Saya tidak pernah bosan untuk terus menyosialisasikan sebuah gerakan sederhana yang saya yakini dapat mengubah wajah pariwisata daerah secara signifikan. Gerakan itu bernama We Are All Marketers (WARM).
Filosofinya sederhana. Setiap insan pariwisata adalah pemasar. Setiap pelaku wisata adalah pemasar. Setiap pengelola desa wisata adalah pemasar. Bahkan setiap orang yang mencintai daerahnya dapat menjadi pemasar bagi destinasi yang dimilikinya.
Selama ini saya melihat banyak desa wisata yang berhasil memperoleh Surat Keputusan (SK) Desa Wisata, memiliki potensi yang menarik, bahkan sudah memiliki paket wisata yang cukup baik. Namun setelah semua itu terbentuk, sering kali tidak diikuti dengan upaya pemasaran dan penjualan yang agresif. Akibatnya, produk wisata yang sudah disiapkan dengan susah payah hanya dikenal oleh lingkungan sekitar dan belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Kondisi inilah yang mendorong saya untuk terus mengajak para pengelola desa wisata agar tidak hanya fokus menciptakan produk, tetapi juga mampu mengomunikasikan dan menjual produk tersebut kepada calon wisatawan.
Bagi saya, keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus atraksi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan menjangkau pasar dan mengubah ketertarikan menjadi transaksi nyata.
Pada tahap awal memang tidak mudah. Sebagian pengelola desa wisata masih cenderung pasif. Mereka menunggu wisatawan datang tanpa melakukan upaya pemasaran yang terencana. Padahal di era persaingan yang semakin ketat, menunggu saja tidak cukup. Produk wisata harus diperkenalkan, dipromosikan, ditawarkan, dan dijual secara aktif.
Atas dasar itulah saya bersama Komunitas SIBARISTA mengembangkan program Marketing Skill Up.
Program ini dirancang sangat praktis. Peserta tidak hanya belajar teori pemasaran di dalam kelas. Pelatihan kelas hanya dilaksanakan selama satu hari sebagai bekal dasar. Setelah itu peserta langsung memasuki fase yang lebih penting, yaitu praktik lapangan.
Selama tiga bulan mereka menjalani proses magang penjualan dengan target pasar yang nyata. Mereka didampingi oleh fasilitator SIBARISTA yang telah diseleksi dari para local champion, yaitu pelaku wisata yang sudah terbukti berhasil menjual produk wisata dan mencapai hasil yang nyata.
Dalam proses tersebut peserta belajar menemukan calon pelanggan, membangun komunikasi, melakukan presentasi produk, membuat penawaran, hingga menghasilkan transaksi penjualan. Dengan cara ini mereka tidak hanya memahami teori pemasaran, tetapi benar-benar mengalami proses menjual secara langsung.
Agar semangat belajar tetap terjaga, pada akhir program kami menyelenggarakan SIBARISTA Marketer Award. Kompetisi ini bukan menilai siapa yang paling pintar berbicara di kelas, melainkan siapa yang mampu menghasilkan kinerja terbaik di lapangan.
Penilaian dilakukan berdasarkan volume penjualan, nilai transaksi, margin yang dihasilkan, kreativitas pemasaran, dan konsistensi selama masa pendampingan.
Menariknya, para pemenang tidak berhenti sebagai peserta. Mereka kemudian didorong untuk menjadi fasilitator bagi desa wisata lainnya. Dengan cara ini terjadi proses regenerasi dan transfer pengetahuan secara berkelanjutan.
Saya sering menggambarkan gerakan ini seperti sel yang terus membelah diri. Satu desa wisata melahirkan marketer baru. Marketer baru melahirkan marketer berikutnya. Kemudian mereka bersama-sama membantu desa wisata lain berkembang. Lambat laun terbentuk jaringan pemasaran yang semakin besar dan semakin kuat.
Inilah tujuan utama Gerakan We Are All Marketers. Bukan sekadar menciptakan penjual, tetapi membangun budaya kolaborasi di mana setiap pelaku pariwisata tidak hanya menjual produknya sendiri, melainkan juga ikut memasarkan produk wisata milik sesama.
Saya percaya, apabila gerakan ini dijalankan secara konsisten, dalam tiga hingga lima tahun ke depan Kota Semarang akan memiliki ekosistem pemasaran pariwisata yang jauh lebih kuat, lebih kolaboratif, dan lebih mandiri.
Karena pada akhirnya, kemajuan pariwisata tidak dibangun oleh satu orang atau satu destinasi saja. Kemajuan pariwisata dibangun ketika semua orang bergerak bersama.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.