Thursday, January 9, 2014

Hari itu semua seperti biasa. Masuk kantor, apel pagi dan duduk di depan laptop. Sambil sesekali berbincang agenda kegiatan dengan teman, kadang ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang hangat pada hari itu. Tiba-tiba ada dua wanita masuk, yang satu setengah baya dan satunya lagi masih muda. Yang setengah baya aku sudah mengenalnya, yaitu salah satu pimpinan di ruang sebelah, namun satu lagi aku merasa gak kenal. Cuek aja pikirku sambill masih menggerakkan jari-jariku diatas keyboard laptop kecilku.

Tiba-tiba ada yang memanggilku, " Dik tolong adik ini dibantu diarahkan harus bantu apa dan kerjaannya apa!", kata Pimpinanku. " Siap Pak", jawabku. Dan wanita muda itu menghampiriku lalu bersalaman dan mengenalkan dirinya, " Nama saya sasa, magang dari fakultas Johar di Universitas Banyumanik", lalu duduk persis disamping meja kerjaku. "Panggil aja aku Awan Dik", kataku pada wanita muda itu.
Sambil masih setengah hati, karena aku juga belum merasa mengenalnya, kuberikan beberapa arahan tentang magang, etika kerja dan lain-lain yang wajib dipahami selama kerja. Wanita muda itu selalu hanya menjawab "iya, iya dan iya". Ditanya apakah sudah paham? jawabnya iya, ada pertanyaan? hanya tersenyum. Mungkin masih malu malu.
 
Detik berjalan menjadi menit, menit menjadi jam dan akhirnya waktu pulang kantor. Hari itu biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kehadiran wanita muda itu juga kupikir hanya lewat, gak ada sesuatu yang menarik untuk di catat atau dibicarakan. Bedanya selepas apel pagi biasannya kembali mengerjakan tugas rutin, tapi hari itu ada tamu dan aku harus memberikan arahan. 

Suatu hari, tugasku menumpuk. Batas waktu penyelesaian sangat mepet sementara volume pekerjaan sangat banyak. Malam sudah lembur, mata sudah memerah namun belum selesai juga. Sampai pada suatu hari, wanita muda itu menawarkan diri untuk membantuku, bahkan ikut menyelesaikan tugas-tugasku sampai sore. ya tepatnya sampai jam lima sore di suatu ruangan yang biasanya.

Kerja bareng dari pagi hingga jam lima sore, menyadarkanku ada sosok menarik didekatku, namun aku sama sekali tak menyadarinya. Hingga ketika senja sudah mulai memerahkan langit, aku memutuskan untuk pulang. " Jangan pulang dulu ya dik, ntar kita maem dulu", kataku. Wanita muda itu menganggukkan kepala pertanda setuju. Aku sendiri tak tau harus makan apa, karena aku tidak mengenalnya apalagi sampai tahu makanan favoritnya. Jadi kupikir yang standar aja, makan bakso mungkin pilihan yang tepat.

 Kebetulan cuaca agak gerimis, sehingga semangkuk bakso akan menghangatkan tubuh yang lelah seharian di depan laptop. Walaupun dipinggir jalan alias Bakso kaki lima, namun pengemarnya banyak, tempat makan penuh dan meja pesanan menumpuk. Bagiku tak mengurangi rasa apapun pada sore itu, karena aku masih penasaran dengan wanita muda ini. Kok kayaknya aku mengenalinya? kok sepertinya aku sudah kenal lama? Bukan wajahnya yang lugu, juga bukan senyumnya yang manis, namun perilaku dan karakternya membuatku ingin kenal dengan nya.
 
Jam lima sore itu, adalah awal dari cerita di blog ini. Jam lima sore itu adalah hari yang mengubah sejarah, menggoreskan tinta hitam di relung hatiku yang paling dalam. Berawal dari Jam lima Sore di Ruangan itu, aku seperti bermimpi, melihat cermin watak dan karakterku pada diri wanita itu. Lalu apa yang akan aku lakukan? apa yang terjadi selanjutnya? 

Pagi kali ini ada yang lain, entah darimana datangnya, tiba-tiba setelah apel pagi aku berharap ada yang muncul di pintu. Sesekali aku melihat ke arah luar, apakah seseorang itu sudah datang atau belum. Dan seperti biasa jam delapan muncul sosok wanita muda itu. Beberapa saat dia menyalami semua yang ada di dalam ruangan termasuk aku, lalu duduk di tempat yang sudah disediakan khusus untuknya.

Tanpa sadar aku dan wanita muda itu mulai akrab, mulai dekat. Disamping membantu pekerjaanku, setiap saat kami berbincang diluar pekerjaan. Sesekali saling menanyakan tentang pribadi masing-masing, dan saat lain saling tertawa. Aku sudah seperti mengenalnya bertahun-tahun, padahal sesungguhnya baru kemaren sore jam lima petang aku mulai memperhatikan perilaku dan wataknya. Sepanjang pagi sampai siang itu terjadi rerasan antara aku dan wanita muda itu sebagai sesama sanguinis. Itu kesimpulan sementara, karena aku belum mengamati lebih dalam, apakah wanita muda itu benar-benar berkarakter sanguinis.
Waktu makan siang telah tiba, dan aku mengajaknya barengan ke warung. Hmm aku jadi teringat masa kuliah. Wanita ini memilih lauknya pisang goreng.... gak tau apa alasannya. Klo aku dulu makan nasi lauknya pisang goreng agar terasa lebih kenyang. Kupikir wanita ini punya alasan berbeda, atau mungkin kebiasaan saja. Gak terlalu penting untuk dibahas, namun penting untuk di catat sebagai bahan pembicaraan. Ingat : wanita membutuhkan alasan untuk mau dekat dengan kita. Teori lawas yang tidak lekang oleh waktu.
 
Makan siang ini menjadi titik balik baru, karena pasca makan siang terhembus isu yang kurang sedap. Isu kedekatan antara dua orang sanguinis yang sebenarnya belum apa-apa. baru tahap saling mengenal dan mungkin juga tidak akan pernah dekat sebagai seorang pria dan wanita, tetapi dekat sebagai sahabat yang saling bercermin untuk dirinya sendiri. Isu berhembus makin kencang, wanita muda itu mulai merasa tidak nyaman, mulai gundah dan menyatakan ketidakkerasanan menyelesaikan tugasnya di kantor.
Peristiwa baru dan  isu baru namun bukan barang baru bagi aku, dah biasa banget dibicarakan dan di isukan sesuatu yang tidak pas atau tidak ada kenyataanya. Bagiku biar saja lewat, namun bagi wanita muda ini jelas belum terbiasa, sehingga sedikit menggangu konsentrasinya. Aku merasa bersalah, aku merasa harus bertanggung jawab atas kemelut ini. Seperti ada mendung di matanya, yang biasanya cerah berseri, tiba-tiba menjadi pendiam. Rerasan dua orang sanguinis ini menjadi isu hangat yang menarik untuk dibicarakan setiap orang.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata