Showing posts with label arief yahya. Show all posts
Showing posts with label arief yahya. Show all posts

Friday, December 29, 2017

JAKARTA – Minggu ke-2 di Rapat Pimpinan (Rapim) di Kantor Kemenpar, Lantai 16 Gedung Sapta Pesona, Menpar Arief Yahya kembali menuturkan poin-poin penting dalam Corporate Culture WIN-Way. Dia menyebut jurus Wonderful Indonesia Way, dengan CEO Message ke-2. “Kali ini agak panjang, karena saya harus menjelaskan dengan runtut, logic, dan sistematis. Agar nilai-nilai dari Great Spirit dan Grand Strategy nya mendarat di benak insan-insan Kemenpar,” kata Arief Yahya, mengawali presentasinya.
Mantan Dirut PT Telkom ini melanjutkan dengan autokritiknya. Dia menyebut “lelet” untuk menggambarkan dinamika bekerja di lingkungan PNS kebanyakan. Termasuk di lingkungan Kementerian yang dia pimpin. “Lelet” itu mirip cara berjalan siput, lambat, birokratis, dan berorientasi proses. “Bagaimana bisa memenangi persaingan, kalau nyantai? Seolah tidak ada beban? Miskin inisiatif, tidak merasa sedang dikejar-kejar target?” keluh Arief Yahya.
Peta persaingan ke depan adalah yang cepat menyalip yang “lelet”, bukan yang besar menginjak yang kecil. Budaya, cepat, agresif, terus bergerak, menciptakan quick wins, dengan cara-cara cerdas itulah ujung dari “khotbah” Arief Yahya di CEO Message seri-2 ini. “Saya ini tidak tidur berhari-hari! Saya percaya, semangat yang tinggi akan mencari jalannya sendiri untuk sukses!” ucap Arief Yahya yang juga yakin bahwa hanya energi besar seorang pemimpinlah yang bisa “membakar” motivasi pasukannya.
Seluruh peserta Rapim, pejabat Eselon I dan II pun terdiam. Kata-kata yang diucapkan Arief Yahya juga tidak keras. Bukan karena sedang menjalani ibadah puasa. Tetapi lebih untuk menjaga agar semua mata dan telinga orang di ruang rapat itu mencerna dengan utuh. Berikut ini, transkrip CEO Note ke-2 yang bukan hanya untuk dijalankan oleh internal Kemenpar, tetapi juga bisa menginspirasi publik yang sedang menghadapi persoalan manajemen yang mirip:
 
“Karakterlah yang membuat perusahaan/negara itu hebat”
 
CEO Message kedua ini, WIN Way atau *Wonderful Indonesia Way*, barangkali merupakan message terpanjang, karena inilah esensi dari pemikiran kepemimpinan saya di Kemenpar. Karena itu saya harus menjelaskannya dengan runtut dan tuntas.
Melalui WIN Way saya ingin setiap insan Kemenpar bermental pemenang, bukannya pecundang. Saya mengatakan bahwa menjadi pemenang itu bukan pilihan tapi keharusan. Di Kemenpar pun saya mewajibkan setiap insan Kemenpar untuk menjadi pemenang. Tidak ada kamusnya Anda menjadi pecundang. Di Kemenpar, “there’s no place for a loser.”
Saya ingin setiap insan Kemenpar menciptakan “bukit-bukit kemenagan” dan secara terus-menerus menyukseskan “bukit kemenangan satu ke bukit kemenangan berikutnya.” Tahun lalu kita meraih satu bukit kemenangan dalam hal branding dengan memenangkan begitu banyak penghargaan di tingkat dunia. Namun itu baru satu bukit kemenangan. Kita harus menyukseskan bukit-bukit kemenangan berikutnya. Pemimpin yang hebat tak pernah merasa lelah sebelum berhasil mencapai mimpinya untuk menjadi pemenang.
Saya sering mengatakan, untuk menjadi pemenang seorang pemimpin harus memiliki dua elemen dasar, yaitu Great Spirit dan Grand Strategy. Yang pertama menyangkut Heart (hati), yang kedua menyangkut Head (pikiran). Yang pertama menyangkut karakter sebagai hasil olah ruh dan olah rasa, yang kedua menyangkut kompetensi sebagai hasil dari olah rasio dan olah raga.
Great Spirit berkaitan dengan semangat tinggi yang terbentuk oleh keyakinan (belief), nilai-nilai (values), dan perilaku (behavior) yang utama dan mulia. Sementara Grand Strategy berkaitan dengan visi, strategi, model bisnis, atau eksekusi ekselen yang terbangun dari analisis dan daya pikir yang mumpuni.
Spirit dan strategy merupakan dua elemen dasar yang saling melengkapi dan mengisi, sehingga tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. Itu sebabnya kunci kesuksesan pemimpin ditentukan oleh kemampuannya menyeimbangkan dan mengharmonikan keduanya.
Namun saya mengatakan Spirit itu lebih dahsyat dari Strategy. Setiap pemimpin mutlak harus memiliki semangat yang tinggi karena semangat yang tinggi akan mencari jalannya sendiri untuk sukses.
Nah, WIN Way adalah elemen dari Great Spirit. WIN Way saya ciptakan untuk membentuk karakter pemenang di Kemenpar. Yaitu insan Kemenpar yang memiliki keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku pemenang. Pada hakikatnya tugas pokok pemimpin adalah managing people. Artinya, sebagai pemimpin Anda harus fokus pada aspek orangnya. Anda harus fokus membentuk keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku orang-orang yang Anda pimpin. “Leadership focus on people, management focus on work.” Inilah latar belakang kenapa saya menciptakan WIN Way.
Ingat, yang membedakan satu perusahaan/negara dengan perusahaan/negara lainnya adalah orangnya. Perusahaan/negara itu hebat karena memiliki orang-orang hebat. Bagaimana orang-orang hebat itu tercipta? Karena mereka memiliki karakter yang kuat dan mulia. Camkan ini, “Karakterlah yang membuat perusahaan/negara itu hebat.”
 
Winning Character
Dalam CEO Message minggu lalu, saya telah menguraikan pentingnya seorang pemimpin untuk facing reality and confront the brutal facts. Saya katakan di situ, kita menghadapi fakta brutal dikalahkan oleh negara-negara kecil tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Sebagai pemimpin kita harus melihat brutal fact itu apa adanya. Kita harus berbesar hati melihat kenyataan bahwa selama ini kita memang masih pecundang. Namun kenyataan pahit itu harus bisa menggerakkan hati dan pikiran kita untuk berubah dan membaliknya menjadi pemenang. Brutal fact harus memicu sense of crisis dan kemudian membangkitkan energi yang meluap-luap untuk menang. Untuk menghadapinya, kita harus menjadi “paranoid”, karena seperti dikatakan Andy Grove, pendiri Intel, “only paranoid survive.”
WIN Way saya ciptakan sebagai jurus bagi kita untuk menjadi pemenang. Jurus tersebut terdiri dari tiga elemen yang saya singkat menjadi 3S, yaitu Solid, Speed, Smart. Kenapa saya memilih jurus 3S? Karena tiga unsur inilah yang menjadi kelemahan mendasar dari kementerian/departemen seperti Kemenpar.
Kementerian/departeman pada umumnya tidak bisa Solid karena adanya silo-silo antar unit-bagian, pusat-daerah, pemerintah-swasta. Kita tidak bisa Speed karena adanya kungkungan birokrasi yang membelit. Dan kita tidak Smart karena terjebak dalam suasana comfort zone dan kemapanan yang menghambat terciptanya inisiatif, inovasi dan tumbuhnya ide-ide segar.
 
Solid adalah terwujudnya satu hati, satu pikiran, dan satu tindakan. Adanya soliditas akan melahirkan sahabat sejati, sikap saling menyayangi, saling melindungi, saling membela. Ingat, kekuatan utama sebuah pasukan adalah persatuan: “pelihara persatuan, menangkan persaingan.”
 
Speed adalah bertindak secara cepat dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Ingat, pepatah berikut: “yang cepat memakan yang lambat, bukan yang besar memakan yang kecil.” Kecepatan merupakan sumber terwujudnya kualitas pekerjaan yang tinggi, pemangkasan biaya, dan ketepatan penyampaian produk ke pelanggan (QCD: quality, cost, delivery)
 
Smart adalah bersikap, berpikir dan bertindak secara cerdas dalam pekerjaan yang kita lakukan. Smart terwujud melalui olah rasa melalui intuisi yang tajam, olah rasio melalui kreativitas dan inovasi yang menghasilkan terobosan (breakthrough), dan olah raga melalui aksi-aksi yang impresif.
Saya akan mencoba menguraikan tiga jurus ini satu persatu.
 
Solid
Di Kemenpar saya mengartikan Solid sebagai kekompakan dan persatuan menuju terwujudnya Indonesia Incorporated. Perlu diingat produk wisata merupakan sebuah ekosistem yang melibatkan beragam pihak dan stakeholders. Sebuah produk wisata akan mencakup pemilik destinasi dan masyarakat di sekitarnya, infrastruktur (bandara, jalan, fasilitas, dll.), pelaku industri (travel agent, hotel, transportasi, restoran. dll.), pemerintah sebagai regulator, sekolah pariwisata sebagai penyedia talent, dan sebagainya.
Saya menyebutnya dengan konsep Pentahelix, yang mencakup: academician, business, government, community, media, untuk
[00:56, 6/24/2016] Pak Don Staf khusus menteri:  mudahnya saya singkat menjadi ABGCM. Seluruh unsur Pentahelix harus bahu-membahu dan bergotong-royong untuk memperjuangkan pariwisata Indonesia. Melalui sinergi Indonesia Incorporated maka kita akan mampu menciptakan apa yang saya dapat dari Kellogg Business School, yang disebut 3S-3B, yaitu: Size getting Bigger, Scope getting Broader, dan Skill getting Better. Jadi, melalui Indonesia Incorporated kita akan “Bigger-Broader-Better together.”
Untuk bisa solid, seringkali kita perlu menciptakan musuh bersama atau common enemy. Kenapa saya selalu menyebut Malaysia, Thailand, dan Singapura sebagai negara-negara kecil yang mengalahkan kita, tak lain karena saya ingin menciptakan “musuh bersama” yang harus kita kalahkan. “We need a common enemy to unite us.” Kita butuh musuh bersama sebagai pengikat persatuan dan katalis untuk mewujudkan kemenangan.
Di tahun 1990-an Samsung mencoba menggapai ambisinya untuk menjadi pemimpin pasar dengan menciptakan common enemy yaitu Sony yang sangat perkasa kala itu dengan meneriakkan: “ Beat Sony!!!”. Kini ambisi itu terwujud. Maka kita pun harus meneriakkan: “Beat Malaysia!!!” “Beat Thailand!!!” dan “Beat Singapore!!!”.
Berbicara mengenai Solid, saya teringat kisah menarik dari ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu, yang hidup di Abad V Sebelum Masehi. Dia ditunjuk Raja Wu memimpin pasukan elite kerajaan yang beranggotakan 180 perempuan cantik yang merupakan istri selir raja. Pasukan itu dibagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing dipimpin oleh istri selir tercantik. Sun Tzu menghukum dua pemimpin pasukan tersebut dengan memenggal kepalanya karena mengabaikan perintahnya sampai tiga kali. Raja Wu keberatan, namun Sun Tzu tak bergeming karena sikap dua pemimpin pasukan tersebut telah melemahkan bahkan menghancurkan soliditas pasukan.
Moral cerita dari kisah Sun Tzu itu jelas, yaitu bahwa kalau sudah menyangkut soliditas pasukan, Sun Tzu tidak mau berkompromi. Baginya, soliditas pasukan adalah segalanya untuk bisa memenangkan peperangan. Berkaca dari kisah Sun Tzu, Kemenpar dengan segenap stakeholders-nya haruslah bersatu. Pelihara persatuan untuk memenangkan peperangan.
 
