Saturday, November 22, 2014


"I want you to know that every moment i spent with you is the most beautiful thing in my life"

Setiap jawaban yang diberikan membuatku semakin kagum, setiap hari terustumbuh dan berkembang layaknya anak balita lainnya, namun ada sebuah perbedaan yang membedakan dari yang lain, yaitu ide kreatif yang terus menerus muncul dari cerita sanguinisnya.

Kisah pertama :
Jumat beberapa minggu yang lalu seperti biasa aku pulang menengok Dikadut jagoan kecilku yang sudah menginjak 4 tahun. Setelah bersitirahat aku mendengarkan cerita dari mamahnya bahwa hari ini dikadut gak mau masuk paud dengan berbagai bumbu cerita kenakalannya yang lain. Beberapa saat kemudian aku panggil dikadut dan dengan lembut aku tanya, " Dut... kenapa hari ini gak mau masuk sekolah?"
Dikadut, " Gini pah. Aku kan sayang papah. Terus hari ini kan jumat. Papah pulang, jadi aku gak sekolah karena mau jemput papah pulang "
***

Kisah kedua :
Suatu senin, Dikadut berangkat paud sendiri, karena sejak tahu bahwa mas nya sudah sekolah sd dan gak dianter sama ibunya, Dikadut sudah tidak mau lagi dianter sekolah PAUD. Namun hari ini berbeda dari biasanya karena setelah sampai sekolah, Dikadut pulang lagi menjemput pamomongnya diajak ke sekolah. Setelah sampai sekolah, Dikadut gak mau masuk kelas, tetapi minta ditemani pamomongnya bermain di halaman. Sudah dibujuk oleh guru, teman-teman dan pamomongnya tetap gak mau masuk kelas.
Ketika hari jumatnya aku pulang, segera kutanyakan cerita itu ke dikadut dengan harapan dapat menasehati dan membujuknya agar kejadian itu tidak terulang lagi. ' Dut... kata mamah, hari senin kamu gak mau masuk kelas, tapi minta ditemeni budhe war bermain di halaman sekolah, kenapa?"
Dikadut, " Pah... kalo tanya tuh jangan yang sudah kemaren atau yang tadi - tadi. Nanyanya yang besuk - besuk aja. Besuk dik dika mau main kemana atau mau beli mainan apa?, gitu pah"
****

Kisah ketiga
Suatu sore Dikadut bermain anak ayam yang dicat warna warni. Ulahnya ngecatnya ini terinsiprasi dari penjual anak ayam yang di pasar. Cerita ini bukan tentang ulahnya mengecat ayam yang menurutku sudah biasa dilakukan oleh anak-anak sebayanya. Cerita ini adalah tentang ide dan pemikiran dikadut yang menurutku benar-benar cemerlang. Ketika dikadut tengah asik bermain anak ayam, tiba - tiba muncul kucing dan menerkam ayam mainannya. Tak diduga ayam itu mati. Dan Dikadut menangis tersedu sampai lama. Dikadut sangat menyayangi mainannya itu karena emang menurun dari mamahnya sebagai pecinta binatang. Untuk membujuk agar tidak menangis, mamahnya menawarkan untuk membeli saja anak ayam di pasar esuk harinya.
Minggu pagi dikadut membeli ayam bersamaku dan mamahnya, dengan penuh girang dibawa pulang dan bermain lagi diteras rumah dengan anak ayam sejumlah 4 ekor. Tiba - tiba dikadut bilang ke mamahnya, " Mah ada 1 ekor anak ayamnya yang cewek...." Mamahnya bingung dan bertanya ke dikadut, " Kok tau kalo anak ayamnya cewek?". Dengan senyum - senyum dikadut menjawab," iya mah karena yang satu ayamnya berwarna pink, warna kesukaan cewek"... hahaha kami semua tertawa terpingkal - pingkal dengan jawaban sanguinisnya itu.
Cerita belum selesai. Mengingat kemaren ayamnya mati karena diterkam kucing, aku menasehati agar ayam- ayamnya yang dikeluarkan dari kandang 1 ekor saja, yang lain ditaruh di kandang agar gak diterkam kucing.
Dikadut menjawab, " Pah.. aku punya ide. Aku mau bawa binggo ke sini, agar nanti kucingnya ganti diterkam sama binggo." (Binggo nama anjing peliharaan pamomongnya). Lalu kujawab, "klo binggo dibawa kesini, selain nerkam kucingnya nanti juga nerkam anak ayam nya kan?"
Dikadut menjawab, " Binggo itu baik pah, dia gak makan anak ayam kecil, dia juga gak makan makanan manusia, karena binggo itu hanya mau makan tulang - tulang dan makanan yang gitu - gitu"
***

Wednesday, November 19, 2014


"Ini bukan cerita tentang kepahlawanan, ini juga bukan tentang kisah mistis yang menyeramkan, namun ini adalah kisah nyata pertemuan seorang pendaki yang dalam kesendirian bertemu dengan penunggu sumbing"

Keberanian yang muncul di saat titik terlemah memunculkan cerita lain yang lebih seru dan menegangkan. Ketika tatapan mataku sudah menjulang ke puncak, kesulitan muncul lagi. Senterku terjatuh dan bolam lampu putus. Namun keberanian adalah keberanian. Dengan langkah hati - hati aku tetap merayap mendaki lereng sumbing dengan hati yang mantap. Tak sampai sepeminuman teh, muncul lagi kesulitan karena kabut turun disertai titik - titik air yang sangat dingin. Kondisi gelap, tidak ada penerangan karena bolam putus membuatku mati kutu. Melanjutkan pendakian berarti bertaruh nyawa karena bisa kesasar atau jatuh ke jurang, namun berhentipun bukan berarti pilihan yang aman karena dengan perlengkapan yang terbatas juga akan berarti kedinginan atau bahkan beku.

Pertolongan Tuhan lah yang akhirnya aku bisa mengambil keputusan yang tepat. Di lereng yang terjal itu ada lubang yang dapat kumanfaatkan sebagai perlindungan. Dengan ponco dan seutas tali aku buat bivak diatas lubang itu dan dengan bekal sarung dapat melindungiku dari dinginnya kabut. Tak lupa perlengkapan perapian dari lilin dan kaleng yang sudah kusiapkan dari rumah  kunyalakan sehingga menambah hangatnya bivakku. Sekejap aku terlelap.....


Entah mimpi atau nyata, tiba-tiba aku sudah melanjutkan pendakian menuju puncak sumbing. Langit cerah, kabut tidak menampakkan diri dan rintik hujan telah reda. Jelang Watu Kotak aku bertemu dengan seorang laki - laki berjambang yang sedang duduk sambil makan nasi hangat yang masih mengepulkan asap. Makannya lahap sekali dan sesekali minum kopi hangat. Ketika aku melangkah disampingnya, Pak tua menawariku untuk bergabung makan bareng. " Mas... Monggo dahar sarapan rumiyen...", kata pak tua padaku. Kujawab, "injih matur nuwun pak, meniko badhe muncak rumiyen", 
Kulanjutkan langkahku sedikit berbelak kekiri menuruni lereng, karena emang jalan menuju puncak berkelok ke kiri akibat jalur utama yang longsor. Tak jauh setelah ku melangkah, aku mencoba mengingat sesuatu. Penampakan pak tua tadi kupikir agak aneh, jam segini pagi makan nasi hangat yang masih mengepul? dan tidak kulihat ada perapian atau alat masak di sekitarnya. Lalu nasi itu bagaimana tetap panas? tak sadar ku menengok kebelakang untuk memastikan kebaradaan pak tua itu dan betapa kagetnya ketika di dekat watu kotak tidak ada siapa - siapa, tidak ada orang ataupun nasi yang mengepul.
Bulu kudukku berdiri, merinding. Tak sadar aku berbalik dan mengambil langkah seribu kembali turun gunung... * inikah penunggu sumbing?*

Tuesday, November 18, 2014

"Suasana begitu sepi, bulu kuduk ku meremang, pohon tua itu bergerak - gerak bagaikan Genderuwo yang siap menerkamku. Kupaksa kakiku terus melangkah namun tak bisa. Akhirnya kuterduduk lemah  di jalan setapak lereng sumbing yang gelap....,        inikah rasa takut itu?"


Jelang pukul 00.00 tidak ada satupun pendaki yang naik Gunung Sumbing, sehingga kuputuskan untuk mencoba mendaki sendiri. Pikirku tanggung banget sudah sampai basecamp klo tidak jadi naik hanya karena tidak ada teman. Semua perlengkapan kuperiksa ulang dan packing lagi untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. 
Dengan hati berdebar kakiku mulai melangkah setapak demi setapak melewati ladang penduduk yang ditanami tembakau. Cuaca yang dingin semakin mempercepat langkahku agar terus bergerak agar tidak kedinginan. Namun menjelang memasuki hutan Suasana begitu sepi, bulu kuduk ku meremang, pohon tua itu bergerak - gerak bagaikan Genderuwo yang siap menerkamku. Kupaksa kakiku terus melangkah namun tak bisa. Akhirnya kuterduduk lemah  di jalan setapak lereng sumbing yang gelap....,        inikah rasa takut itu?
Aku benar - benar mengalami ketakutan yang hebat hingga aku terus duduk dan diam sambil terus mencoba membangkitkan semangat. Sejujurnya ada keinginan untuk turun kembali, namun sekali lagi hatiku berkata bahwa aku harus bisa mengatasi rasa takut ini. Sedetik... semenit... setengah jam berlalu ketika tiba-tiba pendengaranku bisa menangkap suara - suara alam yang terdengar merdu, Gemiricik suara air di lembah, derit pepohonan yang terkena dan sesekali terdengar suara binatang hutan seakan perpaduan simponi paduan suara nan merdu ditengah hutan lereng sumbing. Hatiku bersorak girang, semangatku membara dan tanpa menunggu lebih lama aku segera berdiri dan melangkahkan kaki menapak mendaki sumbing. Setapak demi setapak, langkah demi langkah kususuri lereng pegunungan, punggungan bukit, tebing terjal dan juga bebatuan padas yang licin dengan penuh perasaan, serasa aku menemukan kenikmatan dalam kesendirian. Apakah ini pertanda pencerahan dari sang pencipta? ataukah karena kondisi sesaat karena keadaan yang memaksaku untuk berani? (Bersambung...)



"Luka ini tak sedalam yang dikira orang, karena sebenarnya hatiku tak terluka karenamu. Keadaanlah yang memaksaku seakan akan terluka, walau sebenarnya kenangan indahmulah yang bersemayam di hatiku"

Buyarnya lamunanku yang indah terbayar oleh nikmatnya kopi hangat nenek rusmi, Wanita penjaja warung diantara beberapa wanita tua yang menarik hatiku. Orangnya ramah, bibirnya selalu tersenyum sambil sesekali menyapa hangat pendaki yang melintas di depan warungnya. Keramahan Nenek Rusmi yang terpancar dari sorot mata dan tegur sapanya kepada orang yang baru dikenalnya inilah yang membuatku memilih mampir di warungnya.


Suguhan kopi hangat itu pada akhirnya menjadi teman lamunanku yang baru. Ketika nenek Rusmi sibuk melayani pendaki yang lain, kembali anganku melayang. * ini bukan tentang cinta, juga bukan tentang wanita. tapi ini adalah tentang cita - cita dan pilihan hidup.*

Sumbing 18 Tahun Lalu...
Pendakian itu bukan sembarang pendakian karena saat aku mendaki hatiku sedang kesal dan galau se galau - galaunya mahasiswa yang terjatuh secara akademik. Predikat unggulan, penerima beasiswa dan konon katanya pekerja keras tidak menolongku ketika aku mengerjakan soal ujian tengah semester dengan sangat ceroboh. Dan kecerobohan itu akhirnya kubayar mahal. 
Kecerobohan di bangku kuliah saat uts berlanjut di saat pendakian, aku benar - benar merasa bodoh sebodoh bodohnya orang karena jatuh pada lubang yang sama. inikah aku?
Kenangan itu benar - benar membekas karena kemudian ternyata membesarkanku di dunia petualangan dan pecinta alam yang juga ternyata kemudian menjadi bekalku yang penting untuk profesi dan pekerjaanku yang beberapa saat lalu telah kupilih sesuai nasehat ibuku. Iya aku memang memilih untuk mengikuti nasehat ibunda tercinta dalam memilih pekerjaan dan profesi.**

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, basecamp pendakian sumbing masih sepi. Hanya aku sendirian yang sejak sore sudah disitu. Benar - benar diluar perkiraan karena biasanya sumbing selalu dikunjungi banyak pendaki dari jogja, solo, magelang, temanggung, wonosobo, semarang dan sebagainya. Malam ini benar - benar sepi tak ada pendaki selain aku. Ada apa ini? (Bersambung)




"Gemericik suara air itu mengingatkanku pada seseorang. Bagaikan irama musik orkestra di sebuah panggung konser yang mewah, namun tetap syahdu melantunkan tembang cinta yang romantis. Itukah isi hatimu?

Petualangan dan kisah seru mungkin bukan barang baru lagi bagiku, namun perjalananku kali ini mengandung seribu makna. Entah bagaimana awal mulanya, namun persoalan yang simpel bisa menjadi rumit dan persoalan yang rumit menjadi tambah ruwet. Inilah periode galau tingkat dewa untuk kesekian kalinya pada era baru menjalankan profesiku.
Kisah tiada ujung ini menjadikan pembelajaran yang komprehensif terhadap perilaku, sikap dan karakter kita dalam menghadapi orang lain dengan perilaku, sikap dan karakter yang bermacam - macam pula. Serigala berbulu domba, musuh dalam selimut ataupun menelan ludah sendiri adalah peribahasa - peribahasa yang menjadi akrab dalam persaingan kehidupan yang keras dan ketat ini,

Kisah yang berawal manis, tiba - tiba berubah menjadi asam, manis, pedas dan bahkan pahit. sebuah racikan menu kehidupan yang menggambarkan betapa kompleknya persoalan hidup, sementara prinsip hidup mulai ditinggalkan dan berganti dengan kepentingan sesaat. Kekuasaan, wanita dan uang seakan menjadi satu kesatuan yang membelenggu seseorang dari kehidupan nyata dan utuh sehingga mengganggu harmoni kehidupan di alam ini.
Tiba - tiba lamunanku terputus. Tegur sapa lembut yang bersahabat dari seorang nenek penjual makanan di bawah curug semirang menawarkan dagangannya membuat buyar lamunanku. Untuk sekejap kuterdiam dan sedetik kemudian kutersenyum sambil menegur ramah pada nenek pedagang.



"Iya nek... white coffe nya satu, intel rebusnya satu", kataku pada nenek itu. Sambil tersenyum ramah, nenek itu segera memasak intel yang kupesan dan membuatkan kopi hangat untukku. (bersambung )


Monday, November 17, 2014


"Orang banyak menyukaimu itu konsekwensi logis dari parasmu yang ayu, tubuhmu yang indah dan kecerdasan otakmu yang diatas rata-rata. Tidak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk menyukaimu termasuk kamu sendiri. Yang dapat kamu lakukan adalah bagaimana merespon dengan sikap yang baik, sopan dan tidak menyinggung perasaan"

Ketika beberapa kali kamu mengeluhkan banyak orang yang menyukai dan naksir dirimu, berulang - ulang pula kalimat itu menjadi jawabanku. Sebuah konsekwensi logis dari anugerah Tuhan berupa kecantikan dan keindahan yang ada pada dirimu pastilah banyak yang melirik dan mencoba untuk mendekatimu. Diskusi itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu yang puncaknya pada saat pesta sanguin....

Sekarang saat kamu sudah tidak disini, ketika sudh terjun langsung ke masyarakat, aku yakin pola pikir dan keputusan-keputusanmu sudah mapan. Cara bersikap dan memberikan jawaban atas persoalan - persoalan yang menimpamu semakin matang dan dewasa. Itulah harapan dan keinginan yang sejak awal selalu kutekankan padamu.

Sejujurnya kamu memang istimewa, namun bukan berarti aku mengistimewakanmu. Sebuah kewajaran bahwa aku memperlakukanmu sesuai dengan level dan kemampuanmu. itu saja.... yang kemudian justru menyeret ke sebuah persoalan panjang yang seakan tiada ujung......

Ditengah persoalan yang berkepanjangan dan tidak ada ujung pangkalnya ini, aku mendapatkan kado lagi darimu di akhir pekan.....sebuah sms bahwa kamu selalu mengingat jawabanku tentang cara bersikap pada  orang - orang yang menyukai. Semoga selalu berarti dan bermanfaat bagimu di masa datang....Tetap Semangat!





Paket ini disediakan bagi wisatawan yang gemar menjelajah desa dan tempat - tempat yang masih alami untuk menghilangkan penat. Kegiatannya selain melihat pemandangan desa yang indah, wisatawan juga akan diajak menikmati serunya petualangan arung jeram menggunakan tubing yang oleh masyarakat setempat dinamakan paket "Ngintir Kalijaga".
Ngintir Kalijaga adalah sebuah wisata petualangan seru menyusuri kali kreo dengan ban mobil untuk napak tilas sejarah Sunan Kalijaga yang pada saat itu menghanyutkan Pohon Jati untuk membangun Masjid Demak. Dengan dipandu Guide yang berpengalaman serta disuguhkan cerita dan kuliner khas Desa Wisata Kandri akan membuat wisatawan membawa pulang sejuta kenangan indah tak terlupakan.

Setelah puas ngintir kalijaga, wisatawan akan diajak makan siang ke sebuah warung yang sudah kondang enaknya yaitu bebek kandri. Kuliner ini menyuguhkan menu daging bebek goreng yang gurih dengan sambal khas lombok ijo yang sangat memanjakan lidah. Selain menu bebek goreng masih ada pilihan menu lain yang tak kalah enaknya seperti daging ayam, lele, nila dengan aneka lalapan seperti pete jengkol dan sayur mayur pedesaan.
Perjalanan diakhiri dengan mengunjungi Goa Kreo yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah ngintir sunan kalijaga karena Goa Kreo ada di sebuah pulau ditengah waduk jatibarang nan elok dan menawan. Suasana sore menjelang senja akan menambah romantisnya perjalanan dan petualangan paket wisata Tubung - Bebek - Kandri. Info Selengkapnya 088 12 678910

Sunday, November 16, 2014

" Semangat Malam Pak, Hari ini saya pelatihan guide di lokasi KKN. Berbicara di depan masyarakat itu tidak mudah, dan tiba - tiba saya teringat latihan presentasi saat hadiah ulang tahun saya. Bagaimana membuat suasana yang menyegarkan dengan joke joke yang sesuai dengan audience dan situasi kondisi nya"


Bunyi sms itu mungkin bagi orang lain tidaklah banyak berarti, namun bagi yang berkepentingan sangatlah bermakna dalam bagi yang mengalaminya. Seakan makna dari sms itu adalah penegasan bahwa pilihan pesta sanguinis sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 21. Sebuah pesta ulang tahun yang lebih mirip sebagai pendidikan dan latihan selama 24 jam.
Pendidikan latihan yang dimulai sejak jam 8 pagi. Sambil makan pagi berdiskusi merancang kegiatan, beradu argumentasi ketika menentukan pilihan-pilihan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sepakat untuk berpesta selama 24 jam dengan menu pesta yang sudah disepakati pula. Tujuan pertama adalah Deswita di daerah terpencil dengan daya tarik utama adalah wisata alam berupa curug.
Tema pesta sanguin  di Deswita adalah "Mengemas Kearifan Lokal Untuk Menambah Daya Tarik Deswita dan  mempelajari keterlibatan masyarakat lokal untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat di Deswita" Karena daya tarik wisata utamanya berupa curug maka materi tentang interpretasi fenomena alam menjadi dasar utama sebelum melakukan kegiatan lapangan, oleh karena itu pesta dimulai dengan diskusi tentang pengamatan lanscape atau bentang alam. Bagaimana melakukan pengamatan burung maupun pengamatan katak, bagaimana mendeskripsi bentang alam tersebut, bagaimana mendeskripsi isi bentang alamnya dan seterusnya. Kemudian untuk kearifal lokal menyangkut adat istiadat dan budaya setempat pembekalan berupa bagaimana memilih responden untuk diwawancara dan bagaimana cara mewawancarainya.
Tak kalah pentingnya adalah melakukan pengamatan infrastruktur dan fasilitas yang sudah ada di evaluasi, apakah sesuai atau tidak dengan potensi kearifan lokal deswita tersebut. 

Kado Lain di Akhir Pekan


"Orang banyak menyukaimu itu konsekwensi logis dari parasmu yang ayu, tubuhmu yang indah dan kecerdasan otakmu yang diatas rata-rata. Tidak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk menyukaimu termasuk kamu sendiri. Yang dapat kamu lakukan adalah bagaimana merespon dengan sikap yang baik, sopan dan tidak menyinggung perasaan"

Ketika beberapa kali kamu mengeluhkan banyak orang yang menyukai dan naksir dirimu, berulang - ulang pula kalimat itu menjadi jawabanku. Sebuah konsekwensi logis dari anugerah Tuhan berupa kecantikan dan keindahan yang ada pada dirimu pastilah banyak yang melirik dan mencoba untuk mendekatimu. Diskusi itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu yang puncaknya pada saat pesta sanguin....

Sekarang saat kamu sudah tidak disini, ketika sudh terjun langsung ke masyarakat, aku yakin pola pikir dan keputusan-keputusanmu sudah mapan. Cara bersikap dan memberikan jawaban atas persoalan - persoalan yang menimpamu semakin matang dan dewasa. Itulah harapan dan keinginan yang sejak awal selalu kutekankan padamu.

Sejujurnya kamu memang istimewa, namun bukan berarti aku mengistimewakanmu. Sebuah kewajaran bahwa aku memperlakukanmu sesuai dengan level dan kemampuanmu. itu saja.... yang kemudian justru menyeret ke sebuah persoalan panjang yang seakan tiada ujung......

Ditengah persoalan yang berkepanjangan dan tidak ada ujung pangkalnya ini, aku mendapatkan kado lagi darimu di akhir pekan.....sebuah sms bahwa kamu selalu mengingat jawabanku tentang cara bersikap pada  orang - orang yang menyukai. Semoga selalu berarti dan bermanfaat bagimu di masa datang....Tetap Semangat!




Monday, November 10, 2014

"Jalan  itu sebenarnya datar... namun karena banyak pohon ditengahnya maka diperlukan kehati hatian untuk melewatinya. Inilah awal jalan terjal di akhir tahun ini"

Hari telah menginjak pagi ketika aku terjaga dari tidur. Antara percaya dan tidak, aku mengingat kembali bahwa aku akan pergi dengan nya untuk waktu yang cukup lama.... 24 jam atau sehari semalam. Segera aku membuka ha untuk memastikan bahwa semalam tidak ada sms masuk yang membatalkan janjian hari ini, dan ternyata memang tidak ada kabar apapun...


Segera Kukayuh Sepeda Bututku untuk menjemputmu sambil mengingat apa yang sesungguhnya terjadi  Berkenalan, ngobrol, menjadi deket, ngajak makan, ngajak jalan dan pada hari ini janjian jalan 24 Jam. Agenda bersama yang  kita namakan Pesta Sanguin. Lamunanku buyar ketika muncul seorang gadis cantik dengan pakaian lapangan hitam yany tampak serasi. " Mas.. kita sarapan dulu ya, aku masih males keluar tadi jadi baru minum susu", mintanya padaku.Sambil menganggukan kepala kuberi isyarat untuk membonceng di sepedaku yang nampak lusuh tapi penuh kenangan.

Sangunis emang hobi ngobrol, dimana - mana selalu mencari kesempatan untuk ngobrol dan ngobrol. Inilah yang kami maksud dengan pesta sanguinis. Pesta untuk memuaskan hobi sekaligus bakat untuk berbicara. Tentu saja karena sama - sama sanguinis maka akan bergantian berbicara dan mendengarkan. Tema pembicaraanpun sangat variatif, dari sekedar menceritakan seekor cicak yang mempertahankan diri dengan melepaskan ekornya sampai persoalan serius yang menyangkut akademik seperti penelitian dan tugas akhir. 

Namun ada yag berbeda yang sengaja disepakati untuk dilakukan pada hari ini, yaitu bahwa sanguinis yang cenderung hedonis harus menahan diri untuk tidak hedonis. Maka sambil berpesta akan melaksanakan sesuatu yang serius dan melelahkan yaitu analisis desa wisata sepanjang pagi hingga menjelang sore dilanjutkan mempresentasikan hasilnya. (bersambung 2)


Sunday, November 9, 2014

Perburuan Sunset dimulai sejak pukul 16.15 di Tepi Pantai Kwaru sisi barat. Pengunjung yang berwisata cukup sepi, namun ada beberapa pemancing yang mulai berdatangan. Beberapa diantaranya ada seniman dan pelukis yang akan mengabadikann momen sunset di sore itu.

Suasana Pantai Kwaru Yang Sepi


Langit di Pantai Kwaru Agak Mendung


Tanda - tanda awan mulai menutup matahari


Di ambang Cakrawala

Di saat matahari mendekati batas cakrawala justru hujan mulai turun dan gagal lah acara memburu sunset sore itu.


Berawal dari usulan dan ide Dik Dika untuk bermain pasir di Pantai Kwaru sambil bawa mainan Truk, Mamahnya menyambut dengan anggukan kepala dan menambah kekayaan ide dengan memburu sunset di Tepi Pantai.

Dikadut Bermain Pasir di Pantai Kwaru

Tak Lupa Truknyapun Dibawa ke Pantai


Bosen Main Pasir Dikadut Memandang Laut


Dikadut Berlarian & Main Petak Umpet w/ Papah
Begitulah suasana menunggu sunset. Dikadut Bermain ditemeni papah. N Mamah mulai mencari sudut yang pas untuk membidik matahari. (Bersambunng 2)


Tuesday, November 4, 2014

Kerinduan ini adalah kerinduan alam. Seorang anak laki - laki yang mencoba berteman dan bersahabat dengan alam sejak kecil yang pada awalnya hanya sebagai penikmat  alam. Semakin lama mengenali tempat bumi berpijak semakin merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ketika melihat panorama lereng gunung, gumuk pasir, tebing terjal dan keindahan alam lainnya seakan darah mengalir lebih cepat, ada desir aneh di dada yang nikmat tak terucapkan. Saat itulah aku menyatakan diri sebagai pecinta alam.


Mencintai alam pada mulanya  dimulai dari hal - hal kecil disekitar kita dan dalam kehidupan sehari hari kita. Sebenarnya tidak harus naik gunung, arung sungai atau susur pantai untuk menjadi seorang pecinta alam, namun ketika hobi kita adalah olahraga outdoor, maka idealisme dan hobi bisa dipadukan menjadi sebuah kegiatan yang positif. Orang menyebutnya dengan kegiatan kepencinta alaman, Ketika di SMP/SMP ada Sispala, mahasiswa ada Mapala dan ada juga Keluarga Pecinta Alam serta organisasi pecinta alam yang lain untuk masyarakat umum.



Kombinasi inilah yang menjadi dasar persetujuanku untuk membantu teman - teman di Ampta untuk mendirikan sebuah UKM. Ada kesepakatan - kesepakatan dasar yang dibicarakan yaitu bahwa UKM yang didirikan bukan semata - mata sebuah organisasi yang bergerak di bidang outdoor activity namun ada idealisme yang dimasukkan sebagai dasar filosofi organisasi. Adapun secara singkat dapat di deskripsikan sebagai berikut yaitu bahwa :
1. Organisasi didirikan untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu mengikuti pembelajaran perkuliahan dengan baik dan memberi bekal soft skill agar mampu bersaing di dalam era industri rekreasi dan hospitality
2. Organisasi mengemban misi pecinta alam dan misi pariwisata sehingga organisasi berkonsentrasi pada bidang ekowisata.
3. Organisasi didirikan selain alasan diatas juga merespon kondisi dan situasi saat itu yaitu maraknya mahasiswa yang melakukan seks bebas, menenggak alkohol dan juga seringnya tawuran antar pelajar sehingga disepakati ada 3 larangan dasar : a. Tidak boleh pacaran sesama anggota organisasi dan tidak boleh melakukan aktifitas yang mengarah ke tindakan seksual selama kegiatan organisasi, b, tidak boleh berkelahi sesama anggota organisasi dan c tidak boleh mengkonsumsi alkohol, narkoba dan sejenisnya di lingkungan organisasi dan saat kegiatan.
Bersambung ke bag 3



Monday, November 3, 2014

Empat Belas Tahun lalu dalam sebuah pendakian masal ke Gunung Sumbing bersama Kapala Magmagama, aku mengenal 4 orang peserta pendakian yang berasal  dari Akademi Pariwisata Ampta yaitu Supriyanto Kusnadi, Ardianta, Rara dan Calvin. Inilah yang merupakan cikal bakal pertemuan selanjutnya untuk mendirikan sebuah UKM di Kampus Akademi Pariwisata AMPTA yang bergerak di bidang ke pecinta alaman. Dan 2 dari mereka yaitu Supriyanto Kusnadi atau yang dikenal dengan nama Bang Upok dan Ardianta yang dikenal dengan nama Bang Gantang lah yang kemudian aktif melakukan pergerakan untuk mewujudkan impian mereka mewujudkan UKM di AMPTA.

Yang Lama dan Yang Kini Dalam Gambar

Pose Narsis Tahun 2000


Pose Narsis Tahun 2014
Apanya yang beda?
Bersambung bag 2


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata