Bagi saya, Desa Wisata Kandri bukan sekadar sebuah desa wisata. Kandri adalah inspirasi. Kandri adalah bukti bahwa desa wisata dapat berkembang pesat apabila fokus pada produk, pemasaran, dan kolaborasi, bukan sekadar mengejar status atau bantuan anggaran.
Desa Wisata Kandri ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Semarang pada tahun 2012. Saat itu merupakan tahun kedua saya bekerja sebagai ASN di bidang pariwisata. Sebagai staf yang masih "unyu-unyu", tugas saya lebih banyak mengamati, belajar, dan melaksanakan arahan pimpinan dalam berbagai kegiatan pembinaan desa wisata.
Dari berbagai kegiatan tersebut, saya mulai memahami bahwa pola pembinaan desa wisata pada waktu itu sebenarnya belum cukup efektif untuk menghasilkan desa wisata yang mandiri. Sebagian besar pelatihan yang diberikan masih berfokus pada transfer pengetahuan atau knowledge sharing. Peserta diajak melihat contoh desa wisata yang sukses, mengenal berbagai atraksi wisata, memahami faktor keberhasilan desa wisata lain, atau melihat contoh paket wisata yang sudah ada.
Semua itu memang penting. Namun ada satu hal yang menurut saya masih kurang, yaitu pelatihan yang benar-benar menyentuh keterampilan praktis.
Jarang sekali ada pelatihan yang mengajarkan bagaimana cara memetakan potensi desa secara sistematis, bagaimana menyusun paket wisata yang menarik, bagaimana menentukan harga, bagaimana melakukan promosi, atau bagaimana menjual paket wisata secara langsung kepada pasar.
Akibatnya, banyak desa wisata yang setelah mendapatkan SK Desa Wisata justru berhenti berkembang. Fokus mereka bergeser menjadi bagaimana memanfaatkan status desa wisata untuk mengakses anggaran pembangunan melalui Musrenbang, CSR, atau berbagai program bantuan lainnya. Produk wisata tidak berkembang, pemasaran tidak berjalan, dan kunjungan wisatawan tidak bertumbuh secara signifikan.
Kandri memilih jalan yang berbeda.
Sejak awal, banyak pelaku Desa Wisata Kandri berasal dari berbagai latar belakang yang sangat mendukung perkembangan bisnis pariwisata. Ada yang bekerja di hotel, biro perjalanan wisata, dunia seni pertunjukan, hingga komunitas kreatif. Perpaduan berbagai latar belakang tersebut menciptakan proses transfer pengetahuan yang cepat, praktis, dan langsung dapat diterapkan.
Ketika sebagian desa wisata masih sibuk memikirkan proposal bantuan, Kandri justru sibuk menciptakan produk wisata baru dan menjualnya ke jaringan yang mereka miliki.
Ketika banyak desa wisata belum mengenal istilah farmtrip, Kandri sudah mengundang pelaku biro perjalanan wisata dan perhotelan untuk datang mencoba langsung berbagai paket wisata yang mereka miliki.
Salah satu paket yang menjadi pelopor sekaligus viral pada masanya adalah Paket Ngintir Kalijaga. Sebuah paket wisata susur sungai yang mengajak wisatawan mengikuti aliran sungai sambil menikmati cerita dan sejarah yang dikaitkan dengan jejak Sunan Kalijaga. Paket river tubing ini menjadi salah satu ikon awal yang membuat nama Kandri mulai dikenal luas.
Keberhasilan tersebut tidak membuat Kandri berhenti berinovasi.
Dari tahun ke tahun, berbagai produk wisata baru terus lahir. Saat ini Desa Wisata Kandri telah memiliki lebih dari 25 paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Pilihannya sangat beragam, mulai dari paket melukis caping, nyawah, cabut singkong, cooking class olahan singkong, membatik, hingga berbagai permainan dan dolanan tradisional.
Yang menarik, sebagian besar paket wisata tersebut memiliki harga di atas Rp100.000 per orang. Bagi saya, ini bukan sekadar angka. Harga tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memberikan kepercayaan terhadap kualitas produk dan layanan yang dimiliki Desa Wisata Kandri.
Kepercayaan wisatawan tidak pernah datang begitu saja. Kepercayaan lahir dari konsistensi menjaga kualitas, terus berinovasi, dan memberikan pengalaman yang berkesan kepada setiap pengunjung.
Hari ini, Desa Wisata Kandri mampu mencatatkan omzet hingga sekitar Rp2 miliar per tahun. Sebuah pencapaian yang tentu tidak diraih dalam semalam. Di balik angka tersebut terdapat kerja keras, kolaborasi, keberanian mencoba hal baru, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang.
Karena itulah saya selalu mengatakan bahwa Kandri bukan untuk ditiru mentah-mentah. Kandri adalah inspirasi.
Yang harus direplikasi bukan atraksinya, bukan paket wisatanya, dan bukan produk wisatanya. Yang harus direplikasi adalah semangatnya: semangat menciptakan produk, semangat menjual, semangat berkolaborasi, dan semangat untuk terus berinovasi.
Inilah yang kemudian melahirkan gagasan Program 10 Kandri Baru, sebuah gerakan untuk membantu desa-desa wisata lain di Kota Semarang menemukan jalannya sendiri menuju keberhasilan berdasarkan potensi dan kearifan lokal yang mereka miliki.
Karena pada akhirnya, setiap desa memiliki cerita yang berbeda. Namun setiap desa juga memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
Dan bagi saya, Kandri adalah bukti bahwa keberhasilan itu mungkin diwujudkan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.