Kalau sekarang aku melihat kembali perjalanan hidupku, masuk SMA Taruna Nusantara menjadi salah satu bagian yang sulit dipisahkan dari banyak hal yang terjadi setelahnya. Tetapi lucunya, semua itu tidak dimulai dari cita-cita besar. Aku tidak pernah sejak kecil bermimpi menjadi siswa Taruna Nusantara. Aku bahkan belum benar-benar tahu sekolah itu seperti apa.



Aku datang karena satu alasan yang sangat sederhana: sekolah itu gratis.

Aku tumbuh dalam keluarga sederhana di Wonogiri. Bapak bekerja dan berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi tanggungannya cukup banyak. Beberapa saudara ikut tinggal bersama kami, sementara lebih banyak lagi yang sekolahnya ikut dibiayai bapak. Karena itu, ketika waktunya memilih SMA, persoalan biaya tentu menjadi salah satu pertimbangan.

Dari situlah aku mengenal sebuah sekolah di Magelang bernama SMA Taruna Nusantara. Cerita tentang latar belakang itu kutulis dalam “Masuk Taruna Nusantara Bukan Karena Gengsi, Tetapi Karena Gratis”. Waktu itu aku belum berpikir tentang reputasi, kualitas pendidikan atau kebanggaan memakai seragamnya. Yang ada dalam pikiranku sederhana saja: kalau sekolahnya gratis, beban bapak untuk menyekolahkanku akan jauh lebih ringan.

Saat mendaftar pun aku belum benar-benar memahami seberapa berat persaingannya. Aku mengikuti proses dari Wonogiri hingga akhirnya bersama peserta lain berangkat ke Semarang untuk menjalani rangkaian seleksi.

Barulah ketika sampai di tempat seleksi dan melihat begitu banyak peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah, perasaanku mulai berubah. Awalnya aku datang dengan pikiran, kalau lolos ya alhamdulillah, kalau tidak ya sudah. Tetapi berada di tengah mereka perlahan membuatku ingin membuktikan sesuatu.

Aku mulai benar-benar ingin lolos.

Empat hari tiga malam menjalani seleksi menjadi pengalaman tersendiri. Ada pemeriksaan kesehatan, tes fisik, psikologi dan akademik. Sebagian menggunakan sistem gugur. Hari ini masih menjadi peserta belum tentu besok masih diperbolehkan melanjutkan.

Perubahan dari anak yang awalnya sekadar mencari sekolah gratis menjadi anak yang benar-benar ingin menjadi bagian dari Taruna Nusantara itulah yang kemudian kuceritakan dalam “Empat Hari yang Membuatku Benar-Benar Ingin Menjadi Taruna Nusantara”.

Salah satu bagian yang paling membekas dari empat hari itu tentu tes samapta.

Pagi itu bahkan dimulai dengan persoalan yang sekarang terdengar sepele: telur asin. Aku yang lahir dan besar di desa ternyata waktu itu belum pernah makan telur asin dan benar-benar kesulitan menelannya. Praktis aku menghadapi tes fisik dengan sarapan yang sangat minim.

Kemudian kami dibawa ke Stadion Diponegoro Semarang.

Di tengah panas yang memantul dari lintasan, aku melihat peserta lain menjalani lari 12 menit. Ada yang kelelahan, ada yang muntah. Sebagai anak SMP yang sedang menunggu giliran, melihat semua itu tentu membuat pikiran ke mana-mana.

Lalu giliranku tiba.

Aku berlari semampuku. Setelah itu masih ada push-up, sit-up, squat jump, pull-up dan shuttle run. Salah seorang petugas bahkan sempat menjulukiku “Kijang dari Wonogiri” setelah melihatku menjalani shuttle run.

Kisah hari kedua itu kutulis lebih lengkap dalam “12 Menit di Tengah Terik: Hari Kedua Seleksi Taruna Nusantara”. Kalau sekarang mengingatnya lagi, aku kadang ikut heran melihat apa yang dulu bisa dilakukan tubuhku ketika masih belasan tahun.

Tetapi berhasil melewati rangkaian seleksi di Semarang ternyata belum berarti aku menjadi siswa SMA Taruna Nusantara.

Kami masih harus pulang dan menunggu.

Zaman itu belum ada WhatsApp, SMS atau email seperti sekarang. Informasi resmi datang melalui surat atau telegram. Sementara pendaftaran SMA lain sudah berjalan, aku akhirnya mendaftar ke SMA Negeri 1 Wonogiri.

Sampai suatu hari, ketika aku sedang sendirian di rumah karena bapak dan ibu pergi menghadiri hajatan, seseorang berpakaian loreng tentara mengetuk pintu.

Dia membawa telegram.

Aku dipanggil ke Magelang.

Keesokan paginya aku berangkat bersama ayah. Perjalanan menuju SMA Taruna Nusantara harus ditempuh dengan berkali-kali berganti kendaraan. Setelah sampai di Magelang, aku masih harus menjalani pemeriksaan kesehatan tahap kedua dan pantukhir berupa wawancara.

Di sinilah semuanya nyaris berakhir.

Satu nilai NEM-ku berada di bawah batas minimal. Wawancara dihentikan. Aku dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dan diminta berkemas. Bahkan aku disuruh menunggu bendahara untuk menerima uang pengganti transportasi pulang.

Aku sudah hampir menjadi peserta yang gagal.

Tetapi sebelum semuanya benar-benar selesai, aku memberanikan diri meminta kesempatan untuk menyampaikan argumen. Aku tidak menyangkal bahwa nilaiku memang berada di bawah persyaratan. Aku hanya mencoba menjelaskan bahwa menurutku satu angka tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kemampuan belajarku.

Sekitar tiga puluh menit setelah dinyatakan gagal, aku dipanggil kembali.

Keputusannya berubah.

Aku diterima dengan syarat.

Pengalaman yang sekarang kuanggap sebagai salah satu negosiasi penting pertamaku itu kutulis dalam “Pengalaman Masuk Seleksi SMA Taruna Nusantara: Negosiasi di Saat Kritis”. Hari itu aku tidak jadi menemui bendahara untuk mengambil ongkos pulang. Ayah pulang sendiri ke Wonogiri, sedangkan aku langsung masuk asrama.

Ternyata lolos seleksi hanyalah pintu masuk.

Setelah itu dimulailah kehidupan yang sama sekali baru. Ada disiplin, aturan, pamong, teman-teman dari berbagai daerah dan aktivitas yang jauh berbeda dengan kehidupanku sebelumnya. Bahkan urusan makan pun ternyata bisa menjadi cerita yang membekas sampai puluhan tahun kemudian.

Di rumah, satu telur pernah kami bagi berempat. Daging sapi termasuk makanan yang sangat jarang kami nikmati. Tetapi setelah tinggal di SMA Taruna Nusantara, daging, ayam, ikan atau telur menjadi bagian dari menu yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa.

Bukannya langsung senang, pada awalnya aku justru kesulitan.

Setiap melihat daging di ompreng, aku teringat bapak, ibu dan adikku di Wonogiri. Beberapa kali daging itu kusembunyikan di antara sayur, kemudian kuberikan kepada teman setelah dia menghabiskan jatahnya sendiri.

Sampai suatu malam aku ketahuan.

Daging yang kusembunyikan terlihat oleh almarhum Kolonel Marinir A. Karis Usman, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan saat itu. Setelah mendapat pengarahan dan hukuman push-up, satu potong daging yang sejak awal ingin kuhindari justru berubah menjadi lima potong yang harus kuhabiskan.

Itulah cerita “Sepotong Daging Beranak 5”.

Sekarang memang terdengar lucu. Tetapi malam itu aku benar-benar mual dan hampir tidak sanggup memakannya. Aku akhirnya menghabiskan lima potong daging itu perlahan sambil membayangkan sedang berada di rumah, makan bersama bapak, ibu dan adikku.

Ternyata cara sederhana yang kutemukan malam itu kemudian menjadi kebiasaan yang masih terbawa sampai sekarang.

Kalau kelima cerita ini kubaca kembali, aku seperti sedang menyusun potongan-potongan perjalanan yang dulu sama sekali tidak pernah kurencanakan.

Aku memulainya sebagai anak desa yang hanya mencari sekolah gratis. Kemudian bertemu begitu banyak peserta dan mulai benar-benar ingin lolos. Aku berlari 12 menit di tengah terik Semarang, nyaris dipulangkan karena satu nilai NEM, mendapat kesempatan kedua, lalu hari itu juga masuk asrama dan memulai kehidupan baru.

Setelah menjadi siswa pun semuanya tidak otomatis menjadi mudah. Ada proses beradaptasi, aturan yang harus ditaati, rasa rindu rumah dan pengalaman-pengalaman kecil yang justru baru kupahami maknanya setelah puluhan tahun berlalu.

Mungkin itulah alasan aku mulai menuliskan kembali cerita-cerita ini.

Bukan untuk mengatakan bahwa masa sekolahku lebih hebat daripada masa sekolah orang lain. Bukan pula untuk membuat SMA Taruna Nusantara terlihat sempurna. Aku hanya ingin merekamnya sebagaimana yang kuingat dan kualami sendiri.

Ada yang menegangkan, ada yang melelahkan, ada yang sekarang terasa lucu. Ada pula kejadian yang ketika masih berumur belasan tahun terasa biasa saja, tetapi sekarang justru membuatku berhenti sebentar ketika mengingatnya.

Lima tulisan ini adalah bagian dari perjalanan yang sama:

Masuk Taruna Nusantara Bukan Karena Gengsi, Tetapi Karena Gratis menjadi awal ceritaku—tentang keluarga dan alasan sederhana mengapa aku mengikuti seleksi.

Empat Hari yang Membuatku Benar-Benar Ingin Menjadi Taruna Nusantara bercerita tentang saat keinginanku mulai berubah dari sekadar mencoba menjadi benar-benar ingin lolos.

12 Menit di Tengah Terik: Hari Kedua Seleksi Taruna Nusantara menyimpan salah satu pengalaman fisik yang paling kuingat selama seleksi.

Pengalaman Masuk Seleksi SMA Taruna Nusantara: Negosiasi di Saat Kritis adalah cerita tentang hari ketika aku sempat dinyatakan gagal, lalu mendapat satu kesempatan yang akhirnya membawaku masuk asrama.

Dan Sepotong Daging Beranak 5 menjadi salah satu cerita awal kehidupanku setelah benar-benar menjadi siswa.

Masih ada tiga tahun kehidupan di SMA Taruna Nusantara yang belum semuanya kutuliskan. Tentang pertemanan, disiplin, kehidupan asrama, pelajaran, kenakalan, kegagalan, kelucuan, juga pengalaman-pengalaman kecil yang ternyata ikut membentuk diriku sampai hari ini.

Jadi, rasanya lima cerita ini belum pantas disebut sebagai akhir.

Ini baru permulaan.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts