Sebelum mengenal dunia hemodialisa, hidup saya nyaris tidak pernah jauh dari aktivitas, komunitas, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bergerak di bidang pariwisata, hari-hari saya hampir selalu dipenuhi dengan pekerjaan, diskusi, dan aktivitas lapangan.
Meski jam kerja dimulai pukul 08.00, hampir setiap hari saya sudah tiba di kantor sekitar pukul 07.00 pagi. Sebaliknya, ketika banyak orang telah beristirahat di rumah, saya sering kali masih berada di luar untuk bertemu komunitas, paguyuban, atau asosiasi binaan guna berdiskusi mengenai perkembangan usaha dan merencanakan berbagai program bersama.
Suatu hari saya bisa berada di Inul Vizta sebagai basecamp Paguyuban Entertainment Semarang untuk membahas kondisi industri hiburan. Hari berikutnya saya mampir ke Mr. K Cafe untuk berdiskusi dengan pelaku usaha kafe mengenai fenomena "Rojali", tantangan yang dihadapi, dan berbagai upaya meningkatkan omzet usaha. Pada kesempatan lain saya berada di Wisata Mayangsari bersama Komunitas Rintisan Wisata Kreatif membahas strategi pengelolaan wisata sungai agar ribuan pengunjung yang datang setiap akhir pekan dapat terlayani dengan baik, pendapatan meningkat, dan kesempatan kerja dapat dinikmati lebih banyak warga.
Aktivitas seperti itu terus berulang hampir setiap hari kerja. Saya menikmati prosesnya karena melihat langsung bagaimana kolaborasi dan kreativitas mampu membantu masyarakat berkembang.
Di luar pekerjaan, saya juga memiliki kecintaan besar terhadap aktivitas alam terbuka. Akhir pekan biasanya saya gunakan untuk quality time bersama keluarga dan menjalani hobi mendaki gunung, camping, trekking, maupun berbagai aktivitas outdoor lainnya. Gunung Ungaran, Gunung Andong, dan Curug Semirang menjadi beberapa destinasi favorit karena lokasinya relatif dekat dari rumah dan memungkinkan saya menikmati waktu bersama alam meskipun hanya dalam waktu singkat.
Namun di balik semua aktivitas tersebut, ada satu hal penting yang sering saya abaikan: kesehatan.
Saya tidak cukup disiplin memperhatikan tekanan darah. Dalam waktu yang cukup lama, tekanan darah saya sering berada pada kisaran 160–190 mmHg dengan tekanan bawah mencapai 100–120 mmHg. Yang lebih buruk, kondisi tersebut sering saya biarkan tanpa pengobatan yang teratur karena merasa tubuh masih mampu beraktivitas seperti biasa.
Hingga akhirnya tubuh mulai memberikan peringatan.
Dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, kondisi kesehatan saya terus menurun. Fungsi ginjal semakin memburuk hingga akhirnya saya divonis menderita Gagal Ginjal Kronis Stadium Akhir dan harus menjalani terapi hemodialisa secara rutin.
Diagnosis tersebut menjadi titik balik yang mengubah banyak hal dalam hidup saya.
Sebagai seseorang yang terbiasa berbagi pengalaman dan membangun komunitas, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membagikan pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan sebagai pasien gagal ginjal. Saya menyadari bahwa banyak pasien yang mengalami kebingungan, ketakutan, bahkan kehilangan semangat ketika pertama kali menjalani hemodialisa.
Dari situlah lahir GinjalTalk.
GinjalTalk saya bangun sebagai ruang edukasi, informasi, dan motivasi bagi pasien gagal ginjal, pasien hemodialisa, keluarga pasien, maupun masyarakat umum. Melalui akun TikTok @ginjaltalk, saya berbagi pengalaman pribadi, pengetahuan yang saya pelajari selama menjalani terapi, serta berbagai informasi yang dapat membantu pasien menjalani hidup dengan lebih baik.
GinjalTalk bukanlah akun milik seorang dokter atau tenaga medis. GinjalTalk adalah ruang berbagi dari seorang pasien untuk sesama pasien. Tempat untuk saling bertanya, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti hanya karena seseorang harus menjalani hemodialisa.
Karena saya percaya, penyakit boleh datang tanpa diundang, tetapi harapan tidak boleh berhenti diperjuangkan.
Berbagi dari pengalaman, menguatkan dalam perjuangan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.