Thursday, July 16, 2026

"Tidak semua pengkhianatan dimulai dengan niat buruk. Kadang ia hadir perlahan, ketika kita mulai lupa mengapa dulu memilih jalan yang sedang kita tempuh."




Beberapa tahun yang lalu, ketika masih menjadi mahasiswa, aku pernah mempunyai satu keinginan sederhana.

Aku ingin memiliki sebuah buku berjudul Kita Masih Harus Merawat Bumi.

Entah mengapa, sejak pertama kali mendengar judulnya, aku merasa buku itu sedang memanggilku. Bahkan saking penasarannya, keinginan untuk membacanya pernah terbawa sampai ke dalam mimpi.

Sayangnya, sebagai mahasiswa, membeli buku bukanlah perkara mudah.

Ada banyak kebutuhan lain yang harus didahulukan.

Keinginan itu pun kusimpan rapat-rapat.

Beberapa tahun kemudian, setelah sedikit demi sedikit menyisihkan uang, akhirnya buku itu berhasil kubeli.

Dan ternyata...

Tidak sia-sia aku menunggu.

Buku itu benar-benar menjawab kegelisahanku.

Ia tidak hanya berbicara tentang hutan, gunung, sungai, atau satwa liar. Buku itu berbicara tentang hubungan manusia dengan bumi yang menjadi rumah bersama.

Ada satu kalimat dalam kata pengantarnya yang sampai hari ini masih melekat kuat di kepalaku.

"Perawatan bumi sudah diromantisasi. Juga sudah menjadi komoditas politik. Tetapi sebenarnya tujuan perawatan bumi sama seperti merawat rumah kita, yaitu agar kita dapat hidup sehat dan nyaman. Jadi, untuk kepentingan kita sendiri."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi semakin lama kupikirkan, semakin terasa dalam maknanya.

Selama ini kita sering diajak menjaga bumi demi anak cucu.

Demi masa depan.

Demi generasi berikutnya.

Padahal alasan yang paling dekat justru sering terlupakan.

Kita menjaga bumi karena bumi adalah rumah kita sendiri.


Mungkin karena pemikiran itulah, beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan mengisi materi Pra Diksar Mapala.

Hari itu, Minggu, 28 Oktober 2007, panitia sebenarnya meminta materi yang masih berkaitan dengan suasana Syawalan.

Temanya tidak jauh dari ikatan korps dan mempererat silaturahmi.

Namun aku merasa peserta mungkin sudah terlalu sering mendengar materi seperti itu.

Aku ingin mengajak mereka berpikir sedikit lebih jauh.

Aku ingin mereka mempertanyakan kembali alasan mengapa memilih menjadi seorang pecinta alam.

Akhirnya kupilih sebuah judul yang terdengar agak provokatif.

"Bisikan untuk Berkhianat dalam Konteks Organisasi Pecinta Alam."

Begitu judul itu kutulis, suasana ruangan langsung berubah.

Peserta yang semula duduk santai mulai serius.

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.

Apa yang dimaksud berkhianat?

Apakah meninggalkan organisasi?

Apakah melanggar aturan?

Apakah tidak aktif lagi?

Ataukah ada makna yang lebih dalam?

Diskusi berkembang sangat hangat.

Setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda.

Ada yang mengatakan berkhianat berarti meninggalkan organisasi.

Ada yang menganggapnya sebagai bentuk ketidaksetiaan terhadap senior.

Ada pula yang menghubungkannya dengan hilangnya rasa memiliki terhadap almamater.

Aku sendiri tidak berusaha mencari siapa yang paling benar.

Hari itu aku hanya menjadi moderator.

Karena bagiku, tujuan diskusi bukanlah mencari pemenang, tetapi membuka ruang untuk berpikir.

Sampai acara selesai, kami belum menemukan satu kesimpulan yang benar-benar disepakati bersama.

Karena itulah aku mengusulkan satu pertemuan lanjutan.

Materinya lebih mendasar.

Hakikat Pecinta Alam dan Sejarah Mapala.

Menurutku, sebelum membahas kesetiaan atau pengkhianatan, seseorang harus lebih dulu memahami hakikat menjadi seorang pecinta alam.

Karena setelah membaca buku Kita Masih Harus Merawat Bumi, aku mulai menyadari bahwa pengkhianatan terbesar bukan selalu kepada organisasi.

Kadang justru kepada nilai yang dulu kita perjuangkan.

Kita bisa saja masih memakai jaket Mapala.

Masih datang ke sekretariat.

Masih menghadiri setiap kegiatan.

Tetapi perlahan kehilangan kepedulian terhadap alam.

Kehilangan kepekaan terhadap masyarakat.

Bahkan kehilangan alasan mengapa dulu memilih bergabung.

Bukankah itu juga sebuah bentuk pengkhianatan?


Refleksi

Hampir dua puluh tahun telah berlalu.

Generasi berganti.

Teknologi berubah.

Organisasi berkembang.

Namun pertanyaan itu menurutku masih tetap relevan hingga hari ini.

Apa arti setia bagi seorang pecinta alam?

Karena pengkhianatan tidak selalu dimulai ketika seseorang keluar dari organisasi.

Ia sering dimulai jauh lebih halus.

Ketika ego mulai mengalahkan pengabdian.

Ketika jabatan lebih penting daripada nilai.

Ketika kegiatan lebih ramai daripada perenungan.

Dan ketika kita lebih sibuk membicarakan alam daripada benar-benar merawatnya.

Mungkin karena itulah, buku Kita Masih Harus Merawat Bumi tidak pernah benar-benar selesai kubaca.

Bukan karena halamannya belum habis.

Melainkan karena setiap kali kehidupan memberiku pengalaman baru, aku seperti sedang membuka kembali halaman yang berbeda dari buku yang sama.

Dan sampai hari ini, aku masih percaya...

merawat bumi bukan sekadar aktivitas seorang pecinta alam.

Merawat bumi adalah cara kita merawat rumah, tempat kita hidup, sekaligus menjaga agar kita tidak berkhianat pada nilai-nilai yang pernah kita yakini.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata