Sunday, June 14, 2026

Puncak Bisa Menunggu, Keselamatan Tidak

Dulu saya mengira keberhasilan seorang pendaki hanya ditentukan oleh satu hal: berhasil atau tidak mencapai puncak.
Semakin tinggi gunung yang didaki, semakin berat jalurnya, semakin besar pula kebanggaan yang dirasakan. Setidaknya begitulah cara berpikir saya saat masih muda.
Namun sebuah malam di lereng Gunung Sumbing mengubah cara pandang itu.
Malam yang dingin. Sangat dingin.
Malam yang membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berdiri di atas puncak.


Setelah pengalaman mendaki sendirian ke Gunung Sumbing beberapa waktu sebelumnya, saya masih beberapa kali kembali ke gunung itu. Kadang sendirian, kadang bersama teman.
Saat itu mendaki gunung belum seramai sekarang. Belum ada media sosial. Belum ada istilah konten. Belum banyak orang naik gunung hanya karena sedang tren.
Kalau akhir pekan ada belasan rombongan pendaki saja sudah terasa ramai. Selebihnya gunung lebih sering sepi dan sunyi.

Suatu malam Minggu saya mendaki berdua bersama seorang teman.
Kami memilih jalur baru yang saat itu lebih kami sukai. Dari basecamp naik sedikit, lalu berbelok ke kanan di dekat masjid. Kalau lurus itu jalur lama yang lebih umum digunakan.
Kami mulai berjalan sekitar pukul sembilan malam.
Malam itu bulan hampir purnama. Langit cerah tanpa awan. Cahaya bulan menerangi lereng gunung dengan sangat jelas sehingga kami hampir tidak perlu menggunakan senter.
Awalnya saya senang.
Mendaki di bawah cahaya bulan memang terasa menyenangkan. Jalur terlihat jelas dan suasana gunung terasa begitu indah.
Tetapi beberapa saat kemudian saya mulai merasakan sesuatu.
Dingin.
Mula-mula biasa saja.
Lalu semakin lama semakin menjadi.
Saat memasuki area kebun milik penduduk yang membentang cukup jauh di lereng bawah Sumbing, hawa dingin mulai benar-benar terasa.
Orang-orang tua di kampung biasa menyebut kondisi seperti itu dengan istilah bediding.
Saat itu saya baru benar-benar memahami arti kata tersebut.
Dinginnya bukan sekadar membuat kulit merinding.
Rasanya seperti masuk perlahan ke dalam tubuh.
Masuk melalui ujung jari.
Merambat ke tangan.
Lalu menjalar ke kaki dan seluruh badan.
Padahal angin hampir tidak ada.
Udara malam terasa tenang.
Tetapi justru karena itulah dingin seperti diam-diam menyelimuti tubuh tanpa terasa.
Perlengkapan mendaki saya saat itu juga masih sangat sederhana.
Belum punya sleeping bag.
Belum punya tenda dome.
Belum punya jaket gunung yang layak.
Saya hanya memakai celana training panjang, jaket biasa, dan membawa sarung untuk tambahan penghangat.
Kalau sekarang melihat perlengkapan pendaki yang lengkap, saya sering tersenyum sendiri mengingat betapa sederhananya perlengkapan yang kami bawa saat itu.
Awalnya saya masih mencoba mengabaikan rasa dingin itu.
Saya berpikir, nanti juga hangat kalau terus jalan.
Ternyata saya salah.
Semakin lama berjalan, tubuh justru semakin kehilangan tenaga.
Tangan mulai terasa kaku.
Jari-jari sulit digerakkan dengan leluasa.
Sesekali rahang bergetar menahan dingin.
Yang paling mengganggu justru rasa kantuk yang datang begitu hebat.
Kelopak mata terasa berat.
Langkah kaki mulai lambat.
Pikiran terasa kosong.
Beberapa kali saya seperti berjalan tanpa benar-benar sadar sedang memikirkan apa.
Saat berhenti sebentar untuk beristirahat, tubuh langsung menggigil hebat.
Gigi mulai beradu.
Saat itulah saya mulai merasa situasinya tidak normal.
Saya menoleh ke teman saya.
"Wes, istirahat sik wae."
Dia mengangguk tanpa banyak bicara.
Rupanya dia juga merasakan hal yang sama.
Masalahnya, berhenti berjalan justru membuat badan semakin dingin.
Kami mencoba mencari tempat yang bisa digunakan untuk berlindung.
Tidak lama kemudian kami menemukan sebuah gubuk kecil di area kebun penduduk.
Di dalamnya tersimpan pupuk kandang dari kotoran sapi yang sudah kering.
Baunya memang tidak enak.
Tetapi malam itu kami tidak sedang memilih tempat yang nyaman.
Kami hanya butuh tempat untuk bertahan dari dingin.
Akhirnya kami masuk ke dalam.
Ponco kami gelar sebagai alas.
Sarung kami gunakan sebagai selimut.
Lalu bagian luar tubuh kami tutup lagi menggunakan ponco sehingga bentuknya mirip sleeping bag darurat.
Ajaibnya, cara sederhana itu sangat membantu.
Memang belum bisa disebut hangat.
Tetapi setidaknya tubuh tidak lagi menggigil sekeras sebelumnya.
Entah berapa lama kami tertidur.
Saat terbangun saya melihat jam tangan.
Pukul dua dini hari.
Di luar masih gelap.
Udara masih terasa sangat dingin.
Saya membangunkan teman saya.
Kami duduk bersandar di dinding gubuk sambil berpikir.
Lanjut atau turun?
Itulah pertanyaan yang muncul saat itu.
Tidak ada jawaban cepat.
Karena kami sadar, keputusan yang salah bisa membawa masalah.
Akhirnya kami sepakat membuat minuman dan makanan hangat terlebih dahulu.
Kompor parafin segera dinyalakan.
Air direbus.
Indomie dimasak.
Kopi dibuat.
Sederhana sekali.
Tetapi dalam kondisi seperti itu, semangkuk Indomie panas dan secangkir kopi terasa jauh lebih mewah daripada makanan apa pun.
Perlahan tubuh mulai terasa hangat kembali.
Pikiran juga mulai jernih.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.
Bukan karena gengsi.
Bukan karena takut dianggap gagal.
Tetapi karena setelah makan dan minum hangat, kami merasa kondisi tubuh sudah cukup baik untuk melanjutkan pendakian dengan aman.
Sebelum berangkat, saya mengeluarkan beberapa bungkus Indomie dan kopi dari dalam tas.
Saya gantungkan di salah satu sudut gubuk menggunakan kantong plastik.
Lalu saya menulis pesan singkat di secarik kertas.
Isinya ucapan terima kasih.
Saya tidak tahu siapa pemilik gubuk itu.
Saya juga tidak pernah bertemu dengannya.
Tetapi malam itu gubuk sederhana miliknya telah membantu dua pendaki yang sedang kesulitan menghadapi dinginnya Gunung Sumbing.
Beberapa menit kemudian kami kembali melangkah.
Meninggalkan gubuk.
Meninggalkan kehangatan sementara yang telah menyelamatkan kami.
Dan meneruskan perjalanan menuju puncak.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, yang paling saya ingat justru bukan puncaknya.
Bukan pula foto-foto perjalanan yang saat itu bahkan hampir tidak ada.
Yang saya ingat adalah dinginnya malam itu.
Gubuk kecil di tengah kebun.
Indomie panas yang mengepul di tengah udara pegunungan.
Dan keputusan sederhana untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari situlah saya belajar bahwa gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
Gunung adalah tempat untuk belajar rendah hati.
Karena sekuat apa pun manusia, alam selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa kita memiliki batas.
Dan sejak malam itu saya percaya, tidak ada puncak yang lebih berharga daripada pulang dengan selamat.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama sebuah pendakian bukanlah mencapai puncak.
Melainkan kembali ke rumah dan bisa menceritakan perjalanan itu kepada orang-orang yang kita cintai.
Puncak bisa menunggu.
Keselamatan tidak.

Friday, June 12, 2026

Mengapa Ida Menangis Saat Diklat Berakhir?

Kadang saya heran sendiri.

Bagaimana mungkin orang-orang yang beberapa hari sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, berasal dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbeda, bahkan sebagian besar mungkin tidak akan pernah bertemu jika bukan karena sebuah diklat, tiba-tiba bisa begitu akrab?

Bahkan ada yang sampai menangis saat harus berpisah.



Pengalaman itulah yang saya alami ketika mengikuti Diklat Customer Service Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kaliurang, Yogyakarta, pada bulan puasa September 2008.

Beberapa waktu lalu saya sudah bercerita tentang "teriakan legendaris saat sahur" ketika makanan yang tersedia terasa tidak akan cukup untuk semua peserta. Entah karena kejadian itu atau karena sebab lain yang saya sendiri tidak tahu, perlahan teman-teman dari PT yang sama mulai mempercayai saya sebagai semacam pemimpin informal kelompok.

Padahal saya juga peserta biasa.

Setiap malam setelah kegiatan diklat selesai, kami menjalankan salat Tarawih berjamaah. Karena kebetulan tidak ada yang maju, saya sering diminta menjadi imam dengan modal hafalan surat-surat pendek yang pas-pasan.

Setelah Tarawih biasanya kami belum langsung tidur.

Justru saat itulah suasana paling seru dimulai.

Kami duduk lesehan, mengobrol ngalor-ngidul, saling cerita tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal lucu yang kadang tidak penting sama sekali.

Sesekali saya mengajak teman-teman memainkan berbagai permainan kelompok yang dulu sering saya dapatkan saat aktif di organisasi pecinta alam maupun Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Tujuannya sederhana.

Biar tidak bosan.

Biar lebih akrab.

Biar yang pendiam mau bicara.

Biar yang pemalu berani tertawa.

Tanpa sadar malam demi malam membuat jarak di antara kami semakin tipis.

Yang tadinya hanya teman satu kelas mulai terasa seperti teman seperjuangan.

Ada yang pendiam.

Ada yang cerewet.

Ada yang lucu.

Ada yang jahil.

Ada yang pemalu.

Ada juga yang kalau ngomong ceplas-ceplos tanpa rem.

Namun justru perbedaan itulah yang membuat suasana menjadi hidup.

Menjelang akhir diklat, kami membuat polling iseng-iseng sekadar untuk menambah kenangan.

Hasilnya pun lucu-lucu.

Ada kategori wanita tercantik, gadis terlugu, gadis terlucu, gadis pemalu, wanita keibuan, wanita tomboy, cewek paling imut, sampai gadis paling nyebelin.

Kalau dibaca sekarang mungkin terdengar konyol.

Tetapi saat itu semua tertawa.

Semua menikmati.

Tidak ada yang tersinggung.

Yang ada justru rasa bahwa kami sudah cukup dekat untuk saling bercanda.

Namun ternyata momen yang paling membekas justru terjadi ketika diklat selesai.

Saat kami menunggu jemputan pulang, tiba-tiba Ida atau Farida Evandari terlihat menangis.

Awalnya hanya berkaca-kaca.

Lalu air matanya mulai jatuh.

Semakin lama semakin deras.

Pipinya memerah.

Wajahnya terlihat menahan haru.

Bahkan ketika berpamitan dengan teman-teman yang lain, tangisnya belum juga berhenti.

Saat itu saya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan sambil bertanya-tanya.

Mengapa Ida menangis?

Apakah karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru dikenalnya beberapa hari?

Apakah karena suasana kebersamaan ini terasa terlalu cepat berakhir?

Ataukah karena selama empat hari itu kami benar-benar telah menjadi sebuah keluarga kecil yang saling menerima apa adanya?

Saya tidak pernah benar-benar menanyakan jawabannya kepada Ida.

Mungkin sampai hari ini pun hanya Ida yang tahu alasan sebenarnya.

Tetapi saya belajar satu hal.

Ternyata membangun kekompakan tidak selalu membutuhkan waktu lama.

Kadang yang dibutuhkan hanya kebersamaan yang tulus.

Empat hari memang terlalu singkat untuk disebut persahabatan sejati.

Namun empat hari ternyata cukup untuk menumbuhkan rasa memiliki.

Cukup untuk membuat orang saling peduli.

Cukup untuk membuat orang merasa kehilangan ketika harus berpisah.

Dan jika ada seseorang yang sampai menangis saat perpisahan tiba, mungkin itu pertanda bahwa kebersamaan yang dibangun selama empat hari tersebut bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Refleksi

Bertahun-tahun kemudian, saya semakin yakin bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk disatukan.

Yang sulit adalah menciptakan ruang yang membuat orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Ketika seseorang merasa diterima, ia akan mulai membuka hati.

Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan mulai percaya.

Dan ketika seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga, maka hubungan yang terbangun sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan kerja atau organisasi.

Saya melihat hal yang sama berulang kali dalam berbagai perjalanan hidup saya.

Di organisasi pecinta alam.

Di panjat tebing.

Di komunitas.

Di paguyuban.

Di desa wisata.

Bahkan di lingkungan kerja.

Yang membuat sebuah kelompok bertahan bukanlah aturan yang ketat atau program yang hebat.

Yang membuat orang ingin tetap bersama adalah kenangan yang mereka bangun bersama.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari tangisan Ida sore itu.

Bukan sekadar sedih karena pulang.

Tetapi sedih karena harus meninggalkan sebuah kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Dan bagi saya, tidak ada sertifikat atau kuesioner evaluasi yang lebih jujur daripada air mata itu.

Karena air mata tidak bisa dibuat-buat.

Ia muncul ketika hati merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

Sejak saat itu saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan pertama-tama membuat orang bekerja bersama.

Tugasnya adalah membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.

Karena ketika hati sudah menyatu, kekompakan biasanya akan tumbuh dengan sendirinya.

Ketika Para Rival Mau Duduk Satu Meja : Kisah Lahirnya Pagersemar yang Menyatukan Industri Hiburan Semarang

Tidak semua perubahan besar lahir dari kekuasaan, jabatan, atau anggaran besar. Kadang perubahan dimulai dari sebuah meja, beberapa kursi, dan keberanian mengajak orang-orang yang selama ini saling bersaing untuk kembali berbicara.


Pada kurun waktu 2010–2016, industri hiburan Kota Semarang berkembang sangat pesat. Karaoke, spa, biliar, dan berbagai usaha hiburan tumbuh di banyak sudut kota. Pertumbuhan tersebut membawa dampak positif bagi perekonomian, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan yang berpotensi memecah hubungan antar pelaku usaha.

Perpindahan terapis antar spa, perpindahan LC antar karaoke, perebutan SDM dan manajer operasional, hingga persaingan usaha yang kurang sehat menjadi dinamika yang hampir setiap hari terdengar di lapangan. Tidak jarang hubungan antar pengelola usaha menjadi renggang hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui komunikasi.

Melihat kondisi tersebut, muncul sebuah gagasan sederhana:

"Kalau para pelaku usaha sering bertemu dan berkomunikasi, maka banyak persoalan bisa diselesaikan sebelum berubah menjadi konflik."

Berbekal keyakinan itu, langkah pertama dimulai dengan mengundang sekitar 30 pelaku usaha hiburan Kota Semarang yang terdiri dari 15 usaha spa dan 15 usaha karaoke. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk wadah komunikasi bersama.

Namun membangun organisasi ternyata tidak semudah mengumpulkan orang dalam satu ruangan.

Setelah pertemuan awal, gerakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Karena itu dilakukan konsolidasi yang lebih kecil dan lebih fokus dengan melibatkan lima tokoh industri hiburan Kota Semarang:

  • FIC Indarto (Inul Vizta)
  • Teguh (XT Shiatsu)
  • Agus AW (Elysium Spa)
  • Ujug Sutardi (Eleven Spa)
  • Untung (Nine Feet Bilyar)

Kelima tokoh tersebut kemudian bertindak sebagai tim formatur. FIC Indarto dipercaya sebagai Ketua Formatur, sementara Kariswisata berperan sebagai pengarah sekaligus penggagas.


Melalui berbagai pertemuan dan komunikasi yang intensif, akhirnya berhasil dihimpun 43 usaha hiburan yang mewakili sebagian besar brand besar industri hiburan Kota Semarang saat itu.

22 April 2017: Pagersemar Resmi Berdiri

Bertempat di E Plaza Semarang, dilaksanakan deklarasi dan penandatanganan berdirinya Paguyuban Usaha Hiburan Semarang.

Berbagai usulan nama bermunculan.

Melalui proses musyawarah dan voting, akhirnya terpilih nama:

PAGERSEMAR
Paguyuban Usaha Hiburan Semarang

Nama yang sederhana, tetapi mengandung harapan besar: menjadi paguyuban yang mampu menjaga komunikasi dan harmoni di tengah persaingan dunia usaha.

Pada saat itu, FIC Indarto terpilih sebagai Ketua Umum pertama, sementara Kariswisata dipercaya sebagai Pembina sekaligus Founder.


Dari Wadah Komunikasi Menjadi Mitra Strategis Pemerintah

Seiring berjalannya waktu, Pagersemar tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pelaku usaha hiburan.

Organisasi ini mulai berkembang menjadi mitra strategis pemerintah dalam berbagai program pembinaan dan pengawasan usaha hiburan.

Berbagai kegiatan berhasil dilaksanakan, antara lain:

✓ Pertemuan rutin bulanan anggota

✓ Kesepakatan bersama terkait perpindahan terapis antar usaha spa

✓ Sosialisasi HIV/AIDS bersama Dinas Kesehatan

✓ Sosialisasi Peraturan Daerah bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Satpol PP

✓ Kerja sama dengan Kepolisian, Bea Cukai, PPA, Renata, dan berbagai instansi terkait lainnya

Perlahan namun pasti, hubungan antar pelaku usaha yang sebelumnya sering diwarnai kecurigaan mulai berubah menjadi komunikasi dan kolaborasi.

Ujian Terbesar: Pandemi Covid-19

Tahun 2020 menjadi masa paling berat bagi industri hiburan.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, sektor hiburan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Banyak usaha harus tutup sementara, aktivitas ekonomi berhenti, dan ribuan pekerja kehilangan sumber penghasilan.

Di tengah situasi tersebut, Pagersemar mengambil peran penting.

Organisasi ini menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha, sekaligus membantu proses adaptasi menuju era normal baru.

Beberapa kontribusi yang dilakukan antara lain:

  • Menyusun SOP Operasional Usaha Hiburan bersama Disbudpar Kota Semarang
  • Menjadi penghubung komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha
  • Menyalurkan bantuan sosial bagi SDM sektor hiburan
  • Mengawal proses pemulihan usaha hiburan pasca pandemi

Masa sulit itu membuktikan bahwa organisasi yang dibangun untuk komunikasi ternyata memiliki fungsi yang jauh lebih besar ketika krisis datang.

Memasuki Tahun Ke-9

Hingga hari ini Pagersemar telah melewati empat periode kepengurusan:

  1. FIC Indarto
  2. Negro
  3. Syahili
  4. Indarto (Pjs)

Pergantian kepemimpinan berjalan, tetapi semangat kebersamaan tetap terjaga.

Dari sebuah gagasan sederhana untuk mengurangi konflik, Pagersemar tumbuh menjadi organisasi yang mampu mengayomi anggota, menyalurkan aspirasi pelaku usaha, serta menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Semarang.

Tujuan awalnya pun perlahan tercapai.

Konflik berkurang.

Komunikasi terbangun.

Kolaborasi tumbuh.

Dan industri hiburan Kota Semarang memiliki rumah bersama.

Refleksi: Ketika Organisasi Hidup Melampaui Pendiri

Ketika pertama kali menginisiasi Pagersemar, saya tidak pernah membayangkan organisasi ini akan bertahan hingga hampir satu dekade.

Saat itu target saya sebenarnya sangat sederhana: mengurangi konflik.

Tidak ada bayangan tentang penghargaan, kemitraan strategis, ataupun organisasi yang bertahan lintas kepengurusan.

Yang saya lihat waktu itu hanyalah banyak orang baik yang sedang berjuang membangun usahanya masing-masing, tetapi terlalu sering terjebak dalam kesalahpahaman, persaingan yang tidak perlu, dan komunikasi yang terputus.

Hari ini saya memahami satu pelajaran yang sangat berharga.

Membangun organisasi bukan tentang menjadi orang yang paling hebat.

Tetapi tentang menghadirkan ruang agar banyak orang bisa tumbuh bersama.

Bukan tentang siapa yang menjadi ketua.

Bukan tentang siapa yang paling dikenal.

Bukan pula tentang siapa yang paling lama bertahan.

Melainkan tentang apakah organisasi itu masih memberi manfaat ketika para pendirinya sudah tidak lagi berada di garis depan.

Bagi saya, keberhasilan terbesar Pagersemar bukanlah jumlah anggotanya.

Bukan pula program-program yang pernah dilaksanakan.

Melainkan kenyataan bahwa para pelaku usaha yang dulu sering berseberangan, kini mampu duduk bersama, berdiskusi bersama, bahkan memperjuangkan kepentingan bersama.

Itulah tanda bahwa sebuah komunitas telah menemukan jiwanya.

Karena sesungguhnya organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu tokoh, melainkan organisasi yang tetap hidup, tetap bergerak, dan tetap bermanfaat ketika tokoh-tokoh pendirinya mulai menepi.

Sebagai inisiator dan founder, saya hanya bisa tersenyum melihat perjalanan ini.

Ternyata benih kecil yang ditanam bertahun-tahun lalu masih terus tumbuh.

Memberi teduh.

Memberi manfaat.

Dan menyatukan banyak orang yang dahulu berdiri di sisi yang berbeda.

Bravo Pagersemar.

Semoga tetap menjadi rumah bersama, tempat bersilaturahmi, tempat belajar, tempat berjuang, dan tempat menjaga harmoni industri hiburan Kota Semarang untuk tahun-tahun yang akan datang.

"Karena pada akhirnya, warisan terbaik bukanlah organisasi yang kita miliki, melainkan organisasi yang tetap hidup meski tidak lagi membutuhkan kita."

Tentang Kariswisata

Saya seorang ASN pariwisata yang belajar dari perjalanan, menggerakkan masyarakat melalui desa wisata, mendokumentasikan pendakian, dan berbagi pengalaman hidup termasuk perjuangan hemodialisis.


Saya adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdikan diri di bidang pariwisata. Bagi saya, tugas ASN tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan publik, tetapi juga menghadirkan inovasi, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.

Selama lebih dari 16 tahun berkarya di sektor pariwisata, saya aktif menginisiasi berbagai gerakan kolaboratif dan menjadi pendiri (founder) sejumlah asosiasi, komunitas, serta paguyuban usaha pariwisata yang bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan daya saing usaha pariwisata, memperluas pemasaran destinasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Beberapa organisasi dan komunitas yang saya inisiasi antara lain:

  • Komunitas Rintisan Wisata Kreatif (RIWIK)
  • Paguyuban Entertainment Semarang
  • Asosiasi Kafe Semarang
  • Asosiasi Spa Sehat Semarang
  • SIBARISTA (Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata)

Teriakan Saat Sahur Diklat CS Kur Kaliurang

"Tidak semua keputusan penting diambil di ruang rapat. Ada yang justru lahir di antrean sahur, pada pukul tiga dini hari, ketika orang-orang masih mengantuk dan makanan yang tersedia tampak tidak cukup untuk semua peserta."



"Stop... semua berhenti. Cewek tetap di depan. Cowok geser ke belakang. Saya di antrean paling belakang!"

Begitulah kira-kira teriakan yang spontan keluar dari mulutku saat menjalani diklat di Kaliurang pada bulan Ramadan.

Sahur hari pertama berlangsung kacau. Makanan yang tersedia tampak jauh lebih sedikit dibanding jumlah peserta. Aku memperkirakan tidak semua orang akan kebagian.

Tanpa berpikir panjang, aku meminta seluruh peserta laki-laki mundur ke belakang. Alasannya sederhana. Jika makanan memang kurang, dampaknya akan lebih besar bila yang tidak kebagian adalah peserta perempuan. Selain itu, secara fisik laki-laki biasanya lebih mampu menahan lapar dibanding perempuan.

Saat itu aku sendiri ragu apakah teriakan tersebut didengar atau tidak. Peserta yang menginap di hotel bukan hanya berasal dari kelompokku, tetapi juga dari beberapa perusahaan lain. Bahkan sebagian teman satu angkatan pun baru kukenal hari itu saat berkumpul dan berangkat menuju pusat pendidikan.

Alhamdulillah, semua berjalan sesuai harapan. Para peserta laki-laki bergeser ke belakang.

Dan dugaanku ternyata benar.


Tujuh orang terakhir dalam antrean, semuanya laki-laki, tidak mendapatkan nasi maupun lauk. Kami hanya berbagi beberapa sendok sayur yang masih tersisa.

Yang tidak kusangka, peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan di berbagai kelas selama diklat berlangsung. Mungkin karena banyak yang melihatnya sebagai keputusan yang cepat sekaligus adil dalam situasi yang mendadak.

Keesokan harinya pihak hotel langsung berbenah. Sahur melimpah. Snack malam melimpah. Bahkan menjelang kepulangan, masih banyak makanan yang kami bawa untuk dibagikan kepada masyarakat di sepanjang perjalanan karena jumlahnya berlebih.


Refleksi

Bertambahnya usia membuatku semakin menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu muncul dalam peristiwa-peristiwa besar. Justru sering kali ia diuji dalam momen-momen kecil yang datang tanpa peringatan.

Saat itu aku tidak memiliki jabatan apa pun atas sebagian besar peserta yang mengantre. Aku juga tidak punya waktu untuk bermusyawarah atau menghitung jumlah makanan secara pasti. Yang ada hanya pengamatan, pertimbangan, dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Dari peristiwa sederhana itu aku belajar bahwa pemimpin bukanlah orang yang selalu berada di depan untuk mendapatkan bagian pertama. Pemimpin justru harus siap berdiri paling belakang ketika ada kemungkinan tidak semua orang mendapatkan haknya.

Dan sampai hari ini aku masih bersyukur. Bukan karena teriakanku menjadi terkenal di lingkungan diklat, melainkan karena pada saat yang singkat itu aku diberi kejernihan berpikir untuk mendahulukan orang lain sebelum diriku sendiri.

Kadang kebijaksanaan tidak lahir dari keputusan yang rumit. Ia muncul dari keberanian melakukan hal yang benar pada saat yang tepat.

Monday, June 8, 2026

Saya Berbohong kepada 30 Pendaki Malam Itu : Sebuah keputusan kecil di lereng Merbabu yang mengajarkan arti kepemimpinan dan tanggung jawab.

Tidak semua kebohongan lahir dari niat buruk.
Ada kalanya seseorang memilih menyembunyikan sebagian kebenaran demi mencegah kepanikan, menjaga kebersamaan, atau bahkan menyelamatkan banyak orang dari risiko yang tidak perlu.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1995, saat saya memimpin pendakian terbuka ke Puncak Merbabu yang diikuti sekitar tiga puluh orang dari berbagai kampus di Yogyakarta. Malam itu, di tengah gelapnya lereng gunung, saya mengambil keputusan yang hingga hari ini masih saya ingat dengan jelas.
Saya mengatakan kepada seluruh peserta bahwa kami salah jalur.
Padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu.



Pendakian yang Dimulai dari Cerita Mulut ke Mulut

Malam yang Gelap di Jalur Wekas Pelajaran yang Baru Saya Pahami Bertahun-tahun Kemudian Jejak yang Sebenarnya

Tahun 1995 adalah masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Belum ada media sosial, belum ada grup WhatsApp, bahkan telepon seluler masih menjadi barang mewah.

Informasi pendakian yang saya selenggarakan menyebar hanya melalui cerita dari teman ke teman, dari teman kos ke teman kos lainnya.

Di luar dugaan, terkumpul sekitar tiga puluh peserta.

Ada yang berasal dari UGM, USD, dan UNY. Namun mereka tidak mewakili organisasi kampus, unit kegiatan mahasiswa, atau kelompok pecinta alam tertentu. Mereka hanyalah anak-anak muda yang tertarik ikut mendaki setelah mendengar cerita dari temannya.

Untuk ukuran pertengahan tahun 1990-an, jumlah tersebut tergolong besar.

Yang membuat suasana semakin menarik, jumlah peserta laki-laki dan perempuan relatif seimbang. Saya membayangkan perjalanan yang meriah, penuh tawa, dan menjadi kenangan indah bagi semua peserta.

Namun ketika hari keberangkatan tiba, saya segera menyadari satu hal.

Sebagian besar peserta ternyata adalah pendaki pemula.

Melihat perlengkapan mereka, rasanya lebih seperti rombongan yang akan berkemah daripada mendaki gunung setinggi lebih dari 3.000 meter.

Tas mereka penuh makanan.

Jaket dan pakaian yang dibawa berwarna-warni.

Banyak yang mengenakan aksesori yang menurut mereka keren untuk dipakai di gunung.

Tetapi perlengkapan penting justru banyak yang kurang.

Air minum yang dibawa sering kali tidak mencukupi. Peralatan pendakian yang memadai juga terbatas.

Untungnya panitia inti sudah mengantisipasi kondisi tersebut.

Kami membawa tenda, sleeping bag, nesting, kompor gas portabel, logistik kelompok, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Perbandingannya kira-kira satu set perlengkapan lengkap untuk setiap lima peserta.

Akibatnya, lima orang panitia inti harus membawa beban jauh lebih berat daripada peserta lainnya. Beberapa bahkan menggunakan dua carrier sekaligus agar semua perlengkapan kelompok dapat terangkut.

Hanya dua hal yang tetap diwajibkan dibawa sendiri oleh setiap peserta: air minum dan ponco.

Rute yang kami pilih adalah jalur Wekas.

Jalur ini sudah sangat akrab bagi saya. Sejak tahun 1993 saya sering mendaki Merbabu melalui jalur tersebut. Setiap kali datang, saya hampir selalu singgah di rumah Pak Topar yang menjadi tempat berkumpul para pendaki saat itu.

Hubungan kami sudah seperti keluarga.

Saya mengenal istri Pak Topar, juga kedua anaknya, Mas Yanto dan Mas Panggih. Setiap kali datang, kami sering menghabiskan waktu berbincang dan bernostalgia sebelum memulai pendakian.

Malam itu seluruh peserta beristirahat terlebih dahulu di basecamp.

Rencananya kami akan mulai berjalan pukul 00.00. Dengan perkiraan waktu tempuh lima hingga enam jam, kami berharap bisa tiba di puncak menjelang matahari terbit tanpa perlu mendirikan tenda atau beristirahat terlalu lama di jalur.

Tepat tengah malam seluruh peserta dibangunkan.

Setelah briefing singkat, pengecekan anggota, dan memastikan seluruh perlengkapan siap, rombongan mulai bergerak meninggalkan basecamp menuju lereng Merbabu yang gelap.

Awalnya perjalanan berlangsung lancar.

Namun setelah melewati area makam, jalur mulai terasa membingungkan. Dalam kegelapan malam kami memilih jalur yang mengarah lebih ke kanan, menuju kawasan air terjun.

Sekitar satu setengah jam kemudian, saat berjalan paling depan memimpin rombongan, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya terhenti.

Di tanah yang masih lembap terlihat jejak-jejak yang menurut saya sangat mencurigakan.

Jejak itu bukan jejak manusia.

Bentuknya menyerupai tapak kaki binatang besar yang baru saja turun mencari air minum. Bekasnya masih basah dan tampak jelas di jalur yang kami lalui.

Saya berhenti beberapa saat.

Memperhatikan jejak itu.

Memikirkan berbagai kemungkinan.

Di belakang saya ada tiga puluh peserta.

Sebagian besar adalah pendaki pemula.

Saya tahu satu hal.

Jika saya mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan, kepanikan bisa menyebar dengan sangat cepat.

Dalam kelompok besar yang belum berpengalaman, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada ancaman yang sesungguhnya.

Saya mengambil keputusan.

"Saya rasa kita salah jalur."

"Kita kembali ke jalur makam."

Tidak ada yang membantah.

Semua mengikuti instruksi dan berbalik arah.

Malam itu mereka mengira keputusan tersebut diambil karena kesalahan navigasi.

Padahal alasan sebenarnya berbeda.

Saya hanya tidak ingin rombongan terus berjalan menuju tempat yang menurut naluri saya tidak aman.

Dan yang lebih penting lagi, saya tidak ingin rasa takut menyebar ke seluruh kelompok.

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, saya sering merenungkan kembali keputusan yang saya ambil malam itu.

Apakah saya berbohong?

Mungkin iya.

Tetapi saya belajar bahwa hidup tidak selalu sesederhana hitam dan putih.

Saat masih muda saya mengira seorang pemimpin harus selalu mengatakan semua yang ia ketahui kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Namun pengalaman mengajarkan hal yang berbeda.

Dalam situasi tertentu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjaga agar kelompok tetap tenang, tetap utuh, dan tetap selamat.

Saya membayangkan jika saat itu saya berkata,

"Ada jejak binatang buas di depan."

Mungkin sebagian peserta akan panik.

Mungkin ada yang ingin turun gunung.

Mungkin ada yang berlari tanpa arah.

Mungkin rombongan yang semula tertib justru menjadi tercerai-berai.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian bukan selalu tentang maju menghadapi bahaya.

Kadang keberanian justru berupa kemampuan untuk mundur beberapa langkah demi menghindari risiko yang tidak perlu.

Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan yang benar akan langsung dipahami oleh orang lain.

Seorang pemimpin sering kali harus memikul pertimbangan yang tidak terlihat oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Tidak semua alasan bisa dijelaskan saat itu juga.

Tidak semua keputusan akan terlihat masuk akal pada saat keputusan itu diambil.

Kadang penjelasannya baru bisa dipahami bertahun-tahun kemudian.

Hari ini saya bahkan sudah lupa seperti apa bentuk pasti jejak yang saya lihat malam itu.

Namun saya tidak pernah lupa pelajaran yang ditinggalkannya.

Jejak yang paling membekas ternyata bukan jejak binatang di tanah yang basah.

Melainkan jejak tanggung jawab yang tertanam dalam pikiran saya.

Karena menjadi pemimpin bukan berarti berjalan paling depan agar terlihat paling hebat.

Menjadi pemimpin berarti bersedia memikul beban yang tidak dilihat orang lain dan mengambil keputusan yang mungkin tidak populer demi keselamatan bersama.

Dan saya belajar satu hal lagi:

Tidak semua kemenangan diraih dengan menaklukkan puncak. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil membawa semua orang pulang dengan selamat.

Menembus Malam Tanpa Cahaya : Kisah Pendakian Mencari Jawaban Bag 2

Senterku mati di tengah pendakian. Aku sendirian di Gunung Sumbing pada pukul empat dini hari. Ketika akhirnya bertemu seseorang di dekat Watu Kotak, aku merasa sedikit lega. Sampai beberapa detik kemudian kusadari bahwa seharusnya tidak ada siapa pun di san



Setelah berpikir dan berkonsentrasi beberapa saat, aku memutuskan untuk terus melanjutkan pendakian menuju puncak.

Saat itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Udara pegunungan yang dingin dan segar justru menambah semangatku untuk terus melangkah. Senter memang mati, tetapi aku masih memiliki tekad untuk mencapai puncak.

Dengan sangat hati-hati aku merayap naik melewati tebing-tebing curam menuju punggungan panjang Gunung Sumbing. Sesampainya di punggungan, jalur terasa sedikit lebih mudah. Cahaya bulan muda yang samar ternyata cukup membantu membedakan jalur dengan jurang di sekitarnya.

Aku berjalan perlahan.

Pelan, tetapi terus bergerak.

Tujuanku hanya satu: Watu Kotak.
Bagi para pendaki Sumbing, Watu Kotak adalah salah satu landmark yang paling dikenal. Sebuah penanda bahwa jalur yang ditempuh sudah benar dan puncak sudah tidak terlalu jauh lagi.
Menjelang subuh aku akhirnya tiba di sana.
Namun justru di tempat itulah aku mengalami peristiwa yang sampai sekarang masih sulit kujelaskan.
Di dekat Watu Kotak tampak seorang kakek sedang duduk bersila.

Yang membuatku heran, beliau tampak santai sekali. Di depannya ada sebungkus nasi yang masih mengepulkan uap hangat. Dalam udara pegunungan yang dingin, aroma nasi hangat itu terasa begitu nyata.

Kakek itu menoleh kepadaku.

Tersenyum.
Lalu menyapa dengan bahasa Jawa yang halus.
"Sugeng enjang, Nak..."
"Monggo mampir sekedap. Wonten nasi bungkus hangat, saged dipun icipi."
Aku sempat menoleh ke arloji.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul empat pagi.
Aku menjawab singkat.
"Matur nuwun, Kek. Mangke mawon menawi sampun saking puncak."

Kemudian aku melanjutkan langkah menuju jalur sebelah kiri. Saat itu jalur lurus ke atas sebagian longsor sehingga pendaki diarahkan memutar ke kiri.

Baru beberapa langkah aku berjalan.
Tiba-tiba pikiranku seperti tersambar sesuatu.
Tunggu...
Bagaimana mungkin?
Pukul empat pagi.
Di dekat puncak Sumbing.
Ada seorang kakek duduk sendirian menikmati nasi hangat.
Sendirian.
Aku langsung berhenti.

Perlahan menoleh kembali ke arah Watu Kotak.

Dan...

Tidak ada siapa-siapa.
Kakek itu hilang.
Benar-benar hilang.
Tidak ada sosok.
Tidak ada suara.
Tidak ada bekas orang duduk.
Tidak ada apa-apa.
Saat itu seluruh keberanianku runtuh seketika.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berbalik arah.
Lari.

Sekencang-kencangnya.

Aku tidak lagi memikirkan puncak.
Tidak lagi memikirkan rasa penasaran.
Tidak lagi memikirkan nilai empat yang membuatku datang ke gunung.
Yang ada hanya satu keinginan.
Turun.
Turun secepat mungkin.

Anehnya, perjalanan turun yang biasanya memakan waktu berjam-jam terasa begitu singkat. Dalam kondisi ketakutan luar biasa, aku sampai di basecamp hanya sekitar 45 menit.

Padahal ketika naik menuju Watu Kotak aku membutuhkan waktu hampir lima setengah jam.

Sesampainya di basecamp aku hanya sempat menulis pesan singkat bahwa aku sudah turun, lalu berjalan ke jalan raya menunggu bus pertama yang lewat.

Bus menuju Magelang datang.

Aku naik.

Dari Magelang aku melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Pagi itu juga aku sudah kembali di kamar kosku di Pogung Kidul.

Belum pukul sembilan pagi.

Aku membuka pintu kamar.

Melepas ransel.

Lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa mandi, tanpa makan, tanpa melakukan apa pun.

Aku tertidur pulas.

Ketika terbangun, hari sudah sore.

Jam menunjukkan pukul lima.

Aku duduk di tepi ranjang dan mulai mengingat kembali seluruh perjalanan sejak keberangkatan.

Nilai empat yang membuatku kecewa.

Keputusan mendaki seorang diri.

Hutan bambu yang membuat bulu kuduk merinding.

Suara pinus yang seperti ribuan lebah.

Senter yang mati.

Perjalanan panjang dalam gelap.

Dan akhirnya pertemuan dengan seorang kakek di dekat Watu Kotak.

Aku mencoba mencari penjelasan.
Mungkin pendaki lain.
Mungkin warga sekitar.
Mungkin aku terlalu lelah.
Mungkin juga ada penjelasan yang sampai sekarang belum kupahami.
Namun semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Aku lalu menengadah dan berbisik pelan.
"Ya Tuhan..."

"Semua ini sebenarnya ingin mengajarkan apa kepadaku?"

Dari Ruang Ujian ke Puncak Sumbing: Perjalanan Mencari Jawaban

Apa yang akan Anda lakukan jika mendapat nilai 4 dari 100?

Saya memilih naik Gunung Sumbing sendirian.Keputusan yang terdengar nekat itu membawa saya berjalan di tengah hutan pinus pada malam Jumat, tanpa teman, tanpa penerangan yang memadai, dan akhirnya bertemu dengan sebuah pengalaman yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.

Suatu hari aku merasa jengkel, kesal, sekaligus kecewa. Dalam sebuah ujian mata kuliah di Jurusan Teknik Geologi UGM, aku mendapatkan nilai 4 dari 100.

Empat. 
Bukan empat puluh.
Bukan empat belas.
Tetapi empat.


Nilai itu seperti menghantam harga diriku. Sebagai mahasiswa UGM dan alumni SMA Taruna Nusantara yang selama ini terbiasa berprestasi, nilai tersebut terasa sangat memalukan. Aku tidak marah kepada dosen. Aku justru marah kepada diriku sendiri.

Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran sekaligus mencari jawaban. Kenapa aku bisa jatuh sedalam ini?

Akhirnya aku memutuskan pergi mendaki Gunung Sumbing. Bagiku gunung selalu menjadi tempat terbaik untuk berdialog dengan diri sendiri.

Aku mulai berkemas. Sebuah ransel besar berkapasitas 80 liter kuisi dengan pakaian ganti, tiga liter air minum, enam bungkus Indomie, beberapa kue untuk camilan, serta beberapa bungkus Nutrisari. Tak lupa perlengkapan standar pendakian: senter, ponco, kompor parafin, spiritus, nesting, korek api cadangan, sarung, jaket tebal, celana lapangan, dan sepatu hiking.

Menjelang sore aku berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Wonosobo. Malam mulai turun ketika aku tiba di Garung, jalur pendakian Sumbing yang saat itu masih menjadi jalur utama.

Saat itu aku belum mengenal Pak Suwanto, sosok yang beberapa tahun kemudian menjadi seperti saudara sendiri dan menjadikan rumahnya sebagai basecamp setiap kali aku mendaki Sumbing.

Di basecamp aku menunggu.
Sepi.
Tidak ada pendaki lain yang bersiap naik.
Aku bertanya kepada penjaga basecamp.
"Pak, apa malam ini ada rombongan yang mau naik?"
Beliau menggeleng.
"Ini malam Jumat, Mas. Jarang ada yang naik gunung malam Jumat."
Deg...
Saat itulah aku sadar bahwa aku salah menghitung hari.
Selama perjalanan aku mengira malam itu adalah malam Minggu.
Aku duduk terdiam.
Naik tidak ya?
Naik tidak ya?
Naik sendirian ke Sumbing bukan perkara ringan. Apalagi pada tahun 1994, ketika jalur belum seramai sekarang dan alat komunikasi praktis belum ada.

Namun entah kenapa ada suara kecil dalam diriku yang berkata:

"Kalau sampai sini lalu pulang, kamu tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sedang kamu cari."

Akhirnya aku berdiri.
Merapatkan jaket.
Mengencangkan tali ransel.
Lalu mengucapkan pelan:
"Bismillahirrahmanirrahim."
Pukul 23.30 aku mulai melangkah.

Jalur bambu di pinggir kampung menjadi gerbang pertama menuju hutan. Suasana malam begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara binatang malam dan derit batang-batang bambu yang saling bergesekan tertiup angin.

Bulu kudukku meremang.
Beberapa kali aku berhenti dan menoleh ke belakang.
Dalam hati muncul pertanyaan yang terus berulang.
"Apa aku lanjut?"
"Atau turun saja?"
Namun kakiku tetap melangkah.

Memasuki hutan pinus, suasana justru semakin mencekam. Angin yang menerpa ribuan daun pinus menciptakan suara mendengung panjang seperti ribuan lebah raksasa yang beterbangan di atas kepalaku.

Tidak ada suara manusia.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada teman bicara.
Hanya aku dan hutan.
Jujur saja, malam itu aku takut.
Sangat takut.

Akhirnya aku duduk di sebuah pematang jalur. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napas yang mulai tidak teratur.

Aku berdoa.
Lalu mencoba mendengarkan suara-suara alam itu dengan cara yang berbeda.
Ternyata ketika rasa takut mulai hilang, suara yang tadi terasa menyeramkan berubah menjadi sesuatu yang menenangkan.
Derit bambu menjadi musik.
Dengung pinus menjadi irama.
Malam yang gelap terasa bersahabat.
Aku tersenyum sendiri.
Lalu berdiri dan kembali berjalan.
Namun ujian malam itu ternyata belum selesai.

Setelah melewati sungai kecil dan mulai menanjak pada lereng yang lebih curam, tiba-tiba senter yang kubawa mati total.

Aku mencoba mengganti posisi baterai.
Menepuk-nepuk badan senter.
Membongkar dan memasangnya kembali.
Tetap tidak menyala.
Kini aku benar-benar sendirian di tengah hutan Gunung Sumbing tanpa penerangan sedikit pun.
Aku menatap kegelapan di depanku.
Lalu menghela napas panjang.
"Ya Tuhan..."
"Dapat nilai empat saja sudah cukup berat."
"Kenapa malam ini Engkau masih menambah ujian lagi?"
Aku berdiri terpaku beberapa saat.
Di depanku hanya ada gelap.
Gelap yang seolah tidak memiliki ujung.

Dan aku harus memutuskan.... (bersambung)

Sunday, June 7, 2026

Survival di Hutan Kota: Pengalaman Unik dan Menggelikan

Saya tidak pernah menyangka, niat sederhana untuk bertahan hidup di tengah hutan kota justru berubah menjadi pengalaman paling unik, menegangkan, sekaligus menggelikan yang pernah saya alami. Di tempat yang tampaknya biasa saja, saya belajar bahwa bertahan hidup tidak selalu melawan alam, kadang justru melawan kepanikan dan kebodohan diri sendiri.

Sebagai aktivis pecinta alam dan anggota MAPALA Magmagama Teknik Geologi UGM, saya pernah mengalami banyak petualangan menarik. Salah satu yang paling berkesan justru bukan terjadi di puncak gunung atau tengah hutan belantara, melainkan saat menjadi panitia kegiatan survival anggota muda.

Pada masa kejayaannya, Magmagama dikenal luas melalui Lomba Lintas Geowisata Berwawasan Lingkungan. Sebuah kompetisi yang memadukan petualangan, konservasi lingkungan, dan kepariwisataan. Peserta diuji fisik, kemampuan navigasi medan menggunakan peta dan kompas, survival, PPGD, manajemen perbekalan, hingga pemahaman konservasi dan Sapta Pesona.



Untuk menghasilkan anggota yang tangguh, proses pendidikannya juga tidak ringan. Setelah mendapatkan materi kelas, calon anggota harus menjalani survival selama 5 hari 5 malam. Bekalnya hanya 11 batang korek api, secuil garam, pakaian yang melekat di badan, serta memilih membawa jaket atau sarung. Ponco wajib dibawa sebagai shelter agar peserta tidak merusak alam dengan menebang pohon untuk membuat bivak.

Biasanya survival dilaksanakan di kawasan Gunung Merapi. Namun saat itu Merapi sedang berstatus siaga dan banyak gunung lain juga ditutup untuk kegiatan alam bebas. Setelah berdiskusi panjang, panitia akhirnya memilih Alas Wanagama di Gunungkidul sebagai lokasi survival.

Saat survei lokasi, kami sempat dibuat waswas karena menemukan biawak besar di sekitar Kali Opak yang berbatasan dengan kawasan hutan. Akhirnya perhatian panitia lebih banyak tertuju pada aspek keamanan peserta dan ketersediaan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Karena terlalu fokus pada hal-hal tersebut, kami justru lupa satu hal yang sangat mendasar. Kami lupa bahwa Alas Wanagama ternyata tidak benar-benar terpencil.

Lima hari kemudian, kegiatan survival selesai. Anehnya, hampir semua peserta tampak segar bugar. Tidak ada yang terlihat kurus, lemas, atau kekurangan tenaga sebagaimana biasanya peserta survival setelah lima hari hidup dari hasil alam. Awalnya kami bangga. "Wah, ternyata kemampuan survival angkatan ini luar biasa." Namun kebanggaan itu tidak bertahan lama.

Dari berbagai cerita yang akhirnya terungkap, ternyata beberapa peserta menemukan "jalur evakuasi rahasia". Saat malam hari mereka diam-diam keluar dari kawasan hutan, berjalan menuju permukiman penduduk, lalu membeli makanan dan minuman. Ada yang makan mie instan. Ada yang membeli gorengan. Bahkan kabarnya ada yang sempat menikmati minuman dingin.

Pagi harinya mereka kembali ke lokasi survival dengan wajah polos seolah-olah baru saja berhasil berburu dan mengolah tanaman liar hasil hutan. Pantas saja setelah lima hari semua peserta terlihat sehat dan bertenaga. Bukan karena kemampuan survival mereka luar biasa. Ternyata karena warung warga sekitar ikut menjadi bagian dari sistem pendukung logistik yang tidak tercantum dalam kurikulum pendidikan dasar Magmagama. Sejak saat itu kami belajar satu hal penting dalam dunia pendidikan alam bebas:

Dalam kegiatan survival, ancaman terbesar tidak selalu berasal dari hutan, cuaca, atau satwa liar. Kadang justru berasal dari warung makan yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari lokasi kegiatan.

Dan itulah salah satu pengalaman paling menggelikan yang sampai sekarang masih sering menjadi bahan tertawaan setiap kali alumni Magmagama berkumpul. πŸ˜„

Pengalaman Mendampingi Pelatihan dan Praktik Digital Marketing Desa Wisata

Selama lebih dari satu dekade mendampingi desa wisata di Kota Semarang, saya sudah berkali-kali menyelenggarakan pelatihan digital marketing. Materinya beragam, mulai dari pembuatan akun media sosial, pengelolaan Facebook dan Instagram, pembuatan Google Business Profile, hingga pengelolaan blog desa wisata.

Namun semakin sering mendampingi, saya semakin menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah mengajarkan teknologi, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan secara berkelanjutan.

Kandri Adalah Inspirasi

Bagi saya, Desa Wisata Kandri bukan sekadar sebuah desa wisata. Kandri adalah inspirasi. Kandri adalah bukti bahwa desa wisata dapat berkembang pesat apabila fokus pada produk, pemasaran, dan kolaborasi, bukan sekadar mengejar status atau bantuan anggaran.

Desa Wisata Kandri ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Semarang pada tahun 2012. Saat itu merupakan tahun kedua saya bekerja sebagai ASN di bidang pariwisata. Sebagai staf yang masih "unyu-unyu", tugas saya lebih banyak mengamati, belajar, dan melaksanakan arahan pimpinan dalam berbagai kegiatan pembinaan desa wisata.

Dari berbagai kegiatan tersebut, saya mulai memahami bahwa pola pembinaan desa wisata pada waktu itu sebenarnya belum cukup efektif untuk menghasilkan desa wisata yang mandiri. Sebagian besar pelatihan yang diberikan masih berfokus pada transfer pengetahuan atau knowledge sharing. Peserta diajak melihat contoh desa wisata yang sukses, mengenal berbagai atraksi wisata, memahami faktor keberhasilan desa wisata lain, atau melihat contoh paket wisata yang sudah ada.

Semua itu memang penting. Namun ada satu hal yang menurut saya masih kurang, yaitu pelatihan yang benar-benar menyentuh keterampilan praktis.

Jarang sekali ada pelatihan yang mengajarkan bagaimana cara memetakan potensi desa secara sistematis, bagaimana menyusun paket wisata yang menarik, bagaimana menentukan harga, bagaimana melakukan promosi, atau bagaimana menjual paket wisata secara langsung kepada pasar.

Akibatnya, banyak desa wisata yang setelah mendapatkan SK Desa Wisata justru berhenti berkembang. Fokus mereka bergeser menjadi bagaimana memanfaatkan status desa wisata untuk mengakses anggaran pembangunan melalui Musrenbang, CSR, atau berbagai program bantuan lainnya. Produk wisata tidak berkembang, pemasaran tidak berjalan, dan kunjungan wisatawan tidak bertumbuh secara signifikan.

Kandri memilih jalan yang berbeda.

Sejak awal, banyak pelaku Desa Wisata Kandri berasal dari berbagai latar belakang yang sangat mendukung perkembangan bisnis pariwisata. Ada yang bekerja di hotel, biro perjalanan wisata, dunia seni pertunjukan, hingga komunitas kreatif. Perpaduan berbagai latar belakang tersebut menciptakan proses transfer pengetahuan yang cepat, praktis, dan langsung dapat diterapkan.

Ketika sebagian desa wisata masih sibuk memikirkan proposal bantuan, Kandri justru sibuk menciptakan produk wisata baru dan menjualnya ke jaringan yang mereka miliki.

Ketika banyak desa wisata belum mengenal istilah farmtrip, Kandri sudah mengundang pelaku biro perjalanan wisata dan perhotelan untuk datang mencoba langsung berbagai paket wisata yang mereka miliki.

Salah satu paket yang menjadi pelopor sekaligus viral pada masanya adalah Paket Ngintir Kalijaga. Sebuah paket wisata susur sungai yang mengajak wisatawan mengikuti aliran sungai sambil menikmati cerita dan sejarah yang dikaitkan dengan jejak Sunan Kalijaga. Paket river tubing ini menjadi salah satu ikon awal yang membuat nama Kandri mulai dikenal luas.

Keberhasilan tersebut tidak membuat Kandri berhenti berinovasi.

Dari tahun ke tahun, berbagai produk wisata baru terus lahir. Saat ini Desa Wisata Kandri telah memiliki lebih dari 25 paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Pilihannya sangat beragam, mulai dari paket melukis caping, nyawah, cabut singkong, cooking class olahan singkong, membatik, hingga berbagai permainan dan dolanan tradisional.

Yang menarik, sebagian besar paket wisata tersebut memiliki harga di atas Rp100.000 per orang. Bagi saya, ini bukan sekadar angka. Harga tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memberikan kepercayaan terhadap kualitas produk dan layanan yang dimiliki Desa Wisata Kandri.

Kepercayaan wisatawan tidak pernah datang begitu saja. Kepercayaan lahir dari konsistensi menjaga kualitas, terus berinovasi, dan memberikan pengalaman yang berkesan kepada setiap pengunjung.

Hari ini, Desa Wisata Kandri mampu mencatatkan omzet hingga sekitar Rp2 miliar per tahun. Sebuah pencapaian yang tentu tidak diraih dalam semalam. Di balik angka tersebut terdapat kerja keras, kolaborasi, keberanian mencoba hal baru, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang.

Karena itulah saya selalu mengatakan bahwa Kandri bukan untuk ditiru mentah-mentah. Kandri adalah inspirasi.

Yang harus direplikasi bukan atraksinya, bukan paket wisatanya, dan bukan produk wisatanya. Yang harus direplikasi adalah semangatnya: semangat menciptakan produk, semangat menjual, semangat berkolaborasi, dan semangat untuk terus berinovasi.

Inilah yang kemudian melahirkan gagasan Program 10 Kandri Baru, sebuah gerakan untuk membantu desa-desa wisata lain di Kota Semarang menemukan jalannya sendiri menuju keberhasilan berdasarkan potensi dan kearifan lokal yang mereka miliki.

Karena pada akhirnya, setiap desa memiliki cerita yang berbeda. Namun setiap desa juga memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.

Dan bagi saya, Kandri adalah bukti bahwa keberhasilan itu mungkin diwujudkan.

We Are All Marketers: Ketika Semua Pelaku Pariwisata Menjadi Pemasar

Saya tidak pernah bosan untuk terus menyosialisasikan sebuah gerakan sederhana yang saya yakini dapat mengubah wajah pariwisata daerah secara signifikan. Gerakan itu bernama We Are All Marketers (WARM).

Filosofinya sederhana. Setiap insan pariwisata adalah pemasar. Setiap pelaku wisata adalah pemasar. Setiap pengelola desa wisata adalah pemasar. Bahkan setiap orang yang mencintai daerahnya dapat menjadi pemasar bagi destinasi yang dimilikinya.

Selama ini saya melihat banyak desa wisata yang berhasil memperoleh Surat Keputusan (SK) Desa Wisata, memiliki potensi yang menarik, bahkan sudah memiliki paket wisata yang cukup baik. Namun setelah semua itu terbentuk, sering kali tidak diikuti dengan upaya pemasaran dan penjualan yang agresif. Akibatnya, produk wisata yang sudah disiapkan dengan susah payah hanya dikenal oleh lingkungan sekitar dan belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Kondisi inilah yang mendorong saya untuk terus mengajak para pengelola desa wisata agar tidak hanya fokus menciptakan produk, tetapi juga mampu mengomunikasikan dan menjual produk tersebut kepada calon wisatawan.

Bagi saya, keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus atraksi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan menjangkau pasar dan mengubah ketertarikan menjadi transaksi nyata.

Pada tahap awal memang tidak mudah. Sebagian pengelola desa wisata masih cenderung pasif. Mereka menunggu wisatawan datang tanpa melakukan upaya pemasaran yang terencana. Padahal di era persaingan yang semakin ketat, menunggu saja tidak cukup. Produk wisata harus diperkenalkan, dipromosikan, ditawarkan, dan dijual secara aktif.

Atas dasar itulah saya bersama Komunitas SIBARISTA mengembangkan program Marketing Skill Up.

Program ini dirancang sangat praktis. Peserta tidak hanya belajar teori pemasaran di dalam kelas. Pelatihan kelas hanya dilaksanakan selama satu hari sebagai bekal dasar. Setelah itu peserta langsung memasuki fase yang lebih penting, yaitu praktik lapangan.

Selama tiga bulan mereka menjalani proses magang penjualan dengan target pasar yang nyata. Mereka didampingi oleh fasilitator SIBARISTA yang telah diseleksi dari para local champion, yaitu pelaku wisata yang sudah terbukti berhasil menjual produk wisata dan mencapai hasil yang nyata.

Dalam proses tersebut peserta belajar menemukan calon pelanggan, membangun komunikasi, melakukan presentasi produk, membuat penawaran, hingga menghasilkan transaksi penjualan. Dengan cara ini mereka tidak hanya memahami teori pemasaran, tetapi benar-benar mengalami proses menjual secara langsung.

Agar semangat belajar tetap terjaga, pada akhir program kami menyelenggarakan SIBARISTA Marketer Award. Kompetisi ini bukan menilai siapa yang paling pintar berbicara di kelas, melainkan siapa yang mampu menghasilkan kinerja terbaik di lapangan.

Penilaian dilakukan berdasarkan volume penjualan, nilai transaksi, margin yang dihasilkan, kreativitas pemasaran, dan konsistensi selama masa pendampingan.

Menariknya, para pemenang tidak berhenti sebagai peserta. Mereka kemudian didorong untuk menjadi fasilitator bagi desa wisata lainnya. Dengan cara ini terjadi proses regenerasi dan transfer pengetahuan secara berkelanjutan.

Saya sering menggambarkan gerakan ini seperti sel yang terus membelah diri. Satu desa wisata melahirkan marketer baru. Marketer baru melahirkan marketer berikutnya. Kemudian mereka bersama-sama membantu desa wisata lain berkembang. Lambat laun terbentuk jaringan pemasaran yang semakin besar dan semakin kuat.

Inilah tujuan utama Gerakan We Are All Marketers. Bukan sekadar menciptakan penjual, tetapi membangun budaya kolaborasi di mana setiap pelaku pariwisata tidak hanya menjual produknya sendiri, melainkan juga ikut memasarkan produk wisata milik sesama.

Saya percaya, apabila gerakan ini dijalankan secara konsisten, dalam tiga hingga lima tahun ke depan Kota Semarang akan memiliki ekosistem pemasaran pariwisata yang jauh lebih kuat, lebih kolaboratif, dan lebih mandiri.

Karena pada akhirnya, kemajuan pariwisata tidak dibangun oleh satu orang atau satu destinasi saja. Kemajuan pariwisata dibangun ketika semua orang bergerak bersama.

We Are All Marketers.
Kita semua adalah pemasar bagi pariwisata daerah kita.

Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu adalah gunung pertama di atas 3.000 mdpl yang berhasil saya daki. Pendakian itu terjadi pada tahun 1993, saat saya masih menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Sampai hari ini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, kenangan tentang Merbabu masih tersimpan begitu kuat dalam ingatan. Setiap kali mendengar nama Merbabu, selalu ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Pendakian tersebut saya lakukan bersama teman-teman yang tergabung dalam Grafika 93, sebuah komunitas pecinta alam yang sebagian besar beranggotakan mahasiswa Fakultas Teknik UGM di kawasan Jalan Grafika Yogyakarta. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah pendakian biasa. Namun bagi saya, perjalanan menuju puncak Merbabu adalah pintu masuk menuju dunia petualangan yang sesungguhnya.


Sejarah GinjalTalk: Berbagi dari Pengalaman, Menguatkan dalam Perjuangan

Sebelum mengenal dunia hemodialisa, hidup saya nyaris tidak pernah jauh dari aktivitas, komunitas, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bergerak di bidang pariwisata, hari-hari saya hampir selalu dipenuhi dengan pekerjaan, diskusi, dan aktivitas lapangan.

Meski jam kerja dimulai pukul 08.00, hampir setiap hari saya sudah tiba di kantor sekitar pukul 07.00 pagi. Sebaliknya, ketika banyak orang telah beristirahat di rumah, saya sering kali masih berada di luar untuk bertemu komunitas, paguyuban, atau asosiasi binaan guna berdiskusi mengenai perkembangan usaha dan merencanakan berbagai program bersama.

Makna Logo Ayo ke Desa Wisata


Logo "Ayo ke Desa Wisata" yang Anda buat memiliki filosofi yang cukup lengkap karena menggabungkan unsur desa, perjalanan, komunikasi, promosi, dan cerita dalam satu simbol.

🏑 Rumah Desa

Bagian kiri membentuk rumah tradisional.

Melambangkan:

  • Desa sebagai pusat kehidupan masyarakat.

  • Kearifan lokal.

  • Keramahtamahan warga.

  • Identitas dan budaya desa.

Maknanya:

Desa bukan hanya tempat, tetapi ruang hidup yang menyimpan pengalaman, budaya, dan cerita.

🌿 Dua Daun Hijau

Melambangkan:

  • Pertumbuhan

  • Keberlanjutan

  • Alam dan lingkungan

  • Potensi desa yang terus berkembang

Maknanya:

Pengembangan desa wisata harus tetap menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

πŸ›€️ Jalan Berkelok di Tengah

Menyerupai jalan yang menuju desa.

Melambangkan:

  • Perjalanan wisata.

  • Akses menuju destinasi.

  • Proses belajar dan berkembang.

  • Konektivitas antara desa dan wisatawan.

Maknanya:

Setiap perjalanan menuju desa wisata akan membawa pengalaman dan cerita yang berbeda.

πŸ’¬ Balon Percakapan

Melambangkan:

  • Cerita

  • Komunikasi

  • Promosi

  • Testimoni wisatawan

  • Storytelling destinasi

Maknanya:

Desa wisata akan berkembang ketika kisahnya diceritakan dan dibagikan kepada banyak orang.

πŸ“– Buku Terbuka

Melambangkan:

  • Pengetahuan

  • Pembelajaran

  • Warisan budaya

  • Dokumentasi cerita desa

Maknanya:

Setiap desa adalah buku yang menyimpan sejarah, tradisi, kearifan lokal, dan pengalaman yang layak dipelajari.

☀️ Sinar Oranye

Melambangkan:

  • Semangat

  • Harapan

  • Optimisme

  • Masa depan

Maknanya:

Desa wisata menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat melalui pemberdayaan dan pariwisata.

Warna Hijau

Melambangkan:

🌿 Alam

🌿 Kesegaran

🌿 Keberlanjutan

🌿 Kehidupan desa

Warna Oranye

Melambangkan:

🟠 Energi

🟠 Kreativitas

🟠 Keramahan

🟠 Daya tarik wisata

Filosofi Keseluruhan

"Ayo ke Desa Wisata adalah ajakan untuk mengenal, mengunjungi, dan menceritakan potensi desa melalui perjalanan yang menghadirkan pengalaman, pengetahuan, dan cerita yang berkesan."

"Karena Desa Selalu Punya Cerita"

Maknanya:

Setiap desa memiliki keunikan, budaya, tradisi, alam, kuliner, dan kehidupan masyarakat yang berbeda. Tidak ada desa yang tidak menarik, yang ada hanyalah cerita yang belum ditemukan dan belum diceritakan.

Ayo ke Desa Wisata adalah gerakan promosi yang mengajak masyarakat menjelajahi desa-desa wisata sebagai sumber pengalaman, pembelajaran, dan inspirasi. Karena setiap desa selalu memiliki cerita yang layak untuk dikunjungi, dipelajari, dan dibagikan kepada dunia. πŸŒΏπŸ‘πŸ“–✨