Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Thursday, July 16, 2026

"Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya beberapa bulan, tetapi meninggalkan jejak yang tidak mampu dihapus oleh puluhan tahun. Anehnya, saat pertama kali bertemu, kita sama sekali tidak menyadari bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi bagian penting dari cerita hidup kita."


Begitulah kisah ini dimulai.

Bukan di sebuah kafe yang romantis.

Bukan di puncak gunung.

Bukan pula dalam sebuah perjalanan panjang.

Semuanya berawal dari sebuah ruangan kantor yang sederhana.

Dari seorang anak magang yang datang seperti ratusan anak magang sebelumnya.

Dan dari pukul lima sore, sebuah waktu yang awalnya terasa biasa, tetapi belakangan menjadi penanda perubahan dalam hidupku.

Hari itu sebenarnya berjalan seperti hari-hari biasa.

Masuk kantor, mengikuti apel pagi, lalu kembali ke meja kerja. Laptop kecil di depanku segera menyala. Jemariku mulai menari di atas keyboard, menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu sejak kemarin. Sesekali aku berbincang dengan teman sekantor, membahas agenda kegiatan hari itu atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja yang sedang hangat.

Tak ada yang istimewa.

Hingga dua orang perempuan masuk ke ruangan.

Yang satu sudah kukenal. Beliau adalah salah satu pimpinan dari ruang sebelah. Sedangkan perempuan muda yang berjalan di belakangnya benar-benar asing bagiku.

Aku tetap melanjutkan pekerjaanku.

Beberapa saat kemudian terdengar suara memanggil.

"Dik, tolong adik ini dibantu. Arahin nanti harus bantu apa dan kerjaannya apa."

Aku menoleh.

"Siap, Pak."

Perempuan muda itu menghampiri mejaku, mengulurkan tangan sambil tersenyum.

"Nama saya Sasa. Saya magang dari Fakultas Johar Universitas Banyumanik."

Aku membalas jabat tangannya.

"Panggil saja aku Awan."

Ia kemudian duduk di meja yang disediakan tepat di samping tempatku bekerja.

Sebagai orang yang diminta membimbing, aku mulai menjelaskan banyak hal. Tentang aturan magang, etika kerja, cara berkomunikasi, sampai hal-hal kecil yang menurutku penting diketahui anak magang.

Setiap kali aku menjelaskan sesuatu, jawabannya selalu sama.

"Iya."

"Iya."

"Iya."

Sesekali aku bertanya,

"Sudah paham?"

"Iya."

"Ada yang mau ditanyakan?"

Ia hanya tersenyum sambil menggeleng.

Mungkin masih malu.

Hari itu berlalu begitu saja.

Tidak ada kejadian yang menurutku layak diingat. Kehadiran perempuan muda itu pun kupikir hanya akan menjadi bagian kecil dari rutinitas kantor.

Aku sama sekali tidak menyangka, beberapa hari kemudian semuanya berubah.

Pekerjaanku sedang benar-benar menumpuk.

Deadline saling berkejaran. Satu pekerjaan belum selesai, pekerjaan lain sudah datang. Hampir setiap malam aku lembur. Mata mulai memerah, tetapi daftar pekerjaan masih panjang.

Di tengah kesibukan itu, Sasa tiba-tiba berkata,

"Mas, kalau berkenan... saya bantu saja."

Awalnya aku ragu.

Bagaimanapun juga ia masih anak magang.

Namun ternyata ia belajar jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Teliti.

Mau bertanya.

Dan tidak pernah mengeluh.

Sejak pagi kami bekerja berdampingan.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore.

Ruangan mulai sepi.

Satu per satu teman kantor pulang.

Aku menoleh kepadanya.

"Jangan pulang dulu ya, Dik. Nanti kita makan dulu."

Ia menganggukkan kepala.

Aku sempat bingung.

Harus mengajaknya makan apa?

Aku bahkan belum benar-benar mengenalnya.

Akhirnya kupilih sesuatu yang sederhana.

Bakso.

Di luar gerimis mulai turun pelan.

Kupikir semangkuk bakso hangat cukup untuk menghangatkan badan yang seharian duduk di depan laptop.

