Showing posts with label Museum Lawangsewu. Show all posts
Showing posts with label Museum Lawangsewu. Show all posts

Sunday, December 14, 2014

"Di Lawangsewu ini aku ingin mengatakan bahwa aku bersalah. Aku minta maaf telah meninggalkan kesan yang kurang baik. Namun ketahuilah bahwa sesungguhnya aku selalu mengagumimu, selalu menceritakanmu kepada teman-temanku, kepada orang tuaku hal apa saja tentangmu. Aku tak perlu mengatakan apa yang kurasakan, Mas bisa menyimpulkan sendiri apa yang kurasakan. Biarlah Lawangsewu menjadi saksi pengakuan salahku sekaligus perasaanku"


"Peristiwa ini membuatku semakin mengagumimu. Kebesaran hatimu untuk mengakui kesalahan adalah hal penting untuk diapresiasi. Terlepas bahwa kesalahan itu tidak mungkin berdiri sendiri, ada sebab akibat, ada rentetan peristiwa dan seterusnya yang membuat sebuah kesalahan itu terjadi. Akupun termasuk dalam lingkaran kesalahan ini, jadi maafkan aku juga ya! Okelah semua sudah berakhir, momen ini semoga menjadi awal hubungan kita kembali. Hubungan yang sehat, sinergis dan saling memberi manfaat. Dari awal akupun tidak bermaksud macem-macem atau neko-neko terhadapmu. Bahwa aku mengagumumi... iya, bahwa aku menyayangimu .. iya, bahwa aku mempunyai perasaan yang spesial... iya. Namun rasa itu semua bukan berarti kita harus berpasangan sebagai layaknya seorang pria dan wanita. Hubungan spesial itu bisa bermacam - macam, cara mengungkapkan perasaan spesial itu juga bermacam - macam. Tidak harus bersifat jasmani. Kadang - kadang ungkapan hati dari sebuah perbuatan, sikap dan tingkah laku yang ditunjukkan dari bawah sadar itu lebih dari segalanya. Apa kamu bisa mengerti dan memahami ke unikan dan spesialnya hubungan kita ini? pertanyaanku padanya sekaligus mengakhiri percakapanmu senja itu di lawangsewu.

Kini semua sudah berakhir, cerita drama itu sudah berakhir di selesaikan pada sebuah senja di lawangsewu. Selamat jalan dan selamat berkarya untuk negeri tercinta Indonesia. Aku yakin kami bisa membuktikan bahwa orang-orang yang menilaimu hanya dari sisi kecantikan wajahmu dan keindahan tubuhmu itu salah. Karena karya besarmu akan mengubah generasi se usiamu untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.






"Ini bukan tentang perbedaan pendapat, ini juga bukan soal pekerjaan yang berat. Ini adalah tentang sikap dan pandangan hidup, ini soal idealisme pribadi"


"Akhir - Akhir ini sikapmu sudah benar. Caramu menyikapi permasalahan sudah positif. Lalu kenapa kamu sekarang berubah? kenapa seakan aku tidak mengenalmu sebagai pribadi yang selalu riang dan lincah?", desakku ditengah perbincangan yang semakin hangat sore itu di lawangsewu. Sekejap dia memandang wajahku, lalu tertunduk dan sekejap kemudian tetes - tetes air mata jatuh ke pipinya yang kemerah - merahan.
"Aku memang tidak pernah menyebutmu mas, aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai orang spesial secara pribadi. Aku selalu memanggilmu pak. Karena aku ingin selalu menghormatimu dan menghargaimu sebagai seorang tua yang selalu membimbingku, mengarahkanku dan lebih dari itu, kamu selalu memberiku motivasi dan nasehat - nasehat tentang hidup, pekerjaan dan bahkan tentang segala rasa yang ada di hatiku. Ketika aku mencintai seorang laki - laki yang menurutku baik, kamu selalu bisa memberiku nasehat untuk berhati - hati, untuk menjajaki hati dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan. Ketika aku di dekati temanku yang menyatakan perasaan hatinya padaku, kamu selalu mengatakan agar aku merespon dan menanggapi dengan baik, menolak pun harus dengan cara yang baik. Lebih dari itu kamu menasehatiku dengan penuh kejujuran dan tidak pernah punya maksud pribadi. Semua keputusan selalu kamu serahkan padaku, tidak pernah memaksakan nasehat sebagai keputusan akhir yang harus ku jalankan. Sejujurnya hari ini, saat ini aku ingin mengatakan padamu mas. iya aku saat ini memanggilmu mas agar aku merasakan kedekatan ini sebagai kedekatan seorang perempuan kepada seorang pria. Aku ingin mengatakan bahwa aku akhir - akhir ini keliru menilaimu mas. Aku bingung. Orang - orang disekitarku memberikan cerita - cerita yang menilaimu selalu negatif. Aku tak tau harus berpegangan pada siapa. Yang kemudian menjadikan sikapmu padamu berbeda, yang kamu rasakan tidak salah mas. Benar adanya bahwa 2 minggu terakhir aku merasa benci padamu, aku merasa kamu bohong padaku, aku merasa jijik melihatmu. Sengaja ini semua ini ku ungkap agar kamu tahu mas.... bahwa aku memang salah. aku keliru menilaimu di saat akhir-akhir yang seharusnya menjadi saat - saat yang manis dalam hubungan kita", cerita gadis itu tanpa bisa kusela. Dan dia terus mengatakan isi hatinya sambil sesekali mengusap air mata yang terus menetes seakan mengimbangi ceritanya yang deras mengalir tak henti henti... (bersambung 2)


Saturday, December 13, 2014

"Kenapa orang selalu memandangku hanya dari sisi fisik? karena aku cantik? terus orang gak mau ngerti aku dari sisi yang lain? klo aku tiba-tiba jerawatan atau oleh suatu sebab tidak cantik lagi lalu mereka pergi dariku? klo aku sudah tua, tidak cantik lagi mereka menyingkir dari hidupku?"

www.semarangkota.go.id

"Tidak semua orang memandangmu seperti itu. Kamu harus bersyukur dikaruniai wajah cantik dan tubuh yang ideal untuk seorang wanita karena banyak wanita lain yang ingin sepertimu. Sebuah kewajaran bagi laki-laki ketika melihat wanita cantik kemudian pengen kenalan, pendekatan dan akhirnya menginginkanmu. Kamu tidak bisa menolak kodrat. Kamu tidak boleh mengeluh karena keindahan yang kamu miliki. Justru yang harus kamu sadari adalah bahwa godaan, rayuan dan pendekatan yang dilakukan para makluk lelaki itu merupakan konsekwensi logis dari kecantikanmu dan keindahan tubuhmu. Kamu tidak berhak melarang mereka menyatakan sayang, cinta atau bahkan menginginkanmu untuk menjadi teman, pacar atau bahkan pasangan hidup. Yang harus kamu lakukan adalah merespon semua itu dengan baik dan berani mengatakan iya atau tidak terhadap semua ajakan, rayuan atau godaan sesuai dengan hati nurani, selera dan pilihan hidupmu", begitulah saran yang selalu kuberikan berulang - ulang ketika Gadis Lawangsewu itu curhat padaku.

Aku bisa memahami kegalauan hatinya ketika sekolah teman - teman cowok di kelasnya berebut untuk menjadi pacarnya, ketika dia magang di perusahaan beberapa atasan dan rekan kerja laki-lakinya  menggodanya untuk diajak jalan, nonton atau bahkan ke hiburan malam. Dan ketika dia bekerja, banyak teman kantor laki-lakinya sengaja menggoda untuk sekedar mengajak jalan, menjadikan istri simpanan atau bahkan hanya iseng sekedar mengajak bobok bobok siang. Sebuah karunia yang sempurna sekaligus ujian kehidupan yang berat untuknya.

Senja itu dia mengajakku jalan - jalan ke Lawangsewu. Dengan senang hati aku menyanggup untuk menemaninya. Aku tahu bahwa ini bukan sekedar jalan - jalan, namun aakan selalu diselingi cerita - cerita kesedihan dan kegalauan berkenaan dengan godaan atau rayuan lelaki disekeliling hidupnya. Aku tak bosan selalu mendengarkan dan memberikan semangat agar terus bersikap positif dan merespon dengan benar apapun godaan yang datang. (bersambung bag 2)

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata