Monday, June 8, 2026

Dari Ruang Ujian ke Puncak Sumbing: Perjalanan Mencari Jawaban

Apa yang akan Anda lakukan jika mendapat nilai 4 dari 100?

Saya memilih naik Gunung Sumbing sendirian.Keputusan yang terdengar nekat itu membawa saya berjalan di tengah hutan pinus pada malam Jumat, tanpa teman, tanpa penerangan yang memadai, dan akhirnya bertemu dengan sebuah pengalaman yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.

Suatu hari aku merasa jengkel, kesal, sekaligus kecewa. Dalam sebuah ujian mata kuliah di Jurusan Teknik Geologi UGM, aku mendapatkan nilai 4 dari 100.

Empat. 
Bukan empat puluh.
Bukan empat belas.
Tetapi empat.


Nilai itu seperti menghantam harga diriku. Sebagai mahasiswa UGM dan alumni SMA Taruna Nusantara yang selama ini terbiasa berprestasi, nilai tersebut terasa sangat memalukan. Aku tidak marah kepada dosen. Aku justru marah kepada diriku sendiri.

Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran sekaligus mencari jawaban. Kenapa aku bisa jatuh sedalam ini?

Akhirnya aku memutuskan pergi mendaki Gunung Sumbing. Bagiku gunung selalu menjadi tempat terbaik untuk berdialog dengan diri sendiri.

Aku mulai berkemas. Sebuah ransel besar berkapasitas 80 liter kuisi dengan pakaian ganti, tiga liter air minum, enam bungkus Indomie, beberapa kue untuk camilan, serta beberapa bungkus Nutrisari. Tak lupa perlengkapan standar pendakian: senter, ponco, kompor parafin, spiritus, nesting, korek api cadangan, sarung, jaket tebal, celana lapangan, dan sepatu hiking.

Menjelang sore aku berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Wonosobo. Malam mulai turun ketika aku tiba di Garung, jalur pendakian Sumbing yang saat itu masih menjadi jalur utama.

Saat itu aku belum mengenal Pak Suwanto, sosok yang beberapa tahun kemudian menjadi seperti saudara sendiri dan menjadikan rumahnya sebagai basecamp setiap kali aku mendaki Sumbing.

Di basecamp aku menunggu.
Sepi.
Tidak ada pendaki lain yang bersiap naik.
Aku bertanya kepada penjaga basecamp.
"Pak, apa malam ini ada rombongan yang mau naik?"
Beliau menggeleng.
"Ini malam Jumat, Mas. Jarang ada yang naik gunung malam Jumat."
Deg...
Saat itulah aku sadar bahwa aku salah menghitung hari.
Selama perjalanan aku mengira malam itu adalah malam Minggu.
Aku duduk terdiam.
Naik tidak ya?
Naik tidak ya?
Naik sendirian ke Sumbing bukan perkara ringan. Apalagi pada tahun 1994, ketika jalur belum seramai sekarang dan alat komunikasi praktis belum ada.

Namun entah kenapa ada suara kecil dalam diriku yang berkata:

"Kalau sampai sini lalu pulang, kamu tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sedang kamu cari."

Akhirnya aku berdiri.
Merapatkan jaket.
Mengencangkan tali ransel.
Lalu mengucapkan pelan:
"Bismillahirrahmanirrahim."
Pukul 23.30 aku mulai melangkah.

Jalur bambu di pinggir kampung menjadi gerbang pertama menuju hutan. Suasana malam begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara binatang malam dan derit batang-batang bambu yang saling bergesekan tertiup angin.

Bulu kudukku meremang.
Beberapa kali aku berhenti dan menoleh ke belakang.
Dalam hati muncul pertanyaan yang terus berulang.
"Apa aku lanjut?"
"Atau turun saja?"
Namun kakiku tetap melangkah.

Memasuki hutan pinus, suasana justru semakin mencekam. Angin yang menerpa ribuan daun pinus menciptakan suara mendengung panjang seperti ribuan lebah raksasa yang beterbangan di atas kepalaku.

Tidak ada suara manusia.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada teman bicara.
Hanya aku dan hutan.
Jujur saja, malam itu aku takut.
Sangat takut.

Akhirnya aku duduk di sebuah pematang jalur. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napas yang mulai tidak teratur.

Aku berdoa.
Lalu mencoba mendengarkan suara-suara alam itu dengan cara yang berbeda.
Ternyata ketika rasa takut mulai hilang, suara yang tadi terasa menyeramkan berubah menjadi sesuatu yang menenangkan.
Derit bambu menjadi musik.
Dengung pinus menjadi irama.
Malam yang gelap terasa bersahabat.
Aku tersenyum sendiri.
Lalu berdiri dan kembali berjalan.
Namun ujian malam itu ternyata belum selesai.

Setelah melewati sungai kecil dan mulai menanjak pada lereng yang lebih curam, tiba-tiba senter yang kubawa mati total.

Aku mencoba mengganti posisi baterai.
Menepuk-nepuk badan senter.
Membongkar dan memasangnya kembali.
Tetap tidak menyala.
Kini aku benar-benar sendirian di tengah hutan Gunung Sumbing tanpa penerangan sedikit pun.
Aku menatap kegelapan di depanku.
Lalu menghela napas panjang.
"Ya Tuhan..."
"Dapat nilai empat saja sudah cukup berat."
"Kenapa malam ini Engkau masih menambah ujian lagi?"
Aku berdiri terpaku beberapa saat.
Di depanku hanya ada gelap.
Gelap yang seolah tidak memiliki ujung.

Dan aku harus memutuskan.... (bersambung)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.