Showing posts with label Obyek Wisata Semarang. Show all posts
Showing posts with label Obyek Wisata Semarang. Show all posts

Sunday, April 12, 2015

Sepasang Kera Sedang Bercanda
Pagi ini sejatinya aku bertugas untuk menyiapkan pelatihan di Desa Wisata Kandri. Lokasi pelatihan berada di Omah Pintar Petani yang merupakan bantuan dari Unnes bekerja sama dengan PT Pertamina. Mungkin karena terlalu pagi sudah sampai dilokasi, sementara tempat dan peralatan sudah disiapkan sejak malam harinya maka aku memutuskan untuk jalan - jalan di seputar desa sekaligus menengok potensi wisata desa.


Jembatan Goa Kreo

Baru beberapa saat mengitari desa, ternyata masyarakat desa sedang kerja bakti bersih desa sehingga maklum saja klo peserta pelatihan belum ada yang datang. Plan B adalah berjalan ke Goa Kreo dan Waduk Jatibarang untuk melihat beberapa titik jalur trekking bukit di atas goa kreo. Tentu saja tak lupa jepret kiri kanan untuk mengabadikan keindahan suasana pagi di Gua Kreo.

Tangga Kesehatan Kreo
Suasana pagi di Goa Kreo sudah cukup ramai, bahkan tak sengaja aku bertemu dengan ketua ASITA Jawa Tengah, Pak Joko yang juga sedang jalan-jalan pagi menikmati keindahan Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. Sempat ngobrol beberapa saat tentang Kebijakan Walikota yang menerbitkan Surat Edaran tentang Biro Perjalanan Wisata yang resmi untuk dijadikan panduan bagi Instansi Pemerintah, Swasta dan termasuk sekolah - sekolah yang akan mengadakan tour atau perjalanan lainnya agar memperhatikan surat edaran tersebut dalam memilih Biro yang akan dipakai,


Waduk Jatibarang Nan Indah
Sepeminuman teh kemudian aku sudah meluncur ke jalan inspeksi waduk dan mengitari sisi selatan untuk melihat spot yang bisa untuk paket wisata treking, outbound maupun mancing. Jalan batako sudah tersedia cukup bagus untuk motor atau jalan kaki, beberapa warung yang didirikan masyarakat sekitar kandri juga sudah siap memanjakan para pemancing.

Jelajah Mengitari Waduk
Pesan : Bekerja di lapangan harus luwes, tengok kanan kiri mana yang bisa kita kerjakan tanpa mengganggu tugas utama. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air maka sekali datang ke lapangan bisa mengerjakan dua atau lebih pekerjaan yang berbeda yang sesungguhnya juga merupakan tugas kita. SEMANGAT!


Thursday, August 7, 2014

Waktu tidak hanya menciptakan cerita sejarah yang heroik. Waktu juga membuat cerita tentang gedung-gedung tua menjadi lebih menarik, menjadi daya tarik. Pun dengan Lawang Sewu yang umpama magnet, mampu menarik ribuan orang datang untuk melihat kemegahannya, dan kisah lampaunya.
            Bangunan Lawang Sewu masih kokoh menjulang, memadukan keindahan fisik bangunan dan kisah besarnya di masa lalu. Di antara bangunan satu dengan bangunan lainnya membuat kesatuan jejak masa kolonial yang khas. Tak heran bila banyak pengunjung yang mengaguminya. Dari sisi historisnya, Lawang Sewu selesai dibangun pada tahun 1907 untuk digunakan pertama kali oleh perusahaan perkereta apian swasta Belanda bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang saat ini dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia, serta pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV Diponegoro). Sementara ketika terjadi pertempuran lima hari di Semarang, yakni pada 15 hingga 20 Oktober 1945 Lawang Sewu menjadi lokasi pertempuran bagi Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan tentara Jepang kala itu.
Lawang Sewu memang menarik, dan menjadi daya tarik bagi siapapun yang mengunjungi Semarang. Bahkan seorang pelancong yang akan pergi ke Kota Atlas ini tentu akan memasukkan nama Lawang Sewu ke daftar kunjungan pertamanya. Sebab gedung bersejarah ini memang indah dan memancarkan sisi menariknya untuk dikunjungi. Letaknya yang berada di pusat kota juga membuat siapapun dengan mudah melihat keelokannya. Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Pintu Seribu,” karena Lawang Sewu memiliki teramat banyak jendela besar menyerupai pintu.
            Menelusuri jejak masa lalu di Lawang Sewu memberikan sentuhan imajinatif bagi para pengunjungnya, terlebih di dalam ruangan terdapat berbagai macam ilustrasi baik berupa gambar maupun benda-benda antik yang akan mengisahkan sejarah Lawang Sewu. Bagi pengunjung yang ingin lebih memahami sejarah dari gedung berlantai dua ini, juga dapat menyewa tour guide  yang siap mengantar para pengunjung berkeliling menelusuri gedung tua ini. Di malam hari Lawang Sewu kian eksotis dipandang, warna putih dari gedung ini memberikan kesan elegan terlebih dengan paduan sorotan lampu jalan yang semakin membuat siapapun mengagumi keindahannya.

            Untuk mengunjungi Lawang Sewu, tidak membutuhkan biaya yang banyak. Cukup dengan Rp 10.000 pengunjung sudah dapat menikmati keelokan dari bangunan bersejarah ini, sementara bila ingin menyewa seorang tour guide maka ada tambahan biaya sebesar Rp 40.000 (untuk 5 hingga 7 orang). Berkunjung ke Lawang Sewu akan memberikan banyak pengalaman baru bagi pengunjungnya, selain dapat melihat keelokannya dari dekat, pengunjung juga akan  mendapat wawasan dan pengetahuan tentang keunikan dan sejarah bangunan megah ini. (ditulis oleh Anggi)

Wednesday, June 4, 2014

Saturday, April 19, 2014


View Peta Wisata Semarang in a larger map

  1. Lawang Sewu
  2. Sam Poo Kong
  3. Masjid Agung Jawa Tengah
  4. Pantai Marina
  5. Taman Rekreasi Marina
  6. Museum Jamu Nyonya Meneer
  7. Museum Ronggowarsito
  8. Museum MURI
  9. Simpang Lima
  10. Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah
  11. Gereja Blenduk
  12. Kawasan Kota Lama
  13. Waroeng Semawis
  14. Kelenteng Tay Kak Sie
  15. Lakers Club BSB
  16. Pagoda Watugong
  17. Wonderia
  18. Taman Margasatwa - Bonbin
  19. Water Blaster
  20. Taman Lele
  21. Museum Mandala Bhakti
  22. Graha Candi Golf, Padang Golf & Driving Range
  23. Gombel Golf, Padang Golf & Driving Range
  24. Candi Tugu
  25. Goa Kreo



Wednesday, April 16, 2014

Dalam rangka peningkatan kualitas dan ketersediaan informasi jasa akomodasi (hotel) di Jawa Tengah maka Disbudpar Propinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Pembinaan dan Inventarisasi Jasa Akomodasi di Jawa Tengah 2014. Tentu ini untuk meningkatkan kualitas informasi dan ketersediaan data sehingga bisa meningkatkan jejaring informasi usaha pariwisata di Jawa Tengah. Berikut beberapa dokumentasinya :






Tuesday, April 15, 2014

Setelah melewati pohon tumbang yang melintang di tengah sungai itu, jalan makin terjal dan licin, Hujan rintik-rintik mulai turun dan sungai makin deras. Jalan menyeberang sungai beberapa kali dan jalanan mulai tidak jelas. Seperti terlihat di gambar, jalan dipinggir sungai menanjak dan basah, sehingga kita harus berjalan sangat hati-hati.
Suara gemuruh air mulai terdengar pertanda air terjun sudah dekat. Aku makin bergegas ingin menyaksikan keindahan air terjun curug benowo yang konon masih asli dan alami itu. Suara - suara pengunjung yang mandi dan bermain di air genangan sungai dekat air terjun juga cukup rame.

 Pohon besar yang tumbang dan sudah lapuk menjadi pemandangan pertama memasuki area air terjun. Kita harus melompati atau batang pohon itu agar bisa mendekat ke air terjun. Benar-benar masih alami dan belum ditata oleh tangan-tangan manusia.

Beberapa pengunjung menoleh ke arah yang sama mengagumi pemandangan air terjun di atas sana. Ada mahasiswa, pelajar, pramuka dan beberapa kelompok karang taruna yang sudah lebih dulu sampai di curug benowo.
Baru menikmati beberapa saat di Curug, hujan mulai turun dengan lebat. Kawatir terjadi banjir maka aku segera bergegas pulang kembali ke pos. Karena jalan turun harus menyeberang sungai beberapa kali, kalau terjadi banjir maka akan sangat berbahaya. Justru perjalanan pulang inilah yang akhirnya menggoreskan kenangan yang luar biasa.... treking in heavy rain

Jalan terjal menuju curug sudah terbayang di didepan mata. Cuaca masih cerah saat aku mulai menyusuri jalan desa, namun cuaca berubah sedikit gelap ketika mulai memasuki jalan setapak. Tak ada tanda-tanda bahwa didepanku banyak orang yang sudah naik ke curug karena jalan berbatu itu sulit untuk mengenali jejak kaki yang masih baru.

Setelah beberapa lama menyusuri tebing yang curam, perjalanan harus menyeberangi sungai beberapa kali. Ada yang sudah dibuatkan jembatan kayu, namun ada juga yang harus masuk ke dalam sungai. Mula-mula sungai tidak begitu terjal dan dalam, namun ketika memasuki kawasan curug berubah menjadi sangat terjal dan dalam. Cukup menantang untuk treker pemula dan juga jalannya bervariasi. Ada tebing, jalanan setapak, aliran sungai dan di sisi kanan dan kiri jalan setapak terdapat bekas-bekas perapian yang dibuat oleh para treker.
Beberapa petunjuk arah cukup membantu kelancaran perjalananku. Namun dibererapa belokan jalan setapak belum ada petunjuk arah sama sekali sehingga kadang harus bergerak ke semua kemungkinan arah yang ada untuk melihat jejak jekak kaki yang ada.


Beberapa pohon tumbang menghalangi jalanku, ada yang mudah untuk dilalui namun ada juga yang membuat bingung, karena pohon tumbang melintang di sungai dan menutup akses jalan setapak. Ibarat bermain seperti pramuka diwaktu sekolah lagi untuk dapat menembus rintangan dengan jalan merunduk, merayap, bergantung di pohon dan juga melompat dan meloncat.
Jembatan kayu yang digunakan untuk menyeberang sungai sebagian sudah lapuk dan sangat licin, sehingga aku harus super hati-hati untuk meniti jembatan itu menuju seberang sungai. Kupikir jembatan kayu ini lebih baik daripada harus masuk ke dalam sungai.
Beberapa saat menjelang curug aku bertemu dengan sepasang muda -mudi yang sudah turun dari curug. Aku sempat berbincang dan bertanya apakah destinasi masih jauh atau sudah mendekati. Muda - mudi itu menjawab bahwa tinggal 3 kali tanjakan lagi sudah sampai di curug benowo.
Dengan semangat aku mulai melangkah lagi untuk segera sampai di tempat tujuan. terbayang indahnya air terjun yang membelah sungai benowo

“Jantungku berdebar kencang, jalan di pinggir tebing itu longsor, nyawaku bergantung pada 3 batang bambu yang ditancapkan di tanah labil itu. Perlahan kuberjalan tanpa melongok ke arah dasar jurang sedalam 20 meter di sisi kiri jalan setapak yang kulalui...”

Aku tau tentang Curug benowo dari internet. Cerita-cerita yang menggugah nyali dan foto-foto yang menggairahkan dari pemandangan alam curug benowo menimbulkan minat mudaku untuk mencoba jalur treking dilereng ungaran itu.

Perjalanan dari rumah menyusuri jalan raya naik ke arah Unnes Sekaran, terus melewati beberapa pedesaan di Gunung Pati. Aku sama sekali buta dengan jalur jalan ini, hanya mengandalkan ingatan bahwa pos pemantauan Curug Benowo ada di desa Kalisidi. Ada yang menyebut masih masuk Gunung Pati, namun ada juga yang mengatakan sudah masuk kecamatan ungaran barat. Dengan sedikit tanya sana – sini sampailah aku di Desa Kalisidi. Desa di lereng bukit ungaran yang sejuk, damai dan tenang.

Di Pos Perhutani nampak segerombol orang yang sedang bercengkerama. Nampaknya sudah ada beberapa treker di depanku yang juga ingin merasakan eksotiknya berjalan menyusuri sungai dan hutan menuju curug benowo. Segera kuhampiri pos itu dan ikut berbincang dengan petugas. Ternyata petugasnya bapak bapak yang berasal dari Kulon Progo. Setelah ngobrol sana – sini sebentar karena sama-sama dari Jogja maka aku segera menghampiri kendaraanku dan naik menyusuri jalan desa yang berbatu-batu.

untuk pengendara dari desa sepertiku tidak menjadi masalah, jalan itu masih cukup baik. Namun bagi pengendara yang biasa jalan di kota, tentu akan menjadi kesulitan tersendiri. Setelah kurang lebih 10 menit, tibalah aku di Pos Penjagaan Curug Benowo. Kembali aku sedikit berbincang untuk memastikan bahwa jalan yang ku ambil benar dan sedikit minta petunjuk untuk jalur treking yang akan kulalui.

Bapak penjaga itu bercerita bahwa di depanku sudah banyak yang naik menuju curug, kira-kira ada 20 sd 30 an pengunjung sejak jam 9 pagi. Waktu itu tepat menunjukkan pukul 11.00. Segera aku bergegas ke warung di seberang jalan untuk melengkapi perbekalan. Ternyata hanya ada kopi, teh dan sebotol aqua. Aku memesan teh untuk menghangatkan badan serta 1 botol aqua untuk kubawa jalan. bersambung

Friday, April 11, 2014

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts