Monday, June 8, 2026

Menembus Malam Tanpa Cahaya : Kisah Pendakian Mencari Jawaban Bag 2

Senterku mati di tengah pendakian. Aku sendirian di Gunung Sumbing pada pukul empat dini hari. Ketika akhirnya bertemu seseorang di dekat Watu Kotak, aku merasa sedikit lega. Sampai beberapa detik kemudian kusadari bahwa seharusnya tidak ada siapa pun di san



Setelah berpikir dan berkonsentrasi beberapa saat, aku memutuskan untuk terus melanjutkan pendakian menuju puncak.

Saat itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Udara pegunungan yang dingin dan segar justru menambah semangatku untuk terus melangkah. Senter memang mati, tetapi aku masih memiliki tekad untuk mencapai puncak.

Dengan sangat hati-hati aku merayap naik melewati tebing-tebing curam menuju punggungan panjang Gunung Sumbing. Sesampainya di punggungan, jalur terasa sedikit lebih mudah. Cahaya bulan muda yang samar ternyata cukup membantu membedakan jalur dengan jurang di sekitarnya.

Aku berjalan perlahan.

Pelan, tetapi terus bergerak.

Tujuanku hanya satu: Watu Kotak.
Bagi para pendaki Sumbing, Watu Kotak adalah salah satu landmark yang paling dikenal. Sebuah penanda bahwa jalur yang ditempuh sudah benar dan puncak sudah tidak terlalu jauh lagi.
Menjelang subuh aku akhirnya tiba di sana.
Namun justru di tempat itulah aku mengalami peristiwa yang sampai sekarang masih sulit kujelaskan.
Di dekat Watu Kotak tampak seorang kakek sedang duduk bersila.

Yang membuatku heran, beliau tampak santai sekali. Di depannya ada sebungkus nasi yang masih mengepulkan uap hangat. Dalam udara pegunungan yang dingin, aroma nasi hangat itu terasa begitu nyata.

Kakek itu menoleh kepadaku.

Tersenyum.
Lalu menyapa dengan bahasa Jawa yang halus.
"Sugeng enjang, Nak..."
"Monggo mampir sekedap. Wonten nasi bungkus hangat, saged dipun icipi."
Aku sempat menoleh ke arloji.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul empat pagi.
Aku menjawab singkat.
"Matur nuwun, Kek. Mangke mawon menawi sampun saking puncak."

Kemudian aku melanjutkan langkah menuju jalur sebelah kiri. Saat itu jalur lurus ke atas sebagian longsor sehingga pendaki diarahkan memutar ke kiri.

Baru beberapa langkah aku berjalan.
Tiba-tiba pikiranku seperti tersambar sesuatu.
Tunggu...
Bagaimana mungkin?
Pukul empat pagi.
Di dekat puncak Sumbing.
Ada seorang kakek duduk sendirian menikmati nasi hangat.
Sendirian.
Aku langsung berhenti.

Perlahan menoleh kembali ke arah Watu Kotak.

Dan...

Tidak ada siapa-siapa.
Kakek itu hilang.
Benar-benar hilang.
Tidak ada sosok.
Tidak ada suara.
Tidak ada bekas orang duduk.
Tidak ada apa-apa.
Saat itu seluruh keberanianku runtuh seketika.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berbalik arah.
Lari.

Sekencang-kencangnya.

Aku tidak lagi memikirkan puncak.
Tidak lagi memikirkan rasa penasaran.
Tidak lagi memikirkan nilai empat yang membuatku datang ke gunung.
Yang ada hanya satu keinginan.
Turun.
Turun secepat mungkin.

Anehnya, perjalanan turun yang biasanya memakan waktu berjam-jam terasa begitu singkat. Dalam kondisi ketakutan luar biasa, aku sampai di basecamp hanya sekitar 45 menit.

Padahal ketika naik menuju Watu Kotak aku membutuhkan waktu hampir lima setengah jam.

Sesampainya di basecamp aku hanya sempat menulis pesan singkat bahwa aku sudah turun, lalu berjalan ke jalan raya menunggu bus pertama yang lewat.

Bus menuju Magelang datang.

Aku naik.

Dari Magelang aku melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Pagi itu juga aku sudah kembali di kamar kosku di Pogung Kidul.

Belum pukul sembilan pagi.

Aku membuka pintu kamar.

Melepas ransel.

Lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa mandi, tanpa makan, tanpa melakukan apa pun.

Aku tertidur pulas.

Ketika terbangun, hari sudah sore.

Jam menunjukkan pukul lima.

Aku duduk di tepi ranjang dan mulai mengingat kembali seluruh perjalanan sejak keberangkatan.

Nilai empat yang membuatku kecewa.

Keputusan mendaki seorang diri.

Hutan bambu yang membuat bulu kuduk merinding.

Suara pinus yang seperti ribuan lebah.

Senter yang mati.

Perjalanan panjang dalam gelap.

Dan akhirnya pertemuan dengan seorang kakek di dekat Watu Kotak.

Aku mencoba mencari penjelasan.
Mungkin pendaki lain.
Mungkin warga sekitar.
Mungkin aku terlalu lelah.
Mungkin juga ada penjelasan yang sampai sekarang belum kupahami.
Namun semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Aku lalu menengadah dan berbisik pelan.
"Ya Tuhan..."

"Semua ini sebenarnya ingin mengajarkan apa kepadaku?"

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.