Merapi selalu punya cara mempertemukan seseorang dengan cerita baru. Kali ini, aku datang bukan untuk mendaki atau mengejar matahari terbit, melainkan untuk bertemu seorang legenda trekking Merapi yang namanya sudah lama membuatku penasaran.
Bagi para pecinta alam di Yogyakarta, Merapi bukan sekadar gunung. Bersama Pantai Parangtritis dan Keraton Yogyakarta, ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah, budaya, sekaligus perjalanan hidup banyak orang. Bagi organisasi pencinta alam, lereng Merapi bahkan menjadi "ruang kelas" yang nyaris tak pernah sepi untuk pendidikan dasar maupun latihan gunung hutan.
Namun, malam itu aku datang bukan untuk mendaki.
Bukan pula untuk berburu matahari terbit.
Aku datang karena penasaran pada satu nama yang sudah lama kudengar: Cristian Awuy.
Seorang pemandu yang oleh banyak orang disebut sebagai legenda wisata trekking Merapi.
Suatu malam aku diminta mengisi materi goal setting di Hostel Vogel, Kaliurang. Sebelum berangkat, aku sudah menyiapkan materi, lembar permainan, dan berbagai perlengkapan pelatihan seperti biasanya. Namun, ada satu harapan kecil yang terus kubawa sepanjang perjalanan.
Semoga malam ini aku bisa bertemu Cristian Awuy.
Kami memang pernah bertemu sebelumnya. Pernah berbincang sekilas. Tetapi aku belum pernah melihat bagaimana ia berbicara di depan peserta, bagaimana ia memandang Merapi, dan bagaimana ia membangun sebuah usaha wisata yang dikenal hingga mancanegara.
Harapan itu ternyata terkabul.
Saat aku tiba di Hostel Vogel, beliau sedang menyampaikan materi tentang trekking Merapi dan ekowisata. Aku datang tepat ketika sesi diskusi dimulai.
Aku memilih duduk di antara peserta.
Tidak bertanya.
Hanya mendengarkan.
Semakin lama aku menyimak, semakin kusadari bahwa kekuatan Cristian Awuy bukan terletak pada teori yang dihafalnya.
Ia lebih banyak bercerita.
Tentang pengalaman.
Tentang kegagalan.
Tentang bagaimana membaca alam.
Tentang bagaimana memperlakukan tamu.
Dan yang paling menarik, ia menjawab setiap pertanyaan tanpa pernah terlihat ingin menggurui.
Dalam hati aku hanya bergumam,
"Hebat."
Bukan karena semua jawabannya sempurna.
Melainkan karena hampir setiap jawaban lahir dari pengalaman nyata.
Aku semakin yakin bahwa bisnis yang dibangun dari hobi memiliki jiwa yang berbeda. Orang-orang seperti itu tidak sekadar menjual jasa.
Mereka sedang membagikan sesuatu yang mereka cintai.
Diskusi malam itu berlangsung semakin panjang.
Sebagai pemateri berikutnya, sebenarnya aku memiliki jatah waktu sendiri. Namun melihat antusiasme peserta, aku justru meminta panitia memotong sesi materiku agar diskusi bersama Cristian Awuy bisa diteruskan sampai semua pertanyaan peserta benar-benar terjawab.
Bagiku, kesempatan belajar langsung dari pelaku jauh lebih berharga daripada mempertahankan durasi presentasiku.
Sebelum acara ditutup, beliau memberikan pengarahan untuk trekking dini hari.
Dalam hati aku kembali berharap.
Semoga besok beliau sendiri yang menjadi pemandu.
Sayangnya harapan itu tidak terwujud.
Beliau memiliki agenda lain sehingga jalur trekking dipandu oleh salah seorang asistennya.
Pukul tiga dini hari kami dibangunkan.
Udara Kaliurang masih menusuk kulit.
Setelah mencuci muka, menyiapkan air minum dan sedikit camilan, tepat pukul empat kami mulai berjalan meninggalkan Hostel Vogel menuju lereng Merapi.
Aku sengaja tidak akan menyebut jalur yang kami lalui.
Bukan karena ingin merahasiakan.
Melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada pengelola yang telah merintis dan menjaga jalur tersebut.
Sejak awal, sebenarnya aku tidak sedang mengejar puncak.
Yang ingin kupelajari justru hal-hal yang sering luput dari perhatian wisatawan.
Mengapa jalur ini dipilih?
Mengapa rombongan berhenti di titik tertentu?
Apa yang diceritakan pemandu sepanjang perjalanan?
Bagaimana sebuah pengalaman alam disusun agar tetap menarik tanpa mengabaikan keselamatan maupun kelestarian lingkungan?
Di sinilah aku menemukan sisi lain Merapi.
Aku menyadari bahwa teori yang selama ini kubaca di buku ternyata tidak selalu bisa diterapkan secara kaku di lapangan.
Di sisi lain, praktik yang baik juga tidak boleh meninggalkan prinsip-prinsip dasar ekowisata.
Daya dukung jalur harus dijaga.
Jumlah pengunjung harus dikendalikan.
Vandalisme harus dicegah.
Alam tetap harus menjadi pihak yang paling dihormati.
Banyak pelajaran yang kudapat pagi itu.
Ada hal-hal yang menurutku sangat baik.
Ada pula beberapa catatan yang mungkin bisa disempurnakan.
Namun sengaja tidak kutuliskan secara rinci, karena setiap jalur memiliki karakter, tantangan, dan pertimbangannya sendiri. Aku tidak ingin membentuk opini hanya dari satu kali pengalaman.
Yang bisa kusampaikan hanyalah ini.
Jika Anda ingin menikmati wajah Merapi tanpa harus melakukan pendakian berat, jalur trekking yang dikembangkan Cristian Awuy layak dicoba.
Bukan semata karena pemandangannya.
Tetapi karena perjalanan itu mengajarkan bahwa menikmati gunung bukan hanya soal mencapai tujuan.
Melainkan memahami cerita yang hidup di setiap langkah menuju ke sana.
Dan malam itu, aku pulang bukan hanya membawa pengalaman trekking.
Aku pulang dengan pemahaman baru bahwa di balik sebuah jalur wisata yang baik, selalu ada orang-orang yang mencintai alam jauh lebih besar daripada sekadar menjadikannya tempat mencari nafkah.
Salam Lestari.
0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.