Tuesday, December 23, 2025

Bagian 1

Pendakian Massal Merbabu: Bibit Rasa Mulai Bersemi

Pendakian massal itu bermula dari sebuah pengumuman sederhana di papan kampus. Gunung Merbabu, dengan jalur panjang dan sabana luasnya, akan menjadi saksi ratusan langkah anak muda yang haus petualangan. Aku mendaftar tanpa banyak pikir, hanya ingin menguji kaki dan paru-paru. Tak pernah terlintas bahwa di sanalah hatiku ikut mendaki.

Di tengah rombongan yang riuh oleh tawa dan teriakan semangat, aku melihatmu. Kemeja flanelmu tampak biasa saja, tapi caramu tersenyum pada semua orang membuat suasana menjadi ringan. Kita tidak langsung berjalan berdampingan, hanya sesekali bertukar pandang saat berhenti mengambil napas.

Merbabu mengajarkan kami untuk sabar. Jalurnya panjang, kadang landai, kadang menanjak tanpa ampun. Saat kakimu terpeleset di tanah berdebu, reflek aku mengulurkan tangan. “Terima kasih,” katamu singkat, tapi sejak itu langkah kita seolah berirama.

Malam turun di pos peristirahatan. Api unggun kecil menyala, kopi dibagi dalam gelas seadanya. Kita duduk berdekatan, berbagi cerita ringan—tentang rumah, tentang rencana hidup yang masih samar. Angin dingin Merbabu berhembus, tapi entah mengapa dadaku terasa hangat. Tanpa kusadari, bibit rasa itu mulai bersemi, pelan namun pasti.

Bagian 2

Bus Magelang–Jogja: Ku Ungkap Rasa Padamu

Pendakian berakhir, tapi cerita tidak ikut turun bersama kami. Dari Magelang menuju Jogja, kami duduk di bangku bus yang sama—sebuah kebetulan yang terasa terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Bus melaju perlahan, melewati sawah dan desa-desa yang seolah tak peduli pada kegelisahanku. Di dalam, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain, namun pikiranku hanya tertuju padamu. Tanganku dingin, bukan karena AC bus, melainkan oleh keberanian yang sedang kupaksa tumbuh.

Kita membicarakan hal-hal kecil lagi—tentang capeknya kaki, tentang foto-foto yang belum dicetak, tentang Merbabu yang rasanya terlalu cepat ditinggalkan. Lalu ada jeda. Hening yang panjang, cukup untuk membuat jantung berdetak terlalu keras.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kataku akhirnya. Kau menoleh, menungguku melanjutkan. Kata-kata itu keluar sederhana, tanpa puisi, tanpa janji besar—hanya kejujuran tentang rasa yang tumbuh sejak di jalur pendakian.

Kau tersenyum, tidak terkejut, seolah telah membaca semuanya dari caraku berjalan di sampingmu. Bus terus melaju, tapi sejak saat itu, dunia terasa berhenti sejenak. Aku tak tahu ke mana arah cerita ini, tapi aku tahu satu hal: aku tak lagi menyimpan rasa sendirian.

Bagian 3

Terlanjut Mengungkap Rasa: Tak Pernah Apel Malming

Mengungkap rasa ternyata bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang tak biasa. Kita tidak pernah benar-benar menjadi pasangan seperti di cerita kebanyakan orang. Tak ada apel malam minggu, tak ada janji bertemu rutin di hari libur.

Consideration always came first. Kesibukan, jarak, dan waktu yang tak selalu berpihak membuat hubungan kita berjalan apa adanya. Kita lebih sering berbagi kabar singkat, cerita sederhana, dan kenangan lama yang terus kita rawat.

Aneh memang—tanpa malam minggu, tanpa genggaman tangan di keramaian kota—namun rasa itu tidak pudar. Justru Merbabu menjadi titik pulang dalam ingatan. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke sana, pada sabana luas, api unggun kecil, dan bangku bus yang menjadi saksi kejujuran.

Kini, waktu telah berjalan jauh. Rambut mungkin mulai beruban, langkah tak lagi sering mendaki. Tapi “Kenangan Merbabu” tetap utuh—bukan sekadar cerita cinta, melainkan tentang keberanian mengakui rasa, meski akhirnya tak selalu berakhir seperti yang dibayangkan.

Dan mungkin, justru di sanalah keindahannya.





Sunday, December 21, 2025

Tebing Pantai Siung

Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.

Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.

Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.

Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.

Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.

Aneh.
Kami sendiri tak benar-benar tahu obrolan itu milik siapa dengan siapa.

Teman?
Sahabat?
Saudara?
Atau dua orang yang diam-diam saling menunggu keberanian?

Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.

Namun pagi ini membantah semuanya.

Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.

Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?

Tebung Pantai Siung

Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.

Aku belum menemukannya.

Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.

Dan di antara deru ombak yang tak pernah lelah, aku akhirnya mengerti:
ada perpisahan yang tak pernah mengucapkan salam.
Ada kehilangan yang datang bukan karena pergi,
melainkan karena kita terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Aku masih mencari.
Dan mungkin, sebagian dari diriku akan terus mencari—
bahkan jika gadis berkaos putih itu hanya tinggal sebagai kenangan
yang tak pernah benar-benar pulang.


Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.


Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI


Damar & Retno 

Di antara gemerisik angin pagi di padepokan kecil di pinggir kota, Damar selalu menemukan ketenangan. Lelaki itu telah lama mengabdikan diri sebagai pelatih silat—bukan sekadar mengajarkan gerak, tetapi menanamkan adab dan rasa. Namun satu hal yang tak ia sangka, bahwa sebuah rasa justru menamparnya kembali.

Retno. Muridnya yang datang dua tahun lalu dengan langkah ringan, wajah manis yang selalu tampak sejuk, dan gerak silat yang rapi seperti sudah sejak kecil ditempa angin dan tanah. Setiap kali Retno melangkah, Damar selalu merasa seperti melihat embun yang jatuh di ujung daun; bening, halus, tapi mampu memantulkan cahaya.

Mulanya Damar menahan diri. Usianya jauh lebih matang, dan ia telah berkeluarga. Tapi hati manusia kadang seperti daun kering yang tiba-tiba terseret angin: tak bisa memilih ke mana harus bergerak. Ia mencoba menjauh, namun justru di situlah ia semakin sering menoleh.

Retno pun tak buta. Ia merasakan sorot mata gurunya yang berubah—bukan sembunyi, tapi tak lantang. Ia pun menyimpan rasa yang tak berani ia beri nama. Hingga waktu yang memanjang dua tahun itu akhirnya memeras keberanian keduanya. Pada suatu sore setelah latihan panjang, Retno berdiri menunduk—entah menutupi lelah atau menahan gemuruh.

“Mas… jika perasaan itu memang ada, aku tak sanggup pura-pura tidak melihatnya,” ucap Retno lirih.

Damar terdiam. Ada hujan yang jatuh tanpa suara dalam dadanya. “Retno… hidupku bukan halaman kosong. Aku takut kita menanam sesuatu di tanah yang salah.”

Retno mengangguk, namun matanya basah. “Tapi hati manusia… kadang tumbuh di tempat yang tidak kita duga.”

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya, Damar menggenggam tangan Retno. Genggaman yang tak boleh dilihat siapa pun. Genggaman yang akan mereka bawa dalam perjalanan panjang penuh diam dan sembunyi.

Tahun berganti. Malam terakhir sebelum pergantian tahun, mereka memutuskan pergi ke Gunung Sumbing. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan pula sebagai dua manusia yang mencari pembenaran. Mereka hanya ingin menjadi dua hati yang sedang mencari ruang bernapas.

Angin di punggungan Sumbing malam itu menggigit. Kabut turun pelan seperti tirai tipis. Api kecil yang mereka buat tak benar-benar menghangatkan. Damar menatap Retno yang duduk memeluk lutut, wajahnya memerah oleh dingin.

“Dingin banget, Mas,” bisiknya.

Tanpa banyak kata, Damar merentangkan tangannya. Retno masuk ke dalam pelukan itu—perlahan, namun pasti. Di sana, di puncak dunia kecil milik mereka, tubuh mereka bertaut bukan karena nafsu, tetapi karena dingin yang begitu menyelimuti dan rindu yang sudah terlalu lama bersembunyi.

Angin melolong, tapi dada mereka terasa tenang.

Jam-jam itu berjalan pelan. Retno memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Damar. “Andai waktu bisa berhenti, Mas… aku ingin berhenti di sini saja.”

Damar menatap gelap yang tak sepenuhnya gelap. Hatinya penuh tanya. “Retno… aku takut. Takut pada apa yang kita jalani.”

“Tapi aku bahagia,” jawab Retno, suara serak oleh udara tipis.

Pelukan itu menguat. Dingin tak lagi menusuk. Yang tersisa hanya hangat yang sulit dijelaskan. Saling merapat, saling menjaga, seolah dunia luar tak pernah ada. Di sana cinta mereka mengikat semakin erat—bukan karena benar, bukan pula karena salah—tapi karena manusia kadang butuh tempat untuk meletakkan hatinya meski hanya sesaat.

Ketika kembang api di kejauhan meletup menyambut tahun baru, Damar dan Retno masih saling memeluk. Tidak merayakan, tidak bersorak. Mereka hanya diam—karena banyak hal dalam hidup lebih baik disimpan di antara dua dada yang saling bersandar.

Dan Gunung Sumbing malam itu menjadi saksi: bahwa cinta tak selalu datang pada saat yang tepat, tapi ia tetap datang. Membawa bahagia, membawa luka, membawa keraguan.

Namun pada pelukan panjang itu, mereka tak memikirkan apa pun selain satu hal:

Bahwa untuk satu malam, mereka diperbolehkan menjadi dua hati yang saling membutuhkan.

Noted : Sketsa digambar dengan AI


Wednesday, December 3, 2025

Semarang – Ajang pencarian bakat dan kompetensi pemasaran sektor pariwisata bertajuk Sibarista Marketer Award 2025 sukses terselenggara dengan antusiasme tinggi. Kompetisi ini menjadi wadah apresiasi sekaligus pembinaan bagi para pelaku pemasaran pariwisata dari berbagai unsur—mulai dari desa wisata, hotel, restoran, hingga industri hiburan.



Babak Penyisihan – 20 Oktober 2025

Babak penyisihan dilaksanakan pada 20 Oktober 2025 di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang. Sebanyak 60 peserta mengikuti tahap ini dengan mengerjakan tes tertulis yang mencakup berbagai aspek pemasaran modern, antara lain:

  • Branding

  • Advertising

  • Selling

  • Public Speaking

  • Grooming

Ajang ini dirancang tidak hanya untuk menguji pengetahuan teknis pemasaran, namun juga kemampuan personal branding dan komunikasi yang menjadi elemen penting dalam membangun citra pariwisata yang berdaya saing.

Babak Semifinal – 20 Peserta Terbaik

Setelah melalui proses penilaian, 20 peserta dengan skor tertinggi melaju ke babak semifinal. Pada tahap ini, peserta menjalani wawancara pendalaman dengan ruang lingkup kompetensi yang sama seperti sebelumnya, ditambah penilaian portofolio pemasaran dan/atau penjualan sebagai bukti konkret kontribusi mereka dalam unit kerja masing-masing.

Seluruh portofolio divalidasi oleh atasan langsung peserta untuk memastikan keaslian dan akurasi data penilaian.

Penetapan Finalis dan Grand Final

Dewan juri kemudian menggelar rapat final untuk menentukan peserta dengan akumulasi nilai tertinggi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan penilaian portofolio, ditetapkan 5 finalis terbaik yang berhak melaju ke Babak Grand Final di Gedung Teater TBRS, Semarang.

Grand Final menampilkan presentasi terbaik dari para finalis, menegaskan kemampuan mereka dalam strategi pemasaran pariwisata, komunikasi publik, hingga inovasi program branding destinasi.

Hasil & Pemenang Sibarista Marketer Award 2025

 Kompetisi Sibarista Marketer Award 2025 menutup rangkaian kegiatan dengan penuh prestise. Dari 60 (atau lebih, menurut penyelenggara) peserta awal yang mewakili berbagai sektor pariwisata — hotel, desa wisata, restoran, dan tempat hiburan — telah melalui seleksi ketat sejak babak penyisihan, semifinal, hingga grand final. 

Pada babak Grand Final di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), dewan juri memutuskan lima pemenang utama berdasarkan gabungan hasil tes tertulis, wawancara mendalam, portofolio pemasaran/penjualan, serta performa presentasi. 

Dengan bangga, piala juara tertinggi jatuh pada Octaviani Shinta Dewi dari UP PEAK Hotel Simpang Lima — menunjukkan bahwa kualitas pemasaran pariwisata yang baik berasal dari kombinasi pengetahuan, kreativitas, serta upaya nyata di lapangan.  Selamat juga kepada Suhono (Juara II), Zunta Ovidani (Juara III), serta Bambang Wijanarko, Sumarman, dan Catur Bale sebagai juara harapan — semua menunjukkan potensi besar dalam memajukan pariwisata di Semarang. 

Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi kolektif bagi para pelaku wisata di Kota Semarang untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan membawa pariwisata kota ke tingkat lebih tinggi.


Sunday, November 30, 2025

 


SEMARANG, Jatengnews.id – Ajang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang resmi menobatkan Octaviani Shinta Dewi sebagai Juara I. Kompetisi bergengsi yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini menjadi wadah apresiasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang inovatif dan inspiratif.

Octaviani, yang akrab disapa Via, berhasil mengungguli para pesaingnya dalam babak Grand Final yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (6/11/2025).

Posisi kedua diraih oleh Suhono dari Desa Wisata Kandri, sementara Juara III diraih oleh Zunta Ovidani dari Hotel Louis Kienne Jalan Pemuda, Semarang.

Usai menerima penghargaan, Via dari UP PEAK Hotel Simpang Lima mengaku bangga sekaligus terharu atas pencapaian yang diraihnya.

Baca jugaSibarista Bikin 10 Kandri Baru di Desa Wisata Jatirejo Semarang

“Setelah melalui seluruh proses penilaian, rasanya bahagia dan bangga bisa meraih juara. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi saya untuk terus berkontribusi bagi pariwisata Kota Semarang,” ujarnya saat ditemui, Jatengnews.id.

Via menilai, ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembelajaran dan kolaborasi antar peserta.

“Persaingannya sangat sehat, karena para finalis bisa saling berbagi ilmu dan menyemangati satu sama lain. Harapannya, setelah ini bisa terjalin kolaborasi yang baik antar pelaku wisata di Semarang,” tambahnya.

Peserta Lebih Beragam

Ajang ini merupakan puncak dari rangkaian seleksi yang melibatkan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari berbagai sektor, mulai dari desa wisata, tempat hiburan, restoran, hingga hotel dan lainnya.

Salah satu dewan juri, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini lebih luas dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini jumlah peserta lebih banyak menjadi sekitar 70 orang dibanding tahun sebelumnya. Ruang lingkupnya juga lebih luas, tidak hanya dari hotel, tapi juga dari desa wisata, tempat hiburan, dan restoran. Jadi tantangannya semakin beragam,” jelas Eko.

Menurutnya, penilaian tahun ini menitikberatkan pada kemampuan personal peserta dalam aspek penjualan dan strategi pemasaran kreatif.

“Kami menilai dari hasil tes tertulis, wawancara, hingga performa presentasi. Selai n itu, portofolio peserta juga menjadi pertimbangan penting karena menunjukkan pencapaian mereka selama setahun terakhir,” imbuhnya.

Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Pariwisata

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Kota Semarang, Monie Adityorini, yang mewakili Kepala Dinas, menjelaskan bahwa tahun ini ruang lingkup peserta diperluas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor di dunia pariwisata.

“Kalau tahun lalu hanya melibatkan pelaku desa wisata, tahun ini kami merangkul lebih banyak pihak seperti hotel, restoran, tempat hiburan, hingga komunitas pariwisata. Tujuannya agar semua elemen dapat bersama-sama mempromosikan Kota Semarang,” jelas Monie.

Ia menegaskan bahwa Dinas Pariwisata tidak bisa bekerja sendiri dalam menggerakkan sektor pariwisata. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di acara penghargaan saja, tapi berlanjut dalam kerja sama nyata. Misalnya, saat ada event tanggal 7-8 seperti Festival Wayang Semesta, semua pihak bisa terlibat bersama menjadikannya magnet wisatawan ke Kota Semarang,” paparnya.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

“Semakin banyak wisatawan datang ke Semarang, maka pergerakan ekonomi juga akan meningkat. Kami ingin wisatawan tak hanya datang ke ikon besar seperti Kota Lama atau Lawang Sewu, tetapi juga mengenal desa wisata yang kini sudah siap dipromosikan,” tambahnya.

Baca jugaRembug Pariwisata 2025: Semarang Mantapkan Langkah Menuju Transformasi Digital Wisata

Monie berharap, kegiatan seperti Sibarista Marketer Award dapat terus berlanjut dan berkembang sebagai wadah kolaborasi antar pelaku pariwisata.

“Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut, semakin besar, dan semakin banyak pihak yang terlibat. Karena semangatnya adalah bagaimana kita bersama-sama memajukan pariwisata Kota Semarang,” pungkasnya.

Daftar Pemenang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang

Berikut hasil penilaian dewan juri Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang:

Juara I: Octaviani Shinta

Juara II: Suhono

Juara III: Zunta Ovidani

Juara Harapan I: Bambang Wijanarko

Juara Harapan II: Sumarman

Juara Harapan III: Catur Bale

Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi Dinas Pariwisata Kota Semarang terhadap para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terus berinovasi serta berkontribusi dalam memajukan sektor pariwisata melalui strategi pemasaran yang kreatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. (01).

sumber : Octaviani Shinta Dewi Raih Juara I Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang


Thursday, October 30, 2025

2. Desa Wisata Nongkosawit


Pagi baru saja membuka tirai di Desa Wisata Nongkosawit. Kabut tipis masih menempel di pucuk bambu, sementara angin lembut berhembus membawa aroma tanah yang basah semalam. Di tengah halaman rumah joglo yang teduh, bunyi gamelan pelan-pelan mengisi udara—ting, dung, ting, dung—mengalun seperti sapaan ramah dari masa lalu.

Di satu sudut, Ibu-ibu tersenyum sambil memukul bilah logam kuningan, menciptakan irama yang membuat hati ikut menari. Tak jauh dari situ, sepasang tangan muda tengah sibuk merangkai manik-manik warna-warni menjadi gelang cantik. Setiap simpul tali seperti mengikat makna: kesabaran, ketelatenan, dan cinta pada tradisi. Lalu di halaman rumput yang hijau, seorang penari berbalut kebaya kuning mulai menggerakkan tubuhnya. Lenggoknya lembut, tapi berwibawa—seolah setiap gerakan adalah doa bagi bumi Nongkosawit.

Di desa ini, wisata bukan sekadar datang dan melihat, tapi ikut hidup di dalamnya. Setiap nada gamelan mengajak kita mendengar harmoni, setiap kerajinan mengajarkan makna tangan yang bekerja, dan setiap tarian mengingatkan bahwa budaya bukan barang pajangan, melainkan napas yang terus berdenyut.

Nongkosawit tidak menjual gemerlap, tapi menghadirkan keindahan dalam kesederhanaan. Ia mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati ada pada kebersamaan, pada tawa yang lahir dari gotong royong, dan pada rasa bangga menjaga warisan.

Saat matahari naik, cahaya menimpa wajah-wajah yang penuh semangat. Di sini, masa lalu dan masa kini bersatu, menciptakan harmoni yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Nongkosawit bukan sekadar desa wisata—ia adalah panggung kecil di mana budaya hidup kembali dengan senyum yang tulus dan irama yang abadi.



 1. Desa Wisata Kandri


Pagi di Desa Wisata Kandri selalu dimulai dengan senyum. Udara masih basah oleh embun, sawah berkilau diterpa cahaya matahari yang malu-malu muncul dari balik bukit. Burung-burung berceloteh riang, seolah tahu bahwa hari ini akan jadi cerita indah bagi siapa pun yang datang. Begitu menginjakkan kaki di sini, suasananya langsung berbeda—lebih pelan, lebih jujur, lebih manusiawi.

Di Kandri, wisata bukan soal melihat, tapi mengalami. Cobalah paket “nyawah” — di sinilah sepatu dilepas, kaki menjejak lumpur, dan tawa pecah bersama petani yang mengajari cara menanam padi dengan sabar dan jenaka. Setelah itu, lanjut cabut singkong. Jangan kaget kalau ternyata singkongnya lebih bandel dari yang dibayangkan! Tapi di situlah serunya: sedikit peluh, banyak canda, dan hasil bumi yang langsung bisa dinikmati bersama.

Belum puas? Mari duduk di bawah pohon rindang, melukis caping dengan warna-warna ceria. Ada yang menggambar bunga, ada yang menulis nama gebetan—semuanya sah, karena di Kandri, kreativitas bebas menari. Dan ketika matahari mulai condong, perahu wisata siap menunggu di tepi sungai. Airnya tenang, hembusan anginnya lembut, dan percikan kecil di permukaan air seolah menulis puisi sederhana: bahagia itu sesederhana ini.

Desa Wisata Kandri bukan sekadar tempat singgah, tapi ruang belajar untuk kembali mencintai hal-hal kecil yang sering kita lupakan. Di sini, kita tidak sekadar berlibur, tapi juga belajar bersyukur. Karena di setiap lumpur, caping, singkong, dan kayuh perahu, ada makna tentang kehidupan yang mengalir pelan namun pasti.

Kandri — di mana wisata menjadi cerita, dan cerita menjadi kenangan yang sulit dilupakan.


Sunday, October 12, 2025

Pagi itu, di lobi sebuah hotel di Semarang, seorang resepsionis menyambut tamu dengan senyum tulus. Ia bukan hanya melayani, tapi mewakili keramahan kota ini. Di tempat lain, seorang barista menata latte art bergambar Lawang Sewu, lalu memotret hasilnya dan mengunggah ke Instagram dengan tagar #WisataSemarang. Tak jauh dari sana, pemilik homestay kecil sibuk membalas pesan di WhatsApp, menawarkan promo akhir pekan.

Mereka berbeda profesi. Tapi ada satu semangat yang sama menyatukan mereka: mereka semua adalah marketer.

Inilah semangat komunitas  Sibarista — komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata Semarang yang percaya bahwa promosi bukan hanya soal iklan, tapi tentang bagaimana setiap dari kita menebarkan cerita.
Cerita tentang keramahan, keindahan, dan kebanggaan terhadap kota yang kita cintai.

Kita tak menunggu peluang datang.
Kita menciptakannya — melalui website dan media sosial yang aktif, kolaborasi dengan influencer dan content creator, hingga iklan digital di Google, marketplace, dan OTA. Kita bergerak juga di dunia nyata, lewat sales mission, table top, roadshow, dan pameran. Setiap langkah, setiap senyum, setiap unggahan, adalah bagian dari strategi besar mempromosikan Semarang.

Sibarista mengajarkan bahwa promosi bukan tanggung jawab satu divisi, tapi budaya bersama.
Ketika semua orang ikut berbagi cerita positif, kekuatan itu menjadi tak terbendung.
Dan dari sinilah, Semarang bersinar — bukan hanya sebagai kota tujuan wisata, tapi sebagai rumah bagi orang-orang yang mencintai pariwisatanya dengan sepenuh hati. ❤️

Sibarista – We Are All Marketer!
Karena setiap dari kita punya peran untuk membawa Semarang lebih dikenal, lebih dicintai, dan lebih mendunia. 🌍


Friday, September 5, 2025


Google Profil Business (GPB)
menjadi salah satu senjata utama dalam pemasaran digital yang seringkali terlupakan, padahal dampaknya sangat besar. Bagi anggota SIBARISTA, khususnya pengelola desa wisata dan rintisan wisata di Kota Semarang, kehadiran GPB sangat membantu calon wisatawan dalam tahap akhir pengambilan keputusan berkunjung. Setelah mereka tertarik dari konten media sosial dan memperoleh informasi mendalam dari blog, langkah berikutnya adalah mencari lokasi, rute perjalanan, serta referensi tambahan. Di sinilah GPB memainkan peran penting.

Dengan mengoptimalkan profil, pengelola bisa menampilkan alamat lengkap, jam operasional, nomor kontak, foto terbaru, hingga tautan menuju website atau media sosial. Review dari pengunjung sebelumnya juga menjadi nilai tambah karena memberikan gambaran nyata tentang pengalaman wisata. Lebih dari itu, GPB otomatis terhubung dengan Google Maps, sehingga calon wisatawan bisa dengan mudah menemukan jalur tercepat, memperkirakan waktu tempuh, hingga menjelajahi area sekitar destinasi. Bagi desa wisata dan rintisan, kehadiran di GPB meningkatkan kredibilitas sekaligus memperkuat citra profesional.

Maka, pemasaran melalui Google Profil Business bukan sekadar pelengkap, melainkan tahap penting yang melengkapi perjalanan digital wisatawan, dari rasa penasaran di media sosial hingga langkah nyata berkunjung ke destinasi wisata di Kota Semarang.



Blog, khususnya Blogspot, memiliki peran penting dalam strategi pemasaran digital karena mampu menyajikan informasi yang lebih detail dan mendalam dibandingkan media sosial. Bagi anggota SIBARISTA yang fokus pada desa wisata dan rintisan wisata di Kota Semarang, blog bisa menjadi sarana bercerita panjang mengenai potensi destinasi. Melalui artikel di Blogspot, pengelola dapat menjelaskan secara runtut mulai dari paket wisata yang ditawarkan, keunikan atraksi budaya yang dimiliki, rekomendasi produk kuliner lokal, hingga kisah di balik cendera mata khas. Konten blog yang lengkap akan membantu calon wisatawan mendapatkan gambaran jelas sebelum memutuskan berkunjung.

Selain itu, blog juga ramah mesin pencari (SEO friendly), sehingga ketika orang mencari kata kunci tertentu di Google, artikel dari Blogspot berpotensi muncul di halaman utama. Hal ini tentu menambah visibilitas destinasi wisata secara organik tanpa biaya iklan besar. Blogspot juga memberi ruang kreatif untuk menampilkan foto berkualitas, video, hingga link interaktif yang mendukung narasi. Dengan konsistensi menulis, blog bisa menjadi arsip digital yang kuat dan terpercaya. Maka, pemasaran melalui Blogspot akan sangat berguna bagi anggota SIBARISTA untuk memperluas jangkauan promosi dan memperkuat branding pariwisata Kota Semarang secara lebih profesional



Media sosial saat ini bukan hanya sekadar tempat berbagi foto atau cerita, tetapi sudah menjadi salah satu alat pemasaran paling efektif, khususnya bagi sektor pariwisata. Bagi anggota SIBARISTA yang bergerak di desa wisata dan rintisan wisata di Kota Semarang, memanfaatkan media sosial akan membuka peluang besar untuk memperluas jangkauan promosi dengan biaya yang relatif terjangkau. Melalui platform seperti Instagram, Facebook, atau TikTok, pengelola dapat menampilkan keindahan alam, paket wisata menarik, atraksi budaya khas, hingga produk kuliner lokal dan cendera mata dengan visual yang estetik dan konten yang kreatif. Keunggulan media sosial adalah kemampuannya menyebarkan informasi secara cepat, interaktif, dan mampu membangun komunikasi langsung dengan calon wisatawan. 

Selain itu, tren penggunaan hashtag, fitur live, serta ulasan pengunjung dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap destinasi yang dipromosikan. Dengan strategi yang tepat, promosi melalui media sosial bisa membuat desa wisata atau rintisan wisata lebih dikenal, meningkatkan kunjungan, serta berdampak langsung pada peningkatan ekonomi lokal. Oleh karena itu, memahami pentingnya pemasaran digital melalui media sosial adalah langkah awal yang sangat krusial bagi anggota SIBARISTA untuk membangun citra positif dan memperkenalkan potensi wisata Semarang ke tingkat yang lebih luas



Program MBG (media sosial, blogspot, dan google profil business) muncul karena cara promosi wisata sekarang nggak bisa lagi hanya mengandalkan brosur, spanduk, atau cerita dari mulut ke mulut. Anak muda zaman sekarang, termasuk calon wisatawan lokal maupun luar daerah, lebih sering mencari informasi lewat internet. Nah, buat pengelola desa wisata dan rintisan wisata di kota semarang, media sosial jadi garda terdepan untuk memperkenalkan potensi wisata dengan cara yang cepat, visual, dan gampang dibagikan. 

Tapi kenyataannya, info di media sosial biasanya cuma sebatas “pancingan” awal. Wisatawan yang penasaran butuh penjelasan lebih detail tentang lokasi, fasilitas, cerita unik, atau bahkan tips perjalanan. Di sinilah blogspot.com punya peran penting, karena bisa menyajikan artikel panjang, foto lengkap, dan tulisan yang terstruktur rapi. Blog jadi tempat wisatawan mencari informasi lebih mendalam sebelum mereka memutuskan untuk benar-benar berkunjung. 

Kalau sudah sampai tahap tertarik datang, tentu wisatawan butuh kemudahan akses menuju lokasi. Nah, google profil business atau google maps hadir sebagai panduan digital yang super praktis untuk menemukan jalur, kontak, hingga review dari pengunjung sebelumnya. Jadi, MBG bukan sekadar program biasa, tapi sebuah paket lengkap yang saling nyambung. Setelah tahu latar belakang ini, sekarang waktunya kita bahas isi MBG satu per satu.


Thursday, February 27, 2025



Aplikasi Koncodolan adalah inovasi terbaru dari Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. yang dikembangkan untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan menemukan lokasi wisata yang menarik di Kota Semarang. Aplikasi ini memiliki fitur yang lengkap, meliputi Calender Of Event, Daya Tarik Wisata, Aksesibilitas, Amenitas dan Database Pariwisata dan Budaya. 

Fitur Calender Of Event merupakan Atraksi Seni Budaya, Pameran, Fesyen, Sport Tourism dan lainnya yang ditampilkan secara bulanan dalam setahun. Fitur Daya Tarik Wisata terbagi ke dalam beberapa ruang lingkup antara lain wisata alam, wisata religi, wisata belanja, wisata heritage, desa wisata dan paket wisata.

Data Amenitas dengan tampilan simpel, terintegrasi dengan google maps memudahkan wisatawan dalam mencari penginapan, restoran, tempat nongkrong, karaoke maupun spa di Kota Semarang. Sementara itu data Aksesibilitas memudahkan wisatawan yang akan bepergian menggunakan sarana transportasi umum, bus wisata dan rental mobil untuk mobilitas selama di Kota Semarang.

 Database Pariwisata menjadi fitur pembeda dengan aplikasi pariwisata sebelumnya yaitu terdiri dari Database 13 Jenis Usaha Pariwisata by name by adress serta publikasi hasil-hasil Riset Pariwisata dan Budaya yang diperlukan para mahasiswa untuk tugas akhir atau penelitian dan juga para pelaku usaha pariwisata untuk mengetahui potensi dan tren pasar wisata, jumlah kunjungan wisatawan,  dan indikator statistik lainnya.

Aplikasi koncodolan ini terintegrasi dengan website pariwisata.semarangkota.go.id, tidak hanya memberikan informasi tentang pariwisata tetapi juga terintegrasi dengan petunjuk arah google maps. Dan untuk peningkatan layanan berupa informasi, interaksi, transaksi pariwisata akan dikembangkan pada Aplikasi Koncodolan ini sehingga diharapkan semakin besar dalam memberi dampak bagi masyarakat dan pelaku wisata yang ada di Kota Semarang.

Download Konco Dolan - Apps on Google Play




Salah satu hasil kesepakatan pertemuan sibarista yang kita prediksi akan berdampak adalah Rencana Fasilitasi Desa Wisata Kandri untuk Menyediakan Booth  dalam Gelar Potensi Desa Wisata & Rintisan wisata yg dikolaborasikan dengan giat Nyadran Kali

Nyadran kali akan dilaksanakan 6 - 7 Januari 2023. Bagi pengelola Deswita & rintisan wisata yang berminat mengisi booth dimaksud, berkenan mengisi list partisipasi kegiatan tersebut

List partisipasi Gelar Potensi Desa Wisata & Rintisan Wisata dalam Event Nyadran Kali, 6 - 7 Januari 2024 di Desa Wisata Kandri

1. Demoyo Village Srikandi (craf dr kertas koran,produk UMKM unggulan olahan jahe,serta paket praktik kilat membuat craf distand)

2.Jamalsari Kedungpane (Nasi Jantung Radja dan berbagai Olahan Makanan Lokal)

3. Omah Ampiran Wonolopo (produk Jamu Jawa, Syrup Jahe rempah wangi, Wedang Uwuh, Syrup Bawang Lanang, Sambal Pecel Pincuk, pupuk kompos dari limbah Jamu)

4, ecoeduwisata mangrove tapak (produk olahan mangrove dan hasil tambak, destinasi wisata, edukasi)

5.Kampoeng Djadhoel Laksmi Art Batik (Membatik di Secarik Kain & Edukasi di Totebag)

Silahkan di isi bagi yang berminat untuk di kalkulasi kebutuhan faislitasi oleh tuan rumah

26 Nopember 2023

Presiden Sibarista




Semangat Pagi Para Pejuang Desa Wisata dan Rintisan Wisata Kota Semarang, Semoga Tuhan Selalu Menjaga dan Melindungi Kita Semua

Semangat kolaborasi untuk menimbulkan dampak positif bagi kemajuan desa wisata & rintisan wisata seakan menjadi RUH sibarista dan para anggotanya. Desa Wisata Kandri yang sempat melaju kencang sendirian, pada tahun 2019 kita coleg coleg agar mau membagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya kepada desa wisata & rintisan wisata lain di Kota Semarang. 

Dengan kebesaran hati dan sikap Legowo para pengelola Kandri antara lain pak @Saipul Kandri Baru Lagi , pak @pak duki Kandri mas @Zubaidi Kandri mas @Lek Wakhid Kandri mas @Suhono Kandri mau mengajak dan mendorong rekan rekan yang lain untuk bergerak bersama dan maju bersama

Sejak saat itulah Kandri yang tadinya melaju kencang sendirian dg indikator pendapatan 1 tahun kurleb 2 Milyar dimuat di beberapa media wisata termasuk media lokal Bali kembali ke pangkuan kita semua mengirimkan local champion terbaik nya untuk berbagi sana sini dengan semangat nyawiji dalam wadah sibarista

Apa yg ingin saya sampaikan? Mungkin banyak orang hebat disini, Mungkin juga banyak yg punya produk hebat, ilmu hebat, pengalaman hebat. Namun bila semua itu hanya untuk diri sendiri, tidak akan berdampak untuk masyarakat

Jadi.... Mari kita tiru sikap mental para tokoh desa wisata Kandri dan juga tokoh2 sibarista untuk selalu bergerak bersama, mau berbagi dan berkolaborasi memajukan pariwisata kota Semarang

Semangat pagi, selamat prepare menuju rutinitas kerja masing2 🙏


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata