Tuesday, August 18, 2026

Anak-anak ingin memanjat. Orang tuanya yang takut. Panjat tebing telanjur dianggap olahraga ekstrem dan berbahaya. Lalu saya berpikir: bagaimana kalau yang diubah bukan panjat tebingnya, tapi kesan menakutkan di kepala orang tua?



Waktu itu saya dipercaya menjadi Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Sleman. Kurang lebih dari 2007 sampai 2017.

Dua tahun pertama saya lebih banyak belajar. Mendengarkan teman-teman pemanjat, ikut kegiatan, melihat apa yang selama ini sudah berjalan.

Belum banyak ide macam-macam.

Baru sekitar 2009 saya mulai berpikir, apa yang bisa kami lakukan supaya panjat tebing tidak hanya dikenal oleh orang-orang di lingkungan kami sendiri.

Salah satu yang paling terasa adalah soal regenerasi atlet.

Kok yang Latihan Itu-Itu Lagi?

Waktu itu saya melihat ada pola yang terus berulang.

Yang datang latihan kebanyakan masih anak pemanjat, teman anak pemanjat, atau setidaknya masih bersinggungan dengan lingkungan panjat tebing.

Sebenarnya tidak ada yang salah.

Tapi saya berpikir, kalau begini terus, kapan panjat tebing bisa dikenal lebih luas?

Saya ingin anak yang bapak ibunya sama sekali tidak mengenal panjat tebing juga bisa melihat, tertarik, lalu punya kesempatan mencoba.

Akhirnya kami mencoba masuk ke sekolah-sekolah.

Waktu itu media sosial belum seperti sekarang. Salah satu cara yang kami lakukan adalah mengirim video dalam bentuk CD ke SD, SMP dan SMA.

Harapannya dari sana muncul bibit-bibit baru, mulai spider kid sampai junior.

Tapi kami juga ingin tahu satu hal.

Sebenarnya anak-anak tertarik nggak sih dengan panjat tebing?

Kami kemudian melakukan riset sederhana ke sekolah-sekolah.

Dan hasilnya malah membuat saya berpikir ulang.

Ternyata Bukan Anaknya yang Takut

Anak-anak ternyata tertarik.

Banyak yang ingin mencoba.

Masalahnya muncul ketika mereka bicara dengan orang tua.

Sebagian tidak diizinkan.

Alasannya hampir sama. Panjat tebing dianggap ekstrem. Tinggi. Berbahaya.

Kalau jatuh bagaimana?

Nah, di sini saya mulai merasa kami salah melihat persoalan.

Kami sibuk berpikir bagaimana membuat anak tertarik.

Padahal anaknya sudah tertarik. Orang tuanya yang belum yakin.

Dalam obrolan pengurus kemudian muncul ide membuat kegiatan fun climbing sebanyak-banyaknya.

Saya setuju dengan idenya.

Tapi nama fun climbing kok rasanya masih kurang pas.

Kalau “Climbing” Sudah Bikin Takut, Kenapa Masih Dipakai?

Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang orang tua.

Kalau sejak awal mereka sudah menganggap climbing sebagai olahraga ekstrem, lalu kita menawarkan fun climbing, apakah tambahan kata fun langsung membuat mereka tenang?

Menurut saya belum tentu.

Kata climbing-nya masih ada.

Akhirnya saya mengusulkan nama yang sama sekali tidak terdengar seperti nama pertandingan olahraga.

Festival Dolanan Penekan.

Dolanan dalam bahasa Jawa berarti bermain.

Penekan berarti memanjat.

Jadi ya... main sambil manjat.

Sesederhana itu.

Anak-anak tidak sedang kami ajak mengikuti olahraga ekstrem. Mereka kami ajak dolanan.

Kebetulan waktu itu untuk federasi kami juga menggunakan slogan:

Climbing It's Fun.

Pesannya sama.

Kami ingin orang melihat bahwa panjat tebing juga bisa dikenalkan dengan cara yang menyenangkan.

Tapi kalau cuma ganti nama, rasanya juga percuma.

Kegiatannya harus ikut berubah.

Tingginya Cuma Empat Meter

Kalau menggunakan papan lead, tingginya bisa sekitar 15 meter.

Untuk Festival Dolanan Penekan kami memilih papan boulder yang tingginya sekitar empat meter.

Di bawahnya ada matras.

Sebenarnya dalam pertandingan boulder, pemanjat tidak menggunakan tali. Kalau gagal, ya jatuh ke matras.

Tapi ini bukan pertandingan boulder.

Pesertanya anak-anak yang sebagian baru pertama kali mencoba. Orang tuanya pun sejak awal masih punya kekhawatiran.

Jadi kami tambahkan tali pengaman.

Dindingnya pendek. Pakai tali. Di bawah masih ada matras.

Kami ingin orang tua bisa melihat sendiri bagaimana anaknya mencoba memanjat.

Acara juga dibuat santai.

Anak-anak boleh bergaya ketika memanjat. Teman atau keluarganya bisa memotret. Foto-foto itu kemudian dilombakan.

Ada doorprize juga.

Hadiahnya bukan barang mahal.

Cuma buku tulis yang kami beri branding logo dan Festival Dolanan Penekan Kabupaten Sleman 2012.

Tapi memang bukan hadiahnya yang kami kejar.

Kami ingin anak-anak datang, mencoba dan pulang dengan pengalaman bahwa memanjat itu menyenangkan.



Ternyata yang Daftar Banyak

Begitu program diumumkan, responsnya lumayan membuat kami kaget.

Banyak siswa SD mendaftar.

Bahkan ada sekolah yang hampir satu kelas ikut.

Beberapa stasiun televisi juga menghubungi kami karena ingin meliput.

Saya malah sempat ragu ketika ada tawaran live.

Lha acaranya saja belum pernah kami buat.

Saya sendiri belum tahu apakah konsep yang selama ini hanya kami diskusikan benar-benar akan berjalan sesuai harapan.

Jadi saya memilih tidak live dulu.

Akhirnya ada televisi lokal dan beberapa media di DIY yang datang meliput.

Festival Dolanan Penekan pun berjalan.

Apakah setelah acara itu jumlah atlet panjat tebing Sleman langsung melonjak?

Terus terang saya tidak tahu.

Saya tidak punya data jangka panjang untuk mengatakan begitu.

Jadi ya tidak perlu saya lebih-lebihkan.

Tapi paling tidak, hari itu kami melihat sesuatu yang sebelumnya justru menjadi persoalan.

Anak-anak datang. Mereka mencoba memanjat. Dan orang tuanya mengizinkan.

Buat saya, itu sudah menyenangkan.

Sampai Akhirnya Saya Harus Memilih

Saya tetap berada di kepengurusan FPTI Kabupaten Sleman sampai 2017.

Setelah itu saya mundur.

Karier saya di Pemerintah Kota Semarang berkembang dan saat itu saya mendapat amanah pada jabatan struktural.

Tanggung jawab pekerjaan otomatis ikut berubah. Ada program yang harus saya kelola dan ada tanggung jawab institusional yang harus saya pegang.

Saya merasa tidak bisa menjalankan semuanya setengah-setengah.

Akhirnya kepengurusan panjat tebing yang saya tinggalkan.

Tapi rupanya tidak semua ikut saya tinggalkan.

Beberapa pengalaman dan cara berpikir selama di sana masih terbawa sampai sekarang.

Termasuk cerita tentang Festival Dolanan Penekan.

Baru Belakangan Saya Mengerti

Waktu membuat acara itu saya tidak berpikir tentang positioning, reframing, atau istilah pemasaran semacam itu.

Nggak kepikiran.

Kami cuma punya masalah dan mencoba mencari penyebabnya.

Awalnya kami mengira anak-anak kurang tertarik.

Ternyata salah.

Anaknya ingin memanjat. Orang tuanya takut.

Jadi kami tidak sibuk meyakinkan orang bahwa cara pandang mereka salah.

Kami yang mencoba mengubah cara mengenalkan panjat tebing.

Namanya dibuat lebih dekat. Tingginya dibuat lebih bersahabat. Pengamanannya ditambah. Suasananya dibuat seperti bermain.

Bertahun-tahun kemudian, setelah lebih banyak berkecimpung dalam pemasaran pariwisata, saya baru merasa pengalaman itu ternyata masih relevan.

Kadang kita punya destinasi bagus. Atraksinya menarik. Paket wisatanya juga sudah ada.

Tapi orang belum tentu datang.

Dan refleks kita biasanya sama: promosinya kurang.

Padahal belum tentu.

Festival Dolanan Penekan mengajari saya sesuatu yang sederhana.

Kadang produk kita sebenarnya sudah bagus. Kita cuma terlalu sibuk menjualnya, sampai lupa mencari tahu apa yang membuat orang ragu mencobanya.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts