkan kisah Tasripin lebih banyak bertahan melalui rumah-rumah keluarga di Kampung Kulitan, penelitian akademik, arsip surat kabar kolonial, dan cerita masyarakat. Perbedaan inilah yang menyebabkan nama Oei Tiong Ham lebih sering muncul dalam historiografi nasional, sementara Tasripin lebih dikenal dalam sejarah lokal Semarang.

Namun demikian, tingkat popularitas bukanlah ukuran tunggal besarnya peran sejarah. Keterbatasan arsip justru menunjukkan bahwa masih banyak ruang penelitian mengenai perjalanan hidup Tasripin. Setiap temuan baru berpotensi memperkaya pemahaman kita tentang peran pengusaha pribumi dalam perkembangan ekonomi Indonesia pada masa kolonial.

11. Suksesi Bisnis: Ketika Amat Tasan Meneruskan Warisan Tasripin

Seperti banyak perusahaan keluarga pada masanya, keberlangsungan usaha Tasripin tidak berhenti ketika generasi pendirinya mulai menua. Memasuki awal abad ke-20, kepemimpinan bisnis keluarga secara bertahap diteruskan kepada putra sulungnya, Amat Tasan, yang dalam beberapa sumber juga disebut Tas An.

Melalui telaah Petrik Matanasi terhadap berbagai surat kabar kolonial, diketahui bahwa di bawah kepemimpinan Amat Tasan, usaha keluarga terus berkembang dan mulai memasuki bidang usaha baru. Salah satu yang paling terdokumentasi adalah pendirian pabrik es batu di Karreweg—kini Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo—pada tahun 1910. Kehadiran pabrik tersebut menunjukkan bahwa generasi kedua keluarga Tasripin tidak hanya mempertahankan usaha yang telah ada, tetapi juga mulai melakukan diversifikasi mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Sejumlah tulisan populer juga menyebut bahwa usaha keluarga kemudian dikenal dengan nama Tasriepien Concern dan masih bertahan hingga sekitar dekade 1950-an. Informasi ini menarik karena mengisyaratkan adanya transformasi dari usaha keluarga menjadi organisasi bisnis yang lebih terstruktur.

Meski demikian, hingga kini belum tersedia dokumen korporat yang menjelaskan bentuk organisasi, struktur kepemilikan, maupun perjalanan usaha Tasriepien Concern secara rinci. Oleh karena itu, penyebutan nama perusahaan tersebut masih memerlukan penelitian arsip lebih lanjut sebelum dapat dipastikan sebagai fakta sejarah yang mapan.

Berdasarkan laporan Soerabaijasch Handelsblad yang kemudian dikutip kembali oleh CNBC Indonesia, Amat Tasan meninggal dunia pada tahun 1937 dalam usia 72 tahun. Informasi tersebut menunjukkan bahwa setelah wafatnya Tasripin, kepemimpinan usaha keluarga tetap berlanjut setidaknya hingga generasi berikutnya.

Perjalanan bisnis keluarga setelah masa Amat Tasan masih menyisakan banyak ruang penelitian. Namun satu hal yang dapat disimpulkan dengan cukup kuat adalah bahwa warisan Tasripin tidak berhenti pada satu generasi. Usaha yang ia bangun berhasil diteruskan oleh keluarganya dan tetap berkembang setelah kepemimpinan beralih kepada Amat Tasan. Hal itu menunjukkan bahwa peninggalan Tasripin bukan hanya berupa kekayaan, tetapi juga fondasi bisnis yang mampu bertahan melampaui masa hidup pendirinya.

12. Akhir Hayat: Menutup Perjalanan Seorang Saudagar

Perjalanan hidup Tasripin berakhir pada 9 Agustus 1919. Menurut penelitian Sukawi (2023), tanggal tersebut merupakan salah satu informasi yang paling konsisten muncul dalam berbagai sumber, baik penelitian akademik maupun berbagai tulisan sejarah. Karena didukung oleh lebih dari satu rujukan, tanggal wafat ini dapat dipandang sebagai bagian dari biografi Tasripin yang memiliki dasar historis paling kuat.

Tidak lama setelah wafatnya, nama Tasripin kembali muncul dalam sejumlah pemberitaan yang menyoroti besarnya kekayaan yang ia tinggalkan. Beberapa artikel yang mengutip surat kabar Algemeen Handelsblad edisi 26 Oktober 1919 menyebut bahwa kekayaan Tasripin diperkirakan mencapai 45 juta gulden, dengan pendapatan bulanan sekitar 35.000–40.000 gulden. Angka tersebut kemudian banyak dikutip dalam berbagai tulisan populer karena menggambarkan besarnya skala usaha yang pernah dibangun Tasripin.

Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Sumber-sumber yang tersedia belum menjelaskan secara rinci apakah nilai 45 juta gulden merujuk pada keseluruhan aset, nilai perusahaan, kepemilikan tanah, atau sekadar estimasi kekayaan yang dimuat surat kabar pada masa itu. Selain itu, artikel ini belum melakukan pemeriksaan langsung terhadap arsip asli Algemeen Handelsblad. Oleh karena itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai perkiraan yang banyak dikutip dalam literatur sejarah, bukan sebagai nilai kekayaan yang telah diverifikasi melalui metode penilaian ekonomi yang jelas.

Hal yang sama berlaku terhadap berbagai upaya mengonversi nilai tersebut ke dalam rupiah masa kini. Tanpa metodologi ekonomi sejarah yang transparan, konversi tersebut lebih tepat dipandang sebagai ilustrasi untuk membantu pembaca memahami besarnya nilai ekonomi pada zamannya daripada sebagai angka yang memiliki ketepatan ilmiah.

13. Makna Historis: Lebih Besar dari Sekadar Angka Kekayaan

Terlepas dari berbagai rincian yang masih memerlukan penelitian lanjutan, inti perjalanan hidup Tasripin tergambar dengan cukup jelas. Ia berhasil mengembangkan usaha pengolahan kulit yang diwarisinya menjadi jaringan bisnis yang meluas ke perdagangan kopra dan investasi properti. Keberhasilan tersebut menjadikannya salah satu saudagar pribumi yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi Semarang pada masa kolonial.

Pencapaian itu memiliki arti yang lebih dalam apabila ditempatkan dalam konteks zamannya. Pada masa Hindia Belanda, struktur sosial dan hukum membedakan kedudukan masyarakat Eropa, Timur Asing, dan Bumiputra. Perbedaan tersebut turut memengaruhi akses terhadap pendidikan, modal usaha, perlindungan hukum, serta jaringan perdagangan. Dalam situasi seperti itulah keberhasilan Tasripin memperoleh makna historis yang penting.

Keberhasilannya juga tidak lepas dari kemampuannya mengelola usaha secara profesional. Salah satu langkah yang tergolong maju pada masanya adalah menggunakan jasa seorang ahli hukum berkebangsaan Belanda untuk menangani aspek legal bisnisnya. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Tasripin tidak hanya mengandalkan pengalaman berdagang, tetapi juga memahami pentingnya kepastian hukum dalam mengembangkan dan melindungi usahanya.

Di sisi lain, berbagai kisah mengenai kedekatannya dengan Ratu Wilhelmina, kepemilikan kapal dagang, maupun jumlah pekerja yang mencapai puluhan ribu orang perlu ditempatkan secara proporsional. Cerita-cerita tersebut tetap memiliki nilai sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Semarang, tetapi belum seluruhnya didukung oleh sumber primer yang memungkinkan setiap detailnya dipastikan sebagai fakta sejarah. Membedakan antara fakta yang terdokumentasi dan legenda yang hidup di masyarakat justru merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah itu sendiri.

14. Warisan bagi Semarang Masa Kini

Lebih dari satu abad setelah wafatnya, jejak Tasripin masih dapat ditelusuri di Kampung Kulitan, kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidup dan perkembangan usahanya. Beberapa bangunan peninggalan keluarga, seperti Rumah Tinggal A.T. Ng. Moeljo, telah tercatat sebagai bangunan cagar budaya Kota Semarang. Keberadaan bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Tasripin tidak hanya tersimpan dalam arsip dan cerita, tetapi juga masih hadir dalam ruang kota yang dapat disaksikan hingga sekarang.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Kampung Kulitan telah mengalami berbagai perubahan, baik pada bentuk fisik maupun kehidupan sosial masyarakatnya. Kawasan ini tidak lagi dapat dipahami sebagai gambaran utuh Kampung Kulitan pada masa Tasripin, melainkan sebagai lingkungan yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Perubahan tersebut justru memperlihatkan bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang membeku, melainkan terus hidup bersama masyarakat yang mewarisinya.

Karena itu, pelestarian Kampung Kulitan tidak cukup hanya mempertahankan bangunan tua yang masih tersisa. Upaya tersebut juga perlu menjaga nilai sejarah, ingatan kolektif, dan identitas kawasan agar tetap dapat dipahami oleh generasi berikutnya. Dalam konteks inilah, kisah Tasripin memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar riwayat seorang saudagar kaya.

15, Penutup

Perjalanan hidup Tasripin menunjukkan bahwa sejarah ekonomi Hindia Belanda tidak hanya dibentuk oleh perusahaan-perusahaan besar milik Eropa atau konglomerasi Tionghoa. Di tengah sistem kolonial yang membatasi ruang gerak sebagian besar penduduk bumiputra, Tasripin berhasil mengembangkan usaha pengolahan kulit warisan keluarganya menjadi jaringan bisnis yang meluas ke perdagangan kopra, investasi properti, dan berbagai bidang usaha lain. Keberhasilannya menjadikan ia salah satu saudagar pribumi yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi Kota Semarang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Namun, nilai sejarah Tasripin tidak semata-mata terletak pada besarnya kekayaan yang pernah dimilikinya. Lebih penting dari itu adalah jejak yang masih dapat dikenali hingga sekarang: rumah-rumah peninggalan di Kampung Kulitan, kisah Wayang Tasripin, perkembangan permukiman kaum boro, serta berbagai cerita yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Semarang. Warisan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh seorang tokoh tidak selalu diukur dari besarnya harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari jejak yang tetap bertahan melampaui zamannya.

Artikel ini juga memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh. Sebagian kisah Tasripin dapat ditelusuri melalui penelitian akademik, arsip surat kabar kolonial, dan bangunan yang masih berdiri hingga kini. Di sisi lain, berbagai cerita mengenai koin Ratu Wilhelmina, kapal dagang, maupun besarnya kekayaan yang dimiliki lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan yang masih memerlukan dukungan bukti sejarah yang lebih kuat. Membedakan keduanya bukan berarti mengurangi kebesaran Tasripin, melainkan justru merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah itu sendiri.

Masih banyak ruang yang terbuka untuk penelitian lanjutan. Arsip kolonial yang belum ditelusuri, dokumen keluarga yang mungkin masih tersimpan, maupun penelitian mengenai perkembangan Kampung Kulitan berpotensi memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan hidup Tasripin. Setiap temuan baru akan memperkaya pemahaman kita tentang peran pengusaha pribumi dalam membentuk sejarah ekonomi Indonesia.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak akan pernah mengetahui secara pasti berapa besar kekayaan Tasripin, apakah ia benar-benar memiliki kapal sendiri, atau bagaimana kisah koin bergambar Ratu Wilhelmina itu bermula. Namun satu hal tampaknya telah cukup jelas: lebih dari satu abad setelah wafatnya, nama Tasripin masih terus dikenang, rumah-rumah peninggalannya masih berdiri, dan kisahnya masih diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak banyak pengusaha yang mampu meninggalkan warisan sejarah selama itu. Karena itulah, Tasripin layak dikenang sebagai salah satu saudagar pribumi paling berpengaruh dalam sejarah Kota Semarang.

Daftar Pustaka

A. Sumber Akademik

Indarti, F. D. (2024). Arsitektur Indis pada Rumah Tinggal Kampung Kulitan Semarang. Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, 2(2), 59–67. https://doi.org/10.572349/scientica.v2i2.883.

Sukawi. (2023). Merawat Kampung Kulitan Semarang sebagai Kampung Tematik Tempo Doeloe. MODUL, 23(2). Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.

Zhafarina, L., & Wulandari, A. (2024). Kajian Warisan Hidup pada Kampung Kulitan Kota Semarang sebagai Warisan Budaya. Jurnal Arsitektur Display, 3(2), 41–55.

B. Buku

Haryanto, S. (1988). Pratiwimba Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang.

Toer, P. A. (2003). Sang Pemula (Cetakan ulang). Hasta Mitra.

C. Artikel dan Media

CNBC Indonesia. (2022, 25 Januari). Kenalkan Ini Tasripin! Crazy Rich ala Indonesia Tempo Dulu.

Good News From Indonesia. (2021, 28 Juli). Kisah Tasripin, Konglomerat Bumiputra yang Derajatnya Setara Ratu Belanda.

Halo Semarang. (2022, 12 Maret). Mengenal Tasripin, Konglomerat Asal Semarang yang Memiliki Kapal Sendiri.

Jatim Network. (2024, 29 Januari). Sosok Tasripin, Seorang Konglomerat Asal Semarang yang Rumahnya Berlantaikan Koin Emas Wajah Ratu Belanda.

Matanasi, P. (2020, 1 September). Kisah Tasripin, Juragan Kulit nan Legendaris dari Semarang. Tirto.id.

Serat.id. (2021, 28 Juni). Tasripin, Sepenggal Kisah Pengusaha Pribumi Kota Semarang Era Kolonial.

TelusuRI. (2024, 2 November). Melihat Lebih Dekat Jejak Saudagar Kulit Hewan di Semarang.

Catatan: Artikel dari jaringan Malang Times, Jatim Times, Banyuwangi Times, Sidoarjo Times, dan portal lain dalam jaringan yang sama tidak dicantumkan secara terpisah karena merupakan artikel sindikasi dengan isi yang identik. Satu rujukan sudah mewakili keseluruhan jaringan.

D. Arsip Kolonial (Dikutip Secara Sekunder)

Arsip berikut tidak ditelaah secara langsung oleh penulis, melainkan diketahui melalui penelitian akademik dan artikel sejarah yang menjadi rujukan dalam artikel ini.

  • Algemeen Handelsblad. 26 Oktober 1919.
  • Bataviaasch Nieuwsblad. 30 Agustus 1910.
  • De Locomotief. 10 Mei 1902.
  • Soerabaijasch Handelsblad. 27 Agustus 1937.

E. Catatan Metodologi

Artikel ini disusun dengan mengutamakan penelitian akademik sebagai sumber utama, terutama karya Sukawi (2023), Indarti (2024), serta Zhafarina dan Wulandari (2024). Artikel media digunakan sebagai sumber sekunder untuk melengkapi informasi dan menelusuri rujukan terhadap arsip kolonial. Sementara itu, cerita yang berasal dari tradisi lisan maupun tulisan populer tetap dicantumkan apabila relevan, tetapi dibedakan secara jelas dari fakta yang telah didukung oleh penelitian akademik atau dokumen sejarah. Dengan pendekatan tersebut, artikel ini berupaya menjaga keseimbangan antara ketelitian ilmiah dan keterbacaan bagi masyarakat umum.


Sunday, December 21, 2025

Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.


Thursday, February 27, 2025



Aplikasi Koncodolan adalah inovasi terbaru dari Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. yang dikembangkan untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan menemukan lokasi wisata yang menarik di Kota Semarang. Aplikasi ini memiliki fitur yang lengkap, meliputi Calender Of Event, Daya Tarik Wisata, Aksesibilitas, Amenitas dan Database Pariwisata dan Budaya. 

Fitur Calender Of Event merupakan Atraksi Seni Budaya, Pameran, Fesyen, Sport Tourism dan lainnya yang ditampilkan secara bulanan dalam setahun. Fitur Daya Tarik Wisata terbagi ke dalam beberapa ruang lingkup antara lain wisata alam, wisata religi, wisata belanja, wisata heritage, desa wisata dan paket wisata.

Data Amenitas dengan tampilan simpel, terintegrasi dengan google maps memudahkan wisatawan dalam mencari penginapan, restoran, tempat nongkrong, karaoke maupun spa di Kota Semarang. Sementara itu data Aksesibilitas memudahkan wisatawan yang akan bepergian menggunakan sarana transportasi umum, bus wisata dan rental mobil untuk mobilitas selama di Kota Semarang.

 Database Pariwisata menjadi fitur pembeda dengan aplikasi pariwisata sebelumnya yaitu terdiri dari Database 13 Jenis Usaha Pariwisata by name by adress serta publikasi hasil-hasil Riset Pariwisata dan Budaya yang diperlukan para mahasiswa untuk tugas akhir atau penelitian dan juga para pelaku usaha pariwisata untuk mengetahui potensi dan tren pasar wisata, jumlah kunjungan wisatawan,  dan indikator statistik lainnya.

Aplikasi koncodolan ini terintegrasi dengan website pariwisata.semarangkota.go.id, tidak hanya memberikan informasi tentang pariwisata tetapi juga terintegrasi dengan petunjuk arah google maps. Dan untuk peningkatan layanan berupa informasi, interaksi, transaksi pariwisata akan dikembangkan pada Aplikasi Koncodolan ini sehingga diharapkan semakin besar dalam memberi dampak bagi masyarakat dan pelaku wisata yang ada di Kota Semarang.

Download Konco Dolan - Apps on Google Play


Sunday, December 22, 2024

Kota Semarang bersiap menyambut masa depan pariwisata yang lebih dinamis dan segar di tahun 2025. Sebagai salah satu kota dengan potensi wisata terbesar di Jawa Tengah, Semarang tak hanya menawarkan destinasi, tetapi juga pengalaman yang menggugah rasa penasaran. Tahun 2025 adalah waktunya bagi kota ini untuk tampil beda, menjadi sorotan, dan memikat hati wisatawan dari berbagai belahan dunia. Bersiaplah, era baru wisata urban ada di depan mata!

Tren Pariwisata Kota Semarang 2025

  1. Teknologi yang Mengubah Cara Berwisata

    • Wisata di Semarang akan dipadukan dengan teknologi canggih. Bayangkan berjalan-jalan di Kota Lama sambil memakai kacamata AR yang memperlihatkan suasana abad ke-18. Setiap sudut menceritakan sejarah, membuat Anda merasa berada di masa lalu.

    • Aplikasi wisata berbasis AI juga akan menjadi teman terbaik wisatawan, membantu merancang liburan personal hingga memesan tiket dan mencarikan spot foto terbaik.

  2. Wisata Hijau yang Semakin Mendunia

    • Tren wisata ramah lingkungan kian digemari. Semarang memimpin dengan taman kota dan desa wisata yang mengusung konsep zero waste serta penggunaan energi terbarukan.

    • Tinjomoyo Forest Park adalah contoh nyata, menawarkan jalur trekking ramah lingkungan dan aktivitas seru seperti workshop konservasi alam.

  3. Kuliner Lokal dengan Sentuhan Baru

    • Pasar Semawis akan menjadi destinasi kuliner malam yang tak tertandingi. Hidangan tradisional disajikan dengan cara modern, memadukan resep nenek moyang dengan teknologi masa kini.

    • Jangan lewatkan festival kuliner "Semarang Food Week," di mana chef lokal berlomba menciptakan menu baru berbahan dasar lokal.

  4. Pengalaman Wisata yang Unik dan Tak Terlupakan

    • Desa Wisata Kandri akan memanjakan wisatawan dengan pengalaman budaya yang otentik. Mulai dari belajar membatik hingga memasak makanan khas bersama penduduk setempat.

    • Kampung Pelangi, dengan seni digital interaktifnya, menjadi surga bagi para pemburu foto Instagram.

Rekomendasi Tempat Wisata di Semarang 2025

  1. Kota Lama Semarang

    • Dengan museum digital dan pertunjukan seni jalanan, kawasan ini menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin merasakan sejarah hidup.

  2. Sam Poo Kong

    • Klenteng ini kaya akan story telling laksamana cheg ho dan menawarkan berbagai macam atraksi wisata serta kuliner khas lokal

  3. Lawangsewu

    • Lokasi ini cocok untuk pencinta heritage, sejarah dan budaya.  Dilengkapi dengan museum imersif  membuatnya lebih menarik.

  4. Tinjomoyo 

    • Nikmati jogging track berbatu yang dikelilingi hutan asri atau hadiri festival tahunan yang menggabungkan seni dan alam.

  5. Pantai Marina

    • Selain menikmati sun set, Anda bisa mencoba jetsky, naik perahu, atau memancing. Tersedia juga berbagai macam kuliner lokal

Tips Sukses Bagi Pelaku Wisata

  1. Adaptasi Digital atau Tertinggal

    • Pastikan bisnis Anda memiliki kehadiran digital yang kuat. Dari media sosial hingga chatbot, semuanya penting untuk menjangkau wisatawan modern.

  2. Ciptakan Pengalaman Berbeda

    • Jangan hanya menjual tiket atau produk, tawarkan pengalaman. Paket seperti "Malam Misteri Kota Lama" akan membuat pengunjung merasa terlibat.

  3. Latih Karyawan Anda

    • Wisatawan menghargai keramahan dan kompetensi. Pastikan staf Anda fasih berbahasa asing dan paham teknologi.

  4. Libatkan Masyarakat Lokal

    • Kolaborasi dengan penduduk setempat tak hanya menambah autentisitas, tetapi juga memberi dampak positif bagi komunitas.

  5. Jadilah Viral

    • Manfaatkan kekuatan media sosial. Gandeng influencer atau buat konten unik yang bisa menarik perhatian dunia maya.

Masa Depan Dimulai dari Semarang

Semarang sedang bersiap menjadi kiblat wisata urban di Indonesia. Kota ini bukan hanya soal destinasi, tetapi tentang bagaimana memberikan pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan. Para pelaku wisata, inilah momen Anda untuk berinovasi, berani mencoba hal baru, dan menjadi bagian dari perubahan besar. Semarang 2025 adalah tentang masa depan yang dimulai hari ini. Jangan sampai tertinggal!A


Sunday, April 14, 2024

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menyebut jumlah kunjungan wisata ke Ibu kota Jawa Tengah mengalami peningkatan 32 persen hingga hari ketiga libur Lebaran tahun 2024 ini. Hal ini disampaikan Sub Koordinator Informasi Budaya & Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Agus Kariswanto, Jumat (12/4). Jumlah kunjungan wisata ke Kota Semarang sampai kemarin mencapai 162 ribu. Hari ini data belum masuk, namun kalau dihitung periode sama dibanding tahun lalu naik 32 persen," kata Karis, sapaannya. 

Salah satu destinasi wisata jujugan adalah kawasan Kota Lama Semarang yang masih menjadi andalan. Destinasi wisata Kota Lama Semarang merupakan salah satu wisata yang paling sering dikunjungi. "Jelas nomor satu kawasan Kota Lama. Kota Lama Semarang saat ini masih peringkat pertama di kunjungan wisata di Jawa Tengah," jelasnya. 


Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, Kota Lama mulai berbenah. Semakin cantik dan tertata hingga disebut Little Netherland, mengingat pada area ini dulunya merupakan fokus pembangunan di masa penjajahan Belanda. Tidak hanya itu, Kota Lama menawarkan wisata dengan suasana tempo dulu, dikelilingi bangunan kuno masa kolonial Belanda, dengan sebagian besar bangunan telah direvitalisasi.  "Paling favorit itu destinasi Kota Lama Semarang. Kemudian ada Pantai Marina dan Museum Lawang Sewu," sebut Karis. Wisata lain seperti Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang Zoo, Goa Kreo, juga turut mengalami peningkatan pengunjung.  Menurutnya, cuaca cerah dan relatif sejuk dibanding tahun sebelumnya menjadi salah faktor wisatawan tertarik datang ke kota Semarang. "Karena tahun lalu cuaca saat lebaran sangat panas, sedangkan tahun ini relatif sejuk. Sehingga  pergerakan pengunjung wisata juga lebih oke. Hanya saja, data itu masih sementara dan akan terus berkembang. Karena tahun lalu justru pasca lebaran terjadi lonjakan pengunjung," imbuhnya. 

Senada, Manager Operasional dan Pengembangan Semarang Zoo, Swandito Widyotomo mengatakan,  selama Libur Lebaran 2024, Semarang Zoo menargetkan 50 ribu pengunjung. "Target Semarang Zoo selama libur Lebaran 2024 ini adalah 50 ribu pengunjung untuk khusus event Lebaran," kata dia. Tentu saja, pihaknya berharap dengan skenario libur lebaran dari Pemerintah yang cukup panjang, bisa menambah jumlah wisatawan yang datang. "Rata-rata harian sudah di angka 4000 pengunjung  tapi belum di titik puncak. Kalau berkiblat dari tahun sebelumnya, puncaknya bisa sampai 7000-8000 pengunjung," imbuh dia. Pihaknya memprediksi, puncak kunjungan wisatawan akan terjadi pada Sabtu dan Minggu 12-13 April 2024. 

"Untuk prediksi puncaknya, Sabtu Minggu dan susulan terakhir kemungkinan pada syawalan. Karena kita berdekatan dengan area Kendal Kaliwungu. Apalagi biasanya momen liburan bagi warga Kendal Kaliwungu adalah di Syawalan," jelasnya. Terkait wahana baru yang ada di Semarang Zoo yang digadang bisa menarik minat wisatawan, Swandito menyebut beberapa gebrakan.  "Wahana yang baru kita rilis ada Reptile Cave. Itu wahana khusus untuk aneka reptil. Kemudian ada kegiatan lain seperti Carnivore Feeding Adventure," imbuhnya. 

Carnivore Feeding Adventure ini mengajak pengunjung untuk menguji nyali dengan cara memberi makan satwa-satwa karnivora. "Selama ini Carnivore Feeding bersifat tentatif, lokasinya juga lebih privat. Kita memberikan kesempatan masyarakat untuk merasakan sensasi memberikan makanan ke harimau. Pastinya terjangkau untuk semua pengunjung yang ingin memberikan makan pada harimau. Tapi, untuk yang privat itu jelas berbeda karena sangat dekat dengan harimau pastinya masih dalam ruang lingkung keamanan yang kita jaga," paparnya.


Monday, April 19, 2021

 

1. Komitmen bersama

Sebelum merintis dan mengembangkan desa wisata, hal pertama yang harus diperhatikan oleh masyarakat adalah mengenai komitmen. Pengembangan desa wisata tidak boleh berangkat dari keinginan pribadi atau kelompok tertentu, seperti misalnya bantuan proyek dari pemerintah atau investor. Pengembangan desa wisata haruslah berangkat dari keinginan masyarakat luas, baik itu pemerintah desa maupun komunitas masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan serta memajukan desa supaya lebih mandiri.

Memang butuh proses panjang untuk meyakinkan masyarakat luas mengenai pengembangan potensi melalui desa wisata. Untuk itu, diperlukan suara local champion maupun tokoh masyarakat yang berpengaruh serta memiliki rekam jejak yang bersih dan mulia.

2. Memetakan potensi dan permasalahan wilayah melalui proses partisipasi

Tidak ada desa yang tanpa potensi. Setiap desa pastinya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Potensi terbesar dalam pengembangan desa wisata adalah kreativitas manusia. Untuk itu, tahapan kedua dalam pengembangan desa wisata adalah melakukan identifikasi potensi.

Proses memetakan potensi wilayah dilakukan melalui rembug warga/musyawarah seluruh komponen desa dari berbagai kalangan, baik itu perangkat desa, kelompok perempuan, kelompok pemuda, maupun kelompok lainnya.

Adapun potensi yang harus dipetakan pun harus mencakup aspek budaya, sejarah, dan alam. Budaya dan sejarah yang dimaksud bukan hanya yang dapat dilihat saja. Melainkan juga yang sifatnya tradisi, legenda, dongeng, cerita, filosofi, kuliner khas, maupun lainnya.  

Untuk memudahkan, terdapat beberapa kelompok potensi yang dapat dipetakan. Di antaranya adalah; apa yang bisa dilihat (something to see), apa yang bisa dilakukan (something to do), apa yang bisa dimakan (something to eat), dan apa yang bisa dibeli (something to buy).

Selain memetakan potensi wilayah yang melibatkan masyarakat, selanjutnya adalah proses identifikasi permasalahan yang dapat menjadi penghambat dalam pengembangan potensi wisata di desa. Proses ini juga dikenal dengan analisis TOWS (ThreatOpportunityWeaknessStrength). Hal ini perlu dilakukan untuk menggali permasalahan yang akan dan sedang dihadapi kelompok masyarakat dalam pengembangan desa wisata.

Tak kalah pentingnya juga, dalam merencanakan pengembangan desa wisata dibutuhkan identifikasi dari dampak kegiatan wisata, baik yang bersifat positif maupun negatif. Misalnya menumpuknya sampah yang dibawa wisatawan, terganggungnya lingkungan masyarakat akibat bisingnya kendaraan yang lalu lalang, maupun permasalahan lainnya

3. Membentuk kelembagaan atau POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata)

Jika proses pemetaan sudah dilakukan, maka tahap ketiga adalah membentuk kelembagaan yang nantinya bertanggung jawab dalam mengawal perjalanan pengembangan desa wisata. Proses pembentukan kelembagaan atau yang dikenal dengan POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) ini haruslah didasari oleh proses rembug warga yang mempertimbangkan aspek kepemimpinan.

Apa saja fungsi POKDARWIS? Secara umum, fungsi lembaga ini adalah sebagai penggerak sadar wisata dan Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan) di kawasan desa wisata. Selain itu, POKDARWIS juga berfungsi sebagai mitra pemerintah dalam upaya perwujudan dan pengembangan sadar wisata di daerahnya.

Kelembagaan yang sudah terbentuk ini haruslah dimaksimalkan peran dan fungsinya. Masyarakat yang ditunjuk sebagai pengurus haruslah memiliki komitmen dalam proses pengembangan desa wisata. Selain itu, lembaga yang telah dibentuk harus melaporkan progres kerja, monitoring dan evaluasi, termasuk juga melaporkan keuangan secara akuntanbel melalui musyawarah rutin agar tidak terjadi konflik sosial antaranggota.

4. Menyusun Visi, Misi, Rencana Kerja, dan Regulasi

Setelah analisis TOWS dan pembentukan organisasi dilakukan, tahap berikutnya adalah menyusun visi, tujuan, dan implementasi organisasi untuk membawa desa wisata lebih berkembang. Dalam penulisan visi, terdapat beberapa poin yang harus diperhatikan.

  • Mewakili aspirasi masyarakat
  • Dapat dicapai dan realistis
  • Fokus pada jangka menengah dan panjang
  • Dibuat berdasarkan kekuatan desa wisata saat ini dan diterjemahkan menjadi peluang untuk terus tumbuh

Sementara itu, rencana kerja yang disusun berdasarkan kesepakatan yang diperoleh dari masyarakat dan organisasi (baik POKDARWIS dan desa). Rencana kerja harus disesuaikan dengan konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan, yang meliputi; lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi.

Hal yang tak boleh terlewat dalam proses pengembangan desa wisata adalah menyusun regulasi. Regulasi di sini dapat berupa AD/ART, peraturan desa, atau SOP kegiatan dari Kelompok Sadar Wisata. Penyusunan regulasi ditujukan untuk melindungi seluruh potensi, baik sumber daya alam, budaya, buatan, maupun manusia. Regulasi yang sudah dibentuk juga dapat menjadi pedoman masyarakat dalam menjalankan roda organisasi di desa wisata.

5. Melakukan konsultasi dan peningkatan kapasitas SDM desa wisata

Banyak masyarakat yang berpikir akan sulit mengembangkan desa wisata tanpa dasar ilmu pariwisata yang baik. Akibatnya, banyak fasilitas wisata yang terlanjur dibangun, namun berakhir mangkrak. Bahkan, banyak desa wisata yang sudah diresmikan, tetapi tidak dapat melanjutkan usahanya. Untuk itu, kelembagaan yang telah dibentuk haruslah menyusun program kerja yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Libatkanlah profesional atau konsultan pariwisata untuk menyusun masterplan, memberikan pelatihan, maupun melakukan pendampingan. Petakan kampus-kampus yang potensial di sekitar desa wisata untuk dapat dilibatkan dalam program penelitian maupun pemberdayaan masyarakat.

Proses konsultasi juga dapat dilakukan dengan melakukan studi banding ke desa wisata yang sudah berhasil. Misalnya, belajar dan mengunjungi Desa Wisata Pujon Kidul di Kabupaten Malang untuk studi kasus BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul untuk studi kasus inovasi dan pemberdayaan masyarakat lokal, dan Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman untuk studi kasus pengemasan atraksi.

6. Menata wajah desa dengan penyediaan fasilitas umum (akomodasi)

Tahap selanjutnya adalah memetakan dan mengidentifikasi kebutuhan fasilitas umum untuk desa wisata. Proses penyediaan fasilitas umum dapat dikerjakan dengan mempertimbangkan skala prioritas. Artinya, penyediaan fasilitas umum haruslah disesuaikan dengan kemampuan finansial desa wisata dan masyarakat yang akan mengelolanya.

Penyediaan fasilitas umum dapat dimulai dari fasilitas parkir kendaraan dan toilet untuk wisatawan. Cobalah untuk melakukan musyawarah dan kerja sama dengan perangkat desa untuk dapat mengakses penggunaan Dana Desa.

Selain itu, pengembangan desa wisata sebaiknya memenuhi prinsip-prinsip perencanaan sebagai berikut; a) memperhatikan karakteristik lingkungan setempat, b) menekan sekecil mungkin dampak negatif pengembangan kepariwisataan, c) materi yang digunakan sesuai dengan lingkungan setempat, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang, d) memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, sebab desa wisata bukanlah mass tourism, dan e) melibatkan masyarakat desa dengan menjadikan mereka sebagai pelaku kegiatan kepariwisataan, yaitu menjadi pemilik langsung/tidak langsung dan kepemilikan atas tanah tidak dialihkan.

7. Menentukan keunikan dan branding (identitas) desa wisata

Desa wisata dilihat sebagai salah satu alat untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, juga meningkatkan pendapatan desa. Wajar saja, pengembangan desa menjadi desa wisata cukup tren belakangan ini. Namun fatalnya, banyak desa wisata yang tidak memiliki nilai keunikan akibat terlalu menduplikasi atraksi.

Misalnya, pembuatan wahana selfie/swafoto, atraksi outbound, maupun jenis atraksi lainnya. Akibatnya, banyak usaha desa wisata yang tidak berkelanjutan. Selain karena wisatawan terlalu jenuh akan tawaran aktraksi yang sama, banyak wisatawan pulang tanpa pengalaman. Untuk itu, setiap desa wisata harus memiliki USP atau Unique Selling Point/Proposition.

Adapun definisi branding pada konteks ini adalah bagaimana desa wisata dapat mengelola image dan reputasi dengan cara memenuhi janji-janji (trust) kepada wisatawan. Dengan begitu, branding bukan hanya sekadar logo, slogan, maupun tagline. Namun, menyangkut janji dari desa wisata yang harus ditepati. Pada akhirnya, branding yang telah ditentukan akan menjadi image maupun reputasi yang akan selalu diingat dan dikenang oleh konsumen/wisatawan.

Sedangkan USP merupakan faktor pembeda pada suatu produk/layanan yang tidak dimiliki oleh pesaing/kompetitor. USP juga akan menjadi penentu yang akan membuat produk/layanan di desa wisata lebih spesial di mata wisatawan.

Langkah dalam menentukan USP di desa wisata salah satunya dapat melalui rumusan ALUI (Asli, Langka, Unik, dan Indah). Dalam hal ini, tentukan produk atau brand yang berharga untuk wisatawan. Produk atau brand yang dipilih tidak hanya berbeda, tetapi juga harus bernilai di mata wisatawan. Produk juga harus langka di antara destinasi wisata pesaing saat ini. Selain itu, produk atau brand harus unik dan langka. Artinya, produk desa wisata yang kita rencanakan tidak mudah ditiru, diduplikasi, maupun diimitasi oleh pesaing baru

8. Menyusun paket wisata

Sebelum menyusun materi pemasaran dan memasarkan produk desa wisata, tahapan yang dilakukan selanjutnya adalah menyusun paket wisata.

Adapun yang dimaksud paket wisata adalah rencana kegiatan wisata yang telah disusun secara tetap dengan harga tertentu yang mencakup atraksi maupun akomodasi/fasilitas penunjang. Dalam menyusun paket desa wisata, terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah jumlah peserta, jumlah pemandu/sumber daya manusia desa wisata yang tersedia, kemampuan desa wisata (lingkungan) untuk menampung wisatawan, durasi kegiatan, dan jarak perjalanan.

9. Melakukan pemasaran dan menjalin kemitraan

Jika komponen produk dan harga telah ditetapkan, maka tahapan selanjutnya adalah membangun saluran pemasaran atau channel. Saluran pemasaran sangatlah dibutuhkan agar produk dan jasa yang ditawarkan desa wisata dapat sampai ke calon wisatawan.

Saluran pemasaran dapat dibentuk melalui dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Saluran pemasaran langsung dapat dilakukan dengan mendatangkan wisatawan tanpa melalui perantara. Misalnya, melalui pengiriman proposal ke instansi, menyebar brosur paket harga desa wisata, dan lainnya. Sementara saluran pemasaran tidak langsung dapat dilakukan dengan cara melibatkan perantara untuk mendatangkan wisatawan. Misalnya, melakukan kerja sama dengan biro perjalanan wisata/travel agent, pramuwisata (guide), antar desa wisata, ASITA, PHRI, atau lainnya.

Dalam merintis dan mengembangkan desa wisata, masyarakat tentu tidak dapat berjalan dan bekerja sendirian. Untuk itu, diperlukan sinergi dengan lembaga lain yang kemudian dikenal dengan unsur pentahelix.

Pertama, adalah dengan pemerintah yang dalam hal ini terkait kebijakan-kebijakan yang mendukung pariwisata. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata juga harus dilibatkan dalam menerbitkan SK (Surat Keputusan) tentang POKDARWIS di desa wisata. Kedua, adalah akademisi yang dalam hal ini dapat dilibatkan dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga, adalah industri/swasta, yang dapat dilibatkan dalam kerja sama penjualan, akses dana CSR (tanggung jawab sosial perusahaan), maupun kegiatan lainnya. Keempat, adalah media yang berperan dalam membentuk opini publik yang positif dan penyeberan informasi. Kelima, adalah komunitas yang berperan untuk mewujudkan Sapta Pesona.

Saat ini, cukup banyak perusahaan melalui bidang CSR (Corporate Social Responsibility) yang memiliki program pemberdayaan masyarakat. Contohnya saja di Desa Wisata Gamol Kabupaten Sleman, yang mendapatkan bantuan dari PT Pertamina untuk bantuan pengembangan berupa program budidaya jamur, peternakan kambing Etawa, dan pengolahan susu kambing Etawa. Contoh lain adalah CSR BNI untuk pembangunan gapura masuk di Desa Wisata Bleberan, Kabupaten Gunungkidul. Dan juga Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman yang mendapat bantuan dari CSR BCA untuk pembuatan toilet penyandang disabilitas.  

10. Evaluasi dan inovasi untuk keberlanjutan desa wisata

Disadari atau tidak, dibutuhkan proses kerja yang panjang dalam mengembangkan desa wisata. Contoh saja Desa Wisata Pentingsari, penerima penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) tahun 2017 dan 100 Top Destinasi Wisata Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days tahun 2019, yang membutuhkan setidaknya 10 (sepuluh) tahun untuk bisa sampai ke level mandiri. Contoh lain adalah Desa Wisata Nglanggeran, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat meyakinkan masyarakat terhadap konsep pengembangan desa wisata.

Dalam merintis dan mengembangkan desa wisata, memang dibutuhkan komitmen yang tinggi dari masyarakat. Untuk itu, menikmati semua prosesnya adalah cara terbaik agar kita tidak mudah menyerah. Buatlah inovasi program melalui even seperti yang dilakukan Desa Wisata Dieng Kulon di Banjarnegara lewat acara Dieng Culture Festival, atau yang dilakukan Desa Wisata Banjaroya di Kulonprogo lewat acara Festival Durian Menoreh. Libatkanlah anak muda karena mereka memiliki banyak energi positif yang kreatif.

Terakhir, tak pernah kami berhenti untuk mengingatkan kita semua, bahwa dalam membangun pariwisata haruslah disertai rasa cukup. Jadikanlah perputaran uang yang dibawa masuk wisatawan sebagai bonus pendapatan saja. Dengan begitu, kita dapat membatasi diri agar tidak terlalu rakus dalam mengeksploitasi alam dan mengejar keuntungan ekonomi.

Referensi:

  • Godwin, Harold dan Santili, Rosa. 2009. Community Based Tourism: A Success?. ICRT Occasional Paper 1
  • Inskeep, E. 1991. Tourism Planning, and Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.
  • Nuryanti, W. 1993. Concept, Perspective and Challenges. Makalah bagian dari Laporan Koferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Pearce, D. 1995. Tourism a Community Approach. Harlow Longman
  • Suansri, Pontjana. 2003. Community Based Tourism Hand Book. Rest Project World Tourism Organization.
  • Yoeti, A, Oka. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa
sumber : eticon

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata