Ada kalanya seseorang memilih menyembunyikan sebagian kebenaran demi mencegah kepanikan, menjaga kebersamaan, atau bahkan menyelamatkan banyak orang dari risiko yang tidak perlu.
Saya mengatakan kepada seluruh peserta bahwa kami salah jalur.
Padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu.
Pendakian yang Dimulai dari Cerita Mulut ke Mulut
Malam yang Gelap di Jalur Wekas Pelajaran yang Baru Saya Pahami Bertahun-tahun Kemudian Jejak yang Sebenarnya
Tahun 1995 adalah masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Belum ada media sosial, belum ada grup WhatsApp, bahkan telepon seluler masih menjadi barang mewah.
Informasi pendakian yang saya selenggarakan menyebar hanya melalui cerita dari teman ke teman, dari teman kos ke teman kos lainnya.
Di luar dugaan, terkumpul sekitar tiga puluh peserta.
Ada yang berasal dari UGM, USD, dan UNY. Namun mereka tidak mewakili organisasi kampus, unit kegiatan mahasiswa, atau kelompok pecinta alam tertentu. Mereka hanyalah anak-anak muda yang tertarik ikut mendaki setelah mendengar cerita dari temannya.
Untuk ukuran pertengahan tahun 1990-an, jumlah tersebut tergolong besar.
Yang membuat suasana semakin menarik, jumlah peserta laki-laki dan perempuan relatif seimbang. Saya membayangkan perjalanan yang meriah, penuh tawa, dan menjadi kenangan indah bagi semua peserta.
Namun ketika hari keberangkatan tiba, saya segera menyadari satu hal.
Sebagian besar peserta ternyata adalah pendaki pemula.
Melihat perlengkapan mereka, rasanya lebih seperti rombongan yang akan berkemah daripada mendaki gunung setinggi lebih dari 3.000 meter.
Tas mereka penuh makanan.
Jaket dan pakaian yang dibawa berwarna-warni.
Banyak yang mengenakan aksesori yang menurut mereka keren untuk dipakai di gunung.
Tetapi perlengkapan penting justru banyak yang kurang.
Air minum yang dibawa sering kali tidak mencukupi. Peralatan pendakian yang memadai juga terbatas.
Untungnya panitia inti sudah mengantisipasi kondisi tersebut.
Kami membawa tenda, sleeping bag, nesting, kompor gas portabel, logistik kelompok, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Perbandingannya kira-kira satu set perlengkapan lengkap untuk setiap lima peserta.
Akibatnya, lima orang panitia inti harus membawa beban jauh lebih berat daripada peserta lainnya. Beberapa bahkan menggunakan dua carrier sekaligus agar semua perlengkapan kelompok dapat terangkut.
Hanya dua hal yang tetap diwajibkan dibawa sendiri oleh setiap peserta: air minum dan ponco.
Rute yang kami pilih adalah jalur Wekas.
Jalur ini sudah sangat akrab bagi saya. Sejak tahun 1993 saya sering mendaki Merbabu melalui jalur tersebut. Setiap kali datang, saya hampir selalu singgah di rumah Pak Topar yang menjadi tempat berkumpul para pendaki saat itu.
Hubungan kami sudah seperti keluarga.
Saya mengenal istri Pak Topar, juga kedua anaknya, Mas Yanto dan Mas Panggih. Setiap kali datang, kami sering menghabiskan waktu berbincang dan bernostalgia sebelum memulai pendakian.
Malam itu seluruh peserta beristirahat terlebih dahulu di basecamp.
Rencananya kami akan mulai berjalan pukul 00.00. Dengan perkiraan waktu tempuh lima hingga enam jam, kami berharap bisa tiba di puncak menjelang matahari terbit tanpa perlu mendirikan tenda atau beristirahat terlalu lama di jalur.
Tepat tengah malam seluruh peserta dibangunkan.
Setelah briefing singkat, pengecekan anggota, dan memastikan seluruh perlengkapan siap, rombongan mulai bergerak meninggalkan basecamp menuju lereng Merbabu yang gelap.
Awalnya perjalanan berlangsung lancar.
Namun setelah melewati area makam, jalur mulai terasa membingungkan. Dalam kegelapan malam kami memilih jalur yang mengarah lebih ke kanan, menuju kawasan air terjun.
Sekitar satu setengah jam kemudian, saat berjalan paling depan memimpin rombongan, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya terhenti.
Di tanah yang masih lembap terlihat jejak-jejak yang menurut saya sangat mencurigakan.
Jejak itu bukan jejak manusia.
Bentuknya menyerupai tapak kaki binatang besar yang baru saja turun mencari air minum. Bekasnya masih basah dan tampak jelas di jalur yang kami lalui.
Saya berhenti beberapa saat.
Memperhatikan jejak itu.
Memikirkan berbagai kemungkinan.
Di belakang saya ada tiga puluh peserta.
Sebagian besar adalah pendaki pemula.
Saya tahu satu hal.
Jika saya mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan, kepanikan bisa menyebar dengan sangat cepat.
Dalam kelompok besar yang belum berpengalaman, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada ancaman yang sesungguhnya.
Saya mengambil keputusan.
"Saya rasa kita salah jalur."
"Kita kembali ke jalur makam."
Tidak ada yang membantah.
Semua mengikuti instruksi dan berbalik arah.
Malam itu mereka mengira keputusan tersebut diambil karena kesalahan navigasi.
Padahal alasan sebenarnya berbeda.
Saya hanya tidak ingin rombongan terus berjalan menuju tempat yang menurut naluri saya tidak aman.
Dan yang lebih penting lagi, saya tidak ingin rasa takut menyebar ke seluruh kelompok.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, saya sering merenungkan kembali keputusan yang saya ambil malam itu.
Apakah saya berbohong?
Mungkin iya.
Tetapi saya belajar bahwa hidup tidak selalu sesederhana hitam dan putih.
Saat masih muda saya mengira seorang pemimpin harus selalu mengatakan semua yang ia ketahui kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Namun pengalaman mengajarkan hal yang berbeda.
Dalam situasi tertentu, tugas seorang pemimpin bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjaga agar kelompok tetap tenang, tetap utuh, dan tetap selamat.
Saya membayangkan jika saat itu saya berkata,
"Ada jejak binatang buas di depan."
Mungkin sebagian peserta akan panik.
Mungkin ada yang ingin turun gunung.
Mungkin ada yang berlari tanpa arah.
Mungkin rombongan yang semula tertib justru menjadi tercerai-berai.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian bukan selalu tentang maju menghadapi bahaya.
Kadang keberanian justru berupa kemampuan untuk mundur beberapa langkah demi menghindari risiko yang tidak perlu.
Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan yang benar akan langsung dipahami oleh orang lain.
Seorang pemimpin sering kali harus memikul pertimbangan yang tidak terlihat oleh orang-orang yang dipimpinnya.
Tidak semua alasan bisa dijelaskan saat itu juga.
Tidak semua keputusan akan terlihat masuk akal pada saat keputusan itu diambil.
Kadang penjelasannya baru bisa dipahami bertahun-tahun kemudian.
Hari ini saya bahkan sudah lupa seperti apa bentuk pasti jejak yang saya lihat malam itu.
Namun saya tidak pernah lupa pelajaran yang ditinggalkannya.
Jejak yang paling membekas ternyata bukan jejak binatang di tanah yang basah.
Melainkan jejak tanggung jawab yang tertanam dalam pikiran saya.
Karena menjadi pemimpin bukan berarti berjalan paling depan agar terlihat paling hebat.
Menjadi pemimpin berarti bersedia memikul beban yang tidak dilihat orang lain dan mengambil keputusan yang mungkin tidak populer demi keselamatan bersama.
Dan saya belajar satu hal lagi:
Tidak semua kemenangan diraih dengan menaklukkan puncak. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil membawa semua orang pulang dengan selamat.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.