Kalau melihat ke belakang, ternyata banyak hal yang dulu saya anggap biasa saja justru menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Ada keputusan yang waktu itu saya ambil karena keadaan. Ada orang-orang yang datang tanpa pernah saya duga. Ada persahabatan, pekerjaan, organisasi, kegagalan, juga masa ketika kehidupan berubah begitu cepat.
Saat menjalaninya, saya tentu tidak berpikir: "Suatu hari kejadian ini akan menjadi pelajaran hidup." Ya dijalani saja. Baru setelah bertahun-tahun berlalu, ketika mengingatnya kembali, saya sering tersenyum sendiri. “Oalah... ternyata ada maksudnya.”
Halaman ini saya buat untuk mengumpulkan cerita-cerita semacam itu. Bukan cerita tentang keberhasilan. Apalagi kumpulan petuah tentang bagaimana seharusnya orang menjalani hidup. Ini hanya cerita tentang perjalanan saya sendiri. Kalau kemudian ada sesuatu yang bisa dipetik dari sana, barangkali itulah gunanya sebuah pengalaman dibagikan.
1. Masuk Taruna Nusantara Gara-Gara Gratis
Saya lahir dan tumbuh sebagai anak desa di Wonogiri. Bapak guru SD. Ibu mengurus rumah tangga. Setelah lulus SMP, keinginan saya sebenarnya sama seperti kebanyakan teman saat itu: masuk SMA negeri favorit.
Bapak punya pertimbangan lain. “Cari sekolah yang gratis saja.” Sederhana sekali.
Akhirnya saya mengikuti seleksi sebuah sekolah baru di Magelang bernama SMA Taruna Nusantara. Saya bahkan belum benar-benar memahami sekolah macam apa itu. Yang saya tahu: kalau diterima, biaya sekolah tidak lagi menjadi persoalan besar bagi keluarga.
Jadi kalau sekarang orang bertanya kenapa dulu memilih Taruna Nusantara, jawabannya sebenarnya jauh dari keren. Bukan karena gengsi. Bukan karena sejak kecil punya cita-cita masuk sekolah bergengsi. Ya karena gratis tadi.
Lucunya, keputusan yang lahir dari keterbatasan ekonomi itu justru membawa perjalanan hidup saya ke arah yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mungkin memang begitu hidup bekerja. Kadang sebuah jalan terbuka bukan karena kita punya banyak pilihan, tetapi justru karena pilihan kita sangat terbatas.
Masuk Taruna Nusantara Bukan Karena Gengsi, Tetapi Karena Gratis
2. Berdiri Paling Belakang Saat Sahur
Kejadiannya saat sebuah diklat di Kaliurang pada bulan Ramadan. Waktu sahur saya melihat makanan yang tersedia dan mulai curiga jumlahnya tidak cukup untuk semua peserta.
Saya spontan meminta peserta perempuan tetap di depan antrean. Peserta laki-laki saya minta mundur. Saya sendiri berdiri paling belakang.
Dan benar. Makanannya habis. Tujuh orang terakhir tidak kebagian nasi dan lauk. Semuanya laki-laki. Termasuk saya.
Waktu itu saya tidak sedang berpikir tentang teori kepemimpinan. Tidak ada pikiran bahwa kejadian tersebut suatu hari akan saya tulis. Yang ada di kepala cuma sederhana: kalau memang harus ada yang tidak kebagian, jangan mereka.
Bertahun-tahun kemudian saya justru sering teringat kejadian kecil itu. Jabatan mungkin membuat seseorang berada di depan. Tetapi ada saatnya memimpin justru berarti tahu kapan harus mundur dan berdiri paling belakang.
Teriakan Saat Sahur Diklat CS KUR Kaliurang
3. Jam Lima Sore, Sebuah Ruangan dan Semangkuk Bakso
Tidak semua orang yang kemudian kita ingat datang melalui sebuah peristiwa besar. Kadang awalnya malah sangat biasa. Seorang anak magang. Sebuah ruangan kantor. Jam lima sore. Lalu semangkuk bakso setelah pekerjaan selesai. Sesederhana itu.
Tetapi manusia memang aneh. Ada orang yang kita kenal bertahun-tahun tetapi akhirnya hanya tinggal nama. Ada pula orang yang awalnya cuma mampir sebentar dalam kehidupan kita, tetapi bertahun-tahun kemudian kita masih mengingat percakapan, tingkah laku, bahkan kejadian-kejadian kecil bersamanya.
Dari cerita itu saya juga belajar untuk tidak terlalu cepat percaya pada penilaian orang tentang seseorang. Kenali sendiri orangnya. Bicara dengannya. Lihat bagaimana dia memperlakukan orang lain. Karena manusia sering kali jauh lebih kompleks daripada cerita yang beredar tentang dirinya.
Dan mungkin sebuah pertemuan menjadi berarti bukan karena berapa lama seseorang hadir. Tetapi karena apa yang tertinggal setelah pertemuan itu berlalu.
4. Ketika Para Rival Akhirnya Mau Duduk Bersama
Mendirikan Pagersemar sebenarnya berangkat dari situasi yang agak unik. Orang-orang yang ingin kami kumpulkan justru para pelaku usaha yang sehari-hari bisa menjadi pesaing satu sama lain. Mereka berebut pasar. Berebut konsumen. Kadang juga membawa kepentingannya masing-masing.
Tetapi pada satu titik kami mencoba duduk di meja yang sama. Ngobrol. Mencari apa yang sebenarnya menjadi kepentingan bersama. Dari situlah perlahan lahir Pagersemar.
Yang menarik bagi saya justru bukan saat organisasi itu berdiri. Yang lebih menarik adalah melihatnya bertahun-tahun kemudian. Orang berganti. Pengurus berganti. Mereka yang dulu ikut merintis tidak harus terus berada di depan. Tetapi organisasinya tetap berjalan.
Saya kemudian memahami bahwa mungkin salah satu keberhasilan membangun organisasi justru terjadi ketika organisasi tersebut tidak lagi bergantung kepada orang yang membangunnya.
Kalau suatu hari kita bisa menepi dan sesuatu yang pernah kita bangun tetap berjalan, mungkin pekerjaan kita dulu tidak terlalu buruk.
Ketika Para Rival Mau Duduk Satu Meja: Kisah Lahirnya Pagersemar
5. Mengapa Ida Menangis?
Awalnya kami hanya sekumpulan orang yang dipertemukan dalam sebuah diklat. Tidak saling mengenal. Latar belakang berbeda. Karakter berbeda.
Lalu hari-hari berjalan. Ada kegiatan bersama. Tarawih. Obrolan malam. Permainan. Candaan. Kadang mungkin juga saling menjengkelkan. Tanpa sadar, jarak itu makin tipis.
Sampai akhirnya diklat selesai dan Ida menangis. Kejadian itu sederhana, tetapi membuat saya menyadari sesuatu. Ternyata kedekatan tidak selalu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kadang orang-orang yang baru kita kenal beberapa hari bisa terasa sangat dekat karena dalam waktu singkat kami mengalami banyak hal bersama.
Mungkin persahabatan memang tidak selalu dihitung dengan kalender. Ada yang mengenal kita sepuluh tahun tetapi hanya tahu sedikit tentang kita. Ada yang baru bersama beberapa hari, tetapi sudah punya cerita yang akan tetap lucu ketika dikenang bertahun-tahun kemudian.
Mengapa Ida Menangis Saat Diklat Berakhir?
6. Sore Masih Presentasi, Tengah Malam Masuk IGD
Tanggal 11 Oktober 2024 sore saya masih berdiri di depan dewan juri. Hari itu saya mengikuti final ASN Inovatif dan mempresentasikan inovasi yang saya buat. Beberapa jam kemudian semuanya berubah.
Tengah malam saya membangunkan istri. “Antarkan ke rumah sakit.” Saya masuk IGD. Hari-hari setelahnya membawa kehidupan saya ke arah yang sebelumnya tidak pernah saya rencanakan.
Aktivitas berubah. Kemampuan tubuh berubah. Cara saya menjalani hari juga harus berubah. Pada awalnya tentu tidak mudah menerima bahwa ada banyak hal yang sebelumnya bisa dilakukan begitu saja, sekarang harus dipikirkan lagi.
Tetapi hidup rupanya tidak bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia jalan terus. Maka saya juga harus jalan terus. Hanya caranya yang berbeda.
Dulu mungkin saya menganggap bertahan berarti tetap mampu melakukan semuanya seperti biasa. Sekarang pengertiannya berubah. Kalau harus lebih pelan, ya lebih pelan. Kalau harus dibantu, ya menerima bantuan. Kalau rutenya tidak bisa seperti dulu, cari rute lain.
Yang penting jangan berhenti hanya karena cara berjalan kita berubah.
Sore Itu Saya Masih Final ASN Inovatif, Tengah Malam Saya Masuk IGD
Ternyata Hidup Memang Penuh Cerita
Enam cerita di atas berasal dari masa yang berbeda. Sekolah. Diklat. Pekerjaan. Persahabatan. Organisasi. Sampai masa ketika tubuh memaksa saya menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda.
Tidak semuanya menyenangkan. Tidak semuanya juga saya pahami saat kejadian itu berlangsung. Tetapi setelah melewati cukup banyak perjalanan, saya semakin percaya bahwa hidup memang seperti itu.
Ada kejadian yang membuat kita tertawa. Ada yang membuat marah. Ada yang membuat malu. Ada yang baru terasa lucu setelah bertahun-tahun. Dan ada pula yang sama sekali tidak ingin kita alami, tetapi ternyata mengubah cara kita memandang kehidupan.
Saya juga tidak tahu cerita apa yang masih menunggu di depan. Ya sudah, dijalani saja.
Nanti kalau sudah lewat, mungkin kita akan menoleh ke belakang lagi dan berkata: “Oalah... ternyata ada maksudnya.”

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.