Selama menempuh pendidikan di bangku kuliah, saya bertemu dengan banyak dosen. Masing-masing memiliki keahlian, pengalaman, dan gaya mengajar yang berbeda.
Namun, kalau hari ini ada yang bertanya, "Siapa dosen terbaik yang pernah mengajar Anda?", nama pertama yang langsung terlintas di pikiran saya adalah Ir. Wartono Rahardjo.
Bukan semata-mata karena beliau menguasai bidang ilmunya, tetapi karena cara beliau memaknai profesinya sebagai seorang pendidik.
Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa yang paling saya ingat dari seorang dosen ternyata bukan mata kuliahnya, melainkan keteladanannya.
Mengapa beliau begitu membekas dalam ingatan saya?
1. Mengajar Selalu Menjadi Prioritas Utama
Beliau tidak bersedia menerima proyek besar, berapa pun nilai honornya, apabila harus mengganggu jadwal mengajar di kampus. Proyek hanya dikerjakan pada saat libur atau ketika tidak mengurangi tanggung jawabnya kepada mahasiswa.
Bagi beliau, profesi dosen bukan pekerjaan sampingan. Mengajar adalah amanah yang harus didahulukan.
2. Selalu Berinovasi dalam Mengajar
Setiap tahun ajaran selalu ada yang baru.
Metode penyampaian, contoh kasus, hingga cara menjelaskan materi terus diperbarui. Beliau tidak pernah merasa cukup dengan metode yang digunakan pada tahun sebelumnya.
Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang sama pada tahun berbeda tetap mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda.
3. Semangat Mengajar yang Tidak Pernah Padam
Setiap kali memasuki kelas, beliau selalu membawa energi yang luar biasa.
Rasanya beliau mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi benar-benar ingin memastikan setiap mahasiswa memahami apa yang sedang dipelajari.
Semangat seperti inilah yang membuat suasana kelas selalu hidup.
4. Selalu Siap Mengajar
Hal yang paling membuat saya kagum adalah isi mobil beliau.
Di dalam mobilnya selalu tersedia berbagai alat peraga dari beragam mata kuliah. Seolah-olah ruang kelas ikut beliau bawa ke mana pun pergi.
Saya belum pernah menemukan dosen lain dengan persiapan mengajar sedetail itu.
5. Cara Berpikir yang Runut, Metodologis, dan Ilmiah
Beliau memiliki cara berpikir yang sangat sistematis.
Ketika muncul persoalan baru, beliau mampu menjelaskan dengan logika yang runtut sehingga mahasiswa dapat memahami akar persoalannya, bukan sekadar menghafal jawabannya.
Kemampuan inilah yang menurut saya menjadi salah satu keunggulan beliau dibanding banyak dosen lainnya.
6. Mampu Menjelaskan Hal yang Rumit Menjadi Sederhana
Saat mengisi seminar pun kemampuan itu tetap terlihat.
Peserta yang berasal dari berbagai disiplin ilmu tetap mampu mengikuti materi yang beliau sampaikan karena semua dijelaskan dengan bahasa yang sederhana tanpa kehilangan kedalaman ilmunya.
Tidak semua orang yang pintar mampu mengajar.
Namun beliau mampu melakukan keduanya.
7. Kuliah yang Selalu Terasa Kurang
Setiap mengikuti perkuliahan beliau, waktu terasa berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa jam kuliah sudah selesai.
Bahkan sering kali kami justru merasa waktunya kurang dan berharap perkuliahan masih berlanjut.
Bagi saya, itulah salah satu tanda bahwa seorang dosen berhasil membangun suasana belajar yang menyenangkan.
8. Uang Bukan Tujuan Utama
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan materi, beliau menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Mengajar bukan sekadar profesi.
Mengajar adalah panggilan hidup.
Saya percaya, ketika seseorang mencintai pekerjaannya seperti beliau, ilmu yang disampaikan bukan hanya masuk ke kepala mahasiswanya, tetapi juga membekas di dalam hati mereka.
Hari ini saya baru menyadari bahwa ilmu yang saya ingat mungkin sudah banyak yang terlupakan.
Namun keteladanan beliau masih tetap saya ingat hingga sekarang.
Mungkin itulah ukuran keberhasilan seorang pendidik yang sesungguhnya.
Bukan hanya menghasilkan mahasiswa yang lulus ujian.
Tetapi meninggalkan jejak yang tetap hidup dalam ingatan mahasiswanya, bahkan puluhan tahun setelah mereka meninggalkan bangku kuliah.
Terima kasih, Pak Ton.
Terima kasih telah menunjukkan kepada kami bahwa menjadi dosen bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi tentang dedikasi, integritas, dan ketulusan dalam mengabdikan diri kepada dunia pendidikan.
Sungkem kagem Pak Ton.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.