Selama lebih dari satu dekade mendampingi desa wisata di Kota Semarang, saya sudah berkali-kali menyelenggarakan pelatihan digital marketing. Materinya beragam, mulai dari pembuatan akun media sosial, pengelolaan Facebook dan Instagram, pembuatan Google Business Profile, hingga pengelolaan blog desa wisata.
Namun semakin sering mendampingi, saya semakin menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah mengajarkan teknologi, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan secara berkelanjutan.
Awalnya saya mengira persoalannya sederhana. Hari ini peserta dilatih membuat akun media sosial, besok mereka tinggal menggunakannya untuk promosi desa wisata. Ternyata kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu.
Keesokan harinya ketika akan praktik membuat postingan, banyak peserta yang sudah lupa alamat email maupun password akun yang baru saja dibuat. Kondisi ini sangat bisa dimaklumi karena sebagian peserta merupakan pelaku desa wisata yang belum terbiasa menggunakan teknologi informasi. Sebagian lainnya bahkan sudah berusia cukup senior.
Berbeda ketika pesertanya anak-anak muda. Mereka biasanya lebih cepat memahami materi. Namun muncul tantangan yang berbeda. Tidak sedikit peserta muda yang justru menggunakan keterampilannya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk mempromosikan desa wisata. Akun media sosial lebih banyak digunakan untuk mengunggah aktivitas pribadi dibandingkan mengangkat potensi wisata di desanya.
Masalah lain muncul saat pelatihan Google Business Profile. Secara teori terlihat mudah, tetapi praktiknya sering kali penuh kejutan. Ada peserta yang lupa email yang digunakan saat registrasi. Ada yang berhasil login tetapi titik lokasi yang muncul justru berada di desa lain. Ada pula yang memilih hanya melihat dan mendengarkan tanpa pernah mencoba sendiri.
Sebagai fasilitator, kami tentu tidak nyaman jika harus memaksa semua peserta untuk praktik. Kami hanya bisa membimbing mereka yang benar-benar memiliki kemauan belajar.
Dari pengalaman tersebut, saya mencoba menyusun format pelatihan yang berbeda. Kali ini materinya dinaikkan menjadi pembuatan konten menggunakan telepon seluler dan pengelolaan media sosial. Pesertanya terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari pengelola hotel, restoran, kafe, hingga perwakilan desa wisata dan Pokdarwis.
Hasilnya justru semakin menarik.
Sekitar 20 persen peserta ternyata sudah sangat mahir. Mereka berasal dari pelaku usaha yang sehari-hari memang akrab dengan pemasaran digital. Sebaliknya, sebagian besar peserta dari desa wisata masih berada pada tahap pemula.
Akibatnya suasana pelatihan menjadi unik. Ada peserta yang merasa materi terlalu dasar sehingga mulai bosan. Namun di sisi lain ada peserta yang justru kewalahan mengikuti materi karena masih sangat baru.
Kami kemudian mencoba metode praktik kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh peserta yang sudah mahir. Harapannya akan terjadi proses belajar antar peserta.
Metode ini memang membantu, tetapi tetap memiliki kelemahan. Pada akhirnya yang paling aktif praktik tetap peserta yang sudah mahir, sedangkan peserta lainnya cenderung menjadi penonton.
Dari sinilah lahir inovasi berikutnya.
Pelatihan digital marketing tidak lagi berdiri sendiri, tetapi dimasukkan ke dalam program pendampingan pemasaran pariwisata. Desa wisata diminta mengirimkan tiga orang anak muda atau perwakilan karang taruna yang didampingi dua hingga tiga orang pengurus desa wisata. Dengan demikian, kemampuan teknis dimiliki generasi muda, sementara arah pengembangan tetap sesuai kebutuhan desa wisata.
Pendampingan dilakukan langsung di lokasi desa wisata masing-masing dengan sistem seperti privat. Fasilitator SIBARISTA hadir untuk mendampingi praktik pembuatan konten, pengelolaan akun media sosial, hingga penyusunan strategi promosi.
Hasilnya cukup menggembirakan. Peserta lebih fokus, materi lebih mudah dipahami, dan konten yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan desa wisata.
Meski demikian, tantangan belum selesai. Pendampingan model ini membutuhkan waktu yang panjang karena dilakukan satu per satu di setiap desa wisata. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa setelah pendampingan selesai, akun media sosial akan terus dikelola secara aktif.
Ada desa wisata yang mampu konsisten membuat konten setiap minggu. Ada yang hanya sebulan sekali. Bahkan ada pula yang setelah satu tahun tidak lagi terlihat melakukan pembaruan apa pun.
Namun dari semua pengalaman tersebut, saya belajar bahwa transformasi digital bukanlah pekerjaan satu atau dua kali pelatihan. Transformasi digital adalah proses panjang yang membutuhkan pendampingan, regenerasi, komitmen, dan budaya belajar yang terus menerus.
Sampai hari ini, salah satu inspirasi terbaik dalam pengelolaan media sosial desa wisata tetaplah Desa Wisata Kandri. Konsistensi mereka dalam membuat konten, memperbarui informasi, dan mempromosikan berbagai paket wisata menjadi bukti bahwa pemasaran digital akan memberikan hasil apabila dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, media sosial bukan sekadar tempat mengunggah foto. Media sosial adalah etalase digital yang menentukan apakah sebuah desa wisata akan dikenal, dikunjungi, dan dicintai oleh wisatawan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.