Thursday, June 25, 2026

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Kalau ada satu malam yang ingin saya ulang dalam hidup ini, mungkin malam itu.
Bukan karena saya ingin mengubah takdir.
Tetapi karena malam itulah saya pertama kali menerima tanda bahwa ginjal saya sedang kehilangan fungsinya.
Sayangnya, saat itu saya belum mampu membacanya.


Malam itu saya tidur lebih cepat dari biasanya.

Besok paginya saya harus menggelar Table Top SIBARISTA di Hotel Grandhika Semarang. Semua persiapan sudah selesai. Saya ingin tidur nyenyak agar besok bisa fokus memimpin acara.

Namun di tengah malam saya tiba-tiba terbangun.

Rasanya ada yang aneh.

Celana dan sprei saya basah.

Awalnya saya mengira hanya ketumpahan sesuatu atau mungkin saya berkeringat terlalu banyak.

Tetapi setelah saya periksa, ternyata bukan.

Cairan itu keluar dari dubur.

Anehnya, cairannya bening, agak lengket, tetapi sama sekali tidak berbau seperti feses.

Saya belum pernah mengalami kejadian seperti itu.

Jujur saja, malam itu saya mulai panik.

Saya langsung membangunkan istri.

"Mbak... ayo ke rumah sakit."

Tanpa banyak bertanya, istri segera bersiap menemani saya ke IGD.

Saya sama sekali tidak menyangka, keputusan berangkat ke rumah sakit pada tengah malam itulah yang akhirnya membuka kenyataan tentang kondisi ginjal saya.

Di IGD dokter melakukan berbagai pemeriksaan.

Salah satunya pemeriksaan darah.

Dari situlah saya pertama kali mengetahui bahwa kadar kreatinin saya sudah berada di atas normal.

Saat itu saya belum benar-benar memahami arti angka kreatinin.

Saya hanya tahu, dokter mengatakan fungsi ginjal saya mulai menurun dan harus terus dipantau.

Sejak saat itu saya mulai rutin kontrol.

Setiap kali hasil laboratorium keluar, angkanya bukannya turun, tetapi pelan-pelan terus naik.

Sampai akhirnya pada Februari 2024 kreatinin saya mencapai 3,75 mg/dL.

Saya mulai khawatir.

Namun sebulan kemudian saya berangkat umrah.

Perjalanan itu memberi ketenangan yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata.

Sepulang dari Tanah Suci saya kembali kontrol.

Hasilnya membuat saya benar-benar bahagia.

Kreatinin saya turun menjadi 2,75 mg/dL.

Saya ingat sekali perasaan waktu itu.

Saya pulang dengan senyum yang tidak berhenti.

Dalam hati saya berkata, "Alhamdulillah... mungkin Allah sedang menyembuhkan saya."

Saat itu saya benar-benar percaya kondisi ginjal saya sedang membaik.

Sayangnya, saya terlalu cepat merasa aman.

Saya belum mampu mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Seharusnya penurunan kreatinin itu menjadi pengingat agar saya lebih disiplin menjaga pola hidup, pola makan, dan kesehatan.

Tetapi saya justru merasa semuanya sudah berlalu.

Beberapa bulan kemudian kenyataannya berbicara lain.

Angka kreatinin kembali naik.

Terus naik.

Sampai sekitar Agustus sudah mendekati angka 7 mg/dL.

Dokter mulai berbicara lebih serius.

"Kalau fungsi ginjalnya terus menurun, Bapak harus bersiap menjalani cuci darah."

Saya belum bisa menerima kalimat itu.

Saya masih yakin semuanya bisa diperbaiki.

Saya berusaha diet lebih ketat.

Mencari berbagai informasi.

Melakukan apa pun yang saya anggap bisa mempertahankan fungsi ginjal.

Tetapi ternyata kehendak manusia tidak selalu sama dengan rencana Allah.

Pada Oktober 2024 saya kembali masuk IGD.

Kali ini kondisi saya jauh lebih berat.

Setelah dirawat selama dua hari, dokter akhirnya menyampaikan diagnosis yang paling saya takutkan.

Gagal Ginjal Kronis.

Saya hanya terdiam.

Bukan karena tidak mendengar.

Tetapi karena butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa hidup saya tidak akan sama lagi.

Rumah sakit tempat saya dirawat saat itu belum memiliki fasilitas hemodialisis.

Karena itu saya harus dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki mesin cuci darah dan masih tersedia kuota pasien.

Saya memilih Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro di Tembalang.

Hari itu saya belum tahu bagaimana rasanya cuci darah.

Saya juga belum tahu bahwa sejak hari itulah mesin hemodialisis akan menjadi bagian dari hidup saya setiap minggu.

Kini, setelah menjalani perjalanan panjang sebagai pasien gagal ginjal kronis, saya sering mengingat kembali malam ketika ranjang saya tiba-tiba basah.

Saya baru memahami bahwa Allah sebenarnya sudah memberi saya tanda.

Bukan untuk menakut-nakuti.

Tetapi untuk mengingatkan.

Kadang Allah tidak langsung memberi ujian yang besar.

Dia lebih dulu memberi isyarat-isyarat kecil agar kita mau berhenti sejenak, memeriksa diri, dan memperbaiki hidup.

Sayangnya, saya baru benar-benar memahami arti tanda itu setelah semuanya terjadi.

Tentang Kariswisata

kariswisata.com adalah platform blog perseroangan yang dikelola oleh karis seorang ASN penggerak dan pemberdaya masyarakat melalui pendampingan desa wisata, Blogger, Pendaki Gunung dan Penyintas Gagal Ginjal Kronis Stadium 5 dengan Hemodialisa. Menceritakan Pengalaman Hidupnya untuk menjadi pembelajaran bagi diri sendiri dan pembacanya khususnya generasi muda (Gen X dan Gen Z).



Untuk berkomunikasi dan menghubungi penulis bisa melalui email kariswisata.id (at) Gmail.com atau whatshap ke 0812121975. Untuk mengetahui lebih detail tentang sosok karis silahkan Klik Link pada tiap Judul Berikut :


Selain mengelola aku blog ini untuk mengkampanyekan beberapa hal seperti Berbagi Pengalaman Pasien Hemodialisa di tiktok @Ginjaltalk, Berbagai pengalaman mendaki gunung dan wisata di youtube kariswisata.id, untuk berbagi cerita pendampingan desa wisata di tiktok @sibaristasmg dan akun personal media sosial di tiktok @kariswisataid dan instagram @kariswisata.id 

Wednesday, June 24, 2026

Masuk Taruna Nusantara Bukan Karena Gengsi, Tetapi Karena Gratis

"Cari sekolah yang gratis saja."
Kalimat itu diucapkan bapak dengan tenang.
Tidak membentak.
Tidak memaksa.
Tidak pula disertai penjelasan panjang.
Tetapi saya tahu beliau serius.
Saat itu saya baru lulus SMP. Sama seperti anak-anak lain, saya punya keinginan sendiri. Saya ingin masuk SMA Negeri favorit di kota. Rasanya keren. Teman-teman banyak yang ingin ke sana. Saya juga membayangkan bisa memakai seragam putih abu-abu dan berangkat sekolah ke kota setiap hari.
Namun bapak punya perhitungan yang berbeda.
Dan seperti banyak bapak pada zamannya, beliau lebih sering berbicara dengan kenyataan daripada dengan mimpi.

Saya lahir dan besar di sebuah desa di Wonogiri.

Bapak seorang guru SD. Ibu mengurus rumah tangga.

Kalau sekarang profesi guru begitu dihormati dan kesejahteraannya jauh lebih baik, dulu keadaannya berbeda. Gaji guru sangat sederhana. Apalagi bapak tidak hanya memikirkan anak dan istrinya sendiri.

Beliau juga membantu saudara-saudaranya sekolah.

Membantu sepupu.

Membantu kerabat yang membutuhkan.

Saya baru memahami semua itu ketika sudah dewasa.

Waktu kecil, yang saya tahu hanya satu:

Kalau makan ya makan.

Kalau ada lauk ya syukur.

Kalau tidak ada lauk ya tetap makan.

Kadang nasi tiwul dengan garam.

Kadang nasi tiwul dengan parutan kelapa.

Kadang makan krambil.

Pernah juga beberapa hari hanya ditemani terong bakar.

Anehnya, saya tidak pernah merasa hidup menderita.

Karena hampir semua teman saya hidup dengan cara yang sama.

Tidak ada yang merasa lebih miskin dari yang lain.

Kami hanya menjalani hidup sebagaimana adanya.

Masa kecil saya justru penuh kegembiraan.

Saya menggembala kambing di sekitar Bengawan Solo.

Mencari rumput.

Membantu memberi makan ternak.

Lalu sore hari bermain sepak bola di hamparan pasir sungai.

Kalau permainan selesai, kami ramai-ramai mandi di sungai.

Kadang berenang.

Kadang saling menyiram.

Kadang hanya duduk di pinggir sungai sambil bercanda sampai matahari hampir tenggelam.

Hari itu tidak menghasilkan uang.

Tidak menghasilkan nilai rapor.

Tetapi menghasilkan kenangan yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di kepala saya.

Kalau boleh memilih satu hari untuk diulang kembali, mungkin saya akan memilih hari-hari sederhana itu.

Hari ketika saya belum memikirkan masa depan.

Belum memikirkan pekerjaan.

Belum memikirkan jabatan.

Belum memikirkan apa pun selain bermain sampai sore dan pulang membawa kambing ke rumah.

Masa TK saya juga tidak kalah lucu.

Menurut cerita ibu, saya sering mogok sekolah.

Bukan karena nakal.

Bukan karena malas belajar.

Tetapi karena gurunya.

Kalau menurut saya gurunya cantik, saya mau masuk.

Kalau tidak, saya menolak berangkat.

Entah bagaimana cara berpikir saya waktu itu.

Yang jelas akibat ulah tersebut saya berpindah-pindah TK dan akhirnya bahkan tidak memiliki ijazah TK.

Kalau mengingatnya sekarang saya hanya bisa tertawa.

Untung setelah masuk SD saya berubah total.

Di SD saya justru menjadi anak yang sangat rajin belajar.

Hampir selalu juara kelas.

Aktif mengikuti berbagai lomba.

Lomba puisi.

Dokter kecil.

Catur.

LCT P4.

Dan banyak kegiatan lainnya.

Tetapi sepulang sekolah saya tetap anak desa biasa.

Tetap mencari rumput.

Tetap menggembala kambing.

Tetap membantu orang tua.

Karena di rumah kami tidak ada istilah anak juara kelas lalu bebas dari pekerjaan.

Semua tetap punya tugas masing-masing.

Dan saya bersyukur dibesarkan dengan cara seperti itu.

Karena tanpa saya sadari, pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang mengajarkan tanggung jawab.


Lalu saya lulus SMP.

Dan untuk pertama kalinya saya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa cita-cita sering kali harus menyesuaikan keadaan.

Saya ingin masuk SMA favorit.

Bapak ingin saya masuk sekolah gratis.

Dan seperti banyak anak desa pada masa itu, saya akhirnya memilih mengikuti keputusan orang tua.

Nderek kersane bapak.

Di tengah pencarian sekolah gratis itulah kami mendengar nama sebuah sekolah di Magelang.

Namanya Taruna Nusantara.

Saya tidak tahu sekolah itu terkenal.

Tidak tahu sekolah itu bergengsi.

Tidak tahu alumninya banyak menjadi tokoh besar.

Saya bahkan tidak tahu proses seleksinya sangat berat.

Yang saya tahu hanya satu.

Sekolah itu gratis.

Dan bagi anak guru SD dari sebuah desa kecil di Wonogiri, informasi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya mencoba mendaftar.

Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana karena alasan biaya itu kelak akan mengubah seluruh jalan hidup saya.

(Bersambung)

Thursday, June 18, 2026

Sebelum Muncak, Baca Ini Dulu! - Panduan Lengkap Pendaki Pemula: Naik dengan Selamat, Pulang dengan Selamat

Puncak gunung tidak pernah membunuh pendaki.

Yang sering mencelakakan justru kesalahan-kesalahan kecil yang dianggap sepele.

Membawa barang terlalu banyak. Meremehkan cuaca. Tidak cukup minum. Terlalu percaya diri. Atau sekadar berpikir, "Ah, nanti juga bisa."

Ilustrasi Gambar Panduan Pendaki Pemula

Sebagian besar pendaki yang tersesat, hipotermia, kehabisan tenaga, bahkan harus dievakuasi sebenarnya tidak berawal dari masalah besar. Mereka hanya melewatkan hal-hal dasar yang seharusnya dipersiapkan sejak rumah.

Jika ini pendakian pertamamu, luangkan waktu beberapa menit untuk membaca panduan ini.

Karena gunung akan tetap berdiri besok.

Tapi kesempatan kedua tidak selalu datang dua kali.

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah cara menikmati keindahan alam. Bagi yang lain, mendaki adalah cara menguji kemampuan diri sendiri. Namun bagi saya, setelah bertahun-tahun berjalan di berbagai jalur pendakian, gunung justru menjadi tempat belajar tentang kerendahan hati.

Di gunung, manusia tidak pernah benar-benar berkuasa.

Kita hanya tamu yang diberi kesempatan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya dari tempat yang lebih tinggi.

Karena itulah, sebelum berbicara tentang puncak, foto keren, atau berapa gunung yang sudah didaki, ada satu hal yang harus dipahami terlebih dahulu: keselamatan selalu lebih penting daripada pencapaian.

1. Perbekalan: Bawa Seperlunya, Bukan Sebanyak-banyaknya
Kesalahan paling umum pendaki pemula adalah membawa terlalu banyak barang.
Mereka takut kekurangan, sehingga hampir semua barang dianggap penting dan akhirnya masuk ke dalam carrier. Akibatnya tas menjadi terlalu berat, langkah semakin lambat, dan tenaga habis bahkan sebelum mencapai puncak.
Padahal prinsip dasar perbekalan sangat sederhana:
Bawa yang dibutuhkan, tinggalkan yang tidak diperlukan.
Perbekalan utama yang wajib tersedia antara lain:
Air Minum
Tubuh kehilangan banyak cairan selama pendakian. Minumlah sedikit tetapi sering. Jangan menunggu haus karena saat rasa haus muncul, tubuh sebenarnya sudah mulai mengalami kekurangan cairan.
Makanan Utama
Pilih makanan yang mudah dimasak, praktis, dan mengandung cukup karbohidrat untuk menjaga energi.
Camilan Berkalori Tinggi
Kurma, kacang-kacangan, cokelat, atau biskuit sering kali menjadi penyelamat saat tenaga mulai menurun di tengah jalur.
Perlengkapan P3K
Bawalah obat pribadi dan perlengkapan pertolongan pertama secukupnya. Tidak perlu besar, tetapi harus siap digunakan saat diperlukan.
Seorang pendaki yang baik bukan yang membawa paling banyak barang, melainkan yang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.

2. Packing: Ringan di Punggung, Nyaman di Perjalanan
Packing bukan sekadar memasukkan barang ke dalam tas.
Susunan barang yang tepat dapat membuat perjalanan jauh lebih nyaman dan menghemat energi.
Barang yang sering digunakan seperti jas hujan, jaket, headlamp, dan P3K kecil sebaiknya ditempatkan di bagian atas agar mudah dijangkau.
Barang yang lebih berat seperti makanan, kompor, nesting, dan air minum ditempatkan di bagian tengah dekat punggung. Posisi ini membantu menjaga keseimbangan tubuh saat berjalan.
Sementara sleeping bag dan pakaian tidur dapat ditempatkan di bagian bawah karena biasanya baru digunakan saat tiba di area berkemah.
Prinsip yang banyak digunakan pendaki berpengalaman adalah:
Barang berat dekat punggung dan berada di tengah. Semakin ke luar dan ke atas, semakin ringan.
Carrier yang tertata dengan baik akan terasa jauh lebih ringan dibanding carrier dengan berat yang sama tetapi disusun secara sembarangan.

3. Peralatan: Pilih yang Tepat, Bukan yang Mahal
Dunia pendakian sering membuat pendaki pemula tergoda membeli berbagai perlengkapan mahal.
Padahal keselamatan tidak selalu berbanding lurus dengan harga.
Peralatan terbaik bukan yang paling mahal, tetapi yang sesuai kebutuhan dan berfungsi dengan baik saat diperlukan.
Carrier yang nyaman, tenda yang sesuai kapasitas, sleeping bag yang hangat, kompor yang aman, headlamp yang berfungsi baik, serta jas hujan yang mampu melindungi tubuh dari hujan dan angin adalah prioritas utama.
Banyak pendaki berpengalaman yang masih menggunakan perlengkapan sederhana selama perlengkapan tersebut masih layak dan dapat diandalkan.
Karena saat cuaca berubah buruk, yang dicari bukan merek perlengkapan, tetapi fungsi perlengkapannya.

4. Teknik Mendaki: Menjaga Ritme Lebih Penting daripada Kecepatan
Kesalahan lain yang sering dilakukan pendaki pemula adalah terlalu bersemangat di awal perjalanan.
Mereka berjalan cepat, menyalip banyak orang, lalu kehabisan tenaga sebelum mencapai setengah jalur.
Padahal mendaki bukan perlombaan.
Mendaki adalah tentang menjaga ritme.
Gunakan langkah pendek saat menghadapi tanjakan. Berjalanlah dengan kecepatan yang bisa dipertahankan dalam waktu lama.
Minumlah secara teratur dan beristirahatlah sebelum tubuh benar-benar kelelahan.
Jangan malu berjalan pelan.
Di gunung, yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai.
Yang penting adalah siapa yang mampu menjaga tenaga hingga perjalanan selesai.
Selain itu, selalu perhatikan kondisi cuaca.
Gunung memiliki aturan sendiri. Jika cuaca memburuk, jangan ragu mengambil keputusan untuk berhenti, menunggu, atau bahkan turun.
Puncak akan tetap ada besok.
Keselamatan belum tentu mendapat kesempatan kedua.

5. Mental Pendaki: Bekal yang Tidak Masuk ke Dalam Carrier
Banyak orang menyiapkan fisik dan perlengkapan, tetapi lupa menyiapkan mental.
Padahal gunung sering kali lebih banyak menguji mental dibandingkan fisik.
Saat tubuh mulai lelah, cuaca berubah dingin, hujan turun, atau perjalanan terasa jauh lebih berat dari perkiraan, mental menjadi faktor yang menentukan.
Kenali kemampuan diri sendiri.
Jangan memaksakan diri demi gengsi.
Terimalah bahwa rasa lelah, lapar, dingin, dan ketidaknyamanan adalah bagian dari proses pendakian.
Jika mendaki bersama teman, jagalah kekompakan.
Puncak tidak akan terasa istimewa jika harus dicapai dengan mengorbankan keselamatan anggota tim.
Dan yang paling penting, tetaplah rendah hati.
Hormati alam, hormati sesama pendaki, dan tinggalkan jalur dalam keadaan lebih baik daripada saat kita datang

Refleksi: Ketika Gunung Mengajarkan Hal yang Lebih Penting dari Puncak
Semakin lama saya mendaki, semakin saya memahami bahwa puncak sebenarnya bukan bagian paling berharga dari sebuah perjalanan.
Puncak hanya berlangsung beberapa menit.
Kadang hanya cukup waktu untuk berfoto, menikmati pemandangan, lalu turun kembali.
Namun proses menuju ke sana akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.
Saya masih mengingat rasa lelah saat menembus tanjakan panjang. Saya masih mengingat dinginnya malam di tenda, suara angin yang menerpa flysheet, teman yang berbagi makanan ketika perbekalan menipis, atau pendaki lain yang menawarkan bantuan ketika kami kesulitan.
Justru hal-hal sederhana itulah yang paling membekas.
Gunung mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi yang tercepat atau yang pertama mencapai tujuan.
Kadang yang lebih penting adalah kemampuan menjaga ritme, memahami batas diri, bekerja sama dengan orang lain, dan tetap bersyukur dalam keadaan yang tidak selalu nyaman.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pendakian tidak diukur dari seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai.
Keberhasilan pendakian diukur dari seberapa bijaksana kita mengambil keputusan, seberapa baik kita menjaga diri dan teman seperjalanan, serta apakah kita mampu kembali pulang dengan selamat.
Sebab gunung akan tetap berdiri megah meskipun kita tidak sampai di puncaknya hari ini.
Namun keluarga di rumah selalu berharap kita kembali.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang diajarkan gunung kepada setiap pendaki:
Puncak bukan tujuan akhir. Keselamatan adalah tujuan utama.
Naik dengan selamat. Nikmati perjalanan. Pulang dengan selamat.

Kariswisata.com
Life • Learning • Tourism

Ketika Hanya Dua Orang yang Berangkat ke Sundoro

Tidak semua pendakian yang berkesan diawali dengan perencanaan yang matang dan rombongan yang lengkap. Kadang justru sebaliknya.
Rencana yang berantakan, teman-teman yang tidak jadi datang, perlengkapan yang tidak lengkap, dan kondisi yang jauh dari ideal justru melahirkan cerita yang paling lama bertahan dalam ingatan.
Begitulah yang terjadi pada sebuah pendakian Gunung Sundoro pada tahun 1994.
Pendakian yang semula direncanakan untuk lima orang, tetapi akhirnya hanya diikuti dua orang.
Dan secara tidak terduga mengajarkan saya tentang arti persahabatan, kreativitas dalam bertahan hidup, dan pentingnya saling menjaga dalam sebuah perjalanan.

Ilustrasi Gambar Keidnginan di Bivak

Selain Gunung Sumbing, Gunung Sundoro termasuk gunung yang cukup sering saya daki pada masa itu.
Alasannya sederhana.
Dari Yogyakarta akses menuju basecamp relatif mudah dijangkau menggunakan kendaraan umum. Tidak perlu menyambung ojek dan tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh hanya untuk mencapai titik awal pendakian.
Karena cukup sering mendaki ke sana, suatu ketika kami merencanakan survei jalur untuk persiapan pendakian massal yang akan dilaksanakan pada akhir tahun.
Rencananya ada lima orang yang ikut.
Masing-masing berangkat dari rumah atau kos menuju basecamp dan bertemu di sana.
Saya berangkat dari Yogyakarta.
Seorang adik kelas perempuan, sebut saja Mawar, berangkat dari Banjarnegara.
Sementara tiga orang lainnya datang dari tempat yang berbeda.
Setidaknya begitulah rencananya.
Namun malam itu rencana tinggal rencana.
Semakin larut malam, satu per satu orang yang ditunggu tidak kunjung muncul.
Saat itu telepon genggam belum ada. Jadi kami tidak bisa menghubungi siapa pun untuk memastikan apakah mereka terlambat, batal berangkat, atau bahkan mungkin sudah berangkat lewat jalur lain.
Yang jelas, hingga waktu yang disepakati tiba, yang hadir hanya dua orang.
Saya dan Mawar.
Kami sempat berdiskusi cukup lama.
Apakah pendakian dibatalkan saja?
Atau ditunda satu hari?
Masalahnya, malam itu adalah malam Minggu. Jika ditunda, berarti pendakian baru bisa dimulai malam berikutnya yang sudah masuk malam Senin.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami akhirnya memutuskan tetap berangkat.
Toh tujuan utama kami hanya survei jalur.
Kalau memang kondisi tidak memungkinkan, kami selalu bisa memutuskan untuk kembali turun.
Masalah berikutnya adalah perlengkapan.
Karena pendakian ini sejak awal dirancang untuk lima orang, perlengkapan kelompok sudah dibagi-bagi.
Tenda dibawa salah satu teman yang ternyata tidak datang.
Beberapa perlengkapan lain juga ikut menghilang bersama pemiliknya.
Untungnya kami masih membawa perlengkapan dasar yang cukup untuk bertahan hidup.
Masing-masing membawa satu ponco.
Artinya jika terpaksa membuat perlindungan darurat, kami masih punya cara untuk melindungi diri dari hujan atau angin.
Memang tidak senyaman tenda.
Tetapi masih jauh lebih baik daripada tidak membawa apa-apa.
Tepat sekitar pukul dua belas malam kami mulai berjalan.
Jalur awal masih melewati ladang-ladang milik penduduk.
Udara malam terasa sejuk dan perjalanan berjalan normal.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Pos 1.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2 melalui jalur yang mulai memasuki kawasan peralihan antara ladang dan pinggiran hutan.
Dan di situlah kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas terjadi.
Entah karena kondisi badan yang kurang fit.
Entah karena kelelahan.
Entah karena cuaca malam itu memang luar biasa dingin.
Tiba-tiba saya merasakan hawa dingin yang tidak biasa.
Awalnya saya mengabaikannya.
Saya pikir nanti juga hilang kalau terus berjalan.
Tetapi ternyata tidak.
Semakin lama tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Jari-jari tangan mulai terasa kaku.
Gigi mulai beradu.
Langkah kaki semakin berat.
Yang paling mengganggu justru rasa lelah dan kantuk yang datang bersamaan.
Saya masih berusaha berjalan beberapa saat.
Namun akhirnya harus mengakui bahwa tubuh saya tidak sanggup dipaksa lebih jauh.
Kami pun menepi.
Dua ponco segera dirangkai menjadi bivak darurat sederhana.
Kompor parafin dinyalakan.
Harapannya tubuh bisa kembali hangat.
Tetapi panas dari kompor ternyata tidak cukup.
Api kecil itu kalah melawan dinginnya udara pegunungan.
Untung lokasi kami masih berada di dekat area ladang sehingga cukup mudah menemukan ranting dan kayu bakar.
Kami segera mengumpulkan kayu dan membuat api unggun.
Lidah api mulai membesar.
Asap mengepul ke udara malam.
Cahaya api menerangi wajah kami yang mulai pucat karena kedinginan.
Namun anehnya, meskipun api unggun sudah menyala, tubuh saya tetap tidak nyaman.
Punggung terasa hangat.
Tetapi bagian depan tubuh masih terus kehilangan panas.
Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mencari cara lain.
Saya mengambil sarung yang biasa saya gunakan untuk tidur.
Sarung itu saya lilitkan rapat ke tubuh.
Lalu bagian luarnya saya bungkus lagi menggunakan ponco.
Lumayan membantu.
Tetapi masih belum cukup.
Kemudian saya melihat Mawar yang duduk di dekat api unggun.
Saya berkata sambil tertawa,
"Kalau begini ceritanya, kayaknya aku butuh sleeping bag hidup."
Mawar tertawa.
Saya juga tertawa.
Tetapi beberapa saat kemudian kami mencoba sesuatu yang mungkin terdengar aneh jika diceritakan sekarang.
Saya tengkurap di dalam bivak.
Sementara Mawar berbaring di atas saya dengan posisi menghadap ke atas.
Tujuannya sederhana.
Memanfaatkan panas tubuh agar saya tidak kehilangan terlalu banyak energi.
Tidak ada yang romantis.
Tidak ada yang aneh.
Saat itu kami hanya dua pendaki yang sedang berusaha bertahan dari dinginnya malam dengan perlengkapan yang sangat terbatas.
Dan ternyata cara sederhana itu berhasil.
Perlahan tubuh saya mulai terasa lebih hangat.
Gigil berkurang.
Kelopak mata mulai terasa berat.
Dan tanpa sadar saya tertidur.
Entah berapa lama.
Ketika terbangun, api unggun masih menyala meskipun tidak sebesar sebelumnya.
Udara masih dingin.
Tetapi badan saya sudah terasa jauh lebih baik.
Masih dingin, tentu saja.
Namun kali ini saya merasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan.
Saya duduk.
Meregangkan badan.
Lalu menatap Mawar.
"Gimana? Lanjut?"
Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Tidak ada pidato motivasi.
Tidak ada kata-kata heroik.
Kami hanya membereskan perlengkapan, memastikan api benar-benar padam, lalu kembali memanggul ransel.
Beberapa menit kemudian kami kembali berjalan menembus gelapnya lereng Sundoro.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal beberapa jam sebelumnya saya hampir menyerah karena dingin.

Sekarang, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, saya sering tersenyum sendiri setiap kali mengingat peristiwa itu.
Yang saya ingat bukan puncaknya.
Bukan pula jalurnya.
Bahkan bukan api unggunnya.
Yang paling saya ingat justru kebersamaan sederhana pada malam itu.
Tentang dua orang yang awalnya menunggu tiga teman yang tidak pernah datang.
Tentang perjalanan yang nyaris dibatalkan.
Tentang dingin yang hampir menghentikan langkah.
Dan tentang seorang teman yang tanpa banyak bicara memilih membantu sebisanya ketika melihat temannya sedang kesulitan.
Mungkin itulah alasan mengapa kenangan pendakian lama begitu sulit dilupakan.
Karena yang paling membekas bukan gunung yang kita daki.
Melainkan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita di sana.
Puncak akan tetap berada di tempatnya.
Tetapi kesempatan bertemu orang baik dalam sebuah perjalanan, belum tentu datang dua kali.

Privacy Policy

Effective Date: June 19, 2026

Welcome to Kariswisata.com ("we," "our," or "us"). Your privacy is important to us. This Privacy Policy explains how we collect, use, disclose, and protect your information when you visit our website.

By accessing or using Kariswisata.com, you agree to the practices described in this Privacy Policy.

1. Information We Collect

We may collect the following types of information:

Personal Information

You may voluntarily provide personal information when you:

  • Contact us via email or contact form

  • Leave comments on our articles

  • Subscribe to newsletters or updates (if available)

Personal information may include your name, email address, or any information you choose to provide.

Non-Personal Information

We automatically collect certain information, including:

  • IP address

  • Browser type and version

  • Device information

  • Operating system

  • Pages visited

  • Time and date of your visit

  • Referring website

  • General geographic location

This information is collected for analytical and security purposes.

2. How We Use Your Information

We use the information we collect to:

  • Improve our website and content

  • Respond to your inquiries

  • Analyze website traffic and visitor behavior

  • Enhance user experience

  • Display relevant advertisements

  • Prevent fraudulent or malicious activities

We do not sell, rent, or trade your personal information to third parties.

3. Cookies

Kariswisata.com uses cookies to improve your browsing experience.

Cookies help us:

  • Remember user preferences

  • Understand visitor behavior

  • Measure website performance

  • Deliver relevant advertisements

You can disable cookies through your browser settings. However, some features of this website may not function properly if cookies are disabled.

4. Google AdSense

We use Google AdSense to display advertisements.

Google, as a third-party vendor, uses cookies (including the Google advertising cookies) to serve ads based on users' previous visits to this website and other websites on the Internet.

Google's use of advertising cookies enables it and its partners to serve ads based on your visit to this site and/or other sites across the Internet.

Users may opt out of personalized advertising by visiting:

https://www.google.com/settings/ads

For more information about how Google uses data, please visit:

https://policies.google.com/technologies/ads

5. Google Analytics

We may use Google Analytics to better understand how visitors interact with our website.

Google Analytics may collect information such as:

  • Pages visited

  • Session duration

  • Device type

  • Browser information

  • Traffic sources

  • Approximate geographic location

This information is collected in aggregate form and is not intended to personally identify individual users.

6. Third-Party Services

Our website may use third-party services that collect information in accordance with their own privacy policies.

These services may include:

  • Google AdSense

  • Google Analytics

  • Blogger (if applicable)

  • Cloudflare (if applicable)

  • Social media platforms

We encourage users to review the privacy policies of these third-party services.

7. External Links

Kariswisata.com may contain links to external websites.

We are not responsible for the privacy practices or content of those third-party websites. We encourage users to review the privacy policies of any external sites they visit.

8. Data Security

We implement reasonable security measures to protect the information we collect.

However, no method of electronic transmission or storage over the Internet is completely secure. Therefore, we cannot guarantee absolute security.

9. Children's Privacy

Kariswisata.com is not directed toward children under the age of 13.

We do not knowingly collect personal information from children. If you believe that a child has provided personal information through this website, please contact us so that we can promptly remove such information.

10. Your Rights

Depending on your location and applicable laws, you may have the right to:

  • Access your personal information

  • Request correction of inaccurate information

  • Request deletion of your personal information

  • Withdraw consent where applicable

To exercise these rights, please contact us using the information below.

11. Changes to This Privacy Policy

We may update this Privacy Policy from time to time.

Any changes will be posted on this page along with the updated effective date. Continued use of this website after changes are posted constitutes acceptance of the revised Privacy Policy.

12. Contact Us

If you have any questions regarding this Privacy Policy or how your information is handled, please contact us through the Contact page available on Kariswisata.com.

Thank you for visiting Kariswisata.com.

We appreciate your trust and hope you enjoy exploring our travel stories, tourism insights, educational resources, and destination experiences.

Sunday, June 14, 2026

Puncak Bisa Menunggu, Keselamatan Tidak

Dulu saya mengira keberhasilan seorang pendaki hanya ditentukan oleh satu hal: berhasil atau tidak mencapai puncak.
Semakin tinggi gunung yang didaki, semakin berat jalurnya, semakin besar pula kebanggaan yang dirasakan. Setidaknya begitulah cara berpikir saya saat masih muda.
Namun sebuah malam di lereng Gunung Sumbing mengubah cara pandang itu.
Malam yang dingin. Sangat dingin.
Malam yang membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berdiri di atas puncak.


Setelah pengalaman mendaki sendirian ke Gunung Sumbing beberapa waktu sebelumnya, saya masih beberapa kali kembali ke gunung itu. Kadang sendirian, kadang bersama teman.
Saat itu mendaki gunung belum seramai sekarang. Belum ada media sosial. Belum ada istilah konten. Belum banyak orang naik gunung hanya karena sedang tren.
Kalau akhir pekan ada belasan rombongan pendaki saja sudah terasa ramai. Selebihnya gunung lebih sering sepi dan sunyi.

Suatu malam Minggu saya mendaki berdua bersama seorang teman.
Kami memilih jalur baru yang saat itu lebih kami sukai. Dari basecamp naik sedikit, lalu berbelok ke kanan di dekat masjid. Kalau lurus itu jalur lama yang lebih umum digunakan.
Kami mulai berjalan sekitar pukul sembilan malam.
Malam itu bulan hampir purnama. Langit cerah tanpa awan. Cahaya bulan menerangi lereng gunung dengan sangat jelas sehingga kami hampir tidak perlu menggunakan senter.
Awalnya saya senang.
Mendaki di bawah cahaya bulan memang terasa menyenangkan. Jalur terlihat jelas dan suasana gunung terasa begitu indah.
Tetapi beberapa saat kemudian saya mulai merasakan sesuatu.
Dingin.
Mula-mula biasa saja.
Lalu semakin lama semakin menjadi.
Saat memasuki area kebun milik penduduk yang membentang cukup jauh di lereng bawah Sumbing, hawa dingin mulai benar-benar terasa.
Orang-orang tua di kampung biasa menyebut kondisi seperti itu dengan istilah bediding.
Saat itu saya baru benar-benar memahami arti kata tersebut.
Dinginnya bukan sekadar membuat kulit merinding.
Rasanya seperti masuk perlahan ke dalam tubuh.
Masuk melalui ujung jari.
Merambat ke tangan.
Lalu menjalar ke kaki dan seluruh badan.
Padahal angin hampir tidak ada.
Udara malam terasa tenang.
Tetapi justru karena itulah dingin seperti diam-diam menyelimuti tubuh tanpa terasa.
Perlengkapan mendaki saya saat itu juga masih sangat sederhana.
Belum punya sleeping bag.
Belum punya tenda dome.
Belum punya jaket gunung yang layak.
Saya hanya memakai celana training panjang, jaket biasa, dan membawa sarung untuk tambahan penghangat.
Kalau sekarang melihat perlengkapan pendaki yang lengkap, saya sering tersenyum sendiri mengingat betapa sederhananya perlengkapan yang kami bawa saat itu.
Awalnya saya masih mencoba mengabaikan rasa dingin itu.
Saya berpikir, nanti juga hangat kalau terus jalan.
Ternyata saya salah.
Semakin lama berjalan, tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Tangan mulai terasa kaku.
Jari-jari sulit digerakkan dengan leluasa.
Sesekali rahang bergetar menahan dingin.
Yang paling mengganggu justru rasa kantuk yang datang begitu hebat.
Kelopak mata terasa berat.
Langkah kaki mulai lambat.
Pikiran terasa kosong.
Beberapa kali saya seperti berjalan tanpa benar-benar sadar sedang memikirkan apa.
Saat berhenti sebentar untuk beristirahat, tubuh langsung menggigil hebat.
Gigi mulai beradu.
Saat itulah saya mulai merasa situasinya tidak normal.
Saya menoleh ke teman saya.
"Wes, istirahat sik wae."
Dia mengangguk tanpa banyak bicara.
Rupanya dia juga merasakan hal yang sama.
Masalahnya, berhenti berjalan justru membuat badan semakin dingin.
Kami mencoba mencari tempat yang bisa digunakan untuk berlindung.
Tidak lama kemudian kami menemukan sebuah gubuk kecil di area kebun penduduk.
Di dalamnya tersimpan pupuk kandang dari kotoran sapi yang sudah kering.
Baunya memang tidak enak.
Tetapi malam itu kami tidak sedang memilih tempat yang nyaman.
Kami hanya butuh tempat untuk bertahan dari dingin.
Akhirnya kami masuk ke dalam.
Ponco kami gelar sebagai alas.
Sarung kami gunakan sebagai selimut.
Lalu bagian luar tubuh kami tutup lagi menggunakan ponco sehingga bentuknya mirip sleeping bag darurat.
Ajaibnya, cara sederhana itu sangat membantu.
Memang belum bisa disebut hangat.
Tetapi setidaknya tubuh tidak lagi menggigil sekeras sebelumnya.
Entah berapa lama kami tertidur.
Saat terbangun saya melihat jam tangan.
Pukul dua dini hari.
Di luar masih gelap.
Udara masih terasa sangat dingin.
Saya membangunkan teman saya.
Kami duduk bersandar di dinding gubuk sambil berpikir.
Lanjut atau turun?
Itulah pertanyaan yang muncul saat itu.
Tidak ada jawaban cepat.
Karena kami sadar, keputusan yang salah bisa membawa masalah.
Akhirnya kami sepakat membuat minuman dan makanan hangat terlebih dahulu.
Kompor parafin segera dinyalakan.
Air direbus.
Indomie dimasak.
Kopi dibuat.
Sederhana sekali.
Tetapi dalam kondisi seperti itu, semangkuk Indomie panas dan secangkir kopi terasa jauh lebih mewah daripada makanan apa pun.
Perlahan tubuh mulai terasa hangat kembali.
Pikiran juga mulai jernih.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.
Bukan karena gengsi.
Bukan karena takut dianggap gagal.
Tetapi karena setelah makan dan minum hangat, kami merasa kondisi tubuh sudah cukup baik untuk melanjutkan pendakian dengan aman.
Sebelum berangkat, saya mengeluarkan beberapa bungkus Indomie dan kopi dari dalam tas.
Saya gantungkan di salah satu sudut gubuk menggunakan kantong plastik.
Lalu saya menulis pesan singkat di secarik kertas.
Isinya ucapan terima kasih.
Saya tidak tahu siapa pemilik gubuk itu.
Saya juga tidak pernah bertemu dengannya.
Tetapi malam itu gubuk sederhana miliknya telah membantu dua pendaki yang sedang kesulitan menghadapi dinginnya Gunung Sumbing.
Beberapa menit kemudian kami kembali melangkah.
Meninggalkan gubuk.
Meninggalkan kehangatan sementara yang telah menyelamatkan kami.
Dan meneruskan perjalanan menuju puncak.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, yang paling saya ingat justru bukan puncaknya.
Bukan pula foto-foto perjalanan yang saat itu bahkan hampir tidak ada.
Yang saya ingat adalah dinginnya malam itu.
Gubuk kecil di tengah kebun.
Indomie panas yang mengepul di tengah udara pegunungan.
Dan keputusan sederhana untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari situlah saya belajar bahwa gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
Gunung adalah tempat untuk belajar rendah hati.
Karena sekuat apa pun manusia, alam selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita memiliki batas.
Dan sejak malam itu saya percaya, tidak ada puncak yang lebih berharga daripada pulang dengan selamat.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama sebuah pendakian bukanlah mencapai puncak.
Melainkan kembali ke rumah dan bisa menceritakan perjalanan itu kepada orang-orang yang kita cintai.
Puncak bisa menunggu.
Keselamatan tidak.

Friday, June 12, 2026

Mengapa Ida Menangis Saat Diklat Berakhir?

Kadang saya heran sendiri.

Bagaimana mungkin orang-orang yang beberapa hari sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, berasal dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbeda, bahkan sebagian besar mungkin tidak akan pernah bertemu jika bukan karena sebuah diklat, tiba-tiba bisa begitu akrab?

Bahkan ada yang sampai menangis saat harus berpisah.



Pengalaman itulah yang saya alami ketika mengikuti Diklat Customer Service Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kaliurang, Yogyakarta, pada bulan puasa September 2008.

Beberapa waktu lalu saya sudah bercerita tentang "teriakan legendaris saat sahur" ketika makanan yang tersedia terasa tidak akan cukup untuk semua peserta. Entah karena kejadian itu atau karena sebab lain yang saya sendiri tidak tahu, perlahan teman-teman dari PT yang sama mulai mempercayai saya sebagai semacam pemimpin informal kelompok.

Padahal saya juga peserta biasa.

Setiap malam setelah kegiatan diklat selesai, kami menjalankan salat Tarawih berjamaah. Karena kebetulan tidak ada yang maju, saya sering diminta menjadi imam dengan modal hafalan surat-surat pendek yang pas-pasan.

Setelah Tarawih biasanya kami belum langsung tidur.

Justru saat itulah suasana paling seru dimulai.

Kami duduk lesehan, mengobrol ngalor-ngidul, saling cerita tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal lucu yang kadang tidak penting sama sekali.

Sesekali saya mengajak teman-teman memainkan berbagai permainan kelompok yang dulu sering saya dapatkan saat aktif di organisasi pecinta alam maupun Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Tujuannya sederhana.

Biar tidak bosan.

Biar lebih akrab.

Biar yang pendiam mau bicara.

Biar yang pemalu berani tertawa.

Tanpa sadar malam demi malam membuat jarak di antara kami semakin tipis.

Yang tadinya hanya teman satu kelas mulai terasa seperti teman seperjuangan.

Ada yang pendiam.

Ada yang cerewet.

Ada yang lucu.

Ada yang jahil.

Ada yang pemalu.

Ada juga yang kalau ngomong ceplas-ceplos tanpa rem.

Namun justru perbedaan itulah yang membuat suasana menjadi hidup.

Menjelang akhir diklat, kami membuat polling iseng-iseng sekadar untuk menambah kenangan.

Hasilnya pun lucu-lucu.

Ada kategori wanita tercantik, gadis terlugu, gadis terlucu, gadis pemalu, wanita keibuan, wanita tomboy, cewek paling imut, sampai gadis paling nyebelin.

Kalau dibaca sekarang mungkin terdengar konyol.

Tetapi saat itu semua tertawa.

Semua menikmati.

Tidak ada yang tersinggung.

Yang ada justru rasa bahwa kami sudah cukup dekat untuk saling bercanda.

Namun ternyata momen yang paling membekas justru terjadi ketika diklat selesai.

Saat kami menunggu jemputan pulang, tiba-tiba Ida atau Farida Evandari terlihat menangis.

Awalnya hanya berkaca-kaca.

Lalu air matanya mulai jatuh.

Semakin lama semakin deras.

Pipinya memerah.

Wajahnya terlihat menahan haru.

Bahkan ketika berpamitan dengan teman-teman yang lain, tangisnya belum juga berhenti.

Saat itu saya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan sambil bertanya-tanya.

Mengapa Ida menangis?

Apakah karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru dikenalnya beberapa hari?

Apakah karena suasana kebersamaan ini terasa terlalu cepat berakhir?

Ataukah karena selama empat hari itu kami benar-benar telah menjadi sebuah keluarga kecil yang saling menerima apa adanya?

Saya tidak pernah benar-benar menanyakan jawabannya kepada Ida.

Mungkin sampai hari ini pun hanya Ida yang tahu alasan sebenarnya.

Tetapi saya belajar satu hal.

Ternyata membangun kekompakan tidak selalu membutuhkan waktu lama.

Kadang yang dibutuhkan hanya kebersamaan yang tulus.

Empat hari memang terlalu singkat untuk disebut persahabatan sejati.

Namun empat hari ternyata cukup untuk menumbuhkan rasa memiliki.

Cukup untuk membuat orang saling peduli.

Cukup untuk membuat orang merasa kehilangan ketika harus berpisah.

Dan jika ada seseorang yang sampai menangis saat perpisahan tiba, mungkin itu pertanda bahwa kebersamaan yang dibangun selama empat hari tersebut bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Refleksi

Bertahun-tahun kemudian, saya semakin yakin bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk disatukan.

Yang sulit adalah menciptakan ruang yang membuat orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Ketika seseorang merasa diterima, ia akan mulai membuka hati.

Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan mulai percaya.

Dan ketika seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga, maka hubungan yang terbangun sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan kerja atau organisasi.

Saya melihat hal yang sama berulang kali dalam berbagai perjalanan hidup saya.

Di organisasi pecinta alam.

Di panjat tebing.

Di komunitas.

Di paguyuban.

Di desa wisata.

Bahkan di lingkungan kerja.

Yang membuat sebuah kelompok bertahan bukanlah aturan yang ketat atau program yang hebat.

Yang membuat orang ingin tetap bersama adalah kenangan yang mereka bangun bersama.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari tangisan Ida sore itu.

Bukan sekadar sedih karena pulang.

Tetapi sedih karena harus meninggalkan sebuah kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Dan bagi saya, tidak ada sertifikat atau kuesioner evaluasi yang lebih jujur daripada air mata itu.

Karena air mata tidak bisa dibuat-buat.

Ia muncul ketika hati merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

Sejak saat itu saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan pertama-tama membuat orang bekerja bersama.

Tugasnya adalah membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.

Karena ketika hati sudah menyatu, kekompakan biasanya akan tumbuh dengan sendirinya.

Ketika Para Rival Mau Duduk Satu Meja : Kisah Lahirnya Pagersemar yang Menyatukan Industri Hiburan Semarang

Tidak semua perubahan besar lahir dari kekuasaan, jabatan, atau anggaran besar. Kadang perubahan dimulai dari sebuah meja, beberapa kursi, dan keberanian mengajak orang-orang yang selama ini saling bersaing untuk kembali berbicara.


Pada kurun waktu 2010–2016, industri hiburan Kota Semarang berkembang sangat pesat. Karaoke, spa, biliar, dan berbagai usaha hiburan tumbuh di banyak sudut kota. Pertumbuhan tersebut membawa dampak positif bagi perekonomian, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan yang berpotensi memecah hubungan antar pelaku usaha.

Perpindahan terapis antar spa, perpindahan LC antar karaoke, perebutan SDM dan manajer operasional, hingga persaingan usaha yang kurang sehat menjadi dinamika yang hampir setiap hari terdengar di lapangan. Tidak jarang hubungan antar pengelola usaha menjadi renggang hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui komunikasi.

Melihat kondisi tersebut, muncul sebuah gagasan sederhana:

"Kalau para pelaku usaha sering bertemu dan berkomunikasi, maka banyak persoalan bisa diselesaikan sebelum berubah menjadi konflik."

Berbekal keyakinan itu, langkah pertama dimulai dengan mengundang sekitar 30 pelaku usaha hiburan Kota Semarang yang terdiri dari 15 usaha spa dan 15 usaha karaoke. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk wadah komunikasi bersama.

Namun membangun organisasi ternyata tidak semudah mengumpulkan orang dalam satu ruangan.

Setelah pertemuan awal, gerakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Karena itu dilakukan konsolidasi yang lebih kecil dan lebih fokus dengan melibatkan lima tokoh industri hiburan Kota Semarang:

  • FIC Indarto (Inul Vizta)
  • Teguh (XT Shiatsu)
  • Agus AW (Elysium Spa)
  • Ujug Sutardi (Eleven Spa)
  • Untung (Nine Feet Bilyar)

Kelima tokoh tersebut kemudian bertindak sebagai tim formatur. FIC Indarto dipercaya sebagai Ketua Formatur, sementara Kariswisata berperan sebagai pengarah sekaligus penggagas.


Melalui berbagai pertemuan dan komunikasi yang intensif, akhirnya berhasil dihimpun 43 usaha hiburan yang mewakili sebagian besar brand besar industri hiburan Kota Semarang saat itu.

22 April 2017: Pagersemar Resmi Berdiri

Bertempat di E Plaza Semarang, dilaksanakan deklarasi dan penandatanganan berdirinya Paguyuban Usaha Hiburan Semarang.

Berbagai usulan nama bermunculan.

Melalui proses musyawarah dan voting, akhirnya terpilih nama:

PAGERSEMAR
Paguyuban Usaha Hiburan Semarang

Nama yang sederhana, tetapi mengandung harapan besar: menjadi paguyuban yang mampu menjaga komunikasi dan harmoni di tengah persaingan dunia usaha.

Pada saat itu, FIC Indarto terpilih sebagai Ketua Umum pertama, sementara Kariswisata dipercaya sebagai Pembina sekaligus Founder.


Dari Wadah Komunikasi Menjadi Mitra Strategis Pemerintah

Seiring berjalannya waktu, Pagersemar tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pelaku usaha hiburan.

Organisasi ini mulai berkembang menjadi mitra strategis pemerintah dalam berbagai program pembinaan dan pengawasan usaha hiburan.

Berbagai kegiatan berhasil dilaksanakan, antara lain:

✓ Pertemuan rutin bulanan anggota

✓ Kesepakatan bersama terkait perpindahan terapis antar usaha spa

✓ Sosialisasi HIV/AIDS bersama Dinas Kesehatan

✓ Sosialisasi Peraturan Daerah bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Satpol PP

✓ Kerja sama dengan Kepolisian, Bea Cukai, PPA, Renata, dan berbagai instansi terkait lainnya

Perlahan namun pasti, hubungan antar pelaku usaha yang sebelumnya sering diwarnai kecurigaan mulai berubah menjadi komunikasi dan kolaborasi.

Ujian Terbesar: Pandemi Covid-19

Tahun 2020 menjadi masa paling berat bagi industri hiburan.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, sektor hiburan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Banyak usaha harus tutup sementara, aktivitas ekonomi berhenti, dan ribuan pekerja kehilangan sumber penghasilan.

Di tengah situasi tersebut, Pagersemar mengambil peran penting.

Organisasi ini menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha, sekaligus membantu proses adaptasi menuju era normal baru.

Beberapa kontribusi yang dilakukan antara lain:

  • Menyusun SOP Operasional Usaha Hiburan bersama Disbudpar Kota Semarang
  • Menjadi penghubung komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha
  • Menyalurkan bantuan sosial bagi SDM sektor hiburan
  • Mengawal proses pemulihan usaha hiburan pasca pandemi

Masa sulit itu membuktikan bahwa organisasi yang dibangun untuk komunikasi ternyata memiliki fungsi yang jauh lebih besar ketika krisis datang.

Memasuki Tahun Ke-9

Hingga hari ini Pagersemar telah melewati empat periode kepengurusan:

  1. FIC Indarto
  2. Negro
  3. Syahili
  4. Indarto (Pjs)

Pergantian kepemimpinan berjalan, tetapi semangat kebersamaan tetap terjaga.

Dari sebuah gagasan sederhana untuk mengurangi konflik, Pagersemar tumbuh menjadi organisasi yang mampu mengayomi anggota, menyalurkan aspirasi pelaku usaha, serta menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Semarang.

Tujuan awalnya pun perlahan tercapai.

Konflik berkurang.

Komunikasi terbangun.

Kolaborasi tumbuh.

Dan industri hiburan Kota Semarang memiliki rumah bersama.

Refleksi: Ketika Organisasi Hidup Melampaui Pendiri

Ketika pertama kali menginisiasi Pagersemar, saya tidak pernah membayangkan organisasi ini akan bertahan hingga hampir satu dekade.

Saat itu target saya sebenarnya sangat sederhana: mengurangi konflik.

Tidak ada bayangan tentang penghargaan, kemitraan strategis, ataupun organisasi yang bertahan lintas kepengurusan.

Yang saya lihat waktu itu hanyalah banyak orang baik yang sedang berjuang membangun usahanya masing-masing, tetapi terlalu sering terjebak dalam kesalahpahaman, persaingan yang tidak perlu, dan komunikasi yang terputus.

Hari ini saya memahami satu pelajaran yang sangat berharga.

Membangun organisasi bukan tentang menjadi orang yang paling hebat.

Tetapi tentang menghadirkan ruang agar banyak orang bisa tumbuh bersama.

Bukan tentang siapa yang menjadi ketua.

Bukan tentang siapa yang paling dikenal.

Bukan pula tentang siapa yang paling lama bertahan.

Melainkan tentang apakah organisasi itu masih memberi manfaat ketika para pendirinya sudah tidak lagi berada di garis depan.

Bagi saya, keberhasilan terbesar Pagersemar bukanlah jumlah anggotanya.

Bukan pula program-program yang pernah dilaksanakan.

Melainkan kenyataan bahwa para pelaku usaha yang dulu sering berseberangan, kini mampu duduk bersama, berdiskusi bersama, bahkan memperjuangkan kepentingan bersama.

Itulah tanda bahwa sebuah komunitas telah menemukan jiwanya.

Karena sesungguhnya organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu tokoh, melainkan organisasi yang tetap hidup, tetap bergerak, dan tetap bermanfaat ketika tokoh-tokoh pendirinya mulai menepi.

Sebagai inisiator dan founder, saya hanya bisa tersenyum melihat perjalanan ini.

Ternyata benih kecil yang ditanam bertahun-tahun lalu masih terus tumbuh.

Memberi teduh.

Memberi manfaat.

Dan menyatukan banyak orang yang dahulu berdiri di sisi yang berbeda.

Bravo Pagersemar.

Semoga tetap menjadi rumah bersama, tempat bersilaturahmi, tempat belajar, tempat berjuang, dan tempat menjaga harmoni industri hiburan Kota Semarang untuk tahun-tahun yang akan datang.

"Karena pada akhirnya, warisan terbaik bukanlah organisasi yang kita miliki, melainkan organisasi yang tetap hidup meski tidak lagi membutuhkan kita."

Tentang Kariswisata

Saya seorang ASN pariwisata yang belajar dari perjalanan, menggerakkan masyarakat melalui desa wisata, mendokumentasikan pendakian, dan berbagi pengalaman hidup termasuk perjuangan hemodialisis.


Saya adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdikan diri di bidang pariwisata. Bagi saya, tugas ASN tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan publik, tetapi juga menghadirkan inovasi, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.

Selama lebih dari 16 tahun berkarya di sektor pariwisata, saya aktif menginisiasi berbagai gerakan kolaboratif dan menjadi pendiri (founder) sejumlah asosiasi, komunitas, serta paguyuban usaha pariwisata yang bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan daya saing usaha pariwisata, memperluas pemasaran destinasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Beberapa organisasi dan komunitas yang saya inisiasi antara lain:

  • Komunitas Rintisan Wisata Kreatif (RIWIK)
  • Paguyuban Entertainment Semarang
  • Asosiasi Kafe Semarang
  • Asosiasi Spa Sehat Semarang
  • SIBARISTA (Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata)

Teriakan Saat Sahur Diklat CS Kur Kaliurang

"Tidak semua keputusan penting diambil di ruang rapat. Ada yang justru lahir di antrean sahur, pada pukul tiga dini hari, ketika orang-orang masih mengantuk dan makanan yang tersedia tampak tidak cukup untuk semua peserta."



"Stop... semua berhenti. Cewek tetap di depan. Cowok geser ke belakang. Saya di antrean paling belakang!"

Begitulah kira-kira teriakan yang spontan keluar dari mulutku saat menjalani diklat di Kaliurang pada bulan Ramadan.

Sahur hari pertama berlangsung kacau. Makanan yang tersedia tampak jauh lebih sedikit dibanding jumlah peserta. Aku memperkirakan tidak semua orang akan kebagian.

Tanpa berpikir panjang, aku meminta seluruh peserta laki-laki mundur ke belakang. Alasannya sederhana. Jika makanan memang kurang, dampaknya akan lebih besar bila yang tidak kebagian adalah peserta perempuan. Selain itu, secara fisik laki-laki biasanya lebih mampu menahan lapar dibanding perempuan.

Saat itu aku sendiri ragu apakah teriakan tersebut didengar atau tidak. Peserta yang menginap di hotel bukan hanya berasal dari kelompokku, tetapi juga dari beberapa perusahaan lain. Bahkan sebagian teman satu angkatan pun baru kukenal hari itu saat berkumpul dan berangkat menuju pusat pendidikan.

Alhamdulillah, semua berjalan sesuai harapan. Para peserta laki-laki bergeser ke belakang.

Dan dugaanku ternyata benar.


Tujuh orang terakhir dalam antrean, semuanya laki-laki, tidak mendapatkan nasi maupun lauk. Kami hanya berbagi beberapa sendok sayur yang masih tersisa.

Yang tidak kusangka, peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan di berbagai kelas selama diklat berlangsung. Mungkin karena banyak yang melihatnya sebagai keputusan yang cepat sekaligus adil dalam situasi yang mendadak.

Keesokan harinya pihak hotel langsung berbenah. Sahur melimpah. Snack malam melimpah. Bahkan menjelang kepulangan, masih banyak makanan yang kami bawa untuk dibagikan kepada masyarakat di sepanjang perjalanan karena jumlahnya berlebih.


Refleksi

Bertambahnya usia membuatku semakin menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu muncul dalam peristiwa-peristiwa besar. Justru sering kali ia diuji dalam momen-momen kecil yang datang tanpa peringatan.

Saat itu aku tidak memiliki jabatan apa pun atas sebagian besar peserta yang mengantre. Aku juga tidak punya waktu untuk bermusyawarah atau menghitung jumlah makanan secara pasti. Yang ada hanya pengamatan, pertimbangan, dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Dari peristiwa sederhana itu aku belajar bahwa pemimpin bukanlah orang yang selalu berada di depan untuk mendapatkan bagian pertama. Pemimpin justru harus siap berdiri paling belakang ketika ada kemungkinan tidak semua orang mendapatkan haknya.

Dan sampai hari ini aku masih bersyukur. Bukan karena teriakanku menjadi terkenal di lingkungan diklat, melainkan karena pada saat yang singkat itu aku diberi kejernihan berpikir untuk mendahulukan orang lain sebelum diriku sendiri.

Kadang kebijaksanaan tidak lahir dari keputusan yang rumit. Ia muncul dari keberanian melakukan hal yang benar pada saat yang tepat.

Monday, June 8, 2026

Saya Berbohong kepada 30 Pendaki Malam Itu : Sebuah keputusan kecil di lereng Merbabu yang mengajarkan arti kepemimpinan dan tanggung jawab.

Tidak semua kebohongan lahir dari niat buruk.
Ada kalanya seseorang memilih menyembunyikan sebagian kebenaran demi mencegah kepanikan, menjaga kebersamaan, atau bahkan menyelamatkan banyak orang dari risiko yang tidak perlu.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1995, saat saya memimpin pendakian terbuka ke Puncak Merbabu yang diikuti sekitar tiga puluh orang dari berbagai kampus di Yogyakarta. Malam itu, di tengah gelapnya lereng gunung, saya mengambil keputusan yang hingga hari ini masih saya ingat dengan jelas.
Saya mengatakan kepada seluruh peserta bahwa kami salah jalur.
Padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu.



Pendakian yang Dimulai dari Cerita Mulut ke Mulut

Malam yang Gelap di Jalur Wekas Pelajaran yang Baru Saya Pahami Bertahun-tahun Kemudian Jejak yang Sebenarnya

Tahun 1995 adalah masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Belum ada media sosial, belum ada grup WhatsApp, bahkan telepon seluler masih menjadi barang mewah.

Informasi pendakian yang saya selenggarakan menyebar hanya melalui cerita dari teman ke teman, dari teman kos ke teman kos lainnya.

Di luar dugaan, terkumpul sekitar tiga puluh peserta.

Ada yang berasal dari UGM, USD, dan UNY. Namun mereka tidak mewakili organisasi kampus, unit kegiatan mahasiswa, atau kelompok pecinta alam tertentu. Mereka hanyalah anak-anak muda yang tertarik ikut mendaki setelah mendengar cerita dari temannya.

Untuk ukuran pertengahan tahun 1990-an, jumlah tersebut tergolong besar.

Yang membuat suasana semakin menarik, jumlah peserta laki-laki dan perempuan relatif seimbang. Saya membayangkan perjalanan yang meriah, penuh tawa, dan menjadi kenangan indah bagi semua peserta.

Namun ketika hari keberangkatan tiba, saya segera menyadari satu hal.

Sebagian besar peserta ternyata adalah pendaki pemula.

Melihat perlengkapan mereka, rasanya lebih seperti rombongan yang akan berkemah daripada mendaki gunung setinggi lebih dari 3.000 meter.

Tas mereka penuh makanan.

Jaket dan pakaian yang dibawa berwarna-warni.

Banyak yang mengenakan aksesori yang menurut mereka keren untuk dipakai di gunung.

Tetapi perlengkapan penting justru banyak yang kurang.

Air minum yang dibawa sering kali tidak mencukupi. Peralatan pendakian yang memadai juga terbatas.

Untungnya panitia inti sudah mengantisipasi kondisi tersebut.

Kami membawa tenda, sleeping bag, nesting, kompor gas portabel, logistik kelompok, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Perbandingannya kira-kira satu set perlengkapan lengkap untuk setiap lima peserta.

Akibatnya, lima orang panitia inti harus membawa beban jauh lebih berat daripada peserta lainnya. Beberapa bahkan menggunakan dua carrier sekaligus agar semua perlengkapan kelompok dapat terangkut.

Hanya dua hal yang tetap diwajibkan dibawa sendiri oleh setiap peserta: air minum dan ponco.

Rute yang kami pilih adalah jalur Wekas.

Jalur ini sudah sangat akrab bagi saya. Sejak tahun 1993 saya sering mendaki Merbabu melalui jalur tersebut. Setiap kali datang, saya hampir selalu singgah di rumah Pak Topar yang menjadi tempat berkumpul para pendaki saat itu.

Hubungan kami sudah seperti keluarga.

Saya mengenal istri Pak Topar, juga kedua anaknya, Mas Yanto dan Mas Panggih. Setiap kali datang, kami sering menghabiskan waktu berbincang dan bernostalgia sebelum memulai pendakian.

Malam itu seluruh peserta beristirahat terlebih dahulu di basecamp.

Rencananya kami akan mulai berjalan pukul 00.00. Dengan perkiraan waktu tempuh lima hingga enam jam, kami berharap bisa tiba di puncak menjelang matahari terbit tanpa perlu mendirikan tenda atau beristirahat terlalu lama di jalur.

Tepat tengah malam seluruh peserta dibangunkan.

Setelah briefing singkat, pengecekan anggota, dan memastikan seluruh perlengkapan siap, rombongan mulai bergerak meninggalkan basecamp menuju lereng Merbabu yang gelap.

Awalnya perjalanan berlangsung lancar.

Namun setelah melewati area makam, jalur mulai terasa membingungkan. Dalam kegelapan malam kami memilih jalur yang mengarah lebih ke kanan, menuju kawasan air terjun.

Sekitar satu setengah jam kemudian, saat berjalan paling depan memimpin rombongan, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya terhenti.

Di tanah yang masih lembap terlihat jejak-jejak yang menurut saya sangat mencurigakan.

Jejak itu bukan jejak manusia.

Bentuknya menyerupai tapak kaki binatang besar yang baru saja turun mencari air minum. Bekasnya masih basah dan tampak jelas di jalur yang kami lalui.

Saya berhenti beberapa saat.

Memperhatikan jejak itu.

Memikirkan berbagai kemungkinan.

Di belakang saya ada tiga puluh peserta.

Sebagian besar adalah pendaki pemula.

Saya tahu satu hal.

Jika saya mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan, kepanikan bisa menyebar dengan sangat cepat.

Dalam kelompok besar yang belum berpengalaman, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada ancaman yang sesungguhnya.

Saya mengambil keputusan.

"Saya rasa kita salah jalur."

"Kita kembali ke jalur makam."

Tidak ada yang membantah.

Semua mengikuti instruksi dan berbalik arah.

Malam itu mereka mengira keputusan tersebut diambil karena kesalahan navigasi.

Padahal alasan sebenarnya berbeda.

Saya hanya tidak ingin rombongan terus berjalan menuju tempat yang menurut naluri saya tidak aman.

Dan yang lebih penting lagi, saya tidak ingin rasa takut menyebar ke seluruh kelompok.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, saya sering merenungkan kembali keputusan yang saya ambil malam itu.

Apakah saya berbohong?

Mungkin iya.

Tetapi saya belajar bahwa hidup tidak selalu sesederhana hitam dan putih.

Saat masih muda saya mengira seorang pemimpin harus selalu mengatakan semua yang ia ketahui kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Namun pengalaman mengajarkan hal yang berbeda.

Dalam situasi tertentu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjaga agar kelompok tetap tenang, tetap utuh, dan tetap selamat.

Saya membayangkan jika saat itu saya berkata,

"Ada jejak binatang buas di depan."

Mungkin sebagian peserta akan panik.

Mungkin ada yang ingin turun gunung.

Mungkin ada yang berlari tanpa arah.

Mungkin rombongan yang semula tertib justru menjadi tercerai-berai.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian bukan selalu tentang maju menghadapi bahaya.

Kadang keberanian justru berupa kemampuan untuk mundur beberapa langkah demi menghindari risiko yang tidak perlu.

Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan yang benar akan langsung dipahami oleh orang lain.

Seorang pemimpin sering kali harus memikul pertimbangan yang tidak terlihat oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Tidak semua alasan bisa dijelaskan saat itu juga.

Tidak semua keputusan akan terlihat masuk akal pada saat keputusan itu diambil.

Kadang penjelasannya baru bisa dipahami bertahun-tahun kemudian.

Hari ini saya bahkan sudah lupa seperti apa bentuk pasti jejak yang saya lihat malam itu.

Namun saya tidak pernah lupa pelajaran yang ditinggalkannya.

Jejak yang paling membekas ternyata bukan jejak binatang di tanah yang basah.

Melainkan jejak tanggung jawab yang tertanam dalam pikiran saya.

Karena menjadi pemimpin bukan berarti berjalan paling depan agar terlihat paling hebat.

Menjadi pemimpin berarti bersedia memikul beban yang tidak dilihat orang lain dan mengambil keputusan yang mungkin tidak populer demi keselamatan bersama.

Dan saya belajar satu hal lagi:

Tidak semua kemenangan diraih dengan menaklukkan puncak. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil membawa semua orang pulang dengan selamat.