Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Tuesday, October 24, 2017

Belum lengkap rasanya ke Kota Semarang klo belum selfie di Tugu Muda. Monumen pertempuran 5 hari di Semarang mengusir penjajah yang saat ini menjadi salah satu icon kota semarang. Selain bernilai sejarah, tugu muda juga berada dikawasan pariwisata yang ramai dikunjungi terintegrasi dengan Lawangsewu. Gereja katedral, Museum Mandala Bakti, Gedung Perdamaian dan juga kampung pelangi yang saat ini lagi ngehits sampai mancanegara.

Perkenalanku dengan gadis ayu itu berawal dari tugu muda. Gadis peranakan berparas cantik, berkulit putih dan berambut pirang. Sekilas memandang tak ada perbedaan dengan gadis-gadis peranakan yang lain, namun bila semakin lama dipandang akan muncul daya magnet luar biasa yang membuat kita tertarik padanya.

Awal mula pasti kebingungan, apa gerangan yang menarik dari gadis peranakan satu ini. Sampai aku dapat menyimpulkan bahwa matanya indah, dan wajahnya yang bulat  mengingatkanku pada bulan purnama. Maka aku panggil dia,"wulandari". Berasal dari  bahasa jawa yang berarti bulan purnama. Nama yang pas dan pantas untuk seorang gadis peranakan se cantik dia.

Sengaja memilihkan untuknya nama jawa walaupun berwajah china agar mengingatkanku bahwa dia adalah simbol percampuran 2 etnis, sekaligus akulturasi budaya yang sangat kental bernuansa wisata. Wajar saja dasar filosofis itu digunakan karena wisata selalu butuh "story telling" dan bila belum ada ceritanya bisa dibuat "story making" nya.

Setiap hari aku membahas tentangnya, setiap saat aku ingin bersamanya. Wulandari muda yang kukenal 5 tahun lalu, kini telah tumbuh dewasa dan matang untuk ukuran seusianya. Semua bagian tubuhnya menarik untuk di pandang, semua perilakunya menarik untuk diperhatikan dan kepribadiannya sangat menarik untuk dipahami. Semakin aku membahas wulandari, aku semakin merasa tertarik untuk mengenalinya dan semakin mengenalinya.

Hingga suatu ketika aku merasa kehilangan...
Tak kulihat lagi wajah bulatnya, matanya yang bening berbinar ..
tak kujumpai lagi gerak gerik lincah manjanya
tak kutemukan lagi keberadaannya..


ternyata aku hanya bermimpi sesaat :)

Saturday, October 21, 2017

"Tak begitu jelas apa yang kamu katakan, bisikan lirih itulah pertama kali kau ungkapkan perasaanmu. Tak banyak saksi yang mendegar kecuali pepohonan dan binatang liar di lereng merbabu. Kini cintamu telah pergi, perhatianmu, sayangmu dan senyumanmu tak lagi dapat kurasakan dan kunikmati..."

Mengenangmu adalah hal terindah yang dapat kulakukan kini. Berbagai memori sejak bertemu pertama kali sangat jelas tertanam di hatiku yang paling dalam, Sebuah perkenalan  unik yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Tidak aneh kalo sejak pertemuan itu aku selalu berusaha mencari informasi tentangmu, mencari strategi bagaimana dapat berbincang denganmu dan tak kalah pentingnya adalah mencari cara agar mendapat kesempatan menyatakan isi hatiku padamu.

Tak banyak yang mengatakan kamu cantik, karena faktanya kulitmu hitam, matamu ekonomis dan hidungmu minimalis. Namun bagiku kombinasi mata, hidung, kulit dan rambut panjangmu itu menimbulkan pesona wanita jawa. Wanita yang menjadi idaman setiap lelaki pada jaman kerajaan-kerajaan nusantara lama. Wanita yang menjadi simbol kebahagiaan rumah tangga para pujangga cinta pada jamannya.

Umurku tak terlalu muda, namun juga tidak terlalu tua bagi wanita se umuranmu. Dapat dibilang pas sebagai figur pembimbing dan penuntun pasangannya. Tak heran sikapku diam-diam yang selalu memperhatikanmu, kau jawab dengan bahasa tubuh menerima kehadiranku. Dan ketika kesempatan itu tiba, aku mengungkapkan kekaguman dan perhatianku padamu di lereng gunung merbabu.

Sepersekian detik kamu tampak kaget, sepersekian detik kemudian wajahmu berbinar dan senyum lebarmu menandakan kamu menerimaku dengan sepenuh hati walau belum kau ucapkan. Dan ketika aku minta menjawab dengan kata-kata, hanya bisikan lirih yang keluar sambil tersipu malu dan tak lama kemudian bersembunyi dalam dekapanku. Kita berpelukan lama dalam keheningan, disaksikan pohon-pohon dan burung hutan di lereng merbabu. Mulai saat itulah.. syair dan catatan harian yang indah menghiasi hari - hariku hingga kemaren.

Kini hatimu telah pergi, tak ada lagi kata-kata lembut menyapaku setiap pagi, tiada suaramu yang merdu menghiburku di lereng pegunungan saat ku terluka dan tak ada seorang wanita jawa yang selalu menyemangati disaat ku jatuh. 

Walaupun kau pergi aku tak dendam, walaupun kau menyakiti tapi aku tak ingin membalasnya. Aku masih ingin mengenang cintamu untuk selamanya. aku masih ingin mengenang memori indah hari-hari kita bersama. Aku masih ingin menikmati pagi sendirian di lereng pegunungan sambil menikmati kopi hangat, seakan kau hadir menemaniku di sana. Kukenang cintamu tuk selamanya, kunikmati desiran lembut di dada ini sampai kemudian menghilang dengan sendirinya.

Lereng Ungaran 13.11.16





📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata