Tubuh kita sebenarnya jarang berbohong. Ia selalu memberi tanda. Masalahnya, kita sering menganggap semua tanda itu hanyalah kelelahan, usia, atau kurang istirahat. Aku pun pernah melakukan kesalahan yang sama.
Ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah berubah dalam hidupku.
Kalau hari Minggu tiba dan tidak ada pekerjaan yang mendesak, kakiku seperti punya tujuan sendiri. Kadang menuju gunung, kadang hanya menyusuri hutan. Bukan karena ingin menaklukkan puncak, tetapi karena di sanalah aku merasa benar-benar bisa bernapas.
Hari itu aku memilih kembali ke lereng utara Gunung Ungaran.
Sudah lama aku tidak ke sana.
Bukan karena sedang mengejar air terjunnya.
Bukan juga karena ingin olahraga.
Sejujurnya... aku hanya sedang kangen satu hal yang sederhana.
Segelas teh bumbung panas.
Aneh memang. Rela berjalan beberapa kilometer hanya demi segelas teh. Tapi mungkin memang begitu cara alam mengajarkan kita menghargai hal-hal kecil. Sesuatu yang biasa saja akan terasa luar biasa setelah diperjuangkan.
Langkah demi langkah kulalui dengan santai.
Udara pagi masih dingin. Matahari belum terlalu tinggi. Pohon-pohon besar berdiri rapat di kanan kiri jalur, membuat sinarnya hanya sesekali menembus dedaunan.
Seekor kupu-kupu kuning melintas pelan di depanku.
Capung-capung beterbangan di atas aliran sungai.
Tak lama kemudian terdengar suara ranting bergoyang. Beberapa monyet ekor panjang sedang sibuk mencari makan. Salah satunya bahkan menjatuhkan sisa buah dari atas pohon, seolah sedang usil kepada siapa saja yang lewat.
Aku hanya tertawa sendiri.
Sudah biasa.
Suara yang paling kusukai justru bukan suara burung atau monyet.
Melainkan suara air.
Hampir sepanjang perjalanan aku ditemani gemericik sungai yang mengalir jernih. Kadang jalurnya berada di sisi kiri, beberapa ratus meter kemudian berpindah ke kanan sehingga aku harus menyeberanginya. Airnya dingin, bening, dan menenangkan.
Kalau surga punya suara, mungkin seperti itu.
Sekitar lima puluh meter sebelum air terjun, suasana mulai berubah. Di bawah sebuah pohon besar berjajar beberapa warung sederhana.
Warung-warung itu tidak menjual makanan istimewa.
Hanya teh.
Kopi.
Air mineral.
Gorengan.
Pop Mie.
Indomie.
Sesederhana itu.
Tapi setelah berjalan berjam-jam di tengah hutan, semua makanan itu berubah rasa. Indomie terasa seperti menu restoran. Gorengan terasa lebih renyah. Bahkan segelas teh hangat pun terasa lebih mahal daripada kopi di kafe.
Aku punya satu warung langganan.
Nomor dua dari bawah.
Dulu sebenarnya aku sering mampir ke warung sebelah. Yang jual seorang mbak yang ramah. Sampai suatu hari ada teman nyeletuk sambil tertawa,
"Mas... itu yang jual janda cantik lho..."
Aku malah jadi salah tingkah.
Takut nanti kalau terlalu sering mampir malah dikira ada maunya.
Padahal niatku cuma ingin minum teh.
Sejak itu aku pindah ke warung nomor dua yang dijaga bapak-bapak seumuranku.
Sampai sekarang tetap jadi langganan.
"Seperti biasa ya, Mas?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Teh bumbung panas, Indomie goreng... sama gorengannya."
Beliau tersenyum.
Aku duduk di bangku bambu sambil menikmati semilir angin pegunungan.
Beberapa menit kemudian teh panas datang. Asapnya mengepul pelan. Gelasnya masih terlalu panas untuk langsung dipegang.
Aku menyeruput sedikit.
Hangatnya langsung menjalar sampai dada.
Entah kenapa, setiap kali minum teh di tempat itu, rasanya selalu berbeda.
Mungkin bukan tehnya yang enak.
Mungkin suasananya.
Atau mungkin karena semua yang diperjuangkan memang selalu terasa lebih nikmat.
Setelah perut kenyang, aku berjalan menuju air terjun.
Tidak lama.
Hanya berdiri menikmati percikan air yang terbawa angin.
Membiarkan wajah sedikit basah.
Lalu memotret beberapa sudut yang menurutku indah.
Menjelang pukul sebelas lewat tiga puluh, aku memutuskan pulang.
Perjalanan turun biasanya jauh lebih mudah daripada naik.
Setidaknya... begitu pikirku.
Awalnya memang biasa saja.
Aku masih sempat menikmati suara sungai.
Masih sempat melihat beberapa kupu-kupu.
Masih sempat bersenandung kecil.
Sampai akhirnya...
Tanpa aba-aba.
Dadaku terasa sesak.
Aku menarik napas panjang.
Tidak lega.
Kucoba lagi.
Tetap terasa berat.
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis, padahal udara saat itu tidak panas.
Kakiku mendadak terasa kosong.
Tenagaku seperti habis begitu saja.
Aneh.
Aku bahkan sedang turun, bukan mendaki.
Aku berhenti.
Tidak memaksa melangkah.
Di pinggir sungai ada sebongkah batu datar.
Aku merebahkan badan di atasnya.
Mata kupejamkan.
Air sungai masih terdengar mengalir.
Burung-burung masih berkicau.
Angin masih bertiup pelan.
Tapi tubuhku seperti sedang meminta berhenti.
Saat itu tidak sedikit pun terlintas di pikiranku bahwa aku sedang sakit.
Aku hanya bergumam dalam hati,
"Wah... mungkin memang sudah tua."
Entah lima menit.
Entah sepuluh menit.
Aku seperti tertidur sebentar.
Ketika membuka mata, tubuhku terasa jauh lebih ringan.
Napasku kembali lega.
Tenagaku pelan-pelan kembali.
Aku berdiri.
Membersihkan celana yang sedikit berdebu.
Lalu melanjutkan perjalanan pulang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah, kejadian itu benar-benar kulupakan.
Tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Tidak pernah terpikir untuk memeriksakan diri.
Bagiku, itu hanya kelelahan biasa.
Beberapa waktu kemudian...
Hidupku berubah.
Dokter menatap hasil pemeriksaan cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,
"Fungsi ginjal Bapak tinggal sangat sedikit. Ini sudah Gagal Ginjal Kronis Stadium Lima."
Kalimat itu seperti menghentikan waktu.
Di tengah kebingungan menerima kenyataan itu, pikiranku justru kembali ke satu siang di lereng Gunung Ungaran.
Tentang sesak napas yang datang tiba-tiba.
Tentang keringat dingin.
Tentang tubuh yang mendadak kehilangan tenaga.
Baru sekarang aku bertanya kepada diriku sendiri...
Jangan-jangan, saat itu tubuhku sebenarnya sudah berusaha berbicara.
Hanya saja...
Aku tidak pernah mau mendengarkannya.
Aku menganggap semua itu sekadar faktor usia.
Padahal bisa jadi, tubuh sedang mengirimkan pesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa setiap orang yang sesak napas pasti mengalami gangguan ginjal.
Tentu tidak.
Sesak napas dan keringat dingin bisa disebabkan banyak hal, mulai dari gangguan jantung, paru-paru, gula darah, hingga kondisi medis lainnya.
Tetapi satu hal yang kupelajari dari perjalanan hidupku adalah ini.
Jangan pernah meremehkan sinyal yang terus berulang dari tubuhmu.
Karena tubuh jarang berteriak di awal.
Ia biasanya hanya berbisik.
Dan sering kali...
kita baru menyadari arti bisikan itu ketika semuanya sudah terlambat.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.