Warungnya hanyalah bakso kaki lima di pinggir jalan.

Namun pembelinya ramai.

Kami duduk berhadapan.

Entah mengapa sore itu terasa berbeda.

Bukan karena baksonya.

Bukan pula karena gerimisnya.

Melainkan karena perempuan muda yang duduk di depanku.

Ada sesuatu yang membuatku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.

Padahal kami baru bertemu beberapa hari.

Bukan wajahnya yang membuatku terus memperhatikannya.

Bukan pula senyumnya.

Tetapi caranya bekerja.

Caranya berbicara.

Caranya memperlakukan orang lain.

Dan terutama...

karakternya.

Aku seperti sedang melihat cermin.

Seolah sebagian sifat yang ada dalam diriku sedang dipantulkan melalui dirinya.

Aku belum tahu mengapa.

Yang kutahu, jam lima sore di ruangan itu menjadi awal dari sebuah cerita yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Sejak hari itu, tanpa kusadari ada yang berubah.

Setelah apel pagi selesai, mataku sering mengarah ke pintu.

Aku seperti sedang menunggu seseorang datang.

Beberapa menit kemudian, seperti biasa sekitar pukul delapan, Sasa muncul.

Ia menyalami semua orang di ruangan, lalu duduk di meja kerjanya.

Rutinitas sederhana.

Namun kini rasanya berbeda.

Hari demi hari kami semakin akrab.

Awalnya hanya membahas pekerjaan.

Lalu melebar ke keluarga, pengalaman kuliah, hobi, bahkan hal-hal kecil yang kadang sama sekali tidak penting.

Kami sering tertawa.

Kadang saling menggoda.

Kadang hanya saling mendengarkan.

Aku sempat berpikir,

"Sepertinya dia juga sanguinis."

Entahlah.

Mungkin benar.

Mungkin juga hanya kesan awalku.

Suatu siang kami kembali makan bersama.

Saat mengambil lauk, aku melihat ia memilih pisang goreng.

Aku tersenyum sendiri.

Dulu, ketika masih kuliah, aku juga sering makan nasi dengan lauk pisang goreng supaya terasa lebih kenyang.

Entah mengapa ia memilih lauk yang sama.

Mungkin memang suka.

Mungkin kebiasaan.

Hal kecil.

Tidak penting.

Tetapi cukup menarik untuk menjadi bahan obrolan.

Aku tidak tahu bahwa makan siang sederhana itu justru menjadi awal dari persoalan.

Entah siapa yang memulai.

Entah dari mana asalnya.

Tiba-tiba beredar cerita bahwa aku dan Sasa memiliki hubungan yang lebih dari sekadar rekan kerja.

Padahal...

kami baru saling mengenal.

Belum ada apa-apa.

Bagiku, kedekatan itu lebih seperti dua orang yang sedang belajar memahami karakter satu sama lain.

Namun rupanya tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama.

Perlahan aku melihat perubahan pada dirinya.

Perempuan yang biasanya ceria itu mendadak lebih pendiam.

Senyumnya mulai berkurang.

Tatapannya tidak lagi secerah beberapa hari sebelumnya.

Suatu hari ia berkata pelan,

"Mas... saya mulai merasa tidak nyaman di sini."

Kalimat itu membuatku terdiam.

Aku merasa bersalah.

Seolah tanpa sengaja aku telah menyeretnya ke dalam situasi yang tidak pernah ia inginkan.

Aku mulai bertanya pada diri sendiri.

Haruskah aku menjaga jarak?

Ataukah tetap bersikap biasa saja?

Aku belum menemukan jawabannya.

Sering kali kita mengira bahwa peristiwa besar selalu diawali oleh sesuatu yang besar pula.

Padahal kenyataannya tidak.

Kadang hidup berubah hanya karena sebuah jabat tangan.

Karena semangkuk bakso.

Karena percakapan sederhana sepulang kerja.

Atau karena seseorang yang tanpa sengaja mengingatkan kita pada diri sendiri.

Yang lebih menarik lagi, hidup hampir tidak pernah memberi tanda ketika babak baru akan dimulai.

Kita baru menyadarinya setelah semuanya menjadi kenangan.

Saat itu, aku belum tahu bagaimana akhir dari kisah ini.

Aku hanya tahu, seorang anak magang yang awalnya hanyalah bagian dari rutinitas kantor, perlahan berubah menjadi seseorang yang membuatku belajar memahami arti karakter, persahabatan, dan cara memandang manusia.

Dan semua itu...

berawal dari jam lima sore di ruangan itu.


Tuesday, December 23, 2025

Bagian 1

Pendakian Massal Merbabu: Bibit Rasa Mulai Bersemi

Pendakian massal itu bermula dari sebuah pengumuman sederhana di papan kampus. Gunung Merbabu, dengan jalur panjang dan sabana luasnya, akan menjadi saksi ratusan langkah anak muda yang haus petualangan. Aku mendaftar tanpa banyak pikir, hanya ingin menguji kaki dan paru-paru. Tak pernah terlintas bahwa di sanalah hatiku ikut mendaki.

Di tengah rombongan yang riuh oleh tawa dan teriakan semangat, aku melihatmu. Kemeja flanelmu tampak biasa saja, tapi caramu tersenyum pada semua orang membuat suasana menjadi ringan. Kita tidak langsung berjalan berdampingan, hanya sesekali bertukar pandang saat berhenti mengambil napas.

Merbabu mengajarkan kami untuk sabar. Jalurnya panjang, kadang landai, kadang menanjak tanpa ampun. Saat kakimu terpeleset di tanah berdebu, reflek aku mengulurkan tangan. “Terima kasih,” katamu singkat, tapi sejak itu langkah kita seolah berirama.

Malam turun di pos peristirahatan. Api unggun kecil menyala, kopi dibagi dalam gelas seadanya. Kita duduk berdekatan, berbagi cerita ringan—tentang rumah, tentang rencana hidup yang masih samar. Angin dingin Merbabu berhembus, tapi entah mengapa dadaku terasa hangat. Tanpa kusadari, bibit rasa itu mulai bersemi, pelan namun pasti.

Bagian 2

Bus Magelang–Jogja: Ku Ungkap Rasa Padamu

Pendakian berakhir, tapi cerita tidak ikut turun bersama kami. Dari Magelang menuju Jogja, kami duduk di bangku bus yang sama—sebuah kebetulan yang terasa terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Bus melaju perlahan, melewati sawah dan desa-desa yang seolah tak peduli pada kegelisahanku. Di dalam, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain, namun pikiranku hanya tertuju padamu. Tanganku dingin, bukan karena AC bus, melainkan oleh keberanian yang sedang kupaksa tumbuh.

Kita membicarakan hal-hal kecil lagi—tentang capeknya kaki, tentang foto-foto yang belum dicetak, tentang Merbabu yang rasanya terlalu cepat ditinggalkan. Lalu ada jeda. Hening yang panjang, cukup untuk membuat jantung berdetak terlalu keras.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kataku akhirnya. Kau menoleh, menungguku melanjutkan. Kata-kata itu keluar sederhana, tanpa puisi, tanpa janji besar—hanya kejujuran tentang rasa yang tumbuh sejak di jalur pendakian.

Kau tersenyum, tidak terkejut, seolah telah membaca semuanya dari caraku berjalan di sampingmu. Bus terus melaju, tapi sejak saat itu, dunia terasa berhenti sejenak. Aku tak tahu ke mana arah cerita ini, tapi aku tahu satu hal: aku tak lagi menyimpan rasa sendirian.

Bagian 3

Terlanjut Mengungkap Rasa: Tak Pernah Apel Malming

Mengungkap rasa ternyata bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang tak biasa. Kita tidak pernah benar-benar menjadi pasangan seperti di cerita kebanyakan orang. Tak ada apel malam minggu, tak ada janji bertemu rutin di hari libur.

Consideration always came first. Kesibukan, jarak, dan waktu yang tak selalu berpihak membuat hubungan kita berjalan apa adanya. Kita lebih sering berbagi kabar singkat, cerita sederhana, dan kenangan lama yang terus kita rawat.

Aneh memang—tanpa malam minggu, tanpa genggaman tangan di keramaian kota—namun rasa itu tidak pudar. Justru Merbabu menjadi titik pulang dalam ingatan. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke sana, pada sabana luas, api unggun kecil, dan bangku bus yang menjadi saksi kejujuran.

Kini, waktu telah berjalan jauh. Rambut mungkin mulai beruban, langkah tak lagi sering mendaki. Tapi “Kenangan Merbabu” tetap utuh—bukan sekadar cerita cinta, melainkan tentang keberanian mengakui rasa, meski akhirnya tak selalu berakhir seperti yang dibayangkan.

Dan mungkin, justru di sanalah keindahannya.





Sunday, December 21, 2025

Tebing Pantai Siung

Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.

Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.

Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.

Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.

Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.

Aneh.
Kami sendiri tak benar-benar tahu obrolan itu milik siapa dengan siapa.

Teman?
Sahabat?
Saudara?
Atau dua orang yang diam-diam saling menunggu keberanian?

Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.

Namun pagi ini membantah semuanya.

Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.

Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?

Tebung Pantai Siung

Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.

Aku belum menemukannya.

Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.

Dan di antara deru ombak yang tak pernah lelah, aku akhirnya mengerti:
ada perpisahan yang tak pernah mengucapkan salam.
Ada kehilangan yang datang bukan karena pergi,
melainkan karena kita terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Aku masih mencari.
Dan mungkin, sebagian dari diriku akan terus mencari—
bahkan jika gadis berkaos putih itu hanya tinggal sebagai kenangan
yang tak pernah benar-benar pulang.


Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.


Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI


Tuesday, October 24, 2017

Belum lengkap rasanya ke Kota Semarang klo belum selfie di Tugu Muda. Monumen pertempuran 5 hari di Semarang mengusir penjajah yang saat ini menjadi salah satu icon kota semarang. Selain bernilai sejarah, tugu muda juga berada dikawasan pariwisata yang ramai dikunjungi terintegrasi dengan Lawangsewu. Gereja katedral, Museum Mandala Bakti, Gedung Perdamaian dan juga kampung pelangi yang saat ini lagi ngehits sampai mancanegara.

Perkenalanku dengan gadis ayu itu berawal dari tugu muda. Gadis peranakan berparas cantik, berkulit putih dan berambut pirang. Sekilas memandang tak ada perbedaan dengan gadis-gadis peranakan yang lain, namun bila semakin lama dipandang akan muncul daya magnet luar biasa yang membuat kita tertarik padanya.

Awal mula pasti kebingungan, apa gerangan yang menarik dari gadis peranakan satu ini. Sampai aku dapat menyimpulkan bahwa matanya indah, dan wajahnya yang bulat  mengingatkanku pada bulan purnama. Maka aku panggil dia,"wulandari". Berasal dari  bahasa jawa yang berarti bulan purnama. Nama yang pas dan pantas untuk seorang gadis peranakan se cantik dia.

Sengaja memilihkan untuknya nama jawa walaupun berwajah china agar mengingatkanku bahwa dia adalah simbol percampuran 2 etnis, sekaligus akulturasi budaya yang sangat kental bernuansa wisata. Wajar saja dasar filosofis itu digunakan karena wisata selalu butuh "story telling" dan bila belum ada ceritanya bisa dibuat "story making" nya.

Setiap hari aku membahas tentangnya, setiap saat aku ingin bersamanya. Wulandari muda yang kukenal 5 tahun lalu, kini telah tumbuh dewasa dan matang untuk ukuran seusianya. Semua bagian tubuhnya menarik untuk di pandang, semua perilakunya menarik untuk diperhatikan dan kepribadiannya sangat menarik untuk dipahami. Semakin aku membahas wulandari, aku semakin merasa tertarik untuk mengenalinya dan semakin mengenalinya.

Hingga suatu ketika aku merasa kehilangan...
Tak kulihat lagi wajah bulatnya, matanya yang bening berbinar ..
tak kujumpai lagi gerak gerik lincah manjanya
tak kutemukan lagi keberadaannya..


ternyata aku hanya bermimpi sesaat :)

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata