Showing posts with label Wisata Semarang. Show all posts
Showing posts with label Wisata Semarang. Show all posts

Friday, December 29, 2017

Face reality as it is, not as it was or as you wish it to be.” Jack Welch
Bagi saya, tugas pertama seorang pemimpin saat mulai mengemban tugasnya adalah menghadapi kenyataan, sepahit apapun kenyataan itu: facing reality and confront the brutal facts.
Pemimpin yang kuat haruslah melihat kenyataan yang dihadapinya dengan clear eyes dan apa adanya, tak dikurang-kurangi, tak ditambah-tambahi. Dengan begitu ia bisa menghadapi dan mencari solusi yang tepat. Seorang pemimpin tak boleh menyangkal apalagi “lari” dari kenyataan sepahit apapun kenyataan tersebut.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Jack Welch yang saya kutip di atas. Sebagai pemimpin Anda harus tough menghadapi kenyataan seperti apa adanya, bukan kenyataan yang Anda buat-buat. Setelah membuka diri dan menghadapi kenyataan pahit, ujar Jack Welch, Anda harus sigap dan cepat take actionuntuk menyelesaikannya. Anda tak boleh diam atau banyak berharap kondisi berubah tapi Anda tak melakukan apapun.  
Yang belum tahu siapa Jack Welch, ia adalah mantan CEO General Electric (GE), perusahaan dengan pengelolaan paling baik di dunia. Di tangannya nilai pasar GE naik hingga 4000%. Oleh Majalah Fortune, pada tahun 1999 Jack Welch dinobatkan sebagai manajer terbaik abad ini: “Manager of the Century”. Dalam “CEO Message” ini dan berikutnya saya akan banyak menggunakan contoh kepemimpinan yang dipraktikkan sosok hebat ini.

Brutal Facts
Menghadapi kenyataan kadang kala mengejutkan dan memaksa kita berurusan dengan fakta yang brutal. Seringkali kita mendapatkan fakta lapangan yang pahit, berantakan, sangat jauh dari ideal, dan penuh dengan keterbatasan. Fakta brutal tersebut haruslah disikapi dengan positif, optimis, dan keyakinan bahwa organisasi yang kita pimpin mampu menghadapinya.
Pengalaman saya menunjukkan, memahami fakta brutal akan memunculkan ide kreatif dan pada akhirnya menjadikan sebuah organisasi menjadi baik (good), bahkan hebat (great).
Untuk menerangkan fakta brutal, saya ingin mengambil contoh gampang Blue Bird. Rekan-rekan semua pasti tahu operator taksi ini kini menghadapi kenyataan pahit karena dihantam latent competitors yaitu perusahaan-perusahaan aplikasi seperti Uber atau Grab. Perusahaan berbasis sharing platform tersebut memberikan extraordinary value ke konsumen (seperti tarif yang lebih murah dan kemudahan pemesanan menggunakan apps) yang menjadikan konsumen Blue Bird berpaling ke layanan baru ini.
Sekarang saya tanya, kalau Anda menjadi CEO Blue Bird, apa langkah pertama yang harus Anda lakukan? Hal paling pertama yang harus Anda lakukan adalah secara open mind melihat dan dengan kebesaran hati menerima kenyataan pahit tersebut. Anda tak boleh denial dan memungkiri kenyataan menyakitkan tersebut. Dan setelah itu Anda harus cepat take action.
Contoh lain Pos Indonesia. Pada akhir tahun 1990-an Pos Indonesia menghadapi fakta brutal karena layanan email mulai marak menggantikan surat berperangko. Tak hanya itu, layanan wesel pos pun terancam punah tergerus oleh layanan ATM bank.  Apa hal pertama yang harus dilakukan CEO Pos Indonesia kala itu? Face reality... and then take fast and decisive actions.  

Memprihatinkan
Pertanyaannya, apa fakta brutal yang kita hadapi di Kemenpar? Saat diminta presiden memimpin kementerian ini, hal pertama yang saya lakukan adalah mencermati data-data kinerja pariwisata kita yang sangat menyedihkan. Inilah kenyataan pahit yang kita hadapi bersama. Inilah fakta brutal yang harus kita terima dan dengan super cepat kita cari jalan pemecahannya.
Coba lihat data-data kinerja kita yang memprihatinkan berikut ini. Dari sisi penerimaan devisa, pariwisata Indonesia hanya  SETENGAH  dari Malaysia dan  SEPEREMPAT  dari Thailand. Tahun 2014 Indonesia hanya meraup devisa $11,2 miliar, sedangkan Thailand $38,4 miliar dan Malaysia $21,8 miliar. Bagaimana bisa negara sebesar ini dikalahkan oleh “anak kecil kemarin sore”.  

Fakta brutal lain, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia 9,6% adalah yang TERENDAH di ASEAN. Bandingkan dengan Malaysia 13%, Thailand 21%, Filipina 11%, Vietnam 14%, dan atau negara kecil Kamboja yang mencapai 30%.

Tak hanya itu, competitiveness index pariwisata Indonesia tahun 2013 hanya bertengger di urutan buncit 70. Bandingkan dengan Malaysia di posisi 34 dan Thailand 43. Berkat kerja keras kita tahun 2015 lalu memang peringkat ini naik ke posisi 50. Namun jangan keburu puas, karena Malaysia dan Thailand pun naik pesat ke posisi 25 dan 35.

Ironis
Kinerja jeblok tersebut sangat ironis kalau kita melihat potensi pariwisata kita yang luar biasa. Tuhan telah menganugerahi kita kekayaan budaya dan keindahan alam yang luar biasa, namun kita tak bisa memanfaatkannya.

Indonesia adalah “mega biodiversity country” yang begitu kaya tanaman dan tumbuhan nan elok. Dengan sekitar 17.000 jumlah pulau dan 2/3 dari seluruh wilayah merupakan perairan, negeri ini memiliki sekitar 10% dari total spesies tanaman di dunia. Kita memiliki 12% spesies mamalia dunia. Bahkan Indonesia memiliki 17% dari segala macam spesies burung yang ada di dunia.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta km persegi wilayah laut dengan spesies ikannya mencapai 37% dari total spesies ikan dunia. Kita juga memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, merupakan peringkat kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dari garis pantai sepanjang itu, 2/3 di antaranya dilindungi oleh batu karang yang mencapai 15% dari total batu karang yang dimiliki dunia. Praktis semua jenis batu karang di dunia ada di Indonesia.

Menurut World Economic Forum (2015) di bidang Natural & Cultural Resources, Indonesia menempati tempat tertinggi di ASEAN di posisi 17, jauh di atas posisi Filipina (56), Singapura (40), Malaysia (24), dan Thailand (21).

Nah, dengan potensi maha besar seperti itu bagaimana ceritanya kita bisa dikalahkan negara kecil seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Kalau diibaratkan tinju, bisa saya katakan kita ini petinju kelas berat tapi DIKALAHKAN petinju kelas bulu. Betul-betul ironis.

Karena itu ketika Presiden memberi mandat saya untuk mendatangkan 20 juta wisatawan di tahun 2019 banyak orang baik internal maupun eksternal meragukannya. Mereka menyebut itu pekerjaan mustahil. Namun saya berpikiran lain. Kalau kita melihat fakta brutal, seharusnya target itu masih kecil. Kenapa? Karena di tahun yang sama Malaysia dan Thailand diprediksi akan mendatangkan 35 juta wisman.

Itu berarti petinju kelas berat MASIH dikalahkan petinju kelas bulu.

Kita tak boleh menggunakan ukuran internal yang meninabobokkan kita. Itu namanya tidak facing reality. Dalam bertanding kita harus menggunakan ukuran-ukuran lawan kita. Dengan begitu kita tahu bagaimana memenangkan persaingan.

Ingat rekan-rekan, BAIK saja tidak cukup, kita harus menjadi yang TERBAIK.

Demikianlah facing realityStrong leadership itu berawal dari facing reality. Karena dengan melihat fakta yang sebenarnya, kita akan dapat menentukan apa yang harus kita lakukan dengan tepat. Hal ini mengajarkan kita untuk menghadapi kenyataan, meskipun fakta itu brutal.

Salam Solid, Speed, Smart!!!

Rekan-rekan leader di Kemenpar,
Kalau minggu lalu saya sudah menjelaskan budaya kerja 3S: Solid, Speed, Smart secara konseptual, maka kini giliran saya menjelaskannya lagi secara gamblang dengan memberikan contoh. Menjelaskan sesuatu itu kalau dengan contoh akan lebih renyah dan gampang dicerna. Apalagi contohnya saya ambil peristiwa yang sedang hot saat ini.
Apa yang sedang hot beberapa hari terakhir ini? Ada dua. Pertama Piala Eropa di Perancis. Kedua, mudik lebaran yang sama-sama akan kita jalankan minggu depan.
Coba saya tanya, apa yang sama dari dua peristiwa akbar tersebut? Ya, kedua-duanya mendatangkan jutaan massa. Coba saya tanya lagi, sebagai leader di Kemenpar, apa yang Anda pikirkan begitu melihat crowd jutaan orang di Paris dan di kantong-kantong mudik di seluruh Tanah Air? Yes!!! Itu peluang!!! Peluang luar biasa untuk mendatangkan wisatawan. 

Bus Wonderful Indonesia
Beberapa hari ini sejumlah media memberitakan armada bus Wonderful Indonesia di Paris tempat helatan akbar Piala Eropa 2016. “20 bus Wonderful Indonesia mondar-mandir keliling kota selama Piala Eropa,” demikian tulis media. 20 bus city tour kota Paris tersebut bukan sekedar bus biasa, tapi sudah di-branding dengan logo Wonderful Indonesia lengkap dengan gambar atraksi alam dan budaya Indonesia seperti Borobudur, Komodo, penari Bali, hingga Festival Barong Banyuwangi. 
Itu adalah bagian dari program branding kita untuk menarik perhatian jutaan penontong Piala Eropa dari seluruh dunia yang sekarang sedang berkumpul di kota Paris. Piala Eropa adalah momentum emas bagi kita untuk menebar pesona branding Wonderful Indonesia guna memboyong wisatawan dari seluruh dunia ke Tanah Air.
Saya sudah hitung, potensi viewer dari city bus Wonderful Indonesia selama penyelenggaraan Piala Eropa sekitar 22 juta orang, terdiri dari 2,1 juta fans sepak bola yang datang dari berbagai Negara, 12 juta penduduk kota Paris, dan 10 juta penduduk kawasan sekitarnya. Dengan potensi sebesar itu, program ini jatuhnya menjadi sangat murah karena ditonton langsung oleh puluhan juta orang-orang yang potensial sebagai wisman. Salah satu taktik ampuhnya adalah, mereka kita sentuh dengan free Wi-Fi gratis yang landing page-nya masuk ke destinasi wisata unggulan Indonesia.   
Lalu apa hubungannya bus Wonderful Indonesia di Paris dengan 3S? Pertama, upaya menarik perhatian penonton Piala Eropa dengan menggunakan bus city kota Paris yang di-branding dengan logo Wonderful Indonesia adalah sebuah ide yang smart. Kenapa smart? Karena program tersebut menjangkau target audience yang sangat besar, sangat potensial sebagai wisman, dan berbiaya sangat murah. Itu yang saya sebut bekerja dengan Smart.
Kedua, momentum Piala Eropa adalah momentum emas yang euforiannya hanya berlangsung sebulan. Karena itu kita harus bekerja speed untuk memanfaatkan momentum sesaat itu. Memang program city bus di Paris sudah kita rencanakan sejak lama, namun ide menggunakan city bus tersebut untuk memanfaatkan momentum Piala Eropa baru muncul beberapa minggu sebelum event akbar itu berlangsung. Begitu ide didapat, kemudian kita kerja super speed untuk mewujudkannya. Ingat momentum tak datang dua kali. Dan begitu momentum datang kita harus super speed mengejarnya. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, begitu kita yakin program ini impactful, saya menginstruksikan Prof. Pitana untuk menggalang berbagai pihak terkait untuk mewujudkannya. Kita menggerahkan semua pihak mulai tim internal di Kemenpar sebagai inisiator, pihak KBRI, hingga perusahaan operator city bus di Paris untuk bahu-membahu merealisasikan ide tersebut. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid.

Ingat! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Mudik Lebaran
Contoh kedua adalah program kita Pesona Lebaran. Sama dengan event Piala Dunia, kalau Anda adalah leader yang entrepreneurial maka Anda akan bisa mengendus peluang di balik momentum mudik lebaran.
Idenya simple, kita punya liburan mudik lebaran selama satu sampai dua minggu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya untuk apa? Untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan. Inilah ide sederhana di balik program kita Pesona Lebaran. Kalau mereka mudik untuk liburan, why not kita segenap jajaran Kemenpar memberikan informasi berharga bagi pemudik  mengenai destinasi wisata, tempat kuliner, dan atraksi menarik selama masa mudik lebaran.
Saya ingin tahun ini Kemenpar hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan informasi tempat-tempat wisata bagi pemudik. Jadi tak hanya Kementerian Perhubungan (terkait transportasi mudik) dan Kementerian Agama (terkait ibadah puasa dan Idul Fitri) yang hadir di tengah-tengah masyarakat, Kemenpar pun harus hadir. Saya mau brand Kemenpar di mata masyarakat stand-out di masa-masa mudik lebaran. 
Makanya kemudian saya minta semua Kadispar untuk menentukan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing. Saya juga minta Don Kardono dan timnya untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. 
Agar branding-nya kuat menancap dan udah terbaca oleh Mbah Google, saya juga minta Don agar hastag-nya diseragamkan. Misalnya kalau kita merekomendasikan destinasi, kuliner, dan event Banten maka hastag-nya: Selamat berlibur, salam #PesonaLebaranBanten #PesonakulinerBanten #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pertanyaannya, apa hubungannya mudik lebaran dengan 3S?
Pertama, program #PesonaLebaran adalah program yang smart. Kenapa? Karena kita memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat. Tak hanya itu, program itu adalah bentuk pelayanan kita kepada masyarakat, sekaligus bukti bahwa Kemenpar hadir di tengah masyarakat. Itu yang saya maksud bekerja dengan Smart.
Kedua, seperti halnya kasus Piala Eropa, ide program Pesona Lebaran sesungguhnya datang hanya beberapa minggu sebelum lebaran. Namun begitu ide tercipta, kita bergerak dengan speed. Koordinasi dan penajaman ide dilakukan secara kolaborarif melalui medium grup WA. Dengan medium sederhana seperti grup WA, terbukti proses kita menjadi speed, tak ada birokrasi, tak ada proses bertele-tele, tak perlu menunggu SOP, tak perlu menunggu surat edaran. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, dengan koordinasi melalui grup WA juga, kita kerja bergotong-royong, bahu-membahu, saling membantu, saling mengisi, menjadi sebuah tim yang solid. Di grup WA setiap saat saya memantau betapa rekan-rekan dari semua bagian dan daerah begitu semangat dan kompak berkontribusi tanpa dikomando. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid. 

Ingat sekali lagi! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Dengan contoh yang gampang seperti di atas, saya yakin rekan-rekan lebih paham dan lebih gampang mengaplikasikan 3S di pekerjaan, bagian, dan daerah masing-masing. Tak ada alasan lagi Anda tak memahami 3S.
Menutup CEO Message ini saya ingin menekankan, sebagai leader di Kemenpar Anda harus menjadi seorang entrepreneur yang jeli melihat peluang di setiap momentum atau event yang ada. Wujudkan peluang itu dalam bentuk ide program, lalu jalankan 3S: solidkan barisan, speed-kan gerakan, dan smart dalam bekerja.
Kalau sampai setiap leader di Kemenpar, apakah itu Deputi, Asisten Deputi, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Bidang, hingga Kadispar, mampu menjalankan 3S di bagian dan daerah masing-masing, wow hasilnya bakal ruarrrr biasa!!! Tak hanya good, tapi great!!!

Salam Pesona Indonesia!

Menteri Pariwisata
Arief Yahya

Tuesday, May 17, 2016

Dokumentasi Penyampaian Materi Kepariwisataan

Beberapa waktu lalu ada kesempatan berbagi dengan anak muda pilihan se Kota Semarang dalam kegiatan "Pemilihan Pemuda Pelopor Keselamatan Berlalulintas Tingkat Kota Semarang Tahun 2016". Kegiatan ini menarik dan strategis untuk pembinaan generasi muda, dengan mengemban tugas menyampaikan materi kepariwisataan maka dapat dikemas dengan asik, seru dan bermanfaat bukan hanya untuk pemilihannya itu sendiri namun untuk promosi pariwisata pada umumnya dan pengembangan diri peserta pada khususnya.

Peserta berinteraksi dan bersuka cita

Foto diatas menggambarkan kesenangan dan keceriaan peserta dengan menampilkan flashmob Joget Keselamatan Berlalulintas. Keterlibatan peserta secara aktif dan berbagai game serta kesempatan beraktualisasi secara individual maupun kelompok menambah antusiasme peserta mengikuti pembekalan materi kepariwisataan. Dan inilah komentar seluruh peserta pada sesi penyampaian materi kepariwisataan :

Komentar Peserta Pemilihan Pemuda Pelopor

Dari komentar tersebut 17 dari 28 peserta membuat komentar bahwa sesi materi  kepariwisataan cukup asik, fun, menyenangkan, gembira dan seru bagi peserta dan 18 dari 28 peserta memberi komentar bermanfaat, berwawasan, pengalaman, dan mencerdaskan.
Pemberian komentar dengan membagikan kertas kecil kepada peserta untuk menuliskan 3 kata secara bebas atas sesi kepariwisataan yang barusan mereka ikuti.

Wednesday, May 20, 2015

Ramainya Pengunjung di Hari Libur

Selphie di Candi Ke IV

Candi Bertiang Pancang diantara Reruntuhan

Candi Yang Utuh dan Runtuh

Siapa Dia?


Penampakan Curug Kleting Kuning 


Kenampakan Curug Kleting Kuning Dan Bunga Sompret

Asyiknya Bermain Air di Curug Kleting Kuning

Tata Cara Mengambil Air Penghidupan Untuk Pengobatan



Bagi pecinta jalan - jalan, diantara kesibukan menjelajah negeri ada baiknya meluangkan waktu untuk menambah bekal, khususnya jurnalism agar dapat mengabadikan aktifitasnya dan membagikan kepada kalayak. Bukan rahasia umum bahwa seorang traveller selain memanjakan dirinya dengan menyambangi berbagai keunikan budaya, keindahan alam maupun serunya atraksi wisata yang lain juga kerap kali menghasilkan uang dari hasil mengabadikan aktifitasnya.
Lebih dari itu semua, tulisan, foto atau video yang diabadikan seringkali memberi manfaat bagi pecinta jalan-jalan dan juga bagi pengelola/masyarakat wisata karena terjadinya lonjakan pengunjung pasca pemberitaan. Jadi bagi yang berminat silahkan untuk langsung reservasi.

Sunday, April 12, 2015

Sepasang Kera Sedang Bercanda
Pagi ini sejatinya aku bertugas untuk menyiapkan pelatihan di Desa Wisata Kandri. Lokasi pelatihan berada di Omah Pintar Petani yang merupakan bantuan dari Unnes bekerja sama dengan PT Pertamina. Mungkin karena terlalu pagi sudah sampai dilokasi, sementara tempat dan peralatan sudah disiapkan sejak malam harinya maka aku memutuskan untuk jalan - jalan di seputar desa sekaligus menengok potensi wisata desa.


Jembatan Goa Kreo

Baru beberapa saat mengitari desa, ternyata masyarakat desa sedang kerja bakti bersih desa sehingga maklum saja klo peserta pelatihan belum ada yang datang. Plan B adalah berjalan ke Goa Kreo dan Waduk Jatibarang untuk melihat beberapa titik jalur trekking bukit di atas goa kreo. Tentu saja tak lupa jepret kiri kanan untuk mengabadikan keindahan suasana pagi di Gua Kreo.

Tangga Kesehatan Kreo
Suasana pagi di Goa Kreo sudah cukup ramai, bahkan tak sengaja aku bertemu dengan ketua ASITA Jawa Tengah, Pak Joko yang juga sedang jalan-jalan pagi menikmati keindahan Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. Sempat ngobrol beberapa saat tentang Kebijakan Walikota yang menerbitkan Surat Edaran tentang Biro Perjalanan Wisata yang resmi untuk dijadikan panduan bagi Instansi Pemerintah, Swasta dan termasuk sekolah - sekolah yang akan mengadakan tour atau perjalanan lainnya agar memperhatikan surat edaran tersebut dalam memilih Biro yang akan dipakai,


Waduk Jatibarang Nan Indah
Sepeminuman teh kemudian aku sudah meluncur ke jalan inspeksi waduk dan mengitari sisi selatan untuk melihat spot yang bisa untuk paket wisata treking, outbound maupun mancing. Jalan batako sudah tersedia cukup bagus untuk motor atau jalan kaki, beberapa warung yang didirikan masyarakat sekitar kandri juga sudah siap memanjakan para pemancing.

Jelajah Mengitari Waduk
Pesan : Bekerja di lapangan harus luwes, tengok kanan kiri mana yang bisa kita kerjakan tanpa mengganggu tugas utama. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air maka sekali datang ke lapangan bisa mengerjakan dua atau lebih pekerjaan yang berbeda yang sesungguhnya juga merupakan tugas kita. SEMANGAT!


Friday, April 3, 2015

Stasiun Gambir

Setelah menempuh perjalanan kereta kurang lebih 6 jam, sampailah di stasiun jakarta gambir selepas subuh. Plan A adalah bebersih tubuh kemudian jalan - jalan ke Tugu Monas sambil mencari sarapan nasi bungkus dari penjaja pkl yang sering melayani para sopir taksi dan bajaj di pagar yang membatasi monas dan stasiun gambir, Kembali pilihan yang rasional untuk menghemat isi kantong. Namun ada dua kesulitan yang tidak sesuai planning :
1. Tidak ada kamar mandi di Stasiun Gambir,
Turun dari kereta langsung mencari kamar mandi untuk bebersih, namun sudah mutar stasiun 3 kali tidak menemukan kamar mandi. Hanya ada toilet dimana room toiletnya sempit, tidak ada ember atau bak penampung air dan di luar pintu diberi peringatan #dilarang mandi!
Sembari berpikir plan b, maka aku memutuskan untuk cuci muka saja dulu dan sarapan pagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.45 Wib
2. PKL yang biasanya banyak lalu lalang tidak kelihatan
Berdasarkan hasil pengamatan mengitari stasiun tidak tampak ada penjual nasi bungkus, yang ada hanya sekelompok kecil pkl penjual kopi hangat, sehingga kuputuskan makan di soto kriuk. Pertimbangannya klo soto mestinya lebih murah dibanding KFC atau Kopitiam dan beberapa menu restoran lainnya yang berada di Stasiun Gambir.

Tampilan Soto Kriuk

Seporsi soto kriuk campur dan segelas teh tawar harus kubayar dengan 24 ribu rupiah. Mungkin cukup murah untuk ukuran jakarta, namun bagiku terasa cukup mahal karena seporsi soto belum mengenyangkan dan biasanya klo di jogja atau di semarang hanya berkisar 6000 s.d 10 ribu rupiah per porsi.
Sekali lagi karena dari sejak berangkat sudah siap dengan perjalanan ala backpaker dengan berbagai cara menikmati perjalanan dalam keterbatasan maka semua terasa nikmat dan tetap semangat. Selanjutnya setelah sarapan aku masih duduk di ruangan penjual soto untuk googling mencari tempat untuk mandi. Yang kutemukan memang berita atau informasi bahwa di Stasiun Gambir tidak ada kamar mandi, bahkan Dahlan Iskan pun sewaktu masih jadi menteri hanya membersihkan muka dan badan dari shower toilet. (bersambung bag 3)

Thursday, April 2, 2015

Stasiun Semarang Tawang

Persepsi bahwa perjalanan dinas adalah jalan - jalan buang duit dengan fasilitas negara harus dikesampingkan. Faktanya yang kualami pada bulan maret kemaren, tidak demikian. Tugas ke Jakarta untuk koordinasi dengan pengurus pusat dalam rangka mempersiapkan sebuah event, berbekal tiket kereta pulang pergi dan sekedar uang harian membuatku harus membuat rencana matang agar perjalanan bisa tetap dinikmati tanpa rasa keterpaksaan tapi kenikmatan.
Stasiun Semarang Tawang
Rapat koordinasi jam 9 pagi di jakarta dengan perjalanan kereta tentu cukup nanggung untuk membuat jadwal yang pas. Berangkat sore  sampai Jakarta tengah malam. Berangkat tengah malam, sampai jakarta masih subuh dan bila berangkat subuh sampai jakarta tengah hari. Mau tidak mau tentu pilihan ke dua lebih mendekati ideal yaitu berangkat tengah malam sehingga sampai jakarta subuh.
Menunggu tengah malam sendirian di Stasiun Tawang tentu tidak asik klo tidak ada aktifitas yang menyenangkan. Untuk itu setelah parkir kuda besi di sana, aku tidak buru - buru masuk ke ruang tunggu stasiun, namun jalan - jalan menikmati malam di seputaran polder tawang. Walau gak rame namun sekelompok anak muda maupun sepasang muda - mudi ada yang bercengkerama di pinggiran polder. Kondisi gelapnya malam tidak memungkinkan mengambil foto, karena pancaran cahaya blitz tentu akan membuat suasana pengunjung tidak nyaman, sehingga aku hanya sekedar berjalan - jalan mengamati keadaan dan menjelang tengah malam makan nasi goreng khas tawang. 
Tentu saja pilihan menu nasin goreng ini sudah kupertimbangkan sebagai pengeluaran pertama menguras isi dompet yang isinya terbatas, sehingga kupilih pula di deretan belakang parkir taksi. Kupikir pasti lebih murah harga makanannya, karena biasa melayani para sopir taksi dan pak becak sehari hari. Dan benar saja, sepiring nasi goreng telur dadar dan teh manis dibandrol harga 10 ribu rupiah saja.
Menjelang tengah malam, aku memasuki ruang tunggu stasiun. Masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum kereta tiba, sehingga kuputuskan untuk mengambil foto beberapa lokasi stasiun yang menurutku menarik untuk di share di twitter, facebook maupun instagram agar semakin banyak teman yang mengenal kota Semarang khususnya stasiun tawang yang juga sekaligus merupakan cagar budaya bangunan peninggalan belanda.

Bersambung bag 2 ( Stasiun Jakarta Gambir - Monas - Ragunan)





Thursday, August 7, 2014

Waktu tidak hanya menciptakan cerita sejarah yang heroik. Waktu juga membuat cerita tentang gedung-gedung tua menjadi lebih menarik, menjadi daya tarik. Pun dengan Lawang Sewu yang umpama magnet, mampu menarik ribuan orang datang untuk melihat kemegahannya, dan kisah lampaunya.
            Bangunan Lawang Sewu masih kokoh menjulang, memadukan keindahan fisik bangunan dan kisah besarnya di masa lalu. Di antara bangunan satu dengan bangunan lainnya membuat kesatuan jejak masa kolonial yang khas. Tak heran bila banyak pengunjung yang mengaguminya. Dari sisi historisnya, Lawang Sewu selesai dibangun pada tahun 1907 untuk digunakan pertama kali oleh perusahaan perkereta apian swasta Belanda bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang saat ini dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia, serta pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV Diponegoro). Sementara ketika terjadi pertempuran lima hari di Semarang, yakni pada 15 hingga 20 Oktober 1945 Lawang Sewu menjadi lokasi pertempuran bagi Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan tentara Jepang kala itu.
Lawang Sewu memang menarik, dan menjadi daya tarik bagi siapapun yang mengunjungi Semarang. Bahkan seorang pelancong yang akan pergi ke Kota Atlas ini tentu akan memasukkan nama Lawang Sewu ke daftar kunjungan pertamanya. Sebab gedung bersejarah ini memang indah dan memancarkan sisi menariknya untuk dikunjungi. Letaknya yang berada di pusat kota juga membuat siapapun dengan mudah melihat keelokannya. Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Pintu Seribu,” karena Lawang Sewu memiliki teramat banyak jendela besar menyerupai pintu.
            Menelusuri jejak masa lalu di Lawang Sewu memberikan sentuhan imajinatif bagi para pengunjungnya, terlebih di dalam ruangan terdapat berbagai macam ilustrasi baik berupa gambar maupun benda-benda antik yang akan mengisahkan sejarah Lawang Sewu. Bagi pengunjung yang ingin lebih memahami sejarah dari gedung berlantai dua ini, juga dapat menyewa tour guide  yang siap mengantar para pengunjung berkeliling menelusuri gedung tua ini. Di malam hari Lawang Sewu kian eksotis dipandang, warna putih dari gedung ini memberikan kesan elegan terlebih dengan paduan sorotan lampu jalan yang semakin membuat siapapun mengagumi keindahannya.

            Untuk mengunjungi Lawang Sewu, tidak membutuhkan biaya yang banyak. Cukup dengan Rp 10.000 pengunjung sudah dapat menikmati keelokan dari bangunan bersejarah ini, sementara bila ingin menyewa seorang tour guide maka ada tambahan biaya sebesar Rp 40.000 (untuk 5 hingga 7 orang). Berkunjung ke Lawang Sewu akan memberikan banyak pengalaman baru bagi pengunjungnya, selain dapat melihat keelokannya dari dekat, pengunjung juga akan  mendapat wawasan dan pengetahuan tentang keunikan dan sejarah bangunan megah ini. (ditulis oleh Anggi)

Wednesday, June 4, 2014

Sunday, June 1, 2014

Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dalam perkembangannya pembangunan kepariwisataan  meliputi :
a. destinasi pariwisata; 
b. pemasaran pariwisata; 
c. industri pariwisata; dan 
d. kelembagaan kepariwisataan

Ilustrasi Gambar Keinginan Semarang Kota MICE

Pembangunan Destinasi Pariwisata meliputi :
  • Perwilayahan Pembangunan Destinasi Pariwisata  Kota
  • Pembangunan Daya Tarik Wisata
  • Pembangunanan Aksesibilitas Pariwisata
  • Pembangunan Prasarana Umum, Fasilitas Umum, dan Fasilitas Pariwisata
  • Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kepariwisataan
  • Pengembangan Investasi di Bidang Pariwisata
Pembangunan Pemasaran Pariwisata meliputi :

  • Pengembangan Pasar Wisatawan
  • Pengembangan Citra Pariwisata
  • Pengembangan Kemitraan Pemasaran Pariwisata
  • Pengembangan Promosi Pariwisata
Pembangunan Industri Pariwisata meliputi :
  • Penguatan Struktur Industri Pariwisata
  • Peningkatan Daya Saing Produk Pariwisata
  • Pengembangan Kemitraan Usaha Pariwisata
  • Penciptaan Kredibilitas Bisnis
  • Pengembangan Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan
Pembangunan Kelembagaan Pariwisata meliputi :
  • Penguatan Organisasi Kepariwisataan
  • Pembangunan Sumber Daya Manusia Pariwisata
  • Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan

Menilik dari uraian diatas sangat jelas bahwa membangun pariwisata diperlukan pemikiran yang komprehensif dan futuristik. Diperlukan kerja yang fokus agar bisa maksimal kinerjanya sehingga daya tarik wisata yang ada di Kota Semarang dapat dikembangkan, dikemas,  dan dipasarkan dan lebih penting dari itu mampu menciptakan multiplyer efek bagi kesejahteraan masyarakat.
Pertanyaan : 
a. Siapa yang selama ini menjadi leading sektor untuk pengembangan produk daya tarik wisaya yang potensinya begitu melimpah di Kota Semarang?
b. Kemana arah pengembangan daya tarik wisata dimaksud dan bagaimana tahapannya?
c. Benarkah pengelolaan daya tarik wisata mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar?
Mudah - mudahan segera terjawab beberapa waktu ke depan




Saturday, May 31, 2014

Kota Semarang menyimpan sejuta potensi wisata yang sangat menakjubkan. Kondisi morfologi yang bervariasi menjamin kekayaan potensi wisata alam, sementara budaya masyarakat lokal yang merupakan perpaduan budaya jawa, china dan arab memberikan kontribusi akan kekayaan wisata budaya. Iklim investasi yang terus menggeliat turut menunjang pembangunan kepariwisataan seperti daya tarik wisata buatan, hotel, restoran, industri hiburan dan lain sebagainya.

Menarik untuk di tunggu, ke depan apakah pemerintah kota semarang mau menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, setidaknya dalam visi dan misi walikota terpilih mencantumkan sektor pariwisata mau dikembangkan seperti apa. Karena selama ini masyarakat dan insan pariwisata sudah menggeliat namun dukungan dari pemerintah kota masih dirasa kurang. Tentu saja bukan semata - mata dukungan itu berupa uang tunai atau dana hibah atau bantuan langsung pada masyarakat/pengusaha/pengelola daya tarik wisata, namun lebih kepada bagaimana stakeholder terkait mau mendukung dan nyengkuyung pembangunan kepariwisataan di Kota Semarang.

Pariwisata bukanlah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, dan uniknya juga dinas pariwisata ini mempunyai tugas namun kewenangan dari tugasnya lebih banyak pada dinas atau instansi lain. Sebut saja aksesibilitas, infra struktur penunjang, sarana prasarana untuk amenitas maupun hal - hal lain yang lebih teknis. Contoh : kewenangan perbaikan jalan menuju daya tarik wisata ada di dinas bina marga, kewenangan penyediaan air bersih ada di PDAM, kewenangan rute transportasi ada di dinas perhubungan dan seterusnya. Menilik hal ini maka peran pemimpin atau walikota akan sangat strategis untuk turut memimpin secara langsung sektor yang diprioritaskan dalam hal ini adalah sektor pariwisata.
Kesimpulannya adalah " Saya menunggu calon pemimpin semarang yang mau melirik pariwisata sebagai sektor unggulan, minimal menjadikan pariwisata sebagai urusan wajib, bukan urusan pilihan seperti saat ini"






Tuesday, May 27, 2014


Ngintir Kali Artinya mengikuti aliran air sungai ke arah hilir. Ngintir Kali Sunan Kalijogo artinya mengikuti aliran sungai mengikuti jejak petilasan sunan kaljogo ketika membawa kayu jati melawati Goa Kreo Untuk Pembangunan Masjid Demak

Wednesday, May 21, 2014

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata