Thursday, May 7, 2026

Minggu Kelabu : Masih Terasa Genggaman Tanganmu Yang Hangat


Jumat kemaren engkau pamit, masa kerjamu telah habis dan kamu akan kembali ke Kampus untuk menyelesaikan kuliah. Namun hati kita terlanjur begitu dekat, setiap hari aku memandangmu dari jarak dekat, mengajakmu makan siang, membimbingmu dan selalu ngobrol di sela sela kesibukan kerjamu. Banyak momen bersama, banyak cerita yang kita buat dan banyak pula kenangan yang tertinggal di hati.

Sore itu tiba tiba kamu mengirimkan pesan singkat bahwa kamu mau ikutan camping bersama teman2 yang lain. Sangat mendadak tapi aku senang. Kita Janjian jam 8 Malam di Indomaret Pupay sebagai titik kumpul beberapa rombongan yang berjumlah 8 orang. 4 Orang dari semarang dan 4 orang dari Jogja. Sungguh aku tak membayangkan sebelumnya akan peristiwa yang mendekatkan kita ini. 

Pada saat mendirikan tenda dome , kamu begitu terheran heran, sepertinya belum pernah pergi ke alam dengan peralatan gunung, lalu kamu dan teman teman masak air buat kopi untuk teman kita ngobrol sampai tengah malam. Hanya kamu dan 1 orang temanmu yang tidur dalam tenda dome menggunakan sleeping bag, karena yang lain tidur di diluar semua. Asumsinya tentu saja karena kamu pemula sementara yang lain sudah terbiasa dengan dinginnya malam di gunung.

Pagi hari bangun pagi bersama, terlihat kecantikanmu yang alami tanpa make up, kamu duduk di pinggir kolam sambil menikmati bubur panas buatan bersama, sementara kami sibuk mengabadikanmu dari sisi kolam yang lain, kamu begitu anggun, muda dan cantik. 

Selepas makan kita mancing bareng, alangkah senangnya dirimu menikmati keasyikan memancing apalagi saat umpan dimakan dan kamu berhasil menaikan ikan ke darat. Sambil terus memancing aku sangat memperhatikan setiap gerak gerikmu, setiap tingkahmu dan semuanya membuat aku kagum. Sementara teman teman yang lain tenggelam dalam sukacita memancing, aku terus mengamati dan memperhatikanmu dengan tulus. 

Segala aktifitas kita menjadi hal yang baru bagimu, terlihat betapa kamu sangat menikmatinya momen demi momen, waktu demi waktu dan akhirnya sudah sore saatnya kita pulang. Aku mengantarmu sampai ke rumah, aku mengembalikanmu pada budhemu, dan sepertinya diantara kita belum puas ketemu sehingga masih ada yang terasa ada yang kurang. Ada bagian hati yang kosong, sehingga aku memutuskan untuk memberimu hadiah jalan jalan di hari terakhirmu bekerja.

Naik Bianglala


Tuesday, April 28, 2026

Konsep 3 (Tiga) Langkah Penjualan


Konsep 3 langkah penjualan ini sebenarnya sederhana tapi sering jadi pembeda antara konten/penjual yang “dilihat” vs yang “dibeli”. Urutannya penting—kalau loncat, biasanya hasilnya kurang maksimal.

1. Sell Your Self (Jual Dirimu Dulu)

Ini tahap membangun kepercayaan dan kedekatan.

Orang beli bukan cuma karena produk bagus, tapi karena percaya sama yang jual.
Di sini yang kamu “jual” adalah:

  • kepribadian (jujur, relatable, konsisten)
  • pengalaman (misalnya kamu pasien HD yang berbagi real experience)
  • value (edukatif, membantu, bukan sekadar jualan)

👉 Contoh:
Konten kamu soal makanan pasien HD → orang percaya karena kamu ngalamin sendiri, bukan teori doang.

Intinya: “Aku percaya sama kamu.”


2. Sell Your Idea (Jual Gagasan / Cara Pandang)

Setelah orang percaya, kamu mulai “mengarahkan cara pikir mereka”.

Di sini kamu:

  • kasih edukasi
  • ubah mindset
  • bikin orang merasa “oh iya juga ya”

👉 Contoh:

  • “Pasien HD bukan gak boleh makan enak, tapi harus tahu porsinya”
  • “Ngatur cairan itu bukan nyiksa diri, tapi nyelamatin tubuh”

Kamu belum jual produk, tapi menanamkan alasan kenapa sesuatu itu penting.

Intinya: “Masuk akal, aku setuju.”


3. Sell Your Product (Baru Jualan)

Nah, setelah trust + mindset kebentuk, baru masuk ke produk.

Di tahap ini:

  • orang sudah percaya
  • sudah paham kebutuhannya
  • tinggal ditawari solusi

👉 Contoh:

  • affiliate makanan rendah fosfor
  • alat bantu ukur cairan
  • atau rekomendasi produk tertentu

Jadi jualannya terasa:
👉 bukan maksa
👉 tapi seperti solusi yang memang dibutuhkan

Intinya: “Aku butuh ini.”


🔥 Alur Simpelnya

  1. Kenal & percaya kamu
  2. Setuju sama pemikiran kamu
  3. Baru beli dari kamu


⚠️ Kesalahan yang sering terjadi

Langsung ke step 3:

“Ini produk bagus, beli ya!”

Padahal:

  • belum kenal kamu
  • belum percaya
  • belum merasa butuh

Akhirnya… sepi.

Materi ini biasa ku sampaikan buat Pelatihan Sales Marketing Pelaku Desa Wisata di Kota Semarang agar naik kelas

Monday, April 27, 2026

MODUL PELATIHAN DIRECT SELLING UNTUK PENGELOLA DESA WISATA KOTA SEMARANG 2


HANDOUT Sesi 1: Memahami Target Pasar Paket Wisata

Durasi: 60 menit

🎯 Tujuan: Mengidentifikasi dan memahami siapa target utama dari paket wisata desa Anda

📚 A. Pemahaman Dasar

1. Apa Itu Target Pasar?

Target pasar adalah kelompok orang yang paling mungkin membeli dan menikmati produk atau layanan yang Anda tawarkan. Dalam konteks desa wisata, target pasar adalah siapa yang paling mungkin datang dan membeli paket wisata.

2. Segmentasi Pasar Wisata

Silakan beri tanda centang pada segmen pasar yang paling sesuai dengan kondisi desa Anda:

Segmen

Cocok? ()

Alasan (singkat)

Keluarga

Sekolah / Pendidikan

Perusahaan (outing/CSR)

Komunitas (hobi, sosial)

Wisatawan individu

Lainnya (tuliskan):


🧠 B. Diskusi Kelompok

Pertanyaan: Siapa yang paling sering datang ke desa wisata Anda?

Tuliskan berdasarkan pengalaman:

  • Kelompok usia:
  • Tujuan kunjungan:
  • Asal daerah:
  • Lama kunjungan rata-rata:
  • Kesan yang sering diucapkan pengunjung:

👤 C. Membuat Persona Wisatawan

Silakan kelompok Anda membuat 1 contoh persona wisatawan potensial yang cocok untuk paket wisata desa Anda.

Elemen

Isian

Nama Persona

Umur

Pekerjaan

Status (menikah, lajang)

Asal daerah

Motivasi berwisata

Kebutuhan khusus

Hambatan untuk datang

Alasan memilih desa Anda

Tips: Persona ini akan menjadi acuan untuk merancang cara komunikasi dan teknik penawaran Anda.

👤 Contoh Persona Wisatawan

Elemen

Isian

Nama Persona

Bu Tati

Umur

45 tahun

Pekerjaan

Guru Kelas 5 SD di Sekolah Swasta

Status (menikah, lajang)

Menikah

Asal daerah

Kota Bekasi

Motivasi berwisata

Memberikan pengalaman langsung kepada murid tentang proses menanam padi

Kebutuhan khusus

Tempat yang aman untuk anak-anak, toilet bersih, area parkir bus

Hambatan untuk datang

Terbatasnya dana sekolah dan waktu kunjungan yang hanya di akhir pekan

Alasan memilih desa Anda

Tersedia paket edukatif yang lengkap, ramah anak, dan ada pemandu lokal


📌 Catatan:

Persona ini dapat digunakan sebagai acuan saat peserta menyusun strategi komunikasi, penawaran, dan teknik closing pada sesi-sesi selanjutnya. Misalnya, saat menjelaskan manfaat paket: “Ibu guru seperti Bu Tati akan terbantu karena kami menyediakan program edukasi yang sesuai kurikulum dan aman untuk murid.”

MODUL PELATIHAN DIRECT SELLING UNTUK PENGELOLA DESA WISATA KOTA SEMARANG

Judul: Meningkatkan Penjualan Paket Wisata Melalui Direct Selling yang Efektif

Durasi: 5 Jam

Peserta: Pengelola Desa Wisata (Usia 40-50 Tahun)

Tujuan Pelatihan:

  1. Memahami target pasar untuk paket desa wisata.
  2. Menguasai teknik komunikasi yang persuasif.
  3. Menyusun dan menyampaikan penawaran yang menarik.
  4. Menggunakan teknik closing untuk meningkatkan penjualan.


Rundown Materi Pelatihan

Sesi 1: Memahami Target Pasar (60 menit)

Tujuan: Mengidentifikasi dan memahami siapa target utama dari paket wisata desa.

Materi:

  • Definisi target pasar
  • Segmentasi pasar wisata: keluarga, sekolah, perusahaan, komunitas
  • Teknik membuat persona wisatawan
  • Diskusi: Siapa yang paling sering datang ke desa wisata Anda?

Aktivitas:

  • Diskusi kelompok
  • Menyusun profil persona wisatawan

Sesi 2: Teknik Komunikasi Efektif (75 menit)

Tujuan: Mengembangkan kemampuan berbicara yang menarik dan persuasif.

Materi:

  • Komunikasi verbal dan non-verbal
  • Bahasa tubuh yang meyakinkan
  • Teknik mendengarkan aktif
  • Membangun kedekatan dan kepercayaan

Aktivitas:

  • Roleplay menyapa calon pelanggan
  • Simulasi komunikasi efektif

Istirahat (15 menit)


Sesi 3: Menjual Paket Wisata (60 menit)

Tujuan: Menyusun dan menyampaikan penawaran yang menarik.

Materi:

  • Struktur pitch penjualan (Masalah → Solusi → Manfaat)
  • Teknik storytelling dalam penjualan
  • Menjelaskan keunggulan paket wisata
  • Contoh skrip penawaran

Aktivitas:

  • Menulis skrip penawaran
  • Latihan presentasi antar peserta

Sesi 4: Teknik Closing Penjualan (60 menit)

Tujuan: Menyelesaikan proses penjualan secara efektif.

Materi:

  • Tanda-tanda minat dari calon pembeli
  • Teknik closing:
    • Alternatif pilihan
    • Batas waktu
    • Manfaat tambahan
  • Mengatasi keberatan

Aktivitas:

  • Simulasi teknik closing
  • Evaluasi dan umpan balik

Sesi 5: Rencana Tindak Lanjut (60 menit)

Tujuan: Praktik langsung seluruh teknik yang telah dipelajari.

Kegiatan:

  • Menyusun Target Pasar
  • Menyusun Brand Story Untuk Penawaran
  • Membuat Manajemen Waktu Pelaksanaan
  • Evaluasi

Sunday, April 26, 2026

Sejarah Kota Lama Semarang: Jejak Kolonial, Perdagangan, dan Transformasi Kota

Di jantung Semarang, terdapat sebuah kawasan bersejarah yang seolah membawa kita kembali ke masa lampau—Kota Lama Semarang. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang kota Semarang sebagai pusat perdagangan, kolonialisme, hingga transformasi modern.

Ilustrasi Suasana Kotalama Semarang

Artikel ini akan mengulas secara mendalam sejarah Kota Lama Semarang, mulai dari awal berdirinya, masa kejayaan, kemunduran, hingga revitalisasi yang menjadikannya ikon wisata saat ini.

Awal Mula: Dari Pelabuhan Tradisional ke Kota Perdagangan

Sejarah Kota Lama tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Semarang sebagai kota pelabuhan. Pada abad ke-15 hingga ke-16, wilayah ini sudah menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, termasuk Tiongkok, Arab, dan Nusantara.

Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa membuat Semarang berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi. Pelabuhan menjadi titik utama keluar masuk barang, terutama hasil bumi seperti rempah-rempah, gula, dan hasil pertanian lainnya.

Namun, perubahan besar terjadi ketika bangsa Eropa, khususnya Belanda, mulai menguasai wilayah ini melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Masa VOC dan Pembangunan Kota Benteng

Pada abad ke-17, VOC menjadikan Semarang sebagai salah satu pusat administrasi dan perdagangan penting di Jawa. Untuk memperkuat pertahanan, dibangunlah kawasan kota yang dikelilingi benteng, dikenal sebagai “De Vijfhoek” (kota segi lima).

Di dalam benteng inilah cikal bakal Kota Lama terbentuk.

Ciri khas kawasan ini antara lain:

  • Tata kota bergaya Eropa

  • Jalan-jalan teratur

  • Bangunan administrasi dan perdagangan

  • Kanal sebagai jalur transportasi air

Benteng ini memiliki beberapa pintu gerbang dan menara pengawas untuk melindungi dari serangan musuh.

Abad ke-18 hingga ke-19: Masa Keemasan Kota Lama

Memasuki abad ke-18 dan 19, Kota Lama Semarang mencapai puncak kejayaannya. Kawasan ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan bisnis di Hindia Belanda.

Banyak bangunan megah didirikan, seperti:

  • Kantor dagang

  • Bank

  • Gudang

  • Gereja

  • Rumah tinggal orang Eropa

Salah satu bangunan ikonik yang masih berdiri hingga kini adalah Gereja Blenduk, yang dibangun pada tahun 1753 dan menjadi simbol kawasan Kota Lama.

Selain itu, bangunan seperti Gedung Marba juga menunjukkan peran penting kawasan ini dalam aktivitas ekonomi pada masa itu.

Kota Lama bahkan dijuluki sebagai “Little Netherlands” karena arsitektur dan suasananya yang sangat kental dengan nuansa Eropa.

Peran Kanal dan Infrastruktur

Salah satu keunikan Kota Lama adalah keberadaan kanal-kanal yang dibangun untuk:

  • Transportasi barang

  • Pengendalian banjir

  • Sistem drainase kota

Kanal ini menjadi jalur penting bagi distribusi komoditas dari pelabuhan ke gudang-gudang penyimpanan.

Namun, seiring waktu, sistem kanal ini juga menjadi tantangan, terutama ketika terjadi sedimentasi dan banjir.

Masa Kemunduran: Abad ke-20

Memasuki abad ke-20, peran Kota Lama mulai menurun.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Perkembangan kota ke arah selatan

  • Perubahan pusat ekonomi

  • Banjir rob yang sering melanda kawasan

  • Perpindahan aktivitas perdagangan ke wilayah lain

Banyak bangunan mulai ditinggalkan, rusak, bahkan terbengkalai. Kawasan yang dulunya megah berubah menjadi area yang kurang terawat.

Pada masa ini, Kota Lama sempat kehilangan identitasnya sebagai pusat aktivitas kota.

Upaya Pelestarian dan Revitalisasi

Kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan sejarah mulai tumbuh pada akhir abad ke-20.

Pemerintah dan berbagai pihak mulai melakukan:

  • Pendataan bangunan cagar budaya

  • Renovasi dan konservasi

  • Penataan kawasan

Puncaknya, revitalisasi besar-besaran dilakukan pada dekade 2010-an. Kawasan Kota Lama Semarang ditata ulang menjadi destinasi wisata heritage yang nyaman dan menarik.

Perbaikan yang dilakukan meliputi:

  • Perbaikan jalan dan pedestrian

  • Penataan drainase

  • Pemasangan lampu estetis

  • Restorasi bangunan tua

Kota Lama Saat Ini: Destinasi Wisata Heritage

Kini, Kota Lama telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Semarang.

Daya tarik utamanya meliputi:

  • Arsitektur klasik Eropa

  • Spot foto Instagramable

  • Kafe dan restoran unik

  • Event budaya dan seni

Kawasan ini sering digunakan untuk:

  • Prewedding

  • Festival

  • Pameran seni

  • Konten kreatif

Suasana malam hari yang romantis dengan lampu temaram menjadikan Kota Lama semakin hidup dan menarik bagi wisatawan.

Nilai Sejarah dan Budaya

Kota Lama bukan hanya tentang bangunan tua, tetapi juga:

  • Identitas sejarah kota Semarang

  • Warisan kolonial yang membentuk tata kota

  • Bukti interaksi budaya antara Eropa dan Nusantara

Melalui pelestarian kawasan ini, generasi muda dapat belajar tentang:

  • Sejarah perdagangan

  • Arsitektur kolonial

  • Perkembangan kota di Indonesia

Tantangan ke Depan

Meskipun telah direvitalisasi, Kota Lama masih menghadapi beberapa tantangan:

  • Banjir rob

  • Perawatan bangunan tua

  • Keseimbangan antara wisata dan konservasi

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini.

Penutup

Kota Lama Semarang adalah bukti nyata bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.

Dari pusat perdagangan kolonial hingga menjadi destinasi wisata modern, perjalanan panjang Kota Lama mencerminkan dinamika waktu, perubahan, dan upaya pelestarian yang luar biasa.

Bagi siapa pun yang mengunjungi Semarang, Kota Lama bukan hanya tempat untuk berfoto—tetapi juga ruang untuk memahami sejarah, merasakan atmosfer masa lalu, dan menghargai warisan budaya yang tak ternilai. ✨


Saturday, April 25, 2026

Beginner’s Guide to Hiking Mount Ungaran: Routes & Essential Techniques

Rising gracefully in Central Java, Mount Ungaran is a favorite for first-time hikers thanks to its moderate trails, lush forests, and rewarding summit views. If you’re new to hiking, this guide will walk you through the best routes and practical techniques to help you reach the top safely and enjoyably.

Gunung Ungaran

Why Choose Mount Ungaran for Your First Hike?

Located near Semarang, Mount Ungaran offers:

  • Manageable elevation (around 2,050 mdpl)
  • Multiple trail options
  • Scenic tea plantations, pine forests, and open savannas
  • Clear paths compared to more technical mountains

Main Hiking Routes on Mount Ungaran

1. Basecamp Mawar (Bandungan) – Most Recommended for Beginners

📍 Access via Bandungan

Highlights:

Marba Building in Semarang Old Town: A Striking Red Heritage Landmark

Located in the heart of Kota Lama Semarang, the iconic Gedung Marba stands out with its bold red façade and classic European architecture. This historic building is one of the most recognizable landmarks in Semarang, attracting visitors with its timeless charm and rich history.

Ilustrasi Gedung Marba

A Glimpse into History

The name “Marba” is derived from its original owner, a wealthy merchant named Marta Badjunet, who played a significant role in trade during the late 19th century.

Built around the 1890s, the Marba Building once functioned as:

  • A trading office
  • A warehouse for import-export goods

Tuesday, March 24, 2026

Vision, Mission, and Work Programs of Sibarista (Collaborative Tourism Marketing Learning)

 Vision of Sibarista

To empower tourism stakeholders to independently target the tourism industry market while creatively enhancing the promotion and sales of travel packages.

Mission

  1. Community Empowerment
    To serve as a collaborative learning platform for managers of tourist villages, hotels, restaurants, and tour guides.
  2. Marketing Capacity Building
    To equip participants with digital marketing skills, effective social media strategies, and creative content production techniques.

Old Town Semarang: Central Java’s Must-Visit Heritage Destination


In Indonesia’s vibrant tourism scene, Kota Lama Semarang (Semarang Old Town) has firmly established itself as the must-visit destination in Central Java. With its rich heritage, iconic architecture, and lively cultural atmosphere, Kota Lama is now one of the city’s most celebrated assets—drawing visitors from across the nation and beyond.

A Living Heritage

Kota Lama preserves a remarkable collection of Dutch colonial-era buildings, reflecting Semarang’s transformation from a fortified settlement into a thriving port city. Its streets offer a blend of architectural styles and cultural influences, making it both a visually compelling and educational experience. Visitors don’t just explore history—they live it.

When Celebration Meets Responsibility: Protecting Semarang’s Old Town During Eid Holidays

Illustration of the parking sign before and after repair

The Eid holiday season is always a special moment in Indonesia. Families gather, streets come alive, and popular destinations are filled with laughter and excitement. One of the places that consistently attracts visitors during this time is the historic Kota Lama Semarang, known for its charming colonial architecture and vibrant atmosphere. However, amidst the festive crowds this year, two unfortunate incidents have raised concerns about the importance of preserving public spaces.

Wednesday, March 4, 2026

Visi Misi Program Kerja Sibarista ( Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata)

Visi Sibarista: Menciptakan kemandirian pelaku pariwisata dalam membidik pasar industri pariwisata serta meningkatkan kualitas promosi dan penjualan paket wisata secara kreati

Misi : 

1. Pemberdayaan Komunitas: Menjadi wadah belajar bersama bagi pengelola desa wisata, hotel, restoran, dan pemandu wisata.

2. Peningkatan Kemampuan Pemasaran: Membekali peserta dengan teknik pemasaran digital, penggunaan media sosial, dan pembuatan konten kreatif.

3. Adol Paketan (Jualan Paket): Mendorong kolaborasi antar pelaku wisata untuk menjual paket wisata terintegrasi, yang terbukti meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Kota Semarang.

4. Peningkatan Kualitas Layanan: Memastikan produk wisata yang dijual memiliki standar layanan yang baik dan mampu bersaing. 


Program Kerja Sibarista 

1. Sibarista Marketer Award 

Ini merupakan program unggulan tahunan yang berfungsi sebagai ajang kompetisi sekaligus ruang tumbuh bagi para pemasar di sektor pariwisata.

Peserta: Melibatkan pelaku usaha dari sektor hotel, restoran, kafe, desa wisata, destinasi daya tarik wisata (DTW), hingga sektor hiburan 

Tahapan: Mencakup tes tertulis, wawancara, hingga pembekalan intensif bagi para finalis 

Tujuan: Melatih kemandirian peserta dalam membidik pasar industri pariwisata secara efektif 

2. Marketing Skill Up

Program pelatihan teknis yang rutin diadakan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran para anggota komunitas dan pelaku wisata lokal.

Edisi Khusus: Contohnya adalah pelatihan khusus untuk pengembangan desa wisata, seperti upaya mencetak "10 Kandri Baru"  untuk mendongkrak kunjungan lokal 

Materi: Fokus pada teknik digital marketing, pembuatan konten kreatif, dan strategi penjualan paket wisata 

3. Inovasi "Adol Paketan Sibarista"

Sebuah inisiatif kolaboratif untuk menciptakan dan memasarkan paket-paket wisata terintegrasi di Kota Semarang.

Kurasi Paket: Anggota komunitas bekerja sama melakukan kurasi terhadap destinasi potensial untuk dibundel menjadi paket perjalanan yang menarik bagi wisatawan nusantara .

Dampak: Program ini dilaporkan memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan angka kunjungan wisatawan ke Kota Semarang

4. Pendampingan & Monitoring (Evaluasi)

Kegiatan rutin berupa rapat koordinasi dan evaluasi untuk memastikan program kerja berjalan sesuai target.

Koordinasi: Melibatkan Disbudpar sebagai fasilitator dan komunitas Sibarista sebagai mitra pendamping bagi pelaku wisata yang baru merintis


Inovasi Desa Wisata : Adol Paketan Sibarista

 

Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang Melalui Pemberdayaan Komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata” ADOL PAKETAN SIBARISTA


Latar Belakang

Kota Semarang telah menjadi Kota Tujuan Wisata menempati peringkat pertama di Jawa Tengah dengan angka kunjungan wisatawan mencapai 5,3 Juta pada tahun 2022 dan 6,4 Juta pada tahun 2023. Kondisi ini belum terasa dampaknya bagi masyarakat pengelola desa wisata (deswita) dan rintisan wisata (rista) di Kota Semarang. Data statistik tahun 2022 menunjukkan kontribusi angka kunjungan wisatawan Nusantara rista dan deswita  0,69?n untuk wisatawan mancanegara 0,24% terhadap total Wisatawan Kota Semarang.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya atraksi dan produk wisata, kurangnya kemampuan membuat dan menjual produk wisata dan belum optimalnya kegiatan penjualan paket wisata oleh pengelola deswita dan rista sehingga diperlukan langkah konkret untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kepala Dinas telah menginisiasi pemecahan masalah ini dengan membentuk Tim Inovasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang melalui Surat Keputusan No. B/823/1763/VI/2022.

Ada 10 rista dan deswita yang menjadi target sasaran untuk di intervensi meliputi  Desa Wisata Kandri, Omah Ampiran Wonolopo, Desa Wisata Jamalsari, Wisata Taman Setambran, Wisata Dung Tungkul, Desa Wisata Nongkosawit, Kampung Pilah Sampah Tinjomoyo, Kampung Jambu Kristal, Kampung Batik, Kampung Pelangi dengan membuat inovasi berupa gerakan sosial “ Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang Melalui Pemberdayaan Komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata” atau di singkat ADOL PAKETAN SIBARISTA

Adol Paketan Sibarista memberi dampak kontribusi yang significant terhadap angka kunjungan wisatawan Kota Semarang tahun 2023. Kontribusi angka kunjungan wisatawan Nusantara naik menjadi 3?n wisatawan mancanegara naik menjadi 9,3% terhadap total wisatawan Kota Semarang, dengan pendapatan melalui penjualan paket wisata mencapai total 2.923.033.000

Adol Paketan Sibarista merupakan bukti nyata kemampuan pemerintah untuk membuat Gerakan yang partisipatif, sistematis dan berkelanjutan  dalam memberdayakan masyarakat dan memanfaatkan platform Media Digital untuk meningkatkan dampak ekonomi sektor pariwisata terhadap masyarakat lokal pengelola deswita dan rista di Kota Semarang.

Data statistik wisatawan tahun 2022 menunjukkan dari 5,3 juta wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang, 77% diantara berkunjung ke 5 Daya Tarik Unggulan yang dikelola Pemerintah dan Swasta, 22,4 % berkunjung ke beberapa daya tarik wisata lainnya yang dikelola perorangan dan swasta serta 0,6% tersisa mengunjungi rintisan daya tarik wisata dan desa wisata yang dikelola masyarakat lokal untuk meningkatkan dampak ekonomi sektor pariwisata bagi Masyarakat lokal.

Berkaca dari data-data diatas, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang membangun inovasi berupa Gerakan Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang melalui komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata  disingkat “Adol Paketan Sibarista” dengan target  sasaran pengelola deswita dan rista yang di Kelola Masyarakat.

Gagasan ini berasal dari pengamatan terhadap program pemerintah Kota Semarang sebelumnya yaitu Ayo Wisata Ke Semarang yang sangat berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan Kota Semarang. Dari pertimbangan diatas maka inovasi ini memilih aksi gerakan sosial sekaligus untuk memastikan bahwa kegiatan ini walaupun di inisiasi dan difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, namun aksi – aksi yang dilaksanakan merupakan Gerakan dari, oleh dan untuk Masyarakat termasuk melibatkan CSR dan swadaya Masyarakat dalam pembiayaannya. Pembangunan kepariwisataan khususnya melalui promosi, pemasaran dan penjualan produk wisata. Gerakan ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sebagai fasilitator, namun seluruh program kegiatan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dalam komunitas sibarista.

Tujuan

Inovasi Adol Paketan Sibarista adalah sebuah Gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan dampak ekonomi lokal masyarakat pelaku wisata sehingga masyarakat bukan hanya sebagai penonton saja namun juga berpartisipasi aktif dalam Pembangunan kepariwisataan khususnya melalui promosi, pemasaran dan penjualan produk wisata. Gerakan ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sebagai fasilitator, namun seluruh program kegiatan berasal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dalam komunitas sibarista.

Manfaat

Tumbuhnya motivasi dan partisipasi masyarakat, berkembangnya kompetensi tata Kelola pemasaran dan penjualan serta meningkatnya transaksi penjualan paket wisata dan masyarakat merasa diapresiasi atas capaian dalam membangun pariwisata di wilayahnya.

Wednesday, February 25, 2026

Desa Wisata Kampung Jajan Pasar Bangetayu Kulon

Kampung Jajan Pasar Bangetayu Kulon yang berlokasi di Bugen Utara RW 03, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kota Semarang, merupakan destinasi wisata yang menawarkan pengalaman unik dan berkesan. Di tempat ini, pengunjung dapat memilih beragam paket edukasi dan wisata menarik, mulai dari belajar kuliner tradisional, membuat tas sekolah, hingga wisata religi yang sarat makna.

Berikut beberapa pilihan paket yang dapat dinikmati:

1. Paket Edukasi Kuliner

Paket ini sangat cocok bagi para pecinta kuliner tradisional. Dalam durasi 3 jam, pengunjung akan disambut hangat dengan sajian snack serta pertunjukan tarian tradisional. Selanjutnya, peserta diajak belajar membuat Syrup Jahe dan Wedang Telang yang menyegarkan.

Tidak hanya itu, peserta juga dapat mengikuti kelas memasak untuk membuat hidangan tradisional seperti Nasi Merah, Manyung Gembus, dan Es Putu Mayang. Paket ini sudah termasuk makan siang serta kunjungan ke pusat pembuatan tas.

Harga paket ini adalah Rp70.000 per orang dengan minimal 20 peserta.

2. Paket Pembuatan Tas Sekolah

Bagi yang menyukai aktivitas kreatif, paket ini menjadi pilihan yang tepat. Dengan durasi 2 jam, pengunjung akan mendapatkan sambutan meriah sebelum diajak mengunjungi UMKM Syrup Jahe dan UMKM Tas.

Di sana, peserta akan memperoleh edukasi mengenai proses produksi serta kesempatan untuk mencoba langsung membuat tas sekolah.

Paket ini ditawarkan dengan harga Rp70.000 per orang dengan minimal 15 peserta.

3. Paket Musholla Ka’bah

Untuk pengunjung yang menginginkan pengalaman spiritual, tersedia Paket Musholla Ka’bah. Dalam waktu 3 jam, peserta akan diajak berziarah ke Musholla Ka’bah sekaligus mengikuti kegiatan edukatif.

Pengunjung dapat belajar membuat souvenir berupa gantungan kunci rajut, serta mengikuti kelas memasak jajanan pasar seperti Klepon dan Putu Mayang. Paket ini sudah termasuk makan siang.

Harga paket ini adalah Rp80.000 per orang dengan minimal 20 peserta.


Segera rencanakan kunjungan Anda ke Desa Wisata Kampung Jajan Pasar Bangetayu Kulon dan rasakan langsung pengalaman wisata yang edukatif, kreatif, serta penuh nilai kebersamaan.

Omah Pang: Ruang Bermain dan Belajar di Pelukan Alam Deswita Nongkosawit


Di Desa Wisata Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, terdapat sebuah ruang sederhana yang menyimpan makna besar: Omah Pang. Berlokasi di RT 2 RW 1, tepat di sebelah utara Kantor Kelurahan Nongkosawit, tempat ini menjadi salah satu spot unggulan yang memikat hati para pengunjung.

Omah Pang bukan sekadar bangunan kayu. Ia dihadirkan sebagai ruang tumbuh bagi anak-anak—tempat mereka belajar melestarikan seni dan budaya, sekaligus berinteraksi sosial secara langsung. Di tengah derasnya arus digital, Omah Pang menjadi ruang alternatif agar anak-anak tidak larut dalam ketergantungan gadget, melainkan kembali akrab dengan permainan tradisional dan kebersamaan.

Proses pembangunannya memakan waktu sekitar empat bulan, sejak Januari hingga April 2019. Pang—atau ranting—yang digunakan berasal dari kayu jati, memberikan kesan kokoh sekaligus alami pada bangunannya.

Berkunjung ke Omah Pang serasa melangkah mundur ke masa lalu. Bangunan kayu berdiri teduh di bawah rindangnya pepohonan. Halaman rumahnya masih berselimut tanah liat, menghadirkan suasana yang hangat, membumi, dan penuh nostalgia.

Di area ini, anak-anak bebas bermain egrang, dakon, blarak sempal, serta berbagai permainan tradisional lainnya. Tawa mereka menyatu dengan semilir angin desa. Menariknya, Omah Pang terbuka untuk semua kalangan dan dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya.

Tak hanya Omah Pang, Desa Wisata Nongkosawit juga menawarkan beragam pesona lain. Pengunjung dapat mencoba sensasi river tubing di Kali Jedung, menikmati keindahan Curug Mahtukung, menyusuri sawah terasering yang hijau membentang, bermain tubruk ikan, hingga merasakan pengalaman wisata tanam padi yang sarat makna.

Nongkosawit bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman—tentang kembali pada alam, tradisi, dan kebersamaan yang sederhana namun berharga.

Merbabu: Malam yang Hampir Membekukan Kita


Sore itu Merbabu terlihat jinak.

Langit bersih. Sabana luas. Bahkan angin terasa seperti tepukan ramah di bahu.

Kita salah membaca tanda.

Kabut turun terlalu cepat setelah Maghrib. Jalur menghilang seperti ditelan sesuatu yang tak terlihat. Headlamp cuma memantulkan putih. Tidak ada kontur. Tidak ada arah.

“Kita lanjut atau turun?” tanyamu.

Aku terlalu lama diam.

Itu kesalahan pertamaku.

Angin berubah kasar. Suhunya jatuh drastis. Tangan mulai kaku bahkan di dalam sarung tangan. Nafas berubah pendek dan berat.

Kita memutuskan cari tempat untuk buka bivak darurat.

Tapi sabana Merbabu tidak menyediakan banyak perlindungan. Hanya cekungan dangkal dan rumput yang merunduk kalah oleh angin.

Saat itu aku mulai sadar: ini bukan lagi soal summit.

Ini soal bertahan hidup.

Bibirmu mulai membiru.

Awalnya kamu masih bercanda, “Mas, dingin banget ya…”

Lalu suaramu melambat.

Kamu mulai diam.

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada keluhan.

Aku suruh kamu terus bicara. Apa saja. Cerita apa saja. Marah pun tidak apa-apa. Asal jangan diam.

Karena aku tahu tanda-tandanya.

Hipotermia tidak datang dengan teriakan.

Ia datang pelan. Menipu. Membuat korban merasa hangat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Tanganmu gemetar hebat.

Lalu tiba-tiba…

Berhenti gemetar.

Jantungku seperti jatuh ke dasar jurang.

“Hey. Hey. Lihat aku.”

Matamu setengah terbuka. Fokusmu kabur.

Aku paksa kamu pakai jaket tambahan. Semua layer kupindahkan ke tubuhmu. Aku gelar emergency blanket yang berbunyi berisik diterpa angin. Kita duduk saling membelakangi, berbagi panas tubuh, di tengah sabana yang seperti tidak peduli.

Angin Merbabu malam itu bukan lagi angin.

Itu seperti makhluk hidup yang mencoba menguji batas kita.

Aku mulai menggigil juga.

Tapi aku tidak boleh terlihat lemah.

“Denger ya… kita cuma lewat malam ini. Besok kita turun. Kamu jangan tidur.”

Kamu tersenyum tipis.

“Kalau aku tidur, bangunin ya…”

Kalimat itu hampir menghancurkanku.

Aku tepuk pipimu pelan. Aku ajak kamu hitung mundur. Aku paksa kamu marah padaku. Apa saja supaya otakmu tetap sadar.

Waktu berjalan lambat sekali.

Satu jam terasa seperti satu musim.

Headlamp mulai redup. Baterai dingin lebih cepat mati. Kabut tidak bergerak. Dunia seperti berhenti di radius lima meter.

Dan untuk pertama kalinya dalam pendakianku…

Aku benar-benar takut kehilangan seseorang di gunung.

Bukan karena longsor.

Bukan karena jatuh.

Tapi karena dingin yang tak terlihat.

Sekitar pukul tiga pagi, gemetarmu kembali.

Itu pertanda baik.

Aku hampir menangis karena lega.

“Mas… aku lapar…”

Suaramu masih lemah, tapi hidup.

Aku tertawa kecil di tengah rasa panik yang belum hilang. Kuberi kamu cokelat yang sudah keras seperti batu. Kamu menggigitnya pelan.

Dan saat garis oranye pertama muncul di timur…

Kabut mulai naik.

Sabana kembali punya bentuk.

Kita masih di situ.

Masih hidup.

Aku tidak pernah merasa matahari seindah pagi itu.

Bukan karena warnanya.

Tapi karena artinya.

Kita turun tanpa bicara banyak. Tenaga habis. Ego hancur. Tapi ada sesuatu yang berubah.

Merbabu tidak memberi kita puncak hari itu.

Ia memberi kita pelajaran yang jauh lebih mahal:

Cinta itu bukan tentang berdiri gagah di Kenteng Songo sambil berteriak “summit!”

Cinta itu tentang siapa yang tetap terjaga… saat yang lain hampir tertidur untuk selamanya.

Dan sejak malam itu, setiap kali angin bertiup kencang di gunung mana pun…

Aku selalu ingat:

Kita pernah hampir membeku.

Dan kita memilih untuk bertahan.

Merbabu dan Detak yang Hampir Putus

Merbabu tidak pernah benar-benar ramah.

Orang-orang bilang ia cantik. Sabana luas. Langit bersih. Sunrise yang memeluk mata.

Tapi mereka lupa bilang—anginnya bisa berubah jadi ancaman dalam hitungan menit.

Kami mulai dari jalur Suwanting sore itu. Langit terlalu biru untuk dicurigai. Bahkan burung-burung terdengar seperti sedang menyemangati langkah kami.

“Kita kejar summit besok pagi,” katamu yakin.

Aku mengangguk. Terlalu percaya diri, mungkin.

Tanjakan pertama masih terasa seperti pemanasan. Nafas memang berat, tapi tawa masih bisa pecah. Sampai akhirnya hutan mulai menutup rapat, cahaya makin tipis, dan jalur berubah jadi akar-akar licin yang seperti sengaja ingin menjegal.

Detak jantungku mulai tak beraturan.

Bukan karena capek.

Karena kabut datang terlalu cepat.

Tiba-tiba.

Tanpa aba-aba.

Dalam hitungan menit, jarak pandang tak sampai lima meter. Angin berubah nada—dari sekadar sepoi jadi teriakan panjang yang menampar pipi.

“Mas… ini normal nggak sih?” suaramu terdengar lebih kecil dari biasanya.

Aku ingin bilang normal.

Tapi di Merbabu, kata normal itu relatif.

Kami terus naik. Salah.

Harusnya kami berhenti. Evaluasi. Tapi ego lebih keras dari logika.

Dan di situlah adrenalinku benar-benar diuji.

Sabana yang katanya indah berubah jadi lautan putih tak bertepi. Jalur menghilang. Penanda tak terlihat. Setiap langkah seperti berjalan di ruang kosong.

Angin menghantam dari samping. Tubuhmu sempat oleng.

Refleks, aku tarik tanganmu.

Jantungku seperti dihantam dari dalam.

“Pegangan jangan lepas!” teriakku, setengah panik.

Kita tertawa waktu briefing soal hipotermia.

Ternyata saat itu bukan bahan candaan.

Suhu turun drastis. Bibirmu mulai pucat. Nafasmu terdengar pendek-pendek. Aku bisa melihat ketakutan di matamu—ketakutan yang tidak kamu ucapkan.

Dan jujur saja…

Aku juga takut.

Bukan takut mati.

Tapi takut gagal menjagamu.

Kami memutuskan turun sedikit mencari cekungan untuk berlindung. Tapi kabut membuat arah jadi teka-teki. Kompas di tangan terasa seperti benda paling berharga di dunia.

Langkahku makin cepat. Salah lagi.

Kamu terpeleset.

Waktu seperti melambat.

Tubuhmu meluncur setengah meter sebelum terhenti semak rendah. Tapi cukup untuk membuat darahku berhenti mengalir sesaat.

Aku berlari, memelukmu, memastikan kamu sadar.

“Kamu nggak apa-apa? Jawab aku!”

Kamu mengangguk, tapi air matamu keluar.

Bukan karena sakit.

Karena shock.

Dan di tengah angin yang meraung seperti binatang liar, aku sadar sesuatu:

Gunung tidak peduli seberapa romantis cerita kita.

Gunung hanya menghormati mereka yang rendah hati.

Kami akhirnya menemukan rombongan lain samar-samar di balik kabut. Suara mereka seperti suara paling indah yang pernah kudengar. Kami bergabung. Membuat formasi. Bergerak perlahan. Rasional.

Adrenalin belum turun.

Setiap hembusan angin seperti alarm.

Setiap langkah seperti keputusan hidup dan mati.

Dan ketika akhirnya kabut mulai menipis…

Ketika sabana kembali terlihat…

Ketika puncak Kenteng Songo berdiri di depan mata…

Aku tidak merasa menang.

Aku merasa diampuni.

Kami sampai puncak bukan dengan teriakan.

Tapi dengan diam panjang.

Nafas masih gemetar.

Tanganmu masih dingin di genggamanku.

“Kita hampir aja ya…” bisikmu.

Aku mengangguk.

Merbabu hari itu mengajarkan satu hal yang lebih keras dari tanjakan mana pun:

Cinta itu bukan tentang foto di puncak.

Bukan tentang siapa paling kuat.

Tapi tentang siapa yang tetap memilih bertahan… saat rasa takut lebih besar dari rasa bangga.

Angin masih kencang.

Tapi kali ini, detak jantungku kembali utuh.

Dan Merbabu, dengan segala liarnya, menjadi saksi bahwa kami pernah diuji… dan tidak menyerah.

Tears Above the Clouds

Di Antara Kabut dan Namamu

Hujan turun rintik-rintik ketika kami tiba di Pos 2. Jam di tanganku menunjuk pukul 14.17, tapi langit sudah seperti menjelang senja. Kabut menggantung rendah, menyapu pucuk-pucuk cemara gunung yang berdiri diam seperti saksi bisu perjalanan kami.

Tenda dome biru yang kami dirikan sedikit miring karena tanahnya lembek. Kau tertawa kecil melihatku berkali-kali membenarkan pasak.

“Mas, dari tadi dipukul terus, kasihan tanahnya,” katamu sambil menyerahkan palu.

Aku hanya tersenyum. Dalam dingin setinggi ini, suaramu terasa lebih hangat dari kompor portable yang menyala di sudut tenda.

Malam turun perlahan.

Hujan berubah deras. Butir-butir air menghantam flysheet tenda dengan ritme yang aneh, seperti detak jantung yang dipercepat. Pendaki lain terdiam di dome masing-masing. Sesekali terdengar tawa kecil dari kelompok sebelah, tapi selebihnya hanya suara hujan dan angin.

Kau duduk di depanku, membungkus tubuh dengan jaket tebal warna krem. Wajahmu memerah oleh dingin, atau mungkin oleh sesuatu yang lain.

“Mas, kalau nanti sampai puncak… kamu janji nggak bakal ninggalin aku?” tanyamu tiba-tiba.

Pertanyaan itu jatuh begitu saja, lebih berat dari carrier 60 liter yang kupanggul sejak bawah.

Aku terdiam.

Di gunung seperti ini, orang sering jujur tanpa sadar. Mungkin karena sadar, hidup memang sesederhana satu langkah ke langkah berikutnya.

“Kita sampai bareng, ya turun juga bareng,” jawabku pelan.

Kau tersenyum. Senyum yang entah kenapa membuat kabut di luar terasa makin tebal.

Tengah malam kami bangun untuk summit attack. Udara menggigit sampai ke tulang. Senter-senter kepala menyala membentuk barisan cahaya kecil menembus gelap. Nafasmu terdengar berat, tapi kau tak pernah mengeluh.

Di tanjakan terakhir sebelum puncak, langkahmu melambat.

“Capek?” tanyaku.

Kau menggeleng, tapi tanganmu mencari tanganku.

Aku menggenggamnya. Dingin. Sangat dingin. Tapi genggaman itu seperti janji yang tak perlu diucapkan keras-keras.

Langit mulai memucat ketika kami tiba di puncak. Angin bertiup kencang, hampir menjatuhkan topiku. Lautan awan terhampar luas di bawah sana, seperti kapas raksasa yang tak berujung.

Tak ada kata-kata beberapa saat.

Kau berdiri di sampingku. Rambutmu berantakan diterpa angin. Matamu berkaca-kaca.

“Akhirnya…” bisikmu.

Aku tak tahu apakah itu tentang puncak ini… atau tentang kita.

Tanpa sadar kau memelukku. Pelukan yang hangat di tengah suhu yang hampir beku. Jantungku berdetak lebih keras dari suara angin yang mengaum.

Tak ada ciuman berlebihan. Tak ada drama. Hanya dua manusia yang berdiri di titik tertinggi, mencoba memahami arti kebersamaan.

Di puncak itu, aku sadar sesuatu.

Gunung selalu mengajarkan tentang jarak dan waktu. Tentang sabar menapaki. Tentang kuat menahan lelah. Dan tentang tidak meninggalkan, meski jalan terjal.

Kita turun menjelang siang. Matahari mulai tinggi. Kabut menghilang sedikit demi sedikit.

Tapi entah kenapa, justru di perjalanan turun itulah hatiku terasa lebih berat.

Karena aku tahu, puncak selalu indah… tapi tidak pernah untuk ditinggali terlalu lama.

Dan mungkin, cinta juga begitu.

Ia tumbuh di antara langkah, di sela dingin dan lelah. Namun yang membuatnya berarti bukan puncaknya, melainkan perjalanan yang ditempuh bersama.

Di antara kabut dan namamu, aku belajar satu hal:

Sampai atau tidak sampai, yang penting bukan ketinggiannya.

Tapi siapa yang tetap berjalan di samping kita.