Kalimat itu diucapkan bapak dengan tenang.
Tidak membentak.
Tidak memaksa.
Tidak pula disertai penjelasan panjang.
Tetapi saya tahu beliau serius.
Saat itu saya baru lulus SMP. Sama seperti anak-anak lain, saya punya keinginan sendiri. Saya ingin masuk SMA Negeri favorit di kota. Rasanya keren. Teman-teman banyak yang ingin ke sana. Saya juga membayangkan bisa memakai seragam putih abu-abu dan berangkat sekolah ke kota setiap hari.
Namun bapak punya perhitungan yang berbeda.
Dan seperti banyak bapak pada zamannya, beliau lebih sering berbicara dengan kenyataan daripada dengan mimpi.
Saya lahir dan besar di sebuah desa di Wonogiri.
Bapak seorang guru SD. Ibu mengurus rumah tangga.
Kalau sekarang profesi guru begitu dihormati dan kesejahteraannya jauh lebih baik, dulu keadaannya berbeda. Gaji guru sangat sederhana. Apalagi bapak tidak hanya memikirkan anak dan istrinya sendiri.
Beliau juga membantu saudara-saudaranya sekolah.
Membantu sepupu.
Membantu kerabat yang membutuhkan.
Saya baru memahami semua itu ketika sudah dewasa.
Waktu kecil, yang saya tahu hanya satu:
Kalau makan ya makan.
Kalau ada lauk ya syukur.
Kalau tidak ada lauk ya tetap makan.
Kadang nasi tiwul dengan garam.
Kadang nasi tiwul dengan parutan kelapa.
Kadang makan krambil.
Pernah juga beberapa hari hanya ditemani terong bakar.
Anehnya, saya tidak pernah merasa hidup menderita.
Karena hampir semua teman saya hidup dengan cara yang sama.
Tidak ada yang merasa lebih miskin dari yang lain.
Kami hanya menjalani hidup sebagaimana adanya.
Masa kecil saya justru penuh kegembiraan.
Saya menggembala kambing di sekitar Bengawan Solo.
Mencari rumput.
Membantu memberi makan ternak.
Lalu sore hari bermain sepak bola di hamparan pasir sungai.
Kalau permainan selesai, kami ramai-ramai mandi di sungai.
Kadang berenang.
Kadang saling menyiram.
Kadang hanya duduk di pinggir sungai sambil bercanda sampai matahari hampir tenggelam.
Hari itu tidak menghasilkan uang.
Tidak menghasilkan nilai rapor.
Tetapi menghasilkan kenangan yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di kepala saya.
Kalau boleh memilih satu hari untuk diulang kembali, mungkin saya akan memilih hari-hari sederhana itu.
Hari ketika saya belum memikirkan masa depan.
Belum memikirkan pekerjaan.
Belum memikirkan jabatan.
Belum memikirkan apa pun selain bermain sampai sore dan pulang membawa kambing ke rumah.
Masa TK saya juga tidak kalah lucu.
Menurut cerita ibu, saya sering mogok sekolah.
Bukan karena nakal.
Bukan karena malas belajar.
Tetapi karena gurunya.
Kalau menurut saya gurunya cantik, saya mau masuk.
Kalau tidak, saya menolak berangkat.
Entah bagaimana cara berpikir saya waktu itu.
Yang jelas akibat ulah tersebut saya berpindah-pindah TK dan akhirnya bahkan tidak memiliki ijazah TK.
Kalau mengingatnya sekarang saya hanya bisa tertawa.
Untung setelah masuk SD saya berubah total.
Di SD saya justru menjadi anak yang sangat rajin belajar.
Hampir selalu juara kelas.
Aktif mengikuti berbagai lomba.
Lomba puisi.
Dokter kecil.
Catur.
LCT P4.
Dan banyak kegiatan lainnya.
Tetapi sepulang sekolah saya tetap anak desa biasa.
Tetap mencari rumput.
Tetap menggembala kambing.
Tetap membantu orang tua.
Karena di rumah kami tidak ada istilah anak juara kelas lalu bebas dari pekerjaan.
Semua tetap punya tugas masing-masing.
Dan saya bersyukur dibesarkan dengan cara seperti itu.
Karena tanpa saya sadari, pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang mengajarkan tanggung jawab.
Lalu saya lulus SMP.
Dan untuk pertama kalinya saya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa cita-cita sering kali harus menyesuaikan keadaan.
Saya ingin masuk SMA favorit.
Bapak ingin saya masuk sekolah gratis.
Dan seperti banyak anak desa pada masa itu, saya akhirnya memilih mengikuti keputusan orang tua.
Nderek kersane bapak.
Di tengah pencarian sekolah gratis itulah kami mendengar nama sebuah sekolah di Magelang.
Namanya Taruna Nusantara.
Saya tidak tahu sekolah itu terkenal.
Tidak tahu sekolah itu bergengsi.
Tidak tahu alumninya banyak menjadi tokoh besar.
Saya bahkan tidak tahu proses seleksinya sangat berat.
Yang saya tahu hanya satu.
Sekolah itu gratis.
Dan bagi anak guru SD dari sebuah desa kecil di Wonogiri, informasi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya mencoba mendaftar.
Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana karena alasan biaya itu kelak akan mengubah seluruh jalan hidup saya.
(Bersambung)

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.