Friday, June 12, 2026

Mengapa Ida Menangis Saat Diklat Berakhir?

Kadang saya heran sendiri.

Bagaimana mungkin orang-orang yang beberapa hari sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, berasal dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbeda, bahkan sebagian besar mungkin tidak akan pernah bertemu jika bukan karena sebuah diklat, tiba-tiba bisa begitu akrab?

Bahkan ada yang sampai menangis saat harus berpisah.



Pengalaman itulah yang saya alami ketika mengikuti Diklat Customer Service Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kaliurang, Yogyakarta, pada bulan puasa September 2008.

Beberapa waktu lalu saya sudah bercerita tentang "teriakan legendaris saat sahur" ketika makanan yang tersedia terasa tidak akan cukup untuk semua peserta. Entah karena kejadian itu atau karena sebab lain yang saya sendiri tidak tahu, perlahan teman-teman dari PT yang sama mulai mempercayai saya sebagai semacam pemimpin informal kelompok.

Padahal saya juga peserta biasa.

Setiap malam setelah kegiatan diklat selesai, kami menjalankan salat Tarawih berjamaah. Karena kebetulan tidak ada yang maju, saya sering diminta menjadi imam dengan modal hafalan surat-surat pendek yang pas-pasan.

Setelah Tarawih biasanya kami belum langsung tidur.

Justru saat itulah suasana paling seru dimulai.

Kami duduk lesehan, mengobrol ngalor-ngidul, saling cerita tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal lucu yang kadang tidak penting sama sekali.

Sesekali saya mengajak teman-teman memainkan berbagai permainan kelompok yang dulu sering saya dapatkan saat aktif di organisasi pecinta alam maupun Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Tujuannya sederhana.

Biar tidak bosan.

Biar lebih akrab.

Biar yang pendiam mau bicara.

Biar yang pemalu berani tertawa.

Tanpa sadar malam demi malam membuat jarak di antara kami semakin tipis.

Yang tadinya hanya teman satu kelas mulai terasa seperti teman seperjuangan.

Ada yang pendiam.

Ada yang cerewet.

Ada yang lucu.

Ada yang jahil.

Ada yang pemalu.

Ada juga yang kalau ngomong ceplas-ceplos tanpa rem.

Namun justru perbedaan itulah yang membuat suasana menjadi hidup.

Menjelang akhir diklat, kami membuat polling iseng-iseng sekadar untuk menambah kenangan.

Hasilnya pun lucu-lucu.

Ada kategori wanita tercantik, gadis terlugu, gadis terlucu, gadis pemalu, wanita keibuan, wanita tomboy, cewek paling imut, sampai gadis paling nyebelin.

Kalau dibaca sekarang mungkin terdengar konyol.

Tetapi saat itu semua tertawa.

Semua menikmati.

Tidak ada yang tersinggung.

Yang ada justru rasa bahwa kami sudah cukup dekat untuk saling bercanda.

Namun ternyata momen yang paling membekas justru terjadi ketika diklat selesai.

Saat kami menunggu jemputan pulang, tiba-tiba Ida atau Farida Evandari terlihat menangis.

Awalnya hanya berkaca-kaca.

Lalu air matanya mulai jatuh.

Semakin lama semakin deras.

Pipinya memerah.

Wajahnya terlihat menahan haru.

Bahkan ketika berpamitan dengan teman-teman yang lain, tangisnya belum juga berhenti.

Saat itu saya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan sambil bertanya-tanya.

Mengapa Ida menangis?

Apakah karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru dikenalnya beberapa hari?

Apakah karena suasana kebersamaan ini terasa terlalu cepat berakhir?

Ataukah karena selama empat hari itu kami benar-benar telah menjadi sebuah keluarga kecil yang saling menerima apa adanya?

Saya tidak pernah benar-benar menanyakan jawabannya kepada Ida.

Mungkin sampai hari ini pun hanya Ida yang tahu alasan sebenarnya.

Tetapi saya belajar satu hal.

Ternyata membangun kekompakan tidak selalu membutuhkan waktu lama.

Kadang yang dibutuhkan hanya kebersamaan yang tulus.

Empat hari memang terlalu singkat untuk disebut persahabatan sejati.

Namun empat hari ternyata cukup untuk menumbuhkan rasa memiliki.

Cukup untuk membuat orang saling peduli.

Cukup untuk membuat orang merasa kehilangan ketika harus berpisah.

Dan jika ada seseorang yang sampai menangis saat perpisahan tiba, mungkin itu pertanda bahwa kebersamaan yang dibangun selama empat hari tersebut bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Refleksi

Bertahun-tahun kemudian, saya semakin yakin bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk disatukan.

Yang sulit adalah menciptakan ruang yang membuat orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Ketika seseorang merasa diterima, ia akan mulai membuka hati.

Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan mulai percaya.

Dan ketika seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga, maka hubungan yang terbangun sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan kerja atau organisasi.

Saya melihat hal yang sama berulang kali dalam berbagai perjalanan hidup saya.

Di organisasi pecinta alam.

Di panjat tebing.

Di komunitas.

Di paguyuban.

Di desa wisata.

Bahkan di lingkungan kerja.

Yang membuat sebuah kelompok bertahan bukanlah aturan yang ketat atau program yang hebat.

Yang membuat orang ingin tetap bersama adalah kenangan yang mereka bangun bersama.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari tangisan Ida sore itu.

Bukan sekadar sedih karena pulang.

Tetapi sedih karena harus meninggalkan sebuah kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Dan bagi saya, tidak ada sertifikat atau kuesioner evaluasi yang lebih jujur daripada air mata itu.

Karena air mata tidak bisa dibuat-buat.

Ia muncul ketika hati merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

Sejak saat itu saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan pertama-tama membuat orang bekerja bersama.

Tugasnya adalah membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.

Karena ketika hati sudah menyatu, kekompakan biasanya akan tumbuh dengan sendirinya.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.