Di Desa Wisata Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, terdapat sebuah ruang sederhana yang menyimpan makna besar: Omah Pang. Berlokasi di RT 2 RW 1, tepat di sebelah utara Kantor Kelurahan Nongkosawit, tempat ini menjadi salah satu spot unggulan yang memikat hati para pengunjung.
Omah Pang bukan sekadar bangunan kayu. Ia dihadirkan sebagai ruang tumbuh bagi anak-anak—tempat mereka belajar melestarikan seni dan budaya, sekaligus berinteraksi sosial secara langsung. Di tengah derasnya arus digital, Omah Pang menjadi ruang alternatif agar anak-anak tidak larut dalam ketergantungan gadget, melainkan kembali akrab dengan permainan tradisional dan kebersamaan.
Proses pembangunannya memakan waktu sekitar empat bulan, sejak Januari hingga April 2019. Pang—atau ranting—yang digunakan berasal dari kayu jati, memberikan kesan kokoh sekaligus alami pada bangunannya.
Berkunjung ke Omah Pang serasa melangkah mundur ke masa lalu. Bangunan kayu berdiri teduh di bawah rindangnya pepohonan. Halaman rumahnya masih berselimut tanah liat, menghadirkan suasana yang hangat, membumi, dan penuh nostalgia.
Di area ini, anak-anak bebas bermain egrang, dakon, blarak sempal, serta berbagai permainan tradisional lainnya. Tawa mereka menyatu dengan semilir angin desa. Menariknya, Omah Pang terbuka untuk semua kalangan dan dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya.
Tak hanya Omah Pang, Desa Wisata Nongkosawit juga menawarkan beragam pesona lain. Pengunjung dapat mencoba sensasi river tubing di Kali Jedung, menikmati keindahan Curug Mahtukung, menyusuri sawah terasering yang hijau membentang, bermain tubruk ikan, hingga merasakan pengalaman wisata tanam padi yang sarat makna.
Nongkosawit bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman—tentang kembali pada alam, tradisi, dan kebersamaan yang sederhana namun berharga.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.