Showing posts with label pesan menteri pariwisata. Show all posts
Showing posts with label pesan menteri pariwisata. Show all posts

Friday, December 29, 2017

Rekan-rekan leader di Kemenpar,
Kalau minggu lalu saya sudah menjelaskan budaya kerja 3S: Solid, Speed, Smart secara konseptual, maka kini giliran saya menjelaskannya lagi secara gamblang dengan memberikan contoh. Menjelaskan sesuatu itu kalau dengan contoh akan lebih renyah dan gampang dicerna. Apalagi contohnya saya ambil peristiwa yang sedang hot saat ini.
Apa yang sedang hot beberapa hari terakhir ini? Ada dua. Pertama Piala Eropa di Perancis. Kedua, mudik lebaran yang sama-sama akan kita jalankan minggu depan.
Coba saya tanya, apa yang sama dari dua peristiwa akbar tersebut? Ya, kedua-duanya mendatangkan jutaan massa. Coba saya tanya lagi, sebagai leader di Kemenpar, apa yang Anda pikirkan begitu melihat crowd jutaan orang di Paris dan di kantong-kantong mudik di seluruh Tanah Air? Yes!!! Itu peluang!!! Peluang luar biasa untuk mendatangkan wisatawan. 

Bus Wonderful Indonesia
Beberapa hari ini sejumlah media memberitakan armada bus Wonderful Indonesia di Paris tempat helatan akbar Piala Eropa 2016. “20 bus Wonderful Indonesia mondar-mandir keliling kota selama Piala Eropa,” demikian tulis media. 20 bus city tour kota Paris tersebut bukan sekedar bus biasa, tapi sudah di-branding dengan logo Wonderful Indonesia lengkap dengan gambar atraksi alam dan budaya Indonesia seperti Borobudur, Komodo, penari Bali, hingga Festival Barong Banyuwangi. 
Itu adalah bagian dari program branding kita untuk menarik perhatian jutaan penontong Piala Eropa dari seluruh dunia yang sekarang sedang berkumpul di kota Paris. Piala Eropa adalah momentum emas bagi kita untuk menebar pesona branding Wonderful Indonesia guna memboyong wisatawan dari seluruh dunia ke Tanah Air.
Saya sudah hitung, potensi viewer dari city bus Wonderful Indonesia selama penyelenggaraan Piala Eropa sekitar 22 juta orang, terdiri dari 2,1 juta fans sepak bola yang datang dari berbagai Negara, 12 juta penduduk kota Paris, dan 10 juta penduduk kawasan sekitarnya. Dengan potensi sebesar itu, program ini jatuhnya menjadi sangat murah karena ditonton langsung oleh puluhan juta orang-orang yang potensial sebagai wisman. Salah satu taktik ampuhnya adalah, mereka kita sentuh dengan free Wi-Fi gratis yang landing page-nya masuk ke destinasi wisata unggulan Indonesia.   
Lalu apa hubungannya bus Wonderful Indonesia di Paris dengan 3S? Pertama, upaya menarik perhatian penonton Piala Eropa dengan menggunakan bus city kota Paris yang di-branding dengan logo Wonderful Indonesia adalah sebuah ide yang smart. Kenapa smart? Karena program tersebut menjangkau target audience yang sangat besar, sangat potensial sebagai wisman, dan berbiaya sangat murah. Itu yang saya sebut bekerja dengan Smart.
Kedua, momentum Piala Eropa adalah momentum emas yang euforiannya hanya berlangsung sebulan. Karena itu kita harus bekerja speed untuk memanfaatkan momentum sesaat itu. Memang program city bus di Paris sudah kita rencanakan sejak lama, namun ide menggunakan city bus tersebut untuk memanfaatkan momentum Piala Eropa baru muncul beberapa minggu sebelum event akbar itu berlangsung. Begitu ide didapat, kemudian kita kerja super speed untuk mewujudkannya. Ingat momentum tak datang dua kali. Dan begitu momentum datang kita harus super speed mengejarnya. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, begitu kita yakin program ini impactful, saya menginstruksikan Prof. Pitana untuk menggalang berbagai pihak terkait untuk mewujudkannya. Kita menggerahkan semua pihak mulai tim internal di Kemenpar sebagai inisiator, pihak KBRI, hingga perusahaan operator city bus di Paris untuk bahu-membahu merealisasikan ide tersebut. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid.

Ingat! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Mudik Lebaran
Contoh kedua adalah program kita Pesona Lebaran. Sama dengan event Piala Dunia, kalau Anda adalah leader yang entrepreneurial maka Anda akan bisa mengendus peluang di balik momentum mudik lebaran.
Idenya simple, kita punya liburan mudik lebaran selama satu sampai dua minggu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya untuk apa? Untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan. Inilah ide sederhana di balik program kita Pesona Lebaran. Kalau mereka mudik untuk liburan, why not kita segenap jajaran Kemenpar memberikan informasi berharga bagi pemudik  mengenai destinasi wisata, tempat kuliner, dan atraksi menarik selama masa mudik lebaran.
Saya ingin tahun ini Kemenpar hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan informasi tempat-tempat wisata bagi pemudik. Jadi tak hanya Kementerian Perhubungan (terkait transportasi mudik) dan Kementerian Agama (terkait ibadah puasa dan Idul Fitri) yang hadir di tengah-tengah masyarakat, Kemenpar pun harus hadir. Saya mau brand Kemenpar di mata masyarakat stand-out di masa-masa mudik lebaran. 
Makanya kemudian saya minta semua Kadispar untuk menentukan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing. Saya juga minta Don Kardono dan timnya untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. 
Agar branding-nya kuat menancap dan udah terbaca oleh Mbah Google, saya juga minta Don agar hastag-nya diseragamkan. Misalnya kalau kita merekomendasikan destinasi, kuliner, dan event Banten maka hastag-nya: Selamat berlibur, salam #PesonaLebaranBanten #PesonakulinerBanten #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pertanyaannya, apa hubungannya mudik lebaran dengan 3S?
Pertama, program #PesonaLebaran adalah program yang smart. Kenapa? Karena kita memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat. Tak hanya itu, program itu adalah bentuk pelayanan kita kepada masyarakat, sekaligus bukti bahwa Kemenpar hadir di tengah masyarakat. Itu yang saya maksud bekerja dengan Smart.
Kedua, seperti halnya kasus Piala Eropa, ide program Pesona Lebaran sesungguhnya datang hanya beberapa minggu sebelum lebaran. Namun begitu ide tercipta, kita bergerak dengan speed. Koordinasi dan penajaman ide dilakukan secara kolaborarif melalui medium grup WA. Dengan medium sederhana seperti grup WA, terbukti proses kita menjadi speed, tak ada birokrasi, tak ada proses bertele-tele, tak perlu menunggu SOP, tak perlu menunggu surat edaran. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, dengan koordinasi melalui grup WA juga, kita kerja bergotong-royong, bahu-membahu, saling membantu, saling mengisi, menjadi sebuah tim yang solid. Di grup WA setiap saat saya memantau betapa rekan-rekan dari semua bagian dan daerah begitu semangat dan kompak berkontribusi tanpa dikomando. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid. 

Ingat sekali lagi! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Dengan contoh yang gampang seperti di atas, saya yakin rekan-rekan lebih paham dan lebih gampang mengaplikasikan 3S di pekerjaan, bagian, dan daerah masing-masing. Tak ada alasan lagi Anda tak memahami 3S.
Menutup CEO Message ini saya ingin menekankan, sebagai leader di Kemenpar Anda harus menjadi seorang entrepreneur yang jeli melihat peluang di setiap momentum atau event yang ada. Wujudkan peluang itu dalam bentuk ide program, lalu jalankan 3S: solidkan barisan, speed-kan gerakan, dan smart dalam bekerja.
Kalau sampai setiap leader di Kemenpar, apakah itu Deputi, Asisten Deputi, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Bidang, hingga Kadispar, mampu menjalankan 3S di bagian dan daerah masing-masing, wow hasilnya bakal ruarrrr biasa!!! Tak hanya good, tapi great!!!

Salam Pesona Indonesia!

Menteri Pariwisata
Arief Yahya

Rekan-rekan leader di Kemenpar,
Di tengah suasana Idul Fitri 1437H saya ingin mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin, mohon maaf lahir batin.
Di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus-ikhlas di dalam hati kita. Mari kita hilangkan rasa benci, rasa iri-dengki, rasa dendam, dan menggantinya dengan rasa kasih sayang, rasa persaudaraan, dan rasa persatuan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri, dan senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan.
Mari kita maknai hari yang fitri ini dengan semangat silaturahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama umat manusia. Itu sebabnya kemarin saya menyempatkan diri bersilaturahmi dengan seluruh karyawan Kemenpar dari lantai 23 hingga lantai dasar Gedung Sapta Pesona untuk memberikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H dan bermaaf-maafan.
Silaturahmi memiliki keutamaan yang luar biasa seperti disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari)

Silaturahmi

Idul Fitri menjadi momentum yang sangat tepat untuk mengingatkan kembali mengenai pentingnya silaturahmi dalam mewujudkan budaya kerja 3S khususnya unsur yang pertama yaitu Solid. Silaturahmi merupakan elemen dasar dari soliditas, karena silaturahmi akan menciptakan rasa saling menyayangisaling melindungi, dan saling membela.
Ketika kita selalu memiliki spirit silaturahmi maka di dalam organisasi Kemenpar akan tercipta iklim dan budaya saling percaya (culture of trust). Kondisi saling percaya ini merupakan organizational capital yang menjadi landasan kuat untuk mendorong kinerja organisasi. Dengan adanya culture of trust, soliditas di tingkat individu kemudian ditransformasikan menjadi soliditas di tingkat organisasi. Hasilnya, kohesivitas organisasi menjadi kokoh. Sesungguhnya hubungan personal lebih dahsyat daripada hubungan profesional, karena hubungan personal terbentuk dari ikatan rasa, sedangkan hubungan profesional terbentuk dari analisa rasio.
Ketika hal ini terjadi, maka kita akan lebih mudah melakukan transformasi mewujudkan tujuan organisasi. Seluruh insan Kemenpar akan lebih mudah disatukan oleh visi untuk bergerak ke satu tujuan yang sama. Ketika persatuan solid maka rasa saling curiga dan politik di dalam organisasi akan minimal. Dengan iklim yang kondusif semacam itu, maka kita akan lebih mudah digerakkan untuk mewujudkan visi-misi organisasi.   
Ketika kita memiliki spirit silaturahmi maka proses konsensus dalam mencari solusi terhadap suatu masalah mudah diwujudkan. Mudah bukan karena semua orang kompromistis dalam mencapai kesepakatan, tapi lebih karena mereka memiliki satu orientasi yang sama untuk memberikan solusi terbaik bagi organisasi. Perbedaaan setajam apapun akan mudah dipertemukan jika masing-masing pihak memiliki itikad baik dan orientasi yang sama untuk bersatu-padu memecahkan persoalan bersama.
Ketika kita memiliki spirit silaturahmi maka kita akan berpikir dan berperilaku positif dan optimis, memiliki semangat tinggi untuk berkontribusi, dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Maka strategi dan program sesulit apapun yang ditawarkan ke mereka akan bisa dituntaskan dengan baik. Setiap inisiatif yang dicanangkan oleh pemimpin bisa dengan baik diterjemahkan ke dalam inisiatif/program di berbagai area operasi. Seluruh fungsi yang terkait pun berpartisipasi dan berkontribusi aktif untuk menyukseskannya.

Inilah esensi dari soliditas dan silaturahmi.  

Kemenangan

Idul Fitri juga mengandung spirit kemenangan. Bahkan Idul Fitri juga disebut sebagai Hari Raya Kemenangan. Ya, karena pada hari itu, kita telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci. Kita menjadi terlahir kembali sebagai orang-orang yang menang mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa.
Karena itu Idul Fitri adalah juga momentum yang tepat untuk menggelorakan spirit to be the winner. Ingat, di Kemenpar pemenang itu bukan pilihan tapi keharusan. Setiap insan Kemenpar harus terus-menerus menciptakan dan menyukseskan “bukit-bukit kemenangan”. Dan kita tak akan pernah merasa lelah sebelum kemenangan demi kemenangan bisa kita wujudkan.
Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua, karena selama bulan puasa-lebaran ini kita telah mampu menyukseskan “bukit-bukit kemenangan”.

Di tingkat dunia, beberapa hari lalu MasterCard dan CrescentRating, lembaga pemeringkat global untuk Muslim Travel Market menetapkan Indonesia di urutan ke-2 dalam Global Muslim Travel Index (GMTI). Itu artinya kini Indonesia masuk dalam jajaran elit destinasi wisata halal dunia. Begitu juga Hotel Nihiwatu, Sumba yang beberapa waktu lalu ditetapkan sebagai “#1 Hotel in the World” dalam survei World’s Best Award dari majalah bergengsi Travel + Leisure. Selain itu program “Pesona Lebaran” menjadi trending topicdi Indonesia dan program branding bus city tour “Wonderful Indonesia” di Paris selama gelaran Piala Eropa 2016 berjalan sangat baik, bahkan berdasarkan informasi dari VITO, Indonesia terpilih sebagai destinasi favorit di Perancis. Informasi dari Australia mengukuhkan Indonesia sebagai destinasi dengan kunjungan terbanyak dari outbound wisman Australia, mengalahkan New Zealand. Semua ini adalah prestasi kita semua. Prestasi Tim Pemenang.
Tentu saja keberhasilan itu tak boleh membuat kita gampang puas dan terjebak dalam comfort zone. Masih banyak “bukit-bukit kemenangan” lain yang harus kita sukseskan. Keberhasilan itu haruslah kita sikapi sebagai kemenangan awal (early win) yang menjadi batu pijakan berharga bagi keberhasilan-keberhasilan yang jauh lebih besar.
Menutup CEO message ini saya ingin mengingatkan hakikat bulan Syawal yang baru saja kita masuki. Syawal adalah bulan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Kata Syawal, secara harfiyah memiliki arti “peningkatan”, yakni peningkatan ibadah sebagai hasil latihan selama bulan Ramadhan.
Karena itu bulan yang baik ini seharusnya menjadi penyemangat kita untuk meningkatkan kualitas kerja kita dalam mewujudkan visi-misi Kemenpar melalui perbaikan terus-menerus. Don’t be in the comfort zone, improve all the time Hanya dengan belajar dan memperbaiki diri secara terus-menerus kita bisa menyukseskan “bukit kemenangan” demi “bukit kemenangan”.

Salam Pesona Indonesia!

Tuesday, October 3, 2017

Pada CEO Message sebelumnya saya sudah membahas customer portfolio yaitu bagaimana kita memilih konsumen yang hendak kita bidik dengan menggunakan tiga kriteria 3S (sizesustainablespread). Setelah kita memilih konsumen yang hendak kita layani, maka minggu ini giliran saya membahas bagaimana kita memberikan offering kepada konsumen terpilih tersebut. Dan minggu depan saya akan melanjutkannya dengan membahas bagaimana caranya kita melakukan branding.
Yang pertama disebut customer management. Yang kedua disebut product management. Dan yang ketiga adalah brandmanagement. Jadi dalam 3 CEO Message terakhir ini saya membahas mengenai trilogi marketing yaitu: customer-product-brand management.  Sekarang saya akan fokus membahas product management.   

Differentiating
Setelah kita menetapkan customer portfolio yang akan kita layani, maka pekerjaan selanjutnya adalah kita menetapkan value proposition yang hendak kita tawarkan. Apa yang kita tawarkan ini haruslah unik dan berbeda dari yang ditawarkan oleh negara lain, karena itu disebut unique value proposition (UVP). Proses untuk menciptakan UVP disebut differentiation.

Destinasi-destinasi yang ditawarkan oleh Bali misalnya, sangat unik dan tidak bisa ditandingi oleh destinasi lain. Keunikan itu merupakan kombinasi antara keajaiban alam dan keotentikan budaya yang adi luhung. Itu artinya Bali memiliki UVP dan diferensiasi yang kuat.

Untuk menghasilkan UVP yang kuat maka kuncinya adalah kita harus tahu kebutuhan spesifik dan perilaku konsumen yang kita layani. Setelah tahu persis karakteristik konsumen, maka selanjutnya kita harus mengembangkan destinasi wisata yang pas memenuhi kebutuhan konsumen tersebut.

Sesungguhnya kita tidak bisa menawarkan Bali secara generalkarena destinasi-destinasi yang ada di Pulau Dewata ini bermacam-macam dan memiliki target pasarnya sendiri-sendiri. Karena itu Bali harus di-cluster-cluster sesuai dengan target konsumennya. Kawasan pantai Kuta misalnya lebih cocok untuk mass travelers; yang berbeda sedikit dengan target konsumen di Pantai Sanur; dan berbeda lagi dengan Ubud yang lebih pas untuk high-end travelers. Sementara kawasan Nusa Dua, karena memiliki gedung-gedung konvensi berkelas dunia, lebih cocok untuk konsumen MICE.

Destinasi Raja Ampat memiliki keindahan alam bawah laut yang luar biasa. Karena panorama bawah laut yang eksotis, Raja Ampat merupakan magnet bagi para penyelam fanatik dari seluruh dunia. Mereka mencari experience bawah air yang unik dan tak semua orang bisa menikmatinya. Karena menarget niche market, maka Raja Ampat harus menawarkan UVP yang eksklusif dan premium dan disasarkan untuk high-end travelersyang jumlahnya relatif kecil tapi spending-nya tinggi. Jumlah travelers yang datang ini harus memperhitungkan carrying capacity Raja Ampat untuk menjaga kelestarian alam di situ.

Lombok lain lagi ceritanya. Sesuai dengan diferensiasi yang dimiliki, Lombok diarahkan untuk menjadi destinasi wisata halal. Lombok memiliki begitu banyak tempat ibadah untuk kaum muslim. Bahkan destinasi wisata ini mendapat julukan “Pulau Seribu Masjid” karena dalam jarak tak sampai dua kilometer selalu bisa ditemukan masjid. Di samping itu kulinernya juga dijamin halal dan kini mulai banyak bermunculan hotel berkonsep halal.

Jadi, dengan pantainya yang indah dan budayanya yang terjaga, Lombok mencoba untuk membedakan diri (differentiating) dengan menawarkan UVP berupa wisata halal.      

Belajar dari Global Best Practice
Saya sering mengatakan bahwa cara paling cepat dan paling efektif untuk beajar adalah melalui benchmarking. Kita tak perlu merumuskan sesuatu dari awal dan secara sendiri. Kita bisa “potong kompas” dengan belajar dari negara-negara lain yang pernah melakukannya. Tentu saja kita harus belajar dari negara-negara yang jauh lebih maju dari kita dalam hal productmanagement di sektor pariwisata.

Negara-negara yang maju sektor pariwisatanya bisa dipastikan pasti menerapkan customer dan product management yang sangat spesifik. Spanyol misalnya, wajib kita jadikan benchmark dengan jumlah wisatawan sebesar 75 juta dan devisa US$ 60 miliar.  Sebagai salah satu negara dengan kunjungan wisman terbesar di dunia dan menduduki peringkat 1 di Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), mereka punya ragam destinasi untuk berbagai segmen wisatawan.

Spanyol membagi profil customernya ke dalam beberapa segmen secara demografis, yaitu families, young people, senior, hingga adults without children. Bahkan mereka juga menggarap segmen dengan minat khusus. Masing-masing portfolio segmen ini ditawarkan berbagai atraksi dan destinasi yang sesuai dengan minat mereka.

Untuk melayani beragam profil segmen tersebut, Spanyol mempunyai berbagai portofolio produk (destinasi/atraksi). Mereka punya wisata kota, alam, gastronomi, belanja, olahraga hingga kesehatan dan kecantikan. Masing-masing portofolio produk ini di-cross dengan segmen konsumen yang ada.

Untuk segmen families misalnya wisatawan bisa mengunjungi theme park seperti Dinopolis atau museum-museum di Madrid. Young People bisa mengikuti berbagai festival musik dan event olahraga, atau menghabiskan malam berpesta di Ibiza. Spanyol juga agresif menggarap segmen senior atau lansia dengan menawarkan destinasi atau paket tur seperti “World Heritage in Spain” dan “Mediterranian Diet”.

Senada dengan Spanyol, Perancis pun melakukan hal yang sama. Perancis juga merupakan salah satu negara dengan kunjungan wisman terbesar yaitu sebesar 85 juta orang dengan perolehan devisa yang mencapai US$ 60 miliar. Sebagai negara yang kaya akan budaya dan sejarah, Perancis memiliki 37 situs yang masuk daftar “World Heritage”-nya UNESCO. Portofolio produk atau destinasinya banyak berfokus di sini. Terbukti, kunjungan turis terbesar adalah di situs-situs tersebut seperti Museum Louvre, Menara Eiffel, Istana Versailles dan sebagainya.   

Kita juga perlu belajar banyak dari Jepang, dimana mereka mencatatkan pertumbuhan mengesankan mencapai nyaris double dari sekitar 10 juta menjadi 20 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2013-2015. Dalam laporan TTCI 2017, Jepang menempati peringkat ke 4, tertinggi untuk kawasan Asia. Jepang mempunyai portofolio produk dengan berbagai destinasi/atraksi yang unik. Mereka adalah negara yang sangat kaya akan budaya dan sejarah, seperti halnya Perancis, Jepang mempunyai 21 situs yang masuk “world heritage”nya UNESCO. Berbagai kuil dan situs-situs sejarah ditawarkan untuk menarik turis yang ingin mengulik budaya Jepang.

Jepang juga menawarkan destinasi/atraksi alam yang unik seperti wisata salju, yang menjadi favorit para wisatawan terutama dari Asia yang ingin melihat salju dengan akses yang paling mudah, tak perlu harus ke Eropa. Tempat terbaik dengan kondisi salju yang banyak, dapat ditemukan di Jepang Utara (Hokkaido dan Tohoku) dan di pegunungan sepanjang Laut Jepang Coast (terutama Niigata dan Nagano). Di sana banyak resor yang memiliki zona bermain yang dirancang untuk keluarga dan anak, atau bagi yang tertarik bermain ski atau snowboard. Selain salju, ada destinasi alam unik lainnya yaitu menikmati musim semi bunga sakura di Tokyo atau Yokohama pada bulan April saat sedang bermekaran.

Untuk man-made, Jepang menyediakan Disneyland di Tokyo sebagai salah satu produk flagshipnya. Bahkan Jepang juga membidik segmen khusus pecinta anime dan manga untuk berkunjung ke Akihabara sebagai pusat game dan manga. Mereka begitu detil menyelaraskan portofolio customer dengan portofolio produk.

Belajar dari Tetangga
Untuk regional, kita juga harus belajar pada Thailand sebagai “musuh professional” sekaligus yang terbaik di kawasan. Ketika kemarin saya ke Bangkok untuk menerima penghargaan TTG Award, Saya bahkan meminta khusus kepada staf kedutaan besar dan diaspora-diaspora kita di sana untuk mempelajari keunggulan-keunggulan pariwisata Thailand. Dengan berbagai penghargaan yang banyak kita raih belakangan, bahkan pertumbuhan kita lebih cepat dari Thailand, kita tetap harus mau belajar dari mereka.

Mereka terkenal dengan pesona alamnya yang indah sebagai atraksi utama. Sebagai negara kerajaan, Thailand menawarkan berbagai atraksi dan budaya dalam portofolio produknya selain wisata alam yang sudah terkenal. Sebagai diferensiasi, Thailand memiliki berbagai festival dan atraksi yang unik. Misalnya yang sangat terkenal adalah Festival Songkran yaitu festival perayaan Tahun Baru Thailand yang dimeriahkan dengan tradisi “Perang Air” di jalanan tiap kota. Hampir setengah juta turis datang untuk ikut perang air dan basah-basahan.

Terkenal dengan gajahnya, Thailand juga mengembangkan “elephant tourism”, yaitu wisata trekking dengan gajah. Atraksi gajah di Surin yang diadakan tahunan di setiap bulan November. Acara ini diramaikan oleh sekitar 250 gajah terlatih yang akan mempertunjukan kebolehannya seperti sepak bola atau main perang-perangan.

Selain itu, Thailand juga mengembangkan “halal tourism”, meskipun mayoritas masyarakatnya non-muslim. Mereka memprioritaskan program-program pariwisata yang menarget para wisatawan muslim, baik wisatawan muslim domestik maupun wisatawan dari negara-negara muslim terutama dari timur tengah. Melalui branding “Thailand Diamond Halal” mereka merancang berbagai program pengembangan produk dan paket wisata halal. Thailand juga membidik segmen “kesehatan” dengan menawarkan “medical tourism”. Turis bisa berkunjung ke Bangkok, Chiang Mai, hingga Phuket untuk berobat atau sekedar check-up. Dengan beragam portofolio produk tersebut, tak heran Thailand bisa mendatangkan kurang lebih 30 juta wisman setiap tahunnya, dengan devisa sekitar US$ 40 Miliar.

Terakhir, kita perlu mempelajari apa yang telah dilakukan Vietnam. Beberapa tahun terakhir mereka menunjukkan performa yang mencengangkan. Pada periode Januari-September 2017 mereka mencatatkan pertumbuhan jumlah wisman sebesar 28,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Apa yang menjadikan mereka begitu cepat?

Vietnam terkenal dengan kekuatan produk atau atraksi seperti budaya dan sejarah, pantai dan kepulauan, serta ekowisatanya. Secara umum mereka membagi portofolio produknya menjadi 4 jenis, yaitu wisata budaya, wisata laut, ekowisata, wisata modern & outdoor.

Dengan kekayaan budayanya, Vietnam juga punya situs-situs yang masuk “world heritage” seperti kota Hue atau Hoi An. Turis juga bisa mengunjungi pagoda-pagoda di sekitaran sungai Mekong dan sungai Merah, atau benteng kuno di Hue dan Hanoi. Untuk wisata bahari, Halong Bay adalah andalan sebagai destinasi yang paling populer, selain Phu Quoc, Nha Trang, Mui Ne dan sebagainya. Vietnam menawarkan ekowisata dengan puluhan taman nasional seperti Xuan Son, atau taman bunga Lang Sen. Untuk menggaet turis yang ingin wisata perkotaan & outdoor, ditawarkan berbagai taman-taman kota dan teater.

Pelajaran dari beberapa negara tersebut sangat penting untuk kita terapkan di sini. Harus ada aligning antara customer profiling dengan portofolio produk yang kita tawarkan. Ada destinasi untuk mass segment, ada yang untuk niche segment, ada yang untuk high-end, ada yang more for less, bukan menegasikan salah satu. Inilah alasan mengapa product management sangat penting setelah kita melakukan customer management.

Menutup CEO Message ini, saya mengingatkan bahwa target utama Kemenpar adalah jumlah wisatawan dan devisa yang dihasilkan sehingga, kita harus membuat kedua aspek ini berimbang. Kita harus fokus harus memprioritaskan customeryang mana dengan menawarkan produk yang mana, sehingga target 20 juta wisman sekaligus US$ 20 miliar devisa, keduanya dapat dicapai.

Salam Pesona Indonesia !!!

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.
Menteri Pariwisata

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata