Sore itu Merbabu terlihat jinak.
Langit bersih. Sabana luas. Bahkan angin terasa seperti tepukan ramah di bahu.
Kita salah membaca tanda.
Kabut turun terlalu cepat setelah Maghrib. Jalur menghilang seperti ditelan sesuatu yang tak terlihat. Headlamp cuma memantulkan putih. Tidak ada kontur. Tidak ada arah.
“Kita lanjut atau turun?” tanyamu.
Aku terlalu lama diam.
Itu kesalahan pertamaku.
Angin berubah kasar. Suhunya jatuh drastis. Tangan mulai kaku bahkan di dalam sarung tangan. Nafas berubah pendek dan berat.
Kita memutuskan cari tempat untuk buka bivak darurat.
Tapi sabana Merbabu tidak menyediakan banyak perlindungan. Hanya cekungan dangkal dan rumput yang merunduk kalah oleh angin.
Saat itu aku mulai sadar: ini bukan lagi soal summit.
Ini soal bertahan hidup.
Bibirmu mulai membiru.
Awalnya kamu masih bercanda, “Mas, dingin banget ya…”
Lalu suaramu melambat.
Kamu mulai diam.
Dan itu jauh lebih menakutkan daripada keluhan.
Aku suruh kamu terus bicara. Apa saja. Cerita apa saja. Marah pun tidak apa-apa. Asal jangan diam.
Karena aku tahu tanda-tandanya.
Hipotermia tidak datang dengan teriakan.
Ia datang pelan. Menipu. Membuat korban merasa hangat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Tanganmu gemetar hebat.
Lalu tiba-tiba…
Berhenti gemetar.
Jantungku seperti jatuh ke dasar jurang.
“Hey. Hey. Lihat aku.”
Matamu setengah terbuka. Fokusmu kabur.
Aku paksa kamu pakai jaket tambahan. Semua layer kupindahkan ke tubuhmu. Aku gelar emergency blanket yang berbunyi berisik diterpa angin. Kita duduk saling membelakangi, berbagi panas tubuh, di tengah sabana yang seperti tidak peduli.
Angin Merbabu malam itu bukan lagi angin.
Itu seperti makhluk hidup yang mencoba menguji batas kita.
Aku mulai menggigil juga.
Tapi aku tidak boleh terlihat lemah.
“Denger ya… kita cuma lewat malam ini. Besok kita turun. Kamu jangan tidur.”
Kamu tersenyum tipis.
“Kalau aku tidur, bangunin ya…”
Kalimat itu hampir menghancurkanku.
Aku tepuk pipimu pelan. Aku ajak kamu hitung mundur. Aku paksa kamu marah padaku. Apa saja supaya otakmu tetap sadar.
Waktu berjalan lambat sekali.
Satu jam terasa seperti satu musim.
Headlamp mulai redup. Baterai dingin lebih cepat mati. Kabut tidak bergerak. Dunia seperti berhenti di radius lima meter.
Dan untuk pertama kalinya dalam pendakianku…
Aku benar-benar takut kehilangan seseorang di gunung.
Bukan karena longsor.
Bukan karena jatuh.
Tapi karena dingin yang tak terlihat.
Sekitar pukul tiga pagi, gemetarmu kembali.
Itu pertanda baik.
Aku hampir menangis karena lega.
“Mas… aku lapar…”
Suaramu masih lemah, tapi hidup.
Aku tertawa kecil di tengah rasa panik yang belum hilang. Kuberi kamu cokelat yang sudah keras seperti batu. Kamu menggigitnya pelan.
Dan saat garis oranye pertama muncul di timur…
Kabut mulai naik.
Sabana kembali punya bentuk.
Kita masih di situ.
Masih hidup.
Aku tidak pernah merasa matahari seindah pagi itu.
Bukan karena warnanya.
Tapi karena artinya.
Kita turun tanpa bicara banyak. Tenaga habis. Ego hancur. Tapi ada sesuatu yang berubah.
Merbabu tidak memberi kita puncak hari itu.
Ia memberi kita pelajaran yang jauh lebih mahal:
Cinta itu bukan tentang berdiri gagah di Kenteng Songo sambil berteriak “summit!”
Cinta itu tentang siapa yang tetap terjaga… saat yang lain hampir tertidur untuk selamanya.
Dan sejak malam itu, setiap kali angin bertiup kencang di gunung mana pun…
Aku selalu ingat:
Kita pernah hampir membeku.
Dan kita memilih untuk bertahan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.