Sunday, July 19, 2015


Damar kecil sedang mencari rumput untuk kambing yang berjumlah 3 ekor. Merumput adalah kegiatannya setiap sepulang sekolah sebagai bentuk tanggung jawab yang diberikan ayahnya. Bersama kawan-kawan sebayanya Damar selalu berangkat merumput lebih awal agar sore harinya bisa bermain bola di tepian kali bengawan solo. Begitu juga sore itu selepas merumput Damar segera menghampiri kenthut dan sugeng sahabatnya untuk bermain bola. Klo diperhatikan lokasi yang digunakan bermain bola memang bukan di tanah lapang, namun di tepian sungai yang banyak pasirnya atau disebut peden. Peden berasal dari kita wedi (pasir) yang diberi awalan pe dan akhiran an untuk menunjukkan tempat sehingga menjadi peden.
Arena bermain di peden ini sudah lama berlangsung, bahkan sejak damar belum lahir. Hanya akhir-akhir ini mulai marak karena sebentar lagi akan ada lomba sepakbola 17 an antar kelurahan se kecamatan Banyu Gunung.
Pertandingan sepakbola antar kelurahan menjadi tontonan favorit warga untuk memeriahkan hari kemerdekaan sehingga selalu rame dan dianggap bergengsi. Para kaum muda termasuk damar kecil yang  berlatih keras di tepian kali bengawan solo. Pun sore itu latihan berlangsung dengan sangat keras. Harapannya Damar bisa masuk tim inti kesebelasan Banyugunung. Bersambung

Tuesday, July 7, 2015


"Stop... tahan dulu, kita salah jalan!", Kataku
Ini benar jalannya Pae, Jawab Papin
"Ini salah jalan, lihatlah kemaren kita tidak melalui jalan seperti ini", kataku lagi
Tiba-tiba aku melihat di depanku ada patung raksasa, spontan aku berteriak, " ini jelas salah jalan, lihatlah di depan kita ada patung raksasa.... aku belum pernh melihat sebelumnya".
Iya benar pae, kemaren kita tidak melewati patung raksasa", timpal cempi yang jalan di belakangku.
Suasana menjadi hening,sepi dan mencekam... akankah terjebak di Jurang Grawah?

Deru kendaraan makin keras, kecepatan motor mendekati 60 km per jam mendaki pos 1 jalur pendakian sundoro dalam gelapnya malam. Uniknya sang ojek mengendarai motor tanpa lampu, hanya mengenakan head lamp. Tiba -tiba gubrak... salah satu motor terperosok ke dalam parit. * yang benar saja gumamku.... nanjak jalur pendakian motor ngebut gak pakai lampu lagi.... wajar keperosok* Peristiwa itu mengawali rangkaian pendakian Gunung Sundoro malam itu bersama papin, cempi, gonthet, bang bud dan gaplek.

Pos 1 sudah terlewati. Saat itu perjalanan menuju pos 2. Perbincangan masih seputaran jatuhnya papin dari atas motor yang ugal-ugalan melewati jalur pendakian dan aku yang harus mendorong ojek motor 3 kali untuk sampai pos 1. Perbincangan itu bisa bermakna senang karena tidak harus bersusah payah jalan kaki dari basecamp sampai pos 1, bisa berarti juga cerita seru akibat ugal-ugalan, namun bagiku merupakan renungan yang harus di dalami. Perlukah ojek ke pos 1? pemberdayaan masyarakat atau semakin berpotensi merusak lingkungan?




Penampakan Pos 2
Tak terasa sambil merenung dalam perjalanan sudah mencapai pos 2. Pos yang mendekati aroma pasar setan, cukup menakutkan bagi para pendaki yang tidak kuat iman atau belum berpengalaman. bersambung




📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata