"Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya beberapa bulan, tetapi meninggalkan jejak yang tidak mampu dihapus oleh puluhan tahun. Anehnya, saat pertama kali bertemu, kita sama sekali tidak menyadari bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi bagian penting dari cerita hidup kita."
Begitulah kisah ini dimulai.
Bukan di sebuah kafe yang romantis.
Bukan di puncak gunung.
Bukan pula dalam sebuah perjalanan panjang.
Semuanya berawal dari sebuah ruangan kantor yang sederhana.
Dari seorang anak magang yang datang seperti ratusan anak magang sebelumnya.
Dan dari pukul lima sore, sebuah waktu yang awalnya terasa biasa, tetapi belakangan menjadi penanda perubahan dalam hidupku.
Hari itu sebenarnya berjalan seperti hari-hari biasa.
Masuk kantor, mengikuti apel pagi, lalu kembali ke meja kerja. Laptop kecil di depanku segera menyala. Jemariku mulai menari di atas keyboard, menyelesaikan pekerjaan yang sudah menunggu sejak kemarin. Sesekali aku berbincang dengan teman sekantor, membahas agenda kegiatan hari itu atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja yang sedang hangat.
Tak ada yang istimewa.
Hingga dua orang perempuan masuk ke ruangan.
Yang satu sudah kukenal. Beliau adalah salah satu pimpinan dari ruang sebelah. Sedangkan perempuan muda yang berjalan di belakangnya benar-benar asing bagiku.
Aku tetap melanjutkan pekerjaanku.
Beberapa saat kemudian terdengar suara memanggil.
"Dik, tolong adik ini dibantu. Arahin nanti harus bantu apa dan kerjaannya apa."
Aku menoleh.
"Siap, Pak."
Perempuan muda itu menghampiri mejaku, mengulurkan tangan sambil tersenyum.
"Nama saya Sasa. Saya magang dari Fakultas Johar Universitas Banyumanik."
Aku membalas jabat tangannya.
"Panggil saja aku Awan."
Ia kemudian duduk di meja yang disediakan tepat di samping tempatku bekerja.
Sebagai orang yang diminta membimbing, aku mulai menjelaskan banyak hal. Tentang aturan magang, etika kerja, cara berkomunikasi, sampai hal-hal kecil yang menurutku penting diketahui anak magang.
Setiap kali aku menjelaskan sesuatu, jawabannya selalu sama.
"Iya."
"Iya."
"Iya."
Sesekali aku bertanya,
"Sudah paham?"
"Iya."
"Ada yang mau ditanyakan?"
Ia hanya tersenyum sambil menggeleng.
Mungkin masih malu.
Hari itu berlalu begitu saja.
Tidak ada kejadian yang menurutku layak diingat. Kehadiran perempuan muda itu pun kupikir hanya akan menjadi bagian kecil dari rutinitas kantor.
Aku sama sekali tidak menyangka, beberapa hari kemudian semuanya berubah.
Pekerjaanku sedang benar-benar menumpuk.
Deadline saling berkejaran. Satu pekerjaan belum selesai, pekerjaan lain sudah datang. Hampir setiap malam aku lembur. Mata mulai memerah, tetapi daftar pekerjaan masih panjang.
Di tengah kesibukan itu, Sasa tiba-tiba berkata,
"Mas, kalau berkenan... saya bantu saja."
Awalnya aku ragu.
Bagaimanapun juga ia masih anak magang.
Namun ternyata ia belajar jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Teliti.
Mau bertanya.
Dan tidak pernah mengeluh.
Sejak pagi kami bekerja berdampingan.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Ruangan mulai sepi.
Satu per satu teman kantor pulang.
Aku menoleh kepadanya.
"Jangan pulang dulu ya, Dik. Nanti kita makan dulu."
Ia menganggukkan kepala.
Aku sempat bingung.
Harus mengajaknya makan apa?
Aku bahkan belum benar-benar mengenalnya.
Akhirnya kupilih sesuatu yang sederhana.
Bakso.
Di luar gerimis mulai turun pelan.
Kupikir semangkuk bakso hangat cukup untuk menghangatkan badan yang seharian duduk di depan laptop.
Warungnya hanyalah bakso kaki lima di pinggir jalan.
Namun pembelinya ramai.
Kami duduk berhadapan.
Entah mengapa sore itu terasa berbeda.
Bukan karena baksonya.
Bukan pula karena gerimisnya.
Melainkan karena perempuan muda yang duduk di depanku.
Ada sesuatu yang membuatku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.
Padahal kami baru bertemu beberapa hari.
Bukan wajahnya yang membuatku terus memperhatikannya.
Bukan pula senyumnya.
Tetapi caranya bekerja.
Caranya berbicara.
Caranya memperlakukan orang lain.
Dan terutama...
karakternya.
Aku seperti sedang melihat cermin.
Seolah sebagian sifat yang ada dalam diriku sedang dipantulkan melalui dirinya.
Aku belum tahu mengapa.
Yang kutahu, jam lima sore di ruangan itu menjadi awal dari sebuah cerita yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Sejak hari itu, tanpa kusadari ada yang berubah.
Setelah apel pagi selesai, mataku sering mengarah ke pintu.
Aku seperti sedang menunggu seseorang datang.
Beberapa menit kemudian, seperti biasa sekitar pukul delapan, Sasa muncul.
Ia menyalami semua orang di ruangan, lalu duduk di meja kerjanya.
Rutinitas sederhana.
Namun kini rasanya berbeda.
Hari demi hari kami semakin akrab.
Awalnya hanya membahas pekerjaan.
Lalu melebar ke keluarga, pengalaman kuliah, hobi, bahkan hal-hal kecil yang kadang sama sekali tidak penting.
Kami sering tertawa.
Kadang saling menggoda.
Kadang hanya saling mendengarkan.
Aku sempat berpikir,
"Sepertinya dia juga sanguinis."
Entahlah.
Mungkin benar.
Mungkin juga hanya kesan awalku.
Suatu siang kami kembali makan bersama.
Saat mengambil lauk, aku melihat ia memilih pisang goreng.
Aku tersenyum sendiri.
Dulu, ketika masih kuliah, aku juga sering makan nasi dengan lauk pisang goreng supaya terasa lebih kenyang.
Entah mengapa ia memilih lauk yang sama.
Mungkin memang suka.
Mungkin kebiasaan.
Hal kecil.
Tidak penting.
Tetapi cukup menarik untuk menjadi bahan obrolan.
Aku tidak tahu bahwa makan siang sederhana itu justru menjadi awal dari persoalan.
Entah siapa yang memulai.
Entah dari mana asalnya.
Tiba-tiba beredar cerita bahwa aku dan Sasa memiliki hubungan yang lebih dari sekadar rekan kerja.
Padahal...
kami baru saling mengenal.
Belum ada apa-apa.
Bagiku, kedekatan itu lebih seperti dua orang yang sedang belajar memahami karakter satu sama lain.
Namun rupanya tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama.
Perlahan aku melihat perubahan pada dirinya.
Perempuan yang biasanya ceria itu mendadak lebih pendiam.
Senyumnya mulai berkurang.
Tatapannya tidak lagi secerah beberapa hari sebelumnya.
Suatu hari ia berkata pelan,
"Mas... saya mulai merasa tidak nyaman di sini."
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aku merasa bersalah.
Seolah tanpa sengaja aku telah menyeretnya ke dalam situasi yang tidak pernah ia inginkan.
Aku mulai bertanya pada diri sendiri.
Haruskah aku menjaga jarak?
Ataukah tetap bersikap biasa saja?
Aku belum menemukan jawabannya.
Sering kali kita mengira bahwa peristiwa besar selalu diawali oleh sesuatu yang besar pula.
Padahal kenyataannya tidak.
Kadang hidup berubah hanya karena sebuah jabat tangan.
Karena semangkuk bakso.
Karena percakapan sederhana sepulang kerja.
Atau karena seseorang yang tanpa sengaja mengingatkan kita pada diri sendiri.
Yang lebih menarik lagi, hidup hampir tidak pernah memberi tanda ketika babak baru akan dimulai.
Kita baru menyadarinya setelah semuanya menjadi kenangan.
Saat itu, aku belum tahu bagaimana akhir dari kisah ini.
Aku hanya tahu, seorang anak magang yang awalnya hanyalah bagian dari rutinitas kantor, perlahan berubah menjadi seseorang yang membuatku belajar memahami arti karakter, persahabatan, dan cara memandang manusia.
Dan semua itu...
berawal dari jam lima sore di ruangan itu.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.