Di saat teman-temanku berkumpul di sekolah untuk menerima rapor kelulusan SMP, aku justru berada di Ajendam Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Berdiri di tengah ribuan calon siswa dari seluruh Jawa Tengah yang datang membawa mimpi yang sama.
Siang itu aku mendapat kabar yang membuatku tersenyum bangga.
Aku menjadi peringkat pertama di SMP Negeri 1 Baturetno.
Namun, beberapa jam kemudian, senyum itu hampir berubah menjadi kecemasan. Sore harinya aku harus menunggu pengumuman tes kesehatan, sebuah pengumuman yang bisa menentukan apakah aku masih boleh bermimpi menjadi Taruna Nusantara atau harus pulang hari itu juga.
Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, alasan utamaku mendaftar Taruna Nusantara sebenarnya sangat sederhana: karena sekolahnya gratis.
Sebagai anak seorang guru SD dengan penghasilan yang pas-pasan, sekolah gratis seperti Taruna Nusantara adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Aku mengurus semua persyaratan, menyerahkan berkas melalui sekolah ke Kodim 0728 Wonogiri, lalu mengikuti seleksi administrasi, kesehatan awal, dan penilaian prestasi. Syukur alhamdulillah, semuanya kulalui dengan baik sehingga berhak mengikuti seleksi tingkat Kodam IV/Diponegoro di Semarang.
Kami berdua belas berangkat dari Wonogiri menaiki truk tentara.
Bagi kami yang masih anak-anak SMP, perjalanan itu saja sudah terasa luar biasa. Duduk di bak belakang truk tentara menuju Semarang menghadirkan rasa bangga yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti sedang menjalani sebuah petualangan besar.
Sesampainya di Ajendam, aku benar-benar dibuat takjub.
Di mana-mana kulihat calon siswa berseragam olahraga dengan wajah penuh harapan. Mereka datang dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Jumlahnya ribuan.
Barulah saat itu aku benar-benar menyadari...
Persaingan ini ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Awalnya aku datang tanpa beban. Dalam pikiranku, kalau lolos ya alhamdulillah, kalau belum ya tidak apa-apa. Tetapi melihat begitu banyak anak hebat berkumpul di satu tempat, ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Aku mulai ingin membuktikan bahwa aku juga layak bersaing.
Selama empat hari tiga malam kami menjalani rangkaian seleksi. Ada tes kesehatan, tes samapta, tes psikologi, dan tes akademik. Tes kesehatan dan samapta menggunakan sistem gugur. Artinya, kalau tidak lolos, perjalanan selesai sampai di situ.
Hari pertama diawali dengan tes kesehatan.
Kelompokku bersama beberapa kelompok lain diangkut menggunakan truk tentara menuju rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan sangat lengkap. Tinggi badan, berat badan, mata, telinga, organ tubuh, hingga pemeriksaan fisik lainnya kami jalani satu per satu.
Menjelang sore kami kembali ke Ajendam.
Saat itulah suasana berubah.
Kami diminta berbaris.
Seorang petugas mulai memanggil nama peserta satu per satu.
"Yang dipanggil, maju ke depan."
Aku melihat enam teman dari Wonogiri melangkah keluar dari barisan.
Aku tidak dipanggil.
Begitu juga lima teman Wonogiri lainnya.
Yang membuat kami semakin tegang, tidak ada seorang pun yang menjelaskan apa arti pemanggilan itu.
Apakah yang dipanggil berarti lolos?
Atau justru yang dipanggil adalah peserta yang gugur?
Tidak ada yang tahu.
Kami hanya saling pandang.
Petugas malah memberikan penjelasan panjang lebar. Salah satunya, peserta yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan langsung dipulangkan hari itu juga.
Aku mulai gelisah.
Pikiranku ke mana-mana.
Aku membayangkan bagaimana rasanya pulang ke Wonogiri setelah baru satu hari mengikuti seleksi. Membayangkan harus mengatakan kepada bapak dan ibu bahwa perjuanganku berhenti sampai di sini.
Beberapa menit menunggu terasa jauh lebih lama daripada perjalanan dari Wonogiri ke Semarang.
Lalu akhirnya...
Pengumuman itu dibacakan.
Alhamdulillah...
Aku dinyatakan lolos.
Lima temanku dari Wonogiri yang tetap berada di barisan juga lolos.
Kami saling tersenyum. Rasanya lega sekali.
Malam itu aku tidur jauh lebih tenang.
Hari pertama berhasil kulewati.
Aku belum tahu, justru tantangan yang benar-benar menguras tenaga dan perlahan menjatuhkan mental para calon Taruna Nusantara baru akan datang keesokan harinya.
Refleksi
Hari itu aku belajar satu hal yang sampai sekarang masih kuingat.
Kadang yang paling melelahkan dalam sebuah perjuangan bukanlah ujiannya, melainkan menunggu hasilnya.
Menunggu membuat kita membayangkan segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terburuk. Tetapi justru di saat-saat seperti itulah aku belajar untuk tetap tenang, berdoa, dan menerima apa pun hasilnya.
Syukurlah, hari itu Allah masih mengizinkanku melangkah ke ujian berikutnya.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.