Showing posts with label Mendaki Gunung. Show all posts
Showing posts with label Mendaki Gunung. Show all posts

Saturday, April 25, 2026

Rising gracefully in Central Java, Mount Ungaran is a favorite for first-time hikers thanks to its moderate trails, lush forests, and rewarding summit views. If you’re new to hiking, this guide will walk you through the best routes and practical techniques to help you reach the top safely and enjoyably.

Gunung Ungaran

Why Choose Mount Ungaran for Your First Hike?

Located near Semarang, Mount Ungaran offers:

  • Manageable elevation (around 2,050 mdpl)
  • Multiple trail options
  • Scenic tea plantations, pine forests, and open savannas
  • Clear paths compared to more technical mountains

Main Hiking Routes on Mount Ungaran

1. Basecamp Mawar (Bandungan) – Most Recommended for Beginners

📍 Access via Bandungan

Highlights:


Wednesday, January 22, 2020


RESOLUSI 2020

Kehidupan itu seperti mendaki gunung. Untuk mencapai puncaknya butuh waktu dan perjuangan, setelah di puncak tak akan tinggal untuk selamanya. Semakin tinggi gunung yang akan didaki, semakin rumit rutenya, semakin komplek peralatannya dan semakin lama waktu yang dibutuhkan dan semakin tinggi pula kapasitas yang dibutuhkan oleh pendaki yang akan menggapai puncaknya.

Demikian pula kehidupan, untuk mencapai tujuan yang kita inginkan membutuhkan waktu dan perjuangan sehingga aku memilih untuk terus BELAJAR MENDAKI GUNUNG kehidupan. Untuk itu aku akan selalu belajar meningkatkan kapasitas diri dan bertindak lebih nyata dalam beribadah kepada Tuhan, berbakti kepada orang tua, memimpin keluarga, berinteraksi dengan  masyarakat, serta berinovasi dalam pekerjaan. Pembelajaran itu bukan sekedar untuk diriku sendiri namun aku akan berbagi dengan orang lain agar lebih bermanfaat untuk kehidupan di masa datang.

Beribadah Kepada Tuhan adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia yang beragama. Maka hidup akan dapat kujalani lebih mudah apabila setiap aktifitas yang kulakukan bertujuan untuk ibadah. Berbakti kepada orang tua bukan sekedar ajaran kebaikan, namun merupakan sebuah keasadaran diri untuk selalu mengingat kehidupan kita sejak masa dalam kandungan, lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak – anak, remaja dan dengan segala kasih sayang orang tua dalam  membesarkan dan mendidikku sehingga menjadi diriku saat ini.

Keluarga adalah tempat pembelajaran pertama bagi orang tua dan anak – anaknya. Sebagai Kepala Keluarga, aku memilih untuk memberi contoh dalam detail – detail kehidupan sebagai cara untuk mendidik anak – anak dan keluarga. Memberi contoh beribadah sebelum menyuruh anak beribadah, memberi contoh sopan santun sebelum menegur perilaku anak yang kurang santun, dan contoh detail perilaku hidup lainnya.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Sudah sewajarnya membangun hubungan baik dengan tetangga dan masyarakat sebagai perwujudan rasa saling membutuhkan antar sesama manusia. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain karena untuk membangun sesuatu yang  lebih tinggi dan lebih besar diperlukan kolaborasi.

Bekerja bukan sekedar mencari uang, menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran kita, lebih dari itu bekerja adalah ekspresi jiwa dan perasaan seseorang untuk menghasilkan karya terbaik  bagi umat manusia. Untuk itu aku akan selalu mencoba menghasilkan karya terbaik dengan terus berinovasi dan berkolaborasi.

 Maka aku akan terus BELAJAR MENDAKI GUNUNG, bukan hanya sebagai hobi melainkan agar aku bisa belajar menjalani  kehidupan ini dengan lebih kuat dan lebih baik.



                                                                                              Gd. Pandanaran, 07 -01 -20

                                                                                                                                           

           Kariswisata.id

Tuesday, July 7, 2015


"Stop... tahan dulu, kita salah jalan!", Kataku
Ini benar jalannya Pae, Jawab Papin
"Ini salah jalan, lihatlah kemaren kita tidak melalui jalan seperti ini", kataku lagi
Tiba-tiba aku melihat di depanku ada patung raksasa, spontan aku berteriak, " ini jelas salah jalan, lihatlah di depan kita ada patung raksasa.... aku belum pernh melihat sebelumnya".
Iya benar pae, kemaren kita tidak melewati patung raksasa", timpal cempi yang jalan di belakangku.
Suasana menjadi hening,sepi dan mencekam... akankah terjebak di Jurang Grawah?

Deru kendaraan makin keras, kecepatan motor mendekati 60 km per jam mendaki pos 1 jalur pendakian sundoro dalam gelapnya malam. Uniknya sang ojek mengendarai motor tanpa lampu, hanya mengenakan head lamp. Tiba -tiba gubrak... salah satu motor terperosok ke dalam parit. * yang benar saja gumamku.... nanjak jalur pendakian motor ngebut gak pakai lampu lagi.... wajar keperosok* Peristiwa itu mengawali rangkaian pendakian Gunung Sundoro malam itu bersama papin, cempi, gonthet, bang bud dan gaplek.

Pos 1 sudah terlewati. Saat itu perjalanan menuju pos 2. Perbincangan masih seputaran jatuhnya papin dari atas motor yang ugal-ugalan melewati jalur pendakian dan aku yang harus mendorong ojek motor 3 kali untuk sampai pos 1. Perbincangan itu bisa bermakna senang karena tidak harus bersusah payah jalan kaki dari basecamp sampai pos 1, bisa berarti juga cerita seru akibat ugal-ugalan, namun bagiku merupakan renungan yang harus di dalami. Perlukah ojek ke pos 1? pemberdayaan masyarakat atau semakin berpotensi merusak lingkungan?




Penampakan Pos 2
Tak terasa sambil merenung dalam perjalanan sudah mencapai pos 2. Pos yang mendekati aroma pasar setan, cukup menakutkan bagi para pendaki yang tidak kuat iman atau belum berpengalaman. bersambung




Wednesday, March 11, 2015


Klo jodoh, apapun yang terjadi tetap dipertemukan untuk yang pertama kali lalu dipertemukan kembali dan kembali lagi. Aku mengenalnya di akhir tahun 1993, saat weekend diantara kesibukan sebagai mahasiswa baru. Di saat jiwa dan semangat muda menggebu - gebu ingin menyalurkan hasrat petualangan cinta yang begitu besar, aku diajak teman untuk diperkenalkan dengannya. Sungguh momen yang spesial dan indah dalam hidupku.
Pertemuan pertama begitu sempurna, aku langsung jatuh cinta. Penampilan yang apa adanya semakin menampakkan ke elokan dan kecantikan yang alami. Tidak perlu bersolek agar aku jatuh cinta karena sejak sebelum pertemuan pertama itupun aku mendengarkan cerita - cerita tentangnya sudah jatuh cinta.
Merbabu dengan floranya yang rimbun dan teduh serta hamparan eidelweis yang dikiri kanan jembatan setan itulah yang membuatku jatuh cinta, bukan hanya tentang indahnya, Tapi suasana dan tantangan sepanjang jalur pendakiannya membuatku selalu kangen dan kangen lagi untuk kembali ke sana.
Merbabu dengan segala fauna berbagai macam burung dan kera ekor panjanglah yang membuatku terkesan dan selalu pengen menengoknya kembali dan kembali lagi.
Lebih dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa banyak kenangan merbabu yang tertulis dengan tinta emas berbagai kejadian spesial yang sangat mempengaruhi hidupku.
Aku jatuh cinta lagi setiap kali aku kembali ke sana dan akan selalu kembali ke sana dengan segala rindu dan kenangan yang terpahat indah dalam hatiku.



Tuesday, December 23, 2014

Di jembatan setan anganku melayang jauh, menimbulkan getaran rindu yang tak terperikan. Dadaku berdegub kencang, air mataku menetes tak tertahankan. Setiap tebing yang kudaki, setiap kelokan yang kulewati mengingatkan memori indah kebersamaan dengan anak-anak pertamaku di kapala. Puncak dari segala puncak gejolak perasaan ini tumpah di puncak syarif, tak ada kata yang terucap ... hanya isak tangis...

Puncak Merbabu Kapala 2014

Merbabu 15 tahun lalu
Kisah cinta ini bermula dari perkenalanku dengan mas pri, ardianta, calvin dan rara. Kisah cinta seorang yang belum berani mengaku sebagai pecinta alam karena kejujurannya pada diri sendiri dan Tuhan. Kejujurannya bahwa perjalanannya ke Puncak – Puncak Gunung, menuruni lembah, memasuki lorong goa yang gelap dan menyusuri sungai  adalah bentuk aktifitas penikmat alam bukan pecinta alam.
Kisah cinta berlanjut seiring dengan proses kesadaran untuk lebih mencintai alam.  Sebuah kesadaran untuk mencoba mendefinisikan hakekat pecinta alam yang sesuangguhnya. Kesadaran untuk lebih memahami segala bentuk aktifitas hedonis di alam bebas untuk pencarian jati dirinya. Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bertualang? Benarkan aku seorang pecinta alam? Atau sekedar penikmat alam yang menimbulkan kerusakan semak belukar dan pepohonan yang menyebabkan bencana bagi umat manusia?
Pertanyaan – pertanyaan yang terus berkecamuk dalam kehidupan nyata bagaikan mimpi di siang bolong yang selalu mengusik hati dan pikiranku. Pertanyaan – pertanyaan yang seolah tak pernah puas dengan jawaban para senior dan sesepuh pecinta alam. Pertanyaan yang butuh  proses perenungan diri untuk menjawab dan memaknainya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Pertemuanku dengan mas pri berlanjut di meja perundingan yang akrab namun seru dan penuh perdebatan. Keinginannya untuk mendirikan mapala di kampus mas Pri menimbulkan pemikiran baru di kepalaku. Mas Pri selalu mengulang – ulang pernyataannya bahwa salah satu yang menyebabkan keinginannya mendirikan mapala adalah rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kental saat mendaki gunung. Tentu saja banyak alasan lain yang dia kemukakan, namun dari pengertian mapala = mahasiswa pecinta alam, dan rasa kebersamaan dan kekeluargaan itulah kemudian konsep “kepedulian terhadap sesama dan alam” menjadi dasar kesepakatan awal untuk pendirian mapala.
Truk Pasir
Deru suara truk mengaung menggema membelah sore mendaki tanjakan wekas. Kepanikan muncul ketika truk tiba-tiba berhenti ditengah tanjakan. Sontak beberapa anak laki-laki meloncat turun dan mencari batu sebagai pengganjal agar truk tidak melorot turun. Peristiwa kepanikan itu merupakan konsekwensi penggunaan truk angkutan pasir untuk mengangkut manusia. Maklum saja faktor biaya yang jauh lebih murah dibanding sewa bus menjadi alasan utama.
“Naik angkutan apapun jadilah asalkan cita-cita menggapai salah satu atap tanah jawa tercapai”, begitu kata mas pri dan seluruh peserta pendakian massal. Dalam suasana penuh sendau gurau dan senandung nyanyian silih berganti akhirnya truk menepi di tikungan wekas yang legendaris. Tikungan sejarah yang menjadi penanda para pendaki turun dari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan berjalan kaki. Tikungan yang sangat dikenali oleh para kenek dan sopir magelang – salatiga. Saking legendarisnya tikungan itu maka setiap ada penumpang yang membawa carier diturunkan disana tanpa ditanya.
Tanjakan wekas menuju basecamp pendakian merbabu adalah ujian pertama peserta pendakian massal. Tak satupun dari mereka yang pernah menginjakkan kakinya di Merbabu sehingga ujian pertama ini sebagai bentuk seleksi alam bagi peserta yang mudah menyerah. 3 peserta menggigil dan beberapa diantaranya muntah-muntah karena masuk angin. Guyuran hujan dan cuaca dingin menjadi penyebabnya.

Setelah mendapatkan perawatan dari rekannya dan istirahat semalaman, semua peserta menyatakan kesiaapannya untuk mendaki merbabu di keesokan harinya. Dewi dan sandra yang dianggap paling lemah diantara yang lainpun menyatakan ingin terus mencoba menginjakkan kaki di puncak merbabu. Semangat pantang  menyerah yang menjadi modal awal sangat membanggakan untuk di  kemudian hari  mendirikan organisasi.
bersambung bag 2

Tuesday, July 8, 2014

Akhir tahun 2010 seperti biasa aku mendapatkan tugas untuk memberi materi diksar tentang ekoturism di Lereng Merapi. Karena mendapatkan jatah pagi hari sekitar jam 5 pagi maka aku berangkat dari jogja tengah malam bersama teman. Lokasi Pendidikan dasar di belakang rumah mbah marijan sang juru kunci merapi, maka aku menyempatkan diri mampir ke rumah beliau, namun malam itu aku tidak ketemu. Lalu aku mampir di warung depan rumah beliau memesan nasi goreng dan wedang gedang minuman khas merapi.

Tak berapa lama aku menuju ke belakang rumah mbah marijan, dijemput temen-temen panitia diksar kapala, ngobrol ngalor ngidul, tentang mbah marijan, tentang masjid yang dibangun di samping rumah mbah marijan, tentang uang hasil iklan ROSA yang konon dipakai untuk membangun masjid dan sebagian digunakan untuk warga kinahrejo, tentang tempat diksar di lembah apakah aman dari lava, lahar dan awan panas, cerita tentang bunker perlindungan yang ternyata menjadi buah simalakama karena tidak bisa menanggulangi ancaman lava sehingga pada letusan sebelumnya ada yang mati di dalam, dan semua tentang hal-hal merapi, mbah marijan dan juga awan panas alias wedhus gembel itu.


Gak kerasa pagi sudah menjelang, aku mengambil kamera dan jalan-jalan diseputar lembah bebeng, dibawah warung-warung yang dulu banyak dibangun sebelum porak-poranda oleh terjangan lava merapi. Aku ambil beberapa gambar, dan tepat jam 5 pagi aku sudah mulai duduk ditengah lingkaran kecil yang dibuat oleh peserta diksar kapala ampta. Hal-hal tentang definisi ekowisata, prinsip dasar ekoturism, kemasan ecoturism, dan juga pemasaran wisata minat khusus menjadi diskusi yang menarik pagi itu.

Teman-teman nampak antusias dengan banyak pertanyaan-pertanyaan tentang merapi, keunikan merapi dan branding merapi. Secara ilmiah awan panas atau wedhus gembel adalah branding yang tidak tertandingi di belahan dunia manapun. Keaktifan merapi, lava merapi yang selalu menyembur menjadi atraksi alam yang sangat menarik untuk di tonton dan dipelajari. Sungguh tidak akan ada habisnya klo kita bicara tentang merapi.

Siang harinya, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah mbah marijan, beliau sedang mengangkat batu agak besar dengan pengungkit. Ketika aku lewat, beliau menyapa sekaligus memintaku untuk membantunya. Tentu dengan senang hati kulakukan permintaan mbah marijan saat itu. Lalu aku duduk di warung dekat rumah beliau, sementara mbah marijan sendiri melanjutkan pekerjaan rumahnya dengan naik pohon belimbing di depan rumah lalu memangkas ranting-rantingnya.

Aku agak kawatir melihat beliau memanjat pohon, kaki dan tangannya sudah agak gemetar, pertanda usianya yang sudah lanjut, Namun Mbah marijan masih berusaha untuk gesit dan tangkas, sehingga menolak bantuanku untuk membantunya, kecuali memegang tangga yang digunakan untuk naik pohon itu.

Itulah terakhir kali aku bertemu dan menyapa beliau, Mbah Marijan Sang Juru Kunci Merapi. Aku tidak peduli orang bilang apa tentang beliau, ada yang bilang ngeyelan, sok berani gak mau turun gunung dan sebagainya. Bagiku mbah marijan adalah sang juru kunci merapi, mengabdi untuk masyarakatnya, rajanya dan juga Tuhannya. Dan beliau akan selalu menjaga titah juru kunci itu sampai titik darah penghabisan, sampai detik terkahir semua warganya mengungsi, beliau akan menjadi orang terakhir untuk mengungsi. Kami bangga atas pengabdian mbah marijan, yang setiap tutur katanya akan ditaati oleh para pendaki yang singgah ke rumahnya. SELAMAT JALAN MBAH MARIJAN, SANG JURU KUNCI MERAPI, KAMI AKAN SELALU BANGGA DAN MENGENANGMU sebagai Manusia biasa yang taat dan setia mengabdi.

Yang selalu kangen merapi
karis

Saturday, May 10, 2014

Pola pembinaan olahraga prestasi yang baik, dilakukan dengan sistem kompetisi berjenjang, berlanjut, dan berkesinambungan. Langkah inilah yang diterapkan Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Sleman sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi panjat tebing di tanah air khususnya di Kabupaten Sleman.

Kompetisi adalah ajang seleksi atlet yang paling fair untuk menjaring bibit atlet berprestasi yang akan diterjunkn ke jenjang yang lebh tinggi. Hal ini terbukti bahwa Sirkuit Panjat Tebing Sleman yang merupakan agenda kompetisi rutin FPTI Sleman, alumninya telah berprestasi di tingkat nasional maupun internasional seperti Bayu dan Wahyu Purnomo (Juara Kejurnas), Fitriyani (medali emas Sea Games) dan sederet prestasi lainnya.
Pengurus FPTI Kabupaten Sleman memandang perlu untuk terus melanjutkan sistem kompetisi yang sudah berjalan dengan baik ini. Oleh karena itu bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sleman yang ke 98, Pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Sleman akan menggelar  Kompetisi Panjat Tebing yaitu : “ SIRKUIT PANJAT TEBING SLEMAN I TAHUN 2014”

Thursday, May 8, 2014

Menjelang tengah malam, hujan disertai angin kencang menerpa kami berdua. Tak ada peralatan lain untuk berlindung kecuali ponco alias jas hujan sehingga aku gunakan untuk membuatkan semacam bivak kecil untuknya agar lebih hangat dan nyaman. Sementara aku hanya duduk sambil berlindung dibawah pohon yang cukup rindang. Peristiwa alam ini membuat semacam perpisahan kecil diantara kami, karena gadis itu sudah terlelap di alam mimpi bersama debur ombak pantai selatan, sementara aku terus duduk dalam derita hujan dan angin kencang. Aku tak bisa terlelap karena menjaganya agar tidak basah kena hujan, sehingga apabila ada angin yang menerpa bivak kecilnya akan segera kuperiksa dan kubetulkan agar tetap hangat dan nyaman untuk tidur.
Aku terlelap menjelang subuh, dan terbangun ketika matahari mulai menyinari tubuh kami. Ternyata gadis itu sudah terjaga, mungkin sudah agak lama, sehingga sudah sempat membuatkan teh anget dengan memasak air menggunakan kompor gas kecil yang selalu kubawa kemana mana. Sepeminuman tek kemudian kamu menyempatkan diri treking ke ladang penduduk, ngobrol dengan ibu dan bapak tani yang sedang menggarap ladang. 
Ketika matahari sudah condong ke barat, kami mengakhiri kebersamaan dan petualangan hari itu di pantai selatan....bergegas pulang dan..........

Selepas isya aku mendapatkan sms....."andaikan tadi malam kamu memintaku apa saja, aku pasti akan memberikannya..."... apa ya artinya? selesai...

Tuesday, May 6, 2014

Perjalanan semalam masih menyisakan pegal - pegal diseluruh tubuh dan rasa kantuk. Hari sudah menjelang senja. Kubangunkan Bunga agar segera bangun dan berbenah, karena sore ini rencananya mengunjungi pantai di selatan Wonosari. Tak berapa lama Bunga sudah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berdandan. Aku sendiri sudah dari siang bebersih diri dan berganti baju, namun Bunga sepertinya tidak biasa bepergian jauh ber jam jam sampai lewat tengah malam, sehingga tubuhnya perlu waktu istirahat yang lebih lama dibanding aku.
Tepat habis magrib kuda besiku melaju pelan menuju arah Wonosari. Ditengah perjalanan baru teringat bahwa seharian ini belum makan, sehingga perut keroncongan. Kami berdua sepakat untuk membeli sate di tepi jalan sambil ngobrol pengalaman kemaren malam di tepi hutan merapi bagian selatan yang menegangkan. Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan menuju pantai selatan, langit tampak gelap dan gerimis mulai datang. Keadaan jalanan sepi. Bunga mulai merapatkan tubuhnya ke tubuhku, tampaknya dia mulai dibayangi rasa takut dalam kegelapan.
Menjelang sampai ke Pantai, Jalan semakin menurun tajam, kondisi gelap gulita dan tidak tampak ada tanda-tanda kehidupan. Yang terdengar hanya debur ombak yang semakin jelas pertanda pantai semakin dekat. Bunga semakin merapatkan tubuhnya sambil berkali kali bertanyan, " Mas.... beneran ini jalan ke pantai? serem banget dan kayaknya buntu". Aku menjawab sekenanya karena berkonsentrasi menyusuri jalan turun berkelok gelap dan licin akibat gerimis yang terus mengiringi perjalanan kami.
Pantai Gadis benar-benar gelap dan tiada orang satupun yang kujumpai, namun ada nyala lampu teplok di sebuah rumah kecil pinggir pantai. Aku bergegas ke sana dan mencoba mengetuk pintu. Seorang kakek membukakan pintu dan mempersilahkan kami berdua masuk ke rumahnya. Tak ada meja, tak ada kursi, hanya tikar pandan sebagai alas duduk kami sekaligus alas tidur kakek tuan rumah. Setelah ngobrol basi basi sejenak, aku mengutarakan maksudku bahwa kami berdua mau nginap di tepi pantai malam ini, dan kami menitipkan motor di rumah simbah. kakek tua itu mengiyakan dan kami pamit keluar untuk mencari tempat yang enak untuk duduk memandangi gelapnya malam ditepi pantai. 
Momen inilah yang menjadi waktu paling bersejarah. Antara nyata dan tidak nyata, dalam kegelapan malam, di iringi hujan yang semakin deras....kami saling berbagi cerita, saling berbagi rasa....(bersambung)

Tuesday, April 29, 2014

Judul diatas sepintas memang nyleneh, tapi mari kita ikuti dulu ulasannya sebagai berikut :
Seorang frontliner dituntut berpakaian rapi, necis, berdasi, sisiran rapi, wangi dan sebagainya karena merupakan ujung tombak di depan dalam pelayanan kepada user, nasabah ataupun pelanggan. Seorang fronliner juga dituntut memahami produk, prosedur-prosedur juga harus pandai komunikasi agar menjadi luwes dan mudah bergaul dan pelanggan.

Disisi lain, ketika ada komplain atau protes dari pelanggan maka frontliner jugalah yang harus menghadapi ditingkatan paling depan, dan lagi-lagi dasarnya adalah pengetahuan mengenai produk dan prosedur-prosedur baku dari institusi atau perusahaan. Seorang frontliner tidak boleh dan tidak punya wewenang untuk mengambil sebuah kebijakan yang pada hakekatnya adalah penyimpangan dari aturan, walaupun tujuannya positif.

Disinilah terkadang kesabaran dan kemampuan kita yang sebenarnya di uji, Ketika Pejabat diajak berdebat dengan pelanggan akan cenderung menggunakan kewenanyannya untuk mengambil kebijakan untuk menyudahi konflik, sedangkan seorang frontliner dituntut mengolah kata-kata sedemikian rupa agar pelanggan mau mengerti dengan aturan baku yang sudah di tetakan perusahaan/institusi.

Pengalaman inilah yang beberapa waktu lalu ku alami. Sebagai seorang Frontliner, aku harus melayani komplain pejabat daerah yang harus antri ketika ambil uang. Namun dia maunya dilayani lebih dahulu, atau malah klo bisa cukup pesan dari rumah dan menyuruh pelayan atau pembantunya untuk mengambil uang yang dibekali slip yang sudah ia tanda tangani. Lalu?.... anda sudah bisa menebak bukan?......... Semoga ada manfaatnya, SELAMAT BERJUANG BAGI PARA Frontliner  YANG MASIH BARU di Institusi apapaun.......pekerjaan apapun asal halal dan niatnya ibadah insya allah diridhoi hasilnya oleh Tuhan. Amien

Foto Kenangan Merbabu STP Ampta Yogyakarta Tahun  2002 Via Jalur Wekas.
Kenangan Pendakian Merbabu bersama UGM, UNY dan USD Yogyakarta 1995

Saturday, April 26, 2014


Pasca sosialisasi olahraga panjat tebing yang dikemas dalam gelaran "Climbing On Sunday Morning" jadwal dipenuhi anak-anak yang ingin berlatih. Bahkan ada yang keluarganya ikut memotivasi kepada anaknya agar bisa memanjat jalur sampai atas dan akan diberikan bonus oleh ibunya. Hal ini sangat menarik dan sesuai dengan tujuan awal dari sosialisasi dimaksud.


2 Atlet andalan sleman terpaksa menjadi belayer dan instruktur anak - anak pada saat jadwal latihan dibanding berlantih manjat karena antusiasme dari anak - anak yang sedemikian besar. Apakah Effect CSM ini akan terus bertahan atau hanya hangat-hangat tahi ayam?

Sunday, April 20, 2014


Gelaran Sosialisasi Panjat Tebing Masuk Desa yang diberi nama " Climbing On Sunday Morning" diikuti oleh 77 Peserta dengan rincian usia sd sebanyak 50 peserta, smp 13 peserta dan sma 14 peserta. Jumlah ini diluar perkiraan panitia yang menargetkan hanya 50 peserta . Hampir sebagian peserta diantarkan oleh orang tua masing - masing mengingat paradigma bahwa olahraga panjat tebing itu ekstrem dan berbahaya, sehingga orang tua merasa perlu untuk mendampingi. Hal ini juga disampaikan oleh orang tua peserta pada saat sosialisasi kegiatan ini dalam rapat rukun warga di dusun klebengan beberapa waktu yang lalu.

Gelaran Climbing On Sunday Morning memang bertujuan untuk merubah paradigma panjat tebing itu ekstrem menjadi olahraga yang aman dan menyenangkan ntuk digeluti sehingga di awal kegiatan, panitia menjelaskan kepada peserta dan penonton yang hadir tentang jenis peralatan dan safety prosedur olahraga panjat tebing yang dilanjutkan demontrasi pemanjatan oleh atlet junior sleman yaitu Seto (12tahun) , Granida (11Tahun) dan Vita (9 Tahun).

Panitia menyediakan 3 jalur pemanjatan untuk setiap kategori SD, SMP dan SMA, namun peserta SD yang ingin mencoba di jalur SMP atau SMA dan sebaliknya diperbolehkan

Dari pengamatan tim pemandu bakat fpti sleman, setidaknya menemukan 2 bibit atlet yang menonjol dibandingkan dari yang lain. Penilaian berdasarkan antusiasme, motivasi, mental terhadap ketinggian serta gerakan dasar. Kedua nama tersebut adalah Sita dan Amal. Dari 2 nama ini ditambah 8 nama lain yang masih akan dirapatkan oleh tim pemandu bakat, akan terus dibina dan dilatih di Fitriyani Climbing Arena.

Melihat antusiasme masyarakat dan partisipasi peserta yang membludak, FPTI Sleman akan mengagendakan acara ini di kesempatan lain untuk mencari bibit - bibit atlet usia dini yang lainnya. Harapannya dari ajang semacam ini akan muncul juara-juara baru sekelas Bayu dan Fitriyani yang telah membawa harum nama Kabupaten Sleman di arena Sea Games maupun Kejurnas Panjat Tebing.

Saturday, April 19, 2014



Dalam rangka melanjutkan sosialisasi olahraga panjat tebing, fpti sleman akan menggelar even "climbing on sunday morning" pada hari minggu, 20 april 2014 di Fitriyani Climbing Arena Komplek GOR Klebengan Sleman. Kegiatan ini khusus diselanggarakan untuk anak - anak usia 7 s.d 18 tahun sebagai kelanjutan program panjat tebing masuk desa dengan tujuan selain untuk sosialisasi juga untuk mencari bakat atlet sejak usia dini. Pemandu bakat akan memantau potensi dari setiap peserta untuk kemudian akan diberi penawaran untuk dilatih secara khusus oleh tim pelatih fpti sleman.



Climbing on sunday dikemas secara fun dengan tagline " panjat tebing aman dan menyenangkan". Berbagai doorprize peralatan sekolah maupun peralatan olahraga alam terbuka disediakan oleh panitia untuk menambah daya tarik agar banyak peserta yang berpartisipasi sehingga akan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat di sekitar klebengan.



Selain memanjat peserta juga dimanjakan dengan "foto narsis". Panitia akan membuat jalur khusus untuk fotografer mengambil gambar dari ketinggian yang disebut "vertical Photography". Hasil gambar akan langsung dicetak ditempat sehingga peserta akan membawa pulang hasil foto diri masing-masing dengan harapan akan dipamerkan ke temannya di sekolah sehingga menimbulkan efek " Word of Mouth" bahwa panjat tebing itu aman dan menyenangkan.



Kegiatan ini selain diselenggarakan oleh panitia dari federasi panjat tebing indonesia kabupaten sleman juga di dukung oleh kelompok pemuda klebengan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekaligus transfer kepengurusan. Saat ini kepengurusan masih didominasi warga pandatang sehingga ke depan, pengurus fpti sleman sudah harus berasal dari masyarakat kabupaten sleman.

Demikian info terkini. Salam panjat!

Wednesday, April 16, 2014

1. Paket Wisata Minat Khusus
Petulangan Seru Panjat Tebing di Tepi Pantai Selatan. 
Cocok untuk : Kelompok Hobi Petulangan, Backpaker, Gathering bersama komunitas dan Outbund Training


Special Weekend At Siung Cliff And Beach

Sport Climbing At Siung Cliff
Sport Climbing dikemas untuk para atlet atau pemanjat tebing alam yang sudah mahir sebagai ajang ujicoba mental ataupun meningkatkan skill, endurance, power dan pemecahan jalur pemanjatan. Tersedia jalur mulai dari grade 5.9 sd 5.12 b.

Fun Climbing At Siung Cliff
Fun Climbing dikemas dalam sebuah aktifitas panjat tebing yang menyenangkan, menumbuhkan motivasi dan keberanian untuk mengambil keputusan dengan jalur yang disesuaikan dan prosedur keselamatan yang memadai. Lokasi di Tebing Siung Yogyakarta dan Pemandu Teknis sangat Berpengalaman.


Informasi selengkapnya dan gallery tebing siung dapat disimak di www.tebingsiung.tk

Tuesday, April 15, 2014

“Jantungku berdebar kencang, jalan di pinggir tebing itu longsor, nyawaku bergantung pada 3 batang bambu yang ditancapkan di tanah labil itu. Perlahan kuberjalan tanpa melongok ke arah dasar jurang sedalam 20 meter di sisi kiri jalan setapak yang kulalui...”

Aku tau tentang Curug benowo dari internet. Cerita-cerita yang menggugah nyali dan foto-foto yang menggairahkan dari pemandangan alam curug benowo menimbulkan minat mudaku untuk mencoba jalur treking dilereng ungaran itu.

Perjalanan dari rumah menyusuri jalan raya naik ke arah Unnes Sekaran, terus melewati beberapa pedesaan di Gunung Pati. Aku sama sekali buta dengan jalur jalan ini, hanya mengandalkan ingatan bahwa pos pemantauan Curug Benowo ada di desa Kalisidi. Ada yang menyebut masih masuk Gunung Pati, namun ada juga yang mengatakan sudah masuk kecamatan ungaran barat. Dengan sedikit tanya sana – sini sampailah aku di Desa Kalisidi. Desa di lereng bukit ungaran yang sejuk, damai dan tenang.

Di Pos Perhutani nampak segerombol orang yang sedang bercengkerama. Nampaknya sudah ada beberapa treker di depanku yang juga ingin merasakan eksotiknya berjalan menyusuri sungai dan hutan menuju curug benowo. Segera kuhampiri pos itu dan ikut berbincang dengan petugas. Ternyata petugasnya bapak bapak yang berasal dari Kulon Progo. Setelah ngobrol sana – sini sebentar karena sama-sama dari Jogja maka aku segera menghampiri kendaraanku dan naik menyusuri jalan desa yang berbatu-batu.

untuk pengendara dari desa sepertiku tidak menjadi masalah, jalan itu masih cukup baik. Namun bagi pengendara yang biasa jalan di kota, tentu akan menjadi kesulitan tersendiri. Setelah kurang lebih 10 menit, tibalah aku di Pos Penjagaan Curug Benowo. Kembali aku sedikit berbincang untuk memastikan bahwa jalan yang ku ambil benar dan sedikit minta petunjuk untuk jalur treking yang akan kulalui.

Bapak penjaga itu bercerita bahwa di depanku sudah banyak yang naik menuju curug, kira-kira ada 20 sd 30 an pengunjung sejak jam 9 pagi. Waktu itu tepat menunjukkan pukul 11.00. Segera aku bergegas ke warung di seberang jalan untuk melengkapi perbekalan. Ternyata hanya ada kopi, teh dan sebotol aqua. Aku memesan teh untuk menghangatkan badan serta 1 botol aqua untuk kubawa jalan. bersambung

Wednesday, February 26, 2014


Bermodal baju flanel kotak - kotak, tas rangsel kuliah dan sepatu kets jogging akhirnya sampai di Puncak Gunung Sundoro. Hamparan bunga eidelweis, pemandangan yang indah, sejuknya udara pegunungan serta kabut yang seringkali menyelimuti tubuh kita di ketinggian tertentu merupakan suasana yang selalu ku inginkan disaat beban pikiran sudah penuh dan butuh refreshing. Tak heran jika setiap ada masalah baik di perkuliahan maupun urusan pekerjaan bahkan keluarga, Gunung selalu menjadi tujuanku untuk menumpahkan segala rasa ini.


Foto diatas adalah saat aku memberikan materi hakekat pecinta alam di lereng selatan merapi tepatnya di belakang almarhum Mbah Marijan. Kenangan ini tak pernah kulupakan karena se ingatkan, pada saat aku mengisi pendidikan dasar pecinta alam ini merupakan pertemuan terakhirku dengan almarhum Mbah Marijan. Sengaja aku datang sore hari untuk mampir ke rumah beliau dan sedikit berbincang sambil minum wedang gedang khas merapi.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata