Showing posts with label sma taruna nusantara. Show all posts
Showing posts with label sma taruna nusantara. Show all posts

Monday, June 29, 2026

Hari pertama seleksi Taruna Nusantara adalah hari yang tak pernah bisa kulupakan.
Di saat teman-temanku berkumpul di sekolah untuk menerima rapor kelulusan SMP, aku justru berada di Ajendam Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Berdiri di tengah ribuan calon siswa dari seluruh Jawa Tengah yang datang membawa mimpi yang sama.
Siang itu aku mendapat kabar yang membuatku tersenyum bangga.
Aku menjadi peringkat pertama di SMP Negeri 1 Baturetno.
Namun, beberapa jam kemudian, senyum itu hampir berubah menjadi kecemasan. Sore harinya aku harus menunggu pengumuman tes kesehatan, sebuah pengumuman yang bisa menentukan apakah aku masih boleh bermimpi menjadi Taruna Nusantara atau harus pulang hari itu juga.

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, alasan utamaku mendaftar Taruna Nusantara sebenarnya sangat sederhana: karena sekolahnya gratis.

Sebagai anak seorang guru SD dengan penghasilan yang pas-pasan, sekolah gratis seperti Taruna Nusantara adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Aku mengurus semua persyaratan, menyerahkan berkas melalui sekolah ke Kodim 0728 Wonogiri, lalu mengikuti seleksi administrasi, kesehatan awal, dan penilaian prestasi. Syukur alhamdulillah, semuanya kulalui dengan baik sehingga berhak mengikuti seleksi tingkat Kodam IV/Diponegoro di Semarang.

Kami berdua belas berangkat dari Wonogiri menaiki truk tentara.

Bagi kami yang masih anak-anak SMP, perjalanan itu saja sudah terasa luar biasa. Duduk di bak belakang truk tentara menuju Semarang menghadirkan rasa bangga yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti sedang menjalani sebuah petualangan besar.

Sesampainya di Ajendam, aku benar-benar dibuat takjub.

Di mana-mana kulihat calon siswa berseragam olahraga dengan wajah penuh harapan. Mereka datang dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Jumlahnya ribuan.

Barulah saat itu aku benar-benar menyadari...

Persaingan ini ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Awalnya aku datang tanpa beban. Dalam pikiranku, kalau lolos ya alhamdulillah, kalau belum ya tidak apa-apa. Tetapi melihat begitu banyak anak hebat berkumpul di satu tempat, ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Aku mulai ingin membuktikan bahwa aku juga layak bersaing.

Selama empat hari tiga malam kami menjalani rangkaian seleksi. Ada tes kesehatan, tes samapta, tes psikologi, dan tes akademik. Tes kesehatan dan samapta menggunakan sistem gugur. Artinya, kalau tidak lolos, perjalanan selesai sampai di situ.

Hari pertama diawali dengan tes kesehatan.

Kelompokku bersama beberapa kelompok lain diangkut menggunakan truk tentara menuju rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan sangat lengkap. Tinggi badan, berat badan, mata, telinga, organ tubuh, hingga pemeriksaan fisik lainnya kami jalani satu per satu.

Menjelang sore kami kembali ke Ajendam.

Saat itulah suasana berubah.

Kami diminta berbaris.

Seorang petugas mulai memanggil nama peserta satu per satu.

"Yang dipanggil, maju ke depan."

Aku melihat enam teman dari Wonogiri melangkah keluar dari barisan.

Aku tidak dipanggil.

Begitu juga lima teman Wonogiri lainnya.

Yang membuat kami semakin tegang, tidak ada seorang pun yang menjelaskan apa arti pemanggilan itu.

Apakah yang dipanggil berarti lolos?

Atau justru yang dipanggil adalah peserta yang gugur?

Tidak ada yang tahu.

Kami hanya saling pandang.

Petugas malah memberikan penjelasan panjang lebar. Salah satunya, peserta yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan langsung dipulangkan hari itu juga.

Aku mulai gelisah.

Pikiranku ke mana-mana.

Aku membayangkan bagaimana rasanya pulang ke Wonogiri setelah baru satu hari mengikuti seleksi. Membayangkan harus mengatakan kepada bapak dan ibu bahwa perjuanganku berhenti sampai di sini.

Beberapa menit menunggu terasa jauh lebih lama daripada perjalanan dari Wonogiri ke Semarang.

Lalu akhirnya...

Pengumuman itu dibacakan.

Alhamdulillah...

Aku dinyatakan lolos.

Lima temanku dari Wonogiri yang tetap berada di barisan juga lolos.

Kami saling tersenyum. Rasanya lega sekali.

Malam itu aku tidur jauh lebih tenang.

Hari pertama berhasil kulewati.

Aku belum tahu, justru tantangan yang benar-benar menguras tenaga dan perlahan menjatuhkan mental para calon Taruna Nusantara baru akan datang keesokan harinya.

Refleksi

Hari itu aku belajar satu hal yang sampai sekarang masih kuingat.

Kadang yang paling melelahkan dalam sebuah perjuangan bukanlah ujiannya, melainkan menunggu hasilnya.

Menunggu membuat kita membayangkan segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terburuk. Tetapi justru di saat-saat seperti itulah aku belajar untuk tetap tenang, berdoa, dan menerima apa pun hasilnya.

Syukurlah, hari itu Allah masih mengizinkanku melangkah ke ujian berikutnya.


Wednesday, June 24, 2026

"Cari sekolah yang gratis saja."
Kalimat itu diucapkan bapak dengan tenang.
Tidak membentak.
Tidak memaksa.
Tidak pula disertai penjelasan panjang.
Tetapi saya tahu beliau serius.
Saat itu saya baru lulus SMP. Sama seperti anak-anak lain, saya punya keinginan sendiri. Saya ingin masuk SMA Negeri favorit di kota. Rasanya keren. Teman-teman banyak yang ingin ke sana. Saya juga membayangkan bisa memakai seragam putih abu-abu dan berangkat sekolah ke kota setiap hari.
Namun bapak punya perhitungan yang berbeda.
Dan seperti banyak bapak pada zamannya, beliau lebih sering berbicara dengan kenyataan daripada dengan mimpi.

Saya lahir dan besar di sebuah desa di Wonogiri.

Bapak seorang guru SD. Ibu mengurus rumah tangga.

Kalau sekarang profesi guru begitu dihormati dan kesejahteraannya jauh lebih baik, dulu keadaannya berbeda. Gaji guru sangat sederhana. Apalagi bapak tidak hanya memikirkan anak dan istrinya sendiri.

Beliau juga membantu saudara-saudaranya sekolah.

Membantu sepupu.

Membantu kerabat yang membutuhkan.

Saya baru memahami semua itu ketika sudah dewasa.

Waktu kecil, yang saya tahu hanya satu:

Kalau makan ya makan.

Kalau ada lauk ya syukur.

Kalau tidak ada lauk ya tetap makan.

Kadang nasi tiwul dengan garam.

Kadang nasi tiwul dengan parutan kelapa.

Kadang makan krambil.

Pernah juga beberapa hari hanya ditemani terong bakar.

Anehnya, saya tidak pernah merasa hidup menderita.

Karena hampir semua teman saya hidup dengan cara yang sama.

Tidak ada yang merasa lebih miskin dari yang lain.

Kami hanya menjalani hidup sebagaimana adanya.

Masa kecil saya justru penuh kegembiraan.

Saya menggembala kambing di sekitar Bengawan Solo.

Mencari rumput.

Membantu memberi makan ternak.

Lalu sore hari bermain sepak bola di hamparan pasir sungai.

Kalau permainan selesai, kami ramai-ramai mandi di sungai.

Kadang berenang.

Kadang saling menyiram.

Kadang hanya duduk di pinggir sungai sambil bercanda sampai matahari hampir tenggelam.

Hari itu tidak menghasilkan uang.

Tidak menghasilkan nilai rapor.

Tetapi menghasilkan kenangan yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di kepala saya.

Kalau boleh memilih satu hari untuk diulang kembali, mungkin saya akan memilih hari-hari sederhana itu.

Hari ketika saya belum memikirkan masa depan.

Belum memikirkan pekerjaan.

Belum memikirkan jabatan.

Belum memikirkan apa pun selain bermain sampai sore dan pulang membawa kambing ke rumah.

Masa TK saya juga tidak kalah lucu.

Menurut cerita ibu, saya sering mogok sekolah.

Bukan karena nakal.

Bukan karena malas belajar.

Tetapi karena gurunya.

Kalau menurut saya gurunya cantik, saya mau masuk.

Kalau tidak, saya menolak berangkat.

Entah bagaimana cara berpikir saya waktu itu.

Yang jelas akibat ulah tersebut saya berpindah-pindah TK dan akhirnya bahkan tidak memiliki ijazah TK.

Kalau mengingatnya sekarang saya hanya bisa tertawa.

Untung setelah masuk SD saya berubah total.

Di SD saya justru menjadi anak yang sangat rajin belajar.

Hampir selalu juara kelas.

Aktif mengikuti berbagai lomba.

Lomba puisi.

Dokter kecil.

Catur.

LCT P4.

Dan banyak kegiatan lainnya.

Tetapi sepulang sekolah saya tetap anak desa biasa.

Tetap mencari rumput.

Tetap menggembala kambing.

Tetap membantu orang tua.

Karena di rumah kami tidak ada istilah anak juara kelas lalu bebas dari pekerjaan.

Semua tetap punya tugas masing-masing.

Dan saya bersyukur dibesarkan dengan cara seperti itu.

Karena tanpa saya sadari, pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang mengajarkan tanggung jawab.


Lalu saya lulus SMP.

Dan untuk pertama kalinya saya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa cita-cita sering kali harus menyesuaikan keadaan.

Saya ingin masuk SMA favorit.

Bapak ingin saya masuk sekolah gratis.

Dan seperti banyak anak desa pada masa itu, saya akhirnya memilih mengikuti keputusan orang tua.

Nderek kersane bapak.

Di tengah pencarian sekolah gratis itulah kami mendengar nama sebuah sekolah di Magelang.

Namanya Taruna Nusantara.

Saya tidak tahu sekolah itu terkenal.

Tidak tahu sekolah itu bergengsi.

Tidak tahu alumninya banyak menjadi tokoh besar.

Saya bahkan tidak tahu proses seleksinya sangat berat.

Yang saya tahu hanya satu.

Sekolah itu gratis.

Dan bagi anak guru SD dari sebuah desa kecil di Wonogiri, informasi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya mencoba mendaftar.

Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana karena alasan biaya itu kelak akan mengubah seluruh jalan hidup saya.

(Bersambung)


Tuesday, October 24, 2017


Sedih mendengar kabar teman - teman terbaik mulai berguguran satu per satu. Tuhan telah menentukan garis takdirnya, manusia hanya bisa berusaha dan menerima hasilnya, apapun kehendak Tuhan.
Mereka adalah putra - putra daerah terbaik, hasil seleksi seluruh nusantara pada tahun 1990 di panda masing - masing dari aceh sampai papua dan berkumpul menjadi satu korps di SMA Taruna Nusantara Magelang Angkatan 1.
Mereka adalah anak-anak muda yang pada jamannya membawa asa dan ambisi melebihi teman se usianya, belajar, bekerja dan berjuang demi masa depan masyarakat, bangsa dan negara.
Meraka adalah sahabat - sahabat terbaik dalam suka dan duka satu asrama menuntaskan kawah candra dimuka di lereng tidar magelang.
Mereka akan tetap dikenang selamanya oleh karena kemuliaan jiwa dan visinya untuk negara. Selamat jalan Kawan dan Sahabat Terbaikku!


Thursday, February 5, 2015

"Cerita ini bukan tentang kesuksesan, bukan juga tentang jabatan - jabatan atau gelar-gelar akademik tertentu, namun ini tentang cerita kenangan masa sma, kenangan indah yang pernah terukir ketika menjalani masa-masa di asrama bersama"

ilustrasi liga inggris

Seiring berjalannya waktu, teman- teman semasa SMA sudah berkarya untuk negeri tercinta sesuai dengan Tri Prasetya Siswa yang di ucapkan sebagai janji suci almamater untuk memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia. Pertemuan - pertemuan di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri seakan menjadi agenda rutin setiap kali salah satu melakukan agenda kerja dan ditemui oleh teman yang berada di kota tujuan. Pembicaraan - pembicaraan panjang, cerita nostalgia yang saling berkelanjutan diiringi gurau tawa seakan menjadi hiburan gratis yang meredakan ketegangan dari segala macam pekerjaan.

Cerita - cerita jenaka di masa sma itu seakan hadir kembali saat diceritakan kembali oleh teman-teman. Aturan yang ketat, disiplin yang tinggi serta program belajar yang ketat selama 24 jam menjadi tantangan sendiri untuk anak-anak usia sma. Aturan tetaplah aturan dan tidak bisa ditawar, namun aturan selalu bisa di siasati oleh anak-anak yang kreatif dan super kreatif bahkan jenius sehingga kejenakaan itu berupa keberhasilan menyiasati aturan.

Suatu malam ada acara siaran bola liga inggris jam 02.15 dinihari. Aturan mengatakan bahwa pukul 19.00 sd 21 belajar dikelas, pukul 21.30 apel malam di graha, pukul 22.00 semua wajib tidur untuk kemudian pukul 05.00 sudah harus senam pagi bersama. Di Graha tidak ada Televisi dan memang tidak boleh ada televisi sehingga satu-satunya yang memungkinkan adalah menonton televisi di dapur yang biasa digunakan oleh para kru masak untuk menghibur diri. Tantangannya adalah bagaimana bisa keluar dari Graha menuju ruang dapur dan bagaimana selama di ruang dapur tidak keliahatan mencolok ada kerumunan dan keramaian. (bersambung)

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata