Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, December 21, 2025

Tebing Pantai Siung

Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.

Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.

Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.

Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.

Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.

Aneh.
Kami sendiri tak benar-benar tahu obrolan itu milik siapa dengan siapa.

Teman?
Sahabat?
Saudara?
Atau dua orang yang diam-diam saling menunggu keberanian?

Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.

Namun pagi ini membantah semuanya.

Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.

Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?

Tebung Pantai Siung

Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.

Aku belum menemukannya.

Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.

Dan di antara deru ombak yang tak pernah lelah, aku akhirnya mengerti:
ada perpisahan yang tak pernah mengucapkan salam.
Ada kehilangan yang datang bukan karena pergi,
melainkan karena kita terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Aku masih mencari.
Dan mungkin, sebagian dari diriku akan terus mencari—
bahkan jika gadis berkaos putih itu hanya tinggal sebagai kenangan
yang tak pernah benar-benar pulang.


Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.


Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI


Friday, October 27, 2017

Perkenalan yang begitu singkat menyisakan kesan yang mendalam diantara kita. Belum sampai berpisah 1 jam sejak perkenalan itu kita sudah berbalas sms lebih dari 20 kali. Itu artinya kita berbalas sms 1 kali dalam 3 detik. Sms perkenalan yang semakin menambah kesan diantara kita masing - masing.
Sejujurnya aku tidak tahu, mengapa kesan itu begitu mendalam. Posturmu kecil, wajahmu biasa saja tiada yang istimiwa, baju yang kamu kenakan jauh dari feysionabel...semua biasa tak ada yang unik. Namun jari-jari tanganku terus menari-nari diatas keypad handpone membalas sms mu. Iya sms mu karena saat itu belum ada whatshap, belum model bbm, masih menggunakan hp jadul yang menyediakan aplikasi untuk telpon dan sms doang.
Pembicaraan melalui sms itu terus berlanjut hari demi hari, bulan demi bulan dengan sesekali telpon untuk sekedar melepas kangen suara masing -masing. Komunikasi yang berujung pada janjian untuk bertemu lagi, untuk ngobrol secara langsung bertatap muka, untuk melanjutkan cerita via sms yang tentu ada keterbatasan-keterbatasan.
Simpang Lima Semarang adalah pilihan kita sebagai tempat "kencan pertama". Mengapa simpang lima? saat itu kita becanda,"siapa tahu ada yang menulis dijadikan novel, lalu di filmkan seperti menara eifel". Tentu candaan yang tiada juntrungnya, hanya sekedar untuk memantapkan hati bahwa simpang lima adalah pilihan yang tepat untuk momen yang istimewa.
Saat yang kita nanti-nantikan akhinya tiba, tanggal tiga puluh satu desember malam satu januari. Aku sengaja mengenakan baju identitasku sebagai pendaki yaitu celana lapangan hitam dan baju flanel kotak-kotak merah hitam, sementara kamu... wow ***???? Se akan aku tak mengenalimu. Bagaikan bidadari turun dari langit, semua yang kamu kenakan sangat indah, kamu begitu anggun, begitu istimiwa. Aku hanya diam tak sanggup berkata - kata ketika sedetik kemudian kau menyalamiku dengan senyum menghiasi bibirmu.
Pertemuan ini begitu berarti bagi kita untuk saling mengenal dan mendekatkan diri. Entah berapa judul kau ceritakan tentang kisahmu, dan aku mendengarkan dengan seksama. Sama sekali aku tidak berbalas cerita karena semua yang kau certakan adalah tentangku, iya tentangku. Tak kuduga segala gerak - gerikku semasa jadi aktifis mahasiswa kau tahu semua. Segala aktifitasku memotivasi anak-anak muda kau paham segalanya. Bahkan visi midi hidupku, kau mampu menerjemahkannya dengan sangat gamblang. Kau mengetahui tentangku jauh lebih banyak daripada aku mengerti tentangku sendiri.
Pertemuan yang seperti tiada akhir. Pergantian tahun telah lewat dan pengunjung simpang lima sudah beranjak pulang satu demi satu. Tapi kamu terus bercerita, menumpahkan segala kesanmu tentangku bak banjir bandang di musim hujan. Aku tak ingin memotong cerita walau hanya sekedar mengajak beralih tempat hingga simpang lima benar-benar menjadi sepi dan hening. Barulah kamu sadar bahwa semua tontonan peringatan tahun baru sudah berakhir, semua penontonnya pun sudah lenyap kembali ke rumah masing-masing. Lalu kau mengajakku masuk ke mobil, lalu mendekapku erat -erat sampai tertidur... iya kamu tertidur di dekapanku bersama mimpi - mimpi indahmu...

Saturday, October 21, 2017

"Tak begitu jelas apa yang kamu katakan, bisikan lirih itulah pertama kali kau ungkapkan perasaanmu. Tak banyak saksi yang mendegar kecuali pepohonan dan binatang liar di lereng merbabu. Kini cintamu telah pergi, perhatianmu, sayangmu dan senyumanmu tak lagi dapat kurasakan dan kunikmati..."

Mengenangmu adalah hal terindah yang dapat kulakukan kini. Berbagai memori sejak bertemu pertama kali sangat jelas tertanam di hatiku yang paling dalam, Sebuah perkenalan  unik yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Tidak aneh kalo sejak pertemuan itu aku selalu berusaha mencari informasi tentangmu, mencari strategi bagaimana dapat berbincang denganmu dan tak kalah pentingnya adalah mencari cara agar mendapat kesempatan menyatakan isi hatiku padamu.

Tak banyak yang mengatakan kamu cantik, karena faktanya kulitmu hitam, matamu ekonomis dan hidungmu minimalis. Namun bagiku kombinasi mata, hidung, kulit dan rambut panjangmu itu menimbulkan pesona wanita jawa. Wanita yang menjadi idaman setiap lelaki pada jaman kerajaan-kerajaan nusantara lama. Wanita yang menjadi simbol kebahagiaan rumah tangga para pujangga cinta pada jamannya.

Umurku tak terlalu muda, namun juga tidak terlalu tua bagi wanita se umuranmu. Dapat dibilang pas sebagai figur pembimbing dan penuntun pasangannya. Tak heran sikapku diam-diam yang selalu memperhatikanmu, kau jawab dengan bahasa tubuh menerima kehadiranku. Dan ketika kesempatan itu tiba, aku mengungkapkan kekaguman dan perhatianku padamu di lereng gunung merbabu.

Sepersekian detik kamu tampak kaget, sepersekian detik kemudian wajahmu berbinar dan senyum lebarmu menandakan kamu menerimaku dengan sepenuh hati walau belum kau ucapkan. Dan ketika aku minta menjawab dengan kata-kata, hanya bisikan lirih yang keluar sambil tersipu malu dan tak lama kemudian bersembunyi dalam dekapanku. Kita berpelukan lama dalam keheningan, disaksikan pohon-pohon dan burung hutan di lereng merbabu. Mulai saat itulah.. syair dan catatan harian yang indah menghiasi hari - hariku hingga kemaren.

Kini hatimu telah pergi, tak ada lagi kata-kata lembut menyapaku setiap pagi, tiada suaramu yang merdu menghiburku di lereng pegunungan saat ku terluka dan tak ada seorang wanita jawa yang selalu menyemangati disaat ku jatuh. 

Walaupun kau pergi aku tak dendam, walaupun kau menyakiti tapi aku tak ingin membalasnya. Aku masih ingin mengenang cintamu untuk selamanya. aku masih ingin mengenang memori indah hari-hari kita bersama. Aku masih ingin menikmati pagi sendirian di lereng pegunungan sambil menikmati kopi hangat, seakan kau hadir menemaniku di sana. Kukenang cintamu tuk selamanya, kunikmati desiran lembut di dada ini sampai kemudian menghilang dengan sendirinya.

Lereng Ungaran 13.11.16





Friday, October 13, 2017


Mengarang itu gampang adalah buku tentang menulis yang pertama kali kubaca dan memberikan dorongan, semangat dan motivasi untuk memulai menulis. Di dalam buku itu secara detail bagaimana cara mencari ide, menuangkan dalam bentuk tulisan dan membahasnya secara dalam tentang ide yang akan ditulis dijelaskan oleh pengarangnya yaitu bang Arswendo Atmowiloto.

Bang Arswendo memang salah satu pengarang yang menurutku hebat, karya fiksinya banyak yang nge hits, karya non fiksinya pun banyak penggemarnya termasuk saya. Beberapa buku karangan beliau yang sangat melegenda adalah #canting #senopatipamungkas dan #tembangtanahair

Selanjutnya bang wendo juga memberikan gambaran bahwa mengarang itu bisa dilakukan anak-anak, remaja, orang tua dan bahkan pensiunan. Seperti naik sepeda atau berenang, sekali menguasai bisa seterusnya. Tak akan lupa atau menjadi tidak bisa. Yang diperlukan hanyalah mengenal unsur-unsur dalam mengarang : ide atau ilham, cara menyusun, menggambarkan tokoh. Selebihnya latihan. Rasanya asal bukan buta huruf total, semua orang bisa mengarang. Begitu pendapat bang wendo.

Mengarang ternyata semudah membaca. Coba Sekarang Juga!


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata