"Dalam sebuah pendakian, puncak bukanlah tujuan yang paling penting. Tujuan yang sesungguhnya adalah semua orang bisa kembali pulang dengan selamat."
Aku baru benar-benar memahami kalimat itu pada sebuah malam di Gunung Sundoro.
Langit gelap tanpa bintang.
Kabut menelan seluruh jalur pendakian.
Hujan turun tanpa henti sejak sehari sebelumnya.
Tubuhku sendiri sudah mulai menggigil.
Di depanku, seorang sahabat tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri.
Ketika kuraba tangannya, dingin.
Kakinya juga dingin.
Wajahnya pucat.
Hanya bagian sekitar pusarnya yang masih terasa sedikit hangat.
Aku langsung tahu...
hipotermia.
Aku menoleh ke kanan.
Gelap.
Ke kiri.
Gelap.
Tak ada satu pun teman.
Tak ada suara.
Tak ada bantuan.
Yang ada hanya hujan, angin, dan seorang sahabat yang perlahan sedang kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup.
Saat itu aku dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah diajarkan dalam buku pendakian.
Tetap menunggu bantuan...
atau melakukan sesuatu dengan risiko yang sama besarnya.
Tanpa berpikir panjang, kulepaskan ransel dari punggungku.
Sleeping bag.
Logistik.
Peralatan masak.
Pakaian.
Semuanya kutinggalkan begitu saja.
Yang kubawa hanyalah tubuh seorang teman yang tak lagi mampu berjalan.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menyeretnya menuruni Gunung Sundoro.
Malam itu...
nyawa benar-benar menjadi taruhan.
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1994 ketika kami, sekitar tiga puluh mahasiswa Geologi angkatan 1993, mengikuti kegiatan Sundoro Clean Up.
Tujuan kegiatan ini sederhana tetapi bermakna.
Kami ingin menikmati keindahan Gunung Sundoro sekaligus membersihkan jalur pendakian dan kawasan puncak dari sampah yang ditinggalkan para pendaki.
Setiap peserta membawa perlengkapan pendakian sesuai standar.
Jaket.
Sleeping bag.
Logistik.
Peralatan memasak.
Dan tentu saja kantong plastik hitam berukuran besar untuk mengangkut sampah yang kami temukan selama perjalanan.
Sabtu malam sekitar pukul sebelas, kami meninggalkan basecamp Kledung.
Perjalanan diawali melewati jalan kampung, kemudian menyusuri pematang ladang penduduk. Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami mulai memasuki hutan pinus.
Sejak langkah pertama, hujan sudah turun.
Dan hujan itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Semua peserta mengenakan jas hujan.
Isi ransel dibungkus plastik agar tetap kering.
Dalam kondisi seperti itu ada satu aturan yang harus dipatuhi.
Kami tidak boleh terlalu lama berhenti.
Istirahat hanya sekitar tiga sampai lima menit.
Karena semakin lama tubuh berhenti bergerak, semakin cepat udara dingin merampas panas tubuh.
Hipotermia selalu mengintai.
Menjelang Subuh kami tiba di padang edelweiss.
Pemandangannya sangat indah.
Hamparan bunga edelweiss tumbuh sejauh mata memandang.
Jalur mulai melandai, pertanda puncak sudah tidak jauh lagi.
Namun justru di tempat seindah itulah semuanya berubah.
Tiba-tiba badai datang.
Angin bertiup sangat kencang.
Kabut turun semakin rapat.
Hujan berubah menjadi ancaman.
Kami segera merapat menjadi satu rombongan besar agar tidak ada yang terpisah.
Tidak lama kemudian beberapa teman mulai mengeluh.
Jari-jari tangan mereka mulai kaku.
Sebagian sudah tidak bisa merasakan ujung jarinya.
Kami semua memahami gejala itu.
Hipotermia mulai menyerang.
Pimpinan rombongan saat itu, Mas Komo, langsung mengambil keputusan.
"Kita turun!"
Tidak ada yang membantah.
Dalam kondisi seperti itu, keselamatan jauh lebih penting daripada mencapai puncak.
Setelah turun beberapa ratus meter, sebagian besar teman mulai membaik.
Tubuh mereka dihangatkan.
Tangan dan kaki terus digerakkan agar suhu tubuh kembali normal.
Namun satu orang tidak.
Ia seorang mahasiswi.
Kondisinya justru semakin melemah hingga tidak mampu lagi berjalan.
Keputusan sulit pun diambil.
Rombongan utama tetap turun agar tidak semakin banyak korban.
Sementara aku, Mas NCP, mahasiswi itu, dan kekasihnya tetap bertahan di atas.
Kami membuat bivak darurat.
Berusaha menyalakan api.
Menunggu cuaca membaik.
Keputusan itu sebenarnya sangat berat.
Mahasiswi tersebut adalah putri seorang Pembantu Rektor di salah satu universitas swasta ternama di Yogyakarta.
Jika sampai tidak pulang sesuai jadwal, keluarganya pasti panik dan kemungkinan besar akan dilakukan pencarian.
Di sisi lain, ia mendaki bersama kekasihnya, sementara hubungan mereka saat itu belum mendapat restu dari keluarganya.
Kami memang masih mempunyai persediaan makanan.
Tetapi itu bukan persoalan utama.
Yang paling kami khawatirkan adalah hujan yang belum berhenti.
Kayu bakar semuanya basah.
Api sulit dinyalakan.
Pakaian kami sendiri sudah basah sejak semalam.
Dan kami tahu, semakin lama bertahan di sana, semakin besar kemungkinan kami ikut menjadi korban hipotermia.
Menjelang siang aku dan Mas NCP akhirnya mengambil keputusan.
Kami harus membagi tugas.
Mas NCP tetap menjaga mahasiswi yang sakit bersama kekasihnya.
Sedangkan aku turun mencari bantuan.
Aku berlari menyusuri jalur pendakian yang licin selama kurang lebih dua setengah jam hingga tiba di basecamp.
Sesampainya di bawah aku langsung menemui pimpinan rombongan.
Syukurlah, mereka ternyata juga sedang mempersiapkan tim penyelamat.
Tenda.
Sleeping bag.
Logistik.
Air.
Obat-obatan.
Semuanya sudah disiapkan.
Enam orang dipilih untuk kembali naik bersamaku.
Kami mendaki lagi.
Bukan menuju puncak.
Tetapi menjemput tiga orang yang masih bertahan di atas.
Beberapa jam kemudian kami bertemu.
Syukurlah kondisi mahasiswi itu sudah mulai membaik.
Ia memang masih lemah, tetapi sudah mampu berjalan perlahan sambil dipapah.
Aku benar-benar lega.
Kupikir semua perjuangan kami hampir selesai.
Ternyata aku salah.
Menjelang petang rombongan kembali turun.
Enam orang penyelamat bersama mahasiswi yang sakit dan kekasihnya berjalan di depan.
Aku dan Mas NCP memilih berjalan agak di belakang sambil berdiskusi tentang kemungkinan terburuk apabila malam nanti kami belum berhasil turun.
Tanpa terasa rombongan depan berjalan semakin jauh.
Cahaya senter mereka perlahan menghilang di balik tikungan jalur.
Jam menunjukkan sekitar pukul delapan malam.
Tubuhku mulai menggigil.
Sejak semalam pakaian kami tidak pernah benar-benar kering.
Naik.
Turun.
Naik lagi.
Hampir dua puluh jam tubuh ini terus diguyur hujan.
Aku masih sempat mengajak Mas NCP berbicara.
Namun suaranya semakin pelan.
Semakin lirih.
Hingga akhirnya tidak ada jawaban lagi.
Aku menoleh.
Mas NCP sudah terjatuh.
Pingsan.
Aku segera memeriksa kondisinya.
Tangannya dingin.
Kakinya dingin.
Wajahnya pucat.
Hampir seluruh tubuhnya terasa membeku.
Hanya bagian sekitar pusarnya yang masih menyisakan sedikit kehangatan.
Hipotermia.
Aku kembali sendirian.
Di tengah gelap.
Di tengah hujan.
Di tengah Gunung Sundoro.
Tanpa berpikir panjang kulepas kembali ransel dari punggungku.
Seluruh perbekalan kutinggalkan begitu saja di pinggir jalur.
Makanan.
Sleeping bag.
Peralatan.
Semuanya.
Yang tersisa hanya satu tujuan.
Menyelamatkan seorang sahabat.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kuseret tubuh Mas NCP sedikit demi sedikit menuruni lereng Gunung Sundoro.
Kadang kupapah.
Kadang kupikul.
Kadang tubuhnya hanya terseret mengikuti langkahku.
Di dalam hati aku hanya terus berdoa.
"Ya Allah... jangan biarkan kami terlambat."
Saat itu aku baru benar-benar mengerti bahwa di gunung, ransel bisa dibeli lagi.
Sleeping bag bisa diganti.
Peralatan bisa dicari.
Tetapi nyawa seorang sahabat...
tidak akan pernah bisa digantikan.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.