Wednesday, February 25, 2026

Di Antara Kabut dan Namamu

Hujan turun rintik-rintik ketika kami tiba di Pos 2. Jam di tanganku menunjuk pukul 14.17, tapi langit sudah seperti menjelang senja. Kabut menggantung rendah, menyapu pucuk-pucuk cemara gunung yang berdiri diam seperti saksi bisu perjalanan kami.

Tenda dome biru yang kami dirikan sedikit miring karena tanahnya lembek. Kau tertawa kecil melihatku berkali-kali membenarkan pasak.

“Mas, dari tadi dipukul terus, kasihan tanahnya,” katamu sambil menyerahkan palu.

Aku hanya tersenyum. Dalam dingin setinggi ini, suaramu terasa lebih hangat dari kompor portable yang menyala di sudut tenda.

Malam turun perlahan.

Hujan berubah deras. Butir-butir air menghantam flysheet tenda dengan ritme yang aneh, seperti detak jantung yang dipercepat. Pendaki lain terdiam di dome masing-masing. Sesekali terdengar tawa kecil dari kelompok sebelah, tapi selebihnya hanya suara hujan dan angin.

Kau duduk di depanku, membungkus tubuh dengan jaket tebal warna krem. Wajahmu memerah oleh dingin, atau mungkin oleh sesuatu yang lain.

“Mas, kalau nanti sampai puncak… kamu janji nggak bakal ninggalin aku?” tanyamu tiba-tiba.

Pertanyaan itu jatuh begitu saja, lebih berat dari carrier 60 liter yang kupanggul sejak bawah.

Aku terdiam.

Di gunung seperti ini, orang sering jujur tanpa sadar. Mungkin karena sadar, hidup memang sesederhana satu langkah ke langkah berikutnya.

“Kita sampai bareng, ya turun juga bareng,” jawabku pelan.

Kau tersenyum. Senyum yang entah kenapa membuat kabut di luar terasa makin tebal.

Tengah malam kami bangun untuk summit attack. Udara menggigit sampai ke tulang. Senter-senter kepala menyala membentuk barisan cahaya kecil menembus gelap. Nafasmu terdengar berat, tapi kau tak pernah mengeluh.

Di tanjakan terakhir sebelum puncak, langkahmu melambat.

“Capek?” tanyaku.

Kau menggeleng, tapi tanganmu mencari tanganku.

Aku menggenggamnya. Dingin. Sangat dingin. Tapi genggaman itu seperti janji yang tak perlu diucapkan keras-keras.

Langit mulai memucat ketika kami tiba di puncak. Angin bertiup kencang, hampir menjatuhkan topiku. Lautan awan terhampar luas di bawah sana, seperti kapas raksasa yang tak berujung.

Tak ada kata-kata beberapa saat.

Kau berdiri di sampingku. Rambutmu berantakan diterpa angin. Matamu berkaca-kaca.

“Akhirnya…” bisikmu.

Aku tak tahu apakah itu tentang puncak ini… atau tentang kita.

Tanpa sadar kau memelukku. Pelukan yang hangat di tengah suhu yang hampir beku. Jantungku berdetak lebih keras dari suara angin yang mengaum.

Tak ada ciuman berlebihan. Tak ada drama. Hanya dua manusia yang berdiri di titik tertinggi, mencoba memahami arti kebersamaan.

Di puncak itu, aku sadar sesuatu.

Gunung selalu mengajarkan tentang jarak dan waktu. Tentang sabar menapaki. Tentang kuat menahan lelah. Dan tentang tidak meninggalkan, meski jalan terjal.

Kita turun menjelang siang. Matahari mulai tinggi. Kabut menghilang sedikit demi sedikit.

Tapi entah kenapa, justru di perjalanan turun itulah hatiku terasa lebih berat.

Karena aku tahu, puncak selalu indah… tapi tidak pernah untuk ditinggali terlalu lama.

Dan mungkin, cinta juga begitu.

Ia tumbuh di antara langkah, di sela dingin dan lelah. Namun yang membuatnya berarti bukan puncaknya, melainkan perjalanan yang ditempuh bersama.

Di antara kabut dan namamu, aku belajar satu hal:

Sampai atau tidak sampai, yang penting bukan ketinggiannya.

Tapi siapa yang tetap berjalan di samping kita.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.