Speed
Speed di Kemenpar saya artikan sebagai kecepatan dalam berpikir (fast thinking), kecepatan dalam memutuskan (fast decision), dan kecepatan dalam masuk ke pasar (fast in getting to market) dengan menyingkirkan belitan-belitan birokrasi yang ada. “Simplify the complex things.” Sederhanakan sesuatu yang rumit agar kita bisa bergerak cepat.
Ingat, tahun 2016 ini sudah ditetapkan oleh Presiden RI sebagai tahun percepatan, tahun akselerasi. Dalam persaingan masa kini dan masa depan, speed itu penting. Presiden menegaskan bahwa salah satu fokus kebijakannya adalah deregulasi (di samping infrastruktur dan SDM) agar para pelaku bisnis tak terbelenggu aturan-aturan dan birokrasi.
Karena alasan itulah kita melakukan terobosan deregulasi pariwisata dengan penerapan Bebas Visa Kunjungan (BVK),  penghapusan ketentuan Clearance Approval for Indonesia Teritory (CAIT), dan asas cabotage untuk cruise atau kapal pesiar asing. Kita juga membentuk Badan Otoritas dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Semua langkah ini tujuannya satu, untuk menjadikan kita speed, tidak lelet. Untuk memenangkan persaingan, tak ada kata lain, kita harus bergerak ngebut. Ingat, the fast eat the slow. Kalau kita tidak speed maka kita akan terus dimakan oleh Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Prof. Michael Porter dari Harvard Business School mengatakan ada empat strategi generik untuk memenangkan persaingan, yaitu: differentiation, cost leadership, focus, dan speed. Dari empat strategi tersebut kelemahan utama kita terletak di speed.
Coba saja lihat, dari sisi differentiation dan focus kita memiliki kekayaan alam melimpah masuk dalam top 20 dunia. Dari sisi cost competitiveness bahkan kita masuk top 3 dunia. Sementara dari sisi business environment yang saalah satu elemennya adalah birokrasi/regulasi kinerja kita sangat buruk. Menurut World Economic Forum hanya di posisi 93 yang kemudian naik menjadi 63 tahun lalu.
 
Smart
Kecepatan yang luar biasa tak akan ada gunanya jika pikiran dan tindakan Anda tidak Smart. Ide dan keputusan yang keliru akan membawa Anda terperosok ke dalam jurang, secepat apapun langkah yang Anda ambil. Karena itu berpikir, bersikap, dan bertindak secara cerdas sangat penting untuk menggapai kemenangan.
Cara Smart pertama adalah melakukan benchmarking. Saya sering mengatakan, cara paling efektif dan paling cepat untuk membawa organisasi kita menjadi yang terbaik adalah dengan melakukan benchmarking. Benchmarking dapat dilakukan antardivisi, antardirektorat, atau ke institusi lain. Dengan benchmarking, semua yang terbaik yang ada di unit atau organisasi lain akan ada di organisasi Anda.
Tidak percaya? Einstein pernah mengatakan, ”Orang biasa itu belajar dari kesalahan diri sendiri, sedangkan saya belajar dari kesalahan orang lain.” Jangan gengsi melakukan benchmarking, memangnya Anda paling pintar? Semakin Anda merasa pintar, maka Anda semakin menjadi orang biasa.
Jangan berpikir bahwa kita telah menemukan sesuatu yang baru, karena di suatu tempat, di suatu masa, seseorang telah berpikir atau telah membuatnya. Jack Welch mengatakannya sebagai NIH (“Not Invented Here”). Awalnya orang-orang GE arogan. Semua gagasan yang tidak datang dari GE dianggap tak berharga. Namun Jack Welch membalikkan paradigma tersebut. Ia marah sekali kalau ada yang tidak mau melakukan benchmarking ke perusahaan lain.
Cara Smart kedua adalah berinovasi. Saya bilang, “hasil yang luar biasa dapat dicapai dengan cara yang tidak biasa.” Kita tak akan bisa memenangkan persaingan kalau terus-menerus bekerja secara rutin alias business as usual. Kita tak akan menjadi yang terbaik kalau terus-menerus melakukan hal yang sama.
Berinovasi berarti kita menciptakan sesuatu yang sama sekali beda. Kata Prof. Chan Kim, penulis buku hebat Blue Ocean Strategy, kalau kita bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali beda (blue ocean), maka kita bisa dengan mudah menghindari persaingan dan persaingan menjadi tidak relevan lagi. Atau dalam ungkapan bijak SunTzu, “kita bisa memenangkan peperangan tanpa peperangan.”
Cara Smart ketiga adalah go digital. Di era disruptive technologies saat ini digital menjadi alat ampuh untuk memenangkan persaingan. Kita melihat Blue Bird begitu mudah digoyang oleh platform digital seperti Grab dan Uber. Industri perhotelan didisrupsi oleh AirBnB. Atau raksasa Kodak takluk oleh digital start-up seperti Instagram.
Karena itu sejak awal memimpin Kemenpar, seluas mungkin saya memanfaatkan platform digital untuk operasi, pengembangan produk, maupun pemasaran. Saya percaya penuh bahwa: The more digital, the more personal. The more digital, the more global. The more digital, the more professional.
Demikian uraian saya mengenai WIN Way. Akhirnya saya berharap bahwa WIN Way bisa bisa menjadi alat ampuh untuk menempa karakter setiap insan Kemenpar agar menjadi insan pemenang.(*)

Rekan-rekan leader di Kemenpar,
Kalau minggu lalu saya sudah menjelaskan budaya kerja 3S: Solid, Speed, Smart secara konseptual, maka kini giliran saya menjelaskannya lagi secara gamblang dengan memberikan contoh. Menjelaskan sesuatu itu kalau dengan contoh akan lebih renyah dan gampang dicerna. Apalagi contohnya saya ambil peristiwa yang sedang hot saat ini.
Apa yang sedang hot beberapa hari terakhir ini? Ada dua. Pertama Piala Eropa di Perancis. Kedua, mudik lebaran yang sama-sama akan kita jalankan minggu depan.
Coba saya tanya, apa yang sama dari dua peristiwa akbar tersebut? Ya, kedua-duanya mendatangkan jutaan massa. Coba saya tanya lagi, sebagai leader di Kemenpar, apa yang Anda pikirkan begitu melihat crowd jutaan orang di Paris dan di kantong-kantong mudik di seluruh Tanah Air? Yes!!! Itu peluang!!! Peluang luar biasa untuk mendatangkan wisatawan. 

Bus Wonderful Indonesia
Beberapa hari ini sejumlah media memberitakan armada bus Wonderful Indonesia di Paris tempat helatan akbar Piala Eropa 2016. “20 bus Wonderful Indonesia mondar-mandir keliling kota selama Piala Eropa,” demikian tulis media. 20 bus city tour kota Paris tersebut bukan sekedar bus biasa, tapi sudah di-branding dengan logo Wonderful Indonesia lengkap dengan gambar atraksi alam dan budaya Indonesia seperti Borobudur, Komodo, penari Bali, hingga Festival Barong Banyuwangi. 
Itu adalah bagian dari program branding kita untuk menarik perhatian jutaan penontong Piala Eropa dari seluruh dunia yang sekarang sedang berkumpul di kota Paris. Piala Eropa adalah momentum emas bagi kita untuk menebar pesona branding Wonderful Indonesia guna memboyong wisatawan dari seluruh dunia ke Tanah Air.
Saya sudah hitung, potensi viewer dari city bus Wonderful Indonesia selama penyelenggaraan Piala Eropa sekitar 22 juta orang, terdiri dari 2,1 juta fans sepak bola yang datang dari berbagai Negara, 12 juta penduduk kota Paris, dan 10 juta penduduk kawasan sekitarnya. Dengan potensi sebesar itu, program ini jatuhnya menjadi sangat murah karena ditonton langsung oleh puluhan juta orang-orang yang potensial sebagai wisman. Salah satu taktik ampuhnya adalah, mereka kita sentuh dengan free Wi-Fi gratis yang landing page-nya masuk ke destinasi wisata unggulan Indonesia.   
Lalu apa hubungannya bus Wonderful Indonesia di Paris dengan 3S? Pertama, upaya menarik perhatian penonton Piala Eropa dengan menggunakan bus city kota Paris yang di-branding dengan logo Wonderful Indonesia adalah sebuah ide yang smart. Kenapa smart? Karena program tersebut menjangkau target audience yang sangat besar, sangat potensial sebagai wisman, dan berbiaya sangat murah. Itu yang saya sebut bekerja dengan Smart.
Kedua, momentum Piala Eropa adalah momentum emas yang euforiannya hanya berlangsung sebulan. Karena itu kita harus bekerja speed untuk memanfaatkan momentum sesaat itu. Memang program city bus di Paris sudah kita rencanakan sejak lama, namun ide menggunakan city bus tersebut untuk memanfaatkan momentum Piala Eropa baru muncul beberapa minggu sebelum event akbar itu berlangsung. Begitu ide didapat, kemudian kita kerja super speed untuk mewujudkannya. Ingat momentum tak datang dua kali. Dan begitu momentum datang kita harus super speed mengejarnya. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, begitu kita yakin program ini impactful, saya menginstruksikan Prof. Pitana untuk menggalang berbagai pihak terkait untuk mewujudkannya. Kita menggerahkan semua pihak mulai tim internal di Kemenpar sebagai inisiator, pihak KBRI, hingga perusahaan operator city bus di Paris untuk bahu-membahu merealisasikan ide tersebut. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid.

Ingat! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Mudik Lebaran
Contoh kedua adalah program kita Pesona Lebaran. Sama dengan event Piala Dunia, kalau Anda adalah leader yang entrepreneurial maka Anda akan bisa mengendus peluang di balik momentum mudik lebaran.
Idenya simple, kita punya liburan mudik lebaran selama satu sampai dua minggu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya untuk apa? Untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan. Inilah ide sederhana di balik program kita Pesona Lebaran. Kalau mereka mudik untuk liburan, why not kita segenap jajaran Kemenpar memberikan informasi berharga bagi pemudik  mengenai destinasi wisata, tempat kuliner, dan atraksi menarik selama masa mudik lebaran.
Saya ingin tahun ini Kemenpar hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan informasi tempat-tempat wisata bagi pemudik. Jadi tak hanya Kementerian Perhubungan (terkait transportasi mudik) dan Kementerian Agama (terkait ibadah puasa dan Idul Fitri) yang hadir di tengah-tengah masyarakat, Kemenpar pun harus hadir. Saya mau brand Kemenpar di mata masyarakat stand-out di masa-masa mudik lebaran. 
Makanya kemudian saya minta semua Kadispar untuk menentukan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing. Saya juga minta Don Kardono dan timnya untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. 
Agar branding-nya kuat menancap dan udah terbaca oleh Mbah Google, saya juga minta Don agar hastag-nya diseragamkan. Misalnya kalau kita merekomendasikan destinasi, kuliner, dan event Banten maka hastag-nya: Selamat berlibur, salam #PesonaLebaranBanten #PesonakulinerBanten #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pertanyaannya, apa hubungannya mudik lebaran dengan 3S?
Pertama, program #PesonaLebaran adalah program yang smart. Kenapa? Karena kita memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat. Tak hanya itu, program itu adalah bentuk pelayanan kita kepada masyarakat, sekaligus bukti bahwa Kemenpar hadir di tengah masyarakat. Itu yang saya maksud bekerja dengan Smart.
Kedua, seperti halnya kasus Piala Eropa, ide program Pesona Lebaran sesungguhnya datang hanya beberapa minggu sebelum lebaran. Namun begitu ide tercipta, kita bergerak dengan speed. Koordinasi dan penajaman ide dilakukan secara kolaborarif melalui medium grup WA. Dengan medium sederhana seperti grup WA, terbukti proses kita menjadi speed, tak ada birokrasi, tak ada proses bertele-tele, tak perlu menunggu SOP, tak perlu menunggu surat edaran. Itu yang saya maksud bekerja dengan Speed.
Ketiga, dengan koordinasi melalui grup WA juga, kita kerja bergotong-royong, bahu-membahu, saling membantu, saling mengisi, menjadi sebuah tim yang solid. Di grup WA setiap saat saya memantau betapa rekan-rekan dari semua bagian dan daerah begitu semangat dan kompak berkontribusi tanpa dikomando. Itu yang saya maksud bekerja dengan Solid. 

Ingat sekali lagi! Bekerja itu harus Solid, Speed, Smart.

Dengan contoh yang gampang seperti di atas, saya yakin rekan-rekan lebih paham dan lebih gampang mengaplikasikan 3S di pekerjaan, bagian, dan daerah masing-masing. Tak ada alasan lagi Anda tak memahami 3S.
Menutup CEO Message ini saya ingin menekankan, sebagai leader di Kemenpar Anda harus menjadi seorang entrepreneur yang jeli melihat peluang di setiap momentum atau event yang ada. Wujudkan peluang itu dalam bentuk ide program, lalu jalankan 3S: solidkan barisan, speed-kan gerakan, dan smart dalam bekerja.
Kalau sampai setiap leader di Kemenpar, apakah itu Deputi, Asisten Deputi, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Bidang, hingga Kadispar, mampu menjalankan 3S di bagian dan daerah masing-masing, wow hasilnya bakal ruarrrr biasa!!! Tak hanya good, tapi great!!!

Salam Pesona Indonesia!

Menteri Pariwisata
Arief Yahya

Rekan-rekan leader di Kemenpar,
Di tengah suasana Idul Fitri 1437H saya ingin mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin, mohon maaf lahir batin.
Di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus-ikhlas di dalam hati kita. Mari kita hilangkan rasa benci, rasa iri-dengki, rasa dendam, dan menggantinya dengan rasa kasih sayang, rasa persaudaraan, dan rasa persatuan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri, dan senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan.
Mari kita maknai hari yang fitri ini dengan semangat silaturahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama umat manusia. Itu sebabnya kemarin saya menyempatkan diri bersilaturahmi dengan seluruh karyawan Kemenpar dari lantai 23 hingga lantai dasar Gedung Sapta Pesona untuk memberikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H dan bermaaf-maafan.
Silaturahmi memiliki keutamaan yang luar biasa seperti disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari)

Silaturahmi

Idul Fitri menjadi momentum yang sangat tepat untuk mengingatkan kembali mengenai pentingnya silaturahmi dalam mewujudkan budaya kerja 3S khususnya unsur yang pertama yaitu Solid. Silaturahmi merupakan elemen dasar dari soliditas, karena silaturahmi akan menciptakan rasa saling menyayangi, saling melindungi, dan saling membela.
Ketika kita selalu memiliki spirit silaturahmi maka di dalam organisasi Kemenpar akan tercipta iklim dan budaya saling percaya (culture of trust). Kondisi saling percaya ini merupakan organizational capital yang menjadi landasan kuat untuk mendorong kinerja organisasi. Dengan adanya culture of trust, soliditas di tingkat individu kemudian ditransformasikan menjadi soliditas di tingkat organisasi. Hasilnya, kohesivitas organisasi menjadi kokoh. Sesungguhnya hubungan personal lebih dahsyat daripada hubungan profesional, karena hubungan personal terbentuk dari ikatan rasa, sedangkan hubungan profesional terbentuk dari analisa rasio.
Ketika hal ini terjadi, maka kita akan lebih mudah melakukan transformasi mewujudkan tujuan organisasi. Seluruh insan Kemenpar akan lebih mudah disatukan oleh visi untuk bergerak ke satu tujuan yang sama. Ketika persatuan solid maka rasa saling curiga dan politik di dalam organisasi akan minimal. Dengan iklim yang kondusif semacam itu, maka kita akan lebih mudah digerakkan untuk mewujudkan visi-misi organisasi.   
Ketika kita memiliki spirit silaturahmi maka proses konsensus dalam mencari solusi terhadap suatu masalah mudah diwujudkan. Mudah bukan karena semua orang kompromistis dalam mencapai kesepakatan, tapi lebih karena mereka memiliki satu orientasi yang sama untuk memberikan solusi terbaik bagi organisasi. Perbedaaan setajam apapun akan mudah dipertemukan jika masing-masing pihak memiliki itikad baik dan orientasi yang sama untuk bersatu-padu memecahkan persoalan bersama.
Ketika kita memiliki spirit silaturahmi maka kita akan berpikir dan berperilaku positif dan optimis, memiliki semangat tinggi untuk berkontribusi, dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Maka strategi dan program sesulit apapun yang ditawarkan ke mereka akan bisa dituntaskan dengan baik. Setiap inisiatif yang dicanangkan oleh pemimpin bisa dengan baik diterjemahkan ke dalam inisiatif/program di berbagai area operasi. Seluruh fungsi yang terkait pun berpartisipasi dan berkontribusi aktif untuk menyukseskannya.

Inilah esensi dari soliditas dan silaturahmi.  

Kemenangan

Idul Fitri juga mengandung spirit kemenangan. Bahkan Idul Fitri juga disebut sebagai Hari Raya Kemenangan. Ya, karena pada hari itu, kita telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci. Kita menjadi terlahir kembali sebagai orang-orang yang menang mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa.
Karena itu Idul Fitri adalah juga momentum yang tepat untuk menggelorakan spirit to be the winner. Ingat, di Kemenpar pemenang itu bukan pilihan tapi keharusan. Setiap insan Kemenpar harus terus-menerus menciptakan dan menyukseskan “bukit-bukit kemenangan”. Dan kita tak akan pernah merasa lelah sebelum kemenangan demi kemenangan bisa kita wujudkan.
Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua, karena selama bulan puasa-lebaran ini kita telah mampu menyukseskan “bukit-bukit kemenangan”.

Di tingkat dunia, beberapa hari lalu MasterCard dan CrescentRating, lembaga pemeringkat global untuk Muslim Travel Market menetapkan Indonesia di urutan ke-2 dalam Global Muslim Travel Index (GMTI). Itu artinya kini Indonesia masuk dalam jajaran elit destinasi wisata halal dunia. Begitu juga Hotel Nihiwatu, Sumba yang beberapa waktu lalu ditetapkan sebagai “#1 Hotel in the World” dalam survei World’s Best Award dari majalah bergengsi Travel + Leisure. Selain itu program “Pesona Lebaran” menjadi trending topicdi Indonesia dan program branding bus city tour “Wonderful Indonesia” di Paris selama gelaran Piala Eropa 2016 berjalan sangat baik, bahkan berdasarkan informasi dari VITO, Indonesia terpilih sebagai destinasi favorit di Perancis. Informasi dari Australia mengukuhkan Indonesia sebagai destinasi dengan kunjungan terbanyak dari outbound wisman Australia, mengalahkan New Zealand. Semua ini adalah prestasi kita semua. Prestasi Tim Pemenang.
Tentu saja keberhasilan itu tak boleh membuat kita gampang puas dan terjebak dalam comfort zone. Masih banyak “bukit-bukit kemenangan” lain yang harus kita sukseskan. Keberhasilan itu haruslah kita sikapi sebagai kemenangan awal (early win) yang menjadi batu pijakan berharga bagi keberhasilan-keberhasilan yang jauh lebih besar.
Menutup CEO message ini saya ingin mengingatkan hakikat bulan Syawal yang baru saja kita masuki. Syawal adalah bulan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Kata Syawal, secara harfiyah memiliki arti “peningkatan”, yakni peningkatan ibadah sebagai hasil latihan selama bulan Ramadhan.
Karena itu bulan yang baik ini seharusnya menjadi penyemangat kita untuk meningkatkan kualitas kerja kita dalam mewujudkan visi-misi Kemenpar melalui perbaikan terus-menerus. “Don’t be in the comfort zone, improve all the time” Hanya dengan belajar dan memperbaiki diri secara terus-menerus kita bisa menyukseskan “bukit kemenangan” demi “bukit kemenangan”.

Salam Pesona Indonesia!

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts