Wednesday, February 25, 2026

Merbabu dan Detak yang Hampir Putus

Merbabu tidak pernah benar-benar ramah.

Orang-orang bilang ia cantik. Sabana luas. Langit bersih. Sunrise yang memeluk mata.

Tapi mereka lupa bilang—anginnya bisa berubah jadi ancaman dalam hitungan menit.

Kami mulai dari jalur Suwanting sore itu. Langit terlalu biru untuk dicurigai. Bahkan burung-burung terdengar seperti sedang menyemangati langkah kami.

“Kita kejar summit besok pagi,” katamu yakin.

Aku mengangguk. Terlalu percaya diri, mungkin.

Tanjakan pertama masih terasa seperti pemanasan. Nafas memang berat, tapi tawa masih bisa pecah. Sampai akhirnya hutan mulai menutup rapat, cahaya makin tipis, dan jalur berubah jadi akar-akar licin yang seperti sengaja ingin menjegal.

Detak jantungku mulai tak beraturan.

Bukan karena capek.

Karena kabut datang terlalu cepat.

Tiba-tiba.

Tanpa aba-aba.

Dalam hitungan menit, jarak pandang tak sampai lima meter. Angin berubah nada—dari sekadar sepoi jadi teriakan panjang yang menampar pipi.

“Mas… ini normal nggak sih?” suaramu terdengar lebih kecil dari biasanya.

Aku ingin bilang normal.

Tapi di Merbabu, kata normal itu relatif.

Kami terus naik. Salah.

Harusnya kami berhenti. Evaluasi. Tapi ego lebih keras dari logika.

Dan di situlah adrenalinku benar-benar diuji.

Sabana yang katanya indah berubah jadi lautan putih tak bertepi. Jalur menghilang. Penanda tak terlihat. Setiap langkah seperti berjalan di ruang kosong.

Angin menghantam dari samping. Tubuhmu sempat oleng.

Refleks, aku tarik tanganmu.

Jantungku seperti dihantam dari dalam.

“Pegangan jangan lepas!” teriakku, setengah panik.

Kita tertawa waktu briefing soal hipotermia.

Ternyata saat itu bukan bahan candaan.

Suhu turun drastis. Bibirmu mulai pucat. Nafasmu terdengar pendek-pendek. Aku bisa melihat ketakutan di matamu—ketakutan yang tidak kamu ucapkan.

Dan jujur saja…

Aku juga takut.

Bukan takut mati.

Tapi takut gagal menjagamu.

Kami memutuskan turun sedikit mencari cekungan untuk berlindung. Tapi kabut membuat arah jadi teka-teki. Kompas di tangan terasa seperti benda paling berharga di dunia.

Langkahku makin cepat. Salah lagi.

Kamu terpeleset.

Waktu seperti melambat.

Tubuhmu meluncur setengah meter sebelum terhenti semak rendah. Tapi cukup untuk membuat darahku berhenti mengalir sesaat.

Aku berlari, memelukmu, memastikan kamu sadar.

“Kamu nggak apa-apa? Jawab aku!”

Kamu mengangguk, tapi air matamu keluar.

Bukan karena sakit.

Karena shock.

Dan di tengah angin yang meraung seperti binatang liar, aku sadar sesuatu:

Gunung tidak peduli seberapa romantis cerita kita.

Gunung hanya menghormati mereka yang rendah hati.

Kami akhirnya menemukan rombongan lain samar-samar di balik kabut. Suara mereka seperti suara paling indah yang pernah kudengar. Kami bergabung. Membuat formasi. Bergerak perlahan. Rasional.

Adrenalin belum turun.

Setiap hembusan angin seperti alarm.

Setiap langkah seperti keputusan hidup dan mati.

Dan ketika akhirnya kabut mulai menipis…

Ketika sabana kembali terlihat…

Ketika puncak Kenteng Songo berdiri di depan mata…

Aku tidak merasa menang.

Aku merasa diampuni.

Kami sampai puncak bukan dengan teriakan.

Tapi dengan diam panjang.

Nafas masih gemetar.

Tanganmu masih dingin di genggamanku.

“Kita hampir aja ya…” bisikmu.

Aku mengangguk.

Merbabu hari itu mengajarkan satu hal yang lebih keras dari tanjakan mana pun:

Cinta itu bukan tentang foto di puncak.

Bukan tentang siapa paling kuat.

Tapi tentang siapa yang tetap memilih bertahan… saat rasa takut lebih besar dari rasa bangga.

Angin masih kencang.

Tapi kali ini, detak jantungku kembali utuh.

Dan Merbabu, dengan segala liarnya, menjadi saksi bahwa kami pernah diuji… dan tidak menyerah.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.